Start From Behind
…
…
…
Saat itu matahari sudah menampakkan kekuasaannya, sinarnya yang kuning keemasan menyinari sebuah pekarangan yang di hiasi tanaman hias. Hembusan angin sepoi-sepoi semakin menyegarkan pandangan siapa saja yang berada di pekarangan ini.
Di antara tanaman-tanaman hias itu, terlihat sosok surai merah muda, terlihat pula ia dengan telaten membersihkan tanaman-tanaman hias dari bagian tanaman yang sudah mati. Dilihat dari keadaannya yang memakai kursi roda, sudah bisa di tebak kalau dia adalah Sakura.
Seperti biasa, jika Sakura mulai bosan dengan bacaan buku atau mendengarkan musik. Ia biasanya akan menyendiri di taman samping rumahnya sambil melihat-lihat hasil kreasinya, ia memelihara berbagai jenis tanaman. Dan di antara tanaman favoritnya adalah tanaman bonsai dan bunga mawar. Makanya kedua jenis tanaman hias inilah yang tampaknya paling mendapat perhatian.
Mengamati tanaman-tanaman ini, lagi-lagi airmatanya menetes. Lagi-lagi, kenangannya bersama Sasuke terulang di kepalanya. Yah, di tempat ini pulalah, Sasuke sering menemani Sakura. Bahkan tidak jarang Sasuke membantu membersihkan atau merawat tanaman favorite Sakura.
Kegiatan Sakura dari tadi tak lepas dari pengamatan seorang pria Sasori.
Cukup mudah bagi Sasori untuk menemukan dimana tempat tinggal Sakura
Tanpa sengaja Sakura menoleh ke tempat Sasori sedang mengawasi. Merasakan ada yang mengawasi, bahkan mencurigakan. Sakura mulai memutar kusi roda memutar rodanya untuk membawa dirinya kembali kedalam rumah.
Sasori yang merasa sudah ketahuan, segera keluar dari persembunyiannya.
"Nona. Tunggu!" Teriak Sasori. Sakura yang tidak berdaya untuk melarikan diri, terpaksa bberhenti. Ia hanya bisa berdoa agar pria yang tadi ia duga sedang memata-matainya tidak berbuat senonoh.
"Maaf kalau membuatmu takut" ujar Sasori juga menghentikan langkahnya yang tadi mendekati Sakura, karena ia melihat Sakura juga mengurungkan niatannya untuk pergi.
"Ka…kamu siapa?" jelas sekali kalau Sakura agak ketakutan pada Sasori.
"Maaf. Saya hanya kebetulan lewat. Dan aku tertarik dengan taman mu ini. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, namaku Sasori" ujar Sasori sopan.
Melihat kesopanan Sasori didepannya, perlahan rasa takut Sakura mulai menghilang.
"Namaku Sakura" balas Sakura dengan suara lembut. Berikut ia menundukkan kepala, dengan wajah merona, karena dari tadi Sasori memandangnya. Ada rasa malu dan grogi menghinggapi perasaannya. Sementara itu, Sasori malah tersenyum gemas melihat sikap Sakura kini.
"Oh ya, kalau boleh ku tahu, apa kau yang merawat semua ini" tanya Sasori sambil menggulingkan pandangan ke sekeliling.
"Iya" kali ini obrolan mereka nampaknya mulai lancar.
"Wah! Hebat sekali kau bisa melakukannya. Mengingat kau…" Sasori sengaja tidak melanjutkan ucapannya, karena tak ingin Sakura tersinggung jika ia menyebutkan kekurangan Sakura.
"Lumpuh dan tampak tak bisa berbuat apa-apa?" Sakura memang sudah bisa menduga kenapa Sasori tidak melanjutkan ucapannya.
"I..iya maaf" ucap Sasori di sertai nada penyesalan.
