Warning : OOC, AU

Fiction rated : T

Main character : Sakura H.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto


Pekerjaan hari ini telah berakhir. Lega sekali rasanya. Benar benar hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tapi lumayan juga sih, dapat bayaran lebih. Dan sekarang saatnya untuk pulang.

Aku dan Sora berjalan menyusuri jalan yang biasa kami lewati. Sambil memandang indahnya bunga sakura yang sedang bermekaran.

"Sora"

"Hn?" jawabnya singkat.

"Nanti malam ada acara Hanami di rumah Seya-san. Mau ikut?"

"Boleh"

Baiklah! Bisa kupastikan acara malam pasti meriah!

-

Aku senang sekali bisa dating ke acara Hanami di rumah Seya-san. Pasti orang orang kaya semua yang diundang. "Aku harap ada lelaki tampan di sana." Saking senangnya aku jadi ketawa sendiri.

Aku jadi ingat kalau Hanami nanti harus memakai yukata. Kemudian aku mulai mencari yukata milikku di dalam lemari bajuku. Aku menggeser geser baju yang kugantung dalam lemari untuk mencari yukata milikku. Namun tidak ada. Aku berusaha mencarinya lagi di tumpukan baju. Namun tetap tidak kutemukan yukata-ku.

Entah mengapa tiba tiba aku berpikir kalau yukata milikku ada di kamar mendiang ibuku. Tanpa sadar aku sudah berdiri di depan pintu kamar. Tanganku pun bergerak untuk memutar knop pintu dan mendorongnya. Kamar yang sudah hampir 3 tahun tidak kubuka. Dalamnya masih bersih dan masih rapi. Aku jadi merindukan saat kedua orang tuaku masih hidup dulu.

Kakiku melangkah menuju lemari milik ibuku. Aku ingat betul kalau mendiang ibuku suka sekali mengoleksi yukata. Jadi saat aku membuka lemarinya, aku langsung melihat beberapa yukata yang ditumpuk dan dijejerkan di lemari gantungnya. Coraknya begitu indah dan bagus sekali. Tanpa sadar senyumku mengembang melihat tumpukan dan jejeran yukata di dalam lemari.

Tanganku bergerak cepat untuk mencari yukata yang kira-kira cocok untuk kupakai pada acara nanti. Setelah agak lama mencari, aku pun menemukan yukata yang cocok dengan keinginanku. Dengan corak bunga sakura. Yukata-nya didominasi dengan kelopak bunga berwarna pink, warna yang senada dengan warna rambutku. Sedangkan warna dasarnya adalah putih. Perpaduan warna yang bagus. Lalu aku mencari Obi yang sekiranya cocok dengan yukata yang akan kupakai. Setelah beberapa lama akhirnya aku keluar dari kamar itu sambil membawa yukata beserta obi-nya ke kamarku. Aku lalu menggantungnya di samping pintu kamarku. Setelah menggantungnya, aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Aku tidak mau terlihat kusam dan kumal.

-

Aku memutar diriku ke kiri dan kanan sambil melihat pantulan diriku di cermin. Dengan balutan yukata yang didominasi warna pink dari kelopak sakura dan dengan warna dasar putih. Dan sudah melilit obi berwarna pink juga. Lalu rambut pink-ku yang panjang ku kuncir satu di belakang. Kurasa sudah cukup sempurna untuk seorang Sakura yang tidak cukup pandai dalam hal merias diri.

Kakiku melangkah menuju tangga dan bersiap untuk berangkat. Aku bermaksud menengok keadaan Sora di dalam kamarnya. Namun saat aku akan membuka pintu kamarnya, suaranya mengejutkanku.

"Nee-chan lama sekali. aku sudah menunggu dari tadi" katanya dari arah ruang tamu di depan.

"Aku pikir kau belum selesai memakai yukata-mu" aku berjalan menghampirinya.

"Sudahlah." Jawabnya singkat. "Nee-chan…" ia tidak meneruskan kata-katanya. Dia hanya melihatku dengan sedikit terkejut.

"Ada apa? Ada yang salah dengan penampilanku?"

"Ti-tidak. Hanya saja Nee-chan terlihat… cantik." Aku bisa melihat rona merah di wajah Sora. Lucu sekali. "Ayo berangkat Nee-chan." Aku hanya menjawabnya dengan sekali angguk.

