Faith to Fate
…
…
…
"Sakura…" sebuah teriakan menghentikan langkah ketiganya dan menoleh secara bersamaan.
Melihat Sasuke, raut wajah Sakura menjadi pucat. Jangankan untuk melihat Sasuke, mendengar atau menyebut nama Sasuke saja, sudah sangat menyakitkan baginya. Dan sekarang malah menampakkan dirinya.
Dada Sakura terlihat naik turun dengan cepat. Lagi-lagi air matanya mengalir tanpa mampu ia cegah.
"Sasori, bawa aku pulang. Cepat!" pinta Sakura sambil meremas dadanya kuat.
Langkah Sasuke berhenti tiba-tiba, begitu ia melihat tubuh Sakura menegang dengan tangan meremas kuat dadanya. Jauh di luar bayangan Sasuke, bahwa hanya dengan melihat dirinya saja, Sakura sudah begitu sakit hati.
Raut wajah Sasuke pun terlihat berubah kelam. Ia menundukkan kepalanya dalam, dan bergumam dalam hati 'maafkan aku' karena tak mampu ia ucapkan.
Perlahan Sasori kembali mendorong kursi roda Sakura, memenuhi permintaan Sakura agar cepat pergi menjauh dari tempat itu.
"Sakura tunggu! Ada yang ingin…" langkah dan ucapan Sasuke kembali terhenti. Gaara telah berdiri menghadang Sasuke.
"Sasori, teruskan. Aku ingin pulang!" pinta Sakura kembali. Terlihat sekilas oleh Sasuke, bagaimana getirnya raut wajah Sakura yang tengah menggigit bibirnya menahan tangis. Hal ini pulalah yang membuat langkah Sasuke terhenti. Ia merasa jika ia mendekati Sakura, maka Sakura akan lebih hancur dari ini.
Sementara itu, Gaara berdiri menatap Sasuke tajam. Kedua tangannya mengepal keras. Seolah, Gaara memberi peringatan pada Sasuke, jika Sasuke lebih mendekat, maka Gaara siap melayangkan bogem mentahnya pada Sasuke.
Sasuke pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melihat dan membiarkan Sasori mendorong kursi roda Sakura menjauh. Sasuke hanya bisa menatap Sakura dengan tatapan sendu.
Gaara menoleh perlahan ke belakang. Ia melihat Sasori sudah mendorong kursi roda Sakura menjauh. Kembali ia layangkan tatapan tajam menusuknya pada Sasuke. Sama halnya seperti Sakura, Gaara pun sangat membenci Sasuke.
"Mau apa kau?" geram Gaara menahan emosi.
Sasuke tidak langsung menanggapi, ia malah menatap Gaara dengan tatapan yang menandakan kalau ia sangat menyesali semua perbuatannya pada Sakura.
Dan Sasuke kembali menatap Sakura yang kian menjauh.
"Tidak...tidak...tidak!" Sasuke berteriak. "Tolong tidak, Sakura." Dia menggelengkan kepalanya frustasi. hatinya hancur.
"Sakura! Aku-aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apa pun untuk tidak menyakitimu lagi! Kumohon maafkan aku, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf."
Sasuke melangkah mendekati Sakura. Langkahnya tertahan oleh telapak tangan Gaara yang menghadangnya.
"Apakah Kau mendengar apa yang baru saja ia katakan?" Gaara sedikit membentak.
Sasuke menatap Gaara dengan tenang, terkejut. Tapi itu hanya sesaat, ia kembali pada satu tujuan, ia harus lebih mendekati Sakura.
"Terima kasih telah membawaku, Sasori!" Sakura berkata, dan Sasori pun mengerti bahwa ia harus membawa Sakura menjauh dari Sasuke
"Keluarkan saja aku dari sini dan pulang...Keluarkan saja aku dari sini dan pulang...Keluarkan saja aku," gumam Sakura berulang kali dengan suara serak.
Sasori pun semakin mempercepat mendorong kursi roda Sakura menjauh.
Sementara itu Sasuka malah terlihat tidak bisa berbuat apa-apa. Tadinya ia hanya ingin bertatapan dengan Sakura. tapi melihat tatapan sekilas dari Sakura yang seperti penuh luka kebencian. Membuat Sasuke mematung. Selain itu Gaara yang menghadangnya makin membuat Sasuke tak bisa berbuat lebih.
Sasuke hanya bisa menatap Sasori yang mendorong kursi roda Sakura menjauh hingga menghilang di belokan.
Gaara menggulirkan pandangan kesekeliling area itu. Menatap kearah tiang yang di pasangi kamera pengawas.
"Pergilah. Aku tidak ingin berbuat keributan!"
"Gaara… aku hanya ingin bertemu dengan Sakura, hanya itu…"
Buagh!
