yup! dan ini berhasil saia apdet dengan sukses! Dan, untuk permulaan kisah sesungguhnya ini, gak usah banya author note, cukup cuekin sederetan kata-kata ini, dan, READ WITH HAPPINESS WHILE YOU DOING IT! Tapi kalo mau nangis, gak dilarang, wong saia aja nangis karena fic ini~
****Crying, For The Love****
BLEACH © TITE KUBO
Crying, For The Love © kazuka-ichirunatsu23
- Chapter 2 -
Ah, lagi?
Aku menjelma untuk kesekian kalinya menjadi makhluk cengeng tak berguna yang hanya bisa teronggok tanpa senyum.
Gin....
Nama itu terus mendengung di pikiranku. Mendengung, menggema hingga menusuk hatiku dengan maknanya. Makna namanya, yang langsung membuatku terpikir, akan senyummu yang menyebalkan itu.
Ya, senyum rubahmu itu. Yang selalu kau tunjukkan kapanpun kita bertemu. Walau aku hanya melirikmu di ujung mataku, senyum itu selalu dengan jelas mengarah padaku.
Awalnya aku senang, aku bahagia bisa mengenal dan dekat dengan orang sepertimu. Walau terkadang kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku, di balik senyummu itu.
Ya, itu hanya awal.
Di bagian tengah, seiring kepergian tak jelasmu itu, yang lebih memilih melakukan sebuah pengkhianatan dibanding mengerti perasaan orang yang telah menantimu bertahun-tahun.
Pengkhianatan yang melukaiku, membuatku semakin membencimu.
Juga senyummu itu.
Setiap saatku ingat dirimu, yang pertama muncul selalu saja senyum itu. Terkadang senyum itu kumaknai lain.
Kumaknai kalau senyum itu hanyalah untukku. Walau berpola sama dengan senyum yang setiap detik kau ukirkan. Aku tetap merasa kalau itu berbeda.
Siapa yang salah, Gin?
Kau?
Tak bisa sepenuhnya aku salahkan dirimu.
Karena akulah yang terlalu bodoh untuk menunggumu yang selalu pergi meninggalkanku, tanpa alasan jelas yang masuk akal.
Aku tak akan mau dipersalahkan!
Lantas?
Cinta bukan salah siapa-siapa, apapun yang disebabkannya. Itu mungkin yang harus kupelajari.
Tapi, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku terlanjur dendam padamu, Gin!
Kau telah mengubahku rapuh. Meruntuhkan isi hatiku yang selalu mengharapkanmu. Menenggelamkan benih cinta yang selalu bersemi tiap hari setiap bertemu denganmu.
Kau pasti sedang tertawa disana, bersama kapten tak berhati itu, tanpa peduli siapa dan bagaimana keadaan orang yang paling kau sakiti.
Aku ingin berteriak, Gin. Sepuas-puasnya, menerbangkan suaraku ke tempatmu berada, agar kau mendengar, agar kau tahu, seberapa sakitnya hatiku saat kau pergi.
Tapi suaraku tercekat. Dan yang mampu kulepaskan hanyalah bulir air mata.
Aku terus menangis karenamu, Gin....
Aku ingin kau tahu itu....
xxx
Lagi, wajahmu yang menyebalkan itu muncul di hadapanku, di tengah perenunganku akan dirimu tadi.
Nafasku pendek, ah, aku kurang tahu kenapa. Dan penglihatanku gelap.
Naluriku serasa aneh. Keadaan ini, seperti keadaan setengah sadar sehabis tidur.
Aku.... Dimana?
Kenapa yang ada hanya wajahmu, Gin?
Apa ini karena aku terlalu memikirkanmu?
"Tahanlah sedikit, Matsumoto-san...."
Eh, suara itu....
..... Bukan suara Gin. Aku sedikit kecewa.
"Matsumoto-san? Anda sudah sadar?"
"Kira?" aku benar-benar telah tersadar sepenuhnya. Aku berusaha bangun.
