Sebelum masuk pada inti cerita, perkanankan saia untuk membalas review para readers yang sudah masuk. Dan sebelumnya saia minta maaf kalau review di chapter 3 nggak saia bales.

Hyuu Mizu-Hime : iyah makasi. Bajunya Seya itu sebenernya aku ambil dari char Audition punya saia. Kyahahahaha. Baguslah kalo dibilang bagus XD. More and more? Nggak tau yah -dibacok-. Habisnya si Sora itu lagi susah ditemuin, mentang mentang uda nggak sekolah dia berkelana sampai ke perut bumi. Okeh tengs uda ripiu!

Sabil suka Auel-chan : kamu suka Auel? 0.o si cerewet itu? 0.o -dibakar-. Iyah, yang ngedeskrip aja juga ribet -dikemplang-. APAH?! ITACHI CANTIK?! Muka keriput gitu dibilang cantik?! Oh My Goat!(??). Okeh tengs uda ripiu!

Kumiko a.k.a Panda : udah kok! Kan kemaren aku yang jadi saksi mereka naik pangkat sampe jadi penjahit baju gembel -dibom-. SasoSaku? Mending juga SasuSaku! -dilempar granat-. Miss type? Nggak deh, kayaknya emang mata kau ajah yang perlu diganti sama mata boneka barbienya Sasori -dibacok Panda- okeh tengs uda ripiu!

Aika Uchiha : SasuSaku? Di chap ini ada kok, walopun Cuma seujung kuku doang -disepak- Nggak ding! Tunggu aja di chap chap berikutnya. Kalo nggak chap 6 ya chap 7. Kalo masih belom ada, mungkin ada di chap 8 ato 9, yah begitulah -digorok-. Okeh tengs uda ripiu!

Uchibi-nara : umm, ya udah tulisan To Be Continued-nya jangan dibaca aja biar ga ngeganggu. Ciakakaka. Iya deh, chap ini ntar gak saia tulisin To Be Continued, tapi saia tulis TBC. Yang penting bukan To Be Continued kan? -dimutilasi-. SasuSaku pasti ada kok. Ngapain Saso ke café Seya tiap hari? Ya buat makan lah. Masa mau tidur di café punya orang? -dibunuh-. Okeh tengs uda ripiu!


Summary : Ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arahku. Orang itu lalu berjalan dengan menenteng pisau dapur di tangan kanannya dan pisau daging di tangan kirinya. Ada percikan darah di bajunya. Kedua tangannya bersimbah darah…


Warning : OOC, AU

Fiction Rated : T

Main Character : Sakura H.

Genre : Romance/Horor

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto


"Sakura, ada yang ingin kubicarakan. Bisa ke ruanganku sebentar?", kata Seya-san.

"Baiklah", aku mengikuti Seya-san yang mulai berjalan ke ruangannya. Seya-san terlihat lebih cantik dengan gaya rambutnya yang sekarang. Rambutnya dicat dengan warna kuning menyala, dan dibiarkan tergerai. Penampilannya manis.

Saat tiba di ruangan Seya-san, aku juga melihat ada pegawai-pegawai yang lainnya. "Karena mulai besok adalah hari libur bersama, saya sebagai pemilik café memberikan kalian kebebasan untuk berlibur selama satu minggu." Para pegawai yang lainnya terlihat senang, aku bisa melihat mereka semua dengan wajah yang cerah dan senyum yang mengihasi wajah mereka. Seya-san memang baik, walaupun tanggal merah di kalender hanya tiga hari, tapi Seya-san memberikan libur selama satu minggu. "Jika sudah jelas, kalian semua bisa kembali bekerja dan cepat selesaikan tugas kalian masing-masing, karena hari ini kita akan tutup lebih awal", Seya-san melanjutkan.

"Terima kasih banyak", semua pegawai membungkukkan badan pada Seya-san dan satu-persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan. Aku pun juga akan keluar dari ruangan itu, tapi Seya-san mencegahku.

"Tunggu Sakura. Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua denganmu. Duduklah", katanya.