Belum selesai Sasuke berkata, sebuah ungkapan kebencian dari Gaara berupa bogeman menghantam pelipis Sasuke. Gaara benar-benar muak dengan ucapan Sasuke yang mengatakan ingin bertemu dengan adik sepupu yang di sayanginya. Rasa benci pada Sasuke tak mampu lagi Gaara bendung. Gaara tidak peduli lagi jika kali ini ia akan berurusan dengan keamanan, karena ia berbuat onar di taman yang di jamin keamanan dari keributan dan juga kebersihan itu.
Sasuke tak sempat mengeluh, ia terhuyung beberapa langkah. Ternyata Gaara sepertinya tidak cukup dengan sekali pukul, ia segera memburu Sasuke sebelum Sasuke memperbaiki keadaannya.
Gaara berhasil menyusul, ia segera mendorong Sasuke, sehingga Sasuke yang belum sempat memperbaiki diri sendiri. Semakin goyah, Sasuke hanya berusaha sekeras mungkin agar ia tidak jatuh tersungkur.
Bruk!
Beruntung bagi Sasuke. Ia yang hampir terjatuh, ia terhuyung dan membentur pohon rindang tak jauh dari jalanan di taman. Sehingga ia tidak sampai terjatuh.
Gaara benar-benar tidak memberi kesempatan pada Sasuke. Gaara segera memburu dan menarik kerah baju Sasuke, lalu menekan tubuh Sasuke kearah pohon tempat Sasuke bersandar.
"Dengar berengsek!" geram Gaara sembari mengencangkan tangannya di kerah leher baju Sasuke, "jika kau mendekati Sakura lagi. aku tidak peduli kau siapa. Aku akan membunuhmu. Tidakkah aku sadar tindakanmu itu, nyaris membuat aku kehilangan adikku itu. Heuh!"
'Kehilangan' lagi-lagi kata itu menohok hati Sasuke. Andai saja Sakura bukanlah gadis yang tabah, mungkin sekarang ia sudah kehilangan Sakura.
Sasuke hanya bisa menundukkan kepalanya. Sesal melanda hatinya. Sementara Gaara semakin mengencangkan tarikannya di leher baju Sasuke.
"Kenapa. Huh?"
Plak!
Sebuah tamparan kembali melayang di pipi Sasuke.
"Kau menyesal? Huh!"
Plak!
"Kau sedih?"
Plak!
"Kau ingin kembali? Huh!"
Setiap kata yang di ucapkan Gaara di sertai dengan tamparan di kedua pipinya secara bergantian.
"Kau pikir semua penyesalanmu mampu mengobati luka adikku? Berengsek!"
Plak! Plak!
"Kau seenaknya saja menikah. Mencampakkan Sakura. untuk apa lagi kau kembali?"
Plak!
"Cukup!"
Sasuke berteriak sembari menahan tangan Gaara yang akan menamparnya kembali. Tatapannya tajam menatap Gaara.
Tamparan Gaara sebenarnya tidak menyakitkan. Tapi tamparan Gaara yang berulang-ulang lebih terasa kepada sebuah penghinaan dan merendahkan.
Sasuke adalah seorang Uchiha, keluarga yang terkenal dengan pridenya yang tinggi. Tentu saja Sasuke merasa di rendahkan dengan ucapan dan perbuatan Gaara barusan.
Sebagai lelaki, Sasuke bisa saja membalas perlakuan Gaara. Tapi ia ingat, jika ia berbuat keributan dengan Gaara. Itu malah akan membuat Sakura makin membenci Sasuke. Tidak hanya itu, ia akan berurusan dengan petugas jika berbuat keributan di taman itu.
Selain itu, rasa bersalahnya juga menghantuinya. Sehingga Sasuke malah membenarkan, bahkan mau menerima perlakuan Gaara.
Tapi sebagai lelaki, tatapan dan ancaman Gaara, lantas tidak membuat Sasuke gentar. Malahan ia membalas tatapan Gaara, tak kalah tajamnya.
"Aku tidak perlu restumu. Aku ingin mendapatkan Sakura kembali. Itu sumpahku…"
"Sumpahmu? Berengsek!" potong Gaara. "Berhenti menyakiti adikku, atau aku…"
"Lalu kau bisa apa? Hah?" kini giliran Sasuke yang membentak. Bahkan ia menghentak tangan Gaara sehingga pegangan Gaara lepas dari kerah bajunya.
"Yang akan membuat Sakura bahagia hanya aku. Kalau kau memang bisa. Kenapa ia masih di rundung kesedihan sampai sekarang?"
Napas Gaara semakin memburu. ia semakin merasa tidak kuat lagi menahan amarahnya. Sehingga ia kehabisan kata-kata.
"Dengar, aku tidak ingin membuat keributan di sini. Aku malas berurusan dengan petugas," ujar Sasuke perlahan tapi tegas, khas seorang Sasuke.
Gaara semakin geram. Kembali tangannya menggenggam erat kerah baju Sasuke.
"Jangan dekati Sakura. Atau aku akan membunuhmu saat itu juga," ujar Gaara menekankan suara di setiap kata-katanya. Ia mendorong Sasuke dengan kasar dan meninggalkan Sasuke begitu saja. Mungkin ia benar-benar akan melanjutkan niatnya, jika ia tetap di sini dan berhadapan dengan Sasuke.