Kulihat sekeliling. Aku tengah berada di atas sebuah gedung tinggi. Dari kejauhan dapat kulihat, beberapa shinigami masih bertarung.
Jadi, semuanya tadi.....
Hanyalah refleksi atas alam bawah sadarku?
Tadi aku hanya mimpi? Kenapa mimpiku semuanya tentang Gin?
Bodoh....
"Anda sudah tak apa-apa, Matsumoto-san?"
"Ah, aku baik-baik saja...." kataku memaksakan diri. Beberapa bagian tubuhku memang sakit. "Apa yang terjadi?"
"Saya membawa anda kesini, karena perintah Soutaichou. Kurang aman kalau berada di sana." Kira memperhatikan sekeliling.
"Terima kasih...." ucapku. Aku duduk termenung. Kurasakan pipiku basah. Aku.... Menangis? Dalam mimpi seperti tadi?
Rupanya Kira memperhatikan apa yang kulakukan. "Saya mendengar anda terus-terusan memanggil nama seseorang saat anda tidak sadar tadi...."
Ah, pasti Gin. Bahkan dalam mimpiku pun aku mengingatnya? Bodoh sekali. Terlalu! Hanya untuk seorang pengkhianat dan penoreh luka hatiku aku sampai sebegitunya?
"Gin?" aku memastikan. Kira mengangguk, sementara tangannya masih sibuk menyalurkan kidou penyembuhan untuk Hinamori. Ya, ada beberapa orang di sekitarku. Ikkaku, Hinamori....
Oh iya.... Sekarang adalah waktunya perang. Bukan waktu untuk bernostalgia bersama air mata karena Gin.
Makhluk bodoh yang menjebakku.
Ah, bodoh sekali. Sekarang waktunya serius, ayo, serius, sekarang adalah perang menentukan masa depan Soul Society!
Aku menarik Haineko dari tempatnya. Kemudian aku berjalan maju, aku telah siap menghadapi siapapun musuh yang menghadangku.
Termasuk Gin....
"Matsumoto-san? Anda tidak apa-apa? Luka anda...." Kira masih sibuk dengan 'pasiennya'.
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa."
Mungkin bisa disebut pemaksaan diri? Karena aku masih merasakan sakit di beberapa ruas tulang rusukku, karena serangan monster besar dari Fraccion milik Espada yang bertarung dengan taichou.
Aku memandang sekeliling lagi. Di depan sana, ada Soutaichou bersama Ichigo, berhadapan dengan Aizen. Dan Tousen sedang bertarung dengan Komamura-taichou.
Eh, hanya ada dua?
Mana Gin?
xxx
Aku paksa mataku untuk memendar ke sekeliling lagi. Tetap tak kutemukan sosok berambut silver yang selalu mengandalkan senyum rubahnya itu untuk menyembunyikan apapun dari dirinya.
Muak. Aku ingin benar-benar membencinya.
"Gin...." tanpa sadar aku menggumamkan nama itu lagi.
Dimana dia? Apa dia sudah....
.... Mati?
Bagus. Aku malah senang kalau seperti itu. Dia mati, biar aku tak lagi mengingatnya. Biar air mataku tak lagi jatuh sia-sia karena makhluk sialan itu.
Tapi....
Di otakku langsung berputar ribuan memori, beberapa kukenali sebagai wujud Gin.
Saat dimana dia menyelamatkanku, saat kami menghabiskan hari-hari bersama....
Saat senyumnya kumaknai sebagai apresiasi dari waktunya untukku, saat ia melindungiku...
Entah kenapa semuanya terasa indah.
Pelan-pelan kurasakan air mataku jatuh lagi.... Aku kembali menangis.
Karena kau Gin! Kau telah memberikan harapan mati untukku yang menantimu! Kau yang tak pernah memberi kejelasan walau berkali-kali aku harus menahan sabarku. Kau yang selalu memberiku cinta yang semu, berbayang jelas namun tak ada kenyataannya.
