No Happines without Tears
…
…
…
Sudah enam bulan Sakura menjalani therapy. Sakura tinggal menunggu saat untuk keluar. Tapi selama sakura menjalani therapy, sakura tidak di izinkan untuk melakukan pergerakan yang banyak. Selama enam bulan pula ia harus mengisi kebosanan dengan menatap cincin emas putih bertanamkan berlian yang kini melingkar di jari manis tangan kirinya.
Syukurnya, Sasuke pun sering menemani Sakura melebihi keluarga Sakura sendiri, seringnya Sasuke meninggalkan rapat penting demi menemani Sakura di rumah Sakit. Sakura benar-benar di atas segalanya, bahkan Sasuke sendiri tidak peduli jika perusahaan Uchiha yang berkat taktik Fugaku sehingga bebas dari kendali Uzumaki, kembali bangkrut. Sasuke tidak mau ambil pusing. Untungnya, Sasori yang tetap ia tugaskan sebagai orang kepercayaannya, selalu menjalankan tugasnya dengan baik.
Sambil menatap cincin yang melingkari jari manisnya, Sakura masih tak percaya jika kini hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi satu-satunya perempuan dalam hidup Sasuke, kekasih yang tak pernah membuat Sakura berhenti mencintai.
Rasa sakit di masa lalu, sepertinya begitu gampang untuk di lupakan. Memang benarlah adanya, biarlah yang lalu berlalu. Waktunya untuk menata masa depan. Sakura merasa tak perlu dendam pada Sasuke dengan melakukan hal yang sama.
Bagi Sakura, dendam hanyalah akan meracuni jiwa. Karena itu pulalah, ia begitu gampang memaafkan Sasuke di satu sisi. Di satu sisi lain, karena ia memang masih mencintai Sasuke
Selangkah lagi, di saat ia keluar dan di nyatakan sembuh total oleh pihak rumah sakit, Sasuke akan menikahinya, itulah janji Sasuke padanya. Menikah dengan Sasuke adalah impian yang pernah tertunda.
Sakura kembali tersenyum menatap pintu masuk tempatnya di rawat. Siapa lagi yang muncul di sana kalau bukan Sasuke.
Benarlah, Sasuke muncul dengan senyum khasnya yang tipis, di tangannya pun terdapat beberapa jenis buah-buahan kesukaan Sakura.
"Meninggalkan rapat lagi?" tanya Sakura Saat Sasuke sudah berada di dekatnya membuka pembungkus buah-buahan yang baru di bawanya.
Sasuke hanya mengangkat bahu. Sakura hanya mengeleng kepala melihat calon suaminya ini. Sakura pun sangat senang, karena Sasuke lebih mengutamakan dirinya.
"Kau mau yang ini?" tawar Sasuke sambil memperlihatkan sebuah apel merah segar.
Sakura mengangguk perlahan.
"Oh ya, tadi dokter Kabuto bilang kalau besok kau boleh keluar" ujar Sasuke.
Ia tidak sempat memperhatikan Sakura karena ia mulai mengobrol sambil mengupas kulit apel.
"Benarkan?" sumringah Sakura. akhirnya, ia benar-benar bebas dari kebosanan, seharian berbaring di atas ranjang rumah sakit dan itu telah ia lakukan selama enambulan. Sasuke mengangguk meyakinkan.
"Oh ya, setelah keluar, kau ingin kemana. Aku temani" tanya Sasuke lagi.
Tangannya sudah memotong-motong apel yang tadi di kupasnya. Berikut, potongannya di sodorkan kemulut Sakura.
Sakura belum menjawab, mungkin karena ia masih mengunyah apel yang baru saja di suapkan oleh Sasuke kemulutnya. Sakura menatap sambil mengerak-gerakkan ujung kakinya. Ia memang sudah bisa merasakan kalau ia telah memiliki kaki. Selama kurang lebih dua bulan terakhir, ia di bantu Sasuke, beberapa kali mencoba untuk berdiri dan berjalan di atas kedua kakinya. Awalnya memang agak sulit untuk menjaga keseimbangan. Tapi akhirnya ia bisa melakukan langkah pertamanya bersama orang yang di cintainya.
