Author's note: Menggunakan Yagami Raito sebagai fokus cerita berarti satu: sakit kepala. Dalam kepala saya Raito selalu menjadi tokoh yang egosentrik, hilang dalam ambisinya sendiri, keras, tidak mau kalah…Tapi itu belum sepenuhnya menggambarkan Raito. Di sini saya mencoba menarik keluar sisi Raito yang lain: determinasi, tanggung jawab, dan mungkin lainnya. Jadi saya sangat mengharapkan tanggapan dan kritik Pembaca, onegai ne?
EDIT: tema untuk chapter 1 adalah Pride. Karena di sana menjelaskan L dan Raito sama-sama berpikir berada di atas yang lain. L merasa tidak akan kalah dari Raito, demikian juga sebaliknya. Aksi nyatanya nampak dari L yang senang kalau soal-soal yang diberikannya ada yang tidak bisa dikerjakan RaitoXD. Dari sisi Raito, dia merasa akan lebih baik dari ayahnya. Have anyone find it?
Conditions applied : Saya membuat AU untuk kisah ini, berarti ada pengkondisian yang saya rubah demi kepentingan cerita, tapi ada juga yang saya pertahankan. Misalnya umur, gender, dan karakteristik. Namun di sini tidak ada kisah-kisah fenomenal luar-logika seperti keberadaan Death Note sendiri. Semuanya murni manusia. Demikian juga dengan status-status karakter, ada perubahan di sana. Mudah-mudahan pembaca bisa memaklumi dan mengampuni kebiadaban saya mengubah-ngubah setting paten. Peace, turunkan kembali semua senjata Anda: )
Fandom : Death Note ©Tsugumi Ooba dan Takeshi Obata.
Rating : Errr…T+ ?
Warning :
Subtle or OBVIOUSly yaoi. Perhatikan yang satu ini baik-baik. Bagi yang tidak suka yaoi, harap meninggalkan saya tetap 'terhormat'.XD
Mungkin akan ada switching time line atau POV. Keep alert, Minna!XD
Pairing : RaitoxL, LXRaito
Ambisi dan gairah
Cukup untuk membunuh
Seven is Enough
----Page 2----
Delegasi Otoritas
Mungkin orang masih terbuai, atau takjub, atau cemburu padanya sampai saat ini. Tapi aku tidak lagi mengagumi cara kerja otakku sendiri. Sudah cukup lama. Berkiblat padaku di puncak segalanya, yang kutinggalkan dengan cepat. Karena permainan apa yang masih patut dimainkan bila sudah dimenangkan?
Jenuh, bosan.
Pikiran yang tidak empatik. Tapi tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Duduk di tempat tertinggi, menunggu, mengawasi siapapun yang mungkin memberikan sedikit angin perubahan menggemingkan stagnansiku.
Tapi 'siapapun' tidak pernah datang.
Aku ingin mencoba menguak rahasia yang masih menyembunyikan alternatif. Berpikir ke kedalaman yang paling esensial. Menabrakan diri ke dinding-dinding yang selama ini kupikir akhir dari perjalanan yang bahkan tidak kutempuh oleh separuh hidup yang kumiliki.
Aku tidak berpikir murtad. Aku tahu ada sesuatu untukku.
Bergulat di dalam tubir kebosanan yang menghantui ini.
Yang kumiliki adalah potensi, dan potensi itu tidak sekedar mewujudkan nilai paling spektakuler dalam sejarah pendidikan nasional. Bila hanya itu, aku akan muak dengannya. Tapi tidak, karena aku mulai merangkaki kebenaran.
Utopis itu ada dalam sebuah otoritas.
Dan aku adalah medianya. Seorang delegasi.
---HF-Smile---
Pikiran-pikiran terus bermunculan di dalam kepalaku.
Seolah ide di seluruh dunia berjejal masuk, mendesak pertanyaan probabilitasnya menjadi kenyataan.
Hal ini terjadi semenjak aku menyadari bahwa aku adalah media yang tepat untuk menampungnya, dan berkapasitas untuk melakukannya.
Kegembiraan ini membuncah di dalam dadaku, membuatku tidak bisa tidur. Orang tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang bisa ada di dalam kepala anak berusia tujuh tahun.
Aku punya kekuatan untuk mencapai ideal.
