Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Makasih udah ngereview fic saya yang gaje ini -terharu- Maaf buat semua yang udah nungguin chppie 3 ini dilanjutin sampe kayak kucing beranbak di depan kompie (iya kan feny-san? :D) Sudahlah. Enjoy guys!


Chapter 3: Retaking

Sebuah mobil berhenti di depan stasiun. Sang pengemudi, yang tak lain adalah sang jaksa kehormatan, langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke dalam stasiun. Ia menoleh ke sana kemari, mencari seseorang yang sedang ia tunggu. Melihat ke arah jam, ia memutuskan untuk menanyai petugas stasiun kapan kereta dari Hiroshima akan tiba, ketika...

"SOUJI!"

Souji menoleh dan menemukan Naoto berlari ke arahnya. Setelah sang detektif berhenti sambil terengah-engah karena ia berlari-lari sambil membawa tas berat, wanita itu berbicara. "Bagaimana Akira? Ceritakan padaku detailnya!"

"Iya, tenang saja...sekarang kita ke mobil, akan kuceritakan di jalan," sang pria membawa istrinya memasuki mobil mereka.

Dalam perjalanan, Souji menceritakan apa yang dikatakan sang penculik kepadanya. Naoto mendengarkan dengan serius sambil terus memikirkan rencana bagus untuk menyelamatkan putranya sekaligus menghukum manusia-manusia kurang ajar yang telah berani menculik Akira.

"...dan mereka langsung menutup telponnya, tanpa membiarkanku untuk membicarakan tentang hal ini," kata Souji, menyelesaikan ceritanya. "Bagaimana menurutmu?"

Tak ada jawaban. Sang jaksa menoleh sedikit dan melihat bahwa istrinya itu tengah melamun. Tatapannya tertuju ke arah jalan di hadapannya, tapi pikirannya sudah pergi ke mana-mana. Melapaskan satu tangan dari setir, ia menjentikkan jarinya ke depan wajah Naoto, menyadarkannya dari lamunannya.

"Melamun siang-siang nanti kesambet lho," ledek Souji.

"Aa...maaf," Naoto tersipu malu.

"Kenapa sih? Kau daritadi tidak mendengarkan aku. Aku tahu kau mencemaskan Akira, tapi sekarang kita harus fokus mencari cara untuk membebaskannya."

"Ah tidak...aku...hanya berpikir bagaimana kalau aku berhenti saja dari pekerjaanku ini?"

Mendengar perkataan itu, Souji langsung tidak konsen dan memelencengkan mobilnya, nyaris menabrak dua mobil lain yang ada di jalan tol itu. Naoto sampai kaget dan memekik tanpa suara. Untung saja dengan cepat pria itu langsung fokus dan mengemudikan mobilnya secara biasa.

"Ha-hati-hati dong!" seru Naoto, masih was-was karena tadi hampir celaka.

"Eh yah...sori," Souji nyengir bersalah. "Aku kaget kamu bilang seperti itu. Bukankah menjadi detektif adalah cita-citamu? Kau sangat menjunjung tinggi keadilan dan ingin menumpas segala macam kriminalitas, makanya kau masuk jurusan hukum dan sekarang jadi detektif..."

"Iya tapi...apa artinya aku jadi detektif yang berniat melindungi negara dari kejahatan tapi anakku sendiri malah terkena tindak kejahatan? Kalau aku berhenti dari pekerjaanku aku pasti bisa menemani Akira...dan mencegah hal ini terjadi," jelas sang detektif.

Souji tersenyum. Wanita yang tulus...tak salah aku memilih dia jadi pasangan hidupku. Ia mengelus kepala Naoto, yang langsung membuatnya jengkel karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. Setengah tertawa, Souji berkata, "Kalau itu keputusanmu, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi sekarang bagaimana? Apa kita turuti saja permintaan mereka atau kau ada rencana lain?"

"Tentu saja kita tidak akan memberikan uang sebanyak itu kepada mereka. Bisa rugi besar," Naoto menggumam. Ia melipat tangannya dan melanjutkan, "Menurutku mereka tidak punya senjata api...paling Cuma pisau lipat atau semacamnya. Dan mereka tidak akan melukai Akira, kalau mereka menginginkan uang itu."

