Mari kita mulai fanficnya!
"…": ngomong
'…': ngomongnya di dalem hati
OooooooooooooooooO
Gokudera yang berlari gak tentu arah, di halaman Namimori bertemu Sasagawa Ryohei.
"Octo-head! Aku mencarimu kemana-mana! Ramuan sudah jadi!"
Sementara di belakang mereka, Yamamoto Takeshi mengejar dengan kecepatan penuh, disusul Tsuna yang diseret dan Mariko yang kalap melihat Gokudera jadi cantik. Gokudera senang sekali mendengar berita dari Ryohei. Tanpa peduli dia sedang dikejar, Gokudera berhenti sebentar, lalu memeluk Ryoheierat, dan berteriak…
"Kau jenius, Lawn-head!!!!"
Di belakang, Yamamoto yang melihat adegan itu, kemarahannya dengan cepat memuncak. Mungkin kalau diibaratkan thermometer air raksa, udah nyampe di suhu yang paling tinggi, bahkan ampe gelas kacanya itu pecah. Gerakan Yamamoto tidak terlihat, secepat kilat dia mengeluarkan tongkat baseballnya dari tas, mengayunkan di udara,dan berubahlah tongkat itu jadi katana yang tajam.
Dari tempat dia tadinya berdiri, tahu-tahu, Yama sudah berada di samping Gokudera dan Ryohei. Dengan emosi, Yama menebas yang ada di depannya, ingin memisahkan Ryohei yang dipeluk Gokudera. Untung reflek mereka berdua bagus, jadi mereka langsung memisahkan diri. Katana Yamamoto tidak mengenai tangan atau melukai tubuh mereka, namun… botol yang berisi ramuan penyembuh itu terlepas dari tangan Gokudera melayang di udara, dan terkena tebasan katana Yamamoto.
SLASH!! PYAR!!
Bunyi tebasan katana dan botol kaca yang pecah jatuh ke tanah. Mata Gokudera dan Ryohei terbelalak menatap botol kecil yang sukses bertemu dengan tanah dan hancur berkeping-keping. Yamamoto nafasnya terengah-engah, kini pikirannya diliputi kemarahan yang amat sangat.
"Kau… kau… sama sekali tidak boleh menyentuhnya!!!" Yamamoto berteriak.
Tatapan Yamamoto dipenuhi aura jahat bahkan terasa sampai radius 20 meter di sekitarnya. Akibatnya tak ada seorangpun yang mendekat daerah tempat mereka berdiri. Tsuna dan Mariko yang ingin mengejar Yamamoto berhenti di tempat, tidak berani mengambil langkah lebih jauh.
"Bersiaplah menerima hukuman karena memeluk Gokudera." Yamamoto mengambil pose menyerang mengarahkan katananya pada Ryohei. Ryohei dan Gokudera gugup. Di pikiran mereka hanya ada satu hal. KITA HARUS KABUR DARI SINI!
[sementara itu di tempat yang lain]
"Jangan Kyoya… ah… jangan di sebelah situ… lebih ke bawah… iya… lebih ke bawah lagi… aw! Jangan terlalu keras Kyoya, sakit… lebih lembut… nah, begitu… ah… enak sekali."
"Diam kau! Banyak komentar, or I'll bite you until dead!" Kyoya Hibari meneruskan pijatannya di pundak Mukuro Rokudo.
"Habisnya Kyoya memijatku di kepala, padahal 'kan yang pegal pundakku. Bagaimana sih?"
"Kau bermaksud mengataiku bodoh, begitu?" Hibari menodongkan tonfanya pada Mukuro. Mukuro tersenyum sinis, dia mendekatkan wajahnya ke Hibari yang duduk di pangkuannya.
"Tentu saja tidak, Kyoya-chan." Mukuro mendaratkan bibirnya ke bibir Hibari yang lembut. Lidahnya menjilati bibir bawah Hibari, meminta izin untuk mengeksplorasi bagian dalam mulut sexy itu. Hibari tidak menolak, pelan-pelan dia membuka mulutnya, membiarkan lidah mereka beradu, bertarung, bersatu di dalam rongga mulutnya. Tangan kiri Mukuro menopang kepala Hibari agar tetap dalam posisinya sedangkan tangan kanannya sudah berpiknik di bawah kemeja Hibari.
"Mmmggghhh…. Rrrggghhh…" Hibari mengerang halus, malah bikin Mukuro tambah semangat. Dia berpindah dari bibir Hibari ke arah lehernya. Hibari yang merasa suhu tubuhnya naik, meremas pundak Mukuro semakin erat, tapi Mukuro tidak protes.