Sasuke termenung di tempat menatap punggung Gaara yang mulai melangkah menjauh. Bukan karena ia takut akan ancaman Gaara barusan. Tapi yang membuat Sasuke demikian, adalah ingatannya tentang Sakura.
Jelas Sakura menyatakan kebencian pada Sasuke. Selain itu, adegan antara Sakura dan Sasori yang sempat dilihatnya. Sasuke makin kalut dengan perasaan yang bercampur aduk. Sedih, kecewa, sakit hati, marah dan cemburu yang paling utama.
Sedih karena kebencian Sakura. Kecewa karena merasa kecil kemungkinan untuk mendapatkan Sakura. Sakit hati, oleh sikap Gaara yang seakan merendahkan dirinya. Marah, karena Sasori membohonginya bahkan berani menarik perhatian Sakura. Dan cemburu, karena Sakura sepertinya tertarik pada Sasori.
Sasuke mengepalkan tangannya erat-erat. Ia semakin membulatkan tekad untuk menemui Sakura. menyatakan semua penyesalan serta alasan kenapa ia meninggalkan Sakura karena keterpaksaan.
"Aku pun tak segan melakukan hal yang sama, denganmu, jika kau menghalangi kebahagiaan Sakura. karena yang bisa melakukannya adalah aku!" tegas Sasuke.
Gaara yang mulai menjauh beberapa langkah, sempat mendengar ucapan Sasuke. Mungkin Sasuke memang sedikit mengeraskan suara, agar Gaara bisa mendengar ucapannya. Gaara menghentikan langkah. Ia menatap Sasuke dengan kesal.
"Hm! Coba saja," dengus Gaara meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.
"Kita lihat saja nanti;" kali ini Sasuke menggumam bicara pada dirinya sendiri.
Sasuke kembali menatap Gaara yang mempercepat langkahnya agar semakin menjauh dari Sasuke.
Sasuke menghela napas. Ia pun meninggalkan tempat itu menuju mobil yang sempat ia tinggalkan di parkiran. Ia tadinya memang sengaja masuk ketaman, untuk jalan-jalan mengenang kenangannya bersama Sakura.
…
Sepanjang perjalanan pulang, Sasori maupun Sakura tak ada yang buka suara. Sasori sibuk dengan lamunannya, sementara Sakura masih tengah senggukan akibat bertemu dengan Sasuke.
Sakura tampak lega, melihat rumahnya sudah kelihatan. Ia ingin segera beristirahat menyendiri untuk sekarang, sekaligus menenangkan diri akibat pertemuannya dengan Sasuke yang begitu menyakitkan baginya.
"Sasori. Aku ingin istirahat… biarkan aku sendiri, maaf!"
Kini Sakura dan Sasori sudah sampai tepat di depan rumah Sakura. Sasori yang merasa penasaran akan reaksi Sakura saat melihat Sasuke tadi, tak bisa menahan rasa keingintahuannya dan menanyakannya langsung pada Sakura.
"Sakura, apakah kau memang masih mencintai pria yang telah menyakitimu?"
"Jangan tanyakan itu!" kedua tangan Sakura menutupi wajahnya, "aku sudah terlalu sakit memikirkannya. Jadi kumohon jangan sakiti aku dengan pertanyaan tentang perasaanku padanya…" bulir air mata yang keluar tak mampu lagi di tampung oleh telapak tangan Sakura. sehingga air mata itu merembes melalui cela jari tangannya
"Sakura, aku minta maaf…" ujar sasori perlahan.
Sakura menurunkan tangan yang tadi menutupi wajahnya. Perlahan ia menyeka sisa-sisa airmatanya yang meleleh menuruni pipi putihnya dan tersenyum tipis menatap Sasori.
"Sasori, aku ingin sendiri, tolong bawa aku kesana" pinta Sakura sambil menunjukkan salah satu puhon rindang yang ada di sudut halaman. Tempat di mana ia sering sendirian. Atau ketika tengah sibuk merawat tanamannya, membaca buku dan mendengarkan musik.
"Kenapa tidak langsung masuk kedalam dan intrahat?" lagi-lagi Sakura hanya menggeleng.
Tentu saja, Sakura tak mungkin menampakkan diri di depan keluarganya dengan mata yang mulai sembab.
Sasori tidak mau banyak bertanya lagi ia menuruti permintaan Sakura.
"Sakura, tenangkanlah dirimu. Dan aku mohon pamit" ujar Sasori setelah tiba di tempat yang tadi di maksudkan Sakura.
Sakura menoleh dengan menampilkan senyum yang terlihat sangat di paksakan. Sedikit tercekat juga Sasori melihat Sakura. semakin di perhatikan, senyum Sakura semakin kecut saja. Di saat seperti ini, ingin sekali rasanya Sasori menjadi penghibur bagi Sakura. Tapi, ia pun merasa bahwa Sakura butuh sendiri. Ia tak ingin mengacaukan dengan tetap berada di sisi Sakura
"Oh ya. Besok aku akan berkunjung lagi ke sini, boleh?" izinnya karena melihat Sakura tidak memberikan respon.
