Currently listening: NAVI - Heart Damage (feat Crown J)

-

Summary: Pertama-tama, bajunya harus dilepaskan dulu. Sedikit susah bagiku melepas baju Sasuke yang dua lapis itu. Setelah berusaha melepas bajunya, aku menyandarkan Sasuke pada tembok bata...


Warning : OOC, AU, gaje

Fiction Rated : T

Main Character : Sakura H.

Genre : Romance/General

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Blooming © Me


"Aku heran, saat kutinggal kau sebentar ke kamar sebelah lalu aku kembali kau sudah lelap. Beberapa lama, kau mengigau sambil teriak teriak. Sebenarnya kau mimpi apa sih?" tanya Seya-san saat Itachi-san sudah meninggalkan kami berdua di kamar.

"Entahlah, mimpinya seram," jawabku singkat.

Seya-san mengedikkan bahu lalu berdiri dan menepuk pundakku, "baiklah, ayo ikut aku ke dapur, kita akan menyiapkan makan malam untuk semuanya."

DEG!

Aku tercengang saat Seya-san berkata seperti itu. Apakah mimpiku barusan akan benar-benar terjadi? Segala pikiran buruk mulai berkecamuk di otakku. Aku bisa merasakan jantungku memompa darah ke seluruh tubuh dengan sangat cepat.

"Kenapa diam saja?" Seya-san kembali bertanya.

"Ti-tidak. Aku hanya…"

"Kalau begitu, ayo," potong Seya-san.

Aku mengikuti langkah Seya-san. Setelah keluar dari kamar lalu belok kanan. Aku menghela nafas, tidak sama dengan di mimpi, pikirku. Segala pikiran buruk yang tadi menghantui perlahan menghilang. Detak jantungku kembali normal. Dan sesampainya di dapur, aku sedikit tercengang. Luas. Dan hebatnya, bahan makanannya banyak sekali, dan masih segar.

"Kau bisa masak kan, Sakura?"

"Sedikit sih. Ano, apa aku boleh lihat bahan makanannya?" tanyaku.

"Yah, silahkan saja. Di sini ada beberapa bahan makanan yang masih segar. Karena aku tidak terlalu pandai dalam memasak, jadi aku mengandalkanmu Sakura, hehe," Seya-san menjulurkan lidahnya sambil menggaruk kepalanya, yang entah memang gatal atau tidak.

Di dalam lemari pendingin, aku menemukan daging, cream, coklat batangan, strawberry, dan wow! Aku tidak menyangka ada wine yang disimpan di lemari es.

"Udaranya semakin dingin saja. Apa tidak lebih baik mandi dulu?" kata Seya-san. "Kalau saja nanti malam listriknya padam, aku tidak berani menjamin kau berani kambali ke kamar sendiri untuk mandi Sakura," lanjutnya.

"Iya, baiklah," jawabku. Kupikir ada benarnya juga, setelah mimpiku barusan.

.

Udara di luar semakin dingin dan angin berhembus semakin kencang. Dari dalam rumah, aku mendengar suara air yang jatuh dari langit. Aku melihat melalui jendela yang sudah basah karena air hujan. Hujannya lebat sekali. Saking lebatnya hingga menyisakan jarak pandang sekitar dua meter. Aku menghela nafas dan mulai melanjutkan lagi kegiatanku bersama Seya-san.

"Akhirnya selesai. Sekarang tinggal membawanya ke ruang makan saja," kata Seya-san. Aku menjawab dengan satu anggukan.

Di meja makan ada beberapa batang lilin. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah ini disengaja untuk makan malam? Maksudku, apakah semuanya akan mengadakan candle light dinner?

"Lilin?" tanyaku.

"Untuk berjaga-jaga jika saja listriknya padam," Seya-san menjulurkan lidahnya. "Tunggu ya, aku akan memanggil yang lainnya," Seya-san berjalan ke arah tangga. Aku kembali menata makanan yang sudah jadi di atas meja.

