Author's note: Sekedar memperingatkan kembali, sangat mungkin super OOC, keabsurban alias ketidakjelasan. Silakan bertanya pada saya kalau ada yang tidak dimengerti, saya sangat senang hati menjelaskan isi otak saya yang berantakan^^.
Something you should know(No??!): Tema untuk chapter sebelumnya adalah Sloth alias laziness. Hehehe, pasti ga bakal ada yang menyangka demikian, malah mungkin berpikir chapter sebelumnya ga ada tema. But there IS a theme! Bagi seorang Raito dan L bermalas-malasan di bawah pohon rindang sampai ketiduran adalah kemalasan^^, kriminalitas.
Conditions applied : Saya membuat AU untuk kisah ini, berarti ada pengkondisian yang saya rubah demi kepentingan cerita, tapi ada juga yang saya pertahankan. Misalnya umur, gender, dan karakteristik. Namun di sini tidak ada kisah-kisah fenomenal luar-logika seperti keberadaan Death Note sendiri. Semuanya murni manusia. Demikian juga dengan status-status karakter, ada perubahan di sana. Mudah-mudahan pembaca bisa memaklumi dan mengampuni kebiadaban saya mengubah-ngubah setting paten. Peace, turunkan kembali semua senjata Anda: )
Fandom : Death Note ©Tsugumi Ooba dan Takeshi Obata.
Rating : Errr…T+ ?
Warning :
1. Subtle or OBVIOUSly yaoi. Perhatikan yang satu ini baik-baik. Bagi yang tidak suka yaoi, harap meninggalkan saya tetap 'terhormat'.XD
2. Mungkin akan ada switching time line atau POV. Keep alert, Minna!XD
Pairing : RaitoxL, LXRaito
Kita mengingkari logika, mengingkari janji, mengingkari takdir yang telah ditetapkan oleh semesta.
Akhir dari kita adalah kepedihan.
Meskipun demikian, kita masih berharap kemungkinan terkecil itu ada untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa-dosa yang tak mungkin terampuni.
Bila tidak, kita masih bisa mengganti ikrar kita pada keabadian.
Bersediakah kau menerimaku dalam duka, tanpa suka?
Seven is Enough
----Page 4----
Muslihat
Amerika, waktu setempat.
Sesekali berada di luar kurungan folder-folder dan liputan udara palsu, saya menyipitkan mata. Memandang jauh pada cahaya mega oranye keemasan disapukan oleh kuas misterius alam. Matahari sedang terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit. Kuasa sinarnya akan redup seperti lilin yang tersergap lelehannya sendiri, digantikan temaram rembulan yang tak kuat menahan malam jatuh ke langit.
Matahari memiliki siklusnya sendiri. Demikian juga bulan. Saling mengejar dalam sebuah lingkaran. Tidak pernah bertemu, meskipun keduanya berada di semesta yang sama. Seolah mereka bermain jungkat-jungkit; di mana satu timbul, pihak seberangnya akan tenggelam.
Pernahkah matahari merindukan bulan hingga enggan bersinar, atau bulan berlari menembus fajar demi absolut identitas matahari yang selama ini memantulkan pijarnya hanya agar dirinya dapat menenangkan kekalutan gelap?
Mendesah jengkel, saya tidak pernah merasa roh Shakespear merasuki saya.
Kemudian dada ini serasa dipukuli seribu genta, saya memuntahkan sesuatu, langsung terhambur di trotoar yang kulalui.
Saya memandangi warna merah gelapnya dengan pasrah. Waktu saya tidak banyak dan saya harus segera bertindak.
---HF-Smile---
02.02
Detik bergerak lembut, tanpa suara. Tetapi sesuatu pasti sedang terjadi. Dan tidak akan selembut pergeseran detik ke menit berikutnya. Bahkan kasar, menjijikan.
Saraf-saraf pernapasanku mengejang seiring aliran dingin mendesak masuk bersamaan dengan tarikan oksigen, menusuk-nusuk, melubangi saluran pernapasan.
Nafasku semakin sesak dan terengah-engah ketika oksigen yang terlanjur masuk berdifusi keluar melalui lubang-lubang, meledakan rongga dadaku. Di lain pihak, kebekuan yang hidup menjalar sangat cepat hingga paru-paruku terkunci sempurna, membatu menjadi bongkahan es padat.
