Let Me Prove It All

Sasuke diam terpekur didepan Sakura. Segitu sakitnyakah perasaan Sakura, sampai-sampai ia seperti trauma, terhadap hubungan mereka.

Untuk kali ini Sasuke tak ingin memaksakan kehendak. Beberapa kata-kata dari Sakura sebelumnya, membuat Sasuke memiliki asa untuk bisa memiliki Sakura kembali.

Mungkin memberi waktu untuk Sakura agar berpikir, adalah pilihan yang tepat.

...

Ngomong-ngomong soal waktu, Sasuke malah teringat akan Sasori. Ia hampir lupa kalau, Sasori juga menyukai Sakura. Bukan hanya sekedar Sasori yang suka, tapi Sakura juga sepertinya memiliki sedikit rasa suka pada Sasori. Dan apakah jika Sasuke memberi waktu pada Sakura, justeru memberi peluang pada Sasori untuk meraih hati Sakura seutuhnya.

Membayangkan itu, hati Sasuke seakan ingin memberontak. Ia harus meyakinkan Sakura sekarang, atau memberi waktu seperti permintaan Sakura yang justru akan membuka kesempatan bagi Sasori.

"Sakura. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali kepadaku. Tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhan di atas penyesalanku"

Lagi-lagi Sakura menatap Sasuke dengan tatapan sendu. Sebenarnya, dalam hatinya, ia tidak butuh Sasuke untuk membuktikan kesungguhannya. Ia selalu percaya setiap ucapan Sasuke. Tapi sekali lagi, Sakura masih di landa keraguan, ia belum siap untuk kembali menjalin hubungan dengan Sasuke. Meski keraguan itu ia anggap bersifat sementara. Sakura hanya ingin menyiapkan mental untuk kembali menjalin hubungan dengan Sasuke. Dan kelak, jika Sakura sudah siap, ia akan menerima Sasuke.

"Aku tidak meminta agar kau kembali menjadi kekasihku untuk sekarang. Aku memberimu waktu untuk itu. Tapi percayalah, aku menyesal dan aku ingin kau kembali. Aku menunggu sampai saat itu tiba"

"Sasuke, aku hanya butuh waktu, aku masih sangat mencintaimu" ujar Sakura perlahan. Memastikan agar Sasuke tidak terlalu kecewa.

Sasuke menganggukkan kepala sambil menundukkan kepala. Bukannya ia kecewa, sama sekali tidak. Tapi lagi-lagi ada yang menohok hatinya. Kebaikan dan kelembutan Sakura, yah hanya itu. Karena tahu, ucapan Sakura barusan menyatakan maksud tak ingin menyakiti Sasuke.

"Terima kasih" ujar Sasuke mengangkat kembali wajahnya dan di arahkan pada Sakura, "Tidak mengapa, jika sekarang kau belum bisa menjadi kekasihku, hanya saja, aku minta izin, agar aku selalu menemanimu, mulai dari sekarang. Selain itu, maukah kau memberiku kesempatan untuk menunggumu? Menunggu merubah keputusanmu untuk menerimaku kembali dengan cara selalu berada di sisimu"

Lagi-lagi, Sakura luluh oleh ucapan dari sikap tegas Sasuke yang selalu meyakinkan. Inilah yang dulu meluluhkan Sakura untuk jatuh cinta.

Senyum Sakura kali ini memberi makna yang bercampur aduk mendengar ucapan Sasuke. Sakura tersenyum terlihat miris, ada rasa bahagia, rasa sedih, rasa takut kehilangan kini berbaur menjadi satu dalam senyuman.

Sasuke tersenyum, berikut ia menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Sakura, dengan rasa penuh kelegaan. Setidaknya kesempatannya untuk memiliki Sakura terbuka semakin lebar. Tubuhnya sedikit lunglai di hiasi rasa syukur.

Sasori yang dari berdiri mematung dari tadi, sepertinya harus bersiap menelan pil pahit. Hubungannya dengan Sakura memang belum bisa di katakan sebagai sepasang kekasih. Tapi disaat kebersamaan mereka, Sasori merasa akan memiliki mimpi akan hidup bersama dengan Sakura. mimpi akan membahagiakan Sakura, dengan segala kekurangan yang ia miliki.

Sakura menatap Sasori dengan rasa penuh permintaan maaf. Sakura tahu, bahwa Sasori memang menyukainya. Sakura pun tidak menampik bahwa ia juga sedikit memiliki rasa pada Sasori.

Andai saja Sasori datang tiga tahun yang lalu, mungkin perasaannya sekarang sudah kuat, untuk menolak Sasuke.

Tapi kehadiran Sasuke kembali membuyarkan semua rasa hatinya. Benang cinta yang mulai sedikit saling bertaut harus putus karena masih rapuh oleh Sakura yang tak bisa membuang perasaannya begitu saja dari Sasuke. Ia sudah telanjur dan terlampau mencintai Sasuke. Atau ia memang terlalu bodoh untuk melepaskan diri dari Sasuke.

Dan bagi Sakura sekarang, Sasuke adalah orang yang melukainya. Tapi Sasuke jualah yang bisa mengobatinya. Bukan yang lain, bahkan kedua orang tua dan Gaara pun tidak mampu.

"Kyaaa" Sakura berteriak kaget, Sasuke tiba-tiba mengangkat tubuhnya dari kursi dan membopong tubuhnya. "Sasuke apa yang kau lakukan!"

