Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!


Chapter 4: Bloods

RS. Pusat Tokyo

Tampak seorang laki-laki berambut keabuan berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit. Seorang bocah berambut biru tua terduduk di sebuah bangku tunggu dalam koridor itu, menahan tangis. Keduanya sedang menanti sesuatu di sana. Tak jarang, keduanya memandang ke arah pintu ruang operasi, kemudian melihat jam tangan masing-masing, sebelum mendesah dengan penuh rasa khawatir.

Detik-detik berlalu, dan kecemasan keduanya menjadi-jadi. Kemudian, seorang doktor dengan baju operasi keluar dari ruang operasi. Spontan keduanya menghampiri pria yang berambut agak keriting itu.

"Dokter Hiraga, bagaimana keadaan Naoto?" tanya pria berambut abu-abu itu.

Sang dokter menghela nafas panjang. "Seta-san...istrimu tidak terluka terlalu dalam. Kami bisa menutup lukanya. Hanya saja..."

"Hanya saja apa?" giliran sang bocah yang bertanya.

"Ia kehilangan banyak sekali darah. Ia butuh donor darah yang cukup banyak..."

"Itu bukan masalah kan?" Souji mengernyit heran. "Maksudku...di rumah sakit ini banyak persediaan darah, kan?"

"Itu benar, tapi persediaan darah untuk golongan darah B sedang kosong," jelas Hiraga. "Kami akan mencoba menghubungi rumah sakit lain agar mengirimkan beberapa kantung darah untuk golongan B, tapi kami tak tahu secepat apa mereka bisa kemari, sementara istri anda paling lama bisa bertahan dalam kurun waktu 15 menit lagi."

Souji shock. Kalau Naoto tak segera mendapatkan donor darah, ia bisa meninggal. Golongan darah Souji adalah A, tak bisa menyumbang untuk B.

"Apa tidak ada pasien, perawat atau dokter di sini yang punya golongan darah sama dengan dia?" tanya Souji, jengkel.

"Sayangnya tidak. Saya sendiri heran kenapa bisa begitu," sang dokter menghela napas kesal. "Baiklah, saya permisi. Saya harus mengontak rumah sakit lain untuk mendapat darah itu. Permisi."

Hiraga berjalan meninggalkan Souji dan Akira di sana. Souji menghela napas berat dan duduk di kursi tunggu. Akira ikut duduk di samping ayahnya, mengamati ekspresi pria itu.

"Papa...apa Mama tidak bisa menerima darah dari Akira?" tanya bocah itu.

"Tidak...golongan darah B hanya bisa menerima dari sesama B atau dari O yang bisa memberikan darah ke semua golongan," jelas Souji. "Masalahnya sekarang, di mana kita bisa menemukan orang yang memiliki golongan darah B dan memintanya untuk menyumbang pada Naoto?"

Akira ikut terdiam. Ia berusaha memikirkan cara agar ia dapat menyelamatkan ibunya tercinta. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah dari arah koridor lain. Kemudian terdengar suara orang bertengkar, antara seorang perempuan dan seorang laki-laki.

"Dasar! Siapa suruh kamu memaksakan diri melawan ayahku!" omel gadis berambut pirang.

"Biar saja! Aku kan hanya mencoba untuk naik tingkat! Teman-teman juga menganjurkanku untuk menantang Minato-Sensei kok!" sahut pemuda berambut biru gelap.

"Ayah, kenapa ayah juga menerima tantangan Chijiro sih?"

"...Dia memaksa..." jawab pria yang parasnya agak mirip dengan pemuda yang sedang diceramahi itu.

"Kalau begini kan jadi repot juga...heuh...hm?" gadis itu berhenti sejenak ketika ia melihat Souji dan Akira duduk diam di kursi tunggu di salah satu koridor yang mereka bertiga lewati. "Itu kan...Akira-chan?"

Akira, yang merasa bahwa dirinya dipanggil, langsung menoleh ke sana kemari. Ia akhirnya melihat gadis berambut pirang itu berlari kecil menghampirinya. "Metis-neechan!" seru sang bocah, sedikit tersenyum.

