Warning : OOC, AU

Fiction Rated : T

Main Character : Sakura H.

Pair for this chapter : ItaSaku

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto


"Hei Sakura-chan! Sini", seseorang memakai polo shirt berwarna merah dan ada gambar Bugs Bunny di bagian depannya melambaikan tangan padaku. Kakiku lalu melangkah menuju meja orang yang memanggilku tadi.

"Ada apa?" kataku saat aku sudah tiba di meja mereka.

"Hei! Kalian tahu peraturannya kan? Dilarang keras mengganggu karyawan yang sedang bekerja!" suara seorang wanita mengagetkanku. Suara itu berasal dari belakang. Seya-san datang dan langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.

"Pelit amat sih? Masa' manggil saja tidak boleh?", orang itu menggembungkan pipinya dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi yang tadi ia duduki yang juga menyebabkan rambut pirang panjangnya sedikit melambai.

"Memanggil itu sama saja dengan mengganggu!", Seya-san berkata sambil menekankan suara pada kata 'mengganggu'.

"Hei Seya. Bajumu-"

"Ada apa dengan bajuku?", Seya-san memotong kalimat Itachi-san yang belum selesai.

"Dengarkan dulu dong sampai aku selesai bicara" Itachi-san menyipitkan matanya. "Bajumu itu, kau buat sendiri?"

"Ah? Oh, iya kubuat sendiri. Memangnya kenapa?"

"Keren!" ucap Itachi-san bersemangat.

Memang iya sih. Tapi menurutku terlalu ribet. Bajunya ada tiga lapis. Dalamnya dipakaikan tank top berwarna hitam. Lalu dipakaikan baju berkerah dengan warna dasar putih dan corak berwarna pink yang sedikit tidak beraturan, dengan kancingnya yang dibiarkan membuka. Dan vest berwarna hitam di bagian luarnya dibiarkan terbuka-tidak dikancingkan. Pada bagian lengannya di singsingkan tidak sampai siku. Pada tangan kanannya dipakaikan sarung tangan berwarna zebra-hitam putih. Dan tangan kirinya hanya dipakaikan sebuah gelang dan ada sebuah rantai yang menghubungkan gelang itu dengan cincin yang dipakainya di jari tengah.

"Keren sih. Tapi apa tidak panas? Ada tiga lapis kan?", seseorang berambut hitam menjulang seperti pantat ayam, ehm itu menurutku saja, angkat bicara.

"Tidak juga. Nyaman kok"

"Celananya juga keren", Deidara-san mulai ikut berbicara.

Lagi-lagi aku sependapat dengan mereka. Seya-san memakai celana pendek-kira-kira 15 cm di atas lutut- berwarna merah dan dengan sabuk yang melilit di pinggangnya. Lalu sekitar 5 cm di atas lutut Seya-san memakai kain ketat yang berwarna zebra-hitam putih. Lalu dari bawah lutut dipakaikan celana jeans hitam-yang sudah dipotong menjadi setengah. Dibagian atasnya dibuat seperti sabuk, lalu ada resleting di bagian depan, yang hanya dibuka sampai sebatas mata kaki (dari jari sampai mata kaki maksudnya). Dan sepatunya, high heels berwarna hitam.

"Ah sudahlah. Kenapa kalian jadi membicarakan pakaianku sih. Aku pergi dulu" Seya-san membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kantornya. "Sakura kembali bekerja"

"Ah, baik", aku akan beranjak dari meja itu untuk kembali bekerja. Namun tangan Itachi-san menarik tanganku dan menyelipkan sebuah kertas kecil di tanganku. "Apa ini?"

Itachi-san menjawab sambil berbisik, "nanti kirim e-mail padaku ya"

"I,iya"

-

-

Pekerjaan hari ini sungguh melelahkan. Benar-benar membuat seluruh badanku lelah. Sesampainya di rumah, akupun langsung menuju kamar mandi untuk menghilangkan seluruh lelah di badanku ini.

Setelah selesai mandi aku beranjak menuju kamarku di lantai dua. Aku berjalan dengan langkah gontai. Seakan badanku sudah tidak kuat lagi menahan badanku untuk berdiri.

