I Do It For Yo
…
…
…
Kali ini Sasuke benar-benar makin tidak tenang di kantornya, beberapa kali ia harus bangkit dari kursi dan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Konsentrasinya selalu buyar tatkala mengingat Sakura yang ia tinggalkan tadi di rumahnya.
Salahkan para stafnya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan akan ada rapat meeting dengan beberapa mitra perusahaan. Dan malahan yang ia dapatkan sekarang adalah ketidaktenangan.
Belum lagi, telepon dari rumah belum ada deringan. Sebelum berangkat, Sasuke mengingatkan agar di telpon ketika para tim dokter yang akan memeriksa dan mengoperasi Sakura sudah datang. Selain itu, masih ada seseorang yang sedang ia tunggu
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu akhirnya di ketuk. Sasuke menatap kepintu berharap bahwa orang yang di balik pintu itu adalah orang yang di harap kemunculannya.
"Masuk!" perintah Sasuke setelah mengambil tempat duduk.
Tampaklahseseorang yang membuka pintu, ternyata pria itu tak lain dan tak bukan adalah Sasori. Wajahnya sedikit di tundukkan. Biar bagaimana pun kekhawatirannya terhadap pemecatan menghantui pikirannya.
"Duduk!" Pinta Sasuke pada Sasori.
Sasori pun seperti hati-hati mengambil tempat duduk di depan Sasuke.
"Aku ingin sekali menghajarmu sekarang" tak suka bertele-tele, itulah Sasuke.
Sasori mengangkat wajah, tapi kali ini tatapannya agak berbeda ketika ia baru masuk sebelumnya. Tatapannya membalas tatapan tajam Sasuke seakan ingin menantang Sasuke. Biar bagaimana pun, ia juga sudah mulai jengkel dengan atasan nya yang satu ini. Seenaknya menyakiti Sakura, gadis yang Sasori cintai juga. Tapi seenaknya juga merebut Sakura, dimana benih kasih di antara mereka pun mulai tumbuh, bahkan dengan mudahnya di rebut.
"Tapi tidak akan kulakukan. Karena kebohonganmu, aku malah penasaran, sehingga mencari tahu sendiri" nadanya tenang meski tatapannya tajam. Mungkin ia mengerti arti tatapan Sasori atau tidak, hanya Sasuke yang tahu.
Sasori ingin membantah, kebohongan mana yang ia lakukan. Bukankah semua rekaman video yang ia kirim memang benar adanya. Atau apakah karena ia mulai dekat dengan Sakura, tapi apakah itu juga harus ia sampaikan, bantah Sasori dalam hati.
"Justru aku berterima kasih padamu, yang telah menunjukkan betapa aku sangat membutuhkan dan menginginkan Sakura. Awalnya aku hanya ingin ia bahagia. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat tidak rela jika ia bersama orang lain, aku rela mengorbankan apapun asal di bersamaku…"
Sasori mendengus dalam hati, 'Kenapa baru kau katakan sekarang, kemana saja kau di tahun-tahun sebelumnya di saat Sakura mengalami kesedihan karena ulahmu' Sasori semakin mendongkol. Menurutnya, atasannya ini benar-benar munafik. Tapi semua kata hatinya itu ia harus pendam dalam-dalam.
Sasori masih bungkam karena kejengkelannya tak bisa ia ungkapkan.
"Aku akan pulang, Sakura akan menjalani pemeriksaan, aku butuh bantuanmu dan mempercayaimu, kau akan mengambil alih tugasku untuk sementara" Sasori malah bernafas lega, bayangan pemecatannya ternyat tidak terbukti.
"Anggap itu ucapan terima kasihku padamu. Dan aku masih memberikanmu kepercayaan. Kau bisa?"
Sasori mengangguk.
"Pergilah, temui beberapa klien, sekalian ajak Hana turut serta bersamamu"
"Siap tuan!" sahut Sasori tampak senang. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Oh ya" Sasori menghentikan langkah, "Jujurlah, apa kau masih berharap pada Sakura?"
Sasori tanpa ragu, ia mengangguk.
"Jangan pernah mendekati ataupun menyentuhnya lagi, atau…"
Brak!
Sasuke meletakkan sebuah pistol di atas meja. Tanpa bertanya pun Sasori tahu artinya, atau mungkin siapapun yang telah mengenal Sasuke.
Sasori menelan ludahnya. Berikut ia minta izin pamit. Mendekati Sakura, bukan hanya perkerjaannya saja yang hilang, salah-salah, nyawanya pun melayang. Keinginan yang ingin mewujudkan Sakura menjadi miliknya harus ia hapuskan saat ini juga.
