Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Ide berasal dari ryuamakusa4eva ^^ Anggota S.E.E.S juga muncul lho...minus Junpei dan Fuuka tapi ^^
Chapter 9: Revenge
Derap langkah kaki yang lelah, berusah terus bergerak, mencari cara agar lolos dari kejaran si 'penangkap'. Nafasnya memburu, piluh membasahi kemeja dan jas-nya yang terlihat sangat mahal. Ia terus berlari, sampai akhirnya tiba di jalan buntu. Ketika ia akan berbalik untuk memutar arah, sesosok wanita dengan topi biru sudah menghadangnya.
"Namatame Taro," kata wanita itu. Dengan sigap, ia mendekati si pelarian dan mengikat kedua tangannya dengan borgol yang ia bawa. "Kau ditangkap atas kejahatan penggelapan dana negara, korupsi, dan juga menjadi tersangka pencemaran nama baik Yamano Mayumi."
Segera setelah ia selesai mengucapkan kalimat tersebut, suara sirine mobil polisi dapat terdengar. Tiga mobil polisi tiba di area tersebut. Polisi berhamburan, segera memasukkan Taro ke dalam salah satu mobil tersebut. Seorang pria berambut cokelat susu dan berpakaian necis seperti layaknya pengacara menghampiri sang detektif.
"Kerja bagus, Naoto-san!" katanya dengan sorot mata penuh kekaguman.
Naoto menggeleng. "Dia tidak berpikir panjang, makanya aku mudah menangkapnya," sahutnya. "Tapi...apa perlu kau, sebagai pengacara Yamano-san, sampai datang ke TKP begini, Ken-kun?"
Ken tertawa. "Ini permintaan klien ku sendiri."
"Hmmm...begitu? Baiklah kalau begitu...mari kita pergi ke kantor polisi bersama. Souji pasti sudah menyiapkan berbagai argumen untuk sidang kali ini."
"Huh? Souji-san akan ikut di sidang kali ini? Bagus!"
Naoto tertawa melihat semangat sang pengacara muda sambil berjalan memasuki salah satu mobil polisi yang akan mereka tumpangi. Sudah sebulan lewat sejak insiden kawin lari itu dan sekarang Nanako dan Ken tinggal di Tokyo karena Ken, atas rekomendasi Souji, bekerja sebagai pengacara. Karirnya langsung meningkat tajam, dan Ryotaro juga sepertinya sudah merelakan putrinya dinikahi si pemuda tanggung, tidak termasuk ia masih geram dengan 'fakta mengejutkan' itu.
Selama di perjalanan, Naoto dan Ken berbincang banyak. Permintaan Mayumi—klien Ken—lalu pekerjaan Souji dan juga kondisi Nanako belakangan ini. Naoto bahkan berkata mungkin ia akan menitipkan Akira di rumah pasangan muda itu, selain untuk memperkenalkan bocah itu kepada tantenya, sepertinya anak itu juga tertarik ketika ia tahu bahwa ia akan segera punya sepupu.
"Tentu, tentu...Nanako-chan pasti senang," ujar Ken.
"Hm...kalau begitu, syukurlah—"
Mobil polisi itu mengerem mendadak, membuat Ken dan Naoto nyaris membenturkan kepala mereka ke punggung kursi jok di depan mereka. Waswas, sang detektif bertanya sambil setengah menggerutu, "Ada apa?!"
"Tidak tahu! Mobil di depan tiba-tiba saja berhenti!" jelas sang polisi yang menyupir di depan.
Naoto keluar dari mobilnya, mencoba melihat apa yang terjadi di depan sana. Dan terjawablah sudah. Dua orang dengan pakaian nyentrik—yang satu topless dan badan penuh tato, sementara satunya lagi seperti mafia namun warna rambutnya tidak matching dengan gaya pakaiannya—berdiri di tengah jalan, mengganggu kendaraan polisi itu.
Polisi yang bertugas mengawal si pelaku turun dari mobilnya, menggerutu. "Hei! Minggir kalian! Kami sedang bertugas!" serunya.
"Well, kami juga sedang bertugas," sahut si mafia acuh tak acuh.
"Heh...dijelaskan pada mereka pun mereka tak kan mengerti," tambah si pria bertato.