Kakiku sampai di depan pitu kamarku. Aku pun masuk dan langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Benar-benar melelahkan. Rasa lelah ini memaksaku untuk menutup mata. Namun aku teringat dengan percakapan dengan Itachi-san tadi siang. Aku lalu mengambil kertas yang diberikannya tadi di dalam saku jaketku.

Jariku bergerak cepat menekan tombol-tombol pada keypad HPku dan mengirimnya pada alamat yang tertera di atas kertas. Sambil menunggu balasan, aku merebahkan kembali tubuhku. Tak sampai lima menit balasan dari Itachi-san datang.

Kami saling mengirim-membalas pesan. Hingga akhirnya Itachi-san mengajakku makan siang besok.

Aku ragu untuk mengiyakan. Kalau seandainya besok Seya-san tidak mengijinkanku keluar saat istirahat makan siang, aku tidak tahu harus berkata apa pada Itachi-san.

Setelah berpikir agak lama, akhirnya aku membalas pesan dari Itachi-san itu.

-

"A-ano Seya-san"

"Ada apa Sakura?", Seya-san bertanya tanpa melepaskan pandangannya pada kertas yang dipegangnya.

"Istirahat makan siang nanti apakah saya boleh makan siang di luar?" Semoga saja dia mengiyakan.

"Hn? Makan siang dimana? Bersama siapa?", Seya-san bertanya lagi. Tangannya masih sibuk membolak balik lembaran yang dipegangnya.

"A-ano, saya diajak makan siang oleh Itachi-san", aku ragu ragu untuk mengatakan hal ini.

Mendengar perkataanku barusan, Seya-san lalu menatapku. "Itachi? Tumben"

Aku menunduk, tidak berani menatap matanya. "I, iya. Kalau tidak boleh juga ti-tidak apa-apa kok". Aku berpikir dia pasti tidak memperbolehkanku keluar.

Tapi, pikiranku itu salah.

"Ah, Sakura. Tidak mungkin aku melarang seseorang yang akan pergi berkencan kan?"

Aku langsung mengangkat kepalaku dan memandang Seya-san dengan pandangan aku-tidak-berkencan-dengan-Itachi. Sepertinya Seya-san salah pahan.

"Dasar kau Sakura. Tidak usah malu malu", Seya-san tertawa.

"Bu-bukan aku bermaksud untuk malu-malu. Tapi aku memang tidak berkencan dengan Itachi-san!"

"Tidak? Lalu kenapa mukamu merah?", Seya-san tertawa lagi. Aku benar benar salah tingkah.

"Ka-kami hanya akan makan siang bersama! Itu saja!", aku lalu mengalihkan pandanganku ke sudut ruangan.

"Ahaha, ya ya baiklah. Kalaupun kau mau berkencan dengannya pun tidak akan kularang kok. Sudah sana kembali kerja"

Aku memajukan bibirku dan menyipitkan mataku.

"Apa lagi? Kalau tidak keluar dalam tiga detik kupotong gajimu!"

"Ba-baik! Permisi!", badanku langsung berbalik menuju pintu dan segera keluar dari tempatnya.

Aku menghela nafas. Kenapa aku jadi diusir sih? Menyebalkan.

Mataku tidak sengaja menangkap sesosok pria yang sedang duduk sendirian di pinggir jendela sambil memainkan handphonenya. Orang itu sudah tidak asing lagi bagiku.

Aku berjalan mengendap endap-bermaksud untuk mengagetinya dari belakang. Dan aku sukses berada di belakangnya dan ia juga tidak menyadari kehadiranku.

Orang itu menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar, melihat sakura yang sedang bermekaran dengan indahnya. Sepertinya sedang melamun. Aku berdiri di sampingnya lalu berkata, "Sedang melamun ya?"

