A/N: Million thankies buat yang review Deux xD
Err_apa balesan ripyu ga nyampe ya?? Yah, itu sesuai sama amal dan perbuatan sih... *ditabrak gerobak*

Masih istri Sano (gadungan)
Iya, ketinggalan. Males ngeditnya… Salahkah guruku yang ngasih tugas kebanyakan!! D8
Setuju!! Orang keren selalu mati cepet TwT
Semoga aja suami keempatku (baca: Kim Bum) mati bersama denganku *?*
Nyahaha, emang ada orang yang diksinya makin menurun? *deadly serious*
Sankyuu, mou. Ganbatte juga buat UKK-mu *ngacungin pom-pom*

Warning: Drabble, OOCness, maybe?
Don't like? I dare you to click the 'back' button :D

Words: 515


"Matt… mengingkari janjinya." Handphone itu terjatuh, bersamaan dengan teriakan cemas Mello, juga lontaran pertanyaan Rester yang terdengar sayup-sayup di telinga Near.

Tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari bibirnya yang kian bergetar. Dan… tak ada Matt, sang penggembira diantara mereka, satu-satunya orang yang tetap bermain videogame saat pelajaran berlangsung. Satu-satunya Mail Jeevas di dunia ini.

-

Death Note © 2003, Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Promise © 2009, Kumiko a.k.a Panda

Trois

-

Mello kembali mencoba menghubungi Near untuk yang ketujuh kalinya. Namun nampaknya Near terlalu shock mendengar berita kematian Matt. Near pikir, ia tidak shock? Near pikir, ia tidak terpukul mendengarnya?

Mello mungkin merasa bahwa ia jauh lebih kehilangan dibandingkan Near. Mello mungkin merasa bahwa ia lebih dekat dengan Matt. Namun, ia lupa akan satu hal. Bahwa persahabatan mereka, juga perasaan mereka satu sama lain selalu berkaitan dan saling melengkapi. Bukan secara sepihak, seperti apa yang Mello bandingkan.

Klik. Finally, Near mengangkat telepon dari Mello.

"Yeah, Mello?" tanya Near, suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Berjanjilah padaku, kau akan membuktikan bahwa Light Yagami adalah KIRA." Lagi-lagi, Near terhenyak. Ia sudah tahu pasti kemana arah pembicaraan ini.

"Kau tidak akan melanggar janji kita kan, Mello?" Mello terdiam dan mengacuhkan pertanyaan Near. Matanya menatap lekat-lekat pada jalanan sepi di hadapannya.

"Berjanjilah, Near. Demi Watari, L, Matt, juga… aku."

Bingo. Analisa Near benar. Mello memang sudah berniat untuk mati. Mello berniat untuk mengingkari janjinya

"Jadi kau…!?"

"Berjanjilah, Near!"

"… Yes, I promise." Mello tersenyum lega, lalu diakhirinya pembicaraan itu. Dan ia melajukan mobilnya dengan cepat, berharap wanita di belakang itu segera menuliskan namanya karena perasaan takut yang menghantui.

xxx

Wanita berambut pendek itu terpaksa membuang harapannya untuk segera terbebas dari tangan sang penculik begitu mengingat kewajibannya sebagai sang Dewi. Ya. Menulis nama sang penculik yang juga merupakan salah satu penerus L.

Ia mengeluarkan sepotong kertas dari dalam bra-nya, lalu dengan hati-hati menuliskan nama asli sang penculik.

"M-I-H-A-E-L K-E-E-H-L." Ia mengeja setiap hurufnya, memastikan tak ada kesalahan yang sia-sia.

xxx

Di kursi belakang mobil yang dikendarai Gevanni, Near tetap diam. Tidak lagi memilin ujung rambut, sibuk dengan dadu, ataupun memainkan boneka tangan yang kerap menghiasi jemarinya.

"Near, are you okay?" tanya Halle seraya menyentuh lengan Near.

"Yes. Kind of…" Untuk yang kedua kalinya, Nate River berbohong.

Rasa perih yang sama sebelum kematian Matt kembali muncul, dan ia hanya bisa berharap bahwa Mello tidak melanggar janjinya.

xxx

Mello mempercepat laju mobilnya, tak peduli bahwa sang maut dapat menjemputnya kapan saja. Toh, ia sudah tahu kalau wanita tadi menyembunyikan robekan Death Note di dalam bra-nya.

Sepersekian detik kemudian, truk itu melaju tanpa kendali. Sang pengemudi tengah meregang nyawa, bergulat dengan rasa sakit tak tertahankan di jantungnya.

"Near… You better… keep your promise…" ucap Mello terbata-bata. Lalu truk itu terhenti akibat menabrak sebuah rumah tak berpenghuni, dan membakar habis segala yang tersisa.

Dan sang KIRA pun tertawa di balik topengnya.

xxx

'Mello… Aku pasti akan menepati janjiku.' Kedua tangan Near mengepal, tak dipedulikannya lagi rasa perih di dadanya. Lalu ia memilin ujung rambut halusnya, kembali mencoba mengonsentrasikan diri di tengah kematian dua sahabatnya.

TuBerCulosis


Akhirnya bisa ngapdet juga. UKK sial!! *nyiram bensin ke kepsek*

Susah banget ngetik adegan kematian Mello '=_=
Pas adegan kematian Mello kan saya lagi ke toilet, males nge-pause karena saya pikir Mello itu nggak penting *ditabrak becak*

Oh, saya mau promosi~ *ngibarin spanduk demo*
RnR fic oneshot saya di fandom Naruto dengan judul 'Thirty Six' sama fic drabble di fandom Boys Before Flowers dengan judul 'Chain of My Rainbow', please? *wink*

YOSH!! RnR please?