Polisi tadi baru akan mengomel lebih banyak ketika si pria bertato mengangkat pistol revolver miliknya dan menembak kepala polisi tadi hingga berlubang. Naoto seketika mengambil revolver miliknya. Polisi-polisi di mobil pertama dan kedua semuanya turun, ikut mengambil tindakan. Mereka mulai menembaki kedua orang aneh itu, namun mereka menghindarinya dengan baik.
"Ck, ini merepotkan..." si pria bertato menggerutu sambil bersembunyi di balik tong kosong di pinggiran jalan raya itu.
"Hh...apa boleh buat!" si mafia mengeluarkan sebuah bom, menarik pelatuknya dan melemparkannya ke arah kerumunan polisi itu. Dalam sekejap, asap menyebar di mana-mana, menidurkan para polisi dengan segera.
Gas tidur!, Naoto menunduk dan segera menutup mulutnya dengan masker yang ia bawa kemana-mana. Revolvernya masih siap di tangannya, siap menembak jika kedua orang itu mendekat. Kedua orang aneh itu, yang sudah menutup mulut dan hidung mereka dengan masker khusus, berjalan dalam asap, membuka pintu mobil polisi di mana Taro berada.
"Cepat sekali kalian," Taro berkomentar sementara si mafia membuka borgolnya dengan kunci khusus.
"Merepotkan punya majikan bodoh seperti kau," gerutu si pria bertato.
"Yah...kubiarkan kau berkata seperti itu, karena kerja kalian benar-benar memuaskan, Strega."
Strega? Apa itu? Naoto berpikir. Ia seperti pernah mendengar nama itu. Tapi ia tak ingat di mana dan kapan. Mengesampingkan hal itu, sang detektif berjalan ke arah mobil yang ia tempati tadi, dan menemukan Ken berjuang untuk tetap sadar meski asap sudah membuat kedua polisi yang duduk di jok depan pingsan.
"Ken! Kau masih sadar?" tanyanya.
Ken mengangguk lemah. "Apa yang terjadi?"
"Antek Namatame menjemputnya. Aku akan bertindak. Sementara ini, kau pura-pura pingsan sambil mencoba menghubungi bala bantuan. Bisa?"
"Tentu..."
"Hm? Ada yang masih sadar rupanya..."
Naoto terkejut. Ia segera menutup pintu mobil polisi itu, menghalangi pandangan si pria bertato yang mendekatinya dengan tatapan pembunuh, melindungi Ken yang sedang berusaha mengirim pesan ke bala bantuan. Revolver si anak buah terangkat, bersiap menarik pelatuk saat Taro mencegahnya.
"Tidak! Jangan bunuh dia dulu, Takaya!"
Takaya!?, Ken, yang tentu saja masih sadar meski berpura-pura pingsan sambil mengirim sinyal meminta bantuan ke Kantor Kepolisian Pusat, tak sengaja mendengarnya. Takaya...maksudnya, Takaya dari Strega? Takaya yang itu!? Sedang apa dia di sini?!
Takaya manyun. "Ck, biarkan aku bersenang-senang..."
"Tentu. Makanya aku minta kau tangkap dia hidup-hidup agar kita bisa bersenang-senang dan...memberi kita kesempatan lolos dari hukuman," jelas Taro. "Dia itu Seta Naoto, detektif wanita terkenal itu, aset berharaga Kepolisian Jepang. Mereka pasti tak kan berani menyentuh kita kalau kita menyanderanya."
"Ho...pantas aku seperti mengenal wajahnya," kata si mafia.
"Well...kalau kau sampai bilang begitu, Jin, berarti kau benar..." Takaya menyeringai, "Baiklah kalau begitu..."
Naoto baru saja akan menembakkan revolvernya ke arah Takaya saat pria itu memukul perutnya, spontan membuatnya tak sadarkan diri. Detektif itu terjatuh ke tanah, pingsan. Takaya menyeringai semakin lebar sebelum akhirnya membawa Naoto ke hadapan bos dan partnernya, dan mereka pergi menggunakan mobil polisi yang baru saja dipakai untuk membawa Taro ke Kantor Polisi.
Ketika Ken merasa bahwa mereka sudah menjauh, ia bangkit duduk di mobil. Ia masih geram atas ketidakberdayaannya tadi. Dan lagi, Takaya dan Jin dari Strega...mereka itu musuh lamanya—ah tidak, musuh lamanya dan senior-seniornya ketika mereka masih di bangku sekolah dulu. Dan kini mereka menjadi anak buah Taro? Ini tak bisa dibiarkan.