"Ada apa?", aku menuruti kata Seya-san untuk duduk.

"Begini, besok aku akan mengadakan acara menginap di villa milikku bersama yang lainnya. Aku bermaksud mengajakmu dan Sora. Jika kau tidak keberatan, kau mau ikut?"

"Kalau saya tidak keberatan, tapi Sora sepertinya belum sembuh. Aku tidak yakin dia bisa ikut", jawabku.

"Jika hanya kau juga tidak apa-apa"

"Ta, tapi Sora. Siapa yang akan mengurusnya jika saya tidak ada?"

"Benar juga. Yah aku juga tidak berhak untuk memaksamu", sepertinya Seya-san sedikit kecewa.

"Ano, mungkin nanti akan saya pertimbangkan lagi", aku berusaha untuk sedikit menghiburnya.

Sepertinya sukses. Wajahnya kini berseri-seri. "Benarkah? Baiklah, kuharap kau bisa ikut"

-

-

"Aku pulang"

Sepi. Tidak ada jawaban.

Mungkin Sora sedang tidur, pikirku. Aku berjalan menuju kamarnya. Sora sedang terbaring di ranjangnya. Aku masuk ke kamarnya sekedar untuk memeriksa keadaannya. Aku menyentuh dahinya, ternyata masih panas.

Kemudian aku naik ke lantai dua, menuju kamarku. Aku mengganti semua pakaianku, tanpa mandi sebelumnya. Kalian pikir aku jorok? Enak saja. Aku sudah mandi di tempat Seya-san tadi.

Setelah itu, aku bersiap untuk tidur. Namun aku mendengar seperti ada yang mengetuk pintu kamarku. Tanpa ragu aku membuka pintu dan tubuh Sora menimpaku dengan sukses.

"So, Sora? Kau kenapa?", aku berusaha bangun.

"Ne-saan, dingin, ukh. Aku tidak kuat." Aku memang merasa kalau badannya sedikit gemetaran, aku menyentuh dahinya, masih panas. Aku berusaha memindahkan tubuh Sora yang ada di lantai ke kasurku dengan susah payah. Kemudian aku turun untuk mengambil es batu dan sapu tangan untuk mengompres. Aku harap Sora bisa segera sembuh dengan di kompres.

Tapi saat aku meletakkan sapu tanganku di dahinya, ia menolak.

"Tidak mau, dingin", apa boleh buat.

"Malam ini kau tidur saja di kamarku, aku akan menjagamu", kataku sambil mengusap kepalanya. Sora langsung memejamkan matanya. Aku duduk di lantai dengan bersandarkan kaki ranjangku. Rasa lelah setelah bekerja membuat mataku terasa sangat berat hingga tanpa kusadari aku sudah terlelap.

Namun aku terbangun lagi, karena Sora mengagetkanku. Kedua tangannya melingkar di leherku.

"Sora?!"

"Sebaiknya Nee-san tidur di kasur, bisa masuk angina kalau tidur di lantai", kata Sora dengan muka memerah.

"Bagaimana denganmu?"

"Tidak apa, aku bisa geser kok", aku menuruti kata katanya. Tanpa piker panjang aku naik ke ranjang dan langsung merebahkan diriku di sebelah Sora. Tak sampai tiga detik, Sora sudah pulas. Aku tersenyum dan tanganku membelai rambut merahnya yang sedikit berantakan. Aku tertidur lagi.

Lagi-lagi Sora mengejutkanku. Sora tiba-tiba memeluk tubuhku.

"Nee-san dingin", katanya dengan suara yang memelas. Aku jadi tidak tega melihatnya. Tanganku lalu membawa Sora kedalam pelukanku. Aku berusaha untuk menghangatkan tubuhnya. Setidaknya bisa membuatnya tidur dengan tenang. Sora semakin menenggelamkan kepalanya pada dadaku. Tangan kananku mengusap rambutnya, terasa halus. Kalau sedang sakit seperti ini Sora benar-benar manja.

"Sora", aku tahu kalau Sora belum benar-benar tertidur. Dan memang benar. Sora menjawab panggilanku hanya dengan 'hng' saja.

