Now or Never
…
…
…
Pria berhelaian merah jabrik, dengan tatto 'ai' di dahi bagian atas mata kirinya melangkah memasuki pekarangan atau lebih tepatnya sebuah taman mini, taman tempat di mana Sakura menata dan merawat tanaman hiasnya.
Sebenarnya pemuda ini bernama Gaara, ia adalah saudara sepupu Sakura, dengan marga yang berbeda.
Gaara sejak dulu mendambakan seorang adik, terutama adik perempuan. Sayangnya Sang Kuasa tak memberi adik untuknya. Beruntung ia memiliki Sakura, sebagai saudara sepupunya. Makanya ia sangat menyayangi Sakura seperti adik sendiri.
Ia melangkah dengan memperlihatkan wajahnya yang terlihat sumringah. Di tangannya pun tergenggam pot yang berisi tanaman bunga. Tentu saja, yang ada dalam genggamannya itu di peruntukan untuk adik sepupu yang begitu ia sayangi.
Pemuda itu tampak sedang mencari seseorang yang biasanya menghabiskan waktu di taman ini. Terlihat ia agak kecewa, sosok Sakura yang di cari-carinya tidak terlihat. Padahal ia sangat suka melihat wajah kaget Sakura lalu diiringi wajah cerianya karena mendapat koleksi tanaman hias.
"Gaara!" panggilan seorang wanita paruh baya atau Mebuki mengalihkan pria berhelaian merah tadi. Pria yang di panggil Gaara itu segera menoleh.
"Bibi, mana Sakura?" nada pemuda Gaara datar mempertanyakan adik sepupunya.
"Sedang pergi dengan teman prianya," jawab Mebuki sambil terlihat membenarkan beberapa letak pot bunga yang masih kelihatan sedikit
"Pria itu lagi," geram Gaara sambil mengepalkan tangannya.
"Bukan. Tapi teman barunya!"
Makin geramlah Gaara. 'Siapa lagi yang ingin menyakiti adikku dengan harapan berengsek mereka' batin Gaara.
Mengingatkan kembali ada yang pernah menyakiti adik sepupunya itu membuat Gaara menjadi berang. 'Siapa lagi yang akan memberi harapan kosong pada Sakura' batin Gaara.
"Lalu kemana mereka bi?"
"Menurut mereka, mereka sedang menuju ke taman di alun-alun."
Tanpa banyak bertanya, Gaara segera meletakkan pot yang berisi tanaman hias. Ia segera menuju ke tempat yang di maksud.
"Gaara!" panggil Mebuki, "kuharap, kau mengendalikan dirimu." Mebuki mengingatkan. Ia tahu, Gaara begitu menyayangi adik sepupunya itu. Dan yang membuat Gaara paling kesal adalah ulah Sasuke yang pernah membuat Sakura patah hati, sampai sekarang.
Dulunya, tepatnya tiga tahun yang lalu. Gaara ingin melabrak Sasuke, kalau saja tidak di tahan oleh Mebuki dan Sakura.
o0O0o
Sesuai kesepakatan mereka, Sasori memang mengajak Sakura ke taman yang ada di alun-alun. Awalnya Sasori ingin mengajak Sakura dengan mobil namun Sakura menolak dengan alasan ia senang mengamati alam sekitar.
Sasori masih setia mendorong di Sakura di atas jalan beton yang memang di sengaja di peuntukkan untuk para pejalan kaki di taman. Orang-orang di taman masih nampak sepi, ini mungkin karena memang masih jam sibuk atau karena bukan hari libur. Sesuai keterangan Sakura, area ini memang area yang bersih, sampah plastik meski hanyalah bungkus permen, tidak di temukan.
"Tempatnya romantis juga," Sasori mulai melakukan obrolan.
