WB-ku sembuuuhhh!!! Terima kasih Tuhaaann!!!!! Akhirnya, saia sempat pesimis dengan lima multichapter punya saia, namun berhasil menamatkan satu dulu....
oke dah! baca aja!!
.
****Crying, For The Love****
.
.
BLEACH © TITE KUBO
Crying, For The Love © kazuka-ichirunatsu23
- Chapter 3 -
(Last Chapter)
NORMAL PoV :
Gin menahan tubuh Rangiku yang jatuh tak berdaya. Sesaat ia memanfaatkan waktu untuk memandang Rangiku sekali lagi. Gin paham. Ia telah menyakiti. Ia telah melukai, luka sedalam-dalamnya di hati Rangiku.
Ia hanya tak ingin Rangiku terlibat dalam peperangan mempertaruhkan nyawa ini. Ia tak ingin Rangiku terluka. Biarlah ia jatuhkan Rangiku disini, asalkan tak terluka di medan perang sana. Karena luka di medan perang itu jauh lebih beresiko.
Karena Rangiku terlalu berharga untuknya.
Ia punya alasan tersendiri mengapa ia meninggalkan Rangiku dan lebih memilih menjadi seorang pengkhianat. Alasan besar, yang membuatnya rela berpisah, dianggap pengkhianat, dibenci, didendam oleh cintanya sendiri.
Ia menghentikan senyumnya. Senyum yang selalu menyembunyikan apapun di dirinya -entah itu kebohongan, cinta, suka, derita. Membiarkan wajah Rangiku memenuhi penglihatannya, merayap masuk hingga ke naluri terkecilnya, hati.
Hati yang selama ini tak pernah ia biarkan bicara, dan ia ganti dengan senyum. Membuat dirinya bercitra licik di hadapan rekannya.
Wajah Rangiku....
Telah lama menahan derita. Ia tahu, dan derita itu karena dirinya.
Bukannya ia tidak peka, tapi ia sangat untuk hal itu. Sangat peka, hanya untuk Rangiku seorang.
Tapi ada hal yang menghalangi dirinya untuk menunjukkan kepekaan itu.
Sudah. Biar ia bersabar sedikit lagi untuk meraih Rangiku, karena ada satu hal lagi untuk benar-benar mewujudkan keinginan itu.
Sekali lagi, ia mengelus rambut Rangiku, dan mengecup keningnya dengan pelan. Dan ia membawa Rangiku ke dalam gedung tempatnya berada, menaruhnya di dalam, agar tak terganggu siapapun.
"Gomen na, Rangiku.... Tunggulah sebentar lagi...." Ia melangkah keluar, dengan menyisakan kilasan pandangan untuk Rangiku sebelum ia menjauh.
xxx
Darah telah membasahi shihakushou para shinigami yang tersisa. Beberapa macam darah bercampur jadi satu, mengotori warna putih yang mendominasi haori para kapten yang tengah berjuang.
Tetes peluh tak dapat lagi dihitung berapa kali mengaliri tubuh mereka.
Sang pemimpin pemberontakan, telah menyerahkan sepenuhnya tekad liciknya kepada takdir, mendampingkannya ke langit menjadi sebuah impian berkenyataan palsu. Takdir, mengantarkannya untuk menyapa nasib yang harus dihadapi. Tetes darah untuknya hidup telah habis. Berganti senyuman beku untuk cita-cita tak nyata, karena nadinya telah putus untuk mewujudkan itu semua.
Dengan kata lain....
.... Mati. Tak lagi beriwayat.
Itulah yang terlihat di mata Gin. Ia berdiri, mungkin masih belum ada yang memperhatikan ia telah berada di tempat itu semenjak beberapa menit yang lalu.
Bisa saja, sedetik lagi adalah gilirannya untuk menyusul Aizen. Atau seperti Tousen yang tengah sekarat berlumuran darah di tangan Komamura.