Aku bangkit dari ranjangku, mengendap keluar dari kamar. Aku perlu eksperimen untuk meyakinkan hipotesaku sendiri.
Dengan sangat selamat, aku sampai di ruang kerja ayah. Komputer tepat di meja kerjanya. Suara dengung agak kasar sedikit mengejutkan ketika aku menyalakannya. Darah yang berdesir terlalu cepat tidak lain hanya karena sekresi hormon yang berlebih, efek sugesti ada kemungkinan sangat kecil seseorang menangkap basah apa yang kulakukan.
Ketakutan yang tidak beralasan dibandingkan euforiaku.
Meskipun demikian, jari-jari ini sedikit gemetar sebelum meletakannya di papan keyboard.
Mudah menyusup masuk, bila aku harus berkomentar. Rangkaian kata kunci seolah dihembuskan ke telinga. Sekejap saja aku berhasil menyisipi sistem pertahanan minimal yang sanggup ditawarkan teknologi. Kepala manusia jauh lebih dinamis, bila digunakan dengan benar.
Namun ketika kenyataan menghantam, keyakinanku limbung.
Ayah menyembunyikan sesuatu yang besar, yang tidak pernah boleh dipertanyakan istrinya sendiri, apalagi anak-anaknya. Yang juga tidak pernah sekalipun terpleset keluar dari lidahnya.
Sesaat aku merasa mati. Tanpa satu artikulasi, tanpa satu ketukan jantung.
Diakselerasi dua kali lipat, otakku sebanyak mungkin menyerap informasi yang ada seiring bar di sisi kanan dalam monitor terus bergerak turun. Gairah keingintahuan yang kurasakan menggelepar di dasar hatiku, menciut dan semakin menciut, membuatku nyeri dan pening.
Suara langkah samar memutus atensi berintensitas tinggiku.
Berusaha keras berpikir untuk tidak meninggalkan jejak apapun, aku menutup semua file yang sempat kucuri lihat, dan mematikan komputer. Bunyi klik pada saat lampu CPU padam membuatku sedikit paranoid sementara aku menempel di balik pintu, mengira-ngira siapa pemilik langkah itu dari berat langkahnya.
Di tengah-tengah, langkah itu menghilang sejenak, sejurus kemudian ketukannya menjauh. Aku kembali ke kamarku sewaspada mungkin setelah memastikan telah mendengar debaman halus pintu. Ketegangan yang mencengkram perlahan melonggar.
Kelegaan segera berputar balik secepat semua isi perut naik kembali ke kerongkonganku, secepat pikiranku menuntut investigasi kembali informasi-informasi baru.
Terutama kenyataan bahwa ayah adalah seseorang yang bergerak di dunia gelap; mafia.
---HF-Smile---
Keluarga, perempuan, minuman keras, ganja, kecuali obat terlarang.
Aku ingin tertawa.
Betapa berdedikasinya ayahku ini.
Aku menutup leptop, baru saja mengamati perkembangan baru 'rahasia' ayahku. Ternyata pertemuan-pertemuan dadakan atau lembur pada hari-hari tertentu adalah hari di mana dia berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain, yang berbeda dengan rekan-rekan di tempat kerja formalnya.
Aku kurang memperhatikan indikasi itu di usia-usia muda. Tapi sekarang aku menyelami sejauh pemikirannya. Apalagi setelah menyadap komputernya.
"Raito-kun, waktunya belajar," Lawliet mengetuk pintu.
Aku bergerak ke pintu, membuka kunci, dan membiarkannya masuk setelah melebarkan daun pintu.
Ia menghela nafas setelah melompat ke kursi dan menaikkan kedua kakinya, "Kenakalan ini harus kau hentikan, Raito-kun."
"Apa maksudmu, Lawliet-niisan?" aku menutup pintu dan berjalan ke arahnya. Pembicaraan dengannya selalu sedikit berbahaya. Rahasia ini tidak seharusnya sampai ke telinga ibu atau Sayu. Tidak juga kepada Lawliet. Tapi ia terlalu kritis, di lain pihak introvert. Aku sangat yakin ia hanya akan menyimpannya untuk diri sendiri, tidak ada yang kutakutkan saat berbicara dengannya.
"Merompak data ayahmu," ucap Lawliet lurus.