Dengan sigap, Ken menekan nomer telepon Kaichou-nya, yang merupakan mantan seniornya dulu. Kalau beliau, pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk mengurus masalah dengan mantan musuh mereka dulu itu.
Kirijo Corporation Main Office.
Seorang wanita anggun berambut merah bergelombang serisu bekerja di dalam ruangannya. Sesekali, ketika penat dan merasa tidak konsen, ia melirik sebuah foto yang terpajang apik dalam sebuah pigura indah. Fotonya bersama teman-temannya semasa sekolah dulu, meski sekarangpun mereka masih bertemu dan berbincang ramah. Kemudian, konsentrasinya benar-benar buyar ketika telepon kerjanya berbunyi. Ia menekan tombol loudspeak.
"Ya, Fushimi-san?"
"Kaichou, ada telepon dari Amada-san."
Mitsuru mengernyit sedikit. Ken? Tumben sekali dia menelpon di saat jam kerja begini. Pasti ada sesuatu yang penting. "Sambungkan," sahutnya tegas.
"...Kaichou?" suara Ken terdengar melalui loudspeaker.
"Ya, Ken? Ada apa?" tanya sang Presdir penuh rasa ingin tahu.
"Ada masalah gawat. Kaichou ingat tentang Strega, kan?"
Wanita itu terdiam. Strega. Ya, mana mungkin dia lupa. Strega adalah kelompok pembuat onar ketika ia masih sekolah di Gekkoukan High dulu. Mereka terdiri dari tiga orang—Takaya sebagai ketua geng, Jin sebagai otak perencana, dan Chidori sebagai anggota cewek satu-satunya. Kedua lelaki itu tak pernah insaf, malah makin menggila seperti sekarang. Sementara mereka berhasil membuat Chidori insaf, dan membuat Junpei jatuh cinta padanya.
"Kaichou?"
"Ah...iya, iya. Tentu saja aku ingat. Kenapa dengan mereka?"
"Mereka...mereka bekerja untuk Namatame Taro, tersangka yang sedang aku dan Naoto-san urus saat ini. Dan...dan mereka baru saja membawa Namatame kabur dari kejaran polisi, dan mereka...mereka juga menculik Naoto-san!"
"Naoto-san...maksudmu, Naoto adik Minato yang bekerja sebagai detektif itu?"
"Ya, tentu saja! Memangnya seberapa banyak Naoto yang kukenal?"
"...Kau bisa dibunuh Minato..."
"Ugh...yah, aku tahu! Makanya aku minta bantuan Kaichou!"
"...Baiklah, baiklah...aku akan menjelaskan padanya. Sekaligus membantumu menyelesaikan kasusnya. Kau siapkan mental dan fisik...kita akan kembali ke 'masa-masa' itu."
"Baik, aku mengerti. Terima kasih."
Mitsuru menutup pembicaraan. Ia meraih ponsel pribadinya dan menekan nomer telepon mantan pemimpin kelompok mereka. Dering lama, sementara pikiran sang kaichou berkutat seputar apa yang akan ia lakukan jika ia bertemu dengan Takaya dan Jin.
Kimi made ashita ni ano toki watashi no soba ni itta—
"Halo?" suara nada dering itu diganti dengan suara lembut si pemilik ponsel.
"Halo? Minato?"
Minato tercenung mendengar suara elegan dan tegas itu. "Mitsuru? Ada apa? Tumben sekali kau menelpon."
"Ya...ada masalah penting menyangkut adik kesayanganmu itu dan juga...Strega."
Pria berambut biru itu mengernyit. Kenapa nama Naoto disangkutpautkan dengan Strega biadab musuh lamanya ketika masih bersekolah itu? Wajahnya spontan berubah masam. "Kenapa dengan Strega? Apa hubungannya dengan Naoto?"
"Well...tampaknya mereka bekerja untuk Namatame Taro, orang yang sedang Naoto urus kasusnya, dan mereka sekarang menculiknya."
"A-apa!?" Minato berjengit. Mukanya spontan geram.