Aku berusaha menarik nafas, namun sia-sia. Urat-urat di sepanjang lenganku membiru secara tidak wajar, menonjol tepat di bawah kulit yang semakin memucat hingga kehilangan warna seluruhnya pada saat aku menggapai-gapai halusinasi asa. Aku merasakan paru-paruku pecah setelah deretan rusuk kiriku berkeretak patah meskipun telah sekeras granit. Terjadi tepat setelah aku jatuh dari atas kursiku.
Penderitaan ini seperti tidak ada habisnya. Tidak bisa menjerit pada saat hanya itu satu-satunya penghiburanku. Benang-benang nyawa yang dirajut pada jasadku meretas satu demi satu, namun retasan itu seperti mencabik setiap organku perlahan-lahan.
Dengan kesakitan yang tetap menghantui meskipun sekujur tubuhku sudah bebal dari rasa, timbul bintik-bintik hitam yang membutakan penglihatan. Hal terakhir yang kulihat adalah warna seputih salju dengan alur-alur biru sepekat tinta.
Itu tanganku. Kalau saja aku punya sepersekian detik kehidupan untuk menyadarinya.
Kelopak mataku menyentak terbuka.
Bukan tanganku, tapi tangan ayahku.
---HF-Smile---
Saya dibangunkan derum kendaraan. Ketika saya membuka mata, pagi sudah datang. Dengan mata setengah terpejam, saya mengintip dari balik kelambu. Di bawah sana, sirine merah panjang di atas mobil membuat saya memicing heran.
Apa yang dilakukan polisi di sini?
Tanpa mengganti pakaian, atau setidak-tidaknya menata wajah bangun tidur, saya melesat keluar. Lagipula saya tidak pernah peduli dengan penampilan saya. Dan ada sesuatu yang tidak menyenangkan mendesak saya untuk segera mencari tahu; firasat buruk.
Di depan ruang kerja Shuuichiro berkumpul orang berseragam, Sachiko yang memeluk kepala Sayu di dadanya erat-erat, dan Raito berhadapan dengan pria berjaket panjang.
Setelah saya lebih dekat, saya bisa mengenali mata merah Sachiko bekas menangis. Bola matanya masih bergetar mengindikasikan ketidakpercayaan. Raito lah yang paling tenang, meskipun wajahnya berduka.
Mereka menyadari kehadiran saya.
Raito memanggil saya, mengenalkan saya pada pria berjaket panjang, "Lawliet-niisan, ini adalah Inspektur Matsuda. Inspektur, ini kakak angkat saya."
Inspektur Matsuda menganggukan kepalanya kepada saya. Tanpa memikirkan apapun, terseret perasaan yang memburu, saya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ingin saya muntahkan, "Apa yang terjadi?"
Inspektur Matsuda dan Raito berpandangan, memutuskan siapa yang harus mengatakannya. Dari kesepakatan itu, Inspektur Matsuda lah yang berinisiatif, menilik bagaimana kerasnya wajah Raito saat ini.
"Sungguh kabar tidak menyenangkan, Lawliet-san. Yagami Shuuichiro ditemukan tidak bernyawa di ruang kerjanya," ungkap Inspektur Matsuda perlahan, membiarkan saya mencernanya perlahan pula.
Saya ingin muntah. Berita itu berputar terlalu cepat, menerobos gendang telinga saya, langsung menerjang pertahanan terdalam saya sebelum saya mempersiapkan apapun. Saya merunduk, menyuruh lutut saya yang bergetar untuk diam. Raito dan Inspektur Matsuda waspada memandang saya, seolah saya bisa jatuh kapan saja. Perpaduan isakan Sachiko dan Sayu menjadi lagu latar yang mengerikan sehingga saya ingin memutuskan telinga saya.
Setelah berhasil mengendalikan diri, saya mengembalikan pandangan ke arah mereka. Menuntut dan mungkin marah, "Apa yang menyebabkan kematiannya?"