Sakura mengakui, untuk kali pertama ia di ajak oleh seorang pria lain selain Sasuke. Dan yang paling membuat Sakura heran adalah jantungnya terus berdetak sepanjang perjalanan Sasori menemaninya. Dan ini bukanlah kali pertama mereka bertemu atau berduaan. Mungkin karena suasana romantis di tempat inilah yang membuat Sakura berpikir yang bukan-bukan.
"Meski begitu, kita tidak bisa bebas bermesraan di sini," jawab Sakura tenang berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan.
"Kenapa?"
Sakura menunjuk ke sebuah tiang besi yang menjulang dengan tinggi sekitar dua kali tingginya dari ukuran manusia dewasa.
Sasori mengamati tiang itu dari bawah ke atas. Dan menurut Sasori, tidak ada yang istimewa dari benda itu. Selain tiang besi yang di panjang dan di puncaknya di pasang seperti bola kaca buram.
"Itu adalah kamera pengawas. Tempat ini benar-benar di pastikan menjadi area aman dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Merusak tanaman. Membuang sampah plastik. Dan sesuai aturan, jika ada yang melanggar, hukuman dan denda menanti," imbuh Sakura menerangkan.
"Apa pacaran di tempat ini, juga di larang?"
Sakura malah tertawa perlahan menanggapi pertanyaan Sasori.
"Sebenarnya tidak. Tapi apa kau tidak malu, bermesraan dan di lihat oleh para pengawas melalui CCTV?"
"Menurutmu, apa ada tempat yang tidak terkena kamera CCTV?"
"Kenapa?" Sakura balik bertanya.
"Ada yang ingin kukatakan padamu….tapi bukan di tempat ini."
Sakura menoleh pada Sasori. Ia menerka apa yang kira-kira Sasori ingin katakan. Ia menatap intens pada Sasori dan heran kenapa Sasori tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu yang tiba-tiba. Atau tujuan Sasori mengajaknya berduaan, memang ada maksud lain.
Sakura tak ingin gegabah untuk berpikir yang bukan-bukan. Ia tetap positif.
"Jangan salah paham. Aku hanya ingin tempat di mana kita hanya bisa berduaan," imbuh Sasori sambil tersenyum menenangkan Sakura, ia seperti menangkap adanya ketegangan Sakura.
Sakura menoleh kesekeliling, mencari tempat yang di inginkan Sasori.
"Sebenarnya ada beberapa titik yang tidak di pantau oleh kamera. Kebetulan tempat itu memang lega, untuk di lihat umum. Eumm… Bagaimana dengan yang itu?" tunjuknya kesalah satu pohon besar dan rindang yang di bawahnya terdapat sebuah kursi untuk para pengunjung istirahat. Dan kebetulan kursi itu memang kosong.
"Kurasa memang cocok," sahut Sasori sambil kembali mendorong Sakura.
Sasori mulai membawa Sakura ke tempat yang tadi di tunjuk oleh Sakura. Tempat itu memang masih sepi dari para pengunjung yang biasanya ramai.
Padahal jarak yang mereka dengan tempat peristirahatan hanya sekitar beberapa puluh meter. Namun serasa puluhan kilometer. Ini akibat jantung Sakura yang terus berdebar sejak tadi.
Di lain pihak, Sasori di belakangnya menatap Sakura dengan sangat mendalam.
Awalnya hanya menjalankan tugas dari Sasuke. Pengamatan pertamanya tidak menimbulkan kesan apa-apa. Bahkan ia menyebut Sasuke 'bodoh', apa istimewanya Sakura itu? Sampai-sampai Sasuke begitu terlihat mencintai Sakura. Selain gadis cantik yang tak berdaya di atas kursi roda. Makanya ia dengan jujur menyampaikan semua info tentang Sakura pada Sasuke. Termasuk beberapa rekaman aktivitas Sakura.
Entah beruntung atau sial, suatu ketika ia malah ketahuan sedang memata-matai Sakura. Di saat itulah penilaian Sasori tentang Sakura berubah. Sasori mulai mengenal dan dekat dengan Sakura. Karenanya pula, Sasori mulai mengerti, kenapa Sasuke tertarik pada Sakura, bahkan Sasori pun ikut-ikutan 'bodoh' yang mulai tertarik pada Sakura.
