Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Ide berasal dari shiroganerinkun. Thx a lot w


Chapter 8: Runaway Marriage

Trurururut.

Telepon di kantor Jaksa Agung Seta Souji berbunyi. Dengan sigap, pria berambut abu-abu itu mengangkatnya dan menjawab pasti, "Halo, Jaksa Seta di sini."

"Ah...Souji?"

Souji mengangkat sebelah alis, mencoba mengenali suara berat namun lembut tersebut. Suara itu memang familiar. Tapi entah kenapa agak susah untuknya mengingat nama pemilik suara itu. Akhirnya, dengan sedikit usaha keras, ia mencoba satu nama. "Uhm...Ryoutaro-ojisan?"

"Ya, ini aku," sahut Ryutaro. "Maaf aku menelpon ke telepon kantormu. Aku tak tahu nomor ponselmu atau nomer telepon rumahmu..."

"Tidak apa. Tapi ada apa? Tumben sekali Ojisan menelpon."

"Well...aku hanya ingin kau memeriksa catatan sebulan terakhir di kantor urusan sipil di Tokyo...kalau bisa."

"Hm...tentu. Tapi untuk urusan apa?"

Hening sejenak sementara Souji mengernyit heran, menunggu keterangan lebih lanjut dari paman dari pihak ibunya itu. Sampai akhirnya Ryoutaro menjawab pelan, cukup pelan untuk didengar Souji seorang.

"Nanako...kawin lari."

Souji membelalakan matanya. Ada jeda sedikit pada jalur pikirannya. Hening lama, sampai...

"APAAAAAAAA!!!???"


"Nanako-chan kawin lari?"

Souji mengangguk depresi. Ia baru saja menceritakan hal itu pada Naoto, yang bersedia dimintai tolong untuk menemaninya pergi ke kantor urusan sipil dan memeriksa berkas keterangan orang-orang yang menikah akhir-akhir ini. Wanita berambut biru itu toh tidak ada tugas yang terlalu penting belakangan ini, jadi ia langsung setuju. Apalagi saat ini Akira sedang ada acara menginap bersama beberapa teman sekelasnya. Mereka kini duduk berdampingan di jok depan mobil pribadi mereka.

"Well...meski kau pergi ke kantor urusan sipil, aku ragu kita bisa menemukan nama mereka di sana. Maksudku...mereka kawin lari, bukan kawin sah," Naoto mengutarakan pendapatnya.

"Yah...aku juga ingin bilang begitu, tapi...aku tidak sanggup mengecewakan Ryotaro-ojisan," sahut Souji. "Lagipula, ini Nanako yang kita bicarakan. Dia itu...adik sepupuku yang penting. Tidak akan kubiarkan dia menjadi milik orang yang tidak pantas menerima gadis sebaik dia."

Sang detektif wanita tersenyum dan mengangguk pasti. "Baiklah...setidaknya jika kita tidak menemukan nama mereka, aku akan memakai koneksiku untuk menemukan mereka. Dojima-san bilang bahwa orang yang membawa Nanako-chan lari ke Tokyo itu anak yang kuliah dan tinggal di Tokyo kan? Mereka pasti tidak pergi terlalu jauh."

"Aku tahu."


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kantor urusan sipil wilayah Tokyo. Souji, dengan meminjam statusnya sebagai Jaksa Agung, mendapatkan izin khusus untuk memeriksa data keterangan nikah akhir-akhir ini bersama Naoto. Mereka menelusuri tiap nama yang terdaftar untuk pasangan-pasangan yang menikah bulan ini. Diluar dugaan, ada lebih dari 50 pasangan yang menikah pada bulan belakangan ini, membuat suami istri itu agak repot mencari nama Dojima Nanako dalam daftar tersebut.

"Oke, kurasa aku tidak menemukannya," kata Souji sambil meletakkan kembali berkas yang dipegangnya ke atas meja. Ia menoleh melihat istrinya yang masih teliti mencari nama adik sepupunya itu. "Bagaimana?"