"Tidak apa-apa?" sahut Sakura perlahan. Lagi-lagi ia begitu sedih mengingat kondisinya yang selalu di anggap oleh orang baru sebagai orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dan mungkin satu-satunya orang yang tidak memandangi kekurangannya hanyalah Sasuke. Mengingatkan lagi soal Sasuke. Perlahan tangan Sakura bergerak meremas kain yang ada di depan dadanya. Perihnya setiap kali mengingat mantan kekasihnya itu.
"Sakura" panggil Sasori perlahan membuyarkan lamunan Sakura.
"Oh! Iya…" buru-buru Sakura menenangkan diri dari perasaan gemuruh didadanya setiap kali mengingat sosok Sasuke.
"Maaf jika aku ada yang menyinggungmu, tapi, jujur, kau benar-benar hebat bisa merawat semua ini. Ini terlihat di rawat oleh seorang yang sangat profesional"
Mendengar pujian Sasori, Sakura hanya bisa tertawa renyah. Hatinya yang tadi murung, perlahan menjadi tenang. Kehadiran Sasori, yang baru saja berkenalan dengannya. Apa lagi cara bicara Sasori yang luwes. Selain itu sifatnya benar-benar sopan.
"Aku pernah mendengar, ada yang lebih hebat dariku. Dia buta, tapi bisa merawat dan mengenali setiap jenis tanaman hias"
"Benarkah?"
"Iya"
"Aku sebenarnya juga sangat menyukai tanaman hias, hanya saja, aku kurang pandai memeliharanya. Melihatmu, aku ingin belajar darimu"
Sakura hanya bisa tertawa kembali mendengar ucapan Sasori yang lucu menurutnya.
"Iya tertawalah sepuasmu jenius tanaman hias" ujar Sasori bersungut-sungut. Tapi sebenarnya itu ia sengaja, karena Sasori merasa bahwa ia akan sebentar lagi akrab dengan Sakura. "Aku memang payah"
Tawa Sakura lebih besar dari sebelumnya, tingkah Sasori makin lucu didepannya.
"Oh ya, ini ada tangkai yang kering" ujar Sasori tiba-tiba. Tangannya menjulur pada salah satu tanaman, dengan maksud mematahkan dahan yang sudah mengering.
"Eh! Jangan!" cegah Sakura, gerakan Sasori pun tertahan, "Itu akan menambah parah, bahkan jika di patahkan, kerusakannya akan menyebar akibat potongan yang tidak rapi"
"Pakai yang ini, agar potongannya rapi" ujar Sakura sambil menyodorkan gunting pemotong.
Usai memotong rapi tangkai tanaman yang sudah mati. Saori seegra berdiri di belakang Sakura, mendorongnya perlahan.
"Hey… apa yang kau lakukan" tentu saja Sakura kaget.
"Kan sudah kubilang, atau kau tidak paham? Aku menyukai tanaman hias, tapi aku tidak pandai caranya. Aku ingin mengajakmu, sekaligus mengajariku merawat tanaman"
"Uh… itu… baiklah, tapi…" Sakura sedikit gelagapan.
"Aku merasa tidak di repotkan. Atau apa aku mengganggumu?"
"Uh… tidak.. maksudku, baiklah"
"Syukurlah" ujar Sasori penuh kelegaan. Keberuntungan juga buat Sasori, Sakura ternyata gadis yang begitu mudah menerima setiap orang yang ingin berteman. Sedikit kelemahan, bagi seorang Sakura andai ada yang ingin berbuat jahat padanya. Untungnya Sasori memang sedikitpun tak ada niat untuk berbuat kurang ajar.
Perlahan Sasori pun mendorong kursi roda.
"Tapi ingat! Aku hanya mengajarimu teorinya, aku tidak ingin kau mempraktekkan pada tanamanku"
"Baiklah, Bu Guru. Itu bisa di atur. Setelah ini aku akan membeli beberapa tanaman dan langsung praktekkan"
Di panggil Bu Guru oleh Sasori, lantas membuat tawa Sakura berderai seketika. Mau tidak mau Sasori pun ikut tertawa.