Saat sudah berada di depan rumah, aku terkejut dengan adanya sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di halaman depan rumah. Aku sedikit berlari menuju mobil itu. Saat kaca mobilnya diturunkan, aku dapat melihat sesosok wanita berambut hitam dan warna merah pada matanya dan senyum di wajahnya yang khas. Itu adalah atasanku.

"Seya-san. Kenapa anda datang kemari?" tanyaku. Ia lalu turun dari mobilnya dan menghampiriku.

"Tentu saja untuk menjemputmu." Penampilannya sungguh manis. Tubuhnya dibalut dengan yukata yang dipadu dengan warna merah-yang tidak terlalu mencolok dan sedikit corak berwarna orange, dan obi dengan warna orange yang melingkar di perutnya.

"Terima kasih, tapi anda tidak perlu repot repot kan?" kataku sambil membungkukkan badan.

"Bicara apa kau? Rumahmu dengan rumahku kan jauh. Kalau kau jalan kaki bisa bisa saat kau sampai di sana acaranya keburu selesai" katanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ayo masuk", ia membukakan pintu untuk Sora di bagian belakang, dan untukku di kursi sebelah supir.

"Terima kasih banyak" kataku lalu masuk ke dalam mobilnya.

-

-

"Waah! Aku tidak menyangka kalau di rumah Seya-san ada taman sakura yang luas." Aku dibuat kagum dengan sukses. Belum lagi melihat rumahnya yang besar itu. Seperti apa ya bagian dalamnya?

"Haha. Aku juga baru menyadari kalau ada taman sakura seluas ini di belakang rumahku."

"Baru?"

"Iya. Karena aku jarang sekali mengelilingi rumahku, jadi aku tidak tahu ada apa di luar sana. Ayo kita ke tempat acara." Ajaknya.

Benar-benar hebat! Taman sakura seluas ini, belum pernah aku melihatnya. Di situ ada beberapa tikar yang masih kosong dan juga ada beberapa yang sudah terisi. Aku masih melihat dengan terkagum kagum, sampai suara Seya-san mengejutkanku.

"Hei!" katanya sedikit berteriak. Ada seseorang pria menghampiri kami. Rambutnya hitam panjang dan dikuncir di belakang. Ia memakai yukata berwarna krem polos.

"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu pada Seya-san.

"Baik, kau sendiri?"

"Seperti yang kau lihat. Eh, kau bawa siapa?" katanya sambil mendekatkan wajahnya padaku.

"Oh, ini salah satu karyawan di Café milikku. Namanya Sakura. Sakura, dia Itachi, teman lamaku" katanya sambil mengenalkanku pada pria itu. Aku menyambut uluran tangan dari orang yang bernama Itachi itu.

"Salam kenal" katanya.

Beberapa orang pria lalu datang lagi. Kali ini dua orang. Yang satu rambutnya berwarna pirang panjang dan dikuncir di belakang. Namun orang yang satu lagi aku mengenalnya. Itu Sasori-san.

"Itachi. Kucari kau dimana mana ternyata di sini" kata pria berambut pirang panjang itu. Ia memakai yukata berwarna dasar putih dan ada garis garis berwarna hitam. Warna yang sedikit mencolok bagiku. "Oh ada Seya juga rupanya"

"Apa maksudmu dengan mengatakan 'ada Seya rupanya' hah? Tentu saja ada, karena aku yang mengadakan acara ini. Dasar kau" kata Seya-san dengan berkacak pinggang.

"Ahaha, bercanda kok. Ngomong ngomong, dia siapa? Mainan baru ya?" kata pria berambut pirang itu sambil menunjukku.

"Enak saja! Dia bukan mainan tahu!", kata Seya-san sambil memberikan senuah jitakan di kepala pria itu. "Sakura kenalkan, dia adalah Deidara, dan Dei! Ini Sakura" kulihat Seya-san sedikit melemparkan pandangan sebal pada pria itu dan sedikit memajukan bibirnya. Mukanya lucu. "Dan yang itu-"

"Loh? Sakura-chan?" sapa seseorang yang daritadi diam dan melempar pandangan kesana kemari.

"Sasori-san?!"

