Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
Chapter 2: Kidnapped
Akira terbangun ketika jam dinding di kamarnya tepat menunjukkan pukul 6 pagi. Ia langsung turun dari kasurnya yang nyaman dan berlari keluar kamar, memasuki pintu kamar orang tuanya, berharap orang yang diharapkannya masih tertidur pulas di sana.
Tapi harapannya tak terkabul.
Ranjang Souji dan Naoto sudah kosong dan dirapikan sejak tiga puluh menit yang lalu. Akira menghela nafas sedih dan menutup pintu lagi. Ia berjalan ke ruang makan, di mana ia bisa melihat ayahnya sedang memasak sesuatu yang lezat jika aroma memang tidak bisa menipu. Pria berambut keabu-abuan itu menoleh ketika melihat putra semata wayangnya duduk di atas kursi meja makan.
"Pagi, Akira...tumben bangun pagi."
Akira mengangguk. "Akira mau mengantar Mama sebelum keluar rumah, tapi Mama perginya terlalu pagi terus..." katanya sambil meraih segelas susu sapi dari nampan di atas meja itu.
Souji tersenyum. Ia menyelesaikan kegiatan memasaknya dan menuangkan makan pagi buatannya—nasi omelet—di atas piring. Setelah melepaskan celemek dan mencuci tangan, sang kepala keluarga itu membawakan sarapan ke meja makan. Akira menaruh lap makan di pangkuannya dan segera menyendoki nasi itu. Souji menyalakan televisi supaya bisa menonton siaran berita pagi.
"Papa..." Akira memanggil.
"Ya?" sahut Souji, masih fokus menonton berita tentang kondisi ekonomi saat ini sambil terus memasukkan nasi omelet ke dalam mulutnya.
"Kenapa Mama tidak berhenti dari pekerjaannya saja sih?"
Mendengar hal itu, pria berusia tiga-puluhan itu langsung tersedak. Akira, sebagai anak yang baik dan taat pada orang tua, segera memberikan segelas air putih untuk ayahnya. Setelah menenangkan diri dari kejutan tiba-tiba itu, Souji menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Kamu tidak suka Mama jadi detektif?"
"Suka sih...Mama keren," Akira tersenyum. Tapi senyum itu pupus saat ia melanjutkan, "...tapi Akira kesepian tidak ada Mama..."
Souji tersenyum kecil. Ia mengerti perasaan anaknya itu. Ia juga merasa sedikit kesepian setiap kali pulang dan hanya melihat Akira di rumah. Tapi dia tidak rela membuat Naoto sedih karena berhenti dari pekerjaannya. Akhirnya, Souji hanya bisa mengelus rambut Akira dan menyuruhnya untuk menyelesaikan sarapannya dan segera berganti baju seragam sekolah.
Sementara itu, Naoto sudah berada di kota Hiroshima. Ia menoleh ke sana-kemari, mencari orang yang akan menjemputnya. Sesekali, ia melihat jam tangannya. Ia baru saja sampai, tapi itu bukan berarti ia bisa bersantai-santai. Ada kasus yang harus segera ia selesaikan dan...
"Ah...Detektif Seta?"
Wanita itu menoleh dan menemukan seorang polisi wanita muda menghampirinya. Ia langsung tahu bahwa wanita itu yang ditugaskan menjemput dan mengantarkannya ke lokasi kasus kali ini.
"Cepat sekali anda datang...apakah anda menunggu lama?" tanyanya sopan.
"Tidak, saya baru saja turun dari kereta tadi," jawab Naoto sama sopannya.
"Baiklah...kalau begitu, saya rasa kita langsung saja ke markas kepolisian Hiroshima. Bagaimana menurut anda?"
"Ya, tentu saja," sang detektif tersenyum. Lebih cepat lebih baik, bukan?
Beberapa hari kemudian, di sebuah SD di kota Tokyo.
Akira berjalan keluar kelasnya. Ia tampak berjalan sambil melamun. Pikirannya dipenuhi bayangan Mama Naoto-nya tercinta. Ini sudah hari keempat sejak Mama pergi ke Hiroshima...Mama makan yang benar nggak ya? Ukh...Akira kangen Mama...mau meluk Mama...
Akira menggeleng, berusaha keras tidak memikirkan tentang ibunya. Ia berjalan keluar daerah sekolahnya, berjalan kaki ke arah rumahnya yang memang dekat dengan sekolah itu.
Saat ia melewati sebuah gang, beberapa lelaki berpostur sangar dan menakutkan melihatnya berjalan melewati daerah tersebut. Para lelaki itu bertukar pandang dan tersenyum berbahaya sebelum akhirnya mengikuti Akira. Sebagai putra detektif terkenal dan jaksa terhormat, bocah cilik itu rupanya mewarisi insting orang tuanya. Ia segera berbalik dan menemukan orang-orang berbahaya itu berdiri di belakangnya.
"Om-om mau apa?" tanya Akira, waspada. Dia sudah sering diperingatkan oleh Mama Naoto supaya tidak menuruti permintaan orang asing, dan mencurigai orang dewasa terutama yang penampilannya mengerikan seperti mereka, karena terkadang kau bisa menilai buku dari sampulnya.
"Hei bocah...kelihatannya kamu anak orang kaya ya?" salah satu penjahat berbicara.
"Memangnya kenapa?"
"Serahkan uangmu!" pria lainnya berteriak mengancam.
"Akira tidak bawa uang, Akira tidak diperbolehkan bawa uang oleh Papa."
"Oh?" orang pertama tadi tersenyum mengerikan. "Tapi kau bisa jadi uang."