"Sasuke aku ingin ke wahana" kata Sakura sambil menatap Sasuke antusias.
"Wahana?" Sasuke kembali menyodorkan potongan apel yang baru ke mulut Sakura. "Kayak anak kecil" imbuhnya.
"Grmmm" Sakura mengunyah sambil menggeram manja. Membuat Sasuke tertawa.
"Aku sudah lama ingin menaiki wahana. Di taman bermain" ketus Sakura.
"Hahaha.. iya…" balas Sasuke menyetujui, ia gemas juga dengan sifat manja kekasihnya ini.
"Hm!" Sakura pura-pura ngambek sambil menoleh kearah lain.
"Kemana lagi?" tanya Sasuke tidak peduli dengan sikap Sakura sekarang yang sedang ngambek, malahan Sasuke semakin gemas.
"Ketaman?"
"Aa… kemanapun"
"Benarkah?" Sakura makin sumringah
"Hn, itu pasti"
Sakura mengangguk. Berikut tangannya sendiri meraih sisa potongan apel yang di pegang Sasuke.
"Giliranmu" giliran Sakura yang menyodorkan potongan apel yang di jumputnya ke mulut Sasuke. Dengan maksud menyuapi Sasuke.
Tangan Sasuke membelai lembut kepala Sakura. sakura sedikit memejamkan mata merasai hangatnya belaian kekasihnya itu.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Sakura, mengecup kening Sakura.
o0O0o
Sasuke memandangi bayi perempuan mungil yang dibalut kain. Sarada Uchiha, nama bayi itu. Sasuke masih tidak percaya bahwa hubungannya dengan Sakura—istri, cinta mati, dan belahan jiwanya— mau menerimanya dan bisa melahirkan seorang manusia miniatur yang sangat menggemaskan ke dunia ini. Dia lebih tidak percaya lagi bahwa dia sudah menjadi ayah dari Sarada dan suami seorang Sakura yang pernah di sakitinya. Perjalanan takdir yang tak pernah ia duga dan ia rencanakan.
Tapi sekarang, dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Sakura dan Sarada. Jari telunjuk menari di atas pipi Sarada yang refleks langsung menoleh menyambut sentuhan tersebut sebelum tertidur kembali.
Rasa bangga karena anaknya, darah dagingnya, yang baru berumur lima minggu bisa mengenali sentuhannya dan merasa aman dalam gendongannya menghangatkan hati dan perasaan Sasuke. Perlahan-lahan dia menunduk untuk mencium kening Sarada. Menciumi segala aroma khas bayi yang ia miliki. Berikut Sasuke merapatkan Sarada ke dadanya untuk merasakan kehangatan tubuh bayi itu, sebelum Sakura datang dan menyusui.
[Sakura's POV]
"Ukh… " aku sedikit meregangkan tubuhku, akhirnya, pekerjaan ku selesai juga.
Aku menatap ke arah jam, dinding. Oh tidak, sudah hampir jam sebelas. Bayiku, ya Tuhan, kesibukan ini membuatku lupa kalau bayiku – buah hati ku dengan suamiku, Sarada ku – mungkin sudah bangun. Aku segera bergegas meninggalkan pekerjaan ku yang memang sudah beres. Ini salahku juga, sebenarnya tadi ibu mertuaku melarangku agar tidak perlu bekerja. Hanya saja, sebagai seorang wanita, aku tidak hanya menjadi ibu, tapi sebagai isteri. Dan menurutku, tugas isteri seharusnya melakukan pekerjaan rumah. Meski ku tahu, Sasuke pasti akan mengomeliku jika ia tahu aku bekerja sekeras ini, sampai hampir setengah hari.