Berani sekali kedua bajingan itu menculik adiknya tercinta. Berani sekali mereka membuat onar untuk kesekian kalinya! Dulu dia dan kelompoknya membiarkan keduanya lolos karena itu permintaan terakhir Chidori, mantan kekasih Junpei, untuk membiarkan mereka bebas supaya mereka bisa menemukan 'kebenaran', sebelum akhirnya ia meninggal di pelukan Junpei karena overdosis. Sampai sekarang kadang Junpei masih terkenang tentang hal itu, dan Minato benci melihat wajah sahabatnya itu muram seperti itu, maka ia, Aigis dan juga teman sekelompok mereka yang lain berjanji untuk tidak pernah membicarakan hal yang menyangkut tentang Strega lagi.
Dan kini mereka beraksi lagi. Rupanya mereka memberi keputusan yang salah saat itu. Kali ini tiada maaf untuk mereka!
"Minato, kau masih di sana?"
"Ya, Mitsuru. Aku masih ada. Kau mau memintaku membantu mengerjar mereka kan?"
"Ya. Tolong datang segera. Oh, jangan bilang Junpei..."
"Aku tahu. Aku akan mengajak Aigis juga. Kau bisa hubungi Akihiko dan Yukari, kan?"
"Tentu. Sudah kulakukan. Oh dan satu lagi...bisa kau hubungi suami Naoto? Siapa namanya? Souji? Aku sudah menelpon kantornya tapi katanya dia sedang pergi..."
"Kalau jam segini dia pasti sedang menjemput anaknya pulang...baiklah, akan ku telepon. Kau mau membawanya ikut menangani masalah ini?"
"Yah...selain karena dia suaminya, kurasa lebih baik jika dia ikut...kita bisa benar-benar menghabisi Strega, sampai ke esensi mereka yang sesungguhnya," Mitsuru terkekeh sadistis.
Minato juga ikut menyeringai ala pembunuh menemukan mangsanya. "Dimengerti."
Di dalam mobil milik Souji, Akira sedang asyik memainkan game dengan konsol PSP-nya, sementara ayahnya mengemudi dengan tenang. Tak lama, ponsel milik sang jaksa berbunyi. Ia meraihnya dan melihat nama yang terpampang di layar sebelum akhirnya menekan tombol jawab.
"Ya, Minato? Ada apa?"
"Kau sedang ada di mana?"
"Ee...sudah hampir tiba di rumahku, baru saja selesai menjemput Akira dari sekolahnya. Kenapa memangnya?"
"Putar balik ke rumahku. Titipkan Akira pada Metis dan Chijiro, setelah itu kita segera ke TKP."
"TKP? Apa maksudmu?"
"Aku akan jelaskan segera setelah kau tiba di sini. Cepat. Kita tidak punya banyak waktu!"
Meski tak mengerti, Souji menyetujui permintaan kakak iparnya itu dan memutuskan pembicaraan. Ia menoleh ke arah Akira yang duduk di sebelahnya, menatap ayahnya heran. "Minato-ojisan bilang apa?" tanyanya polos.
"Akira, kamu hari ini main ke rumah Metis-neechan ya. Papa dan Minato-ojisan ada keperluan mendadak," jelas Souji singkat, merasa sedikit tak yakin.
"Hee? Ke rumah Metis-neechan? Horee!!! Mau!!! Akira mau!! Ayo Papa, cepat, kita ke rumah Metis-neechan!!!"
Dengan cepat, mereka sudah memutarbalik arah dan tiba di kediaman Arisato. Minato dan Aigis sudah menunggu di pintu depan, entah kenapa mengenakan pakaian gelap-gelap dan memasang scarf merah bertuliskan S.E.E.S. . Souji mengernyit. Setahunya, S.E.E.S. itu kelompok yang diketuai si kakak ipar ketika masih bersekolah dulu, dan kegiatan mereka mirip Komisi Keamanan sekolah atau semacamnya. Akira turun dari mobil dan mencium tangan paman dan bibinya sebelum masuk ke dalam rumah, mencari Metis.
"Minato, Aigis..." Souji menyapa mereka, masih merasa heran. "Pakaian macam apa itu?"
"Diamlah dan cepat masuk ke dalam mobil, kita harus bergegas," kata Minato sambil berjalan masuk ke dalam mobil adik iparnya itu.
"Metis, jaga Akira-chan dengan baik, ya?" perintah Aigis sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
"Oke deh, Bu!!" sahut Metis dari dalam, sebelum terdengar suara pintu dikunci dan segera saja terdengar gelak tawa kedua saudara sepupu itu bermain di dalam.
