OUR LAST WISH
- Part 03 -
Keesokan harinya, SMP Hojou…
Hinata sudah menunggu Satoko di depan gerbang. Sementara semua murid yang baru datang terus memperhatikan Hinata dan penasaran siapa atau apa yang ditunggunya. Saat Satoko menunjukkan batang hidungnya, barulah mereka tahu.
"Selamat pagi, Satoko-san." Sapa Hinata. Satoko memerah ketika Hinata memanggilnya dengan nama kecil.
"Eeh…se-selamat pagi…Hi-Hinata-san…" sapa Satoko. Hinata tersenyum.
"Ayo kita ke kelas." Ajaknya.
"Iya." Senyum Satoko.
Istirahat siang, Hinata mengajak Satoko makan bersama di halaman sekolah. Disana, Hinata sama sekali tidak menyentuh bekalnya dan malah mencicipi bekal buatan sendiri Satoko.
"Ng…Hinata-san tidak makan?" tanya Satoko.
"Tidak usah." Hinata menjawab dengan senyuman ringan seperti biasanya.
"Kenapa? Nanti sakit, lho." Ujar Satoko dengan raut wajah khawatir. Hinata tersenyum lebar.
"Aku…tidak suka masakan dari rumah. Lebih baik jatuh sakit daripada memakannya." Jawab Hinata sambil menatap jauh ke langit. Satoko jadi penasaran. Tapi ia memilih untuk tidak berkomentar.
"Satoko-san," panggil Hinata. Satoko segera sadar dan mengangkat wajahnya. "Y-ya?" Hinata menatapnya, lalu tersenyum. "nanti jadi pulang bareng, 'kan?" tanyanya. Satoko mengangguk kencang. "Tentu saja!" jawabnya semangat. Hinata tertawa kecil.
Sesuai yang dijanjikan, Hinata dan Satoko pulang bersama. Tapi kali ini, Hinata membawa Satoko ke sebuah tempat.
"Kita mau kemana, Hinata-san?" tanya Satoko. Awalnya Satoko tidak mau bertanya, sampai mereka terus berjalan hingga dewi malam menunjukkan dirinya di langit.
"…Satoko-san," Hinata masih sibuk menatap bulan purnama yang dengan cantiknya menghiasi langit malam. "y-ya?" sahut Satoko dengan gugup.
"…kamu tahu, ada sebuah dunia yang sangaat indah pada malam hari?" tanyanya sambil tersenyum riang.
"Eh…tidak. Dunia apakah itu?" balik Satoko bertanya. Hinata berbalik dan tersenyum polos.
"Itu adalah dunia tanpa kesedihan dan penderitaan. Dimana semuanya bersinar dengan indah. Yang ada hanya perasaan bahagia dan bersenang-senang!" jawab Hinata.
"Waah…dan dunia itu ada pada malam hari? Hanya saat malam?" tanya Satoko.
"Iya, soalnya, terlalu banyak manusia pendosa yang hidup di siang hari. Kalau mereka sampai tahu keberadaan dunia tanpa penderitaan itu, yang ada dunia itu malah hancur. Jadi adanya hanya pada malam hari. Dan yang tahu hanya manusia-manusia terpilih!" jawab Hinata.
"Hebat sekali! jadi Hinata-san termasuk salah satu dari manusia-manusia terpilih itu?" komentar Satoko dengan wajah takjub. Meski cerita yang baru saja dilontarkan Hinata tidak masuk akal, Satoko percaya 100% padanya.
"Iya! Nanti, Satoko-san juga jadi salah satu dari kami." Jawabnya. "Wah, senangnya!" senyum lebar Satoko yang manis muncul. Hinata senang melihat senyum Satoko. Padahal di kelas ia hanya bisa murung dan tersenyum pahit, tapi begitu bersama Hinata, Satoko selalu menunjukkan senyum terbaiknya.