Ini adalah tahun ke empat pernikahan ku dengan Sasuke. Empat tahun yang lalu, begitu aku keluar dari rumah sakit, tidak menunggu lama, Sasuke langsung menikahiku. Hanya saja, proses kehamilanku di tunda sampai tahun ketiga. Alasannya, Sasuke kwatir jika aku hamil, tulang punggungku malah akan cedera. Maka nya di tunggu sampai kurang lebih tiga tahun, setelah di yakini bahwa tulang punggungku sudah cukup kuat untuk menopang tubuhku saat hamil.
Aku segera berlari kekamarku, mencari sosok puteriku yang baru berusia lima minggu. Langkahku terhenti tatkala aku tidak melihat sosok miniatur di box nya. Aku tersenyum, siapa yang telah mengambil alih malaikat kecilku itu.
"Sakura, aku tidak melihat Sarada tadi" ibu mertuaku datang menyapa. Malaikatku tidak ada padanya, skarang aku semakin mengerti, siapa yang telah 'menculik' putriku. Aku tersenyum, siapa lagi kalau bukan papanya.
Kalau sudah begini aku tahu dengan siapa Sarada sekarang, dan di mana ia berada. Di mana mereka sekarang, aku pun tahu, dimana lagi kalau bukan di taman belakang rumah. Di sanalah suamiku sering menghabiskan waktu denganku atau dengan Sarada
Suamiku itu, mengingatkanku di masa lalu. Aku memang pernah tersakiti, tapi entah kenapa, perlakuannya padaku membuatku seakan lupa, bahwa ia pernah menyakiti. Ia begitu perhatian sehingga membuatku merasa sangat berharga. Ia begitu protektif sehingga membuatku merasa aman. Ia begitu menyayangiku, bahkan hanya untuk meninggikan suaranya padaku pun tidak pernah ia lakukan, sehingga membuatku selalu hangat.
Semua perasaan itu lah yang membuatku lupa pada lukaku di masa lalu. Bahkan jika di ingat-ingat, pengalaman kelam itu, malah terasa lucu.
Senyumku tidak pernah hilang, bagaimana suamiku itu seperti tidak mau di pisahkan dari buah hati kami.
Jangan lupa, ibu mertuaku juga seperti sangat protective dengan putri kami. Bahkan kami di larang untuk memiliki rumah sendiri, ia selalu berkata, kami butuh bantuan untuk mengurusi putri kami, karena kami belum berpengalaman. Seberapa hebatnya kami, terutama Sasuke, suamiku dalam berdebat, di paksa untuk tunduk. Dan pada akhirnya, kami lah yang harus mengalah. Sebenarnya hanyalah alasan karena ia tak ingin berada jauh dari cucunya
Pernah juga, suatu ketika aku ingin ikut Sasuke ke kantornya. Alasanku karena, Sasuke juga hampir sama dengan ibu mertuaku, ia lebih sering meninggalkan pekerjaannya, hanya untuk menemani aku dan putri kami. Al hasil ibu mertuaku itu mengurung diri dalam kamar bersama putri kami. Lucu kan?
Aku sering tertawa sendiri jika aku menyaksikan ibu mertuaku itu agak mengomel jika ia tak di beri jatah untuk menggendong Sarada. Maklumlah, cucu pertama, seringnya kami orang tuanya harus mengalah, biar bagaimana pun dialah 'penguasa'. Hehehe…
Soal ibu kandungku sendiri, aku rasa bukan masalah, mengingat di sana ada kak Gaara yang menemaninya dan juga sudah di anugerahi seorang anak laki-laki.
"Emmm… baiklah, aku akan mengambil Sarada,lagi pula mungkin ia sudah bangun. Aku akan menyusuinya. Mungkin sekarang papanya sedang kerepotan karena Sarada yang rewel" balasku. Aku melemparkan senyum pada ibu Mikoto.
"Ah iya, cepatlah" perintahnya. Ibu mertuaku ini semakin tidak sabar untuk menggendong Sarada rupanya. Aku pun segera meninggalkan ibu mertuaku.