Souji, menghela napas keheranan, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan mengarahkannya ke Shinjuku, tempat yang dikabarkan Mitsuru sebagai tempat Naoto di sandera. Dalam perjalanan ke sana, Minato menjelaskan apa yang terjadi, termasuk masalah mereka dengan Strega. Diluar dugaan, pria berambut abu-abu itu tetap tenang, membuat Aigis heran.
"Kau tenang sekali menghadapi hal ini," wanita berambut pirang itu berkomentar.
Sang jaksa tertawa. "Well...kurasa kalau kalian sampai punya dendam kesumat begitu...mereka tidak mungkin bisa lolos. Lagipula," Souji melirik pria pendiam yang duduk di sebelahnya, "kakak istriku tercinta ini sepertinya benar-benar akan mengamuk. Tidak mungkin mereka bisa selamat kalau mereka melakukan sesuatu yang diluar batas pada Naoto."
Aigis tertawa, mengakui betapa menakutkan suaminya itu kalau sudah marah besar. Tak lama, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Ketiganya turun dari mobil Souji dan menghampiri sosok empat orang yang sudah berdiri menunggu di dekat sana. Souji mengenalinya sebagai Ken, suami adik sepupunya, dan Mitsuru, Presdir Kirijo Corporation. Dua lainnya tidak ia kenal.
"Hei, kalian sudah sampai," pria berambut abu-abu kurus yang berdiri di samping sang Presdir tersenyum menyambut kedatangan ketiganya.
"Lama tak jumpa, Minato-kun, Aigis," sang wanita berambut cokelat susu memandang Souji. "Siapa itu?"
"Dia Seta Souji, Jaksa Agung dari Kantor Kejaksaan Tokyo Pusat, sekaligus suami Naoto," Aigis memperkenalkan.
Souji menunduk sekilas, memberi hormat. "Seta Souji."
"Oh...yang diceritakan Ken-kun, ya?" wanita tadi tersenyum lagi. "Kenalkan, namaku Takeba Yukari, Ketua Asosiasi Kyudo. Yang itu Sanada Akihiko, petinju kelas dunia kita."
"Haha, jangan berlebihan seperti itu, Yukari," hardik Akihiko. "Well, salam kenal, Seta."
"Wah, wah...Minato," Mitsuru terkekeh geli. "Kau sampai memakai scarf kelompok kita. Kau benar-benar serius?"
Minato mengangguk. "Ini pertarungan terakhir kita dengan Strega. Aku tidak akan mengampuni mereka sama sekali," sahutnya serius.
Ken tertawa. "Semangat yang bagus," ia kemudian menyerahkan sebilah pedang untuk Minato, sebuah handgun pada Aigis, dan satu katana untuk Souji. "Kalian akan membutuhkannya, karena seperti yang kita tahu...Strega bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh."
Semuanya mengangguk. Mitsuru sudah mengayunkan pedang anggar miliknya, Akihiko mengikat sarung tinjunya lebih kencang, Yukari menyiapkan anak panah dan busur panah miliknya, dan Ken memegang erat tombaknya. Setelah menyiapkan strategi dan lainnya, mereka menuju lokasi di mana Naoto disekap.
Lokasi persembunyian Namatame Taro dan Strega.
Tampak Naoto duduk terdiam, diikat pada kursi kayu dengan sebuah tali tambang yang cukup kuat. Revolvernya ada di tangan Takaya, yang sekarang sedang sok beraksi akrobat dengan dua revolver. Jin sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, sementara Taro asyik merokok sambil berdiri.
"Nah, beres," kata Jin sambil menekan tombol enter dengan senyum bangga. "Dengan begini, besok uang akan tiba di rekening kita dan kita bisa segera kabur ke negara lain."
"Bagus," Takaya terkekeh. "Lalu...wanita ini mau diapakan?"
Taro menatap Naoto menyelidiki. Detektif wanita itu tetap tegar dan balas melotot ke arah penjahat di depannya. Sebuah senyum keji melintas di bibir sang mantan sekretaris Pemerintah Pusat Tokyo.
"Kalau mau, kalian boleh bercinta dengannya," kata Taro, diikuti tawa maniak Takaya.
"Cish, dasar bajingan," Naoto menggerutu.
"Hoho, wanita yang berani. Aku suka," pria bertato itu berjalan mendekati sanderanya. Ia mengangkat dagu Naoto agar menatap matanya. "Sebaiknya kau diam dan buat kami senang, hehehe..."