Sepertinya perkataanku membuatnya kaget dengan sukses. Ia berjingkat dan menoleh padaku. "Sa-sakura-chan. Kau mengageti saja"

"Hihi, habisnya Sasori-san terlihat sedang melamun begitu. Kebanyakan melamun itu tidak baik lho. Bisa membuat sakura tidak akan mekar dengan sempurna"

"Hah? Apa hubungannya?", Sasori-san sedikit sweatdrop dan kembali melihat pada layar handphonenya.

"Melihat apa?", aku mencoba untuk sedikit melihat apa yang ada di handphone Sasori-san sampai mukanya berubah menjadi lesu begitu.

Dan sepertinya Sasori-san sudah melupakan keberadaanku, "Sa-Sakura! Kau masih disini?". Benar kan. "Sudahlah, kau tidak perlu tahu", ia menutup handphonenya. Aku sempat melihat ada sebuah foto. Disana ada Sasori-san dan seorang wanita. Eh, tunggu. Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana ya? Ah sudahlah.

-

Akhirnya, waktu makan siang tiba juga. Entah mengapa aku merasa sedikit tidak sabaran untuk acara makan siang kali ini dan aku sedikit berdebar-debar. Apakah karena aku akan diajak makan di restaurant mahal, hah? Restaurant mahal? Yakin sekali kau sakura! Err- atau karena yang akan mengajakku adalah Itachi-san. Tunggu, kenapa aku harus merasa berdebar-debar karena yang akan mengajakku adalah Itachi-san? Sudah jelas kan aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Sudahlah lupakan.

Aku menunggu Itachi-san sambil memandang jalanan yang sedikit diwarnai oleh warna pink dari kelopak sakura. Sepertinya waktu sakura mekar sudah hampir habis.

Pandanganku tertuju pada seorang anak kecil yang sedang berlari di jalan. Wajahnya ceria sekali. Tapi sepertinya kakinya tersandung sesuatu hingga membuatnya jatuh dan menangis. Ingin rasanya aku berlari keluar dan menolong anak itu, tapi dua sosok yang menghampiri anak itu membuatku mengurungkan niatku. Mereka orang tua dari anak itu. Aku jadi sedikit teringat dengan kenanganku bersama ayah dan ibuku. Dadaku rasanya sakit. Perasaan rindu yang mendalam ini sudah tidak bisa aku obati. Semuanya karena kesalahanku. Dadaku semakin sesak dan tidak terasa mataku mulai panas.

"Sakura?", sebuah suara membuatku terkejut. Aku cepat-cepat mengusap air mataku yang keluar.

"Itachi-san, sudah lama?", tanyaku dengan nada yang kuusahakan supaya tidak terdengar bergetar.

"Kau, menangis?"

"Ti-tidak. Hanya kemasukan debu", aku kembali mengusap mataku dan pipiku yang sempat basah karena air mata.

"Kau yakin?", aku hanya menjawab dengan sekali anggukan. "Baiklah, mau berangkat sekarang?"

"Iya", aku berdiri dan berjalan di samping Itachi-san. Kami berjalan menuju pintu keluar, namun ada seseorang yang wajahnya agak mirip dengan Itachi-san datang dan berpapasan dengan kami.

"Sasuke? Ada apa kau ke sini?", Tanya Itachi-san. Aku baru ingat kalau dia adalah Sasuke, adik Itachi-san yang diceritakan kemarin. Aku tidak menyangka, kalau wajahnya lumayan juga. Mengingat saat aku pertama bertemu dengannya di bawah pohon saat hanami, wajahnya tidak terlalu jelas terlihat karena sedikit gelap.

"Hanya ingin makan siang. Memangnya tidak boleh?"

"Ah tidak, hanya saja kau kan jarang berada di tempat yang sedikit ramai kalau tidak dipaksa", Itachi-san menggaruk kepalanya.

"Kau sendiri mau kemana dengannya", mata onyx-nya bertemu dengan mata emerald milikku. Tatapan matanya dingin.

"Hanya ingin makan siang di luar. Sudah ya Sasuke", Itachi-san menggandeng tanganku dan berjalan menjauhi Sasuke. Aku sedikit melihat ke arah Sasuke. Dan mata kami bertemu lagi, namun pandangannya berubah. Pandangannya seperti mengekspresikan kalau dirinya kecewa, mungkin.