Di luar ruang kerja Sasuke, entah kenapa Sasori malah tersenyum. Sakura pasti akan menemukan kebahagiaan yang di idamkannya. Sakura seharusnya untuk siapa, Sasori akhirnya bisa pastikan.
Sasori pun akhirnya memutuskan untuk mencari pengganti Sakura. Sama seperti Sakura, kali ini, Sasori mengerti, kenapa Sakura seperti tak bisa lari dari Sasuke. Ternyata begitu sulit untuk lari dari bayang-bayang cinta pertama. Tapi yang pasti Sasori harus lakukan, atau berakhir di tangan Sasuke.
"Maaf, Tuan Sasori, apakah anda sudah siap mengambil alih pekerjaan Tuan Sasuke?" suara sekretaris yang biasa menemani Sasuke, menyapa.
"Ah. Iya"
"Kalau begitu, silakan ikuti saya, sebentar lagi meeting di mulai" Sang sekretaris atau Hana melangkah mendahului Sasori.
Sasori menatap punggung Hana yang berjalan di depannya. Ia tersenyum tipis.
"Hana" sapaan perlahan dari Sasori
Hana berhenti dan menoleh.
"Apakah setelah meeting selesai, kau ada acara?"
Hana tampak berpikir sesaat, "Sepertinya tidak ada tugas tambahan dari Tuan Sasuke?"
"Bagaimana kalau makan malam" tanya Sasori makin melebarkan senyumannya, "Maksudku kita berdua".
Hana terlihat menunduk tersipu, berikut ia mengangguk, "Kalau tidak merepotkan"
"Malah menyenangkan" kekeh Sasori, "Ayo silakan"
Hana kembali melanjutkan langkah dan di ikuti Sasori. Sekarang Sasori sudah memutuskan, siapa yang akan menjadi jembatannya untuk melupakan perasaannya pada Sakura. Mungkin berat, tapi yang pasti Sasori akan coba.
o0O0o
Dari awal meeting dengan perusahaan yang di pimpin sahabatnya itu, Naruto menautkan alis. Dari awal sampai sekarang meeting sudah selesai. Ia tak melihat Sasuke. Yang ada sekarang hanyalah Sasori, dan di wakili orang kepercayaan yang di dampingi sekretarisnya.
Menilik semuanya, Naruto pun tahu tentang konflik keluarga sahabatnya itu, ia tahu latarbelakang semuanya. Benarlah adanya, jika perusahaan yang di pimpin Sasuke atas nama Uchiha, tapi berada dalam rangkulan dan kuasa Uzumaki. Atau jangan-jangan perusahaan ini telah di akuisisi secara penuh oleh Uzumaki dan memberhentikan Sasuke. Mengingat Sasuke sudah bercerai dengan Karin meski belum di katakan resmi.
Dan Naruto tahu, akibat jika Sasuke dan Karin bercerai. Perusahaan Uchiha yang pernah nyaris bangkrut dan di selamatkan Uzumaki, akan menjadi milik Uzumaki. Kecuali jika Uchiha memiliki strategi untuk bisa membebaskan diri dari Uzumaki.
Dan ia harus cari tahu dari wakil Sasuke yang sekarang berhadapan dengannya.
Naruto menegakkan salah satu tangannya di atas meja dan menempelkan di pipi dengan tangan setengah terkepal.
"Kau Sasori kan? Aku ingin tahu, kenapa Sasuke tidak hadir, padahal rapat ini sebenarnya sangat penting"
"Menemani kekasihnya untuk mempersiapkan diri menjalani operasi?"
"Kekasih? Maksudmu, yang bernama Sakura" Sasori menganggukkan kepala mengiyakan.
"Memangnya, kekasihnya itu sakit apa?" Naruto makin menautkan alis bertanya pada Sasori.
"Sakit sebenarnya tidak. Hanya saja Sakura itu lumpuh. Dia akan menjalani operasi pada saraf dan bagian tulang punggung" terang Sasori.
"O-oh! Terima kasih" angguk Naruto.
o0O0o
Di depan pintu kamarnya, Sasuke tersenyum melihat sang gadis merah muda yang tengah asyik membaca buku dengan ear phone menempel di telinga. Sasuke tersenyum, ada rasa hangat menjalar, membayangkan betapa luar biasanya sang kekasih itu melewati masa sulit ketika tersakiti akibat ulahnya. Kenangan masa silam kembali mengulit saat itu juga, sedikit perih, membayangkan perbuatannya sendirir. Menyakiti Sakura, sama saja menyakiti diri sendiri.