Setelah selesai semuanya, aku duduk di kursi meja makan. Awalnya aku tidak merasakan firasat buruk, namun tiba-tiba listriknya mati. Aku diam di sana dengan tubuh yang gemetaran. Aku takut. Gelap sekali, apalagi rumahnya luas sekali. Suara petir yang menggelegar mengagetiku dan sukses membuatku berteriak. Aku berlari ke arah tangga. Kupikir aku tahu dimana tangganya walaupun dalam keadaan gelap seperti ini, tapi ternyata aku tidak bisa menemukan dimana tangganya. Aku masih bingung mencari-di mana tangganya, hingga aku menabrak seseorang. Dan aku jatuh di atas tubuhnya.

"Aw," katanya.

"Ma-maafkan aku."

Orang itu menyalakan api. Dan aku bisa melihat siapa yang ada di bawahku. Wajah kami begitu dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku.

"Maaf Sasuke-kun. Aku tidak melihat," kataku yang berusaha bangkit dari atas tubuhnya.

"Hn, kau berat, menyingkirlah," jawabnya. Manusia kulkas menyebalkan!

Ada sedikit cahaya, kurasa. Seseorang menghampiri kami.

"Apa yang kalian berdua lakukan di situ?"

"Hn, tidak ada," jawab Sasuke yang kemudian ngeloyor pergi, aku mendengus kesal. Aku memandang punggunggnya hingga ia menhilang dalam kegelapan. Itachi-san lalu mengajakku ke ruang makan.

Ruangannya sedikit terang oleh cahaya lilin. Sepertinya memang candle light dinner, pikirku. Di ruangan itu aku melihat Seya-san, Deidara-san, Sasori-san dan si manusia kulkas yang ternyata sudah duduk manis di kursinya.

"Itachi, apa yang kau lakukan bersama Sakura gelap-gelap begini hah, un?" tanya Deidara-san saat kami tiba di ruang makan.

"Hah?" Itachi-san mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu bodoh," katanya sambil melemparkan senter yang dibawanya pada Deidara-san.

"Tidak bisakah kalian berdua cepat duduk dengan tenang dan menikmati hidangan makan malam ini?" tanya Seya-san dengan nada ketus.

"Iya iya," Itachi-san menghela nafas dan berjalan ke kursinya di sebelah Sasuke-kun dan Seya-san.

"Wow! Sepertinya makanannya enak. Kau yang buat Seya, un?" kata Deidara-san saat melihat makanan yang sudah kusiapkan di meja tadi.

"Kau mengejekku atau apa sih?" kata Seya-san dengan nada kesal. "Sakura yang membuatnya, aku hanya membantu," katanya lagi.

"Iya kau bodoh Dei. Sudah jelas si Seya itu tidak bisa masak malah kau tanyai hal seperti itu," sahut Itachi-san yang langsung disambut oleh sebuah garpu yang menancap di depannya (Itachi jawsdropped).

"Katakan sekali lagi, maka aku tidak bisa menjamin besok pagi kau bisa bangun dan bersenang-senang," kata Seya-san dengan death glarenya yang terasa sekali. Aku hanya bisa tertawa cekikikan dari kursiku.

"Enak," kata Sasori-san tiba-tiba.

"Hei! Siapa yang suruh kau makan duluan hah?!" kata Seya-san dengan nada yang tinggi sambil mengacungkan pisau roti pada Sasori-san.

"Urusai ne," kata Sasuke si manusia kulkas pelan. Aku sebal sekali dengan sikapnya itu. Hari ini dia sudah membuatku mendengus dua kali.

"Ayolah, bisa kita hentikan semua ini dan mulai makan? Perutku sudah tidak tahan ini," kata Itachi-san tiba-tiba. Suasana hening, semuanya diam. "Oke, kuanggap aku sudah boleh makan sekarang. Itadakimasu!"

"Itadakimaaaasu!" Deidara-san akhirnya juga ikut-ikutan. "Eh, ini apa?" tanyanya sambil menunjuk sebuah mangkok berukuran sedang.