Naoto terurs menelusuri daftar itu sebelum akhirnya berhenti dan menghela napas panjang. "Tidak ketemu. Kurasa memang nama mereka tidak mungkin tercantum di sini, seperti dugaan awalku."

Souji menghela napas panjang, frustasi. "Aku tidak pernah menyangka Nanako akan melakukan hal macam ini. Maksudku...dia anak yang baik dan selalu sayang pada Ojisan. Rasanya aneh kalau dia sampai meninggalkan Inaba hanya untuk menikah dengan seorang anak kuliahan miskin yang entah di mana ia temukan..."

"Hahaha! Masih saja Souji yang protektif terhadap adik sepupunya," wanita itu tertawa geli. "Yah...tapi, Souji...kalau memang mereka jatuh cinta satu sama lain sementara Dojima-san tidak mengijinkan, kurasa tidak mengherankan jika mereka memutuskan untuk kawin lari."

"Ukh...sudahlah. Kurasa ini saatnya untuk menggunakan koneksimu, Tantei Ouji."

"Hmf...baiklah."

Baru saja Naoto mengangkat ponselnya untuk menelpon beberapa kenalannya yang dapat dipercaya untuk masalah seperti ini, ia melihat sepasang kekasih memasuki bangunan tersebut dengan ekspresi ragu. Ia mengernyit. Rambut cokelat itu...wajah itu...bukankah itu...?

"Ada apa, Naoto?" Souji, merasa heran karena istrinya itu mematung di sana, mengalihkan pandangan ke arah yang dilihat oleh wanita itu. Dan betapa terkejutnya karena ia mengenali wajah gadis yang baru saja memasuki tempat itu bersama seorang pemuda tak dikenal. "...Nanako!"

Merasa dirinya dipanggil, Nanako menoleh. Ia tersentak tak percaya melihat kakak sepupunya ada di sana, bersama istrinya, tentu saja. "O-Onichan!"

Souji beranjak dari tempatnya duduk memeriksa berkas dan menghampiri Nanako yang spontan merasa gugup karena ia ketahuan bersama kekasihnya, diikuti oleh Naoto yang berjalan dengan tanpa beban di belakangnya. Apalagi tak biasanya ekspresi Souji menjadi serius dan sangat keras, mengingatkannya kalau ayahnya yang detektif polisi itu akan marah kepadanya.

"Nanako! Apa yang kau lakukan di sini!? Ryoutaro-ojisan mengkhawatirkanmu!" seru Souji agak ketus.

"Uhm...Nanako...Nanako ingin bersama Ken-kun!" sahut Nanako, memeluk lengan pemuda di sampingnya lebih erat agar ia lebih mendekat ke arahnya.

Souji memandang pemuda yang dipanggil Ken itu. "Jadi kau orang yang membuat Nanako lari dari Inaba, agar kalian bisa menikah di Tokyo?"

Ken mengangguk gugup. "Ya...Amada Ken. Salam kenal," ia memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan.

"Kurasa kalian berdua tahu kalau kawin lari itu bukan hal yang baik, bukan? Apalagi, Nanako...kau ini baru 19 tahun! Terlalu muda untuk kawin! Seharusnya kalian mengerti ini bukan cara yang baik!"

"Ta-tapi, Onichan!" si gadis berambut cokelat mengelak. "Ayah sama sekali tidak membiarkan kami pacaran! Dia bahkan mengusir Ken-kun, padahal Ken-kun sangat baik kepada semua orang. Dia tidak berbuat hal-hal yang menyalahi aturan di Inaba. Jadi kenapa Ayah tidak mengijinkan kami pacaran?"

Souji terdiam. Meskipun ia adalah seorang ayah, sama seperti pamannya sekarang, ia tidak bisa mengerti mengapa Ryoutaro melarang Nanako berpacaran. Orang yang bisa memahami situasi sang detektif polisi itu hanyalah Minato, kakak Naoto, yang memang memiliki seorang anak perempuan. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan hal macam itu.

"Sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih nyaman. Tidak enak berbicara di sini karena...well, orang-orang mulai memandangi kita," usul Naoto, merasa risih melihat orang-orang kadang lewat untuk melihat apa yang terjadi di antara mereka berempat.

