Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Huyuh...setelah UN lewat akhirnya update fanfic! XD Enjoy lah! Males saya! -ditendang-


Chapter 6: Best Friend

Gelak tawa dan canda riang mengisi suasana di ruang tamu Amagi Ryoukan, di mana para sahabat lama itu masih sibuk bercerita tentang ini itu. Jam kuno di ruangan itu berdentang, tanda pukul 12 dan sudah waktunya makan siang. Yukiko berdiri dari tempat duduknya dengan anggun.

"Aku akan menghidangkan makan siangnya, kalian tunggulah di sini," katanya lembut.

"Oh iya...kita juga harus panggil anak-anak untuk makan siang!" Naoto teringat.

"Akan kuminta pegawai ku mencari mereka. Kalian tenang saja..."

Belum sempat Yukiko melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu itu, derap langkah terdengar dari arah koridor dan seseorang berbadan besar muncul, nyaris menabrak jatuh sang okami. Ia terengah-engah, keringat membasahi rambutnya yang dicat pirang pucat seperti biasa.

"Hei hei, Kanji...kalau masuk beri salam yang benar," tegur Yosuke.

"Ah maaf, Yukiko...ahem...halo semuanya, senang bertemu kalian lagi," Kanji berbasa-basi. Senyumnya sedikit kaku karena rasa cemas masih menguasainya.

"Ya, sama-sama...mana Rise?" tanya Souji, mencoba mencari seseorang yang seharusnya ada bersama Kanji.

"Itu...dia di luar...eh...argh! Sudahlah! Souji, Yosuke! Kalian bisa tolong bantu kami?"

"Bantu apa?"

"Putri kami, Himeka...hilang!"

Semuanya terkejut. Setelah menjelaskan situasinya sedikit, kelima orang dewasa itu berjalan menyusuri koridor, mengikuti Kanji yang mengantar mereka menemui Rise di teras ryoukan. Sang artis yang parasnya tampak sangat muda walaupun sudah lebih dewasa daripada ketika mereka bertemu saat SMA dulu itu terlihat sangat cemas. Matanya sembab, tampak sekali ia baru saja menangis.

"Rise! Kami sudah dengar...putrimu menghilang?" tanya Chie.

"Iya...padahal tadi ketika kami keluar dari mobil mau berjalan ke sini dia masih ada..." Rise menyahut dengan suara agak bergetar.

"Akan kami bantu mencari. Seharusnya dia tidak pergi terlalu jauh," kata Souji.

"Bisa tolong paparkan ciri-cirinya?" pinta Naoto. Insting detektifnya keluar.

"Ehm...rambutnya pirang, tingginya di bawah lutut orang dewasa...lalu tadi dia memakai baju frilly merah dan flat shoes hitam. Dia cukup mudah dicari karena rambutnya yang nyentrik itu kok," jelas Kanji.

"Iya nyentrik lah...soalnya Rise-chi mengecat rambutnya biar keliatan seperti bule kan?"

Semuanya menoleh dan melihat pria berambut pirang bermata biru dan mengenakan baju santai berwarna putih-biru berjalan ke arah mereka. Ia menghampiri Yukiko dan mengecup pelan dahi wanita anggun tersebut, membuat sang okami agak salah tingkah.

"Teddie...kau baru datang," Yosuke nyengir.

"Iya, sori nih..." Teddie balas nyengir. "Mau mencari Himeka-chan? Biar kubantu sekalian...kalian para ladies tunggu saja di sini, sambil menyiapkan makan siang, bagaimana? Setuju?"

"Ya, biar kami saja yang mencari," pinta Souji.

"Tidak. Aku akan ikut. Sebagai seorang detektif, gelarku dipertaruhkan di sini," tukas Naoto keras kepala.

"Hmf...ya sudah. Yukiko, Chie, Rise...kalian bertiga tunggu di sini," titah Souji. "Ayo semuanya, kita berpencar mencari ke daerah terdekat dulu. Kalau salah satu dari kita menemukan Himeka-chan, hubungi yang lainnya. Oh ya...kalau ketemu anak-anak kita, bawa mereka bersama kalian, mengerti?"

"Mengerti!"


"Aku...namaku..." gadis itu melirik ke tanah di bawah kakinya, tampak ragu. Tapi toh akhirnya ia menatap Akira dan menjawab pelan. "...Himeka."