"Oh, itu Ma Po Tofu, masakan ala China yang didominasi oleh tahu," kataku. Deidara-san hanya mengangguk.

"Lalu ini?"

"Kalau yang itu, Steak Au Poivre, steak ala Perancis. Lalu itu Lasagna, tahu kan? Lalu karena cuacanya sedikit dingin, aku membuat Chili Hot Chocolate untuk menghangatkan badan. Maaf saja jika terlalu pedas, hehe," aku menjulurkan lidahku dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Semua ini kau yang buat?" tanya Itachi-san.

"Tidak, Seya-san membantuku," kataku, lalu menoleh pada Seya-san. Sepertinya ia sedikit merasa bangga karena ikut dilibatkan dalam hal masak.

"Berbakat jadi istri yang baik," tiba-tiba Sasori-san berkata seperti itu. Entah mengapa aku merasakan wajahku sedikit panas. Apa karena dipuji seperti itu, atau karena yang mengatakan adalah Sasori-san? Atau dua-duanya?

Tunggu, bukanlah itu hal yang wajar?!

.

.

Cahaya matahari yang masuk melalui celah celah membuatku terbangun. Aku melihat Seya-san yang masih tertidur disebelahku. Kakiku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Kubuka gorden yang menutupi cahaya hangat dari mentari untuk masuk menerangi dan menghangatkan setiap sudut kamar, kubuka juga jendelanya lebar lebar lalu mengirup udara pagi sepuasnya.

"Ungg, Sakura, kau sudah bangun?" Seya-san duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih sedikit berair, lalu menguap.

"Selamat pagi, Seya-san," sapaku riang.

"Pagi juga Sakura. Sepertinya hari ini kau semangat sekali," Seya-san terseyum.

"Iya, hari ini aku ingin pergi ke pantai, boleh kan, Seya-san?"

"Tidak tidak," Seya-san menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. "Hari ini kita semua akan menjelajahi semua kawasan yang ada di bukit sekitar sini. Oh iya, nanti malam aku berencana mengadakan acara jurit malam."

"Ju-jurit malam? Se-sepertinya saya tidak akan i-"

"Ah aku lupa satu hal, semuanya diwajibkan ikut tidak ada kecuali!" katanya dengan penekanan kalimat yang sangat mantab. Aku menghela napas berat. Seya-san tidak tahu kalau aku benci dengan kegelapan. Kalau begini aku hanya bisa pasrah saja.

.

Cuaca sore ini cukup cerah, maksudku tidak ada tanda-tanda akan turun hujan seperti tadi malam. Nampaknya cuaca kali ini tidak bisa diajak kompromi. Kenapa tidak hujan saja sih? Kalau hujan acaranya jadi dibatalkan kan? Menyebalkan.

Saat ini masih pukul 17.30. Kata Seya-san acaranya akan dimulai pukul 22.00. Ukh, aku tidak bisa membayangkan bukit setengah hutan itu pada malam hari. Yang benar saja! Walaupun siang hari, bukit itu masih menyeramkan. Masa' malam malam disuruh jalan sendirian di sana? Seya-san itu masih normal atau tidak sih? Maksudku, apa dia tidak punya rasa takut sama sekali?

Kalau begini, hanya ada satu cara.

Aku harus mencari alasan yang tepat supaya tidak disuruh ikut!

Alasan sakit, hanya itu yang terlintas di otakku. Tidak kreatif katamu? Huh, coba saja kau pikirkan cara yang lain lalu beritahu padaku!

Baiklah! Sekarang aku harus berusaha untuk menaikkan suhu badanku. Bagaimana ya? Mungkin sedikit olahraga kecil bisa membantu. Baiklah, dimulai dengan sit up.

"Satu…dua…satuuu…duuaaa… ukh susah sekali," baru juga dua hitungan, perutku rasanya nyeri. Apa memang karena aku jarang berolahraga ya? (Inner Sakura)Kau gendut Sakura! Umm, mungkin juga. Bisa jadi karena aku gen-APA?! Enak saja mengataiku gendut!

