Author's note: Seperti sepenggal puisi yang saya tulis di bawah, I CAN'T DO THIS ALONE! Dan saya ga bisa menyelesaikannya tepat waktu…Selamat tinggal deadline….*nyungsep dari kursi*….Tapi saya tetep berterima kasih sama para suporter setia, tercintah. Tanpa kalian, fic ini Cuma jadi onggokan sampah*big hug, big hug, everyone!* Dan saya akan menyelesaikannya secepatnya karena memang ceritanya ga bakal lebih panjang lagi. So keeping up with me,Minna!
Something you should know : Udah ada yang nebak tema di chapter sebelumnya? It's Envy. Mostly come from L, ingin menggantikan posisi Misa di sisi Raito udah cukup menggambarkan envy kan?^^, maap kalo maksa…*jedutin kepala sendiri*
Kalo ada yang bingung apa maksud dari '02.02' di awal cerita chapter sebelumnya, itu adalah waktu. Jam 2 lewat 2 menit, subuh hari…Saya tidak akan membenarkannya karena itu memang harus ditulis demikian, memberi kesan misterius sesaat…hihihi*digebukin*.
Conditions applied : Saya membuat AU untuk kisah ini, berarti ada pengkondisian yang saya rubah demi kepentingan cerita, tapi ada juga yang saya pertahankan. Misalnya umur, gender, dan karakteristik. Namun di sini tidak ada kisah-kisah fenomenal luar-logika seperti keberadaan Death Note sendiri. Semuanya murni manusia. Demikian juga dengan status-status karakter, ada perubahan di sana. Mudah-mudahan pembaca bisa memaklumi dan mengampuni kebiadaban saya mengubah-ngubah setting paten. Peace, turunkan kembali semua senjata Anda: )
Fandom : Death Note ©Tsugumi Ooba dan Takeshi Obata.
Rating : Errr…T+ ?
Warning :
Subtle or OBVIOUSly yaoi. Perhatikan yang satu ini baik-baik. Bagi yang tidak suka yaoi, harap meninggalkan saya tetap 'terhormat'.XD
Mungkin akan ada switching time line atau POV. Keep alert, Minna!XD
Pairing : RaitoxL, LXRaito
No, I can't do this alone
Let me hold on
Can you hold on to my hand?
And don't let go
Seven is Enough
----Page 5----
Destruksi
Terburu-buru.
Roda-roda koper berkeletak melindas permukaan tak datar.
Segera pulang, Saya segera tiba. Mengaibaikan semua riset yang belum rampung di belakang.
Di teras depan rumah, saya meninggalkan koper –satu-satunya barang yang saya bawa selain diri sendiri-.
Sekilas, dalam pandangan selewat, segalanya pecah berantakan, remuk patah. Sementara saya bergerak cepat menuju satu-satunya tujuan.
Keputusan saya pulang adalah tepat.
Serasa jutaan tahun saya pergi. Di sini saya berada sekali lagi. Menangkap matanya merefleksikan kembali sosok saya. Perbedaan telah memangsanya. Warna lain disapukan pada sorot matanya yang dahulu sebening air, tulang pipinya semakin menonjol karena wajahnya menirus. Volume tubuhnya digerogoti sesuatu yang tak masuk akal. Ia terduduk letih seperti ilalang menyerah kalah pada musim.
"Lawliet-nii…," desahnya, tercekat, tak percaya pada kemunculan tiba-tiba saya. Bahkan ia tidak sanggup mengkomposisikan dirinya setegar biasanya.
Saya mendekat. Dorongan hasrat untuk melindunginya membuncah hanya karena ia tidak pernah terlihat serapuh dan selemah ini, "Sachiko-san dan Sayu…Dan MisaMisa, di mana mereka semua?"
Rahangnya bergemeletak beradu. Ia menggeram dalam, "Aku mengusir Misa…Oka-san dan Sayu….."
Energi kemarahan membebaskan diri dari kekangnya. Ia menggerung liar seraya menyapu semua benda yang ada di meja kerjanya. Keporakporandaan yang saya lihat di luar mungkin sebagian adalah korban pelampiasannya.