"Besok Seya-san mengajakku untuk berlibur selama 3 hari di villa miliknya. Apa kau tidak apa apa kalau kutinggal sendirian?"

Sora hanya terdiam. Kupikir dia sudah benar-benar tidur. Tapi sepertinya salah. "Jika besok aku sembuh pergilah, jika belum nee-san harus tetap di rumah," jawabnya. Aku hanya bisa tersenyum.

-

"Sora, aku berangkat dulu ya", kataku sambil mengangkat tasku.

"Tunggu nee-san. Ada yang ketinggalan," katanya sambil memberikan sebuah bungkusan padaku.

"Terima kasih ya. Hati-hati di rumah ya Sora"

"Sudah siap Sakura-chan?," Sasori-san muncul dari pintu depan. Ya, dia menjemputku. Aku senang sekali.

"Iya, dah Sora," aku melambaikan tangan pada Sora dan berjalan keluar. Sora hanya tersenyum. Sebenarnya aku juga tidak tega menginggalkannya sendiri. Tapi dia sendiri yang minta ditinggal di rumah. Semoga saja Sora baik-baik saja.

Di luar, Sasori-san membantuku untuk membawakan tasku yang memang sedikit berat. Hari ini dia terlihat tampan. Dengan memakai kacamata hitam yang diletakkannya di juga menggunakan dalaman berwarna coklat dan di luarnya ia mengenakan jaket berwarna coklat gelap. Dan itu sukses membuatku terkesima. Ditambah lagi saat mengemudi, rambutnya ditiup angin. Ya Tuhan, kuatkan diriku selama aku berada di samping makhluk Mu ini.

Sasori-san membawaku ke rumah Seya-san. Sepertinya semuanya berkumpul di sini dan akan berangkat bersama-sama. Setelah tiba di rumah Seya-san, aku bisa melihat ada dua buah mobil sedan yang sedang diparkir di halaman rumah Seya-san. Salah satu dari kedua mobil itu aku mengenalinya. Sedan berwarna putih milik Itachi-san. Lalu ada sebuah sedan hitam mengkilap dengan kap terbuka. Milik siapa ya kira-kira?

Saat aku turun dari mobil Sasori-san, ada seseorang yang mengagetiku dari belakang. Ia menutup kedua mataku dengan kedua telapak tangannya. Aku tahu. Orang yang selalu iseng adalah…

"Deidara-san, hentikan," kataku.

"Kenapa kau bisa tahu kalau ini aku?" dia menggembungkan pipinya. Seperti anak kecil saja.

"Baiklah, karena sudah berkumpul semua, lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum hari gelap kita harus sudah sampai," suara Seya-san terdengar dari arah pintu rumahnya. "Dan, karena aku sedang malas menyetir, jadi aku akan berangkat bersama dengan Itachi"

"E-eehh! Tidak bisa Seya! Aku duluan! Aku yang akan berangkat bersama Itachi, iya kan Itachi?" Deidara-san menyahut.

"A-apa? Aku tidak ingat kalau kau bilang akan berangkat bersamaku", Itachi-san berusaha menghindar, sepertinya.

"Cih curang! Ya sudah aku dengan Sasori saja", Deidara melangkah dengan menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam mobil Sasori-san. Ia langsung duduk di samping kursi kemudi. Dan membanting pintunya.

"Apa yang kau lakukan bodoh! Kau bisa merusak pintunya tahu!", Sasori-san kalap. Jika aku jadi Sasori-san, akupun akan melakukan hal yang sama.

"Jadi kau berangkat bersama Sasuke ya, Sakura," kata Seya-san yang sedang menyandarkan punggungnya di mobil Itachi-san.

Sasuke-kun? Manusia super duper dingin itu? Oh ayolah, apa tidak ada pilihan lain?

"Jika kau tidak mau, aku tidak keberatan tidak satu mobil denganmu," katanya dingin, seolah bisa membaca pikiranku.

