Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Ide dari shiroganerinkun lagi nih~ Hehehe...brilian banget...tapi kenapa ide dari dia dan ryuamakusa4eva bisa pas banget sama ide ku yah? Apakah kita sehati?? *lebay* Hehehe...chap 11 nanti ada sedikit surprise dariku dan silvermoon arisato...hehehehe...yang penting sekarang, enjoy reading! Oh ya, jangan lupa bawa cemilan kalo baca, soalnya panjang! *sok eksis*
Chapter 11: Cheating
"Akira!"
Akira menoleh dan tersenyum melihat seorang lelaki berambut kebiruan menghampirinya di dekat gerbang sekolah. Lelaki itu menghela napas sebentar karena kecapean sebelum tersenyum.
"Masih ingat aku?" tanya lelaki itu.
Akira mengangguk pasti. "Tentu! Minato-ojisan, 'kan?"
Sweatdropped. "Bukan. Aku Chijiro, pacar Metis," jelas Chijiro, dalam hati mengutuk penampilannya yang benar-benar mirip dengan ayah kekasihnya itu.
"Oh iya...Akira lupa. Habis mirip sama Minato-ojisan sih," bocah itu tertawa tak bersalah. "Hmm...Metis-neechan ke mana? Bukannya Metis-neechan yang disuruh menjemput Akira supaya tinggal di rumahnya siang ini?"
Chijiro mengangkat bahunya. "Entahlah. Katanya dia mau pergi sama teman klubnya. Kamu sendiri kok tumben nggak dijemput ayahmu?"
"Papa sama Mama hari ini ada sidang, jadi mereka tidak bisa menjemput Akira."
"Hoo...repot juga yah."
"Apa kita akan langsung ke rumah Metis-neechan?"
"Huh? Ya iyalah...memang Akira mau ke suatu tempat?"
Akira mengangguk. "Akira mau mampir ke mall buat beli novel Agatha Christie yang baru!" jelasnya. "Akira sudah dikasih uangnya sama Papa, katanya kalau dijemput Metis-neechan biar minta dianterin ke mall untuk beli bukunya. Chijiro-niichan mau anterin Akira ke mall 'kan?"
"Hnn...oke deh."
Maka, keduanya pergi menuju mall di daerah sana. Banyak sekali orang di sana. Akira terpaksa menggenggam tangan Chijiro erat-erat supaya tidak kehilangan pacar kakak sepupunya itu. Setelah membeli buku yang dimaksud dan keluar dari toko buku, mereka berdua istirahat di sebuah kedai fast food untuk sekedar minum soda dan makan sepiring takoyaki.
Chijiro memandangi kantong plastik itu berisi buku novel detektif yang terdiri dari 200 halaman lebih. Dan dari deskripsi buku itu, ia yakin buku itu memakai bahasa Inggris. "Kamu bisa baca buku berat begitu?" tanyanya.
"Bisa. Akira kan sudah diajarin Bahasa Inggris," sahut Akira simpel, menyeruput jus jeruknya. "Lagipula di rumah 'kan ada kamus...jadi kalau ada kosakata yang Akira tidak mengerti bisa Akira cari artinya."
Pemuda berambut kebiruan itu menggeleng-geleng heran. Dia sudah dengar dari Metis kalau adik sepupunya itu pintar sekali, meski dia masih sangat polos dan naif. Tapi dia tak menyangka dia bisa baca buku seberat itu, lagipula ceritanya juga sulit. Akira tidak tahu bahwa Chijiro merasa takjub dan terus menghabiskan minumannya sambil melihat sekeliling. Kemudian matanya tertuju pada seseorang yang sedang berjalan-jalan di sekitar toko aksesoris.
"Chijiro-niichan..."
"Hm? Kamu mau tambah lagi?"
Bocah itu menggeleng. Dia menunjuk ke arah orang yang sedaritadi ia perhatikan. "Itu Metis-neechan bukan?"
Chijiro menoleh. Dan benar saja. Metis ada di sana. Dan dia tidak sendiri—setidaknya tidak bersama teman satu klubnya—melainkan bersama seorang cowok berambut cokelat tua dan berkulit pucat yang terlihat lebih tua darinya. Ia mengenalinya sebagai mantan pacar Metis ketika gadis itu masih SMP, meski ia lupa namanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Chijiro beranjak meninggalkan kedai itu dan berlari menuju kekasinya. Akira yang bingung segera mengikutinya, tak lupa membawa serta buku yang baru saja dia beli. Mereka berdua menghampiri Metis, yang tampaknya sama sekali tidak menyadari kehadiran kedua lelaki itu dan malah asyik memilih jam tangan untuk cowok bersama si mantan.