Ia nampak tak waras mengacak-acak rambut coklat gelapnya yang selalu tertata elok, mencari benda apa lagi yang bisa dihancurkannya. Sesaat ia terpaku, terengah-engah, mencengkram dahinya merosot jatuh. Tergolek lemas manakala kemarahannya dicerna depresi.
Saya sungguh ingin melakukan sesuatu untuknya. Jiwa ini mendengar jeritan pilu bisunya, atau saya hanya berhalusinasi?
Berhalusinasi maupun tidak, hasrat yang saya rasakan semakin melecut, membuat tangan-tangan saya gemetar ketika menyentuh kulit wajahnya, merasakan teksturnya. Saya tidak pernah merengkuh orang lain, saya tidak tahu apakah seperti ini rasanya memeluk seseorang-siapa saja-?
Semua garisnya memenuhi setiap lekukan pada kedua lengan saya. Positif dan negatif. Sepasang keping puzzle dipersatukan. Sangat presisi, tepat. Tidak ada yang lain.
Ia bersandar pada saya, menyerahkan diri seutuhnya. Tangannya bergerak di punggung saya, mencengkram erat, bergantung pada ketipisan dan keringkihan yang saya miliki.
Meskipun raga ini hancur, hingga tinggal serpih, saya akan menopangnya. Selalu akan menopangnya sampai batas waktunya. karena pemahaman telah menelanjangi kebenaran hingga paling hakiki.
Obligasi saya untuk menghancurkannya; belahan jiwa saya.
---HF-Smile---
Apa yang saya kerjakan di samping melakukan riset adalah melengkapi penyelidikan.
Saya berpikir seraya menyesap manis di ujung lidah saya, takala taburan gula di atas donat meleleh dalam mulut saya. Penyelidikan ini telah lama saya lakukan, bahkan semenjak ada di Jepang, berada di bawah satu atap dengan seorang tersangka.
Saya tidak bisa berkutik di sana, sementara semua lapisan kepolisian dan pengadilan tunduk pada Raito. Khasus Shuuichiro dibekukan tanpa usaha. Semata-mata karena kecelakaan, meskipun bukan.
Saya menyeruput kopi yang telah dituangkan gula balok banyak-banyak. Saya sudah bisa merekonstruksi ulang kejadiannya, bahkan di luar kepala. Shuuichiro bukan wafat karena kehabisan nafas akibat asmanya kambuh.
Tangan saya bergerak sendiri menggapai bola-bola permen, memasukkan sekantung penuh ke dalam pencernaan. Busa putih yang saya temukan waktu itu adalah foam yang mengandung Freon, ya, itu yang digunakan untuk pendingin ruangan. Saya masih ingat dingin menusuk ke dalam jari telunjuk saya waktu itu. Kekakuan dan turunnya temperatur tubuh Shuuichiro disebabkan organ-organ dalamnya membeku karena dipaksa menghirup Freon. Waktu kematiannya dapat dimanipulasi. Tidak butuh waktu lama untuk membunuh orang dengan menggunakan kimia beracun. Selain itu tidak akan ada tanda-tanda kekerasan. Pembunuhan yang bersih.
Setelah dibiarkan cukup lama, tingkat kebekuan organ akan menurun sehingga korban nampak mati dengan wajar. Saya menggigiti bagian tepi coklat. Bila dilakukan tes forensik, kemungkinan besar dapat ditemukan zat Freon ini, tapi tidak menjadi masalah karena orang-orang kepolisian adalah orang-orangnya juga.
Ia tidak turun tangan sendiri untuk menghabisi nyawa Shuuichiro. Probabilitas tertinggi adalah kolaborasi. Saya sudah menghabiskan potongan coklat yang terakhir. Saya meraih tusukan dengan aneka manisan warna-warni. Sedikit banyak ia sudah mengenali partner dan subordinat Shuuichiro. Dengan kemampuan orasinya-tentu saja termasuk memanipulasi-, tidak sulit mengorek beberapa orang yang revolusioner. Menggerakan orang-orang seperti itu, mengukuhkan posisinya sebagai penerus dari kerajaan yang dibangun Shuuichiro.