Gadis yang dipanggil Metis itu menghampiri Akira dan Souji, diikuti kedua lelaki di belakangnya. Akira turun dari kursi dan berlari ke arah Metis, yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

"Metis-neechan!!"

"Akira-chan!!"

"Yah, dia ketemu adik sepupu kesayangannya deh..." pemuda bernama Chijiro tadi cemberut sambil memegangi lengan kirinya yang terasa sakit.

"Cemburu?" tanya pria yang disebut sebagai Minato-sensei.

"...Sedikit."

Souji menoleh dan agak kaget melihat kakak ipar, keponakan dan pacar keponakannya itu sudah berada di sana. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menyapa mereka. "Minato, Metis dan Chijiro...kenapa kalian ada di sini?"

"Ah itu tuh...tadi di sekolah Chijiro menantang ayah duel satu lawan satu waktu latihan kendo...lalu dia terluka dan akhirnya kami terpaksa mengantarkannya ke rumah sakit ini untuk berobat," jelas Metis, melemparkan satu senyum meremehkan pada kekasihnya.

"Yeah, tapi tak ada salahnya kan di coba?" Chijiro merutuk.

"Kalian berdua kenapa di sini? Mana Naoto?" tanya Minato, mencari-cari kehadiran adik perempuannya tercinta, tapi nihil.

"Oh iya...Mama...Mama sedang dioperasi, terus Mama butuh darah secepatnya kalau tidak Mama akan meninggal..." terang Akira, yang langsung menangis di pelukan kakak sepupunya.

Pria berambut biru tua dengan tampang tanpa ekspresi itu mengernyit heran. "Tunggu dulu...butuh darah? Apa dia terluka dalam salah satu tugasnya?"

Souji mengangguk mengiyakan. "Iya...biar kuceritakan selengkap namun secepat mungkin..."

Maka, sang jaksa itu mulai membeberkan apa yang terjadi sesungguhnya. Mulai dari para penculik yang menelponnya untuk meminta uang tebusan, sampai peristiwa naas di mana Naoto tertusuk oleh pisau si penculik. Minato mendengarkan dengan seksama, sementara Metis dan Chijiro sibuk menenangkan Akira yang terus saja menangis.

"...dan begitulah, kalau menunggu ambulans yang dipanggil polisi untuk datang ke lokasi, aku khawatir kondisinya akan lebih gawat dari sekarang..." Souji mengakhiri ceritanya.

Minato diam saja. Ia menghela napas berat sebelum meninju dada Souji dengan sedikit keras, membuat pria berambut abu-abu itu mengernyit kesakitan.

"Bodoh," ejeknya. "Aku mempercayakan padamu karena aku yakin kau bisa melindunginya. Kalau jadinya seperti ini, seharusnya kalian berdua tak usah kucomblangkan waktu SMA dulu..."

"Maaf...aku lengah..." Souji menyesali tindakannya.

"Sudahlah. Sekarang tak ada yang bisa disesali," Minato bangkit dari tempat duduk. "Chijiro..."

"Ya, Sensei?" Chijiro spontan berdiri tegap.

"Panggilkan dokter dan suster. Aku akan mendonorkan darahku. Katakan pada mereka untuk cepat."

"Baik!"

Chijiro segera berlari mencari dokter dan suster untuk Minato. Akira mengangkat wajahnya dari pelukan Metis. "Memangnya...golongan darah Minato-ojisan apa?" tanyanya dengan tersendat-sendat.

"B, sama dengan Naoto-obasan," Metis mengelus rambut adik sepupunya itu. "Tenang saja, mamanya Akira pasti selamat. Percaya deh sama Neechan."

"Ung..."

--

Naoto terbangun dan menemukan dirinya mengambang dalam kegelapan. Sejauh mata memandang, yang ada hanya kegelapan tanpa batas. Ia hanya sendirian di sana. Sendiri, hampa, sepi.