"Nah, 'dunia' itu ada di tengah-tengah danau yang memantulkan sinar bulan purnama dengan sempurna. Sebentar lagi kita sampai di danau itu. Ayo.." Hinata mengulurkan tangannya pada Satoko. Wajah Satoko memerah padam. Lalu dengan senyum malu-malu, ia meraih tangan Hinata. Keduanya berjalan bergandengan tangan sambil menatap bulan purnama yang sangat indah malam itu.
Sesampainya di tepi danau…
Satoko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari danau yang bercahaya karena pantulan sinar bulan purnama yang terlihat jelas di air yang jernih. Sangat indah!
"Cantiknyaa…!" ujar Satoko penuh kagum. Hinata hanya tersenyum. "Benar-benar cantik! Hebaatt…!" Satoko tersenyum ceria ke arah Hinata.
"Ya 'kan? Nah…kamu bisa lihat pantulan bulan purnamanya?" tanya Hinata sambil berjalan dua langkah mendekati Satoko. Satoko mengangguk. "ada dimana?" tanya Hinata lagi. Satoko mengancungkan jari telunjuk tangan kanannya ke tengah danau.
"Di tengah-tengah danau…" jawab Satoko. Hinata mengangguk sambil tersenyum.
"Disitulah, 'dunia tanpa penderitaan' yang akan kutunjukkan padamu…bagaimana? Masih mau?" tanya Hinata.
Wajah Satoko memerah karena senang dan tidak sabar. Lalu ia mengangguk semangat. Hinata tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Satoko dan membawanya ke sisi kanan danau. Di sana terdapat sebuah perahu kecil yang tua tapi masih terlihat kokoh. Di dalamnya, ada bunga-bunga spider lily merah yang cantik.
"Ini…?" tanya Satoko. Hinata memberi isyarat agar Satoko naik duluan. Tentu saja Satoko mematuhinya.
"Apa kita akan ke tengah danau menggunakan ini?" tanya Satoko.
"Ya. Biasanya hanya aku sendiri yang naik. Ini kali pertama aku mengajak orang menaikinya." Jawab Hinata. Wajah Satoko memerah, karena bahagia yang meluap-luap.
"Bunga-bunganya cantik sekali…" Satoko meraih bunga-bunga di sekitarnya. "Kenapa pilih spider lily? Kukira Hinata-san suka bunga mawar…"
"Aku memang suka bunga mawar. Tapi aku benci bagaimana mawar mengingatkanku pada kenangan yang tak menyenangkan. Lagipula, bunga ini bisa dibilang 'kunci' ke 'dunia' itu." Jawab Hinata.
"Kenangan yang tak menyenangkan…?" gumam Satoko.
"…ya…seperti mimpi buruk yang terus menghantuiku." Ujar Hinata dengan wajah sedih. Satoko meraih tangan Hinata, dan tangan kanannya memegang pipi gadis cantik itu. Tanpa berkata apa-apa, ekspresi wajah Satoko yang khawatir itu sudah membuat hati Hinata tersenyum.
"Sakit kah…?" tanya Satoko.
"Tidak…sudah tidak lagi." Hinata menggeleng. "karena…ada Satoko di sisiku." Satoko sempat merona merah, tapi lalu ia tersenyum lega.
Kemudian keduanya mendayung sampan itu bersama-sama. Dengan tangan yang saling bergandengan, ke tengah-tengah danau yang bercahaya.
Begitu sampai di tengah-tengah, Hinata berbaring di atas sampan, dan mengajak Satoko melakukan hal yang sama. Sambil berbaring dan bergandengan tangan, keduanya tersenyum bahagia dan menatap bulan purnama yang memandikan mereka dengan cahayanya.
Saat itulah, Satoko menyadari apa maksud dari 'dunia tanpa penderitaan'. Yaitu puncak kebahagiaan. Hanya dengan berbaring dan bergandengan tangan di sampan yang mengambang di tengah danau dan disinari cahaya bulan purnama, bersama orang yang paling penting, saat-saat damai itulah, yang menjadi 'dunia tanpa penderitaan'.