Sasori sedikit miris membayangkan nasib Sakura, secara tak langsung pun ia menyalahkan Sasuke. Sakura gadis periang dan mudah bergaul. Lalu apanya yang salah, sehingga Sasuke begitu tega meninggalkan gadis ini. Gadis ini juga cantik. Atau apa hanya karena kelumpuhannya? Sekelumit pertanyaan di benak Sasori.
Dan satu lagi kesalahan fatal Sasuke menurut Sasori. Ia meninggalkan Sakura dan menikah. Hasilnyanya Sasuke tak kelihatan bahagia dengan pernikahannya sekarang.
"Oh ya… apa kita sudah berkenalan?"
"Sepertinya sudah, bukankah namamu Sasori?"
"Oh iya… hehehe…" Sasori yang cengengesan malah terlihat lucu dan membuat Sakura makin menambah tawanya.
Sasori mendengus, gemas juga dengan ulah Sakura, "Haah… apa itu perlu di tertawakan?"
"Iya…iya, maaf… habis kau lucu"
"Hey… kau mau mengajariku atau menertawakanku"
Kembali derai tawa Sakura terdengar, "Menertawakanmu lalu mengajarimu"
Suara tawa lepas Sakura, mengundang Mebuki untuk cari tahu. Ia menautkan alis, melihat adanya seorang pria asing yang menemani Sakura. Bahkan sampai bisa membuatnya tertawa riang.
Melihat hal itu, hati mebuki kembali miris, ia hanya berharap, pria asing itu hanya kawan baik Sakura. Ia tak ingin putrinya itu kembali jatuh kejurang yang sama jika ia kembali menjalin cinta dengan pria lain. Meski kelihatan meyakinkan, namun justeru itulah, yang makin membuat Mebuki makin khawatir. Sebelumnya Sasuke juga adalah pria yang begitu meyakinkan kalau ia akan membahagiakan Sakura. Namun berujung dengan kenyataan pahit.
o0O0o
"Hhhh…" seperti tak ada hentinya, Sasuke selalu mendesah nafas panjang. Tatapannya tampak kosong mengarah keluar jendela. Tangannya menopang dagu dengan ujung jarinya di gigit.
"Sasuke" lagi-lagi suara lembut milik Sakura seperti menggema dalam pikirannya.
Tiga tahun sudah, ia dengan egonya meninggalkan Sakura, dimana bunga-bunga cinta antara mereka berdua sedang mekar. Seperti layaknya roda kehidupan yang selalu naik turun. Begitu juga dengan perusahaan milik ayahnya. Karena kekotoran sang rekan bisnis, membuat badai melanda peusahaan Uchiha. Beberapa strategi telah di coba untuk menyelamatkan perusahaan. Namun semua sia-sia.
Tiga tahun pula, Sasuke selalu di hantui rasa bersalah. Selalu menyesali perbuatannya yang tega meninggalkan Sakura. Tiga tahun ia bertahan dari semua rasa yang menyesakkan dada. Tapi semakin di tahan, justeru Sasuke makin tertekan. Dan puncaknya, ia meminta Sasori untuk mengawasi Sakura. Mengingat derai air mata Sakura saat Sasuke memutuskan hubungannya. . Ia hanya berharap Sakura sekarang baik-baik saja tanpanya. Sasuke hanya ingin tahu satu hal tentang Sakura, ia sekarang bahagia entah itu dengan pria lain atau tidak.
Namun membayangkan Sakura dengan pria lain, tambah lagi hal baru yang membuat dada Sasuke sesak.
Dan akhirnya mengertilah Sasuke sekarang, seperti apa perasaan Sakura. Mengertilah Sasuke, bagaimana perasaan Sakura, di saat Sakura membayangkan Sasuke bersama wanita lain.
"Sial!" geram Sasuke. Ia mulai tidak tahan. pertahanannya akhirnya goyah.
Sasuke buru-buru meraih gagang teleponnya. Ia baru ingat kalau ternyata ia menugaskan Sasori. Ia malah makin tidak sabar untuk mengetahui keadaan Sakura. Ia pun segera menelepon Saori agar kembali menemui dirinya di kantor.