"Yagami Shuuichiro adalah penderita asma, kematiannya disebabkan Beliau tidak sempat menghirup obatnya, mungkin karena disimpan di tempat yang tidak biasa sehingga Beliau tidak dapat menemukannya. Diprediksi waktu kematiannya pada malam hari dari tingkat kekakuan dan turunnya temperatur tubuh," jelas Inspektur Matsuda, "Kami menemukan obat hirupnya di tempat yang menurut pengakuan Raito-san bukanlah tempat biasa Beliau menyimpannya."
"Sungguh kecelakaan ironis," desah Raito, "Otou-san tidak biasa melakukan kecerobohan."
Saya menatap miris padanya, bahkan sepotong informasi ini pun sudah menginduksi saya bahwa ini bukanlah kematian biasa. Tidak mungkin Raito menyerah pada asumsi 'kecelakaan'.
Penuh amarah, saya mendesak masuk ke dalam ruangan. Saya bahkan mengabaikan Inspektur Matsuda yang melarang saya masuk ke TKP. Jasad Shuuichiro sudah diangkat. Tidak ada bekas darah yang mengindikasikan tindak kekerasan. Ruangan dalam keadaan tertutup rapat. Saya mengelilingi meja kerja Shuuichiro, menajamkan penglihatan, mencoba menangkap apapun yang tidak biasa.
Kursi terguling, saya bisa membayangkan Shuuichiro terjatuh dari kursinya karena kehabisan nafas atau memberontak. Sesuatu sangat samar, sangat saru dengan lantai keramik yang memang putih bersih, setengah padat, menggumpal seperti tetesan busa di dekat kursi.
Saya berjongkok, menyentuhnya dengan telunjuk. Benda itu langsung melepuh di tangan saya, tidak memberi rasa sakit, tapi mengirimkan rasa dingin yang cukup mengejutkan. Pemikiran saya diganggu oleh panggilan Inspektur Matsuda, "Lawliet-san. Tolong jangan mengubah apapun yang ada di TKP supaya tidak ada yang terlewat dalam membuat dokumentasi dan laporan."
Pria itu mencengkram bahu saya supaya saya menurut. Ia menuntun saya keluar sementara anak-anak buahnya masuk ke dalam, membuat catatan-catatan dan dokumentasi foto situasi. Saya berdiri kaku di ambang pintu, berhadapan dengan Raito.
Pandangan kami berbalasan. Mata madunya tidak secemerlang biasanya, keruh. Dunia saya menggelap dalam sekejap, seluruh cahaya ditekan kabut membekukan. Saya mengenali kekeruhan itu akibat luapan kabut dingin dari hati esnya.
---HF-Smile---
Katanya manusia adalah mahluk yang paling pandai beradaptasi. Temasuk juga emosinya. Ketika ada sesuatu yang menyakitinya, menyedihkannya, mendukakannya, dengan cepat mekanisme adaptasinya bekerja. Seiring waktu berlalu, efeknya mulai terasa. Ingatan-ingatan mengerikan itu dikunci di belakang kepalanya, tidak pernah akan terkuak lagi. Aktivitas kembali berjalan, meninggalkan masa lalu yang suram.
Tapi saya tidak seperti itu.
Saya terus dihantui beberapa tahun belakangan ini, dirong-rong mimpi buruk.
"Lawliet-niisan, kita semua bersedih dan mengapresiasikannya dalam berbagai bentuk. Kalau dengan menyalahkanku kau bisa menjadi lebih lega, salahkan aku. Salahkan aku."
Ia ingin saya menyalahkannya untuk efek terbalik, membuat saya merasa bersalah karena memfitnahnya. Cara psikologis yang sangat ampuh karena sekarang saya tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri.
Menyalahkan diri karena saya diam, karena saya lebih memilih tenggelam dalam kata-kata membujuknya, bahwa semua ini untuk kebaikan yang lebih besar, untuk melepaskan Sachiko, Sayu –dan tentu saja ia menyebut saya- dari kekejaman dunia gelap.
Kenapa saya harus mempercayakan nyawa saya padanya? Pada anak yang membiarkan ayahnya direnggut nyawanya sebelum waktunya?
Dengan ia yang sekarang, yang hatinya sudah sedingin es, kapan saja ia bisa menjual nyawa saya. Bukan berarti saya gentar.