Ia mengambil alih dengan permainan cantik, biarpun keji.
Saya menutup kesimpulan. Masih banyak lagi kejahatan terselubung dengan Raito sebagai biang keladinya, otak perencana. Selama saya berada di sini, saya tidak pernah melepaskan pengawasan sedikitpun pada tindak-tanduknya. Tapi ia sangat berhati-hati hingga sulit bagi saya mengorek lebih banyak lewat simpanan folder-folder di komputernya. Ia membentengi dirinya tanpa cela, saya terpaksa mencari jalan lain. Sistem pertahanan kepolisian jauh lebih mudah diterobos daripada kekuatan Raito. Dari sanalah saya akan menguak Raito hingga ke tulang-belulangnya.
Ruangan tiba-tiba berguncang, atau hanya saya yang berputar-putar? Hidung saya mengernyit, sisa-sisa kunyahan yang belum tertelan berbalut merah pekat, menggumpal-gumpal dalam telapak tangan saya.
Saya berjalan di garis setipis benang, menantinya meretas tanpa tahu kapan waktunya. Saya tidak pernah takut pada kematian karena saya tidak bisa menolaknya. Sesuatu yang wajar, akhir dari siklus.
Saya mengira saya siap, mengira cukup gagah melangkah ke fase tersebut. Namun getaran-getaran yang merayapi tubuh tidak pernah saya dengarkan sejelas hari ini desir kehidupan di setiap sendi, di sepanjang tulang, di jutaan pembuluh darah yang menjalin seseorang seperti saya.
---HF-Smile---
Jepang bergolak, terutama setelah tindakan-tindakan kontroversial revolusioner yang dilakukan Raito. Media massa tidak menyebutkan secara spesifik, atau mungkin tidak dapat menelusuri dari mana asap berasal. Sejauh apapun menggali, hanya menemukan sumber yang salah. Lorong-lorong gelap tidak pernah mengarah pada Raito, ia tidak kasat mata.
Tingkat mortalitas mencuat. Korban-korban disinyalir lawan-lawan potensial bagi Raito, atau pembangkangnya. Saya melihat ia mengganjar orang yang menentangnya, kepahitan itu saya kecap sendiri. Ia sudah lama melupakan apa maksudnya berpegang pada nurani. Sejak kecil, saya gagal menanamkan ini padanya, kurang keras menyentaknya. Raito hari ini adalah manifestasi kegagalan masa lalu saya.
Semakin saya menyesali apa yang telah berlalu dan sangat konyol disesalkan, obsesi pada makanan manis semakin membuncah. Saya jauh lebih membutuhkannya daripada membutuhkan asupan glukosa untuk membuat roda dan gigi pada otak saya tetap mendapat pelumas.
Sembari menanamkan gigi-gigi di kelembutan marshmallow, saya membaca berita menarik di surat kabar pada segmen luar negeri.
Inspektur Mogi dan Pasukannya Memotong Rantai Pembunuhan
Menelusuri setiap baris dengan kecepatan setara menghabiskan sebungkus besar marshmallow, saya bertaruh inilah liang rahasia untuk menyergap Raito.
---HF-Smile---
"Selamat malam, Inspektur."
"Dengan siapa saya bicara?"
"Seorang teman yang bisa dipercaya."
Suara beratnya menggerumuh, "Jangan bercanda dengan saya!"
"Tidak, saya tidak bercanda dengan Anda," saya meyeruput seteguk sirup, menunggu Inspektur Mogi menerima telepon dengan kepala dingin, "ada sesuatu yang ingin saya bahas bersama Anda."
"Apa yang Anda inginkan dari saya?" balas Inspektur Mogi dengan rahang terkatup.
"Saya baru saja membaca prestasi Anda yang luar biasa di surat kabar. Selama ini saya mengetahui sesuatu yang tak terselesaikan, saya tidak bisa membiarkannya," saya menjabarkan, namun tetap menjaga sesedikit mungkin informasi yang disampaikan untuk mengetahui tanggapan Inspektur Mogi, "Anda adalah orang yang tepat untuk membantu saya."