Aku pun berjalan melangkah menuju taman tempat yang kuyakini disana sasuke dan bayiku berada.
Benarkan? Di sana Sasuke sedang menggendong puteriku dengan sifat protectivenya.
[Sasuke's POV]
Sudah lima minggu terakhir aku sering menghabiskan waktu bersama Sarada, menimang-nimang, mengajak bercanda, bahkan terkadang juga sangat sulit terasa untuk berpisah meski hanya sekedar menaruh Sarada dalam boksnya. Itu jika ibuku tidak merebutnya dariku. Ibu seperti tak bosan dan masih ingin menggendong. Terkadang serasa aku dan ibu sering berebutan untuk menggendong Sarada dan di saksikan oleh Sakura yang sedang tersenyum. Aku tidak tahu apakah belahan hatiku itu meledek kami yang tampak seperti dua orang anak kecil yang memperebukan sebuah boneka.
Seperti biasa, di halaman rumahku ini, sejak kelahiran sang malaikat kecil kami, aku selalu menghabiskan waktu bersama puteri kami. Tapi jika Sarada di rebut ibu, maka Sakuralah yang menemaniku, menikmati masa berduaan. Dan rasanya masih serasa seperti pacaran saja.
Malaiaktku yang bernama Sarada. Aku tidak tahu kenapa Sakura memilih nama itu. Tapi menurutnya, kata 'Sara' berasal dari nama Dewi Sarasvati, sang Dewi Kebijaksanaan pembawa kedamaian, dan mungkin memang cocok untuknya. Kehadirannya memang membawa kedamaian untukku dan juga Sakuraku. Dia adalah simbol masa lalu kami yang penuh luka, namun disembuhkan oleh Sakura yang dengan bijaknya mau menerimaku kembali. Dan 'Sang Dewi' inilah yang menghapus semuanya. Dan kata 'Da'… ah sudahlah, aku tidak mau tahu asal usul nama puteriku ini. Yang aku tahu dia adalah buah cintaku dengan Sakura. Buah yang berasal dari pohon yang pernah bertumbuh di atas persemaian derita.
Terkadang aku merasa begitu susah untuk menjauh dari mereka berdua, eh bukan terkadang, tapi memang selalu.
Aku memang lebih sering menghabiskan waktuku dengan mereka berdua. Soal urusan kantor, lebih sering ku serahkan pada Sasori yang tetap ku jadikan kepercayaanku. Sebagai bentuk terima kasihku padanya, karena dialah yang secara tidak sengaja menjadi 'katalis' atau mungkin cupid atas hubunganku dengan Sakura. Dan hebatnya lagi, dia memang pria yang memegang teguh kepercayaan. Dan syukurnya lagi, dia kini menikah dengan sekretarisku, Hana.
Kembali pandanganku ku alihkan pada malaikat kecilku yang cantik yang ada dalam gendonganku ini. Melihat Sarada, Sekilas dalam bayangan ku, Sakura main kejar-kejaran dengan Sarada yang sudah lebih besar. Bukan hanya Sarada, tapi dengan adik-adiknya. Rasanya semakin tidak sabar menunggu moment itu
Ngomong-ngomong soal Sakura, sudah lima minggu ini aku tidak menyentuhnya. Entah karena feromonnya atau pengaruh pasca melahirkan, tapi lima minggu ini, aku melihat, Sakura semakin emmm… seksi. Membuatku ingin langsung menyergapnya ketika melihatnya.
Aku selalu berpikir, jika Sarada di ambil alih oleh ibuku, maka itulah saatnya untuk menyergap istriku yang semakin seksi. Sayangnya, aku kwatir jika Sakura belum siap dan malah menyakitinya. Ingatlah. Bahwa aku telah bersumpah untuk tidak menyakiti lagi Sakura ku itu. Walau hanya sedikit.
Aku melirik karena terdengar suara langkah di atas rerumputan mendekat. Benarlah adanya, Sakuraku yang datang mendekat.