"Metis!"
Ketika namanya dipanggil, barulah ia sadar kalau Chijiro dan Akira ada di sana. Gadis itu terkejut dan terlihat panik. "Uh...Chijiro? Akira? Kupikir kalian ada di rumahku?" tanyanya basa-basi.
"Akira mau beli novel baru, jadi Akira minta Chijiro-niichan untuk mengantarkan Akira ke sini!" jelas Akira sederhana.
Chijiro tidak mementingkan hal itu. Ia menghampiri si mantan dan meraih kerah pakaiannya, membuat Metis tersentak kaget. "Chijiro! Lepaskan dia! Apa-apaan kamu?" perintah gadis itu tegas, merasa yakin bahwa seperti biasa cowoknya itu akan melepaskan si mantan.
Tapi pemuda itu tidak memperdulikan perintah pacarnya. "Kau...!" ia melotot marah ke arah pemuda yang lebih tua itu. "Kau...beraninya kau mengajak Metis kencan! Apa dia tidak bilang kalau dia sudah pacaran denganku?!"
"Aku tahu kok," sahut si mantan tenang. "Tapi aku di sini karena Metis yang memintaku menemaninya belanja."
Chijiro melepaskan kerah pemuda itu. Ia berbalik dan mendelik marah ke arah Metis yang mulai gemetaran, panik. "Oh begitu? Jadi ternyata kamu selingkuh? Atau kamu sudah bosan denganku jadi kamu mau balik sama dia?"
"Bukan! Kamu salah sangka!" balas Metis sama kuatnya. "Aku di sini karena...karena..."
"Jangan cari alasan!" Chijiro membentaknya. "...Baik kalau begitu. Terserah kamu, Metis. Ter-se-rah!"
Pemuda itu membalik badannya dan berjalan keluar dari toko aksesoris itu dengan marah. Metis berusaha mengejarnya, tapi seperti yang sudah dikatakan, hari ini mall itu dipenuhi pengunjung dan ia kehilangan jejak Chijiro. Akira dan si mantan mengikuti gadis itu, yang kini tengah berdiri pasrah karena kesalahpahaman ini.
"Metis...maaf, karena aku dia jadi salah paham..." pemuda pucat itu menatap mantan ceweknya dengan sedih.
"Nggak...ini bukan salah kamu, Yuji..." Metis menggeleng pelan. "Salahku karena tidak jujur bilang aku pergi sama kamu...kalau aku menjelaskan dari awal dia pasti tidak akan salah paham begini..."
"Um...anu..." Akira angkat suara, membuat kedua remaja itu menoleh ke arahnya. "Kakak ini siapa?"
Pemuda itu tersenyum usil. "Halo. Kamu pasti adik sepupunya Metis ya? Kenalkan, namaku Mochizuki Yuji. Aku ini sepupunya Metis juga, soalnya ayahku itu sepupunya Minato-ojisan. Salam kenal," katanya sambil mengelus rambut anak itu.
"Um...salam kenal juga. Aku Seta Akira," balas bocah itu, meski sedikit kesal rambutnya diacak-acak begitu. "Um...jadi...niichan sepupunya Metis-neechan juga seperti Akira, tapi niichan pernah pacaran juga sama Metis-neechan?"
"Hehe. Yah begitulah. Kami pernah pacaran waktu SMP dulu, tapi begitu tahu kalau sebenarnya kami ini satu keluarga, kami langsung putus," jelas Yuji. "Metis hebat juga. Begitu putus denganku langsung menggaet cowok baru seperti Chijiro."
"Dia sudah sangat baik padaku sejak kami kecil," sahut Metis. Ia mengeluarkan jam tangan yang sedari tadi di peganya sambil tertawa miris. "Padahal...padahal aku sudah menabung uang selama 2 bulan, supaya aku bisa membelikan hadiah yang bagus untuk ulang tahunnya besok. Tapi dia malah memutuskanku. Haha...dia pasti akan menyesal."
