Author's note: This scene really dedicated to Raito and L, to have urged along their live must be painful and tiring. So please relax for a while, take a deep breath, and get enough sleep*hug Raito and L*. Maaf ya kalau adegannya sedikit nakal, saya ga tahan membuat adegan gencatan senjata di antara mereka…Dan ide ini timbul dari artwork rabid saya*smirk*. Maka untuk chapter ini, akan ada fanart nya, yey!. Maaf juga kalau terasa OOC, karena di sini saya membayangkan Raito sebagai manusia normal, tanpa pengaruh Death Note. Saya mengasumsikannya sebagai orang yang mencintai keluarganya*versi Canon nya pun dia mati-matian menyelamatkan Sayu yang diculik kan? Dan biarpun sampai saat akhir dia mau menggunakan ayahnya untuk menuliskan nama Mello*bener ga y? lupa2inget* di Death Note, buktinya dia menangis meraung-raung*. Meskipun cintanya pada L belum tentu sesederhana cinta pada keluarga*giggle*. Intinya izinkan saya menuliskan Raito sebagai orang yang sebenarnya berhati lembut*jeritan dari lubuk hati terdalam*.

(You can check the fanart at Infantrum in Show off, art gallery, Ma Works Lha...(members only) or at devianART-Check in my profile to get the address^^) Be sure to check it and comment will be very welcome.

Something you should know(No??!): Tema untuk chapter sebelumnya adalah Greed. Ini muncul dari pihak Raito. Dia ingin menguasai apa yang telah dicapai ayahnya, yaitu status sosial untuk menggenapkan ambisinya sebagai 'delegasi otoritas' (Maksudnya adalah seseorang yang diberikan kekuasan atau kemampuan untuk menjalankan sesuatu yang besar dan mempengaruhi banyak orang).

Conditions applied : Saya membuat AU untuk kisah ini, berarti ada pengkondisian yang saya rubah demi kepentingan cerita, tapi ada juga yang saya pertahankan. Misalnya umur, gender, dan karakteristik. Namun di sini tidak ada kisah-kisah fenomenal luar-logika seperti keberadaan Death Note sendiri. Semuanya murni manusia. Demikian juga dengan status-status karakter, ada perubahan di sana. Mudah-mudahan pembaca bisa memaklumi dan mengampuni kebiadaban saya mengubah-ngubah setting paten. Peace, turunkan kembali semua senjata Anda: )

Fandom : Death Note ©Tsugumi Ooba dan Takeshi Obata.

Rating : Errr…T+ ?

Warning :

1. Subtle or OBVIOUSly yaoi. Perhatikan yang satu ini baik-baik. Bagi yang tidak suka yaoi, harap meninggalkan saya tetap 'terhormat'.XD

2. Mungkin akan ada switching time line atau POV. Keep alert, Minna!XD

Pairing : RaitoxL, LXRaito


When you look at me,

Tell me what do you see?

Are these the eyes of someone you could love?



Seven is Enough



----Page 3----

Suatu Hari

'Dia terlalu banyak tahu.' Tanpa bukti pun aku telah merasakannya. Instingnya terlalu peka untuk seseorang yang tidak mau terlalu terlibat dalam masalah orang lain.

Lain dari kebiasaannya yang selalu memperingatiku, ia membiarkan segalanya terjadi. Membuatku berpikir dua kali mengenai keterlibatannya. 'Apa dia hanya meracau hanya karena perasaannya?' Aku menggeleng. Tidak. Lawliet bukanlah orang yang digerakan emosi. Ia menggunakan logika yang merefleks layaknya insting.

'Lalu apa yang ia tahu? Sejauh mana?'

Sebelum mengeksekusi, aku telah mengujicobakannya berkali-kali. Melakukan simulasi diam-diam. Aku selalu berhati-hati. Bila ia memang mengetahui sesuatu, apa lubang yang kutinggalkan? Di mana?

