Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Gomenasai, minna! Updatenya kelamaan yah?? Gomen, banyak TO, ujian dan tetek bengek lainnya...tugas juga bejibun...tapi saya coba updet chapter 6 nanti! Oke? Oke! Nah, selamat membaca!!
Chapter 5: Reunion
Sebuah mobil memasuki area parkir sebuah ryoukan mewah di daerah Inaba. Dari dalamnya, muncul seorang pria berambut abu-abu, seorang wanita berambut biru, dan seorang anak kecil yang mirip ibunya itu.
"Wow...ryoukannya besar! Hebaaaat!" bocah itu kagum.
"Iya dong...namanya juga Amagi Ryoukan," sahut sang ayah, ikut bangga.
"Akira nanti kalau ketemu teman Papa dan Mama harus memperkenalkan diri dengan sopan ya...terus kalau Papa Mama ngobrol, kamu main sama teman-teman yang seumuran kamu ya..." sang ibu menasihati.
"Iya...Akira tahu..."
Ketiganya memasuki lobby ryoukan itu dan langsung disambut oleh sekitar dua puluh pelayan ryoukan. Mereka membungkuk hormat kepada mereka dengan penuh keeleganan dan dengan kompak mengucapkan,
"Selamat datang di Amagi Ryoukan!"
"Wow...ini sih berlebihan," Souji terkesima.
"Selamat datang, Souji, Naoto."
Suami istri itu mengalihkan pandangan mereka dan menemuka seorang wanita bersanggul dan mengenakan kimono mewah berjalan anggun ke arah mereka. Dia tak lain dan tak bukan adalah Amagi Yukiko, pemilik ryoukan tersebut.
"Yukiko-san, bukankah ini terlalu berlebihan namanya? Kami ini kan bukan tamu istimewa..." kata Naoto, merasa tak enak hati.
"Tidak, tidak...justru karena kalian adalah teman-temanku, penyambutannya harus yang mewah seperti ini," Yukiko tersenyum. Kemudian matanya tertuju pada Akira yang agak tersembunyi di belakang kedua orang tuanya. "Halo. Kamu pasti Akira-chan, anaknya Souji dan Naoto!"
Akira mengangguk. "Seta Akira. Salam kenal," kata bocah itu sambil membungkuk hormat.
"Fufufufu...anak yang sopan sekali. Kurasa kau akan segera akrab dengan Yu—"
"Ibuuuuuuuu!!!"
Mereka menoleh dan menemukan seorang gadis yang berusia sedikit lebih tua dari Akira tengah menyeret seorang anak lelaki seusianya. Ia tak tampak kesulitan walaupun ia memakai yukata dan badan anak itu lebih besar darinya.
"Jun mencoba melawan pegawai lagi!" katanya sambil terus menjewer kuping bocah yang dipanggil Jun itu.
"Adududududuh...tapi aku kan sudah minta maaf! Lepasin dong!" Jun meronta-ronta jengkel.
"Yuki-chan...Jun-chan...kalian ini," Yukiko menghela napas. "Sudahlah, lepaskan Jun-chan. Yuki-chan, kamu harus memperkenalkan dirimu pada tamu."
Gadis yang dipanggil Yuki itu menengadah dan menyadari bahwa Souji, Naoto dan Akira tengah berada di sana, mematung melihat adegan barusan. Ia tersentak sedikit sebelum menghampiri keluarga itu dan membungkuk hormat.
"Eeee...maafkan kelakuanku yang tidak sopan tadi!" ia tersenyum dan mulai memperkenalkan diri. "Namaku Amagi Yuki. Aku penerus sah Amagi Ryoukan ini. Semoga Anda sekalian dapat menikmati pelayanan kami."
"Ahahahaha! Anak yang sopan," Souji mengacak rambut Yuki sedikit. "Kurasa dia akan jadi penerus yang hebat sepertimu, Yukiko."