"Souji?" ia memanggil pelan. "Souji? Akira? Di mana kalian?"

Tak ada jawaban.

"Souji? Akira? Di mana kalian? Tolong jawab aku!"

Tidak ingin menerima kenyataan bahwa ia hanya sendiri di sana, ia mulai berjalan. Awalnya ia melangkah dengan ragu, tapi lama kelamaan ia mulai berlari dengan tergesa-gesa.

"Souji! Akira!"

Ketakutan merasukinya. Ia tak ingin sendiri...ia tak ingin sendirian di tempat itu. Ia tak ingin merasa bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat berarti baginya itu. Ia tak mau. Sangat tidak mau.

"Souji! Akira!"

Naoto terjatuh setelah sekian lama berlari ke kegelapan yang tiada akhir itu. Air mata bergulir dari kedua bola matanya, jatuh dan menghilang dalam kegelapan. Ia tak ingin sendiri di sana. Ia merasa lemah. Ia menginginkan kehadiran Souji dan Akira. Keberadaan mereka berdua adalah penyangga kehidupannya selama ini.

"Souji...Akira..."

Saat ia sedang mencoba mengerti mengapa ia hanya sendiri di sana, seberkas cahaya muncul, makin lama makin besar. Naoto mendongak menatap cahaya yang perlahan menghampirinya itu. Matanya silau sangking terangnya cahaya itu, membuat matanya silau.

"Souji...? Akira...?"

Naoto membuka matanya dan menemukan wajahnya sendiri. Ia mengerjap sesaat, berpikir bahwa ia bertatapan dengan sebuah kaca atau semacamnya. Kemudian ia tersadar bahwa wajah itu lebih maskulin, memiliki rambut biru yang lebih tua dan cepak darinya, dan mata biru itu terlihat tanpa ekspresi. Akhirnya ia mengenali wajah itu sebagai wajah abang sulungnya.

"Minato-niisan," Naoto bangkit dari posisi tidurnya. Ia sedikit mengernyit merasakan sakit di daerah sekitar perutnya. Ia kemudian teringat bahwa sebuah pisau menusuk ginjalnya dengan sangat dalam. "Uh...apa aku ada di rumah sakit?"

"Iya. Souji dan Akira yang membawamu kemari," jelas Minato. Ia menyentil dahi adik perempuannya itu, membuat wanita itu tersentak kaget. "Dasar. Kalau bekerja kau harus waspada setiap saat. Begini deh jadinya kalau kau lengah sedikit saja."

"Maaf...uhm..." sang detektif melihat sekelilingnya. "Mana Souji dan Akira?"

"Mereka--"

"CHI-JI-ROOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!"

Kedua kakak beradik itu mendengar sesuatu menabrak dinding rumah sakit, membuat ruang rawat itu sedikit bergetar. Kemudian terdengar seseorang berteriak kesakitan, sementara seorang perempuan mengomel dengan keras. Minato membantu Naoto berjalan keluar dari ruangan dan mereka berdua menyaksikan adegan eksekusi yang melegenda.

"GYAAAAAAAAAAAA!!! AMPUUUUUN, METIIIIS, MY HONEY-BUNNY-SWEETY-BERRY-PIE!!!"

"GA ADA AMPUN! UDAH DIBILANGIN DISURUH BELI BENTO KOK MALAH BELI SNACK!!!"

"Me-Metis...sudahlah, kasihan Chijiro...Akira sampai takut nih..."

"Me-Metis-neechan...?"

"—a...sori Akira-chan. Kelepasan deh...maaf ya, lupakan saja, ehehehe..."

Minato menghela napas. "Metis, kamu ini...terlalu sering ke tempat Mitsuru jadi begini deh..." gerutu sang ayah.

Keempat orang itu langsung menoleh dan menemukan dua bersaudara Arisato itu sedang berdiri di ambang pintu. Akira, yang terlalu senang melihat ibunya sudah sadar, langsung melompat ke pelukan Naoto.