Sambil berbisik agak pervert Mukuro memberikan ciuman panasnya di leher Hibari dan meninggalkan titik merah merona di sana. Tubuh Hibari gemetar.
"Dewa cinta, sudah selayaknya mendapatkan yang terbaik." Bisik Mukuro di telinga Hibari.
"Diam kau… hhh…nnnhhh…" Hibari bereaksi ketika Mukuro menjilat dan menggigit daun telinganya.
"Kyoya… hhh… aku menginginkanmu…" Wajah Hibari merah padam, dia memalingkan wajahnya dari Mukuro, tapi mengangguk kecil. Mukuro tersenyum lebar, kemudian mencium Hibari lagi, full of lust. Hibari membalas ciuman Mukuro yang kedua kalinya. Tangan Mukuro dengan sigap membuka kancing kemeja Hibari. Ketika tangannya sampai di kancing yang ketiga, suara keras mengejutkan mereka berdua.
DHUAR!!! DHUAR!!!!
"Apa itu?" Hibari menjauhkan Mukuro dari badannya. Mukuro mendekat lagi.
"Bukan apa-apa…Ayo lanjutkan…"
DHUAR!! DHUAR!! Kali ini tidak hanya bunyi yang keras yang mengganggu, tapi tiba-tiba pohon cinta Nami-chu bergoyang hebat. Mau tak mau Mukuoro menghentikan kegiatannya, sibuk mencari dahan untuk berpegangan.
"F**k! Siapa yang berani mengganggu urusan pentingku???!!!!"
Di bawah pohon cinta Nami-chu, terlihat Gokudera dan Ryohei dikejar-kejar Yamamoto. Waow! Kekuatan Yamamoto sungguh luar biasa, tanah terbelah (biarpun g nyampe kalau terbelah gara-gara gempa), pohon-pohon besar tumbang, bahkan ada bekas tebasan di gedung yang dekat dengan area kejar-kejaran mereka. Di lain pihak, tanah juga bolong-bolong dan beberapa pohon angus kena ledakan dinamit yang dibawa Gokudera untuk ngusir Yamamoto.
Mukuro marah, terlihat ada banyak tanda PMI di jidatnya dan berdenyut-denyut. Tangannya terkepal penuh emosi.
'Mereka harus diberi pelajaran!'
Ryohei berputar-putar di sekeliling pohon cinta Nami-chu, menunduk menghindari pukulan dari sisi tumpul katana Yamamoto. Jadinya pohon itulah yang terkena tebasan kuat dari Yamamoto. BRAK! KRACK!
'Oh… tidak…' begitu pikir Mukuro.
SYUUNG…GDEBUG!!! Kejar-kejaran seketika berhenti, mereka kaget karena ada yang jatuh dari pohon cinta Nami-chu. Bukan buah apalagi ulat bulu, tapi ada 2 orang! Mereka kaget, karena ada seorang pria tinggi, memakai setelan tuxedo putih, membawa trisula, dan rambutnya… rambutnya… berbentuk nanas! Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah adanya Hibari Kyoya yang ikut-ikutan jatuh. Apalagi baju komisi disiplin itu terbuka di bagian yang tidak wajar. Kedua orang tadi berusaha berdiri dan membersihkan noda di baju mereka.
Gokudera kaget melihat tampang Mukuro, ditambah matanya yang berbeda warna antara mata kiri biru dan kanan merah.
"Ka-ka-kau??? Jangan-jangan kau dewa cinta?"
"Hmphf… khufufufufufu… kau benar sekali, anak muda."
"Tapi masa' dewa kepalanya seperti nanas? Kau keturunan ya?"
CTIK.. CTIK… CTIK…! Ada kembang api kecil-kecil yang meletus di sekeliling kepala Mukuro ketika Gokudera menyebutnya keturunan nanas. Mukuro menahan emosinya mati-matian.
"Ngomong-ngomong kalian sudah mengganggu ritual cinta antara aku dan Kyoya-chan, jadi sebaiknya kalian dihukum! Terutama kau! Seseorang yang bawa katana, gara-gara kau, kami jatuh!"
"Aku tak peduli! Sekarang menyingkir dari situ, aku masih ada urusan dengan orang yang di belakangmu."
"Tidak, kaulah yang harus dibereskan terlebih dahulu. Kyoya…" Hibari segera memasang posisi menyerang.
"Kau akan membayar karena sudah merusak Namimori."