Ia tak pernah berhenti tersenyum menatapi wajah imut itu tengah asyik membaca buku. Sasuke melanjutkan langkah dan mengambil tempat duduk di depan Sakura
"Eh…" Sakura agak sedikit tersentak ketika keasyikannya membaca buku di ganggu oleh Sasuke yang tiba-tiba duduk didepannya.
Sasuke segera mengambil pembatas buku di letakkan di halaman buku yang sedang di baca Sakura. Menutupnya dan meletakkan di samping Sakura. Sementara itu, tak ada penolakan dari Sakura saat Sasuke juga meraih ear phone yang ada di telinganya. Menurunkan perlahan. Sakura tahu, mungkin ada yang akan di bicarakan Sasuke, makanya ia membiarkan saja.
"Ada apa, Sasuke" tanyanya lembut.
Sasuke beringsut dan mendekat kesamping Sakura. Menarik kepala Sakura kedalam rangkulannya dan membelai lembut. Sasuke merangkul pundak Sakura dan Sakura sendiri menyandarkan belakang kepalanya di dada Sasuke. Sebuah kecupan mendarat di dahi Sakura.
"Persiapkan dirimu, sebentar lagi kau akan menjalani pemeriksaan"
"Pemeriksaan?" ulang Sakura di sertai nada kebingungan.
"Tim dokter yang akan menangani mu, sebentar lagi akan datang" singkat sasuke semakin lembut.
Sakura tidak menanggapi melainkan sedikit menundukkan kepala. Cerita Sasuke tentang pemeriksaan kondisi fisik dan mental lalu di lanjutkan ke meja operasi, setelahnya akan menjalani beberapa therapy. Bertanya pada diri sendiri, apakah ia memang mau menjalani operasi. Bukannya ia tidak tahu risiko jika ia mengalami kegagalan.
Perasaan gundah Sakura tentu saja terbaca oleh Sasuke. Olehnya, Sasuke semakin mengeratkan rangkulannya menciumi pucuk kepala itu merasai aroma yang menguar.
"Tenanglah, kalau di izinkan aku akan selalu menemanimu, ok". Sasuke tersenyum seraya mengelus rambut belakang Sakura, membuat wanita itu membalas pelukan hangat Sasuke dengan melingkarkan tangannya pada tubuh pria itu. Hangat. Aroma Sasuke pun menusuk indera penciumannya. Inilah yang selalu di rindukan Sakura pada Sasuke, merindukan segala kehangatan dan aroma ini.
"Ehhemm… Ibu mengganggu?" sayangnya kemesraan mereka lagi-lagi terganggu oleh suara Mikto yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Sasuke dan Sakura menjauh, tapi tidak benar-benar menjauh.
Pintu kamar memang sengaja Sasuke tidak tutup, sebagai bukti bahwa ia tidak melakukan hal yang terlarang terhadap kekasihnya.
Mikoto hanya bisa menggeleng kepala melihat ulah keduanya. Bukannya menjaga jarak, tangan mereka malah bertautan.
"Tim dokter sudah datang" ujar Mikoto sembari mendekati keduanya. Sebagai petanda kalau sebaiknya Sasuke menyingkir.
Mikoto dan Sasuke duduk mengapit Sakura. Berikut tatapan tajam Mikoto mengarah pada Sasuke, seakan berkata, "Kau tidak paham? Keluar!"
Dari pada di semprot di depan Sakura, Sasuke mengalah dan keluar. Pas di depan pintu juga, ia berpapasan dengan seorang pria berkacamata.
"Saya dokter Kabuto. Yang mana pasiennya?" tanyanya pada Sasuke.
"Yang ini" Mikotolah yang menyahut sambil menunjuk pada Sakura.
Dokter Kabuto mengangguk dan berjalan ke arah tempat tidur tempat Sakura dan Mikoto. Sasuke yang cukup tahu diri untuk tidak mengganggu, ia pun segera meninggalkan kamarnya sendiri.
Sama halnya dengan Mikoto, ia pun mulai bangkit dari tempatnya. Hendak meninggalkan sang dokter dengan Sakura.
"Nyonya, jika tidak keberatan, mungkin sebaiknya anda di sini menemani puteri anda?" Kabuto menginterupsi, karena ia melihat adanya raut ketegangan di wajah Sakura, saat Mikoto hendak menyusul Sasuke.
"Apa tidak masalah?" tanya Mikoto.
"Hanya pemeriksaan, bukan masalah" Sahut sang Dokter sambil mengeluarkan beberapa peralatan.
Sedari tadi baik Sasuke maupun Fugaku tidak ada yang memulai pembicaraan. Perlu di catat, keduanya memang pendiam. Jadi kalau tidak ada yang penting, keduanya memang tidak ada yang memulai pembicaraan.