Sakura hanya bisa mengangguk perlahan. Berikut Sakura mengizinkan Sasori.
"Sakura" masih ada perasaan berat bagi Sasori untuk meninggalkan Sakura sendirian. Ia benar-benar berharap agar Sakura menginginkan dirinya tinggal sebagai penghibur bagi Sakura
"Aku tidak apa-apa. Tolong tinggalkan aku sendiri, dan terima kasih sudah mengantarku pulang!"
"Baiklah! Tapi tolong jangan menangis lagi. Kau tidak pantas menangisinya," ujar Sasori sembari mengelus pelan pucuk kepala Sakura.
"Um,"
"Ya sudah, aku pergi. Ingat jangan menangis,"
"Iya," jawab Sakura pelan sembari menatap punggung Sasori yang semakin menjauhinya.
Sasori kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan mantap sembari menatap Sakura yang tengah menatapnya bingung.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku tahu pasti Sasuke akan melakukan segala cara agar bisa menemuimu, dan aku tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi," ujar Sasori mantap.
"Eh?"
Sakura cukup terkejut juga dengan ucapan Sasori. Mengingat kembali pertemuannya dengan Sasuke. Ia selalu merasa sakit jika menyinggung sosok Sasuke, apalagi tadi ia sempat bertatap dengan Sasuke. Yang ada ternyata ia semakin sakit.
Mungkin sudah saatnya bagi Sakura untuk membebaskan diri dari bayangan masa lalunya. Kehadiran Sasori memang membuat Sakura merasa sedikit nyaman. Meski beberapa moment kebersamaannya dengan Sasori malah mengingatkan ia dengan Sasuke, dan tentunya kembali mengulit kenangannya yang di anggap pahit.
Sakura pun mengingat kembali pernyataan Sasori di taman yang ada di alun-alun tadi. Sedikit banyak, mungkin ia membenarkan perkataan Sasori. Biarlah Sasuke tetap menjadi masa lalunya dan tersimpan di sisi hati lainnya, dan menerima Sasori di sisi hati lainnya. Tapi bisakah?
"Sasori" panggilannya perlahan. Ia menatap ujung kakinya. Dadanya kelihatan naik turun.
Sakura menarik napas panjang, berusaha mempertimbangkan perkataan berikutnya, "Soal pernyataanmu tadi. Aku ingin berpikir jernih dan pertimbangan matang. Sudah kuputuskan, besok, aku akan memberikan jawaban"
Wajah Sasori berubah berbinar, "Benarkah? Ba…baik… aku akan datang lagi besok. Terima kasih Sakura" suara Sasori malah terbata karena terlampau senang.
Sakura mengangguk perlahan.
"Uhm… baiklah. Aku pamit Sakura" Sasori meninggalkan Sakura dengan senyum sumringah menghiasi bibir. Akhirnya ia akan memiliki wanita yang ia idamkan. Sedikit lagi, pikir Sasori.
Sakura menundukkan kepala sesaat merenungi keputusannya barusan. Apakah ia memang akan membuang Sasuke dari hatinya. Atau tetap di sana dan berada bersisian dengan Sasori. Apakah tidak malah membuat semakin rumit.
Hati Sakura semakin bergetar, sepertinya ia benar-benar tidak bisa bebas dari Sasuke. Tapi besok adalah keputusannya. Jika ia memutuskan untuk menerima Sasori, ia hanya bisa berharap, Sasori benar-benar bisa membantunya menghapus sosok Sasuke.
Tapi sekali lagi, meski ada ruang di hati Sakura, bagaimana caranya Sasori bisa masuk, sementara pintu hatinya di bawah kuncinya oleh Sasuke.
"Sasuke… kenapa?" rintihnya perlahan
.
.
.
Di dalam mobilnya sendiri, Sasuke menggeram perlahan. Kedua telapak tangannya mengusap wajah dengan kasar. Semua kejadian yang ia alami dan ia saksikan barusan membuat perasaannya gundah gulana.
Ciuman antara Sakura dan Sasori, kebencian Sakura padanya, bahkan hanya sekedar menatapnya, Sakura nampak tidak sudi. Perlakuan Gaara padanya. Perasaan Sasuke makin semrawut.
Yang sekarang Sasuke lakukan adalah bagaimana caranya untuk melunakkan hati Sakura, dan mengalihkan perasaan Sakura dari Sasori. Sudah jelas bukan, Sakura seperti memiliki rasa pada Sasori
Sasuke mulai berpikir, ia merasa masih memiliki asa untuk mendapatkan Sakura. Ia bisa melihat rasa cinta pada Sakura masih ada.
Sekarang Sasuke membulatkan tekad, apapun caranya, di harus menarik Sakura kedalam pelukannya. Kalau perlu memaksa Sakura untuk mencintainya. Bagaimana caranya, akan ia pikirkan.
