Author's note: Sampailah saya di sini, karena imajinasi terlalu liar, akhirnya ini menjadi chapter terpanjang*grinning*. Berhati-hatilah, Pembaca Tercinta, saya tidak menjamin isi chapter ini bisa menerbangkan Anda ke mana*digebukin ibu-ibu se RT*
Berhati-hati pula pada excessively OOC, angst_atau sappy-tingkat tinggi! Plus mature content implicitly….
Something you should know : tema sebelumnya adalah gluttony. Saya udah cukup jelas kan menggambarkan L yang tak pernah berhenti makan atau minum yang manis selama penyelidikannya? Sebetulnya di chapter-chapter sebelumnya juga saya sisipkan kesukaan L pada makanan manis, tapi ga segamblang chapter 5.
Conditions applied : Saya membuat AU untuk kisah ini, berarti ada pengkondisian yang saya rubah demi kepentingan cerita, tapi ada juga yang saya pertahankan. Misalnya umur, gender, dan karakteristik. Namun di sini tidak ada kisah-kisah fenomenal luar-logika seperti keberadaan Death Note sendiri. Semuanya murni manusia. Demikian juga dengan status-status karakter, ada perubahan di sana. Mudah-mudahan pembaca bisa memaklumi dan mengampuni kebiadaban saya mengubah-ngubah setting paten. Peace, turunkan kembali semua senjata Anda: )
Fandom : Death Note ©Tsugumi Ooba dan Takeshi Obata.
Rating : Errr…M.
Warning :
Subtle or OBVIOUSly yaoi. Perhatikan yang satu ini baik-baik. Bagi yang tidak suka yaoi, harap meninggalkan saya tetap 'terhormat'.XD
Mulai dari sini timeline nya tidak akan maju-mundur. Tapi maju terus. Ingat bagian awal dari chapter sebelumnya? L kembali ke tempat Raito. Sachiko meninggal, Sayu cacat, dan Inspektur Mogi dibebastugaskan.
Pairing : RaitoxL, LXRaito
Usir kewarasan,
asingkan!
Buang moral
Bersimpuh
Menyerah
Seven is Enough
----Page 6----
Senja
Tak lagi memiliki apapun, aku mati rasa.
Kubiarkan ayahku mati dalam pengetahuanku. Kukunci mulut atas kematian ibuku. Menatap kosong pada adik yang kehilangan sebelah kakinya serta kewarasannya.
Mungkin, di sudut hatiku, aku juga sudah tak lagi waras, membiarkan turbulensi tragedi ini menyeretku.
Mungkin hati pun aku tak punya.
Aku miskin.
Keberadaan Lawliet tidak banyak membantu. Meskipun ada sesuatu berdetak kencang dalam rongga dadaku. Bukankah itu jantungku sendiri?
Kami hanya sedang saling berdiam diri, duduk bersisian, merenung. Entah apa yang dipikirkannya, yang pasti aku sedang mengasihani diriku sendiri-sesuatu yang tidak pernah mampir di benakku-. Setengah mengawang, aku melihatnya batuk hebat, tersedak. Aku membelalakan mata, tersadar sepenuhnya saat melihat darah menetes dari sela-sela jarinya yang bersedekap.
"Lawliet-niisan?"
"Tidak apa-apa, Raito-kun. Tenggorokan saya sedang luka karena batuk. Saya flu berat sebelumnya," jawabnya ringan.
"Sejak kapan flu berat menyebabkan pendarahan?" kemarahan naik ke ubun-ubun, apa ia masih berpikir aku anak kecil yang mudah dibohongi? Kalau ia pernah berhasil membohongiku, "Kau sakit."
"Ya, flu," katanya tetap tenang dan keras kepala.
Marah, aku menarik tangannya, berusaha berbicara sedatar mungkin, "Biarkan dokter ahli yang mengatakan itu."