"Bulan ini menjadikan peringatanmu genap dua tahun," jawabku ringan.
Ia menggigiti kukunya, ciri yang selalu dilakukannya saat berpikir. Aku memperhatikannya dengan tertarik, menerka-nerka apa yang ada di kepalanya. Aku menemukan hal yang unik, yang mengusir kebosanan. Aku sering menemui pikiran kami bersinkronisasi. Ada mekanisme tertentu mirip gelombang elektromagnet atau radio.
"Kau hanya mengalihkan perhatian. Kau seharusnya mendengarkan aku," aku sudah menduga ia akan berkata begitu. Seperti tidak mengerti saja aku keras kepala. Sama sepertinya.
"Aku hanya mencari tahu. Toh aku tidak mengintervensi urusan ayahku. Bisa dianggap aku tidak tahu apa-apa," kelitku.
"Tapi kau tahu," Lawliet menuding pelan, walaupun tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya.
Aku menghela nafas, "Baiklah, sejujurnya aku punya pikiran-pikiran tertentu. Kupikir ada nilainya kalau kusampaikan pada Ayah."
"Tidak!" ia menyergah, "Ayahmu tidak pernah mengatakannya pada kalian karena Beliau tidak ingin ada yang mengikuti jejaknya. Katakan kau mengerti itu."
Tentu saja aku tahu. Ayah mungkin, hampir pasti, tidak pernah memberitahu rahasianya karena tidak mau membahayakan keluarganya. Sayu terlalu polos, dan ia perempuan. Tidak mungkin hidup dengan kekerasan seperti dalam dunia hitam. Selain itu ayah sangat yakin aku punya jalan lain selain menjadi penerusnya. Dengan segala talenta yang kumiliki.
Aku juga yakin dengan apa yang kumiliki, jalan ke dunia yang sama sekali terpisah dari dunia ayah terbentang lebar.
Tapi lagi-lagi aku tahu bahwa ini adalah kesempatan yang harus kuraih. Bayangkan akses yang kudapat dari apa yang telah dicapai ayah. Politik, ekonomi, status sosial…Singkatnya pengaruh. Kekuatan luar biasa ini akan sangat membantu mewujudkan kewajiban yang telah diotoritaskan padaku. Aku bisa membentuk dunia, menjadikannya ideal. Bukankah itu pencapaian yang diinginkan semua orang? Dan kini mereka telah memiliki medianya; diriku.
"Aku mengerti," aku menghela nafas, memasang wajah kecewa. Aku harus berpura-pura mundur supaya ia tidak terus mencercaku, "Mari tidak bicarakan ini lagi. Kita belajar saja, sebentar lagi ujian masuk sekolah menengah pertama."
Ia pun setuju pengalihan topik ini, terbukti saat ia mulai membuka-buka buku soal.
Kuharap ia berpikir aku sudah menyerah, meskipun logikaku sangat menentangnya. Lawliet akan terus mengawasiku, mengiritasiku dengan pandangan curiga serba tahunya. Mungkin aku tidak bisa lagi menceritakan pikiranku padanya semenjak ia tidak menangkap isyarat takdir sepertiku. Mulai hari ini aku akan sangat berhati-hati.
Meskipun aku sedikit kesepian.
---HF-Smile---
Saya hampir tidak menyadari waktu-waktu yang berlalu kalau saja hari berganti hari berjalan senormal tarikan setiap nafas.
Tentu saja saya menyadarinya karena Raito terus bertumbuh. Tingginya hampir sebahu saya saat ia memasuki tahun keduanya di sekolah menengah pertama. Dan sudah sekepala di bawah saya di sekolah menengah lanjutan.
Saya juga bertambah tinggi, sedikit mungkin. Saya cuma menyadari punggung saya semakin bungkuk. Lagipula saya sudah melampaui usia pertumbuhan.
Kehidupan damai pun berevolusi perlahan. Saya menggunakan 'evolusi' untuk sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi ke asal. Itu memang benar.
Gangguan-gangguan mulai datang dari telepon yang tidak bisa berhenti berdering, mengganggu waktu membaca saya dan belajar Raito. Saya menyesali Raito tidak perlu lagi belajar dalam bimbingan saya. Saya sangat ingat hari di mana ia meminta saya untuk tidak membantunya lagi, karena katanya ia sudah dewasa, ia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Saya menerimanya, tapi saya belum dapat menghentikan kebiasaan berada di kamarnya pada jam-jam tertentu. Jadi saya menghabiskan waktu di sana dengan membaca.