Sasuke menadahkan kepala, sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Besok saja" gumamnya. Ada banyak pertimbangan membuat, ia tak mungkin memaksakan kehendak untuk bertemu dengan Sakura sekarang.
Perlahan mobil Sasuke bergerak.
o0O0o
Mobil Sasuke sebenarnya dari tadi sudah berhenti tidak jauh didepan rumah gerbang rumah Sakura. berkali-kali ia menarik nafas panjang, untuk meyakinkan dirinya bertemu Sakura.
Sepertinya sekarang bukanlah lagi dirinya. kemana Sasuke selama ini yang selalu di iringi oleh rasa percaya diri. Semua itu sudah lenyap entah kemana.
Mata Sasuke menyipit, dahi berkerut, sebuah motor sport melaju dan memasuki halaman rumah melewati gerbang rumah Sakura. ia sangat kenal, siapa pemilik motor itu.
"Sasori" gumam Sasuke, "Sial!" geram Sasuke.
Sasuke akhirnya buru-buru keluar dari mobilnya. Berlari kearah jalan masuk rumah milik keluarga Haruno itu. Tapi lagi-lagi Sasuke menjadi ragu, kebencian Sakura padanya mengingatkan ia agar menghentikan langkah, belum lagi dengan keluarga Sakura, pasti juga sudah turut membencinya.
Sasuke menarik nafas panjang untuk menyakinkan diri sendiri, apalagi, Sasori yang barusan masuk, Akhirnya merubah keyakinan Sasuke untuk menemui Sakura apapun risikonya.
Netra Sasuke tiba-tiba membulat besar. Di taman di halaman rumah, tempat dulu dimana ia memadu kasih dengan Sakura, tempat di mana ia menemani Sakura membaca buku-buku kesukaannya.
Sudah cukup kejadian kemarin di taman ketika melihat Sasori mengecup Sakura. Sekarang, Apa yang dilihatnya di depan sana sungguh menusuk hatinya.
Senyum Sakura bersama Sasori membuat darah Sasuke seakan mendidih. Ia merasa Sasori telah berhasil meraih hati Sakura, ia merasa telah kedahuluan oleh Sasori. Tapi melihat senyum Sakura, hati Sasuke mencelos, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang pasti melihat Sakura tersenyum saja, sudah cukup membuat Sasuke senang. Sayangnya, senyuman itu bukan karena bersamanya, tapi bersama pria lain. Dan inilah yang membuat Sasuke serasa tersisih.
Tubuh Sasuke bergetar, apapun akan ia lakukan sekarang, termasuk memaksa Sakura menerimanya kembali. Langkahnya makin di percepat.
Tanpa sengaja, Sakura yang baru saja memulai candaannya dengan Sasori, menoleh ke arah depan, tepatnya ke gerbang.
"Sasuke" Sakura cukup kaget setelah melihat siapa yang menuju ke arah mereka.
Sasori menarik tangannya dari menggenggam tangan Sakura, tapi Sakura seperti enggan untuk melepaskan pegangan Sasori.
Sasuke terdiam dan terpaku sesaat melihat semuanya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di taman saja sudah cukup dengan perbuatan mereka berdua, sekarang lagi-lagi Sasuke melihat Sasori menggenggam mesra tangan Sakura. Marah cemburu dan sakit hati sudah menyatu dalam dada Sasuke.
Huff!
Sasuke menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Ia mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sedang berdegup kencang.
Sasuke melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima segala yang akan terjadi. Sasuke tahu, akan ada kemungkinan penolakan Sakura. ia tahu, Sakura masih trauma dengan putusnya hubungan mereka. Namun Sasuke sudah berjanji dalam hati,, bahwa ia akan meyakinkan Sakura.
Tatapan tajam Sasuke seperti hendak membunuh, membuat Sasori beringsut dari tempatnya. Rasa enggan Sakura untuk melepaskan pegangannya tak membuat Sasori berhenti, ia tetap beringsut dan menjauh dari jangkauan tangan Sakura.
"Pergi!"
Lagi-lagi, entah kenapa, Sakura kembali perih melihat sosok Sasuke sekarang. Padahal baru saja ia sudah mengambil keputusan, tapi belum menyampaikan pada Sasori. Kenapa Sasuke haru s datang ke sini. Ingin rasanya ia berteriak memanggil kakak sepupunya dan kedua orang tuanya agar mengusir Sasuke. Kebenciannya pada Sasuke membuat ia ingin berbuat demikian, tapi di sisi lain, perasaannya yang masih cinta membuat ia tertahan untuk meminta orang mengusir Sasuke.
"Sakura… aku ingin mengatakan padamu kalau…"
"Mau jelaskan apa lagi? kau ingin datang padaku dan mengatakan kau sudah bercerai. Lalu, ia merayumu untuk kembali, dan kau pasti akan membuangku lagi bagai sampah berbau. Benarkan?"
Sasuke diam.