"Saya baik-baik saja," ia menatapku untuk meyakinkanku, tapi sama sekali tidak berhasil. Karena aku sangat tahu ia berbohong.
Kenapa pula ia harus berbohong?
Terjadi di luar kuasaku, di luar kendali yang selalu kubanggakan. Aku mendorongnya. Tubuh kurusnya terhempas ke dinding. Ia memandang tak percaya, sebelum sempat memprotes apapun, aku menerjangnya.
Satu tinjuan di wajahnya cukup untuk melampiaskan kekesalanku. Tapi karena ia membalas, anggap yang tadi tidak berlaku.
Begitu banyak yang bisa kami pertengkarkan sebelumnya, tapi hanya untuk urusan sepele kami berbaku hantam. Kami begulat. Tidak pernah bertengkar seperti kanak-kanak begini. Menyarangkan tendangan atau pukulan.
Pipinya lebam, ada bercak darah di bawah bibirnya. Entah itu darahku atau darahnya. Ia menatapku dengan pandangan kosong, tapi aku melihat jauh lebih dalam dari sekedar permukaan hitam legam yang menyesatkan, jiwanya menggelora. Ia sama seperti aku, tidak mau kalah.
Soal darah itu, kenapa tidak dicari tahu?
Aku mencengkram wajahnya dengan kedua tanganku, dengan kasar. Seluruh sarafnya menegang. Tanpa menunggunya untuk mengantisipasi, tanpa menunggu otakku memerintah-atau meneriakan 'jangan'-, aku mengecap darah di bawah bibirnya.
Ia semakin mengejang. Mungkin mengira aku gila.
Ya, aku gila. Biarkan aku jadi gila. Karena bila otakku sudah melupakan segalanya, aku akan tetap berpegang pada ini. Hal terakhir yang tidak akan kulepaskan. Aku pernah memilikinya, akan kupertahankan seperti itu dalam ketidakwarasanku.
Aku kembali ke satu-satunya yang realistik, aku tidak mengerti lagi milik siapa darah itu. Sudah terlalu bias ketika ia membalas ciumanku.
---HF-Smile---
Tubuhnya menelikung, menyesuaikan setiap gerak tubuhku. Menerima dan mentolerir kekasaran.
Aku tidak membelainya, tidak memanjakannya. Aku menghancurkannya, mencabik, meremukan. Sebaliknya ia menuangkan kesabaran dan pengertian. Menghibur, menyiramkan dingin membeku pada panas membara.
Seharusnya kupasang kembali perlengkapan logikaku, tapi aku terlanjur dikendalikan insting. Bergerak semauku, sebebas ombak memecah pantai.
Penganalogian yang bagus. Aku adalah garis pantai, hidup terombang-ambing antara baik atau buruk karena itulah tuntutan takdir padaku. Bertahan dari seretan ombak, tapi juga tak bisa lari ke tepian yang aman. Aku menjadi dinding agar pasir yang lain kering. Menghilangkan naluri kemanusiaan untuk memperbaiki kehidupan orang yang tak kukenal.
Lelah dan remuk, aku ingin terseret ombak. Bergelung dalam amukan dasyatnya atau tersesat dalam kedalamannya. Aku ingin menghancurkan manusia-manusia tidak berguna, aku ingin menghancurkan dunia yang telah membusuk! Tidakkah itu cara paling tepat untuk memusnahkan kejahatan; cabut sampai ke akar-akarnya. Lalu tumbuhkan dari awal, tunas-tunas baru, bebas dari kontaminasi tunggul yang hanya menjadi parasit dalam taman baru yang ideal.
Ironisnya, Lawliet menguatkanku. Ia tidak akan menyadarinya karena ia tidak setuju dengan jalanku. Tapi secara sederhana, hanya eksistensinya yang membuatku bertahan. Kembali menata pondasiku yang mulai berlubang.
Aku menjeritkan kebutuhan akan dirinya.
Selamatkan aku!