"Dan? Kau punya rencana apa? Waktu kita Cuma 8 jam sebelum tengah malam."

Wanita berambut gelap itu berpikir sejenak. Ia menoleh mencari sesuatu di dalam mobil itu. "Koper ini..." Naoto menarik sebuah koper yang diletakkan Souji di kursi belakang. "Isinya berkas-berkas ya?"

Souji melihatnya dari kaca spion dan mengangguk mengiyakan. "Ya. Kamu kan tahu kadang-kadang aku harus membawa berkas-berkas pulang ke rumah..."

"Bagus. Kita bisa pakai ini..." Naoto tersenyum seraya meletakkan koper itu di pangkuannya. "Kau belum panggil polisi kan?"

"Belum. Kenapa?"

"Baguslah. Karena..." sang ibu rumah tangga merangkap detektif wanita terkenal tersenyum dingin sambil memeriksa laras pistolnya. "...Sang Tantei Ouji ini akan membuat mereka bertekuk lutut...ah, tidak, menyembah minta ampun."

Souji tertawa. "Itu kan gelar kamu yang lama...sekarang bukannya Joo no Tantei?"

"Ah terserahlah. Yang itu kurang enak di dengar sih...sekarang kita ke pelabuhan. Rencana akan segera dilaksanakan."

"Iya, iya..."


Di dalam sebuah gudang tak terpakai di daerah pelabuhan Teluk Tokyo, tampak seorang bocah diikat di sebuah kursi sementara para penculiknya berdiri mengelilinginya. Akira tenang saja meski ia tahu situasinya sangat membahayakan. Tapi ia yakin, Papa dan Mama-nya akan datang untuk menyelamatkannya.

"Tinggal 7 jam sebelum batas waktu..." kata salah seorang dari mereka sambil melihat ke arah arloji di tangannya.

"Hei bocah, sepertinya orang tuamu tak kan menjemputmu," penculik yang lain menyeringai. Tampaknya dia ketuanya.

"Sepertinya mereka lebih sayang uang daripada kamu!" ledek pria lainnya, diiringi tawa teman-temannya.

Akira diam saja. Dia tidak peduli apa yang mereka katakan. Hal yang wajar bahwa orang tua menakut-nakuti anak-anak sepertinya. Ia tahu bahwa Papa Mama-nya sangat sayang kepadanya, dan mereka pasti akan menjemputnya, lalu menjebloskannya ke penjara atau apalah.

"Hei bocah! Katakan sesuatu!" bentak salah satu penculik.

"Memangnya om-om mau Akira bilang apa?" tanya Akira polos.

"Ya nangis kek! Teriak-teriak ketakutan kek! Minta tolong kek! Apalah gitu!"

"Memangnya harus yah?"

"Heh kamu ini sedang disandera! Kami bisa menjualmu kalau kami mau, tahu! Paniklah sedikit!"

"Akira tidak panik. Akira yakin Papa Mama pasti menolong Akira!"

Senewen karena bocah ini sama sekali tidak ketakutan, salah satu penculik menodongkan pisau lipatnya ke arah tenggorokannya. "Menangislah! Buat kami merasa senang bahwa kau ketakutan!" ancamnya, diiringi tawa mengerikan komplotannya.

"HENTIKAN!"

Semuanya menoleh ke arah pintu gudang itu. Naoto sudah tiba di sana, dengan koper di tangannya. Matanya menatap tajam ke arah para pria kasar yang telah berani menculik putra semata wayangnya. Seperti yang ia duga, para penculik itu tak memiliki senjata selain pisau lipat. Akira juga tidak diapa-apakan—yah setidaknya tak ada satupun luka dari benda tajam.

"Siapa kau?" tanya si ketua penculik.

"Aku ibu dari anak itu. Lepaskan Akira! Aku sudah membawa uang yang kalian minta!" seru Naoto sambil menunjukkan koper yang dibawanya.