"Aih, ternyata kalian suda saling kenal ya?" kata Seya-san heran. "Ya sudahlah. Kalian bertiga tolong temani dia ya. Aku ada urusan sebentar. Perlakukan dia dengan baik! Dan Dei! Dia bukan mainan!" ah bagus. Sekarang Seya-san meninggalkanku di antara para lelaki yang mukanya terlihat sedikit mesum ini. Ah! Kecuali Sasori-san tentu saja.

"Tidak kusangka ternyata Sasori sudah kenal dengan Sakura ya?" kata Itachi.

"Ya, kemarin aku bertemu dengannya di Café. Permainan biolanya bagus loh" kata Sasori-san. "Benar kan? Sakura-chan?" ia menoleh padaku.

"Ti-tidak juga"

Aku terkejut saat melihat muka Deidara dekat sekali dengan mukaku. "A-ada apa?" tanyaku. Badanku refleks mundur.

"Tidak ada" katanya sambil meletakkan jari telunjuk tangannya di dagu dan matanya menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku semakin takut dengan sikapnya. "Kau ini lucu sekali Sakura" katanya sambil terkikik.

"Sudahlah Dei. Jangan mengganggunya kalau tidak mau dihajar majikannya" kata Itachi sambil menepuk bahu Deidara.

"Apa sih? Aku kan tidak mengganggunya. Sakura-chan, mau main sama sama?"

"E-" belum sempat aku menjawab, Itachi sudah memotong.

"Tidak" jawabnya singkat.

"Itachi pelit!" kata Deidara sambil menggembungkan pipinya. Seperti anak kecil. "Oya, dimana adikmu?"

"Entahlah. Sibuk dengan urusannya sendiri mungkin. Dia kupinjam dulu ya". Itachi menarik tanganku dan menyeretku pergi menjauh dari kedua orang itu. Dia membawaku ke bawah pohon sakura yang terdapat meja yang di atasnya ada makanan. "Ini, kau mau?" katanya sambil menyodorkan sepotong apple pie padaku.

"Terima kasih" aku menerima potongan apple pie itu.

Hening.

"Itachi-san, kenal dekat dengan kedua orang yang tadi?"

"Oh, Deidara dan Sasori?", aku mengangguk pelan. "Kami tergabung dalam sebuah band, kau tahu kan?"

"Oh, Sasori-san pernah bercerita padaku. Jadi band kalian anggotanya hanya tiga orang?" tanyaku.

"Ada empat sih. Deidara memegang drum, aku dan Sasori bermain dengan gitar, dan sebagai vokalis merangkap bass adalah adikku, Sasuke. Kau belum bertemu dengannya kan?", aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Tangannya mengambil 1 tusuk dango lagi dan memakannya. "Dia pasti sedang berkeliaran di sekitar sini. Atau mungkin sedang berada di atas pohon"

"Pohon?" aku mengeryitkan dahiku.

"Ya pohon. Itu kebiasaannya. Dia lebih suka menyendiri daripada berada di keramaian. Katanya berisik" kata Itachi sambil mengangkat kedua bahunya.

Suasana menjadi hening karena aku dan Itachi-san sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ia masih sibuk dengan kegiatannya yaitu ambil-makan kue dango yang ada di meja. Namun ada sebuah suara yang sudah tidak asing muncul dari belakang.

"Sakura! Kucari kau kemana mana ternyata disini" katanya terengah engah. "Kau juga Itachi, jangan mentang mentang baru kenalan lalu kau bisa seenaknya membawanya"

"Ha? Aku kan hanya minta ditemani untuk makan disini. Lagipula kenapa kau khawatir sekali sih? Aku tidak akan berbuat macam macam padanya", dia membuang satu tusuk lagi. Seya-san yang melihatnya langsung menegurnya.

"Hei! Siapa yang suruh kau buang tusuk dango ke tanah?!"

"Hehe", Itachi-san hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya.

"Huh, bersihkan semua sampah yang sudah kau buang di tanah itu. Dan Sakura, ayo ikut aku", Seya-san menarik tanganku dan membawaku ke dalam rumahnya. "Sakura, aku ada sedikit permintaan"

-

-

"Bilang saja ingin aku bermain biola"

"Hehe, tolong ya. Cepat ke sana, Sora sudah menunggumu" Seya-san mendorong tubuhku ke arah balkon. Aku melihat Sora di sana dengan sebuah piano. Ah, berarti aku akan bermain dengan Sora.