Tapi ia berharap tidak. Karena janjinya belum tertepati untuk seseorang, Rangiku.
Seorang pengkhianat seharusnya tak berhutang cinta, karena hidup mereka bukanlah untuk cinta. Jadi, apa yang harus Gin lakukan? Ia harus membayar nyawa untuk pengkhianatan macam itu, tapi ia tak ingin mati sebelum memiliki Rangiku dalam konteks sesungguhnya.
Ia telah salah semenjak awal. Keliru.
Tapi keraguan dan kesedihannya itu tak pernah tergambar di mata orang lain. Yang orang lain lihat adalah senyuman ala rubah, seolah menjelaskan dialah yang terlicik dari trio pengkhianat itu.
Ya, ia hanya pengkhianat, pemberontak, penoreh luka bahkan untuk seorang wanita yang begitu ia cintai.
Pantaskah ia lagi untuk menyambung hidup untuk menggapai impiannya, meraih Rangiku setelah luka yang ia berikan di balik senyum itu?
Yang membuat Rangiku terus menangis, karena cinta.
"Sekarang giliranmu, Ichimaru."
"Ichimaru-taichou, anda sudah tak lagi bisa bergerak."
"Heh, Ichimaru rupanya."
Gin memutar matanya. Tampak dua orang kapten dan dua orang wakil kapten berdiri mengelilinginya. Pertama, di depannya, Toushiro Hitsugaya. Keningnya telah melelehkan keringat tanpa henti dan bercampur dengan darah.
Di sebelah kanannya, ada Soi Fon, yang masih menyeringai sambil memegang Suzumebachi bersama Omaeda di sampingnya. Dan yang ketiga, di sebelah kirinya, mantan wakilnya, Izuru Kira, yang menatapnya dingin, dengan shikai Wabisuke yang seakan siap menjatuhkannya untuk sebuah permohonan maaf.
Darahnya mendesir untuk sekian detik. Degup jantungnya seakan berjeda beberapa saat.
"Kh...." katanya pelan. Ia tahu, ia telah terkurung, dan seakan kematian yang sesungguhnya telah menari di ujung pedang keempat shinigami itu.
xxx
"Jangan bergerak lagi, Ichimaru!" Toushiro berhasil mengunci gerakan Gin dengan meletakkan Hyourinmaru ke leher Gin, hingga menyisakan tetesan-tetesan darah dari goresan luka di dekat urat nadinya.
Shinshou telah terjatuh, pertanda tak lagi dapat dikendalikan lagi untuk sebuah perlawanan. Soi Fon siap menusukkan ujung runcing Suzumebachi itu ke mata Gin. Izuru terjatuh, telah kalah telak karena perlawanan terakhir Shinshou sebelum jatuh tadi.
"Dirimu telah habis, Ichimaru."
Gin tetap tersenyum, walau hatinya galau setengah mati. Sudahlah, memang hidupnya yang bergelut dosa tak pantas mendapatkan akhir yang bahagia, seindah langit yang ceria saat itu.
Ia menghela nafas. Ia rasa, itulah nafas terakhirnya.
"Tu.... nggu...." lamat-lamat suara itu terdengar, berjedakan rintihan.
Toushiro menoleh, begitu pula Soi Fon.
"Ja... Jangan bu... nuh... Gi... Gin...." suara dan pemiliknya telah sepenuhnya berada di depan mata mereka bertiga.
"Matsumoto...." Toushiro terkejut, melihat keadaan wakilnya yang telah berlumuran darah, baik dari mulutnya maupun dari bagian perutnya. Tapi walau keadaannya begitu, ia tetap berusaha penuh berjalan tertatih-tatih.
"Ja....ngan...." Rangiku menghentikan kata-katanya, bukan karena apa-apa, hanya karena kesadarannya tak lagi mampu untuk menunjang kata-katanya. Ia jatuh, tak mengelakkan lagi gravitasi yang menariknya, yang tak peduli apakah ia masih bernyawa setelah terhempas ke tanah karena gravitasi itu.