"Diam!"

"Ta… tapi" kali ini wajahnya mulai merona. Ia memang merasa malu di perlakukan Sasuke seperti itu, apa lagi depan orang seperti Sasori.

"Aku akan membawamu…"

"Heh… Kemana?"

Sasuke tidak menjawab, ia menatap pada tiga orang yang kembali menampakkan diri dan sudah berdiri di depan pintu. Tampaknya mereka hendak menahan kehendak Sasuke untuk membawa Sakura sekarang.

"Aku hanya membawa Sakura menemui orang tuaku. Mereka menunggunya. Setelahnya, aku akan membawa Sakura kembali" sifat Sasuke akhirnya muncul lagi, yaitu seenaknya jika ia menginginkan sesuatu

Kizashi, Mebuki maupun Gaara terperangah di tempat. Lagi-lagi, wibawa Sasuke seperti telah memantek mereka sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Padahal niat awal mereka ingin mencegah keinginan Sasuke. Tapi tidak dinyana, mereka malah sebaliknya.

"Permisi. Paman, Bibi, Gaara" tanpa menunggu persetujuan. Sasuke memutar tubuh meninggalkan yang lain, termasuk Sasori yang masih terpaku di tempatnya.

"Sasuke, kursi rodaku…" Sakura mengingatkan dengan sedikit meronta.

"Tidak perlu. Hari ini, akulah yang menjadi kakimu"

Sementara orang yang di tinggal, hanya bisa melongo melihat Sasuke menjauh. Sasuke itu manusia atau bukan?

Keheningan tiba-tiba saja melanda seketika itu. Mungkin efek karena Sakura tadi tang memaki-maki Sasuke, arau karena efek rasa canggung di antara mereka.

Tubuh Sasori seperti lunglai, dia kalah oleh kesungguhan Sasuke yang melebihinya. Sasuke tidak memberi kesempatan pada Sakura untuk berpikir apa lagi untuk menolak. Seharusnya itu juga yang ia lakukan.

"Sasori…" seseoang memanggil namanya, Sasori pun menoleh. Itu adalah suara Gaara yang memanggil.

Ketiga orang itu menatap sendu pada Sasori. Padahal, ketiganya, terutama kedua orang tua Sakura, sepertinya sudah menyetujui, jika Sakura kembali menjalin hubungan dengan Sasori. Sayangnya, Sasuke kembali. Dan membuyarkan semuanya, bahkan mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika tiba-tiba saja Sasuke membawa Sakura dan mengatakan ingin mempertemukan dengan orangtuanya.

Sebenarnya kedua orang tua Sakura dan Gaara, bisa mencegah tindakan Sasuke tadi. Hanya saja, saat melihat Sakura dalam gendongan Sasuke, mereka melihat, adanya binar kebahagiaan yang samar di wajah Sakura. Karena itu pulalah yang menahan mereka untuk mencegah tindakan Sasuke.

"Tidak apa-apa, paman, bibi, Gaara" ujar Sasori menatap ke luar gerbang. Mobil Sasuke sudah tidak ada di sana, tentunya sudah pergi beserta Sakura.

Sasori menarik nafas dalam-dalam, membuang sesak di dalam dada akibat kekecewaan.

"Cinta tak harus memiliki bukan" usaha Sasori untuk tersenyum, "Melihat orang yang kita cintai, kembali menemukan kebahagiaan, itu sudah cukup bagiku. Hehehe… alasan klise memang" imbuhnya sambil terkekeh.

Ketiga keluarga Haruno itu tak mampu mengeluarkan kata meski hanya satu dan berbisik. Ketiganya sudah kehilangan kata-kata untuk menghibur Sasori.

"Setidaknya, aku sudah memiliki kenangan indah meski sesaat bersama Sakura. itu sudah patut di syukuri" Sasori menatap ketiga keluarga Sakura itu sambil tersenyum. Berusaha membuang sesak di dalam dada.

"Sebaiknya, aku pamit. Jika Sasuke sudah kembali membawa Sakura pulang, sampaikan salamku padanya. Aku hanya bisa berharap Sasuke benar-benar tidak menyakiti Sakura lagi" pinta Sasori sambil membungkukkan.

"Maaf nak Sasori, kami sendiri…"

"Iya… saya mengerti" ucap Sasori sambil membalikkan tubuh. Langkah Sasori terlihat di paksakan untuk menjauh

Gaara tak bisa berkata-kata lagi dan hanya melihat punggung sahabatnya melangkah meninggalkan area pekarangan.

Nyaris langkah Sasori lesuh. Ia kemungkinan besar kehilangan Sakura. Selain itu, ia juga terancam pada pekerjaannya karena Sasuke adalah atasannya.

o0O0o

Sakura mengambil minuman air mineral yang di sodorkan Sasuke padanya. Lalu meminumnya hanya untuk sekedar membasahi kerongkongan.

Tangan Sasuke bergerak membelai kepala Sakura yang tampak duduk tidak tenang di sampingya. Tangannya membelai pucuk kepala merah muda itu perlahan dan lembut.

Sakura sama sekali tidak menanggapi, tapi yang pasti, ia sedikit terbuai dalam belaian yang sebenarnya sudah lama ia rindukan.