"Sasori!" panggilan Sakura membuat Sasori tersentak dari lamunannya. Ternyata mereka sudah tiba di tempat yang di maksudkan tadi.
"Ada yang ingin kau katakan?"
Sasori segera beringsut dari belakang Sakura. Ia mengambil tempat duduk di kursi sehingga posisinya kini berhadapan dengan Sakura.
[Sakura's POV]
Tiba-tiba saja Sasori menggenggam tanganku. Melihat caranya menatap padaku, aku merasa memang ada yang ingin di sampaikan oleh Sasori, sehingga ia terlihat sangat serius seperti itu. Padahal, biasanya Sasori sangat santai. Dan jujur, aku suka.
Menatap dalam mataku, seakan ingin menembus sampai ke jiwaku terdalam. Kurasa ia berhasil, ia pasti bisa merasakan detak jantungku sekarang.
Sasori menggenggam tanganku dengan hangat. Tatapan yang serius itu membuatku tak kuasa untuk bertatap lama-lama. Sehingga membuatku menundukkan kepala.
Selain itu, genggamannya pada tanganku, membuat badanku panas dingin, jantungku berdegup kian kencang.
"Sakura. Aku ingin jujur, sekaligus minta maaf. Maafkan aku yang telah berbohong padamu," katanya dengan tatapan penuh penyesalan. Jari jemarinya meremas-remas jari tanganku.
Aku hanya bisa menautkan alis kebingungan, apa maksud dari kebohongan yang baru saja ia katakan. Ia sedikit menundukkan kepala dengan tatapan meredup, menandakan bahwa ia benar-benar menyesal.
"Kau mau memaafkan aku?" tangannya meremas-remas jari-jariku.
Aku masih berusaha mengontrol diri, "maksudmu apa?"
"Sebenarnya…" Sasori malah terdiam.
Aku memiringkan kepalaku. Masih menunggu Sasori untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Sementara jantungku ini makin tak karuan saja.
"Sebenarnya, aku mendapat tugas dari Sasuke… untuk mengawasimu," ujarnya kembali menundukkan kepala.
Aku langsung menarik tanganku, menatapnya tidak percaya. Jadi kehadiran Sasori di sini gara-gara pria berengsek terbenci dan tercintaku itu?
Permainan apa lagi yang ingin di lakukan Sasuke padaku. Apa ia belum puas? Apa ia akan puas jika aku mati? Ingin rasanya ku teriakan ini pada Sasori.
Dan Sasori. Apa dia juga tidak kalah berengseknya dengan Sasuke? Lagi-lagi miris yang kurasa. Kenapa selalu Sasuke. Kenapa dia?
"Sakura!" aku mulai mengabaikan panggilan Sasori. Aku diam menundukkan kepala membiarkan bulir-bulir air mataku berjatuhan. Bahkan akupun juga mengabaikan ketika tangan Sasori kembali menggenggam tanganku.
"Selama ini kau hanya membohongiku, menyakitiku, sama seperti yang di lakukan atasan berengsekmu padaku?" suara ku serak, dan mungkin kurang jelas jika di dengar oleh orang lain, termasuk Sasori. Tapi aku tidak peduli, ia dengar jelas atau tidak. Aku lebih sibuk, menikmati jeritan hatiku.
"Awalnya, memang hanyalah tugas. Tapi setelah mengenal dan dekat denganmu. Ada rasa yang muncul begitu saja, dan kurasa kau sudah tahu perasaan apa itu? Banyak hal yang membuatku tertarik padamu, terutama pada kesamaan minat kita. Kita sama-sama menyukai taman hias. Ini bukanlah kebohongan Sakura. Aku benar-benar menyukaimu. Sangat! Kau… ah… bersamamu, aku menemukan kesenangan. Tidak kau mengerti, wanita yang bisa memberikan ketenangan sepertimu, sangat di dambakan pria. Maaf. Aku menyalahkan dia, tapi dia memang bodoh. Dan aku tidak sebodoh dia!" Aku merasa lemas dengan pernyataannya barusan. Hatiku makin tergetar oleh ucapan Sasori.