"Sebenarnya apa maumu Sasuke. Apakah hatimu tidak memiliki rasa kasihan. Aku tidak memiliki dendam padamu, tapi kenapa kau malah ingin membuatku hancur. Atau kau memang ingin aku mati tersiksa dan perlahan… hiks…hiks… Apa salahku Sasuke…" tak kuasa Sakura untuk membendung air matanya, meski sudah coba ia tahan sejak kemunculan Sasuke tadi.
"Pergilah, kumohon! Sudah cukup dengan sakit ini. Aku minta ampun padamu untuk menghentikan derita yang kau berikan. Sudah cukup" rintihan Sakura benar-benar menghempaskan perasaan Sasuke. Nafas Sasuke tersendat merasakan sakit melihat gadis yang di cintainya bernada seperti sedang sekarat di depannya.
"Jangan katakan itu Sakura, kumohon. Aku kembali padamu. Merajut semua mimpi yang ku siakan. Aku kembali untuk mengobati lukamu. Aku kembali karena… aku, tidak bisa bermimpi indah tanpamu. Denganmulah semua mimpi indahku bisa hadir"
"Mimpimu yang kau nyatakan? Pernahkah kau bertanya padaku tentang diriku! Tentang mimpiku…"
"Tanya padaku, apa impianku setelah aku mengenalmu. Tanya padaku, apa saja yang ku lakukan ketika aku berada di kursi roda ini" air mata Sakura makin deras mengalir. Meski begitu, tatapannya tajam menusuk.
Semenatara itu Sasuke hanya bisa berdiri mematung menatap sendu pada gadis yang tengah terpuruk di depannya ini. Kaki-kaki Sasuke serasa telah terpaku di atas pijakannya. Tak bisa berbuat apa-apa.
"Tanyakan padaku, apa aku mau dengan keadaan ini. Tanyakan padaku tentang kepasrahanku di atas kursi roda" suara Sakura makin melirih.
"Tanyakan padaku tentang mimpi-mimpi indah yang kuinginkan terwujud. Untuk kali pertama dalam seumur hidup, aku ingin berdiri diatas kedua kakiku. Hiks…hiks… semua karenamu"
"Sakura… aku… apakah"
"Tidak!" suara Sakura melengking.
"Tapi…" Sakura menyeka air mata yang sudah mulai menganak sungai sejak kedatangan Sasuke tadi.
"Tapi aku hancur, harapan tinggal asa. Cinta, impian yang mulai ku bangun, hancur begitu saja" Sakura mengangkat kepala menatap Sasuke dengan tatapan tajam. "Semua juga karenamu!" bentak Sakura dengan suara melengking.
"Kau mau bicara soal mimpi. Tiga tahun ini, yang ku alami adalah mimpi buruk… dan kau tahu karena siapa?"
"Pergilah Sasuke. Sudah cukup, semua sudah berakhir. Biarkan ku sendiri" Sakura mulai memutar kursinya, meninggalkan Sasuke maupun Sasori yang juga belum berbuat apa-apa.
Sakura kaget, kursi rodanya seperti ada yang menahannya sehingga tidak bisa membuat rodanya berbelok dan memutar. Ternyata Sasuke lah pelakunya.
"Tolong jangan pergi Sakura, aku-aku-tidak bermaksud menyakitimu tapi… aku... dan aku tidak bisa berhenti menginginkanmu. Aku tidak bisa menjauh darimu." Sasuke mencoba menggenggam tangan Sakura.
Sakura memalingkan wajah dan memejamkan mata. Semua kepercayaan yang ia miliki untuk orang
ini pergi. Sebagai gantinya rasa sakit yang memenuhi hati.
Meski susah payah Sasuke menahan Sakura. Sakura tampak bersikeras untuk menjauh. Sakura tak habis pikir. Kenapa dia bisa setega itu? Bagaimana dia bisa menjadi Sasuke yang Sakura cintai tapi dia mengkhianati Sakura seperti ini?
"Semua berakhir." Sakura berbalik dan menatap. Tidak peduli dengan airmata yang sudah menggenang sejak tadi
Sasuke bergerak cepat, ia mengangkat tubuh Sakura dari kursi rodanya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Sakura dengan erat, agar tubuh Sakura tidak terjatuh lunglai di lantai. Ia memeluk Sakura sambil meminta maaf. Sementara itu Sakura terus menerus memaki sasuke sambil meminta melepaskan dirinya
[Sasuke's POV]
"Tidak… pergii!"
Teriakan Sakura yang melengking. Mana aku peduli, meski lengkingannya membuat kedua kupingku pekak. Yang harus kulakukan sekarang adalah menyampaikan rasa penyesalanku, perasaan ku yang masih sangat mencintainya dengan pelukan.
Sakura benar-benar membenciku, pelukanku sepertinya najis untuknya. Ia mulai memukulkan kedua tangannya sembarangan dan meminta untuk di lepaskan. Karena posisinya dalam pelukan ku, maka punggungkulah yang menjadi sasaran utamanya.