"Heh, bagaimana kami bisa tahu kalau kau tak akan mengambil uangnya setelah kami melepaskan bocah ini?"

"Akan kuletakkan di sini dan aku akan mundur beberapa meter dari tempat koper ini. Kalau Akira sudah sampai ke tempatku, kalian baru boleh membuka kopernya. Bagaimana?"

Para penculik itu saling pandang sebelum mengangguk setuju. Salah satu dari mereka melepaskan ikatan Akira sementara Naoto meletakkan kopernya dan berjalan mundur agak jauh dari lokasi koper itu. Bocah berambut itu berjalan pelan ke arah ibunya, sedikit ragu akan segala hal yang berjalan terlalu mudah ini.

"Akira, cepat kemari," Naoto merentangkan tangannya, menyambut putranya. "Tidak apa, kau tenang saja..."

Merasa yakin dengan ucapan ibunya, Akira berlari ke arah Naoto dan langsung memeluk wanita bertubuh kecil itu. Ketegarannya langsung runtuh dan bocah itu langsung menangis tersedu-sedu, layaknya anak kecil lemah yang ketakutan karena kehilangan perasaan terlindungi dari orang tuanya.

"Huweeeeeeeng...Mamaaaaaaa....!" katanya sambil tersendat-sendat. "Akira—Akira pikir Mama benar-benar...benar-benar tidak akan menjemput Akiraaaaaa....hueeee..."

"Itu tidak mungkin. Akira kan tahu aku sayang sekali sama Akira..." kata Naoto lembut. Ia balik memeluk Akira, berusaha menghiburnya.

"Hiks...Papa...Papa di mana? Kenapa Papa tidak ada?"

"Um...Souji ada di--"

"HEI! APA-APAAN INI!?"

Naoto spontan menarik mundur Akira agar berlindung di belakangnya. Penculik-penculik itu sudah membuka koper yang mereka kira berisi uang. Tapi nyatanya isinya hanyalah dokumen-dokumen milik Souji. Dengan marah, si ketua penculik membanting koper itu sehingga isinya berserakkan.

"Kau! Berani-beraninya kau menipu kami!" bentaknya marah.

"Kalau aku bisa mendapatkan putraku tanpa membayar kalian, kenapa tidak?" sahut Naoto, tersenyum menantang.

Kesal, para penculik itu mengeluarkan pisau-pisau mereka, siap menyerang Naoto dan Akira. Naoto sudah menarik pistolnya, tapi ia sembunyikan lagi begitu salah satu dari penjahat itu tergeletak pingsan di tanah. Komplotannya kaget dan menoleh ke belakang. Saat itulah mereka menyadari kehadiran Souji di sana. Pria itu telah memukul tengkuk penculik tadi sampai pingsan.

"Siapa kau!?" salah satu penculik keheranan.

"Kau tak perlu tahu," kata Souji.

Belum sempat si penculik membalas, satu tinju keras ke arah perut mementalkan penculik itu dan membuatnya pingsan. Souji mengambil ancang-ancang dan menjatuhkan penculik berikutnya. Satu demi satu, para pria biadab itu tumbang oleh Souji. Si ketua mencoba melukainya dengan pisau di tangan, tapi Souji dengan sigap menendang jatuh pisaunya dan meninju wajah si penculik.

Begitu perkelahian yang dimenangkan oleh sang jaksa itu selesai, Naoto menggandeng Akira dan berjalan menghampiri pria berambut abu-abu itu.

"Kerja bagus, Souji," Naoto tersenyum.

"Trims," jawab Souji, membalas senyuman istrinya.

"Papa...Papa juga datang?" Akira takjub.

"Yah, tadi kami datang berdua. Mama-mu ini menyuruh Papa mencari jalan belakang supaya bisa menyusup ke tengah-tengah mereka sementara dia sendiri menipu mereka dengan koper itu," jelas Souji panjang lebar.

"Kau tidak lupa menelpon polisi, kan, tadi?" tanya Naoto, memberi satu pukulan ke arah penculik yang masih sadar supaya penculik itu pingsan lagi.