Aku tidak tahu, getaran yang mana yang kurasakan sekarang.
Apakah itu getar cinta? Jujur saja, aku memang mulai merasa nyaman dengan Sasori, tapi traumaku, tentang keadaanku dalam hubungan percintaan, membuatku ragu.
Ataukah getaran karena Sasori terus menerus menyebut 'dia'? 'Dia'… siapa lagi kalau bukan Sasuke. Selalu saja seperti ini. Aku seperti remuk, tergetar jika menyinggung soal dia, Sasuke.
Sasori memegang lembut kedua bahuku, yang secara otomatis, aku menatap wajahnya. Dan jelas ada kesungguhan disana.
"Sakura, tatap mataku. Aku bukanlah dia!" kata-kata Sasori sukses membuat mataku membesar.
Bagaimana tidak? Ucapannya malah makin mengingatkanku pada pria berengsek yang masih kucintai itu. Aku memalingkan wajahku, menghindari tatapan Sasori yang berusaha meyakinkanku untuk menerima perasaannya.
"Aku mengerti Sakura," ujar Sasori perlahan dan jelas sekali ada nada kekecewaan di sana, "aku tidak tahu yang mana yang benar. Tapi aku bisa menduga, kau belum bisa menerima kehadiran pria lain. Atau mungkin juga karena kau masih trauma oleh hubunganmu di masa lalu. Atau, kau masih mencintai pria itu!"
Ucapan Sasori itu menohok jantungku, apa yang dia katakan memang benar adanya. Aku masih sedikit takut menjalani hubungan baru lagi. Dan yang keduapun juga benar, aku masih mencintai Sasuke, meski sakitku setiap kali mengingatnya selalu bertambah.
Di sisi lain. Aku tak ingin menyakiti dan mengecewakan Sasori. Meski kami masih tergolong baru saling mengenal. Tapi ia sudah terlalu banyak melakukan hal yang membuatku perlahan membaik dari luka yang di timbulkan Sasuke.
Hal ini pulalah yang membuatku sedikit bisa mempercayainya. Tapi lagi-lagi muncul perasaan aneh, kalau tak ingin ku sebut perasaan laknat, karena perasaan aneh itu seakan menahanku untuk menerima Sasori.
Dua pertentangan batin, antara menerima karena tak ingin mengecewakan Sasori, dan perasaan menolak, karena sepertinya masih mengharap pada si berengsek yang ku cintai itu.
"Sasori… aku…" aku tidak tahu, apa yang harus ku katakan sekarang. Aku tidak bisa mengatakan padanya kalau sekarang aku masih mengalami pertentangan batin.
"Tidak apa-apa Sakura," ujar Sasori kembali menatap mataku.
Sungguh kata-katanya itu seperti angin sejuk yang berhembus di pendengaranku. Bebanku tadi seperti hilang begitu saja. Yah dengan demikian, aku memang masih banyak waktu untuk berpikir. Perlahan aku menganggukkan kepala.
Aku melihat Sasori tampak tersenyum manis. Aku pun balas tersenyum pula, meski mungkin masih terlihat senyum miris oleh Sasori.
Dengan sendirinya, suasana berubah menjadi kikuk. Aku sendiri masih kebingungan, memulai mencairkan suasana ini dengan obrolan apa.
"Sakura!" panggilan Sasori membuatku bersyukur karena suasana yang tadi hening mulai mencair. "Aku menunggumu, aku tidak bermaksud menggantikan dia di hatimu. Aku datang sebagai orang baru. Dan dia… biarlah dia tetap dalam ingatanmu, sebagai orang yang sempat memberikanmu kebahagiaan, meski sesaat."