Sasuke makin gelisah, dari tadi Sasori yang di telepon belum juga muncul. Jarak kantornya dengan manufacture Hi memang butuh satu atau dua jam perjalanan darat.
Sauke tahu itu, tapi biar bagaimana pun ia sudah tak sabar. Sebenarnya ia bisa saja mengetahui keadaan Sakura cukup melalui telepon tadi, tapi Sasuke ingin mengetahui langsung dari Sasori. Selain itu, Sasori juga berkata kalau ada hal yang ingin ia tunjukkan
Rasa penasaran terhadap sesuatu yang ingin di tunjukkan, membuat Sasuke makin tak sabar hanya dengan duduk saja, ia mondar-mandir dalam ruang kantornya yang cukup besar, berharap waktu berlalu tanpa terasa.
Tok! Tok!
"Masuk" jawab Sasuke.
Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu, legalah Sasuke. Orang yang di tunggunya dari tadi akhirnya ia datang juga
Sasuke buru-buru kembali ke kursinya.
"Bagaimana Sasori, kau sudah menemukan tempat Sakura?" tanyanya tanpa sabar, bahkan Sasori belum mengambil tempat duduk.
Sementara itu Sasori pun mengambil tempat duduk.
"Iya Tuan. Dan sesuai perintah, saya juga sudah mengawasi Sakura"
"Lalu?"
"Mungkin Saya tidak bisa menjelaskan langsung dengan kata-kata" Sasori segera mengambil sesuatu dari dalam ransel yang sempat di letakkan di samping kursinya. Tampak Sasori mengambil sesuatu. "Tapi tuan bisa melihat rekaman video yang sempat saya ambil ini. Lengkap dengan suaranya" sambil menyodorkan benda tersebut.
Sasuke menerima sambil mengamati benda berupa flashdik. Ia mengamati seksama media penyimpanan tersebut.
"Hn. Terima kasih, bisakah kau melanjutkan tugasmu? Maksudku, awasi kembali Sakura"
"Bisa Tuan"
"Hn, silakan" Sasuke memang berharap agar Sasori segera meninggalkan ruangannya. Ia sangat penasaran dengan isi rekaman video yang baru saja di serahkan Sasori.
Sepeninggal Sasori, Sasuke langsung mengambil perangkat pemutar video. Tak lupa memasang headset agar perbincangan atau suara dari video itu semakin jelas.
Gambar mula-mula menayangkan Sakura yang di temani ibunya berkeliling taman. Jelas Sasuke tahu tempat itu, itu adalah taman bunga hasil kreasi Sakura. Sasuke dulu sering menemani Sakura merawat tanaman-tanaman itu. Sasuke tersenyum getir, mengingat pengalamannya bersama Sakura di tempat itu, ia masih ingat begitu cantiknya Sakura ketika berantusias merawat tanaman hias. Atau girangnya Sakura ketika mengetahui beberapa tanaman favoritnya tumbuh subur. Sasuke kembali tersenyum mengingat wajah muram Sakura jika mengetahui ada tanamannya yang sakit.
Meningat semua momen itu, ada rasa dari dalam dada Sasuke yang membuatnya seperti terbang melambung. Ingin sekali Sasuke mengulangi semua peristiwa bersama gadis Sakura itu.
"Sakura" jelas sekali, dari suara video itu terdengar Mebuki membuka percakapan.
"Iya, Bu" jawab Sakura melalui rekaman video itu.
"Ibu tahu, kau sering berpura-pura bersikap ceria seperti biasa di depan ibu. Tapi, ibu tahu, kau ingin sekali menenggelamkan dirimu, gara-gara di rundung kesedihan yang mendalam, sejak Sasuke meninggalkanmu…"
Seperti ada yang petir yang menyambar. Sasuke seperti terpaku di tempatnya, seluruh tubuhnya menjadi serasa kaku, bahkan hanya untuk sekedar menggerakkan jari-jarinya.