"Rangiku!!" Gin tak lagi mempedulikan kedua kapten yang menahannya, ia berlari ke Rangiku, walau lehernya telah terluka dalam karena membiarkan Hyourinmaru menggores dalam di situ, saat melanggar kuncian dari Toushiro sejak tadi. Untuk Rangiku.
"Ichimaru!!!" teriak kapten ber-haori angka 10 itu. Toushiro tahu teriakannya ternyata sia-sia.
"Akh, syukurlah, Rangiku...." Gin telah mendapatkan Rangiku di genggamannya, mengangkatnya di atas kedua tangannya.
"Ichimaru.... Kau...."
"Tolong, kali ini... Jangan dulu bunuh aku sebelum aku berbicara pada Rangiku...." mohonnya dengan nada rendah. Benar-benar permohonan. Tanpa senyum rubah yang mengganggu.
"Grrh!! Tapi kau adalah pemberontak! Pengkhianat!! Kau pantas mati!!" Soi Fon berteriak. Sebuah lompatan sudah ia lakukan untuk menerjang Gin.
"Kumohon, kali ini, biarkan Rangiku mendengarkanku, meski untuk terakhir." Gin membuka matanya, menatap. Meski susah untuk dipercaya, laki-laki berambut silver itu menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Toushiro meluluh. "Baiklah. Soi Fon-taichou, mundur. Kita ampuni dia untuk beberapa waktu. Katakan ini pada Soutaichou, biar aku yang menjaganya."
xxx
Gelap kembali terasa. Sunyi menyesap masuk ke keadaan sekitar Rangiku. Ia coba untuk membuka kelopak matanya. Serasa susah. Berat. Nafasnya pun tak seringan sebelumnya.
"Ngghh...." ucapnya, setelah benar-benar sadar dari tidurnya.
Mata berpendar biru itu menguasai sekeliling, mencoba mengetahui keberadaannya setelah kelelahan menyergap dirinya.
"Rangiku...."
Suara itu adalah bunyi pertama yang berhasil ditangkap indra pendengarannya setelah sadar kali ini. Matanya mengerjap beberapa kali lagi, memastikan sosok pemilik suara itu.
"Gin?"
Gin diam. Tangannya dengan erat menggenggam jemari di tangan sebelah kiri Rangiku.
"Kau? Gin? Apa yang terjadi? Perangnya bagaimana?!" Rangiku dengan cepat bangun, matanya berekspresi kaget, khawatir, dan separuh tak percaya.
"Perangnya sudah berakhir. Kalian sudah menang."
"Kalian? Bagaimana dengan Aizen? Tousen?"
"Aizen-taichou...."
"Mati?"
"Ya. Dan Tousen masih hidup, walau kondisinya masih kritis dan belum bisa bangun. Dia tidak dibunuh atas permintaan Komamura-taichou dan Hisagi-fukutaichou."
"Lantas kau?" Rangiku menahan pertanyaannya, pertanyaan 'mengapa mereka tak membunuhmu?'.
"Aku? Aku kesini untuk...."
Tanpa kata, Rangiku menyergap Gin dalam pelukannya. "Jangan tinggalkan aku lagi, Gin...."
"Gomen na, Rangiku.... Aku hanya diperbolehkan hidup hingga aku minta maaf denganmu. Soutaichou memerintahkan mereka untuk mengeksekusiku...." Gin menghentikan senyumannya.
"Apa?" Rangiku tersentak kaget.
"Semuanya mengusulkan, agar aku dieksekusi mati." ucap Gin dengan wajah tenang. Tapi siapa yang tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang?
Rangiku terpaku. Air matanya meleleh lagi tanpa bisa ia bendung.
"Kapan?" Rangiku mengguncang pelan bahu Gin.
"Kata mereka secepatnya. Aku sudah memohon pada mereka untuk terus menunda eksekusiku hingga kau sadar, dan kau mau memaafkanku...."