Kata-kata yang tegas tapi selalu membuatku menjadi percaya diri, lagi-lagi mengingatkanku pada sosok Sasuke. Yah! Dialah orang yang memiliki kata tegas dan meyakinkanku, dan selalu menenangkanku, seakan aku menemukan pria sejati di balik kata tegas itu.
Mengingat lagi soal Sasuke, kenapa air mataku selalu menggenang di kelopak mataku. Pria itu benar-benar berengsek, bahkan mendengar namanya saja, sudah sangat menyakitiku.
Sebenarnya, sebelum Sasori, Gaara kakak sepupuku sudah mengenalkanku dengan beberapa teman prianya. Alasannya agar aku bisa berpaling dari kesedihanku karena Sasuke. Meski Gaara sudah menjamin teman prianya dengan dirinya sendiri, tapi entah kenapa, setiap pria yang mendekatiku, selalu saja ku bandingkan dengan Sasuke. Sifat, rupa dan perlakuan mereka padaku, seakan selalu berkiblat Sasuke. Aku selalu merasa, belum ada pria yang mendekatiku itu, setara dengan Sasuke. Paling tidak hanya menyamai Sasuke. Dan menurutku, kalaupun hanya menyamai Sasuke, lalu untuk apa? Apa bedanya dengan Sasuke. Artinya mereka belum bisa menggantikan Sasuke di hatiku.
Aku hanya berharap, sebuah pepatah benar-benar terbukti untukku. Di atas langit, masih ada langit. Aku benar-benar berharap, ada pria yang bisa melampaui Sasuke untuk menempati ruang hatiku yang kosong, tapi penuh kerak kecewa. Ataukah aku memang terlalu mencintai Sasuke sehingga, membuatku tidak bisa lagi menilai lebih pada pria lain. Sasuke… Sasuke… aku benar-benar geram pada pria itu. Seakan dia telah membawa kunci hatiku, sehingga tidak bisa terbuka untuk pria lain. Di saat seperti ini, kebencianku pada Sasuke semakin tinggi, namun di saat bersamaan, rasa cintaku juga malah semakin tumbuh. Benarlah kata orang, kalau cinta dan benci, perbedaannya hanya tipis.
[Normal POV]
Melihat pipi Sakura yang telah basah. Sasori malah menjadi tak tega untuk melihatnya. Di hinggapi rasa bersalah karena merasa menjadi penyebab Sakura menitis air mata, tangannya bergerak menyeka.
Tidak ada raut penolakan di wajah Sakura. Yang ada ia malah menatap balik Sasori, dengan tatapan yang sulit di artikan, termasuk Sasori.
Keduanya malah saling tatap dan saling menyelami perasaan masing-masing.
Saori yang di landa perasaan sayang yang menggebu, perlahan menggerakkan kepalanya mendekat ke arah Sakura.
Sementara itu, Sakura yang seperti di hinggapi pikiran kosong, gara-gara mengingat Sasuke, malah seperti terhipnotis. Ia pun melakukan hal yang sama seperti di lakukan Sasori. Kelopak matanya meredup dan perlahan menutup.
Entah siapa yang memulai. Perlahan wajah keduanya semakin saling mendekat.
Cup!
Tangan Sakura mengepal keras, merasakan sentuhan yang di lakukan Sasori. Tidak hanya Sakura, Sasori pun merasakan hal yang sama. Rasanya benar-benar membuat keduanya lupa akan sekeliling. Rasa yang begitu hangat merasuki keseluruh pori-pori tubuh mereka.
Di sela menikmati momen hangat itu, tiba-tiba saja mata Sakura membelalak. Kedua tangannya lalu mendorong bahu Sasori menjauh.
Sasori juga tak kalah kagetnya, ia masih sempat melihat raut penyesalan di wajah Sakura.
"Sakura…" Sakura menggeleng cepat. Wajahnya terlihat seperti meringis dengan mata menyipit menundukkan ia hendak menangis.