"Anata, Sarada masih tidur?" tanya Sakura yang sudah duduk di sampingku.
Ah. Suaranya sangat lembut keluar dari mulutnya melewati bibirnya yang seksi. Meski suara itu sering kudengar tiap hari, tapi entah kenapa, nadanya itu tidak pernah membuatku bosan untuk mendengarnya. Rasanya seperti alunan syahdu dari musik favorit ku. Nada lembut melewati bibir seksinya, membuatku ingin mewujudkan niat untuk melakukan hal senonoh pada Sakura. Senonoh? Bukankah dia istriku?
Sakura menundukkan kepala, memberiku kecupan di bibir, seperti yang biasa ku lakukan padanya jika aku mendatanginya. Dan kali ini, dia yang melakukan padaku. Tangannya bergerak membelai pipi halus khas bayi di malaikat kecil kami ini. Tampaklah Sarada menggeliat dalam gendonganku.
"Kau mau?" tawarku padanya untuk bergantian menggendong Sarada.
Sakura menatapku. Aku tersenyum, selalunya saja seperti ini. Seakan apa yang ia lakukan, harus atas izinku. Isteri yang jarang di temukan, bukan? Aku benar-benar bersyukur, aku jatuh cinta dan memilihnya. Aku bersyukur, karena ia memilih dan memutuskan untuk memberiku kesempatan.
Aku menganggukkan kepala kebawah, maka saat itulah ia mulai mengulurkan tangannnya dan mengambil alih Sarada dalam gendongannya.
Lagi-lagi puteriku itu menggeliat sesaat.
"Ssst…" Sakura mengayun-ayunkan Sarada agar tenang. Hm, untunglah, Sakura yang melakukannya, kalau saja aku yang melakukannya, mungkin malaikat kami itu malah terbangun dan mungkin akan menangis keras. Aku tidak tahu suara keras dia menurun dari siapa ya, suara Sakura begitu lembut dan menenangkan. Dan aku, semua orang mengatakan padaku kalau suaraku begitu datar dan serasa tak berperasaan. Lalu suaranya itu, menurun dari siapa? Tidak tahulah.
Perasaanku tiba-tiba menghangat melihat Sakura yang tersenyum lembut menatap puteri kami yang terlihat lebih nyaman tidur dalam dekapan mamanya.
Melihatnya, di saat seperti ini, selalunya saja aku di bayangi masa lalu, apa yang telah kulakukan padanya. Mungkin aku tidak di katakan lagi menyesalinya. Tapi yang pasti, mengingat perbuatanku, menyebabkan rasa sayangku justru makin meningkat dan sepertinya tak berhenti untuk tumbuh. Tanganku bergerak merangkul bahu Sakura. Menarik kepalanya dan mencium pucuknya. Momen-momen seperti inilah, yang membuatku menemukan kedamaian yang tertinggi.
"Eumm. Sepertinya ibu meminta giliran untuk menggendong Sarada" ujar Sakura perlahan kepadaku. Ibu lagi. Inilah salah satu alasan, kenapa aku ingin segera menyergap Sakura, membuat adik untuk Sarada secepatnya, agar kami bisa berbagi anak-anak untuk di gendong.
Aku sedikit tersentak membuang jauh-jauh pikiran kotorku. Sakura pasti belum siap, jangan menyakitinya. Kata ini terulang beberapa kali dalam pikiranku.
"Sarada sepertinya sudah bangun. Aku akan menyusuinya. Dan setelahnya, memberikan giliran pada ibu untuk menggendong Sarada" ujarnya hendak bangkit dari tempatnya.
"Sakura" aku memegang bahunya.
"Hn" ia menoleh dengan sorot mata seperti biasanya, sangat teduh.
Aku menarik nafas, aku bingung. Bagaimana menyampaikan pikiran kotorku barusan.
"Sakura, apakah kau sudah siap" Sakura mengernyitkan kening sesaat. Berikut ia kembali tersenyum,. Mungkin ia mengerti maksudku.