Rasa sedih yang mendalam? Ingin menenggelamkan diri? Apakah maksudnya ingin mengakhiri hidup? Membayangkan bagaimana Sakura sejak ia meninggalkan Sakura, membuat Sasuke makin di rundung rasa bersalah dan penyesalan yang semakin mendalam.
Ia bisa membayangkan bagaimana sakitnya Sakura. Tanpa sadar, air mata Sasuke menetes saat itu juga. Ia benar-benar menyesal terhadap apa yang ia lakukan pada Sakura.
Sementara adegan dalam rekaman video terus berputar, namun tak di hiraukan lagi oleh Sasuke, ia kini sudah mengerti keadaan Sakura.
"Ibu…" lamunan Sasuke kembali tersentak, ketika mendengar tangisan pilu Sakura dalam rekaman.
Dan yang paling membuat hati Sasuke seperti tertusuk ribuan jarum adalah, di sela tangisan Sakura yang menyayat hatinya itu, Sakura memanggil nama Sasuke.
"Sial!" Sasuke mengobrak abrik semua yang ada di mejanya, sehingga berhamburan. Termasuk alat perekam video juga sudah terhempas dari atas meja kerjanya.
Kedua tangan Sasuke meremas rambut dengan sepuluh jarinya.
"Sakura… maafkan aku" suara Sasuke meringis. Bahkan ia sendiri ingin menangis saat ini juga. Ia pun telah terjebak dalam cinta yang mendalam pada sosok Sakura. Ia begitu menyesal telah menyakiti kekasihnya itu. Tapi Satu peristiwa memaksa Sasuke untuk meninggalkan Sakura.
Perlahan Sasuke menenangkan pikirannya, hanya satu yang ia ingin lakukan sekarang, menemui Sakura, dengan tujuan mendapatkan kembali gadis itu. Meyakinkan Sakura agar ia kembali kepadanya. Tak peduli dengan statusnya sebagai seorang suami sekarang. Lagi pula, rumah tangganya juga di ujung tanduk.
o0O0o
Sasuke melangkah meninggalkan mobil dengan lesuh menuju pekarangan rumah. Semangatnya menguap entah kemana. Rekaman Video yang di bawah Sasori padanya benar-benar seperti sebuah godam menghantam dadanya. Konsentrasi dan ketenangan bawaan yang ia miliki hilang seketika. Rapat pun ia tunda, sebagian ia tidak hadiri, dan di serahkan pada orang kepercayaannya.
Langkah lesuh Sasuke berhenti ketika ia hendak membuka pintu rumah. Lengkingan Karin membuat ia makin mendesah napas. Tambah lagi satu masalah.
"Dengar! Kalian harusnya berterimakasih, kalian sudah melarat jika saja bukan karena ku. Jadi jangan memaksaku dengan sesuatu yang tidak aku inginkan"
Sasuke segera membuka pintu, dan tampaklah Karin menuruni tangga dari lantai dua dengan terburu-buru. Gadis cantik itu, juga tampak gusar.
Amarah Mikoto ikut tersulut dengan kepongahan Karin yang setiap hari, menunjukkan jasa keluarganya.
Setelah kemunculan Karin, Mikoto juga datang menyusul.
"Tutup mulutmu, Jalang!" Mata Sasuke maupun Fugaku membulat sempurna. Mikoto yang selama ini berperangai lembut dan murah senyum. Sekarang malah, berkata kasar. Segitu tertekannya kah Mikoto dengan ulah Karin? Sasuke memang tidaklah terlalu sering di rumah, karena ia mengurusi perusahaan, demikian juga dengan Fugaku. Jadi praktis, yang tahu atau selalu berhadapan dengan ulah Karin adalah Mikoto.
"Sasuke" panggil Mikoto karena ia melihat Sasuke berdiri mematung didepan pintu, "Ibu minta kau ceraikan wanita jalang ini" tudingnya pada Karin
"Ibu… tapi…"
"Kenapa Sasuke? Kau tidak mau?" Mata Mikoto menatap tajam pada Sasuke. Seakan memaksa agar Sasuke segera menceraikan Karin.