Gokudera menatap ngeri ke Hibari dan Yamamoto. Gokudera tahu, sekuat apapun Yamamoto, Hibari masih lebih kuat, dan bukan hal yang tidak mungkin bila Yamamoto bisa mati melawan Hibari. Selain itu, Hibari didukung dewa –begitu menurut Gokudera terhadap Mukuro- , tidak ada kesempatan Yamamoto menang. Saat Yamamoto dan Hibari mulai bergerak, Gokudera juga bergerak, dan berdiri di antara mereka. Tangannya terentang melindungi Yamamoto.
"Jangan lakukan itu padanya!" teriak Gokudera pada Hibari.
"Minggir, atau kau juga akan terluka." Gokudera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Aku tidak akan pergi dari sini." Mukuro mendekat ke Gokudera yang berdiri gemetar di depan Yamamoto, lalu menarik dagu Gokudera supaya dia bisa menatap matanya.
"Berikan aku alasan kenapa aku harus melepaskan dia dari hukuman, manis." Mukuro menatap dengan tampang dan senyum sinis khasnya. Cup. Mukuro mengecup pipi Gokudera. Wajah Gokudera merah padam.
"Ka-ka-karena… karena… karena… "
"Karena apa?" Mukuro berbisik mesra di telinga Gokudera yang merinding tidak berkutik.
'Aku tidak bisa melawan orang ini, dia dewa –duh, kok ya masih mikir Mukuro itu dewa sih?-' pikir Gokudera.
"Hoi, dewa gadungan! Singkirkan tanganmu dari Gokudera!" Yamamoto berteriak dari belakang Gokudera, dia ingin maju menyerang Mukuro, tapi Gokudera menahannya.
"Karena aku menyukainya dan aku… aku… aku… tak mau kehilangan dia, aku tak mau dia… sampai terluka." Gokudera serasa lemas setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Hmmm… begitu ya. Aku terima alasanmu. Akhirnya ada cinta sejati di Namimori. Nah, moodku sudah kembali baik, aku bersedia mengabulkan satu permintaanmu."
'Benarkah? Aku ingin semuanya kembali normal, hari-hariku, dan semuanya.' batin Gokudera..
"Aku ingin, semuanya menjadi normal seperti semula, hari-hariku, Yamamoto, dan sekolah ini."
"Baiklah." Mukuro mengayunkan tongkatnya, seketika nami-chu tertutup kelopak sakura dan hanya Gokudera dan Mukuro yang terlihat di tebalnya kabut sakura.
"Ini tidak gratis, dan aku harus mendapatkan balasan yang setimpal." Kata Mukuro. Gokudera merasa tubuhnya membeku. Mukuro mencium Gokudera, seperti yang dia lakukan sebelumnya pada Hibari, dan tangannya di belakang Gokudera. Setelah beberapa saat, dan kabut mulai menipis, Mukuro melepaskan ciumannya pada Gokudera.
"Untuk ukuran remaja laki-laki, kau sangat cantik, Gokudera." bisik Mukuro, dan bersama pudarnya kabut sakura, memudar pula sosok Mukuro dari pandangan Gokudera, dan dia bisa bergerak lagi.
"Hah… hah… hah…" Nafas Gokudera hampir habis setelah ciuman tadi. Dewa satu itu nepsong banget. Tapi dia lega, sekelilingnya sudah normal, tidak ada lubang atau retakan baik di tanah, gedung, atau pohon yang hangus terbakar. [mungkin mukuro beneran dewa –pikir costae-]. Gokudera mengecek Ryohei.
"Lawn-head, kau tak apa-apa?"
"Tidak. Untunglah sudah selesai."
Gokudera melihat sudah tidak ada Hibari, dan dia berjalan menuju Yamamoto yang pingsan.
"Yakyu baka! Bangun!" Harap-harap cemas Gokudera menanti Yamamoto bangun.
"Mmmm…" Yamamoto membuka matanya. Gokudera bernafas lega. "…. Apa yang terjadi? Kok, tongkatku jadi katana? Kenapa aku tiduran di lapangan?" Yamamoto duduk, celingak-celinguk ke sekitarnya.
"Kau bermimpi." Jawab Gokudera singkat, dia berdori, meninggalkan Yamamoto yang masih bingung.
"Benarkah? Padahal dengan jelas aku mendengar Gokudera berkata dia menyukaiku dan tak mau kehilangan diriku."
Langkah Gokudera terhenti.
"Itu hanya mimpi, bodoh!" Gokudera melangkah pergi.
"Tunggu dulu, Gokudera!" Yamamoto cepat berdiri dan meraih tangan cowok cantik di depannya.
"Apa lagi?!" Tanya Gokudera kesal. "Kau sudah merepotkan tahu!" Gokudera memandang Yamamoto dengan tatapan kesal. Yamamoto terdiam, mengagumi betapa cantiknya orang yang dia sayangi, apalagi di dalam balutan seragam siswi Namimori.