Cukup beruntung keduanya. Tidak menunggu lama, Mikoto dan dokter Kabuto menampakkan diri.
"Bagaimana?" Sasuke dan Fugaku nyaris bersamaan, karena ketidak sabaran.
Mikoto hanya bisa tersenyum. Ternyata ada juga yang membuat suami dan puteranya itu bisa kompak, semua gara-gara calon mantunya.
Sasuke, Fugaku dan Mikoto sepakat untuk membahas masalah pengoperasian, tidak di depan Sakura. Makanya, usai pemeriksaan kesiapan Sakura untuk di operasi, Mikoto langsung mengajak dokter Kabuto ke ruang tamu tempat suami dan puteranya menunggu.
"Silakan duduk, Dokter" Pintanya pada Kabuto untuk duduk dan membahas semuanya dengan putera dan suaminya. Berikut, Mikoto pamit.
"Ehemm…" Kabuto mulai pembicaraan.
"Begini, Sakura mengalami kelumpuhan total, di mana fungsi saraf dan otot hilang secara keseluruhan, dan otot tidak bisa digerakkan sama sekali , dan penderita tidak merasakan apapun sama sekali pada bagian yang lumpuh"
Sasuke dan fugaku saling tatap. Bagi Sasuke ia baru tahu soal istilahnya, tapi soal gejalahnya, Sakura sering bercerita bahwa Sakura merasa tidak memiliki kaki sama sekali.
"Penyebabnya?" Fugaku malah penasaran.
"Penyebabnya ada berbagai macam. Salah satunya adalah celebral palsy, yakni gangguan saat perkembangan dalam janin atau terjadi cedera saat proses kelahiran. Berikut bisa juga karena cedera tulang punggung, yang mengirim sinyal ke otot atau bagian tertentu" terang Kabuto.
"Oh ya, Sakura itu isteri anda?" duga Kabuto, hal ini di maksudkan pada Sasuke.
"Calon isteri" akunya Sasuke.
Kabuto mengangguk sesaat.
"Untuk lebih jelasnya kami akan mendiagnosa lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keparahan melalui foto rontgen, CT Scan, atau MRI (Magnetic Resonance Imaging). Saya sudah melakukan pemeriksaan fisik, seperti menilai pergerakan otot dan sensorik. untuk mendukung diagnose lebih lanjut, saya butuh keluarganya, untuk mengetahui riwayat penyakit pasien dan keluarga" Kabuto kembali menerangkan. "Semuanya bertujuan untuk mengetahui tindakan apa yang musti dilakukan selanjutnya. Apakah cukup dengan pengobatan atau operasi dan atau melalui metode therapy"
"Begitu ya. Bagaimana jika aku mengantar anda untuk menemui keluarga Haruno" tawar Sasuke.
"Kurasa tidak perlu. Pemeriksaan terhadap keluarganya, bisa di lakukan bersamaan saat akan di rontgen ataupun MRI" tolak Kabuto
"Apapun itu. Tolong" Sasuke tampak begitu berharap. Biar bagaimana pun, itu adalah salah satu impian Sakura, sembuh dari kelumpuhan.
"Tentunya kami akan melakukan sesuai kemampuan kami" jawab Kabuto meyakinkan, "Tenang saja, timku juga terdapat ahli tulang. Pasti semua akan lebih lancar" imbuhnya lebih meyakinkan Sasuke.
"Terima kasih" terlihatlah Sasuke sekarang benar-benar pasrah.
"Saya rasa, ayah anda sudah memberitahu akibat jika andai gagal" Kabuto mengingatkan Sasuke atau yang lainnya, apakah siap dengan segala konsekwensinya.
Sasuke dan Fugaku mengangguk.
"Oh ya kapan Sakura akan di jemput" tanya Sasuke sedikit tidak Sabar
"Pertama, untuk mengetahui tingkat keparahan. Kalau semua persiapan sudah siap, mungkin lusa akan kami mengabari" sahut Kabuto
"Kalau begitu saya mohon pamit. Mempersiapkan segalanya, demi kelancaran pemeriksaan dan tidak lanjut terhadap calon pasien" Fugaku menundukkan kepala sesaat, dan mempersilakan dokter Kabuto.
"Bagaimana Sasuke?"
"Aku… kami akan menanggung risikonya" sahut Sasuke mantap.
o0O0o
Sesuai rencana dan permintaan Kabuto. Keluarga Haruno pun menjalani pemeriksaan untuk mengetahui riwayat penyakit keluarga. Dari gasil pemeriksaan, tidak di temukan adanya riwayat penderita kelumpuhan atau penyakit yang mnenyebabkan kelumpuhan dalam keluarga Haruno.