Yuji menepuk bahu gadis itu, simpatik. Metis tetap tertawa kecil, berusaha menahan tangis. Akira terdiam, memikirkan sesuatu, sampai akhirnya ia menggandeng tangan kakak sepupu kesayangannya itu dan menariknya supaya bisa mengikutinya. Kedua remaja itu bingung.
"A-Akira-chan? Mau kemana?"
"Ke rumah Chijiro-niichan, supaya bisa menjelaskan duduk perkaranya!"
"Ta-tapi...dia pasti tidak mau bertemu denganku!"
"Kita coba saja!"
Akhirnya setelah beribu bujukan dan juga di tambah puppy eyes yang sangat cemerlang dan ampuh dari Akira, Metis setuju untuk mendatangi rumah Chijiro. Yuji ikut bersama mereka supaya bisa membantu menjelaskan masalah sesungguhnya. Sedikit ragu, gadis itu memencet bel pintu kediaman Iori tersebut. Setelah menunggu sejenak, terdengar suara lembut menyambut mereka lewat intercom.
"Ya? Siapa?"
Metis mengenali suara itu. "Ini aku, Metis. Fuuka-obasan, apa Chijiro ada di rumah?"
"Oh Metis...iya tentu saja. Sebentar ya...Chijiro-kun...ada Metis..."
Hening lama. Ketiga orang itu menunggu dengan sabar dan cemas di depan pintu. Metis menggigiti kuku jarinya, kebiasaan setiap kali ia bosan menunggu. Akira mulai merasa pegal berdiri di sana. Yuji menguap ngantuk, lelah menanti. Sampai akhirnya suara Fuuka menyapa mereka lewat intercom sekali lagi.
"Maaf, Metis...Chijiro bilang dia tidak mau turun. Tapi kalau ada pesan akan kusampaikan padanya."
Metis menghela napas kecewa. "Uhm...tidak apa. Aku...Cuma mau minta maaf. Itu saja. Maaf mengganggu, Obasan, kami permisi dulu."
"Hmm...baiklah. Hati-hati ya..."
Akhirnya ketiga bersaudara sepupu itu pergi meninggalkan kediaman Iori. Mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman Arisato saja, selain karena sebentar lagi Souji dan Naoto akan menjemput putra mereka, ketiganya masih ingin membicarakan masalah ini di tempat yang lebih nyaman. Namun, tinggal beberapa langkah lagi mereka tiba di rumah itu, Metis tiba-tiba terjatuh. Yuji dan Akira spontan kaget dan panik.
"Metis! Metis, kau kenapa?" Yuji mengangkat Metis ke pangkuannya. Ketika ia menyentuh dahi gadis itu, barulah ia sadar bahwa gadis itu demam. "Astaga, Metis! Badanmu panas sekali! Kamu demam!"
"Ungh...sepertinya ini efek samping belajar sampai malam dan kerja sambilan sembunyi-sembunyi...hehehe..." Metis malah bercanda.
"Jangang tertawa begitu! Akira, tolong bawakan tasnya Metis. Aku akan menggendong dia."
"Oke!" sahut Akira mantap, mengambil tas kakak sepupunya itu dan berjalan mengekor di belakang sementara Yuji menggendong Metis di punggungnya.
Kediaman Arisato.
Tampak Aigis dan Minato duduk di tepi ranjang sementara putri mereka terbaring di atasnya. Metis sudah di bawa kembali ke rumah oleh Yuji dan Akira. Sepasang suami istri itu tampak terkejut melihat malaikat mereka nyaris pingsan dan segera menidurkannya di kamarnya. Setelah diberi obat dan di kompres, suhu tubuhnya sudah menurun. Sekarang mereka sedang berkumpul di kamar itu, memperhatikan gadis itu terbaring lemah.
"Kenapa sampai begini?" Minato mengeluh.
"Aku tidak tahu pasti, tapi...Metis bilang dia kerja sambilan. Apa kalian tahu sesuatu?" tanya Yuji.
Aigis menggeleng. "Dia tidak bilang apa-apa...tapi akhir-akhir ini dia memang sering pulang malam dengan alasan 'urusan klub'."
"Hmm..."
TING TONG.