Kakiku melangkah menuju balkon. Balkonnya luas. Aku berdiri di samping Sora, menunggu Sora memainkan intro-nya. Saat intro dimainkan, pada ketukan ke 15 aku mulai bermain dengan biolaku. Walaupun hanya sebuah alunan musik sederhana yang berdurasi sekitar 8 menit. Aku harap para tamu bisa terhibur dengan permainan kami.

-

Permainan kami selesai. Aku membungkukkan badan dan menunggu tepuk tangan dari para tamu, namun yang ada hanyalah keheningan. Aku lalu berdiri dan melihat keadaan para tamu. Awalnya aku mengira mereka sibuk dengan aktivitasnya sendiri, tapi yang kulihat berbeda dari dugaanku. Wajah mereka seperti terpaku.

Sebuah tepuk tangan terdengar dari arah Sasori-san. Lalu para tamu ikut bertepuk tangan. Aku senang sekali. Ternyata mereka memperhatikan musik kami. Aku membungkukkan badan sekali lagi dan mengucapkan terima kasih kepada para tamu. Lalu permainan diteruskan oleh Sora. Aku berbalik dan melangkah masuk dan meletakkan biola yang dipinjamkan oleh Seya-san tadi.

Di dalam sudah ada Seya-san. Ia membawa dua ekor anak kucing. Yang satu berwarna putih, dan satunya lagi berwarna coklat-hitam-putih.

"Lucunya", aku memegang kepala anak kucing yang berwarna coklat-hitam-putih itu.

"Kau mau?"

"Eh? Boleh?", ia hanya menjawab dengan anggukan.

"Baiklah, aku taruh di kamarku dulu ya. Nanti kalau mau pulang aku bawakan." Dia membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya, yang sepertinya ada di lantai dua-karena aku melihatnya menaiki tangga. Aku menghela nafas dan melihat kelopak sakura yang berguguran dari dalam. Benar benar indah.

Aku mendengar suara orang menuruni tangga, sepertinya sedang terburu buru.

"Ah Sakura! Tolong tangkap kucing itu" teriaknya padaku. Aku yang sadar langsung mengejar kucing itu. Tanpa kusadari kucing itu berlari hingga halaman belakang. Tempatnya gelap, tapi masih ada sedikit cahaya. Aku menemukan kucingnya, tapi aku takut untuk ke sana. Tempatnya sangat gelap, membuat bulu kudukku berdiri. Ditambah lagi ada sebuah benda yang jatuh di atas kepalaku. Aku menengok ke atas dan aku melihat sebuah bayangan hitam di atas pohon.

"Kyaaa-" aku berteriak namun ada seseorang menutup mulutku. Aku takut sekali.

"Hei, tenanglah! Aku bukan hantu"

Aku meronta minta dilepaskan. "Si-siapa kau?" tanyaku. Aku menuju tempat yang ada cahaya supaya aku dapat melihatnya.

"Ah dasar. Kau menggangguku saja" katanya. Ia berjalan mendekatiku, tapi aku terus berjalan mundur. "Kenapa sih? Kau takut padaku?" dia mengangkat sebelah alisnya.

"A-aku tanya, k-kau siapa"

Tapi sebelum dia menjawab, ada seseorang yang datang. Ah tidak, empat orang.

"Sasuke?!" kata mereka berempat. "Ah Sakura, kau tidak apa apa kan?" Seya-san berlari ke arahku dan langsung memelukku.

"Ya ampun kau berlebihan sekali sih. Lagipula sikapmu pada Sakura seperti sister complex saja" celetuk Deidara dari belakang. Dalam hati aku setuju sih dengan Deidara.

"Memangnya kenapa? Kau iri?" Seya-san menoleh pada Dei-san. Dan aku dapat merasakan death glare milik atasanku yang satu ini.

"Ternyata kau di sini Sasuke." Kata Itachi.

"Hn", jawaban yang amat sangat singkat.

"Oh iya Sakura. Kucingnya mana?" tanya Seya-san setelah melepas pelukannya dariku.

"A, eh, itu di sana. Aku tidak berani mengambilnya. Seya-san bisa mengambilnya?" aku menoleh padanya.

"Tidak", ekspresinya lucu, benar benar membuatku ingin tertawa. Aku mati matian menahan tawa sampai tubuhku gemetaran. "Kau kenapa Sakura? Ada yang sakit?"