Dengan sederhana pula, ia memenuhi panggilanku. Melindungi diriku terserak, menyelamatkanku dari diriku sendiri.
Ia satu esensi yang menjalin diriku. Aku cacat tanpanya. Ini bukanlah cinta, lebih. Lebih dari itu. Tidak ada definisi untuknya.
Kukira aku mati rasa, tidak sepenuhnya salah.
Kini aku hanya bernafas karena Lawliet adalah atmosfer, langit yang kutatap dan kuinginkan dari jarak tak terjangkau. Yang lainnya, tidak ada lagi yang kutangkap dengan inderaku.
Jika begitu adanya sang kebenaran, bisakah aku menyerahkan diriku sepenuhnya padamu, Lawliet?
---HF-Smile---
Serbuan rasa memuntir, saya mengernyit.
Saya tidak pernah melihatnya diperbudak sesuatu yang primitif seperti ini. Ini adalah sudut tergelap dalam dirinya. Sekuat apapun cahaya berpendar, selalu meninggalkan sisi gelap. Saya pun punya sisi gelap itu.
Saya ingin berlari, menyeberangi semua yang membetang, ke sisinya. Saya tidak peduli menjadi jahat, kalau ada batasan yang pasti antara 'jahat' dengan 'baik'. Saya ingin berpegang pada kemurnian yang terhalang arogansi, harga diri, identitas, moral, akal; dalam satu kata dunia.
Apalagi melihatnya tersiksa, saya teriris melihat refleksi anak kecil meratap dalam bola matanya. Berdiri di atas ketidakseimbangan, mencari pertolongan karena terkunci di tempatnya.
Saya meraih tangannya, menautkannya dengan milik saya.
Bila saya tidak sanggup menyelamatkannya, tanggung jawab saya untuk jatuh bersamanya, apalagi semenjak saya adalah orang yang memposisikannya di sana. Ia tidak akan sendirian, tersesat dalam keganasan hamparan ketiadaan. Saya akan bersamamu, itu sumpah. Meskipun jalan yang kami ambil berbeda. Saya pastikan menemuinya di akhir penelusuran.
Saya pun tidak sanggup menjadi tempat bergantung sepenuhnya karena saya memiliki kebutuhan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan. Desakan ini menggerumuh, menelan saya. Kebutuhan yang seperti hewan lapar, membuat saya lupa diri.
Saya mengerti kapan matahari dan bulan bertemu pada akhirnya. Tepat pada saat dunia menggelap, tanpa cahaya keduanya. Melarikan diri, menanggalkan semuanya, bersatu dalam keharafiahan. Meskipun hanya dalam hitungan menit atau detik, cukup untuk penantian puluhan, ratusan tahun berikutnya.
Layaknya saya saat ini.
Nafasnya menjadi pengisi di sela-sela nafas saya yang lenyap, demikian juga detak jantung yang hilang. Berpadu, melengkapi, mengutuhkan saya.
Saya mendengarkan panggilan jiwanya dengan khidmat, tidak berharap membalas kurang. Jadikan saya tempat berlindung, atau tempat persembunyian, atau tempat pelampiasan. Saya tidak akan pecah, tidak akan rusak. Bila itu terjadi, hanya berarti saya bukan bagiannya. Pada saat itu, dunia saya akan runtuh, dicerai-beraikan kehampaan.
Meskipun salah, kini saya hanya bisa memegangnya erat-erat. Saya ingin Raito membutuhkan saya setimpal saya ingin menyerah padanya. Kami berpegangan satu sama lain, tidak ada yang mendapat bagian lebih besar atau kecil. Hanya ini kebenaran yang saya terima dan sanggup memenuhi lubang kosong dalam diri saya.
---HF-Smile---
Kami melewati fase itu, yang saya sebut 'gerhana'. Menggetarkan, tapi berlalu seperti mimpi.