"Baik. Aku minta cerai. Aku tidak suka dengan mertua yang tidak tahu berterimakasih sepertimu" Karin memutar tubuh, meninggalkan yang lain, melewati Fugaku menuju kamar Sasuke. Merapikan semua pakaiannya dan bersiap-siap pergi.
"Pergilah!" Ketus Mikoto sambil mendesah, entah lega atau mungkin karena masih kesal.
Tidak menunggu lama Karin muncul dengan koper besar. Ia melewati keluarga Uchiha itu tanpa menoleh pada siapapun. Bahkan kepada Sasuke.
"Setelah ini, aku tidak mau tahu tentang kalian" ujar Karin melewati Sasuke begitu saja.
Sementara itu Sasuke malah mondar-mandir karena semua membuat ia pusing.
"Sasuke…" panggil perlahan Mikoto.
"Tidak apa-apa, Bu" jawab Sasuke perlahan, selanjutnya ia meninggalkan kedua orangtuanya keluar dari rumah. Ia ingin mencari ketenangan.
"Sasuke" kembali Mikoto memanggil puteranya.
"Soal Sakura itu siapa?" Sasuke diam. Ia selama ini memang tidak prnah bercerita soal Sakura. Bahkan sejak masih pacaran, Sasuke memang tidak berminat memberitahukan perihal Sakura pada kedua orang tuanya. Karena Sasuke yakin, sangat sulit bagi kedua orang tua Sasuke untuk menerima keadaan Sakura.
Sebelum Sasuke benat-benar meninggalakan rumah kedua orangtuanya. Ia menghentikan langkah.
Ia menoleh pada Mikoto, dan menatap dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Naruto yang cerita" imbuh Fugaku.
"Dia itu… bukankah kalian sudah tahu tentangnya? Ketika masih di suna…" belumlah selesai Sasuke berucap, Mikoto memotong…
"Mungkin dia lebih baik. Aku… kami, benar-benar merindukan cucu yang menemani hari tua kami"
Sasuke tidak jadi pergi keluar menenangkan pikirannya. Ia malah melangkah ke sofa tempat ayahnya duduk yang sedari tadi hanya diam. Mikoto pun ikut duduk dan posisinya kini berhadapan dengan Sasuke dan Fugaku di sampingnya.
"Kau menyesal?" tanya Fugaku sambil menatap dalam-dalam pada puteranya.
"Menyesali apa? Soal karin? Jawabnya tidak!" suara Sasuke pelan tapi terdengar mantap.
Entah apa penyebabnya, hati Sasuke malah serasa lapang sekarang. Mungkinkah karena ucapan orang tuanya barusan. Atau karena ia akan bercerai dengan Karin.
Tapi yang pasti, sekarang makin mantap untuk kembali menemui Sakura, menyambung kembali benang asa cinta mereka yang sempat terputus.
"Tentang kekasih lamamu, Sakura?" kembali Mikoto mengulang pertanyaannya.
"Dia kekasih…" kali ini Suara Sasuke lebih perlahan dan serasa serak. Ia masih ragu untuk menyampaikan prihal Sakura sebenarnya.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami" Fugaku jelas menuntut agar Sasuke menceritakan perihal Sakura. Ketika keluarga Fugaku masih berada di Suna. Sasuke sendirian di Konoha, saat itu, Sasuke hanya menceritakan pada kedua orangtuanya kalau ia memiliki kekasih hati sendiri. Tidak lebih.
Sasuke diam.
"Dia gadis lumpuh, dan…"
"Seperti apa penilaianmu tentang kami, Sasuke" seperti biasa suara Fugaku terdengar datar.
"Kau berfikir, kalau kami ini suka memilih-milih menantu?" sela Mikoto, "Kalau kami seperti itu, lalu untuk apa kami merestui Itachi yang memilih menikah dengan gadis biasa, bahkan meninggalkan dunia bisnis"
"Tentu saja, kalian masih bisa menerima Izumi, dia cantik, dia sempurna. Tapi Sakura, dia hanyalah gadis biasa yang bahkan berdiri di atas dua kakinya tidak bisa. Orang tua mana yang mau memiliki menantu seperti dia?"