Kalau sit up tidak berhasil, bagaimana jika mencoba untuk lari di tempat? Yosh! Akan kucoba!

Baru saja aku berlari selama beberapa detik, tiba-tiba pintu kamar dibuka.

"Apa yang kau lakukan Sakura?" tanya Seya-san yang tiba-tiba membuka pintu.

"Ti-tidak, ha-hanya sedikit- y-ya! Sedikit berolahraga, karena aku jarang berolahraga jadi aku ingin sedikit meregangkan ototku," kataku sambil melakukan gerakan stretching.

"Dasar aneh," katanya yang langsung menutup pintu.

.

Segala cara kulakukan supaya aku tidak ikut ke acara jurit malam itu, dan semuanya GAGAL TOTAL! Memang sulit bagiku yang tidak pernah berolahraga. Mencoba push up, aku sendiri bahkan tidak bisa mengangkat tubuhku dengan kedua tanganku. Payah sekali.

Sampai pada akhirnya, aku terpaksa ikut. Bukan terpaksa, tapi dipaksa. Ah, atau dua duanya ya?

Mungkin Seya-san sudah mengira aku tidak mau ikut, makanya dia bilang kalau dimalam hari, ada hantu pemakan manusia di dapur. YANG BENAR SAJA! Aku tidak mau mimpiku menjadi kenyataan. Makanya aku memutuskan untuk ikut. Menyebalkan!

Aku memakai mantel buluku dan mengambil senter yang ada di meja. Lalu turun ke lantai satu dan berkumpul dengan yang lainnya di ruang tamu. Dari semuanya, hanya Sasuke, yang menurutku, pakaiannya paling tebal. Setelah kuperhatikan, sepertinya bajunya saja ada dua lapis dan ditambah dengan jaket tebalnya. Apa dia takut kedinginan ya? Ternyata manusia kulkas bisa merasa kedinginan juga. Aku tertawa dalam hati.

.

Tak seperti yang kubayangkan. Ternyata hawa di luar sungguh dingin. Membuatku lebih merapatkan mantel buluku.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, kami berenam tiba di bukit itu. Bukitnya sangat gelap, ditambah lagi dengan pohon-pohonnya yang menjulang tinggi, menambah kesan seram bagi kebanyakan orang.

"Nah, saatnya untuk undian," kata Seya-san tiba-tiba.

"Hah? Undian?" tanya Itachi-san.

"Yap. Semuanya akan berjalan berpasangan. Di sini ada enam orang, jadi kurasa sudah pas. Nah setiap orang silahkan ambil nomer yang ada di dalam kotak ini. Dan setelah itu kita akan berjalan sesuai dengan urutan nomer, semuanya harus berjalan sesuai jalaur yang tadi siang kita lewati bersama. Jika sudah paham silahkan ambil nomernya," Seya-san menjelaskan panjang lebar.

Semuanya mulai mengambil gulungan kertas kecil yang ditaruh di dalam sebuah kotak, begitupula denganku. Setelah mengambilnya aku membuka gulungan itu dan ternyata mendapat nomer 2. Semoga saja Sasori-san atau Itachi-san juga mengambil nomer yang sama denganku.

"Ah kenapa aku harus berjalan bersamamu sih, un?"

"Cih! Aku juga sebenarnya tidak ingin berjalan bersamamu bodoh. Oi Seya! Bisa diulang tidak undiannya?" tanya Itachi-san.

"Maaf tidak bisa, itu sudah ketentuan dan tidak bisa diulang. Jadi terima sa-," Seya-san tiba-tiba terdiam setelah melihat nomer undiannya.

"Sudahlah, ulang saja un. Lagipula kau juga ingin mengulangnya kan, un?" kata Deidara-san sambil menyikut tangan kiri Seya-san.

"Seorang atasan tidak boleh plin plan," Sasuke tiba-tiba bersuara. Aku menoleh padanya sambil memandangnya sebal, dan tidak sengaja kulihat nomer undiannya. Nomer 2. Cish! Kenapa aku harus berjalan bersamanya sih?