Kami sama-sama dewasa, sama-sama bisa membawa diri. Kesadaran total telah kembali, tertata sempurna. Kami bisa mulai bicara, dengan tambahan pengetahuan ada sesuatu yang lain, yang saling memanggil dalam diri kami.
Saya klasifikasikan itu sebagai 'kebutuhan fisik'. Saya tidak bisa terikat mental lebih jauh lagi. Meskipun mengingkari keberadaannya, saya harus teguh. Bila tidak, saya tidak dapat melanjutkan upaya membenahi kesalahan yang sudah terlalu mendarah daging.
Tapi saya belum mampu berpikir sejernih itu.
"Aku mengusir Misa karena sudah terlalu berbahaya di sini. Sekarang lawan-lawanku menganggap aku sedang lemah. Mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerangku. Tapi mereka masih ragu dengan langkahnya karena aku bersikap acuh pada kematian Oka-san dan cacatnya Sayu," sepertinya Raito berusaha merapikan rambut saya. Apa ia tidak tahu arti 'sia-sia'?
"Apa sekarang kau tahu ada di mana MisaMisa sekarang?"
"Ia berada di tempat asing, aku sendiri tidak tahu. Tapi ada orang yang bisa membantuku mengawasinya. Bila sudah aman, ia bisa kembali ke sini," aku Raito.
Saya berhenti pada garis 'hubungan fisik', tapi selalu ada kecenderungan untuk mencondongkan diri. Atau sebenarnya saya sadar saya tidak berdiri di garis itu, hanya saja saya tidak ingin mengakuinya. Tidak ingin menyebutnya, karena berarti saya mengafirmasinya. Namun sulit mengatasi efek lainnya, merintanginya keluar dari rongga dada ini dengan rasional.
"Ya, tentu ia akan kembali. MisaMisa adalah istrimu," setidaknya saya berhasil memperhalus ironi saya sampai taraf prihatin.
Raito terdiam sejenak. Meninggalkan rambut saya apa adanya. "Kita kurang banyak berkomunikasi pada saat kau pergi."
Saya memandangnya, menuntut penjelasan.
Ia tersenyum pahit seraya berujar tanpa beban, "Ada hal lain yang ingin kukejar. Aku berusaha menjelaskan ini padanya, ia tidak mau mengerti. Walaupun akhirnya ia bisa menerima dengan syarat. Untuk menjaga nama baiknya di mata umum, kami tetap menikah…Meskipun tidak. Ia juga ingin bisa kembali ke tempatku kapan saja, itulah yang ia dapatkan."
Saya mengkaji perkataan berteka-tekinya. Apa hal lain yang dikejarnya? Apa maksudnya mengejar siapa yang merintanginya? Mengejar saya?
Saya merasa superior. "Raito-kun…."
"Raito saja," selanya, tersenyum ke arah saya, "Lawliet."
Pandangan lembutnya sepenuhnya milik saya. Perasaan aneh dalam diri saya menguap, menggembung hingga nyaris memecahkan dada. Ia memanggil nama saya. Nama tanpa imbuhan, tanpa panggilan.
Memanggil jiwa saya.
"Raito," saya bergumam pelan, membiarkan keprimitifan kembali menguasai saat saya merayap ke atas tubuhnya dan memenangkan bibirnya.
---HF-Smile---
Saya melibatkan diri dalam permainan berbahaya, saya tak mampu menarik diri lagi darinya. Manakala saya harus menuntaskan kewajiban moral saya sebagai orang yang melahirkan monster dari rahim kelengahan.
Sulit bagi saya menemui mantan inspektur Mogi seperti saat ini di kala saya telah mencicipi opium dan ketagihan.
Raito adalah opium saya, terlepas dari makanan-makanan manis.
Duduk di luar jangkauan etalase kedai kopi, saya menata pikiran baik-baik, menyekat bagian-bagian yang mampu menarik diri saya dari sini, mengenyahkan Raito dari dalam benak saya.