"Dan orang tua mana juga yang tak mendukung kebahagiaan anak-anaknya"
"Oh ya. Kalian pikir, selama ini aku bahagia dengan acara perjodohan yang kalian lakukan antara aku dan karin? Selama pernikahanku, sedikitpun aku tidak bahagia. Yang ada, aku malah makin bersalah karena telah menyakiti gadisku sendiri"
"Kenapa kau tidak menolak?"
"Terpaksa"sahut Sasuke disertai hembusan nafas perlahan.
Kedua orang tua Sasuke juga ikut diam. Mereke berdua yakin, Sasuke masih memiliki sesuatu untuk di sampaikan.
"Aku menyayangi kalian. perusahaan kita bangkrut. Kita butuh keluarga Uzumaki. Jika jika aku menolak, aku takut kita jatuh di ambang kemiskinan. Kalau aku, sebenarnya tidak peduli hidupku seperti apa. Selama itu bersama Sakura. Tapi yang aku pikirkan, jika aku menolak menikah dengan karin sebagai manifestasi bangkitnya perusahaan kita, aku kwatir jika kita jatuh miskin, kalian belum siap. Karena itulah, aku setuju"
"Lalu?"
"Sekarang pun tidak bisa di hindari. Ternyata yang kutakuti, akhirnya terjadi. Karin minta cerai, aset pasti akan di cabut Uzumaki, sesuai perjanjian. Dan yang paling ku sesali, pengorbananku akhirnya juga sia-sia. Kembali kepada Sakura, kecil kemungkinan untuk di terima. Mengingat betapa sakit hatinya ku campakkan"
Fugaku dan Mikoto saling tatap sambil melempar senyum. Keterangan Sasuke, membangkitkan rasa bangga pada putera bungsunya itu.
"Kami harap kau masih memiliki kesempatan kedua. Tolong, bawa Sakura pada kami"
"Atau, kau ingin agar kami yang menjemputnya" sedikit nada menggoda Mikoto, guna mencairkan suasana ketegangan yang baru saja di akibatkan oleh Karin.
Mikoto pun baru ingat, kalau sekarang mereka pindah dan berada di Konoha. Karena menjalankan perusahaan milik besannya yang di kelolah oleh Sasuke dan juga suaminya.
"Eh.. kalian tidak…"
"Sama sepertimu, kami juga tidak takut jatuh miskin. Kami sudah tua, Sasuke. Tidak butuh lagi kemewahan. Kami tinggal butuh ketenangan" ujar Mikoto lembut
"Aku membangun perusahaan mati-matian, sebenarnya untuk kalian. Tapi kalau kau sendiri tidak butuh. Sekarang bukan lagi masalah"
Sasuke mengangkat kepalanya memastikan apa yang di dengarnya barusan benar-benar berasal dari kedua orangtuanya.
Mikoto tersenyum dan Fugaku mengangguk.
"Lagi pula, aku tidak bodoh Sasuke. Aku selalu memikirkan kemungkinan terburuk. Sejak awal pernikahanmu dengan Karin. Aku sudah melihat tanda-tanda ketidakharmonisan. Karena itu aku bergerak cepat. Membangkitkan perusahaan kita. Jadi jika perjanjian dengan Uzumaki di cabut, bukan masalah. Aset Uchiha juga sudah ada"
"Jadi…"
Fugaku tertawa perlahan. "Jiwa penyaing bisnis tidak bisa di buang" kali ini Fugaku tertawa lepas.