Sesuai diagnosa para dokter, Sakura memang mengalami cedera saat proses kelahiran terjadi. Para dokter memutuskan agar Sakura di operasi pada bagian saraf belakang. Termasuk operasi tulang punggung yang di anggap masalah utama, yang menghalangi informasi motorik dari kaki di otak.
Kini Sakura tengah berbaring di atas brankar atau stretcher, dan Sasuke menyertainya. Sasuke berada di samping stretcher juga ikutan mendorong Sakura dengan satu tangan lain saling menggenggam dengan tangan Sakura.
Itu terus mereka lakukan sampai mereka tiba di depan ruangan tempat Sakura akan menjalani operasi.
"Sasuke" tangan Sakura menggenggam erat tangan Sasuke, jarum suntik, pisau operasi, bius, membuat Sakura makin tegang. Ia tidak ingin di tinggalkan dan ingin Sasuke menemaninya.
Sasuke menatap Sakura dan jelas ia menangkap adanya ketegangan melalui pegangan Sakura yang makin mengerat.
Sasuke menatap pada ketua tim dokter yang aka mengoperasi Sakura yang bernama Kabuto. Kabuto menganggukkan kepala sebagai jaminan pada Sasuke bhawa Sakura delam keadaan baik dan siap.
"Sakura, jika kau tidak bisa, sebaiknya tidak usah" ujar Sasuke sembari mengeratkan genggaman tangannya.
Sakura mengarahkan pandangan ke bagian bawah tubuh. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah selamanya ia akan terus menerus berdaya di atas kursi roda? Impiannya ingin berjalan bersama di samping Sasuke. Ia ingin menjejakkan kaki dimana Sasuke melangkah. Ia ingin menggunakan kedua kakinya bermain dan berkejar-kejaran dengan anak-anaknya saat bermain di taman. Ia inginkan kedua kakinya mengantar kemana keinginan anak-anaknya kelak.
"Bagaimana, Sakura. kau sudah yakin?" tanya Kabuto mengingatkan Sakura.
Sakura menatap kearah Sasuke dan di sambut dengan anggukan kepala sebagai bentuk dukungan.
"Sakura, berjuanglah. Untukmu, demi kita, demi masa depan mu" nyaris suara Sasuke berbisik, namun masih di tangkap jelas oleh Sakura. Berikut Sakura mengarahkan pandangan ke arah dokter kabuto, lalu mengangguk perlahan.
Para tim dokter pun mendorong stretcher yang di tempati Sakura. Tangan yang bergenggaman dengan Sasuke, agak ragu tapi ia tetap lepaskan perlahan.
"Dokter" Kabuto menahan langkah dan menoleh pada Sasuke.
"Apakah keadaan Sakura sekarang benar-benar siap?" ketegangan Sakura barusan membuat Sasuke malah ragu. Menurutnya, jika Sakura terlalu tegang, malah akan menjadi fatal akibatnya.
"Ketegangan adalah hal biasa untuk para pasien. Tenang saja, dia juga akan di bius. Pemeriksaan kemarin, hanya bertujuan untuk memeriksa kondisi fisik" keterangan Kabuto cukup menenangkan semua yang hadir disitu.
"Permisi" langkah Kabuto menuju ruang operasi dimana Sakura berada
Sasuke hanya bisa berdiri menatap kedalam ruang operasi. Sebenarnya itu percuma ia lakukan karena proses operasi Sakura terhalangi oleh gorden berwarna biru. Hanya terlihat samar-samar
Sekian jam telah berlalu, operasi pada Sakura belum jua menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Para dokter yang bertugas pun belum ada yang muncul untuk memberitahukan bagaimana hasilnya.
Sasuke makin tidak tenang duduk ditempatnya. Berkali-kali ia mondar-mandir, tanpa ada yang mencegah, karena yang hadir di situ merasa percuma.
Sasuke kembali berhenti mondar-mandir. Ia lagi-lagi menatap kedalam ruang operasi Sakura. menunggu kapan tim dokter itu menampakkan diri dan mengatakan hasil operasinya. Tapi tampaknya hal yang di tunggu Sasuke tak kunjung usai.
Suara langkah seseorang mendekati Sasuke. Ternyata suara tersebut adalah suara pemilik sahabat pirangnya, Naruto.
Naruto yang berdiri di samping Sasuke, tentu saja tahu kalau Sasuke sebenarnya di landa kekhawatiran. Hanya saja Sasuke berusaha menenangkan diri.