Saya hanya ingin tahu. Ada satu alasan lain mengapa saya memutuskan menutup mulut, telinga, mata, dan pikiran. Dan itu bukan posesifisme terhadap keluarga, bukan karena saya melindungi adik saya dari jeratan hukum.
Lebih kotor dari itu. Lebih hina.
Saya akan segera tahu. Dan mungkin akan mati tidak terhormat karenanya.
---HF-Smile---
Tanda-tanda itu muncul ketika seorang perempuan mengisi hari-hari Raito. Berisik seperti burung berkicau sumbang.
Amane Misa. Artis muda yang sedang naik daun. Berkenalan dengan Raito lewat suatu pesta. Raito menanamkan pengaruhnya lewat investasi. Dengan menggunakan artis atau public figure, pengaruhnya jauh lebih meluas dari apa yang pernah dilakukan Shuuichiro. Sekarang semua kalangan mengenalnya; politikus, pengusaha, masyarakat biasa.
Saya tidak memperhatikan bagaimana kedekatan mereka berkembang. Saya memiliki keyakinan sendiri bahwa Raito hanya menggunakan Amane Misa untuk 'kepentingan lebih besar'nya. Saya tidak peduli karena saya sudah menutup mata, telinga, mulut, dan pikiran. Walaupun artinya saya menjalani hidup seperti mayat.
Tamparan keras mendarat di wajah saya akibat keacuhan itu. Sayu memanggil saya penuh semangat dari ruang keluarga. Suara-suara lain dari televisi mengusik ketenangan saya.
"Lihat, Lawliet-niichan, Raito-niisan ada di televisi bersama Misa-chan!" Sayu menunjuk-nunjuk.
Saya menyertainya nonton dengan malas. Seraya menuju sofa, saya mengambil semangkuk permen yang memang disimpan di meja untuk tamu. Kami sama-sama diam mendengarkan wawancara mereka.
"Benar, MisaMisa sangat senang bersama Raito-kun."
"Kalau begitu, apa rencana kalian ke depan?"
"Ehm…MisaMisa senang apa adanya. Semuanya berjalan sesuai waktunya. Benar, Raito-kun?"
"Ya." Raito berujar tenang, memberi jeda sejenak, kemudian mengumandangkan pernyataan yang membuat permen di mulut saya terasa pahit. "Aku baru saja berpikir untuk melamarmu."
Semua orang mungkin sedang menyaksikannya dengan rahang menganga. Tidak ada seorangpun yang mampu memecah keheningan.
"Be-Benarkah?" Misa tergagap, matanya yang besar membelalak lebar.
Raito tersenyum padanya, mengulurkan lengannya, "Bolehkah?" Tangan Misa berada dalam genggaman Raito, tangannya yang lain tenggelam dalam sakunya dan mengeluarkan sebentuk cincin berlapis emas putih, memasangkannya di jari manis Misa, ia menarik nafas, berkata mantap, "Misa, menikahlah denganku."
Wajah Misa tidak bisa didiktesikan antara gembira bukan kepalang atau terkejut setengah mati. Tapi selanjutnya ia melonjak riang, penuh semangat memeluk Raito. Komentar wartawan tidak lagi penting. Sayu pun menjerit histeris, dalam artian yang lebih positif dari yang saya bayangkan. Sachiko yang hanya mendengarkan bait-bait akhirpun, wajahnya bersinar-sinar dan mulai meracaukan persiapan apa saja yang harus dilakukannya. Bergumam bahwa akhirnya ada juga berita bahagia untuk keluarga Yagami.
Apa hanya saya yang menangkapnya sebagai pernyataan yang mengerikan? Apakah saya memerlukan tanda yang lebih jelas? Saya berpikir sinis tanpa berhenti mengulum permen.
---HF-Smile---
Setelah lamaran bombastis, Amane Misa tinggal bersama kami, memberi saya banyak kesempatan untuk menyelidikinya.
Dan hasil penyelidikan saya sampai sekarang hanyalah kekecewaan.
Amane Misa manis, periang, menyenangkan, mungil seperti boneka…Tapi semua itu hanyalah sebuah fasad. Ia ceroboh, tidak terlalu cerdas…Apa yang ditemukan Raito dalam dirinya yang tidak saya temukan?