"Baiklah, setiap pasangan berjalan sesuai undian dan disusul oleh pasangan lainnya. Pasangan berikutnya mulai berjalan 15 menit setelah pasangan sebelumnya. Dan bisa dimulai sekarang, ayo Sasori," Seya-san berjalan dengan langkah gontai dan diikuti oleh Sasori-san di belakangnya.

"Hei Sasuke, un!" teriak Deidara-san pada Sasuke setelah Seya-san dan Sasori-san sudah menghilang dari pandangan masing-masing.

"Hn," Sasuke hanya membalas dengan satu kata yang menurutku tidak ada artinya. Dasar manusia kulkas irit suara! Mentang-mentang seorang vokalis begitu? Hemat suara? Atau sudah bangga kalau suaranya bagus, heh?

"Kau mau bertukar nomer undian denganku, un?"

"Hn, aku menolak," jawabnya singkat dengan nada yang dingin dan sukses membuat Deidara-san mendengus kesal dan menggerutu.

"Sudahlah Dei, percuma kau meminta pada Sasuke. Terima sajalah nasibmu untuk berpasangan denganku." Sahut Itachi-san.

"Tidak, un! Aku bukanlah seorang homoseksual seperti Itachi, un! Aku normal, un!"

"Apaa! Apa maksudmu mengataiku homoseks, hah?!" Itachi-san berteriak sambil mengepalkan tangan kanannya. Terlihat sekali kalau dia marah. Ya iya lah.

"Tadi kan kau bilang 'terima sajalah nasibmu berpasangan denganku', un. Itu berarti Itachi senang jika bersamaku, un! Dan artinya Itachi suka denganku, un! Itachi yaoi, un!" ucap Deidara-san sambil menunjuk pada Itachi-san.

"Apa katamuu! Sini kau!"

"Hhh, urusai," Sasuke menghela nafas dan meletakkan tangan kanannya di tengkuknya. "Ah, sudahlah. Ayo," Sasuke lalu menarik tanganku dan mulai berjalan ke dalam bukit, ah atau kusebut hutan saja ya?

Tanpa kusadari ternyata Sasuke tetap menggandeng tanganku selama berjalan. Tangannya sedikit dingin. Selama berjalan di hutan aku merasa aneh. Instingku mengatakan sepertinya kami tersesat.

"A-ano, Sasuke-kun. Apa kita menempuh jalan yang benar?" tanyaku ragu-ragu.

"Apa? Kupikir ini jalan yang benar karena daritadi kau diam saja," Sasuke mendadak berhenti dan menoleh padaku. Ah sial! Sepertinya memang tersesat. Menyebalkan! Aku diam saja kerena kupikir kau sudah tahu jalannya dasar manusia kulkasa super bodoh!

Aku mendengus pelan, "terpaksa harus kembali." Aku berjalan di depan dan Sasuke mengikutiku dari belakang. Uh, ternyata memang sial kalau bersamanya.

Aku berjalan mengikuti jalan setapak yang tadi kami lewati. Tapi entah mengapa rasanya kok kami semakin tersesat saja ya? Aku merasa kembali ke tempat yang sama.

"Sepertinya kita semakin tersesat," katanya dengan nada yang tetap datar. Aku berusaha menyembunyikan rasa panikku dengan berusaha untuk tetap tenang. Aku yakin aku bisa menemukan jalan kembali. Aku kembali berjalan dan mulai mengubah arah. Kalau tadi aku berjalan ke kanan, sekarang kucoba untuk berjalan ke kiri. "Sepertinya memang tersesat ya, hh," aku bisa mendengar Sasuke menghela nafasnya. Sepertinya ia meledekku. Huh!

"Ah, seandainya tadi kau bertanya. Yang jelas hal ini tidak akan terjadi kan, baka," kataku. Dia hanya diam, kurasa ia merasa salah. Kalau begini, aku akan mencoba untuk menghubungi yang lain. "Oh shit! Tidak ada sinyal!"

"Hei, kuberitahu kau satu hal. Jangan berkata buruk di tempat yang tidak kau kenal dan menyeramkan seperti ini," kata Sasuke.