"A… aku minta maaf. Aku tidak bermaksud-"
"Bawa aku pulang!" napas Sakura terdengar memburu. Di depan Sasori, Sakura menundukkan kepalanya. Sakura masih terlihat menggigit bibirnya.
Sasori bersimpuh di depan Sakura, memegang kedua bahu Sakura. Tapi sungguh kaget Sasori, tangan Sakura menyingkirkan tangan Sasori dari bahunya.
"Bukan salahmu Sasori, kau tidak perlu minta maaf… aku yang salah. Tolong, antar aku pulang," ujar Sakura dengan nada pelan.
"Kenapa Sakura?" suara Sasori seperti menununtut. Meski, ciuman mereka barusan sesaat, tapi Sasori bisa merasakan ada sedikit rasa dari Sakura untuknya.
"Apakah kau merasa karena…" Sasori tak perlu melanjutkan pertanyaannya. Ia merasa tak perlu, karena mereka berdua sudah tahu. Sasori membenarkan, bahwa yang menjadi penghalang hubungan antara Sakura dan dirinya atau dengan pria lain adalah bayangan masa lalu Sakura tentang Sasuke. Entah karena trauma, atau karena memang masih cinta. Tapi Sasori bisa merasakan, kalau penghalang hubungannya dengan Sakura adalah karena rasa cinta Sakura yang tak pernah pudar pada Sasuke.
Ingin rasanya Sasori mengutuk Sasuke yang menjadi penghalang. Tapi untuk apa pula, andai Sasuke di lenyapkan sekarang pun. Tidak akan merubah perasaan Sakura.
Terlihat Sakura masih berusaha menahan tangis, "kumohon, jangan bahas ini lagi!"
Ya. Sakura memang tiba-tiba teringat Sasuke. Rasa yang membuat Sakura merasa seperti seorang pengkhianat, karena menerima sentuhan pria lain begitu saja. Rasa yang seharusnya tidak perlu ada, karena ia dan Sasuke tidak ada hubungannya lagi. Sakura sudah berusaha menampik rasa ini. Tapi entah kenapa perasaan menjadi pengkhianat itu, muncul begitu saja.
"Baiklah! Aku akan mengantarmu," ujar Sasori mengalah.
"Sakura…" Sakura sedikit melirik pada suara bariton yang baru saja memanggilnya Itu adalah kakak sepupunya Gaara. Ia buru-buru menyeka air matanya yang tadi sedikit mengalir. Sakura memang tak ingin terlihat rapuh di depan kakak sepupunya itu. Ia menatap Gaara dengan seulas senyum di wajahnya.
"Apa yang kau…" Gaara menghentikan pertanyaannya begitu melihat jelas siapa yang menemani Sakura, "Sasori…"
"Hah?" dalam keadaan berusaha bersikap wajar, Sakura malah di kagetkan oleh sapaan Gaara pada Sasori.
"Gaara!"
"Jadi, Sasori kau… hahaha… ternyata kau ya, yang telah mengajak adikku berkencan. Kukira siapa?" suara riang Gaara. Ia pun segera memeluk pria yang sama-sama berambut merah itu.
"Kak Gaara, kau mengenal Sasori?" tanya Sakura malah berganti kebingungan. Memecah kesenangan kedua pria itu.
"Tentu saja, Sakura… kami ini teman lama. Sangat dekat ketika masih SMP," balas Sasori sambil tersenyum menatap Sakura.
"Jadi… kalian sudah…"
"Eh… itu…" Sakura malah merona.
"Ah sudahlah, selamat ya…" Gaara malah makin gencar menggoda sahabat dan adik sepupunya kerena keduanya semakin merona.
"Be…belum," jawab Sakura terbata. Ia malah merasa jengah akibat aksi ciuman yang baru saja ia lakukan dengan Sasori
"Kalian berdua memerah lho!" Gaara semakin gencar menggoda keduanya.