Sasuke menatap Sakura penuh arti. Tatapannya sayu. Sungguh kasihan hatinya, wanita yang kini tengah duduk di sampingnya, adalah wanita yang selama tiga tahun telah ia sakiti. Tiga tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menanggung beban sakit hati yang Sasuke berikan. Di saat bersamaan, perasaan sesal Sasuke semakin membesar. Napasnya serasa sesak, dalam hati, ia bersumpah demi apapun, ia akan mendapatkan hati Sakura kembali, dan tak akan pernah menyakitinya lagi, sedikit pun.

Mobil mewah Maserati MC Stradale berwarna silver milik Sasuke pun melaju dengan kecepatan sedang.

Sakura kembali menatap Sasuke yang ada di sampingnya yang masih fokus menyetir. Sakura tersenyum kecil menatap Sasuke yang sama sekali tidak berubah itu. Tangannya bergerak memegangi dada. Ada rasa getaran yang menjalari seluruh tubuhnya tatkala mengingat kenangan manis ketika mereka dulu masih berpacaran.

"Kalau kau terpesona. Kenapa tidak menciumku sekarang" ujar Sasuke di sela fokusnya menyetir.

"Cih!" Sakura mendecih perlahan sambil membuang muka menatap keluar jendela mobil yang masih melaju dengan kecepatan normal. Meski begitu, Sakura masih bisa tersenyum tipis. Sasuke tetaplah Sasuke, terlalu percaya diri disertai dengan humor garing. Sakura mengakui itu, tapi meski demikian, Sakura dibuat tersenyum dengan humor dari Sasuke yang Sakura sendiri akui tidak lucu.

Sasuke menoleh sekilas menatap Sakura yang masih tengah menatap keluar jendela mobil. Sayangnya, Sasuke yang tengah menikmati senyum tipis Sakura, harus buyar oleh deringan ponsel Sasuke.

Sasuke mulai mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang. Sakura pun tak ingin memperhatikan perbincangan Sasuke. Ia masih tetap memilih melihat keluar jendela.

Sakura sedikit kaget karena tangan Sasuke tiba-tiba menggenggam tangannya. Laju mobil pun perlahan melambat, sangat lambat malah.

Sakura menatap balik Sasuke. Berikut ia kembali menundukkan kepala karena ia kalah beradu tatap dengan Sasuke.

"Sakura, apakah kau masih berkeinginan untuk berjalan" tanya Sasuke.

"Aku sudah kehilangan mimpi itu" ujarnya dengan anda perlahan

"Sakura…" Sasuke mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. ia kembali berfokus pada kemudi.

"Aku akan membantumu. Sebenarnya sebelum menemuimu. Aku sudah bercerita tentangmu pada ayah. Sekarang ayahku sedang mencari seorang ahli syaraf dan tulang untuk menyembuhkanmu. Barusan dia menelepon, katanya, dia sudah menemukan seorang yang mungkin bisa menyembukanmu"

"Sasuke… aku tidak ingin…"

"Aku membantu kesembuhanmu, bukan agar kau kembali padaku. Aku hanya ingin menebus kesalahanku, dengan membantumu memenuhi salah satu impianmu. Meski tidak seberapa di bandingkan rasa sakit yang kuberikan" ujar Sasuke dengan nada makin menurun, karena menyesal, apalagi.

Sakura tidak menanggapi, ia menarik nafas panjang yang terlihat sesak.

"Tapi aku menunggumu" ujar Sasuke sambil melepaskan genggamannya. Kedua tangannya kini berada di atas kemudi. Mobil pun kembali melaju lebih cepat mencapai batas kecepatan normal.

Sakura lagi-lagi menghembuskan nafas kuat. Ia sangat mempercayai setiap ucapan Sasuke. Dan jika menurut cerita dan alasan Sasuke meninggalkan dirinya, Sakura berkesimpulan, bahwa sebenarnya, bukan hanya dirinya saja yang sakit, Sasuke juga. Mungkin lebih lagi, karena Sasuke tidak hanya sakit karena terpisah, tapi hidup bersama dengan orang yang tidak di cintai, juga sama tidak enaknya. Selain itu, Sasuke juga pasti di hantui rasa bersalah dan penyesalan.

Mobil terus melaju sementara keduanya saling mendiamkan. Tak menunggu lama, dari kejauhan terlihatlah rumah bergaya tradisional.

"Itu rumahku." ujar Sasuke. Laju mobil pun mulai berkurang kecepatannya. Semakin masuk ke pekarangan, jantung Sakura malah makin berdegup. Ia berpikir, bagaiman a reaksi keluarga Sasuke padanya. Mengingat cerita Sasuke tadi, soal ayah Sasuke, mungkin bukanlah lagi masalah, tapi bagaimana dengan anggota keluarga yang lain.

"Bukankah rumahmu, berada di Suna?" tanya Sakura, sebenarnya ia hanya berusaha menenangkan debaran jantungnya dengan cara berbicara dengan Sasuke.

Belumlah semua pertanyaan Sakura selesai, Sasuke sudah membuka pintu tanpa permisi, ia menyelipkan tangan kekarnya ke bawah paha dan menangkup punggung Sakura lalu menggendong Sakura ala bridal style, Sakura terkejut bahkan agak menjerit ketika Sasuke melakukan itu secara tiba-tiba, wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang, Sakura tak menyangka Sasuke akan melakukan lagi hal ini.

"Kami sekeluarga pindah kesini. Mengurusi perusahaan yang ada di Konoha" jawaban Sasuke ata pertanyaan Sakura tadi.