Berdedikasi, atau mengatakannya dengan cara yang kasar tapi lebih tepat; mudah dikendalikan?
Ia telah menjadi perpanjangan tangan Raito untuk menjamah bagian-bagian yang selama ini belum dapat dijangkau Shuuichiro. Ia penurut, mengikuti Raito seperti anjing kecil.
Di satu pihak saya prihatin karena ia tereksploitasi meskipun ia sangat rela melakukannya, di lain pihak saya semakin membencinya karena hal itu.
Apa bila saya membiarkan Raito mengeksploitasi saya, saya bisa berada sangat dekat dengannya?
Apa saya bisa menyingkirkan Amane Misa dari sisinya?
Benci subyektif, membuat saya ngeri pada diri sendiri. Betapa perasaan lepas dari logika yang sangat saya kuasai. Betapa perasaan bukanlah medan yang saya kenali. Saya tidak mungkin membunuh Amane Misa, saya bukan pembunuh dan tidak berencana menjadi pembunuh. Walaupun pikiran bawah sadar saya, ketika saya mengunyah coklat dengan pikiran kosong, saya sering kali melumatnya.
Saya berusaha mengedapankan logika kembali. Saya harus bersimpatik pada kecintaan dan integritas Amane Misa pada Raito. Lebih lagi Raito telah membuat keputusan, atas dasar apapun, bahwa Amane Misa adalah pilihannya.
Saya harus membiarkan Amane Misa berbahagia di sisi Raito, membiarkannya merebut apa yang seharusnya milik saya.
---HF-Smile---
Pintu pelarian selalu muncul tepat pada waktunya.
Aku mengoper sepucuk surat dengan kepala surat Universitas Tokyo pada Lawliet saat makan pagi. Tapi ia hanya meletakannya di sisi, membuatku penasaran.
"Kau tidak mau membukanya?"
"Nanti saja," jawabnya acuh.
"Tidakkah kau merasa itu penting?" desakku.
"Mereka menelepon bila memang sepenting itu," Lawliet dengan logikanya. Aku ingin mencibir kecerobohanku sendiri, tapi mataku kaku terpatri pada suratnya. Menunjukkan ketertarikan terlalu besar.
Seolah mengerti, Lawliet mengambil suratnya, membuka, membacanya dengan cepat, lalu menyerahkannya padaku seolah kertas itu menjijikan. Tapi ia memang selalu menjepit kertas dengan kedua jarinya.
Aku membacanya, bahkan berkali-kali, hingga menghabiskan waktu lebih lama sampai membuat pandangan orang-orang terkunci padaku.
"Mereka ingin mengirimmu ke Amerika untuk melakukan riset?" tanyaku retoris. Kini semua orang mengalihkan pandangannya pada Lawliet. Sementara yang menjadi obyek pembicaraan memasukkan balok gula banyak-banyak ke cangkir kopinya.
"Seperti yang tertulis," jawabnya lagi acuh.
Tanpa melihat kembali pun aku sudah hafal tanggal keberangkatannya, "Seperti yang ditulis juga, berangkat sebelum tanggal pernikahanku."
Ia menyeruput kopinya tanpa terganggu, "Seperti yang tertulis." Ia berepetisi, mulai membuat darahku naik ke ubun-ubun.
"Serius, Lawliet-niisan. Bukankah kau sudah berjanji menjadi pengapit pria?" aku nyaris merajuk, tapi aku mempertahankan suaraku pada tingkat normal. Bahwa aku tidak akan mencegahnya pergi, aku menuntut pertanggungjawabannya.
Tidak menjawab, ia malah memandangku. Seolah mengisyaratkan kata-kataku, dengan intonasi yang tepat bisa membatalkan kepergiannya.
Sialan! Jangan meledek.
Aku melipat kembali suratnya dengan kesabaran luar biasa, tanpa getaran di tangan. Aku balas menatapnya, mengkomposisikan dengan tepat antara kekecewaan dengan ketidakpeduliaan, "Sayang sekali."
Sarapan pagi berjalan kembali.
---HF-Smile---