Jeda sejenak.
"Apa ini ada hubungannya dengan Yagami Raito?" ia merendahkan suaranya, meningkatkan kewaspadaan.
Tajam, jujur, sesuai kebutuhan saya, "Saya kini percaya bicara pada orang yang tepat."
"Apa yang Anda ketahui?" suaranya mengindikasikan penasaran, saya tersenyum simpul. Tentunya Inspektur Mogi pun mengetahui sesuatu atau setidaknya mencurigai sesuatu yang tidak dilakukan orang lain.
"Banyak, Inspektur. Tapi sebelum kerjasama kita berlangsung, ada beberapa syarat yang harus Anda ikuti, untuk alasan keamanan. Pertama, saya minta Anda menggunakan nomor telepon berbeda dari biasanya saat mengadakan pembicaraan dengan saya. Berbeda-beda kalau bisa, dan pastikan tidak bisa disadap…Telepon umum misalnya. Kedua, jangan melakukan rekaman pembicaraan apapun, jangan meninggalkan bukti bahwa kita pernah berbicara. Termasuk telepon saya hari ini," saya menjelaskan lagi.
"…Baiklah," ia menyanggupi walaupun bingung.
"Lawan kita jauh lebih berbahaya dan tangguh daripada siapapun pernah bayangkan. Waspada dan berhati-hati adalah syarat mutlak untuk menghadapinya."
"Lalu bagaimana saya bisa menghubungi Anda di lain waktu bila saya tidak boleh menyimpan nomor Anda?" inspektur Mogi menuntut.
"Saya akan kirimkan e-mail kepada Anda nomor yang bisa dihubungi. Kalau kita perlu berkomunikasi lebih lanjut, saya akan mengirim pesan. Anda juga harus mengganti kata kunci e-mail Anda secara berkala, menghindari kebocoran informasi. Bila Anda hanya punya satu akun, tolong buat yang lain, pribadi milik Anda. Ke sanalah saya akan mengirimkan pesan, apakah Anda bisa melakukan itu sekarang?"
"Ya, ya, bisa. Tunggu sebentar."
Lima menit kemudian, Inspektur Mogi sudah memberitahukan alamat e-mail barunya.
"Bagus," saya memuji, "Sampai pertemuan berikutnya, Inspektur. Saya sangat senang bekerja sama dengan Anda."
"Tunggu! Saya belum tahu siapa Anda."
Saya berpikir sejenak. Saya belum bisa menyerahkan identitas saya yang sebenarnya pada Inspektur Mogi, terlalu riskan. Akan sangat mudah mencari tahu tentang saya bila ia mendapatkan nama asli saya, "Anda bisa memanggil saya Ryuuzaki."
---HF-Smile---
Kami bekerja sama dengan baik, bahkan Inspektur Mogi lebih cepat tanggap dari yang saya harapkan. Itu baik. Sangat.
Dalam beberapa bulan belakangan, kami bisa memutuskan berbagai strategi lawan sebelum sukses dieksekusikan. Pasti Raito sedang bermuram durja sekarang. Saya mencoba membayangkan wajah kesalnya, kenyataannya saya masih mengingatnya sangat baik. Tanpa saya sadari, senyum tergurat di wajah. Ia pasti mulai mencari sebab-sebab kegagalannya.
Tentu ia tidak berpikir sedang berhadapan dengan saya kan? Saya tidak membocorkan identitas pada Inspektur Mogi, menghindari probabilitas Raito memulai penyelidikannya dari sana. Dan pasti memang demikian, karena sampai saat ini yang secara terbuka melakukan perlawanan padanya adalah Inspektur Mogi.
Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman. Saya mengangguk setuju pada diri sendiri seraya menghirup harum lelehan coklat.
Inspektur Mogi pun mengikuti semua syarat saya dengan patuh, memastikan saya berada di base aman.