"Ah masa bodoh, itu kan hanya mitos tidak jelas. Buat apa dipercaya?" kataku sambil mengibaskan tanganku di depan mukaku. Aku benci dengan hal macam itu. Tidak bisa dipercaya, huh!

"Ya sudahlah kalau tidak percaya," katanya. Aku hanya menghela napas pelan dan mulai berjalan lagi. Sampai akhirnya kami tiba di tempat yang sedikit terbuka. Aku melihat ke atas, langitnya mendung. Padahal tadi cerah, dan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Ah sial! Kalau begini bisa terjebak hujan di dalam hutan. Terlebih lagi bersama dia! Aku kembali berjalan. Maksudku, jika tidak bisa menemukan jalan pulang lebih baik mencari tempat berteduh. Aku mulai mendengar suara petir. "Sepertinya akan hujan," kata Sasuke.

"Hhh, makanya berusaha untuk mencari tempat berteduh," sahutku. Aku berusaha untuk secepat mungkin menemukan sebuah gubuk atau apalah sebelum hujan.

"Hei, jangan terburu-buru begitu," kata Sasuke dari belakang.

"Urusai! Kalau tidak buru-buru nanti keburu hu- kyaaa!" ah sial! Aku jatuh gara-gara tersandung ranting!

"Sudah kubilang jangan buru-buru," Sasuke menjulurkan tangannya. Aku mencoba berdiri, tapi sepertinya kakiku terkilir. Kenapa disaat seperti ini sih?! Ah dasar sial! Dan Sasuke, oh yeah, dia menggendongku.

Kami meneruskan mencari, hingga akhirnya aku merasakan ada setetes air mengenai hidungku. Aku melihat ke atas dan ternyata gerimis.

"Ah, sudah gerimis, bagaimana ini Sasuke-kun?" tanyaku panik.

"Itu, di sana sepertinya ada sebuah gubuk," aku melihat ke arah yang Sasuke maksud. Dia langsung menuju ke sana, dengan sedikit berlari. Tapi sepertinya saat itu Tuhan tidak mengijinkan kami berlindung dengan keadaan kering. Jadilah kami tiba di depan gubuk dengan basah kuyup.

"Permisi, adakah orang?" teriakku dari luar sambil mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban.

"Hah, buka paksa saja. Minggir," kata Sasuke. Dia menendang pintunya sampai terdengar suara 'brak' keras. Rumahnya kosong, tapi lumayan juga ada perapian.

Aku berjalan masuk dengan berpegangan pada tembok. Di dalam cukup hangat. Aku berusaha mencari sesuatu yang bisa untuk menyalakan api. Dan sebuah korek api kutemukan di laci. Setelah berhasil menyalakan perapian, aku mendekatkan tanganku di perapian, berusaha menghangatkan tubuh juga untuk mengeringkan baju. Yeah, mustahil kalau mengeringkan baju yang basah kuyup seperti ini dalam waktu singkat.

Saking asiknya menghangatkan tubuh, aku jadi tidak menyadari kalau Sasuke diam saja. Aku menoleh dan melihat dia berdiri menghadap tembok, dan terbatuk-batuk. Jangan-jangan dia masuk angin.

Aku berjalan menghampirinya. "Hei, kau baik-baik sa- eh! Sasuke-kun!" belum selesai aku bertanya dia sudah roboh menimpaku. Aku berusaha bangun, lalu kepalanya kutaruh di pangkuanku. Napasnya tersengal-sengal. Aku menempelkan telingaku di dadanya. Ternyata dia mengidap asma! Bisa bahaya kalau dibiarkan kedinginan. Satu-satunya cara adalah menghangatkan tubuhnya.

Pertama-tama, bajunya harus dilepaskan dulu. Sedikit susah bagiku melepas baju Sasuke yang dua lapis itu. Setelah berusaha melepas bajunya, aku menyandarkan Sasuke pada tembok bata. Kebetulan tadi aku menemukan selembar kain, dan itu kubuat untuk menyelimuti badan Sasuke yang mulai dingin. Aku menaruh pakaiannya di atas perapian supaya besok sudah bisa dipakai kembali.