Aku berusaha keras mencerna kata-kata Sasuke-kun barusan. Dia tidak keberatan jika dia hanya di mobil sendiri, berarti aku tidak ada di sampingnya, dan itu artinya aku harus mencari tumpangan lain. Aku melihat mobil milik Itchi-san, sepertinya penuh oleh barang-barang milik Seya-san. Lalu aku melihat ke mobil Sasori-san. Ukh, apa itu? Perahu karet? Banana boat? Apa saja sih yang akan mereka lakukan di villa milik Seya-san? (Sakura sweatdropped)

Tin tiin. Suara klakson mobil mengagetkanku.

"Kau mau ku tinggal hah? Cepat naik" perintahnya.

-

Sudah kuduga. Satu mobil dengan Sasuke-kun benar-benar tidak nyaman. Selama perjalanan diam terus. Aku jadi canggung. Dasar manusia kulkas!

Tapi saat melihatnya mengemudi sepertinya sedikit keren juga. Rambutnya jadi tertiup angin. Wajahnya juga terlihat sangan menikmatinya. Tapi sayangnya, dia bukan tipeku. Aku benci dengan orang yang dingin seperti dia.

"Ini," Sasuke-kun mendadak memberikan sebuah bungkusan kecil padaku. Permen? Rasa strawberry pula.

"Te-terima kasih," aku jadi canggung kan. Ternyata Sasuke-kun ada sisi perhatiannya juga, walau hanya sedikit sih.

Sepertinya sudah empat jam, dan sepertinya juga belum ada tanda-tanda villa milik Seya-san sudah dekat. Aku menghela nafas panjang. Perjalanan ini membuatku lelah. Aku memundurkan sedikit kursi yang kududuki, supaya aku bisa tidur. Tidak sampai tiga menit, aku sudah pergi ke alam mimpi.

Aku bisa merasakan kalau udaranya semakin sejuk. Aku membuka mataku, dan mataku menangkap sebuah panorama yang bisa membuatku meloncat kegirangan. Ah oke, terlalu berlebihan ya? LAUT! Kyaa senangnya! Aku sudah lama ingin sekali pergi ke laut. Dan sekarang laut itu ada di depan mata. Uah senangnya!

Dari kejauhan, aku melihat ada sebuah rumah yang sepertinya terlihat mewah. Apa itu villanya Seya-san?

Kelihatannya begitu, mobil Itachi-san dan Sasori-san berhenti di depan rumah itu. Seya-san turun dari mobil lalu mengangkat kedua tangannya ke udara dan menghirup udara yang segar. "Semuanya! Selamat datang di villa milikku!" serunya. "Dan anggap saja seperti rumah sendiri"

Kami semua lalu memasukkan barang-barang yang kami bawa ke dalam rumah. Bagain dalamnya sungguh mewah. Dan tentu saja, luas! Sayang sekali Sora tidak ikut.

"Baiklah, terserah kalian mau pilih kamar yang mana, di lantai satu ada tiga kamar dan di lantai dua ada dua kamar," Seya-san menjelaskan.

"Aku!" Deidara-san mengangkat tangan kanannya. "Bolehkah aku sekamar dengan Sakura?" kata Deidara-san semangat dan disambut oleh dua pukulan telak di kedua pipi Deidara-san yang diberikan oleh Seya-san dan Itachi-san. Ouch! Apa tidak sakit ya? Sepertinya sakit.

"Tidak akan kubiarkan!" kata Seya-san dan Itachi-san bersamaan lalu saling berpandangan. Aku bisa melihat muka Itachi-san sedikit memerah.

"Apa sih? Jangan melihatku seperti itu dong Seya!" kata Itachi-san yang langsung memalingkan mukanya. Seya-san memandang Itachi-san dengan pandangan curiga dan penuh selidik.

"Yang akan sekamar dengan Sakura adalah aku! Jika ada yang tidak terima, lebih baik kalian tidur di luar!" kata Seya-san sambil menarik badanku. Aku hanya bisa tertawa garing.