Sasuke pun mendengus tertawa. Ia tenang sekarang. Tapi yang kembali membebani pikirannya adalah, apakah Sakura mau memaafkannya. Membayangkan bahwa Sakura tak akan pernah memberinya maaf, malah mengiris perasaan Sasuke.
o0O0o
Meski baru beberapa minggu berkenalan, keakraban antara Sasori dan Sakura makin dekat. Kesamaan keduanya yang berminat pada tanaman hias, yang makin mendekatkan mereka. Apa lagi, Sasori sering datang menemui Sakura dan bertanya tentang tanaman hias, membuat Sakura mudah untuk menerima keberadaan Sasori. Di samping sikap Sasori yang nampak pengertian. Hubungan Sasori dengan keluarga haruno pun bisa dikatakan makin dekat.
Orang tua Sakura pun bisa mengetahui kalau. Kesedihan dan kemuraman Sakura pasca di tinggalkan Sasuke juga mulai berkurang sejak kehadiran Sasori.
"Oh ya, aku bukanlah orang sini. Dan aku tertarik dengan taman yang berada di alun-alun. Tempat itu sepertinya sengaja di isolasi, apa benar?" tanya Sasori, seperti biasa ia selalu menemani Sakura merawat tanaman hias. Meski sampai sekarang, Sasori belum bebas asal menyentuh tanaman kesayangan Sakura.
Sakura menghentikan kegiatannya, ia malah menatap Sasori. Dan memang benar, sampai sekarang ia belum mengetahui asal Sasori darimana.
"Tempat itu memang sengaja di isolasi, cukup luas juga, dengan luas sekitar dua kilometer persegi. Bahkan, yah luasnya sekitar 20 persen dari manufacture Hi" jawab Sakura dan kelihatan ia berfikir. Ia memang berusaha mengingat detail tempat yang dimaksudkan Sasori barusan.
"Dari pada kau pusing menjelaskan, apa tidak sebaiknya kita kesana? Kau mau ku ajak jalan-jalan ke taman? Maksudku taman yang ada di alun-alun" ajak Sasori tiba-tiba.
"Heh! Haaah… siapa yang mengajak siapa"
Tertawalah Sasori, "Baiklah, temani aku ke taman"
"Tapi…"
"Kenapa? Hey…hey… aku tidak akan menculikmu. Kalau aku mau, aku tak akan menculikmu, aku akan meminta secara baik-baik pada ayah dan ibumu"
Tertawalah Sakura, mendengar kan ucapan Sasori. Mau tidak mau Sasori juga ikut tersenyum. Ada setitik kebahagiaan melihat Sakura bisa tertawa lepas. Sejak perjumpaan pertama mereka, yang Sasori lihat pada Sakura, bahwa Sakura selalu di rundung kesedihan dan kemuraman.
Tawa Sakura secara perlahan berhenti. Kembali ia terkenang pada Sasuke. Kepalanya di tundukkan. Jari jemarinya mengepal kuat-kuat menahan rasa perih di dadanya.
Lagi-lagi ucapan Sasori mengingatkan tentang Sasuke. Ucapan Sasori barusan sama persis dengan ucapan Sasuke ketika pertama kali Sasuke mengajaknya untuk pergi berduaan atau lebih tepatnya berkencan.
Jelas Sasori menangkap tanda kesedihan Sakura.
'Sasuke lagi!' batin Sasori.
Ia menatap Sakura dengan segudang rasa empati. Sungguh ia menyesalkan atasannya itu, segitu teganya meninggalkan gadis yang jelas butuh perlindungan dari seorang Sasuke. Kenapa di saat Sakura bergantung, Sasuke malah pergi meninggalkan Sakura dalam keadaan tidak berdaya.
"Sakura" panggilan Sasori membuyarkan Sakura, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya basa-basi, hanya sekedar membangunkan Sakura dari lamunannya, yang Sasori yakini, pasti melamunkan Sasuke.
"A..aku tidak apa-apa" buru-buru Sakura membuang mimik kesedihan dari wajahnya.
"Ayo!" Sasori segera beringsut kebelakang kuris roda Sakura. Mendorongnya perlahan, meninggalkan area taman mini di depan rumah Sakura. Tujuan berikutnya adalah taman di alun-alun.
…
..
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Thx buat yang sudah sempatkan diri ninggalkan jejak.