Di balik itu, Sasori bersyukur. Kehadiran Gaara yang membuat suasana canggung antara dirinya dan Sakura, kini lenyap begitu saja. Perubahan itu lebih terlihat jelas pada Sakura, Sakura yang tadinya murung , kini berganti menundukkan kepala dengan rona merah. Dan inilah yang paling di syukuri Sasori. Ia berharap, kecanggungan tadi yang mengancam kedekatannya dengan Sakura, kembali normal. Di tambah lagi dengan kedatangan Gaara yang terus menggoda mereka. Sasori benar-benar berharap, Gaara bisa menjadi batu loncatan untuk ia bisa meyakinkan Sakura.
o0O0o
[Sasuke's POV]
Manufacture Hi. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja melintas di kepalaku. Area khusus di tengah kota Konoha ini telah memberiku banyak pengalaman tentang cinta dan hidup.
Di manufacture inilah aku pertama kali mengenali seorang Sakura, sosok ceria dan penuh semangat. Hobinya baca buku dan merawat tanaman hias.
Ini pertama kalinya setelah tiga tahun, aku meninggalkan area ini dan Sakura yang menjadi penduduknya. Tiga tahun setelah aku menyakiti kekasih yang kucinta. Dimana aku terjebak di antara dua pilihan yang sulit. Kekasih atau orang tuaku.
Dan pada akhirnya, aku tahu, keputusanku ternyata tidak perlu dan salah. Yang kukorbankan semua sia-sia, perkawinanku pun sekarang tinggal menunggu sidang perceraian.
Tapi persetanlah dengan itu, ternyata yang kutakuti, juga tidak terbukti, kedua orang tuaku tidak mempermasalahkan akibat yang di timbulkan akibat perceraianku.
Yang menjadi masalahku dan pertanyaanku sekarang, maukah Sakura memaafkan aku dengan segala luka yang telah ku torehkan padanya? Masihkah aku punya muka untuk bertemu dengannya?
Memasuki area manufacture Hi, aku malah melangkah semakin ragu. Aku masih di liputi berbagai rasa tanda tanya. Pertanyaan yang paling utama adalah, jika aku bertemu dengan Sakura, apakah Sakura memaafkan perbuatanku. Kurasa berat untuknya. Di berikan kesempatan untuk menjelaskan pun, rasanya sudah cukup beruntung.
Dadaku mengembang perlahan. membaur dengan rasa rindu di dalam dada. Membuat keraguan yang tadi melingkupiku, perlahan bisa ku tekan. Aku malah melangkah pasti, tidak peduli jika Sakura menunjukkan kebenciannya padaku jika bertemu. Karena aku hanya ingin mengobati rinduku dengan melihatnya dari jarak dekat. Kalau bisa menyentuh langsung dengan kedua tanganku.
Menuju rumah Sakura pasti melewati taman di tengah alun-alun Hi. Aku tersenyum menatap ke taman asri yang tergolong luas itu. Di tempat itulah, aku dan Sakura menghabiskan banyak waktu berduaan. Mengajaknya jalan-jalan sampai lupa waktu.
Terkadang, bibi Mebuki harus menelponeku untuk mengingatkan waktu untuk pulang. Masih jelas dalam ingatanku, begitu aku kembali mengantar Sakura, kami berdua di ledek habis-habisan oleh kedua orang tua Sakura, termasuk juga Gaara, yang merupakan sepupu Sakura. Dan jika sudah diledek sedemikian rupa. Aku dan Sakura hanya bisa menanggapi dengan senyum yang menyertai rona merah di wajah. Indahnya saat itu.
Aku memejamkan mataku perlahan, mengenang kembali masa itu. Aku benar-benar merindukan saat-saat indah itu. Mengenang semua kenangan itu, malah seperti rasa tombak menghujam jantungku. Bagaimana tidak, aku menyesal, andai aku tidak meninggalkan Sakura, mungkin saat-saat indah itu masih terpatri sampai sekarang. Atau bahkan, mungkin kami sudah menikah dan sudah di anugerahi anak kecil sekarang.