Pintu di buka, dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik. Melihat ciri-cirinya, melihat ada kemiripan dengan Sasuke, Sakura bisa menebak, dia pasti nyonya di rumah ini alias ibu Sasuke.

Benarlah wanita yang membuka pintu tadi adalah Mikoto.

"Sasuke, dia siapa?" melihat wanita yang di gendong Sasuke.

Mikoto sedikit menatap intens pada Sakura. Di tatap sedemikian rupa oleh sang nyonya, membuat Sakura tersipu, belum lagi dia yang berada dalam gendongan Sasuke, semakin memerahlah wajah Sakura.

Sasuke tidak langsung menjawab, tapi ia menganggukkan kepala. Menandakan kalau ia ingin bicara di ruang tamu.

Sasuke terus melangkah memasuki ruang tamu, menuju sofa yang seperti sudah menunggu untuk di tempati. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Sasuke meletakkan Sakura di atas sofa. Kemudian Sasuke duduk di samping Sakura.

Sementara Mikoto, yang tadi mengekor mulai menduga-duga tentang gadis cantik dalam gendongan Sasuke. Dan ia teringat cerita Sasuke tentang seorang gadis lumpuh yang bernama Sakura, maka sekarang Mikoto yakin kalau gadis cantik inilah yang bernama Sakura.

"Apakah dia yang bernama Sakura?" tanya Mikoto sambil duduk di samping Sakura sehingga posisi Sakura di apit oleh Mikoto dan Sasuke.

"I… iya, Bi" jawab Sakura canggung, karena dari tadi Mikoto menatapnya dengan senyum yang begitu sumringah. Melihat Mikoto sepertinya Sakura tak perlu mempertanyakan siapa wanita paruh baya yang masih cantik itu. Dia pasti ibu Sasuke karena mereka berdua sedikit mirip.

"Oh iya. Saya ibunya Sasuke, Mikoto" ujar Mikoto mengulurkan tangan.

"Sakura"

Mikoto makin menatap Sakura dan membuat Sakura semakin canggung, "Menurut bibi, kau lebih cantik dari Karin" ucapan Mikoto makin membuat Sakura makin merona.

Hal inilah yang membuat Mikoto malah tertawa. Pertemuan pertamanya dengan Sakura sudah membuat Mikoto tertarik, andai dari dulu Sasuke memperkenalkan Sakura, mungkin sekarang ia sudah memiliki cucu, sesuai impian orang tua yang memiliki anak yang sudah dewasa.

Sasuke tersenyum. Sekarang ia ada ide untuk meraih hati Sakura.

"Jadi, Ibu… apakah ibu setuju, jika kami menikah?"

"Heh!" Sakura benar-benar kaget. Apa-apaan ini. Padahal ia belum setuju untuk kembali pada Sasuke sekarang.

Salah satu ide sasuke, yakni memanfaatkan kebaikan Sakura. Kebaikan Sakura adalah dia bukanlah gadis yang suka mengecewakan orang lain. Sedikit licik memang, tapi hanya itulah salah satu cara memiliki Sakura kembali.

Sasuke balas menatap Sakura, seakan berkata, 'Apakah kau tega mengecewakan orang tua yang berharap padamu'.

Sakura kali ini menatap Sasuke dengan kesal. Sasuke balas menatap dengan senyum kemenangan. Sakura hanya bisa mengambil nafas panjang.

"Syukurlah… tentu saja ibu setuju" terlihat Mikoto sumringah melihat Sakura, "Ibu pikir tak akan pernah memiliki cucu lagi, mengingat Karin sialan yang tidak mau punya anak. Sementara Itachi…" perlahan suara Mikoto menurun.

"Sudahlah, Bu. Itu bukan kehendak kita kan?" hibur Sasuke sambil menatap Mikoto yang berubah sendu.

"Ah, iya…" terlihat senyum Mikoto di paksakan. Malahan kelihatan getir.

Pandangan Mikoto beralih pada Sakura. Wajah yang tadi kelihatan murung, malah berubah menjadi tampak berbinar. Harapannya kini benar-benar bertumpu pada gadis surai merah muda ini.

"uh.. ibu kebelakang. Sasuke. Sakura" ujar Mikoto sembari memegangi kedua belah pipi Sakura. senyuman manis Mikoto kembali merekah, bahkan sampai membuat kedua matanya menyipit "Selamat datang" sambil mengusap pucuk kepala Sakura.

"Mungkin sebaiknya kau mengajak Sakura istirahat" imbuh Mikoto, tapi dengan nada yang sedikit di tekankan pada sasuke.

Sasuke mengangguk, di lanjutkan dengan gelengan kepala. Ia tak habis pikir dengan sifat ibunya, baru saja kelihatan murung tiba-tiba saja berubah ceria. Berikut ia melempar pandangan pada Sakura. Siapa lagi yang membuat ibunya berubah ceria kalau bukan karena gadis pinky ini. Gadisnya ini memang memiliki aura yang unik.

Sepeninggal Mikoto, Sakura menatap Sasuke seperti ada yang ingin di tanyakan.

"Itachi itu kenapa, Sasuke"

Sasuke tiba-tiba bungkam mendengarkan pertanyaan Itachi. Tampak jelas sekali adanya raut duka di wajah Sasuke. Dan hal itu terbaca oleh Sakura.