"Hatsyiih!" rupanya hawa dinginnya juga mulai masuk ke tubuhku. Aku hanya melepas jaketku dan menaruhnya di atas perapian. Aku berjalan menghampiri Sasuke, kusentuh dahinya. Ternyata dia demam. Panasnya tinggi, nafasnya tersengal-sengal. Kalau dibiarkan seperti ini bahaya. Kalau mendekatkan tubuh Sasuke ke dekat perapian jelas tidak mungkin, karena aku tidak kuat mengangkat tubuhnya, masa harus kuseret?

Setelah beberapa menit mencari cara, akhirnya kutemukan sebuah ide walaupun menurutku ide itu sedikit gila. Tapi mau tidak mau aku harus melakukannya. Jika tidak, orang di hadapanku ini bisa tidak bangun untuk selamanya.

Cara satu-satunya adalah membagi panas tubuhku dengannya. Aku sedikit ragu untuk membuka bajuku, namun tidak ada pilihan lain. Setelah kancing bajuku terbuka seuruhnya, aku melepasnya dan melempar bajuku sembarangan ke lantai. Aku duduk bersandar pada tembok bata yang dingin dan membawa tubuh lemas Sasuke dalam pelukanku. Dengan begini kuharap dia akan baik-baik saja sampai besok.

Badannya dingin saat menyentuh kulitku, tapi satu bagian dalam tubuhku merasa hangat. Kepalanya besandar pada bahuku. Nafasnya menerpa leherku, hingga aku merasakan sensasi yang sedikit aneh, yang membuat bulu kudukku berdiri karena diterpa hawa dingin dari Sasuke. Tanganku melingkar di tubuhnya, dan itu kulakukan atas perintah dari alam bawah sadarku. Entah mengapa aku jadi ingin sekali memeluk tubuhnya yang tidak berdaya ini. Padahal dalam kesehariannya dia begitu menyebalkan bagiku.

Semakin lama aku semakin merasa kalau mataku semakin berat saja. Aku lelah karena berjalan terus. Semakin lama, aku semakin masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan mulai menjelajahi dunia dunia mimpi. Hingga suatu sensasi dingin yang menjalar di tubuhku membuatku terbangun. Ternyata hawanya semakin dingin, pikirku. Dan aku kembali ke dalam alam mimpiku yang tadi sempat kutinggalkan.

-

-

Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela menerobos masuk dan tepat mengenai mataku, membuatku terbangun dan meninggalkan alam mimpi yang dari semalam kujelajahi. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, berusaha membiasakan mataku dengan cahaya yang sedikit menyilaukan.

Setelah benar-benar bangun, aku melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Terlebih lagi Sasuke yang dari semalam ada di depanku sudah tidak ada. Berarti dia sudah bangun. Kulihat pada bagian atas perapian. Hanya ada satu potong pakaian, dan kulihat pakaianku ada di sana juga. Aku mulai menyadari kalau bdanku hanya ditutupi oleh selembar kain. Aku melihat keadaan tubuhku, masih dengan pakaian dalam. Eeeh! Berarti Sasuke sudah melihat bagian dalam tubuhku saat dia terbangun! Ah sial!

Aku mendengar suara pintu di buka. Ternyata Sasuke yang masuk. "Kau sudah bangun?" tanyanya.

"Belum, aku masih di bawah alam sadar. Hei tidak lihatkah kau mataku sudah terbuka, kenapa masih bertanya. Tentu saja aku sudah bangun dasar bodoh!" kataku.

"Kukira kau suka tidur sambil berjalan, jadi mungkin saja kau masih belum bangun," katanya sambil berjalan ke perapian. "Ini pakailah," ia melemparkan salah satu pakaiannya padaku. "Bajumu masih basah, pakai saja bajuku," katanya dengan ekspresi datar.