'Tenang, Raito. Panik hanya dilakukan orang berpikiran pendek.' Aku menghirup nafas dalam-dalam, meredakan kecamuk jiwa. Setelah berhasil menekannya hingga berada kembali di dalam penjara kendali diri, aku merunut kembali langkah-langkah yang telah kuambil….

---HF-Smile---

Berlindung dalam nuasa keremangan yang diciptakan bayang-bayang pohon, aku melanjutkan bacaan semalam. Bukan buku berbobot, tapi seumur hidup Sayu tidak akan menyentuhnya.

Sudah lama cuaca tidak secerah ini; matahari tinggi di langit, sebaliknya awan menggantung rendah. Ilalang-ilalang di kebun meraih kesempatan untuk tumbuh setinggi-tingginya sebelum mengering karena terpanggang panas terik. Aku menikmati kesunyian ini walaupun tidak benar-benar sendiri. Lawliet ada di dekatku; melipat kakinya sangat rapat ke dadanya-seperti biasa-, membaca buku yang kupikir sangat tidak nyaman dipegang melihat prilaku eksentriknya. Sementara Sayu ada dalam perjalanan memancing bersama ayah dalam sebuah perahu. Aku masih bisa melihat mereka bila aku sedikit mengangkat wajahku, danau tepat di belakang rumah kami, yang pada sore hari secerah ini akan menampilkan atraksi matahari terbenam paling brilian.

Dari luar, tetangga-tetangga akan melihat kami sebagai keluarga kaya yang menghabiskan akhir pekan yang damai di halaman belakang rumah dengan harmonis. Walaupun kenyataannya tidak begitu,

Akhir-akhir ini aku sudah berhasil memenangkan kepercayaan Ayah. Ia dengan rela mendatangi kamarku atau memanggilku ke ruangannya hanya untuk membahas masalah-masalah yang timbul di pekerjaannya. Pekerjaan tidak legalnya. Aku hanya berperan sebagai penasihat, tapi selama ia menjalankan apa yang kusarankan, problema terpecahkan, semua kredit masuk dalam buku jasaku.

Tentu saja aku sangat berhati-hati pada Lawliet. Ia adalah orang terakhir di dunia ini yang akan tahu. Ia selalu sengit menentangku. Aku cukup pintar untuk menyisihkannya keluar, walaupun sebenarnya kecerdasannya akan memberi sumbangsih besar…Kalau ia bersedia berkomitmen.

Suara berat teredam mengusik.

Lawliet masih berada dalam gestur anehnya, tapi bukunya mendarat di antara kedua kakinya. Matanya terpejam rapat.

"Lawliet-niisan," panggilku pelan, kemudian mengencangkannya sedikit, "Lawliet-niisan!"

Matanya tersentak terbuka, membelalak beberapa saat. Masih ling-lung, ia berpaling ke arahku, "Sepertinya saya jatuh tertidur."

Aku melihat kantung matanya yang semakin menonjol dan menghitam hari demi hari. Agak heran dengan apa yang dilakukannya setiap malam. Apa ia belajar? Apa ia membutuhkan waktu semalam suntuk untuk belajar? Aku tidak yakin, "Sepertinya kau lelah sekali."

"Oh tidak juga," ia menguap, kelopak matanya setengah jatuh menutupi mata besarnya. Lucu juga melihatnya tidak sewaspada biasanya, "Udaranya sangat nyaman. Temperatur dan kelembaban, sangat membuai."

Aku mendongak, daun-daun hijau gelap berkisikan. "Karena ini pertengahan Juni. Tak terasa sebentar lagi musim panas."

Ia hanya menggumam mengiyakan.

"Hanya ingin tahu, Lawliet-niisan," ucapku melanjutkan percakapan, "Apa kau kurang tidur akhir-akhir ini? Matamu sangat berkantung dan hitam."

Ia menguap lagi, menggaruk kepalanya dengan ceroboh, "Membantu dosen. Katanya saya lulus terlalu cepat, menjaga agar kelulusan saya bersamaan dengan yang lain, maka dalam satu setengah tahun ini saya diminta menjadi asistennya."