"Sasuke" sedikit berbisik suara Naruto. Karena Sasuke sedang tak tenang, bukan Naruto jika ia tak bisa menenangkan sahabatnya. Sasuke sudah sering ia ganggu dengan sifat berisiknya.
"Kau pandai mencari kekasih ya" usaha Naruto lagi-lagi berhasil. Ini bisa di ketahui dari cara Sasuke melirik dengan tatapan kesal.
Sasuke belum bersuara.
"Ia sedikit lebih cantik dari Hinata lho!" kali ini Sasuke hanya mendecih, entah apa lagi yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.
"Tapi… oppai Hinata lebih…."
Duk!
"Ukh!" Naruto hanya mengeluh tertahan ketika Sasuke menyikut perut Naruto, agar berhenti.
"Berisik" satu-satunya suara Sasuke yang keluar untuk menanggapi keusilan Naruto. Ia segera bergegas meninggalkan Naruto menuju kursi tunggu, dari pada tetap di situ dan mendengarkan celoteh Naruto.
Belumlah Sasuke duduk dengan tenang, kembali Naruto menyusul.
"Kau tidak mengerti. Kalau aku tak ingin di ganggu oleh celotehanmu" ketus Sasuke saat Naruto malah duduk di sampingnya.
Naruto hanya tertawa perlahan, "Tenanglah Sasuke, mereka itu sudah ahli. Jangan kuatir, kecil sekali kemungkinan mereka gagal" Naruto berkata santai, bahkan ia menyandarkan diri dengan posisi bersantai dan tangan di atas kepala.
Sasuke menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri. Ia menatap Naruto yang mulai terlihat santai. Mungkin apa yang di katakan Naruto benar, pikir Sasuke. Berikut Sasuke menggulirkan pandangan ke bagian ruang lain. Sebenarnya bukan hanya Sasuke yang di landa kegelisahan, keluarga Uchiha maupun keluaraga Haruno yang hadir pun turut merasakan hal yang sama. Hanya saja, mereka lebih memilih duduk tenang ketimbang mondar-mandir seperti yang di lakukan Sasuke. Sedari tadi, kedua keluarga itu memang saling mendiamkan, dan memilih sibuk dengan pikiran masing-masing..
Proses operasi tulang punggung Sakura berlangsung lama. Tentu saja, karena ini berhubungan dengan masalah fungsi saraf motorik, salah sedikit saja, maka kemungkinan bukan hanya kaki Sakura yang lumpuh, tapi juga anggota gerak lainnya. Atau bahkan mungkin panca inderanya. Biar bagaimana pun, yang akan di sentuh adalah saraf.
"Kumohon, kali jangan mengganggu ku, Naruto" ujar Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kesalah satu sudut ruangan. Ia memilih duduk dilantai dan bersandar di dinding dan menundukkan kepala, membuat ekspresinya tak terlihat sama sekali.
o0O0o
Entah berapa lama Sasuke terpekur di tempatnya tanpa merubah posisinya sama sekali. Tak ada yang tahu pasti, berapa lama Sakura menjalani operasi pembedahan.
Sreet..
Terdengarlah suara pintu ruang operasi di buka. Sasuke mengangkat kepala, dan benar saja yang berdiri di depan pintu masuk adalah dokter kabuto.
"Bagaimana?" Keluarga Uchiha maupun Haruno langsung bangkit dan bertanya pada Kabuto.
"Sudah…"
Sasuke tak butuh keterangan lebih lagi, ia bangkit cepat dari tempatnya, melewati semua orang begitu saja tanpa permisi. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan Sakura.
Panggilan orang-orang yang di lewatinya juga diabaikan Sasuke. Kabuto pun terlambat mencegah.
Kabuto hanya menghela nafas panjang.
"Sudahlah, tidak apa-apa jika ia memang ingin melihat Sakura. Mengenai hasilnya, mari, akan saya beri tahu" legalah wajah keluarga Uchiha dan Haruno mendengar kan penuturan Kabuto barusan.
Sasuke mendapati Sakura yang masih belum sadarkan diri akibat pengaruh obat bius. Sasuke masih mendapati beberapa anggotatim yang menangani Sakura, masih sementara membereskan peralatan.