"Oh Himeka, ya?" Akira tersenyum. Ia mengulurkan tangannya. "Ayo kita cari Papa Mama-mu! Mereka pasti masih di dekat sini. Jangan nangis lagi ya?"

Himeka menyambut uluran tangan itu dan mengangguk. Ia beranjak dari kursi ayunan itu dan berdiri di samping Akira. Kedua bocah itu kemudian langsung berjalan keluar area taman tersebut. Mereka menoleh ke sana kemari, mencari orang dewasa yang mungkin saja mengenali Himeka, namun sejauh ini nihil.

"Oi! Akira!!!"

Akira menoleh. Jun berlari ke arahnya, diikuti oleh Yuki yang bermuka masam. Sepertinya ia baru saja diketemukan dari tempat persembunyiannya. Mereka berdua berhenti di depan sang bocah berambut biru dengan sedikit terengah karena kecapekan.

"Ketemu kau!" Jun tersenyum lebar, menepuk pundak kecil Akira.

"Kenapa kau tidak sembunyi? Malah berdiri di sini..." Yuki heran.

"Err...anu...aku harus mencari orang tua anak ini..." jelas Akira, menunjuk kepada Himeka yang bersembunyi di baliknya, meski tangannya terus menggenggam tangan Akira.

Jun dan Yuki menengok siapa yang bersembunyi itu. Betapa terkejutnya mereka karena mereka mengenali siapa gadis kecil yang tampak malu-malu kucing itu.

"Himeka-chan!" seru keduanya bersamaan.

"Eh, kalian kenal?" Akira agak kaget.

"Ya jelas kami kenal! Dia kan anak Kanji-ojisan dan Rise-obasan!" Jun tertawa. "Hei Himeka-chan! Kamu sudah lebih besar ya? Terakhir kali kulihat kamu masih digendong sama mama-mu sih ya..."

"Dasar Jun bodoh...mana mungkin dia ingat, waktu itu kan dia masih bayi," ledek Yuki.

"ARGH! JANGAN SEBUT AKU BODOH YA!!!"

"Ehh...yang dimaksud Kanji-ojisan dan Rise-obasan itu...teman-teman Papa Mama juga? Seperti Yukiko-obasan?" tanya Akira.

"Iya. Kalau Himeka ada di sini, berarti Kanji-ojisan dan Rise-obasan sudah datang. Lebih baik kita kembali ke ryoukan, mereka berdua pasti khawatir karena Himeka-chan pergi sampai sejauh ini," usul Yuki.

"Hmmm...kurasa betul juga. Nah, Himeka-chan...ayo ikut dengan kami."

"Ungg..." Himeka mengangguk pelan, menggenggam tangan Akira lebih erat sambil berjalan mengikuti ketiga anak-anak yang lebih besar darinya itu.


Sementara itu, Souji dan yang lainnya berkumpul di depan ryoukan. Mereka sudah mencari sampai ke seluruh pelosok Inaba tapi tidak juga menemukan Himeka, apalagi berpapasan dengan anak-anak mereka. Naoto mulai mencemaskan keadaan Akira, begitu juga Teddie dan Yosuke yang mengkhawatirkan Yuki dan Jun.

"Sial...ke mana mereka?" gerutu Kanji.

"Naoto, apa tadi Akira membawa ponselnya?" tanya Souji.

"Tidak...tadi ia tinggal di dalam dashboard mobil..." sahut Naoto.

"Sudah lewat waktu makan siang...di mana mereka sebenarnya?" Yosuke menggigit bibir bawahnya.

Teddie menoleh ke sana-kemari selagi teman-temannya cemas. Saat itulah, ia melihat sosok 4 manusia kerdil berjalan menuju ryoukan tersebut. Ia mengenali salah satu di antarnya sebagai Yuki. "Hei! Itu mereka!!" soraknya.

Kanji, Naoto, Souji dan Yosuke langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Teddie. Mereka bisa melihat Akira, Himeka, Jun dan Yuki berjalan beriringan, tertawa karena bercanda sedikit, menggoda satu sama lain dengan ejekan kekanak-kanakan, berusaha menghibur Himeka yang sekarang sudah lebih ceria.

"Ah! Papa!" Himeka melepas tangan Akira dan berlari ke arah Kanji yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. "Papa! Himeka takuuut...hiks..."