"Sudah. Mereka akan datang sebentar lagi."

Naoto mengangguk mengiyakan. Ia kemudian berbalik menghadap Akira, yang masih terkesima melihat aksi Papa-nya tercinta tadi. Wanita itu berlutut di depan putranya agar tinggi mereka sama. Ia menepuk pundak Akira sedikit.

"Akira? Kau tak apa?"

"Ah...iya. Akira baik-baik saja."

"Akira...maafkan Mama, ya?" kata sang ibu seraya memeluk anak semata wayangnya itu.

"Eh? Kenapa?" Akira bertanya dengan heran.

"Maafkan Mama...karena tidak bisa berada di samping Akira. Seandainya Mama tidak sibuk, pasti peristiwa ini tak akan terjadi..."

Akira terdiam sejenak sebelum berkata, "Tidak apa..."

"Meski begitu, maaf saja tak cukup....makanya Mama...akan berhenti bekerja menjadi detektif."

Akira tersentak. Ia melepaskan diri dari pelukan Naoto. "Kenapa? Kenapa Mama mau berhenti?!"

"Kami sudah mendiskusikannya, dan untuk mencegah hal semacam ini terulang lagi padamu...kami memutuskan bahwa salah satu dari kami harus berhenti bekerja dari pekerjaan kami yang terlalu padat untuk menemanimu sehari-harinya," terang Souji. "Dan...Naoto bersikeras untuk berhenti jadi detektif dan menungguimu di rumah."

Akira tak percaya. Keinginannya selama ini akhirnya terkabul. Keinginannya supaya bisa selalu melihat Mama-nya di rumah, dan menyambut Papa-nya bersama Naoto...akhirnya bisa terkabul. Tapi entah kenapa, ada sedikit ganjalan di hati Akira. Ia merasa agak...tidak setuju dalam keputusan ini.

"Akira? Kenapa?" Naoto mengamati wajah bocah itu.

"Uhm...Mama...Akira..." kata-kata Akira terputus saat ia melihat salah satu penculik bangkita dan menerjang ke arah mereka dengan sebilah pisau di tangan. Dalm kondisi seperti itu, bocah itu spontan berteriak, "MAMA! PAPA! AWAS!!!"

Naoto dan Souji tersentak. Keduanya menoleh tapi terlambat. Pisau itu sudah menusuk Naoto, menembus ginjal kirinya. Sang jaksa, melihat hal itu, langsung bertindak yaitu dengan menghajar sang penyerang dengan bertubi-tubi, tanpa ampun. Sementara, Naoto terjatuh dan darahnya mulai berceceran ke lantai gudang itu. Akira langsung menangis, menolak kenyataan yang terjadi dalam sekejap itu.

"Mama! Mama!" panggilnya. "Mama! Bertahanlah!"

Souji, yang sudah selesai membuat sang penjahat sekarat, menghampiri istrinya lagi. "Sial...darahnya tidak mau berhenti...!"

Saat itu juga, terdengar suara sirine mobil polisi. Sekitar 10 lebih polisi menyeruak masuk ke dalam gudang itu. Beberapa terkejut melihat tumpukan penculik pingsan di dalam sana. Souji, merasa bahwa tak ada guannay lagi berdiam diri di sini, mengangkat istrinya dalam pelukannya.

"Tolong urus mereka! Tahan mereka ke penjara...dan bawa mereka ke sebuah sidang! Aku akan mengadili mereka!" perintah Souji tegas.

"Ba-baiklah, jaksa Seta!" sahut seorang polisi yang langsung menginstruksikan agar yang lain menahan pria-pria yang tak sadarkan diri di sana.

"Akira, ayo ikut!"

"I-iya!!!" Akira langsung berlari di belakang ayahnya tersebut.

Souji berlari ke arah mobilnya. Ia meletakkan istrinya yang semakin lama terlihat semakin pucat karena kekurangan darah. Akira langsung duduk di kursi samping supir sementara Souji menyalakan mesin mobil. Tanpa menunggu lama lagi, mobil itu langsung tancap gas menuju ke arah rumah sakit terdekat.