"Baiklah. Ayo kita ke suatu kafe atau restoran terdekat," sahut Souji.


Junes Department Store Cabang Tokyo.

"Oh~ Junes!" Nanako tersenyum riang. "Ternyata di sini ada Junes juga!"

Souji tersenyum kecil. "Ya jelas. Yosuke bilang padaku Junes sudah melebarkan sayapnya dan membuka cabang di hampir seluruh kota di Jepang," jelasnya singkat.

Ken melihat sekeliling dan menggumam pelan. "Yah...setidaknya mall milik Kaichou lebih besar dari ini..."

"Hm? Kau mengatakan sesuatu, Amada-san?" tanya Naoto yang mendengar Ken menggumamkan sesuatu, meski tidak jelas.

"Ah...tidak...bukan apa-apa."

"Well, kalau begitu...lebih baik kita ke restoran terdekat, yang agak sepi supaya tidak ada yang mendengarkan," ajak Souji sambil mencari-cari tempat yang dimaksud. "Hm...di mana ya?"

"Lho? Souji?"

Keempat orang itu menoleh dan menemukan seorang pria berambut cokelat kemerahan dengan pakaian necis menghampiri mereka. Senyum khas-nya segera mengingatkan Souji siapa orang itu.

"Yosuke!"

Yosuke tertawa sambil menepuk pundak sahabatnya itu. "Wah, wah...padahal baru sebulan kita tidak bertemu, tapi rasanya sudah kangen lagi!" katanya setengah bercanda. "Naoto juga di sini, dan...oh, Nanako-chan! Kau juga di sini?"

"Hai, Yosuke-niichan!" sapa Nanako riang.

"Oh...aku tahu! Jangan-jangan Nanako-chan sedang berlibur ke Tokyo, jadi Souji dan Naoto mengantarkannya jalan-jalan ya? Wah, aku tersanjung kalian mengunjungi Junes, hehehe...tapi rasanya baju itu tidak pantas untuk jalan-jalan ya?"

"Yah...karena kami di sini bukan untuk jalan-jalan," Naoto menghela napas. "Tapi...kenapa Yosuke-san ada di sini?"

Souji melihat badge nama yang menempel di baju sahabatnya itu. Ia tertegun ketika membaca tulisannya. "Yosuke, jangan bilang kau..."

"Ya...aku naik jabatan jadi supervisor di sini, hehehe. Yah, memang tidak setinggi jabatan menjadi direktur utama atau semacamnya, tapi setidaknya lumayan, 'kan? Hahaha!"

"Wow, Yosuke-niichan hebat!" Nanako terkesima.

"...Well, suatu saatpun aku akan menyusul kejayaan Kaichou..." Ken menggumam, lagi.

"Huh? Siapa pemuda itu?" tanya Yosuke, menyadari kehadiran Ken di samping Nanako.

"Oh...Ken-kun ini suamiku!"

Yosuke tidak bereaksi. Ia mematung, kaliamatnya yang lebih tepat. Souji dan Naoto menghela napas, merasa reaksi itu wajar, apalagi Nanako mengatakannya dengan sangat ringan. Ken melirik Nanako yang masih kelihatan santai di sampingnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangguk, dan efeknya cukup luar biasa.

"HUAPAAAAAAAAAA!!!!!!!???"


Junes Department Store, Suemitsu Restaurant.

Setelah ditenangkan oleh sahabatnya, Yosuke segera merekomendasikan restoran ini kepada empat orang tersebut. Ia merasa harus membantu urusan ini, yah setidaknya dengan membantu menemukan tempat yang pas untuk berbicara serius seperti ini. Naoto dan Ken menengak kopi yang mereka pesan, sementara Souji merasa agak pusing melihat tingkah laku Nanako yang terlalu easygoing ini. Yang ia tahu, dibalik kepolosannya itu, adik sepupunya satu ini selalu serius. Jadi tidak mungkin ia memutuskan kawin lari seperti ini hanya untuk main-main. Ryoutaro bisa jantungan kalau ternyata memang ini hanya bohongan belaka.