Penyesalanku makin mendalam. Tanpa sadar air mataku mengalir perlahan. Menyadari itu, aku buru-buru menyeka air mataku. Aku menatap sekeliling, sangat beruntung, tempat ini masih sepi pengunjung, ini memang masih waktu sibuk. Sehingga tak ada yang melihatku menitikkan air mata.
Aku mulai memasuki taman yang selalu di awasi 24 jam oleh banyak petugas yang sigap, melalui pantauan CCTV. Karena itu pulalah, semua orang bebas masuk tanpa membayar karcis, karena konon, taman ini di bangun sebagai tempat relaksasi. Dengan syarat cuma satu, jaga kebersihan. Jika tidak, petugas siap mengantarmu kedalam masalah.
Aku mulai melangkah memasuki taman. Merengguk sisa-sisa kenangan manis yang dulu pernah ku buat bersama Sakura di sini. Meski penyesalan semakin menindihku, aku tidak peduli.
Langkahku yang tadinya tenang, terhenti seketika. Mataku membulat besar. Apa yang aku saksikan di depan sana, sungguh tak kupercaya, tapi itulah yang ku lihat. Sasori, orang yang kutugaskan untuk mengawasi Sakura, malah berciuman mesra di depan sana. Meski memang hanya sekilas. Tapi cukup jelas bagiku.
Akhir-akhir ini, ia memang memberiku kabar-kabar tentang Sakura yang membuatku tenang. Termasuk beberapa rekaman video yang menampakkan Sakura dengan senyum cerianya sedang merawat tanaman hias kesukaannya.
Apa saja yang di lakukan beruang merah itu? Sampai-sampai bisa mengambil video Sakura yang tengah tersenyum ceria.
Aku mematung, terpana atau apalah namanya. Rasa sakit lagi? Dadaku bergemuruh seketika. Kembali terlihat Sakura di sana nampak menundukkan kepala di depan Sasori. Apakah ini yang di sebut cemburu? Masa bodoh! Tanganku mengepal keras, jadi setelah ia memberikanku video rekaman kegiatan Sakura. ini yang ia lakukan, menggoda dan mendekati Sakura.
Apa? Entah berapa lama aku terpana dengan rasa sakit karena kecemburuanku. Yang sekarang ku lihat adalah Sasori mulai mendorong perlahan Sakura
Si berengsek merah itu berani membohongiku.
Berengsek! Geramku yang ku tujukan pada Sasori. Kau menipuku.
Akibat kegeramanku pada Sasori, kakiku yang tadi kaku, pun mengayun menuju kearah mereka. Ayunan kakiku ku percepat, menuju ke arah Sasori dan Sakura. Aku butuh kejelasan dari Sasori, sekaligus mengobati rasa rinduku pada Sakura. Mengabaikan kejadian yang kulihat barusan. Baru beberapa langkah saja, langkahku terhenti. Muncul lagi sosok lain yang juga sangat ku kenal, dia Gaara. Apa lagi sekarang?
Terlihatlah Gaara dan Sasori saling mengobrol, sedikit kelihatan akrab. Atau jangan-janagan mereka memang saling mengenal. Cih! Sesama makhluk merah.
'Tidak' aku melihat Sasori mulai mendorong Sakura di ikuti Garaa.
Ini kesempatan bagiku sekarang untuk menemui Sakura. Soal Sasori, urusan nanti. Aku harus menemui Sakura sekarang, karena jika hendak menemui Sakura di rumahnya, kurasa akan lebih sulit. Mengingat perbuatanku, mungkin tak akan termaafkan dan mungkin tak akan mendapat izin untuk menemui Sakura.
"Sakura!" teriakku.
…
..
.
TO BE CONTINUED
.
.
Sankyu revisinya , Mbakyu Yanti Sakura Cherry *Kiss By* :D