"Dia sudah melewati masa kritis. Hasilnya sekarang, tergantung pada pasien" legalah Sasuke sekarang
"Harap bersabar, dia masih dalam pengaruh bius. Silakan"salah satu tim dokter itu mempersilakan Sasuke mengambil tempat duduk. Sasuke mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Sasuke segera meletakkan tempat duduk dan duduk di samping Sakura. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Sasuke menatap Sakura yang masih tidur tenang karena pengaruh obat bius. Ternyata Sakura sangat cantik jika ia dalam keadaan damai seperti sekarang. Barulah Sasuke perhatikan, Sakura lebih cantik dari biasanya. Sangat damai. Rasa hangat menyelubungi jiwa Sasuke, mengutuki dirinya sendiri yang pernah menyakiti gadis ini, meski terpaksa
Tangannya bergerak membelai rambut Sakura, berpindah kewajah mengikuti kontur wajah Sakura. Senyum Sasuke mengembang seketika. Andai saja, gadis ini sedikit keras kepala terhadapnya, mungkin ia tak akan melihat dan membelai gadis ini seperti sekarang. Beruntunglah, Sakura dengan mudahnya memberinya maaf, bahkan memberinya kesempatan untuk memulai hubungan. Satu yang patut di syukuri Sasuke.
"Satu langkah lagi, Sakura" bisiknya. "Kita akan kemana-mana dengan tangan yang saling berkaitan. Aku tak akan pernah melepasnya lagi"
Senyum Sasuke di kulum. Ia mengambil sesuatu di balik pakainnya. Sebuah kotak kecil berwarna abu-abu, membukanya, dan tampaklah dua buah cincin emas putih. Satu cincin yang tertanam butiran-butiran berlian kecil, sehingga emas itu semakin berkilauan. Dan yang satunya lagi di biarkan polos begitu saja.
Sasuke meraih cincin bertanam berlian yang lingkarannya kelihatan lebih kecil. Memasangkan di jari Sakura. tampaklah wajah Sasuke lega, ternyata ukuran cincin itu pas menghiasi jari manis sakura.
Berikut cincin emas polos ia pakai sendiri di jari manisnya.
Sasuke kembali tersenyum, "Ini yang akan mengikat dan tak akan ada seorang pun yang mampu memisahkan kita" bisiknya lagi.
Setelah puas mengamati Sakura yang terlihat begitu damai. Sasuke menggenggam tangan kanan mungil milik Sakura dengan kedua tangannya, merasakan kehangatannya.
"Sakura..." tangan Sakura yang Sasuke genggam, ia tempelkan ke bibir, mencium jari yang sudah terdapat cincin. Lalu menempelkan ke sisi pipinya. Menggenggam hangat, seakan ingin menyampaikan kehangatan itu dalam tidur Sakura. Sasuke memejamkan mata perlahan, tangan Sakura yang di genggamnya di tempelkan di pipi. Merasakan betapa hangat dan lembutnya tangan gadi itu
Gaara yang penasaran juga menyusul setelah berbincang dengan dokter Kabuto. Ia terpaksa harus menghentikan langkah saat melihat Sasuke, sedang duduk menggenggam tangan Sakura yang di tempelkan di pipi sambil memejamkan mata.
Perlahan Gaara mundur. Sebuah tarikan senyuman menghiasi bibir Gaara,.
'Ku titip adikku padamu, Sasuke' batin Gaara meninggalkan tempatnya. Memberi tahu yang lain agar menunda jika ada yang ingin melihat Sakura.
"Ng… Sa… suke…" suara desisan Sakura. Sasuke membuka mata, ia senang Sakura ternyata sudag sadara. Sasuke melihat mata Sakura masih terpejam dengan suara berbisik menyebukan nama Sasuke.
"Jangan pergi…" bisik dan igauan Sakura dengan mata yang masih terpejam terbangun
Tergetarlah hati Sasuke. Apakah kebersamaan dan juga kemesraan mereka selama beberapa hari terakhir ini belum bisa menghibur atau meyakinkan Sakura.
Apakah selama ini Sakura sering mengigau tentangnya? Sekelumit pertanyaan dalam batis Sasuke yang malah membuatnya semakin miris.
Sasuke mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. Selain itu, Sasuke juga meletakkan telapak tangan satunya di atas pundak Sakura.
"Sakura, aku disini…" suaranya sedikit berbisik untuk meyakinkan Sakura kalau Sasuke ada di sampingnya.
Perlahan mata Sakura membuka, ada rasa senang di wajah Sakura saat rang yang pertama kali di lihatnya adalah Sasuke. Selain itu, tangan hangat Sasuke menggenggam erat tangannya pula.
Sakura mencoba tersenyum dan menggerakkan tubuhnya.
"Jangan bergerak dulu. Kau baru saja menjalani operasi" Sasuke mengingatkan dan sedikit menekan bahu Sakura.
"Aku ingin duduk" suara Sakura perlahan.
"Aa… aku akan meminta pada dokter apakah kau boleh duduk. Tapi sebaiknya tidak perlu, kau baru saja menjalani operasi di tulang punggung. Mungkin akan terganggu, mengingat tuang punggung akan menopang bobotmu. Istirahatlah…" imbuh Sasuke perlahan.