Kuseka lagi air mataku. Lupakan soal Gin, dan inilah saatnya bergerak!
xxx
"Unare, Haine.... Hmmph!!" saat aku tengah diam-diam menyerang Aizen dari kejauhan dengan Haineko-ku, aku terhenti karena mulut dan leherku tiba-tiba dililit oleh sebuah tangan misterius. Sesaat kemudian aku merasakan hembusan nafas yang menyapa leher dan telinga kananku.
Ini seperti.... Deja vu?
"Tadaima, Rangiku...."
Jantungku nyaris terhenti. Suara ini....
"Gin...." Aku meraih tangan yang menyergapku dari belakang itu.
Lalu aku merasakan tubuhku melayang, terbawa shunpo 'makhluk' itu entah kemana. Dan dalam hitungan sekian detik aku sudah berada di tempat yang sepi, di atap sebuah gedung, jauh dari arena pertarungan tadi, dan aku tak dapat lagi melihat para rekan dan atasanku yang tengah bertarung.
Aku melepaskan tangannya dariku. Dan berbalik, menatap wajahnya yang memuakkan itu.
Memuakkan?
Dalam satu sisi hatiku, aku berkata seperti itu. Memuakkan, karena senyuman dari wajahnya itulah yang menipuku selama ini. Menipuku, menjebakku dalam kebenaran cinta yang palsu, membuatku terus hanyut dalam jurang kerinduan dimana aku tak bisa keluar lagi.
Aku merindukannya, karena sebenarnya aku mencintainya. Aku membencinya, karena dia tak kunjung memberikan kebenaran dak kejujuran akan cintaku.
Rasa hatiku terlalu ambigu untuk diterjemahkan. Aku terkadang merindukannya, menginginkan sosoknya disampingku, berharap ia akan kembali padaku, dan menyatakan semua dibalik senyum serigala itu.
Namum aku juga terkadang membencinya, karena.... Aku sudah menyatakannya berkali-kali. Dia tak kunjung mewujudkan harapan yang telah lama kunanti. Membiarkanku terus menunggunya, sementara ia tertawa disana merencanakan kehancuran tempatku berada.
Apa sebenarnya yang ada di otaknya saat ini? Apa yang membuatnya begitu? Sebegini tak berharganyakah aku hingga ia tega membiarkanku begini?
"Lama tak bertemu, Rangiku...." Ia memegang bahuku. Sementara aku masih terpaku, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Gin!!" ucapku. Dengan refleks aku memeluknya, merengkuhnya bersama rindu yang terus kutahan. Dan aku pun menangis di pelukannya.
"Kau! Kenapa kau pergi seperti itu?! Tanpa memberitahuku tujuanmu!!"
Ia hanya diam, tapi tangannya bicara, mengelus rambutku. Begitu nyaman.
"Jawab, Gin!! Jangan diam saja! Aku menunggumu selama ini!!" Isak tangisku semakin menjadi, meneteskan berkali-kali air mata ke pakaian putih yang tengah ia kenakan.
"Gomen na, Rangiku...."
Kata-kata itu lagi?! Aku benci kata-kata itu!
"Apa maksudmu, Gin?!! Kau sudah membuatku menderita karena kata-kata itu!! Dan berhentilah tersenyum seperti itu!! Aku muak!!" Aku memukul-mukulkan tanganku ke bahunya.
"Tapi Rangiku, aku tak punya pilihan...."
"Pilihan? Maksudmu apa? Pilihan untuk terus menyakitiku? Membuatku menanti sesuatu yang tak pasti?"
"Aizen-taichou mengajakku untuk sebuah kedamaian kita semua."
"Kedamaian? Yang seperti ini kau sebut kedamaian? Racun apa yang dia gunakan untuk mempengaruhimu?!"
"Ia yang akan memimpin kita. Dan perang ini hanyalah awal untuk itu semua, kedamaian yang kita inginkan. Tidak lagi terikat pada peraturan memuakkan Soul Society."
Tangisku tak kunjung berhenti. Sebegini jahatnya orang yang kucintai?
Apa aku juga jahat? Mencintai pengkhianat macam dia?
"Kau jahat, Gin!! Aku tak ingin lagi melihatmu!!" aku berbalik, memunggunginya.