"Iya, Papa juga takut Himeka kenapa-kenapa..." Kanji tersenyum. Ia menggendong putri kecilnya itu dengan mudahnya, membuat Himeka tertawa senang berada di ketinggian yang luar biasa untuk anak kecil.

"Jun! Kamu ini dari mana saja sih? Kalau kamu menghilang lebih lama lagi, aku bisa dihajar mama-mu, tahu?" Yosuke mengacak-acak rambut putranya.

"Ugh! Iya maaf, tadi kami main petak umpet...taulah sendiri bagaimana susahnya mencari Yuki..." Jun memberi alasan.

"Lho, ayah sudah pulang ya? Selamat datang..." Yuki tersenyum.

"Iya, ayah pulang!" Teddie nyengir.

"Akira!" Naoto langsung menarik Akira dalam rengkuhannya. "Mama pikir kamu kenapa-kenapa! Mama takut kamu diculik lagi..."

"Nggak kok Ma...Mama tenang saja," Akira tersenyum, membelai punggung wanita yang meski tampak tegar di luar ternyata begitu rapuh di dalam.

Souji hanya tersenyum melihat adegan ini. Ia membelai rambut anaknya itu sedikit sebelum menoleh ke arah teman-temannya. "Nah, bagaimana kalau kita masuk ke dalam? Kurasa makan siang sudah siap..."

"Ya, tentu!" sahut Teddie dan Yuki berbarengan.

"Kuharap Rise tidak mencoba membuatkan kita makanan penutup atau semacamnya...aku masih trauma dengan makanan terakhir yang dia buat untukku dan Himeka-chan..." keluh Kanji.

"Iya, masakan Mama tidak enak!" tambah Himeka dengan tawa riang.

"Wow...Himeka-chan berani sekali bilang begitu..." Jun mendesis pelan. "Aku harap aku bisa mengatakannya dengan lantang di depan Ibu...yah, seandainya saja aku tidak akan terkena Galactic Punt-nya begitu selesai mengucapkannya."

Semuanya tertawa mendengar kata-kata Jun. Mereka kemudian memasuki ryoukan, meninggalkan cuaca dingin yang baru saja dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran mereka.


"Hei Jun! Itu jatahku!"

"Argh! Ibu!! Ibu sudah makan iruka 10 kali!!! Masa yang lain ga disisain?"

SLAP!

"Hormat sedikit pada ibumu!"

"Tamparan Yuki-neechan hebat!"

"A-anu, Himeka-chan...sepertinya itu tak patut dibanggakan..."

"Pssst...Yukiko, kenapa anakmu jadi...err...agak 'sadis' begitu?"

"Ahh...mungkin sifat Teddie menurun padanya. Kau tahu kan bagaimana Teddie dulu..."

"Susah dipercaya dulu Teddie-san itu lebih liar daripada Kanji-san..."

"Chie!!! Berikan remote-nya padaku!!!"

BRUAG!

"Y-Yosuke? Kau tidak apa-apa?"

"Wow, wow! Lemparan Chie-chan hebaaat!!!"

"Hahahahaha! Yosuke-senpai payah! Masa' begitu saja langsung KO?"

Begitulah suasana makan malam hari ini. Seperti pesta. Kontras sekali dengan suasana makan siang tadi, di mana dihabiskan dengan membujuk Himeka berhenti mengangis karena rindu pada Rise, dan ditambah Chie yang mengomeli Jun karena membawa Akira dan Yuki main terlalu jauh. Situasi yang benar-benar mencerminkan reuni sahabat yang hangat. Dan Souji merindukan suasana seperti ini. Apalagi anak-anak mereka benar-benar akrab satu sama lain.

"Hah...mereka akrab sekali ya..." gumamnya.

Naoto tersenyum. "Ya...rasanya jadi seperti melihat diri kita di masa lalu."

"Ahahaha! Betul itu! Apalagi kalau Yuki sudah bertengkar dengan Jun!" sahut Chie, mengumbar aib putranya sendiri.

"Hmf...jadi ingat setiap kali Chie bertengkar dengan Yosuke, ya? Ahahahahahahaha!" Yukiko tertawa terbahak-bahak, membuat semuanya tertawa karena wanita itu masih belum berubah juga.

Keempat anak kecil yang berkumpul di satu meja makan itu memandang ibu Yuki dengan pandangan heran. "Uh...ibumu kumat lagi ya?" tanya Jun dengan butiran air besar di kepalanya.