"Ano, Itachi-san. Apa tidak apa-apa meninggalkan adikmu sendiri?", aku bertanya pada Itachi-san.

"Tidak apa-apa. Dia sudah besar, bisa menjaga dirinya sendiri", jawab Itachi-san. Padahal bukan itu jawaban yang kuinginkan.

Itachi-san membawaku ke sebuah restaurant cepat saji dengan mobilnya. Ia tidak memarkir mobilnya, namun berhenti dibagian drive thru.

"Kau mau pesan apa Sakura?", tanyanya.

"Sandwich saja, dan segelas soda", jawabku.

"Sandwich 2 dan soda 2", Itachi-san berkata pada petugas restaurant.

"Kita akan makan dimana Itachi-san?", tanyaku.

"Ini", Itachi-san menyerahkan bungkusan yang berisi makanan yang tadi sudah dipesan padaku. "Di taman" jawabnya singkat dan langsung menjalankan mobilnya menjauh dari restaurant itu.

Itachi-san berhenti pada sebuah taman yang disekalilingnya banyak pohon sakura yang sudah mulai gundul. Kami duduk di sebuah kursi dan mulai memakan sandwich kami masing masing.

Keheningan tercipta. Aku benci suasana seperti ini.

Entah siapa duluan yang memulai, tiba tiba kami sudah larut dalam pembicaraan. Kami berdua saling menceritakan diri masing masing. Ternyata Itachi-san lumayan enak untuk diajak mengobrol.

Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju sebuah pohon sakura. Aku masih dapat mencium aroma sakura yang hampir habis masa mekarnya. Baunya menggelitik hidung.

"Sayang sekali ya, bunganya sudah mulai habis", suara Itachi-san terdengar dari belakang.

"Iya", aku tersenyum memandang sakura yang masih ada di pohon. Aku berjalan menyusuri taman itu. Mataku tidak bisa lepas dari kelopak kelopak sakura yang berjatuhan.

"Kalau kau berjalan seperti itu kau bisa jatuh Sakura", Itachi-san memperingatkanku.

Aku tidak menghiraukannya dan terus melihat ke atas. Dan ternyata, tanpa sadar kakiku sudah tidak menginjak pada tanah. Aku jatuh!

"Kyaaa", aku merasa tanganku ditarik ke atas. Aku berpikir tidak akan jatuh, tapi anggapanku salah. Ternyata aku masih jatuh juga di bawah.

Aneh, badanku tidak sakit. Lagipula kenapa tanahnya jadi empuk seperti ini.

Aku membuka mataku dan aku melihat Itachi-san berada di bawahku. Ternyata aku jatuh menimpanya. Wajahku dan wajahnya dekat sekali, hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya. Aku dapat merasakan kalau wajahku mulai memanas. Dengan segera aku menyingkir dari tubuh Itachi-san.

"Kau tidak apa-apa Sakura?"

"Ti-tidak apa apa", aku memalingkan wajahku supaya Itachi-san tidak dapat melihat rona merah di wajahku.

"Sudah kubilang kan, kalau kau berjalan seperti itu kau akan jatuh", Itachi-san berdiri dan menghampiriku. "Bisa berdiri?", ia menjulurkan tangannya padaku dan aku menyambutnya.

"Terima kasih"

"Jam makan siang sudah habis kan. Ayo, kuantar kau kembali", aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Jantungku berdebar debar sejak tadi. Tidak mau berhenti. Uh, perasaan apa ini.

-To Be Continued-


Yahahai! Akhirnya chap 4 selesai! Fufufu

Ternyata kalian yang dari awal menebak kalau pairnya hanya SasoSaku salah! Muahaha muahaha –digaplok-.

Gomen ne, banyak yang minta pair SasuSaku. Sebenernya sih emang ada niatan ngasih beberapa chap buat pair SasuSaku, Cuma belom ada kesempatan, hehe. Tapi tenang saja, pasti muncul kok SasuSakunya.

Jya matta! Sampai ketemu di chap berikutnya! -cium jauh ala Meer Campbel-


Review please?