Seseorang duduk di hadapan saya. Berwajah keras, namun memancarkan kenaifan. Kenaifan ada batas yang jelas antara hitam dan putih, tidak ada abu-abu. Ia meraih buku menu dari seorang pegawai, memesan kopi pahit.
Saya memesan yang sama, seraya meminta dibawakan lebih banyak balok gula.
Setelah pegawai yang melayani kami pergi dengan kening berkerut, kami bertukar pandang dalam diam.
"Ryuuzaki-san," bisiknya rendah.
"Inspektur Mogi," saya mengangguk.
Kami telah menjanjikan bagaimana kami saling meyakinkan diri telah berbicara dengan orang yang tepat melalui pesanan. Memang cara ini sangat ceroboh, tapi Inspektur Mogi tetap menemukan saya. Catatan saja, saya duduk sopan selama menunggunya.
"Apakah kita sangat berjodoh? Anda sangat mudah menemukan saya," kedua kaki sudah rapat ke depan dada, saya merasa aman dalam dunia sendiri.
"Tidak banyak orang di sini, Ryuuzaki-san. Lagipula," ia memandang saya agak lama, tersenyum kaku, "saya punya bayangan tersendiri tentang Anda."
"Fantastis," saya tersenyum lemah. Tentunya saya telah meninggalkan kesan yang dalam padanya,"Kita tidak bisa lama. Maka kita akan masuk ke pokok pembicaraan."
Wajahnya kembali kaku, dibayangi kebimbangan. Jemari-jemarinya bertaut di atas meja.
"Saya hanya sekedar ingin tahu, dan saya rasa ini tanggung jawab Anda juga," saya tetap mengawasinya, membaca setiap gesturnya. Memastikan penilaian saya selama ini yang hanya bisa saya dapatkan dari gambaran surat kabar yang terlalu ambigu atau melalui percakapan e-mail, "Saya sudah mengatakan untuk hati-hati bertindak. Kita sama-sama tidak menginginkan kerugian materi apapun, apalagi sampai melukai orang-orang tidak berdosa. Apa argument Anda untuk tewasnya Yagami Sachiko dan kecacatan, baik fisik maupun mental pada Yagami Sayu?"
Rahangnya bergemeletuk mengatup, antara menyesal dan marah, "Saya tahu. Kesalahan itu tidak dapat ditebus hanya dengan dicabutnya lencana saya. Saya juga tidak ingin menyalakan siapapun…Karena kesalahan terbesar ada di tangan saya. Saya tidak mengawasi emosi-emosi anak buah saya dan melakukan penanganan secara tepat."
"Spesifikan," saya menatapnya tanpa berkedip.
"Saya telah memilih tim yang mampu mendedikasikan diri pada penyelidikan Yagami Raito. Mereka adalah rekan-rekan terbaik yang bisa saya miliki. Setelah mendapat bantuan dari Anda, keadaan di divisi kecil saya semakin baik, ada tambahan-tambahan personil yang telah merasa sangat positif bahwa kami bisa meringkus Yagami Raito," bisiknya putus asa, lalu kembali menggertakan gigi, "Perasaan positif itu justru menjadi pedang bermata dua karena intensitasnya membludak. Merasa kesempatan ada di depan mata, dan hanya datang sekali, seseorang kehilangan kesabaran…Dan akal sehatnya."
Masalah psikologis. Bila saya tidak memiliki sistem imun tertentu pada Raito pun mungkin saya sudah bertekuk lutut di hadapannya. Saya tutup semua lembar usaha yang telah saya tulis. Saya mulai yang baru dengan kata 'kami' pada setiap kalimat yang diawali subyek.
Saya mengerti ini berat untuk kebanyakan orang, bertahan dan bertahan, menunggu sampai akhirnya hilang kesabaran. Tapi saya tetap tidak bisa mentolerir kesalahan, karena sedikit kesalahan saja dapat mengubah pola kerja Raito yang telah saya telusuri dan akhirnya bisa membacanya dengan akurat.