"Memaafkanmu? Tentu saja, baka!" Rangiku memeluk Gin lagi.
Andai ia bisa menghentikan waktu, itulah yang pasti ia lakukan sedari tadi.
"Aku, mencintaimu, Rangiku...."
"Aku juga, Gin...."
Gin mundur perlahan, melepaskan tangan Rangiku yang mendekapnya erat, "Aku harus pergi, Rangiku."
"Jangan pergi lagi, Gin...."
"Maaf, ini kewajiban. Aku harus menebus kesalahan terbesarku, mengkhianati Soul Society, dan melukai banyak orang. Termasuk kau, Rangiku...."
Rangiku menggeleng. Seolah dengan gelengan itu ia dapat membalikkan fakta.
Gin tak lagi menjawab. Ia hanya pergi berlalu, masih dengan senyum yang tidak bisa diartikan itu.
Pandangan Rangiku mengabur, memudar karena air mata yang menggenang.
Tetes air mata itu lagi-lagi jatuh, untuk sebuah cinta yang sekarang tak bisa diraih lagi.
xxx
Ketukan pintu terdengar di malam yang sepi ini. Rangiku yang sedang berbaring, menoleh ke pintu ruangan perawatannya itu.
"Silahkan masuk."
"Permisi, Rangiku-san...."
"Oh, kau Isane," Rangiku melihat ke arah pintu, tampak Isane sedang berdiri di sana.
"Rangiku-san belum tidur?"
"Eh, belum. Masih belum bisa."
"Ada yang anda pikirkan?" Isane berjalan mendekati Rangiku, tangannya memeriksa keadaan Rangiku.
"Kurasa kau tahu, Isane...." Rangiku berpaling, tidak mau memperlihatkan ekspresi wajahnya pada Isane.
"Ichimaru-taichou? Eh, maaf jika saya menyinggung anda...."
"Tidak apa," Rangiku tersenyum kecil, "Memang benar ya, katanya dia mau dieksekusi?"
"Ya, benar. Soutaichou memerintahkan untuk mengeksekusinya. Karena dia adalah penjahat yang tak terampuni lagi. Sedangkan Kaname-taichou belum dieksekusi, karena Komamura-taichou memohon begitu. Sedangkan Ichimaru-taichou tidak ada yang memohonkannya seperti itu, termasuk Kira-fukutaichou. Jadi...."
"Dia akan dieksekusi secepatnya," sambung Rangiku.
"Begitulah...."
Suasana diliputi hening, hanya tangan Isane yang masih sibuk memeriksa keadaan Rangiku.
"Mungkin besok anda sudah boleh pulang, Rangiku-san."
"Begitu ya?"
"Ya. Kesehatan anda sudah pulih, luka-luka dalam anda juga sudah membaik."
"Hn... Tidak bisakah malam ini aku pulang?"
"Kenapa malam ini? Setidaknya anda masih bisa beristirahat sebelum mulai bekerja besok."
"Ayolah Isane, tidak boleh?"
"Hn... Ba... Baiklah. Tapi jangan bilang ke Unohana-taichou kalau saya yang memperbolehkan anda pulang, ya!"
"Tenang, tidak apa. Terima kasih, Isane."
xxx
Malam yang dingin, merasuk dalam ke kulit laki-laki yang sedang menekuri langit dari sela jeruji itu.
Mata hijau muda-nya terbuka, tidak seperti biasanya.
Ia memandang langit yang kelam, tanpa bulan.
Hanya hitam
Ya, hitam.
Seumpama kesalahannya yang sudah mengendap, menghitam keseluruhan karena saking banyaknya.
Kesalahannya, ia rasa sudah tak bisa terampuni lagi oleh mereka, orang-orang yang dulu temannya.
Mengkhianati, merepotkan.
Dan yang paling ia sesali.
Rangiku.
Wanita yang dulu pernah ia selamatkan, pernah ia cintai.