"Dia meninggal dalam kecelakaan bersama istrinya yang sedang hamil" jawab Sasuke juga dengan nada sendu, sama seperti Mikoto.

"Oh… Maaf"

"Tidak apa-apa. Itu adalah kejadian yang sudah lama" Sasuke menggeleng kepala. Ia ingin membuang keresahannya. Ia tak ingin Sakura ikut-ikutan sedih.

Sasuke sudah sangat mengenal Sakura, Dan Sasuke tahu, kalau Sakura memiliki rasa empaty yang tinggi. Setiap kali melihat orang sedih, maka Sakura pun ikut-ikutan sedih. Apa lagi jika orang yang mengalami kesedihan itu adalah orang terdekatnya, maka sepertinya, Sakura lah yang paling merasakan kesedihan. Karena itulah, Sasuke segera menormalkan wajahnya, agar Sakura tak ikut-ikutan sedih.

Sasuke pun melempar senyum hangat pada Sakura, agar terlihat kalau ia tidak dalam keadaan sedih.

"Ayo" kembali Sasuke mengangkat Sakura, "sebaiknya kau istirahat. Sambil menunggu berita dari ayah yang ingin menemui seorang dokter ahli syaraf dan ahli tulang"

"Sasuke, tentang pengobatanku... itu…" jelas nada Sakura tidak enak. Mengingat biaya pengobatan yang di janjikan Sasuke dan Fugaku, pastilah sangat mahal.

"Sakura" Sasuke kembali meletakkan Sakura di sofa. Lalu ia menggenggam kedua tangan Sakura sambil mentap kedua iris emerald Sakura dalam-dalam.

"Jangan di pikirkan. Aku sudah bersumpah, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku tidak ingin kau merasa kalau kau selalu menjadi beban. Karena itu, aku ingin membebaskanmu. Berjalan bebas di atas kedua kakimu. Dan itu salah satu kebahagiaanmu, bukan?" Sasuke mencium kedua tangan Sakura yang ada dalam genggamannya. "Karena aku mencintaimu"

"Dan terima kasih" imbuh Sasuke perlahan.

"Terima kasih? Terima kasih untuk apa" Sakura malah menatap kebingungan.

"Karena sudah memberikan harapan untuk ibu" senyum Sasuke mengembang.

"Tapi aku kan…"

"Hmm…" Sasuke memiringkan kepala dengan alis terangkat.

"Haaah…" Sakura hanya bisa mendesah nafas, sifat menyebalkan Sasuke muncul lagi.

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Sedikit lagi ia akan benar-benar memiliki Sakura.

Meski sedikit di buat kesal, Sakura pun tetap melempar senyum hangat.

"Ayo. Aku tak ingin Ibu membunuhku, jika aku tetap membiarkanmu di sini?" imbuh Sasuke sambil membopong Sakura.

"Jangan banyak tanya" mulut Sakura terbuka, memang benar ia ingin membantah. Tapi sepertinya percuma. Dan akhirnya Sakura hanya menurut, ia pun segera melingkarkan tangan di leher Sasuke.

Sasuke segera meletakkan Sakura di atas ranjang King Size miliknya. Sakura menelusuri seluruh penjuru ruangan kamar milik Sasuke. Semua fasilitas lengkap. LCD dan satu lagi yang paling membuat Sakura tertarik karena sesuai hobinya, rak buku.

"Sasuke…" Suara Sakura malah sedikit menggeram.

"Kenapa?"

"Soal tadi… soal bibi… aku kan…"

"Jadi kau ingin mengecewakan ibuku yang sangat berharap padamu?" ujar Sasuke dengan senyum yang makin membuat Sakura makin kesal.

"Cih!" lagi-lagi Sakura membuang muka sambil memberengut kesal. Seenaknya saja pria di depannya ini menjadikan sag ibu sebagai tameng.

Sasuke tersenyum, kali ini ia malah gemas melihat ekspresi Sakura yang sedang kesal.

Saking gemasnya, Sasuke memberikan cubitan kecil di belah pipi Sakura, "Kan sudah ku bilang, aku akan menunggu" ujar Sasuke sekenanya, bahkan tertawa perlahan. Sikap Sakura sekarang makin melunak padanya. Tentunya Sasuke pun makin senang.

Berikutnya, Sasuke menyibukkan diri lagi, ia mulai menaikkan kedua kaki Sakura ke atas tempat tidur dengan posisi kaki menjulur.

Sakura main terharu, begitu perhatiannya Sasuke padanya. Sekaranglah saatnya Sakura untuk berpikir tentang hubungan mereka yang menggantung karena keraguannya sendiri. Sasuke dan keluarganya mau mengeluarkan biaya demi pengobatannya. Sasuke memperkenalkan Sakura pada kedua orang tuanya, padahal, sebelumnya hubungan mereka sedikit di rahasiakan Sasuke. Dan yang paling penting lagi, kedua orang tua Sasuke tidak mempermasalahkan keadaannya.

Sasuke melangkah ke samping rak buku miliknya. Ia mengambil buku yang ia ketahui adalah jenis buku yang suka di baca Sakura.

"Terima kasih" ujar Sakura sambil menerima buku yang di sodorkan Sasuke padanya.

"Hn" Sasuke mengangguk , berikut, Sasuke membuka laci miliknya mengambil pemutar MP3.