"Jangan berbohong padaku, Rangiku. Aku tahu, kau masih menyimpan perasaan itu."
Aku terdiam. Membiarkan nafasku mengalun untuk penyela pembicaraan menyakitkan ini.
"Kalau kau tahu aku masih menyimpan rasa itu, kenapa kau perlakukan aku seperti ini? Meninggalkanku, membiarkan aku menahan rindu yang menyakitkan, membiarkan aku menangis karenamu??! Jawab Gin! Kau bodoh!!"
"Karena itu untukmu, Rangiku."
"Untukku? Kau bilang untukku? Apa? Kau melakukan ini untukku?"
Gin mengangguk pelan.
"Kau mengkhianatiku, itu untukku? Apa maksudmu, Gin?"
Dengan gerakan cepat, aku kembali ditariknya ke dalam pelukannya. Dengan lembut kembali ia usap pelan rambutku, dan kali ini wajahku, ia usap pelan sisa air mata yang membasahi pipiku.
"Tunggulah sebentar lagi, Rangiku, dan kau akan jadi milikku..... Sepenuhnya...."
Aku tersentak sesaat mendengar kalimat itu. Benarkah? Ia serius?
"Karena aku mencintaimu, Rangiku...."
Ia benar menatapku dengan mata terbuka saat itu. Matanya yang biru kehijauan, membuatku tenang untuk sesaat. Ekspresinya kali ini, tampak berbeda dari biasanya. Ia tak menampakkan senyum serigala itu. Gin yang ini.... Begitu damai.....
Aku hanyut dalam waktu yang seakan berhenti untukku, seakan mempersilahkan aku untuk terus menikmati saatku bersama Gin.
Aku jadi semakin yakin aku tak bisa lagi menghapus rasa cinta ini. Apapun yang terjadi. Sudah terlambat untuk lari dari jurang perangkap Gin.
Meski aku menangis karena dia, tetap saja ada waktu dimana aku bisa melihat senyumnya lagi. Niatku melupakannya dan membuangnya dari ingatanku jadi batal, dan menyisakan lagi harapan yang semu.
"Gin...." ucapku untuk kesekian kalinya. Entah ini yang keberapa aku menggumamkan namanya lagi.
Tangannya menggenggam rahangku. Mendekatkan wajahnya kepadaku. Semakin dekat, dekat dan dekat....
Hingga waktu kembali terhenti untukku dan Gin, saat aku merasakan hangat bibirnya yang menyentuh bibirku dengan lembut. Dan saat jemarinya yang menggenggam rahangku dengan pelan mengusap ruas tulang pipiku. Aku merasa....
..... Cinta ini telah terwujud. Benar, kan? Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Waktu kami telah melebur menjadi satu, mewujudkan diri menjadi jelmaan cinta yang indah, untuk saat ini.
Tapi itu hanya sebentar. Ia menarik dirinya. Aku terdiam.
"Gomen na, Rangiku...."
Kata-kata.... Itu lagi? Aku menjadi bingung. Apa maksudnya? Setelah menyatakan cinta padaku, sekarang ia minta maaf?
'Duakkh!'
Aku merasakan tulang rusukku yang barusan sembuh kembali sakit, ngilu hingga seakan menusuk kesadaranku menjadi samar-samar.
Tapi dalam kesamaran itu aku bisa melihat, Gin menarik pedangnya.
'Crassh!'
Aku kembali melihat darah yang menciprat dari perutku. Rasa sakit yang luar biasa tetap kutahan untuk melihat ekspresi Gin selanjutnya.
Awalnya ia minta maaf, menyatakan cinta, minta maaf lagi, dan berniat membunuhku?
Kau kejam, Gin!!
"Argh..." erangku pelan. Kesadaran seakan sudah tak sanggup menahan rasa perih ini.
Gin kembali melebarkan senyum serigalanya. Sesudah itu aku tak lagi dapat melihat apapun. Gelap.