Namun karena ia yang -entah terlalu bodoh atau apa, malah ia tinggalkan.
Membuat wanita itu terluka, menangis, dan menanti sebuah harapan kosong, tak berjawaban.
Memang ia telah kembali sekarang.
Ia ingin meminta pengampunan pada Soutaichou. Namun, ya karena itu tadi, kesalahannya sudah tak terampuni.
Tousen tak jadi dieksekusi karena ada yang memohonnya, membelanya mati-matian.
Sekarang dirinya?
Bahkan Rangiku pun mungkin tak akan mau sekedar untuk membelanya.
Itu karena kesalahannya sendiri.
Tak patut disesali. Karena sesal tak akan membuka jalan apapun untuk mengembalikan masa lalu.
Sesal hanyalah serpihan kesalahan yang terbawa angin bernama waktu, menghanyutkan kita yang sudah terpuruk.
Takkan ada lagi jalan, ia pesimis.
Inilah bayaran karena kebodohannya.
xxx
Langkah Rangiku menderap, masih di malam yang sama, dan tetap sunyi. Ia menyusuri koridor-koridor dari divisi-divisi yang ada di Gotei 13.
Lalu ia sampai di depan divisi 1. Beruntung, shinigami yang biasa menjaga kantor utama itu sedang lalai bertugas.
Ia dapat mendengar suara Soutaichou memimpin rapat para kapten. Ia bersembunyi sebentar di balik dinding, mengumpulkan keberaniannya
"Ayolah, Rangiku, kuatkan dirimu. Kau harus bisa... Demi Gin."
Rangiku lalu melangkah diam-diam.
"Anda mau apa?"
Rangiku yang sudah akan melangkah masuk terpaksa menghentikan langkahnya. Shinigami penjaga tiba-tiba muncul disampingnya.
"Ah, aku mau menemui Soutaichou."
"Anda tidak mendengar? Di dalam sedang ada rapat para kapten. Tidak bisa diganggu."
"Ayolah, ini urusan penting."
"Tetap tidak bisa!" shinigami itu mengeraskan suaranya, menegaskan lagi pada Rangiku bahwa perkataannya adalah peraturan mutlak yang harus ditaati.
"Aku jyuubantai fukutaichou! Keperluan mendadak!"
"Kalau begitu, bisakah anda tunggu hingga rapat selesai?"
"Tidak bisa! Penting sekali!!" suara Rangiku tak kalah kerasnya.
"Biarkan dia masuk!"
Soutaichou rupanya paham situasi diluar.
"Tuh! Biarkan aku masuk!" tanpa ragu Rangiku membuka pintu besar yang sedang tertutup rapat itu.
xxx
Sekarang ia langsung berhadapan dengan Soutaichou. Sepuluh orang kapten berdiri berjajar, dan kesemuanya melihat ke arahnya.
Terlebih kapten dari divisi 10, ketuanya. Yang dipastikan paling heran akan alasan ia berdiri di situ.
"Soutaichou, bisakah saya memohon sesuatu?" Rangiku menunduk, atau lebih tepatnya bersujud di depan Soutaichou.
"Apa yang kau minta?"
"Saya akan menjadi penjamin Ichimaru Gin. Tolong jangan eksekusi dia," kata Rangiku tanpa mengubah posisinya.
Semuanya bertambah terkejut dengan permohonan wanita itu barusan.
"Matsumoto...." Toushiro berujar pelan.
"Tolong, Soutaichou. Saya bersedia dihukum jika Gin berkhianat kembali. Bebaskan dia, walaupun dia tidak lagi bisa menjadi seorang taichou."
"Apakah itu bisa diterima?" Soutaichou bertanya balik.
"Saya mohon, Soutaichou. Saya akan menjadi penjaminnya."
Desas-desus terdengar dari barisan para kapten itu.
Ternyata ada juga orang yang membela Gin. Itulah yang kebanyakan mereka omongkan.
Cukup lama juga Rangiku menunggu. Soutaichou tampak berpikir.