Sasuke sendirilah yang memasangkan headset di telinga sakura yang tersambung ke pemutar MP3 miliknya. Sasuke sudah sangat mengetahui kegemaran Sakura, baca buku sambil mendengarkan musik

"Istrahatlah" barulah kemudian Sasuke memutar tubuh hendak meninggalkan Sakura.

Sakura buru-buru meletakkan buku yang sempat di bukanya, begitu juga dengan headset yang di pasang Sasuke di telinganya.

"Sasuke" tiba-tiba saja Sakura menggenggam kedua tangan Sasuke yang mulai beranjak pergi. Mau tidak mau, Sasuke harus menghentikan langkah. Ia melempar senyum pada Sakura. Perbuatan Sakura kembali mengingatkannya pada sifat Sakura beberapa tahun silam. Sakura begitu manja. Dan yang membuat Sasuke senang, sepertinya sifatnya itu akan kembali.

"Jangan pergi" ucapnya lirih. Kedua tangannya terlihat gemetaran.

Sasuke menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Aku tidak kemana-mana. Aku hanya ingin menemui Ibu. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya"

"Bukan itu" Sakura menggeleng kepala, suaranya semakin melirih.

Sasuke berusaha memutar otak memaknai maksud dari ucapan Sakura barusan. Apakah 'jangan pergi' dari Sakura adalah… Sasuke tidak meneruskan dugaannya. Matanya membulat menatap Sakura yang masih menggenggam tangannya erat.

"Sakura… kau…" mempertanyakan dengan maksud menguatkan dugaannya.

"Jangan pergi lagi, kumohon, jangan tinggalkan aku" suara lirih, genggaman yang semakin erat, mengertilah Sasuke sekarang. Itu artinya, Sakura telah menerima dan siap merajut kembali hubungan mereka.

Di sertai rasa haru dan kebahagiaan, Sasuke segera memeluk Sakura dengan erat, "Tidak akan pernah Sakura. Itu diluar kemampuanku. Aku akan selalu di sampingmu, dalam kondisi apapun. Jangan kwatir. Aku mencintaimu, sangat" katanya penuh keyakinan.

Sasuke menarik Sakura dari pelukannya. Memegangi kedua bahu Sakura, menatap kedua bola mata emerald yang kini bersimbah air mata haru. Kedua tangan yang memegangi bahu Sakura, beralih pada kedua pipi yang basah itu.

"Percayalah sekali lagi padaku. Aku akan selalu di sisimu" jemari Sasuke menyeka kedua belah pipi Sakura. Detik berikutnya, ia kembali meraih Sakura dalam pelukan hangatnya. Membelai punggung yang serasa lembut dan rapuh itu agar kembali kuat, sekuat seperti awal perjumpaan mereka.

Sungguh terharu Sakura mendengar ucapan Sasuke barusan. Matanya sayu, memandangi Sasuke dengan sejuta kebahagiaan.

"Terima kasih, Sasuke. Aku mencintaimu" Sakura makin mengeratkan pelukannya, seakan ia ingin menyatukan Sasuke dengan tubuhnya, agar tak terpisah lagi.

Sekali lagi Sasuke menarik Sakura dari pelukannya. Menatap bola mata emerald yang selalu memancarkan sinar kelembutan itu.

"Maafkan aku, Sakura"

Sasuke sedikit menjauhkan tubuh Sakura darinya.

"Tak kan ku biarkan kau menderita lagi" ucap Sasuke menatap Sakura semakin mendalam, "Jika aku bersalah lagi, hukumlah aku, dengan hukuman yang belum pernah di berikan kepada manusia. Jangan menangis lagi. Tidak akan pernah lagi ada air mata"

Air mata haru akhirnya tumpah membasahi pipi halus milik Sakura. Sekali lagi ia meyakinkan hatinya untuk kembali pada Sasuke. Tadinya Sakura pikir, ia butuh waktu lama untuk menyiapkan diri kembali pada Sasuke. Namun pada kenyataannya tidak, ucapan dan perlakuan Sasuke padanya membuat hatinya luluh seketika. Ia memutuskan untuk memberi kesempatan kedua pada Sasuke. Sekarang atau besok sama saja, jika ujung-ujung harus balikan, bukan.

Perlahan tangan Sasuke menjulur, menarik lembut kepala Sakura kembali mendekat kedalam dekapannya. Yang bisa di lakukan Sakura adalah melingkarkan tangannya di tubuh hangat Sasuke.

Tangan Sasuke kembali menelusuri kontur wajah Sakura, sementara tangan yang lain tetap merapatkan kepala Sakura di dadanya.

Sasuke kembali mengangkat dagu Sakura. Sasuke menundukkan kepala dan perlahan wajah Sasuke mendekat. Mengerti maksud Sasuke, perlahan pula mata Sakura memejam, menerima sentuhan bibir, yang sudah terasa asing. Tapi justru memberikan sensasi baru. Sebuah rasa yang menjalar keseluruh tubuh.

Degh!

Jantung keduanya terdengar berdetak kencang, menambah irama kehangatan di antara keduanya. Membuat pori-pori terbuka lebar dan merinding.

Kedua tangan Sakura pun bergerak dan beralih melingkari leher Sasuke. Di satu sisi tangan Sasuke membelai lembut selurh bagian punggung Sakura.

"Ku harap kau bersabar, Sasuke" suara datar tapi keras berasal dari depan pintu kamar Sasuke.