"Ti-tidak apa apa. Hanya saja, umph!" benar benar tidak tahan! Aku berbalik dan berjalan sekitar lima langkah, lalu aku menampar pipiku supaya hasrat ingin tertawaku hilang. Lalu aku kembali ke tempat mereka. "A-ada apa?", aku heran melihat mereka berempat saling menghimpit dan berbisik bisik. Aku melihat Seya-san sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sekilas aku mendengar suara Deidara yang dipelankan.

"Sa-Sakura, apa dia baik baik saja? Aku merasa ada yang aneh pada dirinya", perkataannya lalu disambut gelengan kepala dari yang lainnya. Dia mengatakannya cukup keras sehingga aku bisa mendengarnya. Orang bodoh.

"Aku dengar apa yang kau bicarakan Deidara-san", aku membuat suaraku terdengar horor, aku lalu menyalakan senter dan meletakkannya di bawah daguku, maksudku supaya kesan horornya terasa.

"Kyaaa! Ada hantu yang merasuki tubuh Sakura tuh! Pasti itu arwah gentayangan dari pohon sakura di rumahmu Seya! Kau harus tanggung jawab!" Ah dasar bodoh, kenapa mereka jadi teriak teriak seperti itu sih.

"Ah sudahlah. Semuanya aneh", aku mematikan senternya dan memberikan pada orang di belakangku. Eh? "Sejak kapan aku bawa senter?", bulu kudukku mulai berdiri. "Dan sejak kapan ada orang di belakangku?" Aku melihat pada Seya-san dan teman teman. Semuanya menunjukkan ekspresi aneh, dan mereka menunjuk padaku. Aku jadi semakin merinding. Aku menoleh pelan ke belakang, dan…

"Khu khu khu, aku adalah arwah yang akan mengambil nyawamu"

"KYAAA!!" aku berteriak dan berlari ke arah yang lainnya berdiri.

"Ahahaha! Kena kau Nee-chan"

"Sora! Kami kira kau benar benar arwah tahu! Jangan mengagetkan seperti itu dong", Seya-san sedikit berteriak. Aku tahu dia juga takut, badannya sedikit gemetar. Tunggu, Sora? Jadi orang yang mengagetiku dari belakang itu Sora?

"Dasar kau!" aku mengambil kerikil dan melemparnya pada Sora. "Ano, kucingnya bagaimana?"

"Aku takut. Itachi, tolong ambilkan dong" pinta Seya-san pada Itachi. Tapi yang dimintai tolong tidak ada di sini. Kurasa orangnya sudah ambil langkah seribu. "Dasar penakut. Dei-"

"Ah tidak. Jangan aku, Sasuke saja"

"Sudahlah, biar aku saja", Sasori-san lalu mengambil kucing itu di antara semak semak yang gelap. "Nih", dia menyerahkannya pada Seya-san.

"Terima kasih." Entah mengapa, aku merasa aneh pada sikap Seya-san kepada Sasori-san. "Baiklah ayo kemba- KYAAA!!" Seya-san berteriak.

"A-ada apa?"

"Kakikuu!! Ada sesuatu!" ada sebuah tangan yang memegang pergelangan kaki Seya-san.

"Heeii…jangan injak.. injak aku…"

"A-arwaah!! Larii!!"

-TBC-

Khu khu. Ending yang aneh. Jadi gak nyambung sama inti ceritanya nih =__=. Lagian kenapa jadi mendadak humor sih?? Tak apa lah. Mari kita sedikit mengungkap kebenaran.

Seya : Hei Itachi! Kau kabur ya tadi?

Itachi : Hehe, abisnya takut sih.

Sakura : Penakut.

Itachi : -nyiram sup ke Sakura + Seya-

Sora : Eh, ngomong ngmomong, Sasuke mana? Ikut kabur juga?

Itachi : Nggak tuh. Tadi aku lari sendirian kok.

Sakura : Lah? Terus, Sasukenya di mana?

Sora : Jangan jangan, yang tadi narik kakinya Seya itu Sasuke. Bukan arwah.

Sasuke : Tegaa~ udah diinjek ijek, ditinggalin pula. Hikssu~

Sora + Seya + Sakura : (suara hati) Ternyata benar!

Itachi : -cengo-

REVIEW!