A/N: Great thankies buat yang review Un xD
Buat yang login… Go see your inbox :D

(yang ngaku-ngaku) Istrinya Sano

Bertambah lebay maksudnya? O.O
Yah, silakan tebak. Tapi kalo udah baca chap ini juga langsung ketauan -pundung-
Makanya di-alert! -nabok-

Warning: Drabble, OOCness, maybe?
Don't like? I dare you to click the 'back' button :D

Words: 500


Beberapa tahun sudah berlalu sejak saat itu, namun baik Near, Mello, maupun Matt sama sekali tak pernah melupakan janji itu. Dan mereka selalu bersama di Wammy's House, sampai kematian L mengubah segalanya…

-

Death Note © 2003, Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Promise © 2009, Kumiko a.k.a Panda

Deux

-

"Matt, ready for anything?" Mello tertawa hambar dari balik helm yang ia kenakan, lalu ia menstarter motor besar yang hanya didudukinya sedari tadi.

"Yeah, Mello. Anytime." Matt segera meletakkan PSP-nya ke dalam kantung jaket, lalu ia menginjak pedal gas, meninggalkan Mello yang menatap punggungnya dengan perasaan tak rela.

Tapi tiba-tiba mobil Matt berhenti. Mello yang menyadari ada sesuatu yang tak beres pada Matt, segera melaju menuju mobil itu.

"Matt?" Yang ditanya hanya diam sembari membuka kaca mobilnya.

"… Maafkan aku jika nanti melanggar janji kita. Sampaikan itu juga pada Near." Lalu ia menutup kaca dengan cepat dan segera berbelok di tikungan, membuat Mello tak mendapat kesempatan untuk menjawab apapun.

Mello segera melajukan motornya, menyusul Matt yang pastinya belum jauh.

xxx

Near menatapi seluruh channel TV dengan pandangan kosong, sama sekali tak bisa memfokuskan pikirannya pada kasus KIRA. Ia bersandar lemah pada kursi terdekat seraya memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa perih.

Entah mengapa, ia merasakan ada firasat yang buruk. Benar-benar buruk.

xxx

Segera setelah Matt menyebarkan kepulan asap itu, bodyguard Takada Kiyomi menembakinya. Tanpa membuang banyak waktu ia cepat-cepat melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu.

Namun kesialan tetap tak bergeming dari sisinya. Di perempatan, muncul beberapa mobil hitam yang mengepungnya dari berbagai arah. Tak ada tempat untuk lari lagi sekarang, namun seringaian itu tetap tak lepas dari wajah tampannya.

"Kalian pasti ingin tahu dimana ia berada, kan?" seru Matt sambil keluar dari mobil dan mengangkat kedua tangannya. Ia memutuskan untuk mencoba mengulur waktu lebih lama-supaya Mello dan juga dirinya selamat.

Namun, takdir berkata lain. Seolah tak membutuhkan informasi, mereka menembaki Matt. Belasan-bahkan puluhan butir peluru menancap di sekujur tubuh Matt, begitu pula dengan mobilnya.

"Hahah… I broke… the promise. Sorry Near… Mello…" gumamnya lirih.

Dan rokok yang masih menempel di bibir pucatnya perlahan jatuh, terjun bebas mengikuti gravitasi bumi.

xxx

Near masih dalam posisi semula, bersandar di kursi. Perih di dadanya tak kunjung hilang sampai saat ini, bahkan semakin menyayat. Ia mengerang pelan, lalu memutuskan untuk menghubungi Mello dan menanyakan bagaimana keadaannya dan Matt.

"Mello?" tanyanya lirih.

"Apa? Aku sedang sibuk!" Near terdiam sejenak. Dari suara berisik yang ada di sekitar Mello, Near menyimpulkan kalau Mello tengah mengendarai sebuah kendaraan beroda empat.

"Bagaimana rencanamu? Lalu… keadaanmu dan Matt?"

"Yeah, I'm on the plan right now." Mello menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. "Matt tadi bilang… ia minta maaf kalau dalam rencana ini ia melanggar janjinya." Near terhenyak menatap layar-layar di hadapannya. Berita tentang penculikan Takada Kiyomi. Inikah rencana Matt dan Mello?

"… Mayat lelaki yang diduga adalah komplotan dari penculik Takada Kiyomi ini belum diketahui identitasnya. Sampai sa_"

"Matt… mengingkari janjinya." Handphone itu terjatuh, bersamaan dengan teriakan cemas Mello, juga lontaran pertanyaan Rester yang terdengar sayup-sayup di telinga Near.

TuBerCulosis


Hahahah…

Saya nggak tega nulis Matt mati T.T

RnR again please?