"Bagaimana aku bisa memakainya jika kau berdiri di sana," kataku dengan nada ketus. Dia menjawab dengan 'hn' pelan lalu keluar. Dasar, kenapa masih ada saja orang seperti dia sih?

Setelah ia keluar, aku memakai kemejanya. Bajunya longgar. Tidak apa-apalah, nanti juga bisa ditutupi dengan jaket, pikirku. Setelah memakai bajunya, aku memakai celana panjangku yang sudah tidak terlalu basah. Aku berjalan sambil berpegangan pada dinding untuk mengambil jaketku. Ternyata masih basah, sungguh sial. Apa boleh buat, lebih baik dipakai saja, karena bajunya longgar sekali, aku jadi malu.

Aku berjalan keluar dan mendapati Sasuke sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan gubuk. Dia menoleh padaku.

"Lepaskan saja jaketmu itu," katanya.

"Tidak mau."

"Kau bisa masuk angin-"

"Pokoknya tidak mau!" potongku.

Sasuke menghela nafas dan melepas jaketnya. Mau apa dia? (otak Sakura sudah berpikir hal yang tidak-tidak).

Dia melemparkan jaketnya padaku, dan mendarap tepat di atas kepalaku. "Pakai itu." Katanya datar. Aku kembali masuk ke dalam rumah dan mengganti jaketku. Longgar tentu saja, tapi bisa menutupi bagian tubuhku yang terbuka. Lagipula, jaketnya terasa hangat.

Setelah mengganti jaket, aku berjalan keluar.

"Sudah?" tanyanya. Aku hanya menjawab dengan anggukan pelan. Dia lalu berjongkok di depanku.

"Mau apa?"

"Kugendong sampai ke villa," jawabnya.

"Tidak usah. Aku bisa jalan sen- uwaaa," aku terjatuh. Kakiku sakit sekali.

"Bodoh. Ayo," dia memberikan punggungnya padaku. Yah, terpaksa aku mau digendongnya untuk kedua kalinya. Dia berjalan ke arah hutan lagi. Selama berjalan aku terus diam. Entah mengapa, tiba-tiba mukaku terasa panas. Aku tersenyum tipis, membayangkan jika nanti kami sampai di villa. Orang-orang pasti panik. Aku tertawa dalam hati. Yah bagaimanapun, aku tidak menyangka akan jadi seperti semalam, walaupun itu pertama kalinya bagiku. Bahkan aku tidak pernah menghangatkan Sora dengan cara seperti itu.

Aku hanya bisa tersenyum tipis. Ah ngomong-ngomong, langitnya cerah ya.

To Be Continued


Huaaah! Chapter terpanjang! Ga nyangka bisa nyampe 12 halaman MS word. Padahal ngetik chapter ini butuh perjuangan, banyak rintangan yang harus dilalui -lebay-. Rintangan yang utama adalah, MALES. Muahahaha *digiles*.

Bales review yang ga login..

Panda-- Horor Cuma di chapter lima doang, chapter 6 balik lagi jadi romance/general wkekweke. Ikh SasoSaku kan udah! Gantian domz buat SasuSaku nyahaha. Yuri? Ah abal kao! Sora di sini itu jadi cowo tauk! --z Sekamar sama Sasori? Semuanya juga mauu *ditabok*. Udah belon ini fluffnya? Review lagi yag XD

Sabill-- Suka Nicole? Bishounen itu? XD ah iya Itachi kakek! *diamaterasu*. Sasori sama doms, masa lebih chibi? Ga lucu dong wkekwke. Hah? Sora flu babi? 0.o BRB karantina Sora ke kandang ayam. Okeh review lagi yak XD

Orangalay-- Ana (ah atau Sora?)! Reviewmu alay!! *tendang* (udah bales gitu doang, males ngomong --a)

O iya, karena sedikit bingung mau ngasih marga buat Sasori, ada yang mau kasih masukan? Nanti aku kasih hadiah deh, nyahaha.

Okaiy, see u next chapter!

Jangan lupa REVIEW!! *ngacungin pedang kusanagi, kabur*