"Huwah, Mamaaaaaaaaa!!! Mama sudah merasa baikan??" tanya Akira sebelum ia benar-benar menangis.

"Mama tidak apa kok. Maaf membuat Akira cemas..." Naoto memeluk putranya itu, membuat air mata membanjiri baju pasien rumah sakit itu.

"Hoo...nggak ada ucapan maaf buatku nih?" tanya Souji, berwajah kesal.

"Seenaknya saja...padahal tidak bisa melindungi adikku," Minato memotong pembicaraan, yang langsung membuatnya disikut Naoto.

"Maaf membuatmu khawatir, Souji," wanita berambut biru itu tersenyum. "Dan...terima kasih, karena sudah membawaku ke rumah sakit secepatnya."

Souji tersenyum. "Bukan apa-apa."

"Ma...Mama..." Akira menarik baju Naoto, mencoba mengalihkan perhatian ibunya dari ayahnya. "Akira...Akira juga mau minta maaf!"

"Minta maaf? Minta maaf kenapa?" sang ibu mengernyit heran.

"Soalnya...Akira sudah membenci pekerjaan Mama, padahal Mama suka sekali pada pekerjaan Mama," bocah itu menerangkan. "Terus...Akira tidak mau Mama berhenti. Akira sadar, kalau saja Mama tidak bekerja sebagai detektif, mungkin saja Akira tidak akan selamat. Ini semua berkat Mama...makanya...Mama...jangan berhenti ya?"

Naoto terkesiap. Padahal tekadnya sudah bulat untuk berhenti dari pekerjaan yang berbahaya ini. Tapi melihat putranya mengatakan bahwa ia mulai menyukai profesinya sebagai detektif itu membuat hatinya luluh. Naoto memeluk Akira dan berbisik lembut, "Terima kasih, Akira..."

"Ung!" Akira balas memeluk ibunya.

Souji menggelengkan kepala sambil tersenyum lega. Melihat kedua orang yang begitu berharga dalam hidupnya tersenyum seperti itu membuatnya ikut bahagia. Metis sudah menangis terharu karena melihat pemandangan yang mengharu birukan hati itu. Minato menghela napas dan melirik Chijiro, dan menemukan sebuah keganjilan.

"Chijiro...lenganmu tidak sakit lagi ya?" tanya sang pelatih.

"Hah? Masih sakit kok..." sahut Chijiro.

"Lalu...kenapa lenganmu itu melingkar di pinggang Metis?"

Metis, yang tidak sadar bahwa lengan Chijiro sudah melingkar di pinggangnya, langsung melirik kekasihnya itu. "CHI-JI-ROOOOOOO!!! KAMU INI MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN YA!?"

BUAGH! BRAK! PRANG! CRANG! BLETAK! DUESH! BRUAGH! ARGH!

Souji dan Minato sweatdrop sedikit melihat adegan sepasang kekasih yang aneh itu. Akira tertawa dan ikut menyemangati kakak sepupunya untuk memenangkan pertarungan itu. Naoto tersenyum. Satu lagi kebahagian yang ia temukan dalam hidupnya, yang tak akan pernah hilang dari rengkuhannya...


A/n: Jujur, meski dapat bocoran dari Wikiapedia tentang golongan darah karakter P4, aku nggak tau golongan darah Souji... aku ngasal aja. Untuk golongan darah Minato juga aku ngawur. Oh ya, Metis di sini bukan adiknya Aigis, tapi anaknya Minato dan Aigis. Chijiro anak Fuuka dan Junpei, bernama asli Kojiro tapi karena love rate nya dikit, kuganti jadi Chijiro. Lagipula, Chijiro kan mewakili nama Chidori (mantan pacar Junpei yang sudah meninggal) dan Shinjiro ('sepertinya' orang yang berharga bagi Fuuka), jadi yah...biarlah begitu adanya :D Cerita ini belum selesai!!! Masih ada karakter yang bakal muncul! Jadi stay tune (?) dan keep reviewing ya!!! (maksa mode: on)