Sakura menenerima permintaan Sasuke. Terbukti ia mengurungkan niatnya untuk duduk atau bergerak.
"Sedikit lagi Sakura, setelah menjalani operasi lalu menjalani therapy untuk mempercepat proses penyembuhanmu. Mudah-mudahan kau bisa berjalan" hibur Sasuke lagi.
Sakura hanya menggerakkan kepalanya sambil naik turun, tanpa sengaja ia melihat tangannya yang di genggam Sasuke. Yang membuat alis Sakura berkerut adalah cincin emas yang tertanam butir berlian. Dan yang membuat ia makin bertanya-tanya, Sasuke juga memakai model yang sama. Hanya tidak terdapat berlian di sana.
"Ini…"
"Bukti bahwa sekarang aku mengikatmu, dan tak ingin di pisahkan lagi. Maaf, aku melamarmu dalam keadaan tidak sadar" ujar sasuke sambil melempar senyum.
"Eeh"
"Melamar?" nada sakura perlahan, ia mengamati cincin cantik yang kini melingkari jari manisnya.
Hampir saja Sakura bersorak jika saja Sasuke tidak mengingatkan dengan menggenggam bahunya. Air mata haru Sakura kembali mengenang. Ia tersenyum dengan senyum yang penuh rasa kebahagiaan.
"Aku mengulangi. Aku ingin ikatan ini makin kuat dengan mendengarkan persetujuanmu" Sasuke mengambil jedah. Sakura menunggu kelanjutan, meski Sakura sudah tahu, apa yang akan Sasuke katakan. Tapi Sakura benar-benar ingin mendengarkan langsung dari mulut Sasuke.
"Sakura… maukah kau… ah tidak, menikahlah denganku"
Sakura nyaris saja tertawa tapi ada rasa kesal juga. Ia berharap Sasuke melamarnya dengan kata romantis, tapi nyatanya, Sasuke malah seperti memaksa. Yah itulah Sasuke, tidak tahu kata romantis.
Senyum Sakura semakin lebar, menambah kecantikannya. Ia mengangguk dan menjulurkan kedua tangan. Sasuke mengerti maksudnya, maka Sasuke membungkukkan badan, bahkan dadanya di rapatkan pada tubuh Sakura.
"Aku mau Sasuke…" suara Sakura serak, menandakan ia begitu bahagia. Tangannya segera melingkari leher Sasuke.
Di sisi lain, tangan Sasuke pun membelai pucuk kepala merah muda itu dengan lembut
Sambil memeluk Sasuke, Sakura mengamat-amati cincin yang di anggap sebagai cincin pertunangannya itu. Menatap intens pada cincinnya, cara pembuatannya kelihatan cukup rumit, tapi bagaimana mungkin bisa selesai secepat itu. Bukankah ia hubungan mereka kembali pulih baru beberapa hari. Sementara menurutnya, Sasuke pasti memesan ini setelah hubungan mereka pulih. Tapi masalahnya pembuatan cincin ini butuh waktu lebih lama lagi.
"Sasuke, buatannya ini sepertinya rumit, bagaimana bisa pembuatnya membuat ini dalam waktu singkat?" akhirnya pertanyaannya yang melintas di kepalanya, ia lontarkan juga.
Sasuke membebaskan diri dari tangan Sakura yang melingkari lehernya. Kembali Sasuke menggenggam kedua tangan Sakura dengan erat.
"Sebenarnya, aku sudah membuat ini tiga tahun yang lalu. Aku ingin melamarmu pas di hari ulang tahunmu. Tapi karena peristiwa itu… ah sudahlah" Sasuke menggeleng kepala, "Ini memang untukmu. Dan baru kuberikan sekarang"
Mata Sasuke sedikit sayu, "Aku tidak tahu, kenapa aku menyimpan ini selama tiga tahun. Mengingat kejadian yang kita lalui, mungkin sulit lagi untuk kuberikan"
"Mungkin inilah takdir kita" balas Sakura perlahan.
…
..
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author note : MRI atau magnetic Resonance Imaging atau proses pencitraan magnetik adalah proses pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan gelombang radio untuk menggambarkan struktur organ dalam tubuh.
Kurang ngefeel ya… sorry yak. Soalnya banyak kesibukan, ngurus anak, ngurus isteri, ngurus gono gini.. apa sih. Enggaklah bercanda kok. Pokoknya sibuklah, sehingga sulit menemukan feel yang tepat. *readers : alaah bilang aja gak tahu nulis*.