"Apakah menjadi asisten harus mengurangi waktu tidurmu?"

"Riset, penelitian, menyiapkan modul," jemari kurusnya mengangat satu demi satu seiring ia menyebut daftar kesibukannya, kemudian ia mengayunkan pergelangan tangannya, mengusir jauh-jauh pikiran yang menyibukkannya, "Beliau menyuruh saya apa saja, asal tidak berurusan dengan orang-orang."

"Tidak salah Otou-san membawamu masuk kemari," cetusku. Tentu saja ia juga menjadi penetralisir tingkat kejenuhanku yang sudah mencapai titik kritis. Sekarang aku punya teman rival tenis yang handal dan lawan bermain catur yang seimbang, selain pertempuran gerilya kami mengenai situasi atau isu tertentu karena kesenjangan opini.

Secara umum, cara berpikir kami sama. Hanya saja bisa menimbulkan kesimpulan yang kontradiktif. Sangat naluriah bagi kami untuk selalu berperang sampai ditemukan pemenangnya, karena kami sama-sama tidak mau kalah. Tapi kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya tidak ada yang menang atau kalah, karena selalu ada alternatif yang berbeda, menginspirasi orang yang berbeda pula untuk tujuan yang sama. Seperti mengerjakan soal matematika.

Ia melipat kedua tangannya di atas lutut, menundukkan kepalanya, tidur dengan cara paling aneh.

"Lawliet-niisan, kau tidak akan bisa tidur pulas dengan cara itu."

"Saya tidak butuh istirahat total, Raito-kun. Saya hanya perlu bersandar."

"Kau bisa bersandar ke sini," aku menepuk tunggul pohon besar yang kusandari, lalu berdehem. Agak aneh pikiran ini melintas, tapi karena cuaca sedang indah dengan anehnya, kurasa akan ada toleransi untuk tawaran yang sangat absurb dariku, "atau padaku."

Ia menatap kosong sejenak padaku, berpikir sama persis dengan apa yang kupikirkan. Bahwa otak kadang bisa bekerja terbalik.

"Saya…," ia nampak berpikir, "akan lebih baik tidur sebagaimana adanya."

Keningku, tanpa sempat kucegah, mengerut. Penolakannya seperti menggulungku dalam angin ribut. Jauh lebih mengesalkan dari 'aku-tidak-peduli' dan 'aku-basa-basi'. "Sikap waspadamu itu bisa sangat mengesalkan, Lawliet-niisan. Apalagi setelah tinggal bersama kami hampir lima tahun, kau masih sangat sungkan. Kami keluargamu kan?"

Aku menekankannya supaya ia tahu bahwa aku serius. Aku berpikir terlibat terlalu emosional, tapi aku bisa menggunakan emosi ini untuk menariknya nanti, memupuk 'persaudaraan' untuk keperluan di masa mendatang.

Ia menelengkan kepalanya, lagi-lagi masih berpikir keras. Masalah relasi seperti badai di kepalanya, padahal ia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu dua setengah tahun.

Aku kembali membuka bukuku karena responnya terlalu bodoh untuk kuamati. Aku tidak ingin menertawakannya, tapi sungguh, aku ingin mencemoohnya sekarang.

Aku menyembunyikan senyum kemenanganku ketika ia balik bertanya dengan polos, "Jadi, di mana saya harus bersandar?"

"Menurutmu?" aku balik bertanya, memutar bola mata. Meledek kecanggungannya.

Ia diam, memperhatikanku. Bola mata hitamnya bergulir dari atas ke bawah, mengamati, menimbang, kebingungan membuat keputusan. Dengan caranya sendiri, ada sesuatu yang panas mencair di sekujur tubuhku, seperti dilumuri lelehan lava…Ah, terlalu dramatis. Seperti disiram air panas. Mungkinkah karena cara padangnya yang seolah bisa menembus batas fisik, menuju ke pusat batin?