Aku merasakan pukulan tangannya yang lemah menghantam tubuhku. Sungguh, pukulannya itu jika keadaan normal, tidak ada rasanya sama sekali. Tapi pukulan gadisku ini sangat menyakitkan, bukan pada tubuhku, tapi lebih dalam lagi, yaitu hatiku. Aku merasakan perasaan yang begitu perih menyayat di setiap relung hatiku. Atau mungkinkah Sakura memang menyampaikan rasa sakitanya di setiap pukulannya ini. Jika benar, oh! Betapa kejamnya aku, seperti inikah rasa sakit yang ku berikan padanya. Jujur sakit sekali, bahkan jika andai ada yang mau meneteskan timah cair panas di atas kedua bola mataku mungkin aku memilih itu. Aku masih bisa membayangkan sakit dan perihnya jika di tetesi timah panas. Tapi rasa sakit yang di sampaikan oleh Sakura tak dapat kubayangkan, tapi kini kurasakan.
Pelukanku makin ku eratkan. Aku memang sengaja memeluk pinggangnya agar ia bisa sedikit leluasa untuk memukul dan menyampaikan rasa sakitnya padaku.
"Kau jahat Sasuke" makinya sambil memukulkan tangan lemahnya yang malah semakin menyakitiku.
"Iya. Karena itu, aku datang meminta maaf" pelukanku makin ku eratkan. Satu tanganku tetap melingkar di pinggangnya sebagai penahan agar ia tidak jatuh, sementara tanganku yang lain menilang di punggung sampai pundaknya.
"Kau berengsek"
"Kau benar, karena itu aku datang untuk bersumpah tidak akan pernah mengulangi lagi"
"Kau menyakitiku, kau melukaiku, apa kau belum puas. Lakukanlah sampai kau puas! Hiks…hiks"
Setiap katanya, setiap butir airmatanya benar-benar seperti sembilu menghiris hatiku. Aku merapatkan wajahku di lekukan lehernya dan bahunya. Tanpa kubendung lagi, airmataku menetes langsung begitu banyak. Dan kuyakin, airmataku ini telah membasahi kulit bahunya. Aku merasakan pukulan Sakura mulai berkurang frekwensinya. Bahkan berhenti sama sekali. Yang tersisa hanyalah tangisan Sakura yang makin menyayatku.
"Maafkan aku. Aku menyesal. Aku datang untuk meminta pengampunan dan kesempatan kedua, untuk mengobati luka hati mu yang di sebabkan olehku" bisikku perlahan.
"Kau jahat Sasuke, kau bajingan, kau berengsek.. hiks…hiks…"
"Hn" hanya itulah cara yang bisa kulakukan. Menerima dan membenarkan setiap makiannya. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Deg!
Kedua tangan Sakura melingkari leherku. Kepalanya dia tempelkan di dadaku dan pastinya, dadaku ini pun basah juga oleh airmatanya yang terus menerus mengalir. Tapi satu hal, aku merasakan pelukan hangatnya yang begitu lembut membuat tubuh dan rasa sakitku serasa meleleh
[Normal POV]
Keadaan yang ribut-ribut di luar, memaksa kedua orang tua Sakura keluar, tak ketinggalan Gaara juga ikut serta.
Alangkah kagetnya ketika mengetahui siapa biang keributan. Darah Gaara seakan mendidih seketika. Ia ingin sekali menghajar pria yang telah membuat adik sepupunya itu selalu di rundung kesedihan. Beruntung Gaara di tahan oleh Kizashi. Ia segera menunjuk pada Sakura yang mambalas pelukan Sasuke. Artinya Gaara tak perlu melakukan sesuatu yang malah akan makin menyakiti Sakura.
Sementara itu juga. Sasori hanya bisa berdiri mematung di tempat.
Kehadiran orang di sekitar Sasuke dan Sakura sudah terabaikan. Sasuke terus menerus memeluk Sakura sambil meminta maaf sambil membelai kepala Sakura dengan perlahan. Ucapan yang minta maaf pun menjurus merendahkan diri sendiri.
Kisazhi lah yang paling cepat mengerti keadaan, maka perlahan, ia mengajak isteri dan keponakannya itu kembali kedalam rumah. Tapi bukan berarti menjauh, di dekat pintu mereka bertiga tetap seperti siaga mengamati keduanya.
Sasuke kini merasakan Sakura sudah sedikit tenang dalam pelukannya. Perlahan pula Sasuke kembali meletakkan Sakura di atas kursi roda dan melepaskan pelukannya.
Sasuke berlutut di depan Sakura sambil menggenggam erat kedua tangan Sakura. Menatap Sakura dengan mata sayu dan sendu. Menandakan permohonan kalau ia minta waktu untuk menjelaskan semuanya.
"Ss…Sakura…" hati-hati sekali Sasuke menyebut nama Sakura. ia kwatir, jika melakukan kesalahan sedikit saja dalam mengucapkan nama Sakura, maka Sakura akan mengamuk.