Telepon-telepon yang masuk tidak ada artinya dibandingkan ketika mendadak muncul sosok sangat halus disebut 'perempuan', tersenyum malu-malu pada saya di ambang pintu. Lalu kemudian Raito memaksa saya keluar dari kamarnya. Membutuhkan 'privasi' dengan teman, katanya.
Saya berjalan lunglai ke kamar sendiri. Di selasar, Sayu terkikik dengan mata berbinar. "Siapa itu, Lawliet-niichan? Pacar kah?"
Saya tidak tahu jawabannya dan tidak mau tahu. Maka saya mengangkat bahu.
"Kita bisa cari tahu!" Sayu terkikik lagi, "Sayu bisa mengantarkan minuman ke dalam dan mengamati dari dekat."
Saya bergumam, "Ide bagus, Sayu."
"Ayo!" Sayu tiba-tiba menarik saya ke dapur.
"Saya rasa…Saya tidak bisa ikut."
"Lawliet-niichan," Sayu menyebut nama saya dengan pasrah seraya menyiapkan dua cangkir dan mulai membuat ramuan dengan lincah, "Tentu saja kau harus ikut! Kau harus mengamati bagaimana mendekati perempuan!"
Apa saya belum menyebut Raito berfitur terlalu magnetis untuk ditolak?
Sayu menyodorkan cangkir dengan alur kelabu tipis di atasnya, dua yang lain ada di nampan, "Minum ini dulu, dan semangat!" ia mengepalkan tinjunya dan tersenyum lebar.
Manisnya Sayu. Saya tahu magnet ala Raito ada juga dalam dirinya. Medannya masih sempit, tapi tidak diragukan akan semakin melebarkan zonanya. Bukan berarti saya mau berpartisipasi meloncat ke dalam teritorinya. Saya menghargainya sebagai adik.
Saya meneguk cepat teh yang disajikannya, lalu membalas senyumnya dengan senyum canggung, "Terima kasih."
"Waktunya berangkat ke medan perang," Sayu membawa nampan dengan kedua tangannya tanpa mengurangi radiasi senyumnya.
---HF-Smile---
"Tentu saja main-main."
"Kau tidak berkata begitu pada Sayu, tapi saya tahu alasannya."
Senyum meremehkan, yang secara ironis menakjubkan, merekah di wajahnya.
"Jadi kenapa kau mengatakannya pada saya?" saya memperhatikan tumpukan buku-buku di dekat lemari bukunya. Saya tidak bisa tidak menjengit.
"Karena cepat atau lambat kau akan tahu. Lagipula bukan masalah penting," jawab Raito seadanya. Koneksi di antara kami tumbuh terlalu tajam. Semua insting saya sangat peka pada eksistensinya, demikian sebaliknya, kurang lebih. Saya tidak bisa memprediksi sebesar apa saya membocorkan diri sendiri padanya. Hubungan yang menakutkan, tapi tidak bisa dielakan.
"Bukan masalah juga menunjukkan buku-buku itu pada saya."
Raito memandang saya, lalu mengalihkan perhatiannya pada tumpukan buku di sampingnya. Ia tertawa renyah seraya menarik majalah yang terjepit di antara buku ensiklopedia dan manual. "Maksudmu ini?" Tanpa segan ia menunjukkan majalah dengan gambar wanita nyaris tidak berbusana pada halaman depannya. Kening saya berkerut lagi.
"Hanya bersikap normal, Lawliet-niisan," Raito memasukkan kembali buku itu karena menyadari majalah itu menimbulkan gangguan tertentu pada syaraf-syaraf di wajah saya, "Jangan mengajar moral apapun, karena aku pun tidak seantusias itu melihat perempuan-perempuan telanjang."
Raito menyimpan majalah terlarangnya dengan rapi sehingga dari luar hanya terlihat seperti jajaran kamus dan ensiklopedia, "Kau tentunya menyadari dalam dunia pergaulan ada yang disebut adaptasi. Anak laki-laki seusiaku, mempunyai beberapa majalah, atau mungkin video adalah wajar. Untuk bertahan dalam populasi ini, tentu saja aku harus beradaptasi dengan cara mereka. Aku tidak sekontroversial dirimu."