'Bukankah ini tantangan menarik untukmu, Raito?' Saya membatin. Saya bisa mendengarnya menjawab 'ya'-Tentu saja hanya imajinasi berlebihan saya-. Ia akan muram sekaligus bergairah, untuk pertama kalinya menemukan rintangan yang mampu menahannya tak berkutik.
Saya meneguk coklat hangat yang terus menggoda rongga kerongkongan hingga mengering. Namun cairan itu tidak meluncur turun, malah bermanuver melawan gravitasi, bersamaan dengan saya membersit.
Lagi-lagi darah mengucur keluar, meninggalkan bintik-bintik nyata pada kaus putih saya. Meletakan cangkir tetap terkendali, sebagai gantinya saya mengambil saputangan linen. Menekannya ke daerah di bawah hidung.
Basah. Menandakan darah terus mengalir.
Saya pernah memeriksakan diri ke dokter karena desakan rekan seriset. Saya pun tidak bisa menebak-nebak apa yang terjadi pada diri sendiri, maka saya menurutinya.
Berdasarkan beberapa kali kegiatan bolak-balik rumah sakit, keluar-masuk ruangan dokter internis, akhirnya saya mendapatkan fakta. Terdapat lubang di saluran pernafasan dan kerusakan di pembuluh darah paru-paru. Kecil, diameternya tidak mencapai setengah inci. Tapi lubang itu yang menyebabkan pernafasan saya sering terganggu. Seiring menginhalasi udara, tekanan yang ada menimbulkan darah masuk ke saluran pernafasan-yang menyebabkan saya sering memuntahkan darah-.
Penyebabnya mungkin karena menghirup bahan kimiawi dengan sembrono. Saya sendiri tidak yakin definisi 'sembrono' tepat diimplementasikan karena saya selalu mengikuti prosedur. Dokter sudah memberikan penawaran untuk melakukan operasi. Tapi di mana esensinya?
Kalau ini memang hukuman saya karena tidak bisa menyelamatkan Raito, maka saya akan menerimanya.
Memusnahkan jiwa sendiri bila itu bisa menebus dosa.
---HF-Smile---
Kebrutalan dalam Penyergapan
"TOKYO, Jumat, 21.35. dilakukan penyergapan oleh pihak kepolisian di bawah komando Inspektur Mogi. Penyergapan dilakukan kepada pihak salah satu keluarga terkemuka, Yagami.
Yagami Sachiko dan Yagami Sayu sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Shibuya, mencari hadiah ulang tahun untuk kepala keluarga mereka saat ini, Yagami Raito. Inspektur Mogi mendatangi mereka, mengeluarkan lencananya, dan beritikad menggeledah mobil mereka karena ada sumber-sumber tertentu menyebutkan adanya selundupan barang-barang ilegal di sana.
Kedua Yagami bersikap kooperatif membantu penegak hukum melakukan tugasnya. Tidak adanya barang yang dicari, malah menimbulkan fenomena yang mengerikan. Salah seorang anak buah Inspektur Mogi menodongkan senjata api, menuntut dua wanita tidak berdaya mengakui di mana mereka menyembunyikan barang-barang selundupan tersebut.
Takut, keduanya spontan mengelak dan berusaha melarikan diri. Tanpa sempat dihentikan, peluru dilepaskan. Merobohkan Yagami Sachiko yang melindungi putrinya. Sementara peluru lain bersarang di kaki Yagami Sayu.
Kasus ini menuai protes dari masyarakat kepada pihak kepolisian. Inspektur Mogi dibebastugaskan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, sementara anak buahnya yang melakukan penembakan, baik kesengajaan maupun tidak, telah mendekam di balik jeruji besi, menunggu hari persidangan.
Dari pihak keluarga Yagami sendiri, belum ada tuntutan apapun. Bahkan Yagami Raito seperti tidak bereaksi atas kehilangan ibundanya dan cacat yang dialami adik satu-satunya. Namun bila Beliau berniat menuntut, banyak organisasi kemanusiaan yang bersedia memberi sokongan."
Pecah.
Ada sesuatu yang pecah, tapi saya tidak lagi mampu berkonsentrasi.
---HF-Smile---