"Kenapa kamu baru minta sekarang?" godanya padaku.
Oh sial… aku makin tak tahan. ia rupanya sudah tahu isi kepalaku sekarang.
"Tunggu ya, anata. Aku akan menyusui Sakura"
"Itu, tidak apa-apa jika kau ingin menyusui Sarada di sini" oh God, pikiranku semakin kotor saja. Aku ingin melihat 'bagaian atasnya' sekarang.
"Kau yakin kau bisa menahan melihatku" senyumnya malah terkikik dan semakin menggodaku. Kalau saja tidak ada Sarada dalam gendongannya, mungkin aku akan menyergapnya sekarang.
"Hm, lima minggu ini aku menahan. Masa menunggu beberapa menit lagi, tidak bisa" sahutku menjawab tantangannya.
Kembali ia tersenyum hangat.
"Sudahlah" Sakura bangkit dari tempatnya, "ini sudah semakin panas. Aku akan menyusui Sarada dalam rumah. Sekalian menyiapkan diri. Karena sebentar lagi kita akan sibuk bukan?" godaan apa lagi kali ini yang akan ia lontarkan. Berhenti menggodaku Sakura, batinku.
Sakura membungkukkan badan dan mendekatkan mulutnya sedikit kekupingku.
"Sebenarnya aku juga sudah tidak tahan. Tapi kau tak pernah memintaku. Kau tahu, kau membuatku sakit karena ku pikir kau sudah jadi gay" sial, mataku membulat tak di pedulikan lagi Sakura. ia meninggalkanku dengan senyuman yang menggoda.
Aku menatap pinggulnya yang masih kelihatan membulat. Aku tersenyum. Tunggulah Sakura, kali ini, ibu akan puas bermain bersama Sarada, dan kita, akan saling memuaskan. Awas kau, Sakura.
…
Setiap kisah memiliki ceritanya tersendiri. Begitupun juga dengan kisah cinta mereka. Mungkin kisah itu sederhana di mata orang lain, tapi sangat istimewa di mata tokohnya. Kisah cinta mereka memberikan bekas yang mendalam. Meski kisah mereka juga terdapat goresan luka, namun itulah istimewanya. Karena sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, tak akan ada bahagia tanpa air mata.
…
..
.
THE END
.
\^0^/ Akhirnya selesai juga, membuat fict yang bergenre… ehemm…. Yah sekedar coba-coba.^_^
Jujur, saya emang gak pandai menulis genre hurt, angst apa lagi tragedy, karena aku memang tidak menyukai genre kayak gini, termasuk romance mellow.. jadi hasilnya ya cuma segini , gak ada feels nya :D
Simetris kan, 3 chap dengan derai air mata, 3 chap dengan senyuman dan satu chap peralihan. ^_^ oh ya, untuk chap ini, apakah aman untuk rate T? kayaknya sih iya
Special thx untuk semua yang sudah meninggalkan jejak, mohon maaf yak gak sempat balas, pengen bangat ngebalas reviewnya. Tapi… ah sudahlah… nggak dapat alasan untuk ngeles hu hu hu…. (-,-)'
Cuma ini yang bisa saya katakan, terimakasih sebesar-besarnya, atas apresiasinya melalui review kalian.
Gomen ne, mbakyu Yanti Sakura Cherry (readers di kunjungi yak). Mungkin gk sesuai Expectation Value-nya mbakyu ^_^'… gomen *bungkuk2* Cuma segini yang adek bisa. (-_-" ))
Dan terakhir, terima kasih bagi yang sempat membaca atau pun hanya sekedar menengok, itu sudah cukup menyenangkan. Harapannya sih, terhibur :D.
Eh ada yang lupa, sohib mungkin sudah tahu saya author seperti apa? Yup… it's time to back to track, menulis fict action plus lemon. Hwehehee… *tawa jahat plus mesum*
P.s buat risnusaki : Say, nmr WA kamu udah di hapus?
Sankyu semua…
See ya…