Merasa jijik, Naoto akhirnya memutuskan untuk menendang titik vital Takaya dengan kakinya yang bebas. Pria berambut keabuan pucat itu berteriak kesakitan sementara dua temannya memandangnya kasihan, mencoba merasakan penderitaan yang sama. Detektif itu menjulurkan lidahnya, menghina.
"Kau..." Takaya merengut. Ia menarik revolvernya lagi dan menodongkannya ke kepala Naoto. "Taro, kalau dia kita bunuh kita tidak rugi apapun kan?"
"Yeah...setidaknya dengan begitu lebih mudah untuk 'memasukinya'," sahut Taro senang.
Jin mengangkat bahu dan kembali mengetik, tak ambil pusing. Taro juga melanjutkan merokok sambil menatap Naoto, penasaran ingin melihat wajah panik sang detektif yang tak pernah ia tunjukkan ke siapapun. Takaya menyeringai senang. Ia hampir saja menarik pelatuknya, kali ini atasannya tak akan melarangnya, ketika...
DOR! DOR! DOR!
Ketiganya menoleh ke arah pintu masuk menuju tempat persembunyian mereka itu. Sepertinya mereka baru saja mendengar suara tembakan...tapi siapa?
BRAK!
Pertanyaan mereka terjawab seketika. Pintu yang terbuat dari besi itu hancur, rusak didobrak oleh kekuatan superhuman Akihiko. Si petinju berdiri senang di pintu masuk, bangga akan kekuatannya. Kemudian, muncul Aigis, dengan handgun mengepulkan asap hasil memuntahkan peluru. Lalu, satu persatu mereka masuk ke dalam—Yukari, Mitsuru, Ken, Minato dan akhirnya Souji.
"Souji! Minato-niisan!" panggil Naoto, takjub.
"Hm...Jaksa Agung Seta Souji...akhirnya kau tiba," Taro tersenyum meremehkan.
"Brengsek..." Souji mengenggam katana-nya lebih erat dan bersiap untuk menyerbu ketiga lelaki jahanam yang berani menyandera istrinya, sebelum Ken menarik lengannya dan menahannya di tempat untuk tetap tenang.
"Heh, wajah yang sudah lama tak kulihat..." Takaya menyeringai mengerikan.
"Wah, wah...apa kalian mau reuni?" ledek Jin.
"Diam kalian," desis Yukari.
"Well, well...sepertinya kita memang harus berhadapan lagi seperti ini," Akihiko menggelengkan kepalanya santai.
"Kali ini, tiada ampun," Mitsuru mengambil pose bertarung.
"Cih, kelompok pertahanan bodoh," Takaya meludah ke lantai. "Kalian pikir, kalian bisa terus berjaya?"
"Kami tidak akan kalah," sahut Ken.
"Taro, kau mundur saja," perintah Jin, yang tentu saja disetujui Taro yang tidak bisa bertarung sama sekali. Pria berkacamata itu kembali menatap musuh lamanya dengan Takaya dan menyeringai. "Apa kita mulai saja?"
"En garde!" Minato berseru.
Dalam sekejap, ruangan itu telah menjadi medan pertempuran. Takaya menembaki musuhnya dengan revolvernya. Ketujuh orang itu dengan lihai menghindarinya. Jin tersenyum misterius. Ia kemudian melempar sebuah bola ke lantai, dan dalam sekejap kabut menyelimuti ruangan. Mereka semua terbatuk, tak bisa bergerak sama sekali. Taro menyeringai senang, berharap kelompoknya menang. Tapi mereka lupa, bahwa Naoto ada di luar area kabut itu, dan ia bisa melihat gerakan Jin dan Takaya.
"Minato-niisan! Di belakang!" serunya lantang.
Dengan sigap, Minato menyadari serangan dadakan itu. Ia mengibaskan pedangnya, membuat Jin terpaksa melompat mundur menghindari tebasan pedang itu. Ken, merasakan kehadiran seseorang di dekatnya, langsung menusukan tombaknya dan benar saja—Takaya hampir saja menembak kepalanya.