Bagus, sekarang ia sudah bisa mulai menguliahi saya. Menyadarkan saya berapa banyak waktu yang berlalu tanpa saya sadari, "Saya tidak kontroversial, tapi jujur."
"Jujur belum tentu menyelamatkanmu," entah apa maksudnya, tapi ia mengatakannya dengan pandangan yang dalam.
"Tentu saja, kalau kau maksud adalah selamat dari perempuan-perempuan yang kau ajak bermain," saya terkejut dengan kesinisan saya sendiri, tapi itu cukup untuk perenungan sendiri.
"Atau karena Lawliet-niisan tidak bisa bermain dengan satu orang perempuan pun," Raito membalas tidak mau kalah.
Pembicaraan omong kosong ini bisa berlangsung selamanya. Saya tidak punya itikad lain selain menghentikannya, "Seperti yang kau bilang, ini bukan masalah penting. Saya tidak akan menghentikanmu. Satu yang perlu kau pegang, tanggung jawab." Biarpun saya berkata begitu, sebenarnya saya lega Raito hanya bermain-main dengan sekian banyak perempuan yang datang silih berganti. Karena saya sudah cukup lama bersama-sama keluarga ini, saya menduga saya mulai posesif. Saya tidak rela menyerahkan salah satu dari mereka…Belum.
'Tidak' mengindikasikan selamanya, saya masih cukup waras.
"Aku tahu itu," Raito menjawab pelan, memandang saya dalam-dalam, ingin membaca saya seolah mencium gelagat lain dari sosok yang telah dikontrol sempurna oleh logika semata, "Terima kasih atas nasihatnya."
---HF-Smile---
Kedatangannya sudah saya nantikan.
Siluet tubuh tinggi rampingnya membayangi saya. Semakin ia masuk ke dalam, saya bisa mengenali setelan jas hitam yang dikenakannya, termasuk bunga putih tersemat di dadanya.
Senyap saat kami bertukar pandang. Pandangannya semakin mengeras karena saya menudingnya.
"Lawliet-niisan, tidakkah seharusnya kau bergabung dengan sanak keluarga di luar? Kita sedang masa berkabung," namun demikian ia masih begitu pandai menyembunyikan isi hatinya.
"Apakah kau berkabung, Raito-kun?"
"Seingatku yang terbaring di peti siap dikuburkan itu adalah ayahku. Apakah kau yakin mau menanyakan hal ini padaku?"
"Kau berkabung hanya karena kau menyesal ayahmu pergi sebelum kau menanamkan pengaruhmu pada rekan-rekan dan kenalannya," dalam hati saya dipenuhi desakan kemarahan. Ada kalanya saya ingin mecabik kulit di wajahnya, karena apa yang diperlihatkannya selama ini adalah dusta.
Pandangannya terpaku pada saya selama beberapa detik, berkilat dalam kegelapan, buas. Tapi ia selalu berhasil mengontrol emosinya, "Kita sudah kehilangan Ayah, apa kau mau membuatku kehilangan saudara-saudaraku juga?"
"Raito-kun," saya mendesah gemas. Saya sangat tahu ia sama sekali tidak serius dengan ucapannya.
Ia merunduk. Dengan ringan kedua lengannya melingkari bahu saya, sisi wajahnya menempel pada sisi wajah saya saat ia merangkul saya. Suara seperti petikan dawai Surgawi mengalun dan bergelung tepat di pendengaran, "Lawliet-niisan, kita semua bersedih dan mengapresiasikannya dalam berbagai bentuk. Kalau dengan menyalahkanku kau bisa menjadi lebih lega, salahkan aku. Salahkan aku."
"Aku akan keluar menemani Sayu dan Ibu. Kurasa kau pun perlu waktu sendiri untuk berpikir," setelah berkata demikian, ia mengecup pelan dahi saya, seolah menghibur, menganggap saya sinting. Tapi sampai ia hilang, meninggalkan saya dalam ruangan yang terkunci rapat kegelapan, tidak ada satu katapun yang mampu keluar sementara saya terhempas oleh mantra hipnotisnya.
---HF-Smile---