Sasuke maupun Sakura tersentak dan buru-buru saling menjauhkan diri dengan wajah yang merona merah. Sakura menundukkan kepala.

"Ada apa? Apa yang…" pertanyaan Mikoto yang juga menyusul, tertahan. Ia melihat puteranya dan Sakura duduk menundukkan kepala dengan wajah yang memerah. Buku kelihatan asal taruh, padahal Sasuke tidaklah seperti itu. Dan yang lebih mencurigakan lagi, rambut di bagian belakang kepala agak berantakan.

"Sasuke…" nyaris teriak Mikoto, "Kau ini…"

Mikoto bergerak ke arah Sakura. ia membungkukkan badan sambil memegangi kedua belah pipi Sakura.

"Kau tidak di apa-apakan Sasuke, nak?"

"Heh!" SasuSaku bersamaan.

Sakura menggeleng perlahan.

"Tidak mungkin"

"Ibu tidak bertanya padamu, Sasu!" Mikoto melotot pada Sasuke, "Cepat, ada yang ingin ayahmu bicarakan denganmu" perintahnya meminta Sasuke agar keluar dari kamarnya sendiri.

"Baik"

Melihat Sasuke sekilas yang sudah berdiri dan berjalan meninggalkan kamar.

"Dasar. Kau memang tidak bisa di biarkan, Sasu"

Sasuke hanya bisa mendesah nafas panjang, mendengar ibunya yang mungkin akan mengomelinya. Fugaku hanya tersenyum tipis sambil menatap Sakura yang masih setia dengan rona wajahnya. Berikut Fugaku mendahului Sasuke menuju ruang tamu.

Sasuke berhenti sekilas, menoleh ke belakang menatap Sakura yang masih seperti sedang di periksa oleh Mikoto, ibunya.

"Meski Sasuke itu kekasihmu, bukan berarti kau rela di sentuh seenaknya Sasuke…" ujar Mikoto sekenanya pada Sakura, yang makin membuat wajah Sakura makin memanas.

Sasuke buru-buru meninggalkan kamarnya, ia tak ingin mendengar komentar bernada protective ibunya lagi. Dan lagian, ayahnya menunggunya di ruang tamu.

"Bagaimana?" tanya Sasuke setelah mengambil tempat duduk dan saling berhadapan dengan Fugaku

"Begini, Sasuke. Ayah sudah bertemu dengan dokter Kabuto. Ayah sudah menceritakan keadaan Sakura, sesuai ceritamu. Dan kau harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan"

Sasuke diam menunggu.

"Begini, itu adalah cacat sejak lahir, masih ada harapan sembuh melalui pembedahan dan berapa therapy, tapi dengan resiko, jika gagal, maka Sakura akan lumpuh seluruh anggota geraknya"

Sasuke menelan ludah. Berikut ia memejamkan matanya dan membuka perlahan. Ia sudah meyakinkan akan menolong dan membantu Sakura. Apapun akibatnya kelak, ia sudah bersumpah pada diri sendiri, bahwa ia akan selalu berada di sisi Sakura dalam keadaan apapun.

Selanjutnya Sasuke mengangguk mantap.

"Yang berikut, mungkin ini tak perlu kau risaukan, hanya saja sekedar pemberitahuan. Jika operasinya sukses, kau harus menunda kehamilan Sakura jika kalian menikah. Biar bagaimanapun, buruh waktu untuk memulihkan operasi, terutama pada bagian tulang punggung. Kau mengerti kan keadaan wanita, apa lagi ketika hamil tua dan melahirkan? Semua itu yang berperan adalah tulang punggung. Apa lagi ia sudah dewasa, butuh waktu lebih untuk memulihkan tulang punggung" terang Fugaku menyambung ucapan dokter yang sudah ia temui.

"Bukan masalah"

"Lalu bagaimana dengan Sakura"

"Kita tak perlu memberitahukan Sakura tentang resikonya. Lagi pula keinginannya untuk sembuh sangat besar. Kurasa itu bisa menjadi faktor untuk membantu kesembuhan Sakura"

"Baiklah. kalau kau siap. Besok dokter Kabuto dan timnya akan datang mengecek keadaan Sakura. apakah fisik dan mentalnya sudah siap menuju ke meja operasi" Sasuke mengangguk perlahan mendengar ucapan ayahnya.

Terdengarlah desahan nafas perlahan Sasuke. Selanjutnya ia berdiri dari tempat duduknya.

"Kau mau kemana?"

"Tadi aku hanya meminta izin dan berjanji akan mengembalikan Sakura nanti. Tapi sepertinya harus di tunda karena acara pemeriksaan. Aku akan minta izin agar Sakura tetap disini"

"Kenapa tidak di telepon saja?"

"Agak kurang sopan" jawaban Sasuke meninggalkan ayahnya yang masih duduk di ruang tamu.

o0O0o

"Haaah…." Sasuke harus menarik napas berkali-kali untuk meyakinkan diri sendiri.

Entah bagaimana reaksi keluarga Haruno jika bertemu dengannya lagi. mengingat tadi ia membawa Sakura begitu saja tanpa mendapat izin sama sekali.

Keinginan Sasuke untuk meminta izin aga keluarga Haruno itu, memberikan izin agar Sakura menginap di rumahnya sampai proses operasi Sakura selesai.

Kedua orang tua Sakura dan Gaara sangat kaget setelah melihat siapa yang telah berdiri di depan pintu mereka.