Mitsuru diam di tempat, berdiri punggung-punggungan dengan partner setianya, Akihiko. Mereka berdua menutup mata, merasakan gerakan kawan dan lawan yang ada di dalam kabut. Kemudian, terdengar suara pistol di tembakan. Refleks, sang Presdir menebas udara, dan dalam sekejap peluru yang mengarah kepadanya terbelah dua. Si petinju melompat menyerang ke arah tembakan, dan tinjunya tepat mengenai wajah Jin, meerusakan kacamatanya.
Yukari memutuskan untuk mundur, keluar dari area kabut. Ia kemudian menajamkan matanya, mencoba melihat di mana Takaya dan Jin. Saat itu, ia melihat tato Takaya. Dengan cepat, wanita berambut cokelat itu mengarahkan busurnya dan melepaskan panahnya ke arah si pria bertato, dan tentu saja tepat melukai punggung si penjahat.
Aigis, dengan matanya yang tajam, berhasil mengetahui lokasi Jin dan menembaki pria itu dengan handgun-nya. Tak sempat menghindar, Jin memakai laptopnya untuk menahan peluru Aigis. Walhasil, laptopnya rusak dan dia kehilangan banyak data penting.
Namatame Taro terkesiap. Jin dan Takaya hampir kalah. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat itulah, sebuah pedang menerjang ke arahnya, hampir menusuk Taro tepat di jantungnya. Tapi pria itu beruntung. Ia menghindar tepat pada waktunya. Ia jatuh tersungkur ke lantai, sementara Souji, yang mengayunkan katananya tadi, menghampiri Naoto yang terikat di kursi dan dengan cepat melepaskan talinya.
"Trims, Souji," detektif wanita itu tersenyum seraya menerima revolver yang suaminya kembalikan padanya. Ia mengisinya dengan peluru, setelahnya menghadapi Taro bersama-sama sang jaksa. Wanita itu menyeringai. "Bersiaplah menempuh ajalmu."
"Ya...berterimakasihlah, setidaknya kau tidak harus menderita di penjara atau semacamnya," tambah Souji, mengacungkan senjatanya ke wajah sang mantan sekretaris yang semakin memucat dan bercucuran keringat dingin.
Melihat bahwa atasannya terdesak, Takaya berteriak kesal, "Apa yang kau lakukan, idiot!? Lari!"
Taro, mendengarkan perintah Takaya, mengangguk dan segera bangkit untuk berdiri. Naoto baru saja akan menembakinya ketika Jin melempar bom asap lainnya ke arah suami istri itu, menghalangi pandangan keduanya. Sang buronan baru saja akan keluar dari pintu itu ketika sebuah peluru tertanam di tembok di dekat pintu keluar tersebut. Peluru handgun Aigis.
"Kau pikir kau bisa kabur, hah?" Minato berjalan mendekati Taro. Tatapan pembunuhnya membuat Taro sekali lagi terduduk lemas. Pria berambut biru gelap itu mengangkat pedangnya, ketika...
DOR!
Sebuah peluru menembus bahu kiri Minato, spontan membuatnya terjatuh. Itu peluru Takaya. Rupanya meski lengannya terluka, ia masih bisa menembak. Melihat pemimpin mereka yang terjatuh seperti itu, Ken, Mitsuru dan Akihiko tersulut amarahnya. Mereka menerjang ke arah si pria bertato dan...
(Mohon maaf atas terpotongnya cerita ini. Adegan berikutnya disensor karena melewati batas kekerasan yang boleh diperlihatkan di depan publik. Terima kasih.)
Setelah Takaya babak belur, darah berceceran di sekitarnya sementara ia terbaring tidak berdaya karena hampir seluruh tulang badannya remuk, para anggota S.E.E.S. menghampiri Minato yang mencoba bertahan. Jin shock karena menyaksikan adegan eksekusi Mitsuru yang legendaris, kekuatan superhuman Akihiko yang mengerikan, dan teknik sadistik yang diluar dugaan mampu dilakukan oleh Ken, semuanya campur jadi satu. Taro sudah pingsan di tempat sedari tadi. Aigis dan Yukari memeriksa lengan pemimpin mereka.
"Aku tidak apa-apa, Cuma sedikit nyeri," sahut Minato tegar sementara Aigis membalut lukanya dengan sapu tangannya.
"Syukurlah...tapi kita harus segera membawamu ke rumah sakit. Bisa gawat kalau kau kehilangan darah lebih banyak lagi," jelas Yukari.
"Well, kalau begitu..." Naoto menatap Jin dan Taro yang masih mematung. "Mari kita selesaikan saja sekarang."