"Jadi," Souji melipat tangannya, "Kalian benar-benar serius?"

Nanako dan Ken saling pandang sebentar sebelum kembali menatap sang jaksa dan mengangguk pasti, memberikan konfirmasi. "Ya, kami serius."

"Tapi...kalian sadar hal itu akan sangat susah?" tanya Naoto, memgaduk-aduk kopinya dengan sendok. "Maksudku...Amada-san masih kuliah, kan? Menikah saat masih kuliah itu sulit lho. Lebih baik kalau sudah bekerja baru menikah..."

Ken mengernyit. "Aku sudah bekerja, kok."

"Hm? Oh, maaf, maksudku bukan kerja sambilan atau magang seperti yang lainnya itu, tapi—"

"Bukan, bukan," pemuda itu memotong kalimat sang detektif wanita. "Aku sudah bekerja di bagian manajemen di Kirijo Corporation. Malahan aku ini murid dari Kaichou—maksudku, Kirijo Mitsuru, sang Presdir perusahaan besar itu. Dan nanti rencananya aku akan diberikan wewenang untuk menjalankan suatu mall milik Kirijo Corp sebagai latihan utama."

Souji, yang baru saja meminum kopinya, tersedak mendengar penjelasan Ken. Naoto menepuk punggungnya, membantu melegakan sang suami yang terkejut. Nanako tenang-tenang saja sementara (calon) suaminya bingung dengan tingkah laku pasangan suami istri di depannya.

"Be-bekerja untuk Kirijo Corp, katamu?" tanya sang pria berambut abu-abu. "A-aku pikir Ryoutaro-ojisan bilang kau anak kuliahan?"

"Yah...sebenarnya aku sudah lulus kuliah di Harvard untuk jurusan Hukum dan HAM, dan ketika kembali ke Jepang, aku malah ditawari bekerja untuk Kirijo Corp...untuk itu, aku mengambil kuliah di jurusan Manajemen dan Keuangan supaya bisa membantu Kaichou...jadi aku kuliah sambil bekerja, begitu..."

"Hehe. Ken-kun hebat, bukan? Kemarin dia datang ke Inaba karena ingin mensurvei semua aset penting di tiap kota di Jepang," Nanako tersenyum. "Aku jadi tertarik begitu mengetahui kalau ternyata Ken-kun juga hampir menjadi jaksa seperti Onichan!"

Souji memijat kepalanya yang pusing. Naoto terkesima mendengar penjelasan kedua anak muda di hadapannya. Ken terlihat sedikit kebingungan mendengar kalimat Nanako.

"Tunggu, Nanako-chan...maksudmu, orang ini...?"

"Ya, ini Onichan yang kuceritakan padamu—Jaksa Agung Seta Souji."

Terlihat kerlipan bintang dan cahaya kekaguman terpancar dari kedua bola mata Ken. Ia langsung bersemangat. "K-kau sungguh-sungguh Jaksa Agung Seta yang itu?! Oh ya ampun! Aku selalu mendengar tentangmu dari Nanako-chan, dan...dan aku benar-benar kagum padamu!"

"Oh um...yah...aku merasa tersanjung...?" Souji menjawab tak yakin.

"W-wow...senang sekali rasanya bisa bertemu anda secara langsung begini dan suatu saat akan menjadi kerabat anda," melihat tatapan aneh dari Souji, Ken buru-buru mengoreksi, "ee...ma-maksud saya, jika Dojima-san mengijinkan saya menikahi Nanako-chan, tentu saja."

Sang jaksa menghela napas dan mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja. "Kurasa aku mengerti kenapa Ryotaro-ojisan tidak menyetujui hubungan kalian..." katanya pelan.

"Ke-kenapa?" tanya Nanako penasaran.

"Habis, dia tampak...well, tidak bisa dipercaya untuk melindungi Nanako. Kau tahu kan kalau Ryotaro-ojisan bekerja sebagai polisi detektif dan sudah kehilangan istrinya? Kurasa itu menyebabkan perasaan protektif yang agak berlebihan padanya, dan...well, kurasa dia ingin memiliki menantu yang bisa diandalkan."