Sasuke malah memperlihatkan senyum canggung. Menganggukkan kepala kebawah, "maaf, mengganggu. Aku minta waktu sedikit. Ada yang ingin kubicarakan"

"Dimana Sakura?" tanya Gaara tiba-tiba. Benar seperti yang di pikirkan Sasuke, Gaara masih menyimpan kedongkolan akibat ulah Sasuke yang membawa Sakura begitu saja.

Kizashi menarik nafas panjang, pasti ada hal yang akan di bicarakan pemuda yang sedang berdiri didepannya ini.

"Kalau memang ada perlu, silakan masuk" pinta Kizashi sambil, mendahului melangkah menuju ruang tamu.

"Duduklah" suara laki-laki lain yang tak lain adalah suara Kizashi menginterupsi.

"Terima kasih" Sasuke pun mengambil tempat duduk mengabaikan tatapan tajam Gaara padanya.

"Langsung saja, Sakura belum bisa ku kembalikan. Aku akan membantu kesembuhan Sakura. Kami sudah menemukan dokter yang tepat untuknya. Dan besok, dokternya akan datang dan melakukan pengecekan pada kesiapan mental dan fisik, Sakura"

Kizashi menautkan alis, "Maksudmu?"

"Iya, aku meminta izin agar Sakura tinggal di rumahku sampai…"

Belumlah selesai Sasuke mengungkapkan keinginannya. Suara lain pun juga memotong. Suara itu adalah suara mebuki.

"Tidak…" giliran ucapan Mebuki yang juga ingin menyampaikan pikirannya, juga terpotong karena Kizashi terlebih dahulu memegangi pundaknya. Meminta agar membiarkan Sasuke menyelesaikan maksud kedatangannya.

"Teruskan!"

"Aku meminta agar Sakura menetap di rumahku sampai proses operasinya selesai" ucapan Sasuke agak sedikit tersendat, ada rasa ragu ia akan mendapat restu untuk membiarkan Sakura tetap di rumahnya. "Kalau perlu, sampai sembuh"

"Segala sesuatu ada resiko, dan pasti akan ada resiko dibalik operasi itu" giliran Gaara yang angkat suara.

Sasuke mengangguk perlahan membenarkan. Lalu ia kembali menerangkan sesuai keterangan ayahnya.

"Tidak. Lebih baik Sakuraku yang sekarang dari pada…" Mebuki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak sanggup membayangkan keadaan Sakura jika memang operasinya gagal.

"Bibi…" panggilan Sasuke perlahan, dengan maksud menenangkan.

"Kau tahu, Sakura masih mencintai dan masih berharap padamu, kau membawanya bersamamu , dan pasti memberikan harapan padanya. Tapi jika operasinya gagal, dan malah makin parah. Dan saat itu, kau pasti akan meninggalkan dia lagi…"

"Jangan mengingatkanku untuk melakukan kebodohan yang sama" tiba-tiba saja suara Sasuke di tekan, tegas. Hal ini pulalah yang membuat Mebuki yang tadi menutupi wajahnya dengan telapak tangan, perlahan menurunkan tangan

"Gagal atau tidaknya operasi Sakura. aku akan ada di sana untuknya. Aku tidak ingin mati karena dihantui perasaan menyesal. Jika memang Sakura gagal. Aku akan menjadi kedua tangan dan kakinya. Aku akan menjadi apapun untuknya" tatapan kesungguhan di tunjukkan pada ketiga anggota keluarga di depannya.

Kedua orangtua Sakura dan Gaara saling tatap. Berikut terdengarlah hembusan nafas dari ketiganya.

"Kapan operasinya di mulai. Dan dimana?" akhirnya di putuskan untuk memenuhi keinginan keras kepala Sasuke, yang tetap ngotot ingin membantu kesembuhan Sakura dengan segala resiko.

"Pastinya, kami kurang tahu kapan. Tergantung dokternya"

Yang terlihat sekarang oleh Sasuke adalah anggukan.

Kizashi lagi-lagi menarik napas panjang. Ia tak punya pilihan lain selain memenuhi keinginan Sasuke.

"Baiklah. Jangan lupa, jika Sakura sudah menjalani operasi, hubungi kami" ucap Kizashi perlahan.

"Terima kasih, Paman. Sebaiknya aku pamit. Aku belum memberitahukan Sakura tentang ini" ujar Sasuke bangkit dari tempatnya.

"Aku akan mengantarmu" Gaara pun ikut-ikutan berdiri di tempat. Sasuke hanya merespon dengan menganggukkan kepala.

"Sasuke.." panggil Gaara ketika mereka sudah berada di gerbang dan Sasuke yang sudah bersiap masuk kedalam mobilnya.

Sasuke membatalkan niatnya yang tadi sudah membuka pintu mobil. Ia menatap Gaara.

"Aku mohon padamu sebagai sesama lelaki. Ku minta, jangan menyakiti Sakura lagi, mohon"

"Permisi" sahut Sasuke masuk kedalam mobil. Di balik jendela mobil. Sasuke kembali menatap Gaara, "Bahkan jika itu seekor semut pun, tidak akan kubiarkan", Sasuke pun mulai menutuk kaca jendela mobil. Gaara hanya terdiam di tempat membiarkan mobil Sasuke melaju perlahan dan menjauh.

"Semoga saja" gumam Gaara pada diri sendiri.

..

.

TO BE CONTINUED