Ia terus memperhatikan kakiku yang setengah terjulur, "Kalau boleh…."

Well, pilihan lumayan. "Silakan, kapan saja kau siap," aku mengedikkan daguku ke arah tatapannya berhenti, ingin sedikit menggodanya.

Ia membeku di tempatnya, diserang mimpi buruk.

---HF-Smile---

Setelah mengerahkan berbagai usaha dan menampilkan kecanggungan yang nyaris membobol pertahanan saraf seriusku, nyatanya ia tidur pulas. Sepulas bayi.

Kepalanya cukup berat, pikirku. Kakiku mulai keram, tapi aku tidak punya atensi membangunkannya dalam waktu dekat.

Dengkur pelan, gerakan dadanya yang bergerak naik-turun secara teratur, juga rambut-rambut hitam legam yang kadang menari lemah berpasangkan semilir angin yang terserak di pangkal tungkaiku; membuatku damai dengan cara mistis.

Mistis karena aku tidak bisa menjelaskannya.

Aku yang anak sulung, tiba-tiba mendapat kakak angkat. Awalnya aku meremehkannya. Aku yakin aku akan mengolok-olok kakakku sendiri dalam hatiku. Tapi nyatanya terjadi kebalikannya. Sangat paradoks, namun aku diam-diam cukup puas.

Fiturnya sangat berbeda dariku, secara fasad, Lawliet bukanlah manusia yang menarik perhatian. Ya, menarik perhatian dilihat dari sudut keambiguannya. Ia canggung berbicara, tertutup, tapi tajam. Hampir tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Seiring aku bertambah umur, dan pikiranku bisa menerawang lebih jauh lagi, barulah aku bisa mengantisipasinya.

Aku pun tidak menganggapnya saudara yang diikat jalinan darah seperti aku dengan Sayu. Ada hal lain yang mengikat kami karena pikiran kami sering kali terhubung. Apa karena kami berada di level yang sama, maka koneksi batin itu bisa terjadi? Apa semudah itu? Tapi itu penjelasan yang paling logis, Ia mengerti bagaimana cara berpikirku, demikian sebaliknya. Secara teknis, itulah yang membuat kami saling memahami jauh di balik kata-kata.

Aku memandangnya lagi dalam-dalam, tanpa ditutup-tutupi. Toh ia pun tidak akan menyadarinya. Aku tersenyum ringan membayangkan gempa bumi pun tidak cukup untuk membangunkannya sekarang.

Biarlah kedamaian ini bersamanya dan bersamaku sedikit lebih lama.

---HF-Smile---

Saya menatap matahari terbenam tanpa berpindah posisi, menunggu kekakuan akibat tidur terlalu nyenyak meringan. Kemudian mendongak, mendapati Raito pun tertidur di tengah bacaannya. Kepalanya miring ke bahunya. Iluminasi keemasan melukis bayangan pada wajahnya dengan luar biasa. Saya tidak pernah melihat sesuatu yang jauh lebih indah daripada ini.

Saya mengagumi keindahan, tapi dari jauh. Namun ada desakan lain yang menggerakan otot-otot di tangan saya untuk meraih keindahan yang ada di depan mata saya.

Angin musim semi bisa membuat saya kehilangan kewarasan. Raito-kun adalah adik saya, keluarga. Saya mengingatkan diri sendiri sebelum bertindak gegabah. Afeksi yang saya rasakan terhadapnya hanyalah posesifisme terhadap keluarga.

Namun saya tidak bisa menyangkal, kedekatan ini memberi perasaan yang berbeda. Perasaan yang hangat. Saya sangat waspada, menanti kehangatan itu mengepul hilang. Tapi itu tidak terjadi. Membuat saya tidak ingin berpindah, ingin berada di sini selamanya. Keinginan itu setara dengan posesifisme saya pada makanan manis.

Komitmen apa yang sebenarnya saya nantikan?