"Kau bersedia dihukum jika orang itu kembali mengkhianati kita?"
"Ya," jawab Rangiku singkat.
"Baik, aku membatalkan pengeksekusian Ichimaru Gin. Aku akan memberikan hukuman pada Matsumoto Rangiku, jyuubantai fukutaichou, jika dia berkhianat kembali."
Rangiku tersenyum tipis, hingga ia menunduk kembali, "Terima kasih banyak, Soutaichou...."
"Angkat kepalamu," perintah Soutaichou. "Cuma itu yang mau kau sampaikan?"
"Ya. Terima kasih banyak, Soutaichou. Saya permisi," Rangiku berbalik mundur. Lalu pergi meninggalkan sepuluh kapten yang sedang terheran-heran.
"Akhirnya ada juga orang yang mau membela dan menjaminnya ya...." decak Kyouraku.
"Setidaknya lebih baik daripada dia hanya mati tanpa dikenang," sahut Ukitake.
"Rapat dilajutkan," kata yang bernada biasa dari Soutaichou bisa menenangkan kembali suasana yang sempat gaduh.
xxx
Gin masih melamun. Menatap pada bulan yang hanya menggantung dengan kebisuan.
Gembok dibuka, suaranya membuat Gin menoleh.
"Kau boleh bebas."
"Apa?" tanya Gin pada shinigami penjaga yang membukakan jeruji itu untuknya.
"Kau bebas, sekarang," tegasnya lagi.
"Kenapa aku bebas? Bukannya aku akan dieksekusi? Dihukum mati?"
Shinigami itu diam sesaat, menatapnya dengan tatapan dingin, "Seharusnya kau bersyukur. Masih ada seseorang yang mau mempertaruhkan nyawanya untukmu."
"Mempertaruhkan... Nyawa?"
"Dia bersedia menjadi penjaminmu agar kau bisa bebas."
"Apa? Penjamin? Bagaimana bisa?" Gin meruntut pertanyaan itu. Batinnya penuh dengan tanda tanya.
"Kau pasti tahu sendiri. Berterima kasihlah, dan jangan pernah jadi pengkhianat lagi jika kau menyayangi dia dan nyawanya," shinigami itu berlalu tanpa permisi. Meninggalkan Gin yang masih belum mempercayai kesadarannya sendiri.
"Apakah itu... Rangiku?"
xxx
Angin musim salju memang menusuk, walaupun butiran halus itu tak turun. Suhu yang berhembus begitu menusuk tulang. Selaras dengan langit yang kelam. Sebuah bintang pun enggan menemani malam ini.
Wanita itu tidak menangis, tidak jua tertawa.
Matanya berair, namun bibirnya tersenyum.
Kali ini ia tidak mengharapkan bulan yang tersenyum padanya, atau bintang-bintang mungil datang padanya untuk menyanyikan lagu penghibur.
Tapi ia ingin laki-laki itu.
Untuk datang kepadanya. Merangkulnya kembali. Dia sudah di depan mata. Selangkah lagi mungkin akan tergapai.
Ia tak menyesal mempertaruhkan nyawanya ke Soukyoku disana, untuk laki-laki itu.
Karena pengorbanan cinta takkan terbayar apapun, berapapun, bagaimanapun.
"Rangiku...."
Wanita itu menolehkan kepalanya, menggeser anak rambut di samping telinganya, yang mengganggu pandangan kepada yang datang padanya.
"Gin...." ia tak memberi ekspresi berlebihan sementara laki-laki itu mengambil tempat disampingnya.
"Terima kasih, Rangiku...." ia meraih tangan Rangiku, menggenggamnya erat.
Rangiku tak menjawab. Tak merespon apapun. Ia anggap tak perlu ada kata 'sama-sama'. Semua sudah impas. Tak perlu ada jawaban atas bayaran kesepiannya selama ini.
"Sekali lagi, terima kasih, Rangiku...." Gin mengharap jawaban.