-

Saat memasuki kamar, aku benar-benar terkesima. Kamarnya saja mungkin tiga perempat dari luas rumahku. Luas dan cantik. Dengan temboknya yang diberi kertas dinding bergambar kelopak mawar dan sakura. Selain itu terdapat AC, tempat tidur ukuran King size, ada kulkas, televisi, lemari, kamar mandi, ada juga rak buku. Aku mencoba melihat buku apa saja yang ada di dalam rak. Buku seri dari pengarang favoritku ternyata ada. Lengkap dari buku satu sampai delapan. Haah, ini bagaikan rumah keduaku.

Aku menjatuhkan diriku di atas kasur. Rasanya aku bisa terlelap dalam waktu kurang dari tiga detik, pikirku.

"Sakura! Jangan tidur dulu! Tata dulu barang barangmu baru kau bisa tidur," kata Seya-san.

"Iya," aku bangkit dari tempat tidur dan mulai menata bajuku ke dalam lemari.

Aku membuka jendela yang ada di kamar. Dan ternyata bisa melihat laut dari dalam kamar. Terlihat begitu indah. Tapi karena hari ini sedang mendung, jadi kilauan air laut hasil pantulan sinar matahari tidak terlihat.

"Kalau sudah selesai, kau cepat mandi ya. Aku akan menyiapkan bahan makanan di dapur, nanti kita masak sama sama"

"Baik. Eh, letak dapur ada dimana Seya-san?," tanyaku.

"Kalau keluar dari kamar ini kau langsung saja belok ke kiri dan turun lewat tangga. Jalan terus saja sampai menemukan pintu kaca," jawab Seya-san.

"Baiklah, terima kasih banyak," kataku lalu melanjutkan kegiatanku untuk menata barng barangku. Setelah sepuluh menit, aku langsung mandi. Aku menyalakan shower. Ternyata airnya cukup dingin juga, namun cukup untuk menyegarkan diri.

Setelah selesai mandi, aku segera menuju dapur. Kata Seya-san tadi, setelah keluar kamar belok kiri lalu turun lewat tangga. Aku merasa sedikit aneh saat turun. Terasa hawa dingin, dan bulu kudukku sedikit berdiri. Tapi kucoba untuk tidak mempedulikan.

Setelah sampai di bawah, aku jadi sedikit takut. Terlihat seperti sebuah lorong, dan lorong itu… gelap. Aku merasa begitu takut. Kata Seya-san lurus saja sampai menemukan pintu kaca. Masa harus berjalan terus di lorong segelap ini? Lebih baik aku kembali ke kamar daripada harus melintasi lorong yang gelap ini.

Saat aku akan berbalik, tiba-tiba terdengar suara gemericik air dari salah satu ruangan yang ada di lorong itu. Aku melihat kalau lorong itu begitu gelap. Tidak ada secercah cahaya yang menerangi. Bulu kudukku semakin berdiri.

Aku merasa ada yang memegang pundakku. Aku terpaku. Apa yang harus kulakukan? Aku benar benar takut. Aku tidak berani untuk menoleh ke belakang. Ingin aku berteriak, namun suara dari tenggorokanku tidak bisa keluar. Aku ingin berbalik dan berlari tapi kakiku seperti sedang diikat. Bagaimana ini?

"Sakura-chan? Apa yang kau lakukan?" suara Sasori-san terdengar dari belakangku. Aku menoleh, dan melihat Sasori-san ada di belakangku, dan tangannya sedang memegang pundakku. Aku menghela nafas lega.

"Sa-Sasori-san? Aku mau ke dapur, tapi gelap, aku takut," kataku.

"Oh, kalau gelap nyalakan saja lampunya. Kan ada saklarnya disini," kata Sasori-san menuju salah satu sisi lorong itu dan menekan sesuatu. Lampunya menyala. Kalau terang begini aku sudah tidak ragu lagi untuk berjalan lurus.

Kulihat Sasori-san membawa sayuran. Ternyata Sasori-san mau menaruh bahan makanan di dapur juga. Setelah beberapa langkah, aku bisa melihat pintu kaca di depanku. Itu dapurnya. Tapi aku mendengar suara aneh. Seperti ada orang yang mengentakkan sesuatu dengan sangat keras. Suaranya menggema. Bulu kudukku berdiri lagi. Aku jadi ragu untuk masuk.