"Tidak, hanya… kau cantik hari ini, Gokudera." Yamamoto mencium bibir Gokudera dengan cepat, lalu memeluknya. Gokudera serasa meledak, dia meronta-ronta minta dilepas dari pelukan Yamamoto. Yamamoto bukannya melepaskan, dia semakin memeluk erat Gokudera dan tertawa senang.
Penutup dari narrator : Begitulah akhir dari hari-hari aneh Hayato Gokudera, sepertinya impiannya untuk mendapatkan hari yang normal menurut dirinya akan sulit tercapai.
~ extra ~
Di manakah Mariko dan Tsuna ketika Yamamoto jadi kalap?
Mereka tentunya di luar area kemarahan Yamamoto, tepatnya di luar radius 20 meter Yamamoto. Mereka sembunyi di balik pohon.
DHUAR!! DHUAR!!!
Tsuna (T): seram…!
Mariko (M): seru!
Yamamoto menebas Ryohei
T: Awas, onii-san!!! –ternyata meleset- huff…
M: Sayang sekali luput…
GDEBUG! Hibari dan Mukuro jatuh dari pohon
T: Apa yang jatuh? –menyipitkan mata- Hi…Hibari-san?
M: eh, ada dua cowok keren!
Yamamoto dan Hibari siap-siap bertarung..
T: Jangan Yamamoto! Bahaya!
M: Yay!
Hibari n Yamamoto gak jadi bertarung gara-gara dihentikan Gokudera
T: Gokudera-kun,,,
M: Gokudera… kau keren sekali
Tiba-tiba ada kabut bunga sakura
T: Wah… kenapa tiba-tiba ada sakura??
M: Romantiiissss….
kabut mulai menipis
T: Kabutnya menipis… Haaa???? Gokudera-kun??? –syok lihat Gokudera yang dicium Mukuro-
M: Wah wah wah….
Semua kembali normal, Yamamoto sudah bangun, mencium Gokudera dan peluk Gokudera
T: Kasihan Gokudera-kun,,,
M: Sudah kuputuskan! Aku akan jadi pendukung shonen-ai!!! –bersemangat dengan mengepalkan tangan ke udara-
T: -menatap dengan pandangan hopeless ke orang yang berdiri di belakangnya-
Epilog dari costae
Bagi semua yang mengikuti dari chapter pertama, akhirnya misteri dewa cinta dan penyebab dewa itu muncul sudah diketahui 'kan? Dewa cintanya tak lain tak bukan Mukuro Rokudo, dan penyebab lain dewa cinta menampakkan batang hidungnya, karena kencannya dengan Hibari diganggu. ^^V.
Setelah menunggu saat yang tepat untuk melanjutkan, akhirnya bisa diselesaikan. Chapter terakhir ini aku selesaikan dalam waktu 2,5 jam siang-siang di lantai 2 rumahku yang super panas. Aku yakin, kalo aku gak ngidupin kipas angin, niscaya aku bakal jadi costae panggang!
Di sini aku nulis adegan MukuHiba dengan setengah sadar, begitu kesadaran sudah penuh, jejeritan deh, gak nyangka aku nulis begituan....
Mukuro: terimakasih costae, sesuai banget ama mauku.
costae: wah ada nanas mesum!
Mukuro: aku bukan nanas!!! -ngancem pake trisulanya-
costae: hiiiyyy.... ngomong2, kamu 'kan udah punya Hibari, kok masih ngembat Gokudera?
Mukuro: sapa suruhbikin dia jadi cantik gitu? Di mana ada barang bagus, di situ aku ada. Khufufufufufu...
costae: bener-bener nanas mesum!
Gokudera: F**king author!!! aku tak sudi jadi korban keusilanmu...!!!!
costae: maap Gokyun, tapi sekali-kali boleh 'kan bercandaan dikit. Nyatanya banyak yang suka kok, u jadi cewek.
Gokudera: tapi yang suka cowok!!!! aku itu cowok normal!!!!
costae: oh, iya toh...baru tahu. [bener2 minta dibunuh]
yamamoto: thanks ya cos, bikin aku jadian ma Gokudera
costae: siapa yang jadian? Aku g bikin kalian jadian kok.
Yamamoto: seenggaknya aku dibikin seneng di fanfic ini, biasanya u 'kan bunuh Gokudera.
costae: ya ya, g masalah
Terimakasih sekali lagi untuk semua pihak yang sudah mendukung, dan juga kalian semua yang rela meluangkan waktu me-review dan bagi siapapun yang sudah membaca fanfic ini, saya ucapkan terima kasih. Sampai jumpa di fanfic saya yang lain…