Rangiku menghela nafas, "Hanya itukah yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak. Masih ada."
"Kau tidak berbohong dibalik senyummu itu?"
"Memangnya kenapa kalau tadi hanya kujawab 'ya'?"
"Aku akan membunuhmu."
Gin diam. Mempersilahkan Rangiku untuk melanjutkan kata-kata itu.
"Kau pikir sudah berapa lama aku menunggumu?!! Menantimu dalam kesakitan?"
"Kau masih sakit hati?"
"Wanita mana yang akan tahan jika orang yang dia sayangi pergi begitu saja tanpa jawaban yang pasti?"
"Jika aku membayarnya dengan ini?" Gin menggamit bahu Rangiku ke dalam rangkulannya.
"Aku harap kali ini nyata, Gin. Bukan harapan kosong dengan senyuman tak jelas yang menjadi penyelanya."
"Ya, ini nyata."
"Aku tak butuh kebohongan, Gin."
"Kau perlu apa untuk mempercayaiku? Mau bukti atau sesuatu yang harus kulakukan untukmu? Menurunkan salju di musim panas?"
"Tak perlu sesuatu yang berlebihan...."
Rangiku menyela. Matanya memejam, menghirup udara, mengisi paru-parunya.
"Jangan lagi pergi dariku. Sudah cukup aku menderita karena dirimu."
Gin tersenyum. Namun bukan senyuman rubah bernada licik seperti biasa. Bahkan Rangiku pun begitu tertegun melihat senyuman itu.
"Ya. Langkahku sudah cukup untuk meninggalkanmu. Aku sudah ada disini. Untuk memilikimu...."
- owari -
cuma ada tiga kata untuk fic ini...
.
.
.
LEBAY!!! LEBAY!!! LEBAY!!!
Sumpah dahh!! LEBAY benaar!!!!
Gin-nya OOC!!! Seandainya Gin kayak gitu, mungkin saia udah tepar. Nyogok berapa ke Tite Kubo buat bikin karakter Gin jadi kayak gitu ya??
*disepak*
Maklum aja dah! Saia baru sembuh dari WB, jadinya maklum aja kalo ada yang gak jelas disini. Otak mampet kebanyakan mikir sekolah, jadinya pada nyampur, ditambah lagi fic multichap saia sekarang jadi lima! Makanya jadi rada buntu
.
Kebanyakan chin-chaunk (baca: cincong) dah, mending balesin ripyu :
kishina nadeshiko : makasihh~ kenapa gak ditembak? Sayangnya pistol buat nembak sedang saia pakai buat nembak -piiip- *dicakar*
BinBin-Mayen Kuchiki : saia emang gawat, bikin orang nangis di tengah pelajaran.... ==a
Ruki_ya : trenyuh ya? yah... penderitaan karena cinta memang berat....
ichakuchikichi : sedih? hiks... iya... *ikutan nangis*
Jess Kuchiki : ngeripyu punya saia lancar? duh, baguslah kalo gitu. hape jez nurut ama fic saia! *dikemplang kiri-kanan* Gin dibunuh? Kan sayang, gak ada lagi makhluk yang senyum setiap saat, langka tuh... *dishinsou juga*
CursedCrystal : makasih nee! kapan bisa bikin puitis? Sekarang juga bisa kok, asal yakin n berusaha! Yohoo!!
rabichan kawaii na -gag log- : nangis lagi? ya ampun... saia emang parah udah ya... *geleng2* kalo ada gurunya, bilang aja abis liat gambar bawang, makanya nangis.... *dicubit*
Ni-chan d'Sora. Yuki : ah, gak papa~ ini udah lanjut nichaan! yo!!
.
yosh! makasih yang udah read n ripyu! Nih fic selesai di chapter 3 aja, berhubung ini cuma fic singkat atas kesakithatian dan kepatahhatian saia terhadap seseorang. Makasih lagi ya!
.
.
Ripyu lagi?