Sakura masih menyisakan senggukan dan tidak bereaksi apa-apa kecuali tatapannya terlihat sedikit kosong menatap Sasuke. Dan bagi Sasuke ini adalah kesempatan.
"Sebenarnya…" perlahan dan masih serasa hati-hati. Sasuke mulai menceritakan alasan kepergian dan keputusannya kenapa ia memilih menikahi wanita lain.
Sasuke terpaksa meninggalkan Sakura demi menyelamatkan perusahaan yang nyaris bangkrut. Awalnya Sasuke tidak peduli, karena ia merasa puas dan cukup dengan mencintai Sakura. Ia tidak butuh lagi yang lain selain Sakura.
Tapi yang mengganggu Sasuke, adalah nasib kedua orang tuanya jika ia tidak segera turun tangan. Sasuke yakin keluarganya belum siap menghadapi keadaan yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Dan cara satu-satunya adalah menikah dengan Karin.
Karena itulah dengan sangat terpaksa ia meninggalkan Sakura.
Masih sama ketika Sasuke bercerita, reaksi Sakura pun sama sekali tidak berubah. Ia tetap sama, bahkan terlihat tidak peduli.
Kekecewaan menghinggapi hati Sasuke. Ia merasa, bahwa semua penjelasannya tidak akan mendapat maaf dari Sakura.
Sasuke lebih mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura.
"Aku dan Karin akan bercerai" ujar Sasuke tidak melepas perhatiannya pada Sakura.
"Lalu kau meninggalkan dia begitu saja, persis seperti yang kau lakukan padaku" tahu-tahu suara Sakura sedikit ketus, bahkan wajahnya yang tadi di arahkan pada Sasuke, malah di tolehkan ke arah lain.
Sasuke segera memegang kedua belah pipi Sakura, sehingga wajah Sakura kembali mengarah pada Sasuke.
"Tidak akan pernah" jawab Sasuke menatap kedua bola mata Sakura dengan penuh kesungguhan.
"Isterimu pasti sangat cantik. Dia saja, masih bisa kau tinggalkan, lalu bagaimana denganku"
"Karena kau bukan dia. Aku mencintaimu, dia tidak" jantung Sasuke mulai berdegup. Ia tahu kemana arah perbincangan mereka. Sasuke yakin satu hal, bahwa Sakura pasti akan melakukan penolakan. Untuk mencegah keluarnya kata-kata penolakan dari Sakura, Sasuke makin menatap mata Sakura dalam-dalam, dan semakin berusaha meyakinkan Sakura.
"Sedikitpun aku tidak menemukan kebahagiaan dengannya. Hanya kamu, yang bisa…" imbuh Sasuke meyakinkan Sakura.
Sakura merasa tak kuat membalas tatapan Sasuke. Ia menundukkan kepala, hanya itu yang bisa ia lakukan mengingat kedua telapak tangan Sasuke masih menempel di kedua belah pipinya.
"Aku takut, Sasuke. Aku takut… kau…" Sakura menelan ludah, suaranya pun makin serak, menahan sesuatu yang sesak di dalam dada.
"Sakura. Beri aku kesempatan. Mengobati lukamu" tangan Sasuke berpindah, kini ia menggenggam kedua tangan Sakura dengan hangat.
"Aku masih mencintaimu Sasuke. Sangat. Tapi…" tanpa di teruskan pun Sasuke tahu kalau Sakura memiliki keraguan untuk kembali padanya.
Nada Sakura membuat Sasuke terlihat lunglai di depan Sakura. Meski tangannya masih menggenggam kedua tangan Sakura. Tapi Sakura merasakan genggaman tangan Sasuke mengendur.
Sasuke menundukkan kepala lemas. Harapannya untuk mendapatkan kembali cinta Sakura serasa makin menipis.
"Maaf. Aku menyesal", entah kata apa lagi yang harus Sasuke katakan. Ia sudah kehabisan kata untuk menunjukkan penyesalannya.
Sakura menatap sayu pada Sasuke yang tertunduk lesuh didepannya. Ada rasa sedih dan kasihan melihat sang mantan kekasih yang tertunduk dengan wajah yang terlihat penuh rasa kecewa.
"Sasuke, aku tidak bermaksud menolakmu untuk kembali. Tapi… aku butuh waktu, kumohon, beri aku waktu" ujar Sakura perlahan. Ia tak bermaksud untuk mengecewakan Sasuke. Perasaannyalah yang takut di tinggal lagi, membuat Sakura menjadi ragu.
Sasuke diam terpekur didepan Sakura. Segitu sakitnyakah perasaan Sakura, sampai-sampai ia seperti trauma, terhadap hubungan mereka.
Untuk kali ini Sasuke tak ingin memaksakan kehendak. Beberapa kata-kata dari Sakura sebelumnya, membuat Sasuke memiliki asa untuk bisa memiliki Sakura kembali.
Mungkin memberi waktu untuk Sakura agar berpikir, adalah pilihan yang tepat.
…
..
.
TO BE CONTINUED
A/N
Special chapter collab, with Mbakyu Yanti Sakura Cherry.