"Saya tidak akan berkomentar panjang," ucap saya tegas, "profesionalisme."
"Lalu bagaimana kita bisa menangkap Yagami Raito? Bukti-buktinya belum cukup," sekarang Inspektur Mogi berubah depresi, "Dampak dari dilepaskannya jabatan saya, sudah sangat terasa."
"Gunakan kepala dingin, Inspektur," saya memancangkan sorot mata geram padanya. Kesalahan bukan disikapi dengan sikap kecut, "Anggaplah masalah adalah komposisi rumit. Namun bila melihatnya dengan tenang, kita bisa mensubtraksikannya, mengembalikannya ke bentuk-bentuk dasar, dan menyelesaikannya."
"Itu konsepnya," ia menggerung pelan, "Bagaimana dengan pelaksanaanya?"
"Saya ingin bertemu dengan semua anak buahmu. Saya akan mengambil alih, tentu saja tetap mendapatkan supervisi dari Anda."
Inspektur Mogi hanya terganga pada keputusan kontroversial saya.
---HF-Smile---
Aku tidak bisa duduk tenang, keadaan di luar tidak lagi aman, karena aku bisa merasakan dinding-dindingku kini memiliki mata dan telinga. Bila aku melangkahkan kaki, satu langkah saja dari pintu, mungkin keramik pertama di teras akan meledak.
Cukup aku mencemaskan diriku sendiri, aku tidak ingin mengkhawatirkan lainnya.
Semua lawanku tahu tidak ada keluarga Yagami yang tersisa selain diriku. Aku tidak punya ketakutan menghadapi mereka. Aku bisa menyusun strategi, aku punya insting untuk mempertahankan diri sendiri. Tapi Lawliet jauh membuat jantungku lebih histeris. Bagaimana bila mereka tahu aku masih memiliki seseorang? Akankah mereka mengambilnya dariku?
Aku bersyukur melihatnya kembali ke rumah, utuh, terbungkus berlapis-lapis baju hangat.
"Saya kembali," ia memberi salam seraya melepaskan jaketnya satu demi satu hingga tinggal kaus putihnya.
"Selamat datang," aku menekan semua gerumuh ke bawah perut, "Aku ingin sedikit mengingatkan. Rumah kita tidak lagi aman, apalagi di luar. Jangan berkeliaran di jalan seorang diri, apalagi sampai malam."
Lawliet membuka lemari es, menelan bulat-bulat kue coklat yang kubeli. Apa ia tidak berpikir kalau aku membelinya untuk diriku sendiri? Aku menghela nafas, kenyataannya kue itu miliknya.
"Saya meninggalkan rumah dengan hati-hati, begitu juga kembali," ia mengulum jarinya, tidak rela ada lelehan coklat tertinggal di sana.
Aku mendelik padanya, aku tidak suka peringatanku tidak diindahkan, "Apapun yang ingin kau lakukan, aku tidak peduli. Hanya saja aku tidak mau ada orang menggunakanmu untuk menyerangku."
Ia balas menatapku, tanpa ekspresi, "Saya kah kelemahanmu, Raito-kun?"
Aku tidak menjawab, tapi memelototinya.
"Saya tahu," ia berucap ringan, memposisikan dirinya di sisiku dengan nyaman-sebelumnya sudah mengamit setoples permen-,"Ada beberapa pengintai di sekitar rumah. Sebisa mungkin saya tidak menampakan diri di hadapan mereka dengan sengaja. Tapi kalau kau ingin saya bekerja sama lebih baik lagi, seharusnya saya mendapatkan informasi lebih lanjut."