Si adik sepupu baru saja akan protes ketika kekasihnya mendelik. "Jadi anda pikir saya lemah?"

"Kelihatannya," Naoto mengoreksi.

"Saya akui saya kelihatan tidak meyakinkan begini karena terlalu banyak belajar dan sebagainya," Ken mengerutkan dahinya, membuatnya terlihat lebih serius dan bersungguh-sungguh. "...Tapi saya benar-benar mencintai Nanako-chan dan saya akan melindunginya dengan segenap kemampuan saya. Saya yakin akan kemampuan saya, makanya saya mengajaknya ke sini, karena saya percaya saya bisa melindunginya dengan cara saya sendiri!"

Hening sejenak. Untung saja restoran itu sedang sepi pengunjung. Kalau tidak mereka akan banyak menarik perhatian dan pembicaraan akan terasa tidak menyenangkan sama sekali. Nanako terdiam di tempat duduknya, wajahnya memerah mendengar pernyataan Ken—malu sekaligus senang. Naoto berkekspresi sekaku patung, menahan tawa karena ia seperti melihat deja vu. Souji terus menatap mata Ken lekat-lekat, sebelum menyunggingkan senyum khas-nya.

"Kau lulus."

Ken mengerjap tak mengerti. "Huh?"

"Aku hanya mengetesmu," pria yang lebih tua itu menyandarkan punggungnya di kursi, menenggak kopinya sebelum melanjutkan dengan lebih santai, "Aku hanya ingin melihat apa kau serius tentang hal ini, karena tidak mungkin aku membiarkan adik sepupu kesayanganku jadi mainan lelaki buaya di dunia yang kejam ini."

"Kata-katamu meniru kakakku," hardik Naoto, menuai tanda tanya dari pasangan muda di hadapannya. Wanita itu tertawa dan menjelaskan, "Ketika dia melamarku dulu, kakakku, Minato, juga mengetesnya seperti itu, dan, well...dia berhasil melewatinya dengan mengucapkan kalimat yang persis sama dengan yang dikatakan Amada-san barusan."

"Oh..." keduanya ber-ooh ria.

"Ja-jadi?" Nanako masih penasaran.

"Ya...akan kubantu membujuk Ryoutaro-ojisan dan menjelaskan tentang segala profesi Ken-kun yang sebenarnya. Tapi kalian juga harus meminta persetujuan langsung darinya, lho," ujar Souji.

"Onichan! Kau memang yang terbaik!" seru si gadis sambil memeluk erat kakak sepupu tersayangnya, membuat Souji tersedak sementara Ken menghela napas lega dan Naoto tertawa.


Seminggu setelah kejadian itu...

Telepon di kediaman Seta berbunyi. Kali ini Souji yang mengangkatnya, membiarkan Naoto melanjutkan memasak makan malam hari itu sementara Akira menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Cukup sekali deringan telepon sebelum suara tegasnya menyambut panggilan itu.

"Halo, kediaman Seta."

"Ah, Souji-kun? Ini aku, Yukiko."

Souji tersenyum mendengar suara sahabatnya itu. "Halo, Yukiko. Tumben menelpon. Ada apa?"

"Well, aku hanya ingin memberitahu bahwa Nanako-chan dan pacarnya akan mengadakan pesta pernikahan lusa...aku membantu mereka menyiapkan segalanya dan mengundang teman-teman untuk ikut ke pestanya."

"Oh ya, aku sudah tahu tentang hal itu. Tapi tak kusangka mereka cepat sekali mempersiapkannya..."

"Oh begitu...berarti kau sudah dengar tentang hal itu juga?"

"Hal apa?"

"Nanako-chan sudah hamil seminggu, makanya pernikahan dipercepat."

Hening lama, sebelum...

BRUK!

"L-lho? Papa! Papa kok pingsan di depan telepon!? Mama!! Papa pingsan!"

"Huh? Souji? Souji, kau kenapa?"


A/n: Umh...oke, sepertinya bagus juga hehehehe...Ide masih diterima. Silahkan salurkan anda lewat layanan review *ditabok*