Selagi Akira mengernyit, mencoba mengartikan kata-kata penjahat itu, salah satu komplotan mereka mendekati Akira dari belakang dan segera membekap mulutnya dengan sapu tangan yang telah dilumuri obat tidur. Dalam sekajap saja, obat itu memulai efeknya dan membuat anak kecil tak berdaya itu tertidur.
PRANG!
Souji tersentak. Baru saja dia akan berjalan keluar dari ruang kerjanya di Kantor Kejaksaan Tokyo, figura foto yang biasa ia letakkan di atas meja kerjanya terjatuh. Pria berambut abu-abu itu segera mengambil foto dari dalam kaca yang pecah dan tiba-tiba saja perasannya tidak enak begitu ia memandangi wajah imut Akira dalam foto itu.
Kenapa ini? Aku mendapat firasat buruk...
Tak lama, telepon genggamnya berbunyi. Souji meraihnya untuk menjawab panggilan itu. Dari layar tertera nama Akira, namun yang menjawab adalah suara orang lain yang tak dikenalnya, dan suara itu terdengar berbahaya.
"Halo? Dengan orang tua bocah yang bernama Akira?"
Souji langsung membuat kesimpulan awal. "Ya? Siapa ini? Kalian apakan putraku?"
"Tenanglah, dia hanya tertidur, tapi sekarang dia kami jadikan sandera."
"Kalian—APA!?" teriakan Souji tadi membuat beberapa teman sesama jaksanya kaget dan melongok ke dalam kantornya.
"Heh, dia takkan kami apa-apakan...tapi kalau kau tidak membawakan uang tebusan mungkin kami akan menjualnya untuk dijadikan budak..."
Souji menahan amarah. Giginya gemeretak sangking ia berusaha bersabar. "Baiklah...kalian mau tebusan berapa?" tanyanya tenang.
"Sebentar...kurasa 300 juta yen cukup?"
"GILA! Mana mungkin aku--"
"Kau pikir aku peduli?" sang penculik membentak balik. "Bawakan saja uangnya, aku tak peduli kau dapat dari mana. Yang penting, kau tak mau terjadi apa-apa dengan anakmu kan?"
"...baiklah! Di mana harus kubawa uangnya?"
"Gudang belakang di daerah pelabuhan Odaiba...batas waktunya sampai jam 12 nanti malam. Ingat, kalau kau terlambat, kami akan langsung menjualnya ke agen perdagangan anak...dan jangan panggil polisi, karena kami akan langsung membunuh anakmu kalau kau kau membawa mereka untuk menangkap kami."
Panggilan terputus. Souji mematikan ponselnya dan menendang meja kerjanya karena terlalu marah. Semua berkas dan alat kerjanya yang ia letakkan di atas meja langsung jatuh dan berserakkan di mana-mana. "SIAL!" teriaknya penuh kekesalan.
"Seta-san? Kenapa kau?" tanya salah satu jaksa temannya.
"Putraku diculik. Aku harus segera memiliki uang sebanyak 300 juta atau mereka akan menjualnya! Sial, di mana aku bisa menemukan uang sebanyak itu?!" Souji menjelaskan, emosinya meledak-ledak.
"Di-diculik?! Gawat dong!" seorang jaksa wanita terlihat ketakutan dan cemas.
"Bagaimana kalau minta istrimu yang detektif itu untuk membantu menyelesaikan masalah ini?" jaksa lainnya memberi ide.
"Aku tidak tahu...ia sedang bertugas di luar kota sekarang..."
Tiba-tiba, telepon kantor yang ada di meja Souji berbunyi. Pria yang sedang kalut itu segera menerimanya. "Halo, Jaksa Seta di sini..."
"Souji?"
Souji tersentak. "Naoto?!"
"Souji, aku berusaha menelpon ke ponselmu tapi sepertinya mati...tapi sudahlah. Aku akan segera pulang, kasus ini lebih mudah dari dugaanku."
"Baguslah...karena aku sedang butuh bantuanmu...sangat."
"Kenapa?"
"Akira...Akira diculik."
Hening sejenak, sebelum suara memekakan telinga terdengar dari telepon itu. "APA?! AKIRA DICULIK!?" Naoto terdengar panik, marah dan cemas. Semua campur aduk dalam suaranya. "Aku segera ke sana! Mereka akan menyesal telah berani menculik Akira!"
"Dengar dulu, Naoto, mereka bilang--"
TUT TUT TUT...
Hubungan terputus. Souji menghela nafas berat dan berbalik. Ia melihat teman-teman sekantornya memandang ke arahnya, penasaran. "Dia bisa pulang, tapi...aku ragu dia bisa menyelesaikan hal ini...dia emosi sekali tadi," terangnya sedih.
"Percayalah pada istrimu," salah satu jaksa menghampiri Souji dan menepuk pundaknya. "Kalaupun kalian tidak bisa...kami akan menyiapkan uang untuk membantumu."
"Tapi..."
"Tidak apa! Kau sudah sering membantu kami, Seta-san! Wajar saja kalau kami sekarang ingin membantumu...yah, anggap saja balas budi," jaksa wanita tadi tersenyum.
Jaksa berambut abu-abu itu tersenyum lega. Ternyata teman-temannya itu peduli padanya, sama seperti teman-temannya dulu di masa SMU dulu...Souji menggeleng kemudian mengangguk mantap.
"Terima kasih, semuanya..."
"Tak apa! Sekarang, lebih baik kau jemput istrimu, setelah itu kau bisa menjelaskan semuanya," mereka memberi saran.
"Baiklah. Maaf aku meninggalkan kantor. Doakan aku."