"Tentu. Dia kan putri kebanggaanku," Yukiko tersenyum senang. Ia sedikit mendorong Jun agar menemui kedua sahabatnya itu. "Dia ini putra Yosuke dan Chie. Namanya Jun dan dia sahabat Yuki."
"Hanamura Jun," Jun memperkenalkan diri dengan santai.
"Hmm...jadi seperti Chie-san dan Yukiko-san ya?" Naoto terkikik geli.
"Akira, mainlah dengan Yuki dan Jun sementara kami berbincang. Kalau sudah puas main, kembali ke ryoukan ini bersama mereka, oke?" Souji memerintahkan.
"Umm...baiklah," Akira mengangguk.
Ketiganya segera berjalan keluar ryoukan sementara Yukiko mengantarkan Souji dan Naoto ke kamar mereka. Jun dan Yuki membawa Akira ke lapangan luas dekat sungai.
"Jadi...namamu Akira ya? Namaku Jun," Jun tersenyum. "Eh, kamu bisa berkelahi tidak?"
SLAP! Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Jun dan membuat cap merah telapak tangan Yuki membekas di sana. "Hei! Baru juga kenalan sudah diajak berkelahi? Dasar ras petarung!" hardik gadis itu.
"Biar saja!"
"Uuh...Akira tidak bisa berkelahi, tapi kalau main basket atau sepak bola Akira bisa. Akira sering main sama Papa di lapangan di dekat rumah kalau Papa libur," jelas Akira panjang lebar.
"Heee? Main basket? Yang benar? Kok kamu pendek?"
SLAP! Satu lagi tamparan mendarat di pipi Jun, tapi kali ini di pipi sebelahnya.
"Heh! Yuki! Kamu itu nggak bisa kalau nggak menyiksa aku sebentar saja ya?!" Jun protes, memegangi kedua pipinya yang memerah.
"Siapa suruh kamu berkata tidak sopan seperti itu!" Yuki membela dirinya sendiri. "Sudahlah. Lebih baik kita main petak umpet atau semacamnya. Bagus juga kan, Akira bisa lebih mengenal daerah ini."
"Hee? Nanti kalau dia tersesat bagaimana?"
"Tidak apa! Memori Akira kuat kok!" Akira tersenyum senang. "Lagipula, sudah lama Akira tidak main petak umpet! Kira-kira Akira masih pintar bersembunyi tidak ya?"
"Hmm...kalau kamu bilang begitu...oke! Ayo main! Ayo kita gambreng untuk menentukan siapa yang jadi hantu!"
Ketiganya membentuk lingkaran dan mulai gambreng. Hasilnya, Jun yang menjadi hantu. Akira dan Yuki segera berlari mencari tempat sembunyi sementara Jun menghitung dari 1 sampai 10.
Sementara itu, Yukiko membawa Souji dan Naoto ke ruang tamu, di mana Chie dan Yosuke menunggu. Ketika si okami itu menggeser pintu geser yang menghubungkan koridor dengan ruang tamu super besar itu, ketiganya mendapati sepasang suami istri itu tengah memperebutkan sebuah remote TV.
"Kemarikan! Aku mau nonton acara gulat, tau!" seru sang istri.
"Enak saja! Aku juga mau nonton berita!" sang suami geram.
Melihat pertengkaran mereka, Naoto dan Yukiko geleng-geleng kepala sementara Souji terkikik geli. Ia merasa sedikit bernostalgia melihat kelakuan sahabatnya yang tidak berubah sama sekali meskipun usia mereka bertambah dewasa.
"Ya ampun...kalian berdua ini sama sekali tidak berubah ya, Yosuke, Chie..." katanya tenang, membuat pasangan itu berhenti memperebutkan remote.
"Oh kau sudah datang toh, Souji!" Yosuke melepaskan remote itu, membuat Chie spontan terjungkal ke belakang sangking kerasnya ia mempertahankan remote. Ia berjalan ke arah sahabatnya itu dan menepuk pundaknya sedikit, tidak memperdulikan istrinya yang mengaduh kesakitan. "Apa kabar? Kau terlihat lebih tegas lho!"