Tidak akan terjadi seperti bayangan melantur ini. Seandainya saya pernah berada di dalam sebuah keluarga, dan saya cukup dekat dengan anggotanya, mungkin saya tidak akan sebingung sekarang, putus asa akan jawaban.

Siapa yang bisa memberi jawabannya?

Kepalanya bergerak ke posisi tegak. Keningnya berkerut, menolak menarik kelopak matanya ke atas. Rupanya ia pun masih punya sisi kekanak-kanakan yang manis. Saya tidak melepaskan sedetik pun untuk menyaksikannya.

Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk, kerutan di keningnya belum menghilang, tapi ia pun tidak menyadari kepala saya masih berbaring di pangkuannya.

Setelah beberapa saat menerawang jauh, barulah ia mengalihkan perhatiannya pada saya.

Itu dia. Sepasang mata madu yang makin berpijar dipoles redupnya matahari. Sepasang mata yang semakin luar biasa karena menyiratkan kedalaman tak terperi, kekuatan, dan angan. Saya melihat bayangan mata saya di sana. Saya penasaran apa ia melihat saya seperti saya melihat diri saya yang terpantul dari matanya?

Wajahnya serius saat mengatakan dengan suara serak, "Aku tidak bisa merasakan kakiku."

Saya melonjak bangkit, duduk di sampingnya. Kesenangan egois saya melupakan adanya darah yang harus dialirkan ke seluruh bagian tubuh untuk membuatnya fungsional. "Maaf, Raito-kun," saya bergumam.

"Tidak masalah," ucapnya santai, dengan sangat murah hati tidak mengurut-urut kakinya yang mati rasa. "Aku pun tertidur pada akhirnya." Ia meregangkan kedua tangannya ke atas, tertawa risih, seolah 'tertidur' adalah kriminalitas.

"Seharusnya kalau Otou-san dan Sayu sudah kembali, mereka akan membangunkan kita," lanjutnya.

"Kalau begitu mereka belum kembali," saya menyimpulkan.

Raito memeriksa jam tangannya, "Pukul enam. Kukira sebentar lagi."

Tepat pada saat itu, kami diinterupsi dentuman kayu beradu, antara papan kayu perahu dengan tiang kayu dek. Shuuichiro mengikatkan tambang ke pasak, membuat simpul-simpul dengan terlatih. Sayu melompat ke atas dek, wajahnya sumringah, bisa dijelaskan dari seember ikan di tangannya.

Meskipun siang hari bukan waktu yang tepat untuk memancing…Kebaikan datang berbelas kasih pada banyak orang hari ini.

"Lawliet-niichan, Raito-niisan! Lihat, lihat! Kami menangkap banyak ikan! Nanti kita bisa minta Oka-san membakarnya di halaman! Kita piknik!" pekiknya girang. Shuuichiro sudah di sisinya pada saat itu, senyum simpul mengembang di wajahnya seraya melepaskan topi memancingnya.

Raito berjalan ke arah Shuuichiro, membawakan peralatan memancingnya, "Terima kasih sudah bekerja keras."

Shuuichiro menepuk bahunya dan merangkulnya sambil berjalan, "Cuma rekreasi. Sudah lama aku tidak mengajak Sayu pergi."

Sayu menyodorkan ember penuh ikan pada saya, "Lawliet-niichan, bantu aku bawa ini, boleh?"

"Ya," saya menerimanya dan membawanya masuk ke dalam, mengikuti Sayu yang berjingkrak girang menyerbu ibunya.

Saya menyaksikan mereka berangkulan penuh tawa, sesuatu yang hangat kembali membasuh diri saya. Ternyata saya terlalu paranoid, ketakutan saya tidak beralasan. Inilah rasanya punya keluarga. Kedamaian membanjir memenuhi relung-relung hati, meradiasi saya untuk tersenyum lemah.

Seandainya setiap hari berlalu dengan kedamaian seperti hari ini. Saya bisa mati tanpa penyesalan.

---HF-Smile---