"Heh...sepertinya iya. Padahal sudah dibilang supaya tidak tertawa seperti itu kalau ada tamu..." gadis kecil berambut hitam itu menggelengkan kepalanya, agak jengkel dan frustasi mendengar tawa ibunya sendiri.

"Maaf...tapi memangnya ibu-nya Yuki-chan seperti itu ya?" tanya Akira polos.

"Iya...Yukiko-obasan punya sense of humor yang agak aneh...walau mendengar lelucon segaring apapun pasti dia tertawa keras begitu," jelas Jun sok tahu.

SLAP!

"ADUDUDUDUDUDUH!!" Bocah berambut cokelat susu itu memegangi pipinya yang sekali lagi merasakan tamparan dari sahabatnya. "Yuki! Please deh, biarin aku sendiri dong!"

"Sudahlah, tak usah pedulikan Jun," Yuki menghela napas. "Eh, bagaimana rasanya tinggal di kota besar? Pasti bisa melihat banyak hal, 'kan?"

Akira menggeleng. "Membosankan. Dimana-mana yang ada polusi udara saja. Lalu...di kota juga berbahaya," ia teringat penculikan yang dialaminya sendiri beberapa minggu yang lalu. "Akira yakin lebih aman tinggal di kota kecil seperti ini."

"Iya, tapi kelamaan tinggal di tempat seperti ini bisa merusak syaraf otak juga lho. Yah, ambil saja contoh terdekat: Jun."

"Hei, Yuki! Apa maksudmu!?" Jun geram. "Huh! Seandainya kau bukan perempuan kau pasti sudah kutendang!"

Yuki tidak memperdulikannya. Ia mengalihkan pandangan kepada Himeka yang sedaritadi memegangi ujung lengan baju Akira sampai si pemilik baju itu khawatir lama kelamaan bajunya bisa melar sendiri. "Kalau Yuki selalu ikut Papa Mama ke luar negeri ya? Bagaimana keadaan di sana?" tanyanya.

"Uhm...aku lihat banyak bangunan besar dan tinggi!" Himeka tersenyum lebar. "Terus, aku naik burung besi besar yang disebut pesawat...terus aku lihat menara tinggi besar yang seperti Tokyo Towel itu!"

"A-anu, Himeka-chan...namanya itu Tokyo Tower...bukan Towel...kalau Towel itu bahasa inggris untuk handuk..." jelas Akira, sedikit gemas dengan gaya bicara cadel anak itu.

"Hmm...enaknya...aku jadi agak iri," kata Yuki.

"Kalau mau, Yuki-chan kapan-kapan datang saja ke Tokyo kalau liburan atau semacamnya!" Akira menawarkan. "Akira pasti mengantarkan Yuki-chan melihat-lihat tempat bagus bersama Papa Mama!"

"Ehe...iya ya. Kapan-kapan aku juga mau ke Tokyo lagi ah..." Jun jadi terkenang.

"Wah...boleh juga. Semoga Ayah dan Ibu memberikanku izin..." Yuki tersenyum. "Kalau sudah besar, aku ingin kuliah di Tokyo. Semoga saat itu aku bisa bertemu Akira dan Jun juga, supaya kita bisa sekolah bersama-sama."

"Tentu! Kita akan jadi sahabat, seperti halnya orang tua kita!"

"Sahabat selamanya," tambah Akira senang.

Jun mengacungkan tangannya. Yuki dan Akira yang mengerti maksudnya meletakkan sebelah telapak tangan mereka di atas punggung tangan Jun. Himeka yang tidak mau kalah juga ikut-ikutan. Mereka menghitung sampa tiga, sebelum bersorak bersama, "Sahabat! Yay!!!"

"Aduh anak-anak ini...kelihatannya seru sekali," Teddie menghampiri dan memeluk putrinya dengan sayang.

"Sedang membicarakan apa? Hm?" Souji juga ikut memeluk Akira.

"Ehehe! Urusan anak kecil!" sahut Jun sambil memeletkan lidah.

"Iya, urusan anak kecil!!!" tambah Himeka riang.

"Ah, dasar kamu ini!" Rise mencubit gemas pipi putri kecilnya, diiringi tawa sahabatnya dan anak-anak mereka. Hari ini pun menjadi salah satu saat indah yang mereka lalui bersama.