Sasori-san membuka pintu dan berkata, "Aku membawa santapan untuk makan malam kita Seya"

Aku sangat shok melihat apa yang dilakukan Seya-san. Seya-san terlihat sedang memotong-motong sebuah tubuh manusia yang telah terbujur kaku. Di lantai ada usus yang sudah dikeluarkan dari perutnya, satu bola mata, satu bagian kaki, dan yang paling menjijikkan adalah ada otak yang telah terbelah menjadi dua.

Tubuhku terpaku, kakiku serasa lemas sekali. Badanku gemetaran. Air mataku mulai menggenang di kelopak mataku. Aku ingin berteriak, namun suara itu seperti tersangkut di tenggorokan.

Seya-san menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arahku. Seya-san lalu berjalan dengan menenteng pisau dapur di tangan kanannya dan pisau daging di tangan kirinya. Ada percikan darah di bajunya. Kedua tangannya bersimbah darah. Aku tidak percaya Seya-san melakukan semua ini. Ini semua pasti bohong! Ini pasti mimpi! Aku harus bangun secepatnya! Aku mencoba untuk mencubit pipiku, namun tanganku tidak bisa bergerak. Seseorang tolong aku! Kumohon!

Sementara itu Seya-san semakin berjalan mendekat ke arahku. Aku melirik pada Sasori-san namun ia hanya diam saja, dan tersenyum padaku. Apa maksudnya?!

Seya-san menjatuhkan pisau dagingnya dan mengangkat kerah bajuku. Lalu mendorongku ke tembok. Aku terpojok. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku melihat Seya-san mengangkat tinggi tinggi pisau dapurnya dan sepertinya akan menancapkannya di jantungku. Aku tidak mau mati disini! Aku berusaha keras untuk berteriak, namun tetap tidak bisa. Seya-san sudah mulai menurunkan pisaunya dan…

"…ra, Sakura! Bangunlah!" suara Seya-san sepertinya sudah membangunkanku dari alam mimpiku. Aku duduk di kasur dengan keringat dingin bercucuran dan nafas yang terengah-engah. "Kau baik-baik saja?", tanya Seya-san. Aku hanya menjawab dengan satu anggukan. Dibelakang Seya-san ada Itachi-san. "Ada apa?" Seya-san bertanya sekali lagi. aku hanya memegang kepalaku, berusaha mengingat apa yang sudah kulihat di alam mimpi barusan. Tapi rasanya otakku menolak, hingga kepalaku terasa sakit.

"Tidak apa, aku hanya… mimpi buruk", kataku lemas dan masih dengan nafas yang terengah-engah.

"Ini, minumlah," Seya-san memberikan segelas air kepadaku. "Aku takut terjadi sesuatu padamu. Kau tidur sambil teriak teriak. Jadi aku membangunkanmu. Kau yakin tidak apa?" tanya Seya-san lagi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Aku menatap keluar jendela. Langitnya begitu gelap. Kupikir akan ada badai malam ini.

-TBC-


Ah! Nulis fic genre horror ternyata nyiksa! Nulis fic malem malem, trus tiba-tiba kakiku rasanya merinding. Setelah itu dilemma antara tetep lanjutin ngetik fic ato langsung ngacir ke kamar terus tidur. Tapi kalo tidur nanti mimpi kaya' mimpi Sakura gimana? Tuh kan! -Fic horror membuat author mengalami tekanan batin-.

Sebenarnya gak mau lagi nulis fic horor, tapi kayaknya chap depan masih ada sedikit genre horornya. Ya Tuhan, tolonglah akuu! -jedotin kepala ke tembok sampai temboknya runtuh-. Ya sudahlah! Saia mau ngacir ke alam mimpi. Jya matta! -ngacir-

Eh sampai lupa, jangan lupa ripiu! Awas kalo nggak! -Ngacungin pisau daging-. Jya matta! -ngacir lagi-