"Tentu saja. Sebagai Jaksa kehormatan di Kejaksaan Tokyo, aku harus punya wibawa..." sahut Souji.
"Ha! Dasar kau..."
"Hei!!! Yosukeeeeee!" Chie bangkit dari posisinya tadi dan langsung menendang lutut suaminya, membuat lelaki berambut kemerahan itu mengernyit kesakitan. "Beraninya kau membuatku terjungkal seperti itu!!!"
"Wakh! Ampuuuuuuuun!!!!!!!!"
"Sudahlah Chie...daripada kau memarahi Yosuke, lebih baik kau menyambut Souji dan Naoto, kan?" Yukiko melerai keduanya.
"Oh...iya ya! Selamat datang, Souji, Naoto! Senang rasanya melihat kalian lagi," Chie tersenyum. "Souji tidak terlalu berubah banyak, tapi kau terlihat lebih feminin ya, Naoto...apalagi rambutmu dipanjangkan!"
Naoto tersipu malu. "Err...terima kasih, Chie-san."
"Hahaha! Aku setuju! Wah, aku jadi penasaran bagaimana reaksi Kanji kalau melihatmu begini," Yosuke menyeringai jahil.
"Oh ya...ngomong-ngomong soal Kanji...di mana dia?" Souji melihat sekeliling. Tak tampak kehadiran mantan adik kelasnya yang berbadan seperti raksasa itu.
"Kanji kan ikut dengan Rise...katanya mereka akan datang siang nanti. Oh ya, Teddie juga baru akan pulang dan bergabung bersama kita siang nanti," jelas Yukiko.
"Huh? Kanji-kun menikah dengan Rise-san? Kenapa aku baru tahu? Lalu, ke mana Teddie-san? Aku pikir dia seharusnya membantu pekerjaanmu sebagai suami, Yukiko-san?" Naoto mengernyit heran, agak merasa kesal bahwa ia tak tahu situasi para sahabatnya sekarang.
"Yah...Teddie sedang ada pertemuan dengan kolega kami, sesama pemilik penginapan. Kalau tentang Kanji dan Rise sih...kupikir kami sudah mengatakannya kepada Souji?" Chie balik bertanya.
Naoto menatap suaminya dengan tatapan kesal, sementara Souji Cuma cengar-cengir merasa tak bersalah. "Sori, aku lupa," hanya itu alasannya.
"Ya sudahlah! Daripada kita berdiri begini, lebih baik kita ngobrol sambil main kartu atau semacamnya yuk! Ayo!" ajak Yosuke.
Mereka berlima duduk mengelilingi meja dan mulai berbincang hangat. Mulai dari gosip seputar nasib teman seangkatan mereka waktu SMA dulu, sampai situasi politik, ekonomi dan kriminalitias. Yah, topik yang simpang siur seperti itu harap dimaklumi karena pekerjaan kelimanya pun berbeda-beda.
Akira menoleh ke sana kemari, mencari tempat yang bagus untuk bersembunyi. Tak ada tong atau semacamnya di mana ia bisa aman bersembunyi dari Jun. Ia harus memikirkan cara lain. Saat itulah, ia melihat seorang gadis berambut pirang menangis sendirian sambil duduk di ayunan di taman itu.
"Siapa itu?" Akira langsung menghampirinya. Jiwa keadilan yang ia warisi dari ibunya bangkit. "Hei, kenapa kamu menangis?" tanyanya lembut.
Gadis itu menengadah sambil terus menitikkan air mata. "Aku...aku tersesat. Aku kehilangan Papa dan Mama..." jelasnya sambil tersendat-sendat.
"Oh begitu...um...baiklah, akan kubantu menemukan orang tuamu! Oh ya, namaku Akira, Seta Akira. Namamu?"
"Aku...namaku..."