Lega terlepas dari pertanyaan memancingnya, aku memberi penjelasan umum, "Untuk menarik simpatik masyarakat dan menghilangkan pandangan negatif terhadap organisasi yang dulu dikelola Otou-san, aku melakukan beberapa restorasi. Perubahan-perubahan itu dengan signifikan mengubah kawan menjadi lawan. Aku bisa dikatakan sebagai orang paling dihormati, tapi juga paling dimusuhi," aku tertawa ironis. Aku memberi bantuan pada masyarakat yang tertindas, tidak digubris, dibuang oleh lingkungannya. Sebaliknya kutuntut mereka mengkontribusi kesetiaan dan retribusi, dalam bentuk apapun.
Melalui pengalaman yang terus kugeluti ini, aku bisa mengetahui seluk-beluk kebobrokan manusia.
Menyingkirkan ulat-ulat busuk-bisa saja seorang yang duduk di pemerintahan-dengan kekuatan yang mengusung namaku, tentu menimbulkan reaksi kontra setimpal yang hanya diarahkan padaku. Pada saat gelombang perlawanan datang padaku, banyak orang-orang yang menjanjikan kesetiaan akhirnya menghilang tanpa jejak. Mengkhianatiku.
Tempat ini rusak, aku muak.
Aku tidak akan melepaskan mereka, manusia-manusia tidak berguna dan tidak tahu balas budi sebaiknya enyah.
Aku memandang Lawliet yang sedang mengulum permen dengan pikiran entah di mana. Aku berbicara serius, "Dengarkan aku, Lawliet-niisan. Pada kurva, sekarang aku ada di titik kritis. Tapi keadaan ini akan berbalik. Pada saat itu, aku yakin dunia yang diimpikan semua orang telah menjadi nyata."
Ada geliat protes dalam matanya, ada juga kesedihan yang tak kumengerti, tapi tidak ada yang diungkapkannya.
Apa sebenarnya hanya aku yang berdiri di sisi ini sendirian? Apa ia tetap memilih berdiri di pihak oposisi? Apa ia tidak merasakan setiap kebenaran yang ada dalam kata-kataku?
Aku merasakan kemarahan menyala dalam rongga tubuhku.
Dan kesendirian menyergap.
Ia tidak sempat mengelak, bahkan mereaksi apapun ketika aku mencekik leher angsanya. Aku memutuskan semua caranya untuk memasukkan udara ke dalam paru-parunya, menancapkan taring di bibirnya hingga berdarah.
Aku ingin menyiksanya, aku ingin ia memahami penderitaan yang kurasakan, sekurang-kurangnya secara fisik.
Aku puas melihatnya kehabisan nafas, mencengkram erat diriku, tak kuasa memberontak.
Tidak, Lawliet. Tidak akan terjadi.
Dari sisi mulutnya mengalir darah baru seiring ia terbatuk lemah. Darahnya sendiri. Perlawanannya berkurang, mengkonsentrasikannya untuk mempertahankan nyawanya sendiri. Aku pun serta merta kehilangan minat.
Antara membersitkan darah dengan menghirup udara dengan rakus, ia tersengal.
Aku merunduk, menciumi leher dengan bekas cekikan. menyuratkan aku menyesali memicu 'penyakit'nya kambuh. Menelusuri rahangnya yang lancip menghapus jejak darah, mencumbu bibirnya kalau itu bisa mengembalikan nafas yang hilang-kalau bukan mencurinya-.
Ia memaafkanku semudah aku melampiaskan kekesalan padanya.
Ingin tertawa rasanya, ia bergerak lebih cepat dariku. Kusadari jemarinya yang ramping telah menelusuri kulit telanjangku. Bergerak luwes melingkari leherku, semakin mendekatkan diri.
Bila hari-hari sebelumnya adalah pertemuan antara pengajaran dan kecanggungan, hari ini hanyalah pertemuan dua kebutuhan mendasar.
Kebutuhan untuk mengorbankan jiwa, takala menemukannya utuh terjalin.
Jawablah, Tuhan, kenapa ini tidak boleh berlangsung selamanya?
Jawablah kalau Kau memang ada.
---HF-Smile---