Semuanya bersiap dengan senjata masing-masing. Jin, kembali sadar, memikirkan cara agar bisa lolos. Kemudian ia merogoh saku dan menemukan satu-satunya jalan keluar. Ia menyeringai sadistik dan mengeluarkan sebuah bom waktu yang ia simpan, mengaktifkannya. Minato dkk terkejut.
"10 detik lagi...kita akan mati bersama," katanya tenang. "Perlu kalian tahu, bom ini kubuat sangat sempurna...tidak bisa dihancurkan atau di non-aktifkan."
"APA!?" semuanya langsung panik.
"Semuanya tenang! Kita tidak ada pilihan lain selain lari dari tempat ini!" titah Minato, tetap tenang seperti biasa.
"Tapi ini lantai 5, Minato! Kau pikir kita sempat lari dalam waktu sesempit ini?" Akihiko menggerutu.
"Percayalah! Ayo!"
Akhirnya, semuanya ikut lari keluar dari gedung itu. Jin tertawa menghina, menganggap bahwa mereka semua sangat bodoh. Taro, yang tidak tahu bahwa dia akan segera mati bersama kedua anak buahnya itu, dengan damai pingsan di sana.
5 detik lagi...
Minato dkk baru sampai di lantai 3. Mereka tidak akan sempat jika terus berlari dengan kecepatan segitu.
4 detik lagi...
Minato dkk tiba di lantai 2. Namun rambut panjang Mitsuru tersangkut di sebuah kawat. Tak punya waktu untuk memikirkan kecantikannya, sang Presdir memotong rambut yang tersangkut itu dengan pedang anggarnya.
3 detik lagi...
Minato tiba-tiba saja jatuh. Ia tidak kuat lagi berlari. Darahnya sudah merembes ke seluruh lengannya. Akihiko dan Souji terpaksa membopongnya berlari bersama.
2 detik lagi...
Mereka terus berlari. Berlari agar dapat lolos dari bom itu. Naoto hampir terjatuh, tapi Souji cepat menahan tubuhnya agar mereka bisa terus berlari.
1 detik lagi...
Yukari mulai kehabisan napas. Ken, yang menyadari hal itu, segera menarik lengan mantan seniornya itu dan menariknya agar terus berlari. Mereka sudah hampir tiba di pintu keluar dan...
BLAAAAAAAARRRRRRRR!!!!!
Ledakan itu meluas ke seluruh lantai gedung bekas itu. Aigis, Yukari dan Ken yang berada paling belakang sedikit terhempas oleh efek ledakan itu. Souji dan Naoto membantu mereka berdiri, menjauhi gedung tersebut, kalau-kalau ada ledakan susulan. Setelah agak jauh, Mitsuru menelpon polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran agar tiba di lokasi kejadian. Mereka menonton gedung itu terbakar oleh ledakan bom Jin.
"Selesai sudah..." gumam Yukari.
"Ya...urusan kita dengan Strega sudah berakhir..." tambah Aigis.
"Aku agak tidak senang dengan hasil ini. Aku ingin menangkap mereka supaya mereka insaf, seperti Chidori-san," gerutu Ken.
"Bicara soal tidak senang," Souji melirik istrinya, "ada satu orang lagi yang tidak senang."
Naoto mengangkat bahu. "Meski aku sudah menyelesaikan kasus Taro, tapi...aku tidak senang dia mati bersama mereka."
Mitsuru terkikik. "Well...kita harus bersyukur...dan berharap Junpei tidak tahu tentang hal ini."
Mereka semua mengangguk. Kemudian terdengar suara stereo. Akihiko tertawa, wajahnya sedikit memerah. "Well...setelah kemenangan ini...aku lapar! Apa bisa kita makan sekarang?" tanyanya setengah bercanda.
"Ahem," Minato berdeham, membuat semuanya menoleh ke arah pria yang sedang dipapah istrinya itu. "Haloo? Lupa ya ada yang sedang terluka begini?"
Mereka semua menepuk jidat. Akhirnya, dengan menggunakan mobil Mitsuru, mereka pergi ke rumah sakit terdekat untuk merawat Minato yang terluka, sementara Ken dan Naoto segera menyelesaikan kasus ini dan menyembunyikan alasan utama terjadinya ledakan itu.
A/n: edited. semoga lebih bagus ^^