- To Be Continued -
kazuka : AHAHAHA~~ ANCUR!! ANCUR!! GAJE!! ABAL!! ALAY!! GARING! Akh, gak tau apa lagi kata-kata yang pas untuk menggambarkan ke-abalan karya saia yang satu ini. Jadinya aja karena spontanitas! ah, kenapa saia mesti nge-publish kisah semacam ini ya?
yukina : tau ah, aku gak bisa ngomentar banyak!
kazuka : kamu juga ya? Ah, fic ini emang ancur dah! *nangis di pelukan yukina, meluk2 gaje*
yukina : O, Oi!! Aku masih straight!!
kazuka : ah, aku juga, aku masih teringat ama bebek, jadinya nulis fic ini...
yukina : bebek? Ah, yang itu ya? Yang nama aslinya..... UMMPH!
kazuka : gak boleh nyebutin nama dia di depan umum secara terang-terangan!!
yukina : oke dah, kali ini aku jaga rahasia! Dan, kita cuma akan membalas ripyu! Pertama dari rabichan kawaii na. -gag log-, katanya ceritamu sangat menyentuh jantung..
kazuka : kok jantung, rabi? lambung kali...
yukina : *geleng2, majikannya udah stres* simpan dulu kegilaanmu, jangan sekarang, ini waktunya ngebales ripyu! berikutnya dari ichakuchikichi, ah, kalian ternyata senasib....
kazuka : uph... Icha.... kita sama... *meluk Icha* senasib!
yukina : udah, semakin detik author nih tambah gaje! biar aku yang ambil alih. Jawaban untuk Ruki_ya, ngeramu? nih author cuma hebatnya di kata-kata aja! Yang lain terutama ilmu eksak, ANCUR gak berbentuk!!
kazuka : ayo, bongkar terus aibku disini!
yukina : itu bukan aib, tapi kenyataan! selanjutnya, review dari BinBin-Mayen Kuchiki... kamu bikin dia nangis waktu baca fic ini!
kazuka : yah, ampun! BinBin, dikau nangis saat les bahasa Inggris? Ditegur gurunya gak?
yukina : buat BinBin, kalo ditegur gurunya, salahkan kazu!! Hahaha~
kazuka : Ufufufu~ saia udah terlalu sering bikin orang nangis! yap, selanjutnya, dari Park Seo Young, makasih, Himeka-chan!! Eh, merasuki? yang merasuki saia adalah 'DIA', sampai-sampai dia bisa membuat saia mengetik fic ini!! HWAHAHAHA~~ *ngerobek-robek poster muka 'dia'*
yukina : *geleng2 lagi* dan dari mss Dhyta...
kazuka : CURHAT banget nih mss! saia memang terlalu CENGENG! tapi makasih pujiannya ya! *grin*
yukina : ge-er lo!! terakhir dari Qie KurOsaki, nah, ini khusus untukmu, jawab sendiri!
kazuka : ah, Qie-nee tau aja saia PALING PAYAH DI EKSAK! Tapi makasih nasihatnya, dan pujiannya... hiks... dikau memang benar, Qie-nee... *nyium tangan Qie-nee*
yukina : eh, bukan yang terakhir! masih ada! dari
kazuka : ripyu-nya sesudah saia hampir aplot chapter 2, ahaha~ dia malah ripyu di samping tempat duduk saia! maklum dah, kami kan sekelas! *meluk Hira* ma... makasih ya... ah, tuh bebek kita bakar aja yuk! haha!! *ikut nyulut obor ama Hira*
yukina : selesai! *ngelempar kertas berisi ripyu*?*
kazuka : sekedar menginformasikan, fic ini kemungkinan hanya three-shot *emang ada istilah kayak gini?*
yukina : soalnya nih author udah langsung ngetik chapter 3-nya, dan saat apdet chapter 2 ini, fic ketiganya sedang dalam proses pengetikan.
kazuka : yup! Dan, terima kasih, minna, tetaplah BRS!!
yukina : apaan tuh BRS??
kazuka : Baca, Review, Setia nunggu!! Ufufufu~ Oke, makasih!!
untuk kebaikan semua, kliklah link bernuansa hijau ini!