Semuanya menoleh ke arah pintu. Mereka turun ke lantai satu untuk melihat siapa yang datang. Aigis membukakan pintu, dan tampak Souji dan Naoto berdiri di sana. Akira kegirangan dan langsung memeluk orang tuanya. "Mama! Papa!"
"Maaf lama menunggu," Souji tersenyum. Ia melihat kakak iparnya itu bersama istri dan keponakannya. "Maaf sudah merepotkan kalian. Oh ya, Metis mana?" tanyanya karena ia tak melihat keponakan perempuannya itu.
"Metis sedang tidur di atas. Dia demam mendadak," jelas Minato.
"Eh, demam? Bukan karena mengurus Akira, 'kan?" Naoto terlihat cemas.
Aigis tersenyum dan menggeleng. "Dia hanya kelelahan. Sepertinya banyak hal yang dia lakukan sampai larut malam yang kami tidak ketahui," wanita itu menunduk sedih.
"Hmm...kalau begitu, boleh kami akan menjenguknya sebentar?"
"Tentu saja. Silahkan."
Mereka naik ke lantai atas tempat kamar Metis berada sekali lagi. Aigis membukakan pintunya, mempersilahkan mereka masuk. Namun Souji dan Naoto hanya terdiam di sana. Heran, Minato dan Yuji melongok ke dalam kamar itu bersama-sama, dan mereka juga ikut terkejut. Kenapa? Karena Metis sudah tidak ada di kamarnya.
"METIS!?"
Kediaman Iori.
Chijiro tengah berbaring di atas ranjangnya, membolak-balik halaman majalah olahraga yang sudah kesekian kalinya ia baca. Ia akhirnya melemparkan majalah itu ke atas meja laci di samping kasurnya dan menyetel lagu lewat iPod-nya. Baru beberapa detik ia mendengarkan lagu itu, ia sudah mematikannya lagi. Hari ini, semenjak kejadian tadi sore, apapun yang dilakukannya membuatnya kesal dan tidak mood sama sekali.
Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya yang diterangi cahaya lampu neon. Ia masih kesal. Ia masih cemburu. Cemburu kepada Yuji. Cemburu melihat Metis tertawa senang ketika bersamanya. Memang ia juga sering melihatnya tertawa, tapi ada yang lain saat itu...sesuatu yang membuatnya iri, dan spontan menyulut amarahnya, membuatnya tanpa pikir panjang memutuskan hubungan denagnnya.
"Ck," Chijiro berguling menghadap dinding kamarnya. Ia melihat kalendar yang tergantung di sana. Ada satu tanggal yang dilingkari dengan spidol merah. Ya, hari itu spesial, karena hari itu adalah hari jadi mereka berdua.
Pemuda itu bangkit duduk di kasurnya dan membuka laci teratas meja kecil di dekatnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tebungkus rapi dengan kertas kado pink dan pita merah. Seharusnya itu menjadi hadiah untuk Metis besok, saat mereka bertemu untuk merayakan hari spesial itu. Sekarang benda itu sudah tidak berguna.
TOK TOK TOK.
Chijiro tersentak kaget. Suara ketukan tadi bukan berasal dari pintu kamarnya, melainkan dari jendela kamarnya yang tertutup tirai panjang. Ia meletakkan kado itu di atas ranjangnya, penasaran siapa yang berani memanjat sampai beranda kamarnya untuk bertandang secara rahasia malam-malam begini. Dengan sedikit was-was, ia menyingkap gorden itu dan terkejut ketika melihat Metis, terduduk sambil sedikit terengah-engah, mendekap sebuah kotak kecil.
"Me-Metis!?" Chijiro berlutut di hadapannya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini sudah malam dan—"
Ia tidak melanjukan kata-katanya begitu Metis jatuh ke dalam pelukannya. Chijiro mematung seketika. Dia tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti itu. Sayup-sayup, ia bisa mendengar bisikan pelan gadis itu.
"Chi...ji...ro...maafkan...aku..."
Chijiro lumer seketika. Semua kecemburuan, amarah, dan kebencian yang sedaritadi ia rasakan hilang. Yang ada sekarang hanya perasaan bersalah dan rasa cinta pada gadis itu yang kembali tumbuh di hatinya. Ia memeluk gadis itu erat-erat.
"Tidak...maafkan aku, Metis. Aku...aku terlalu cemburu melihatmu jalan dengan Yuji, makanya aku tidak berpikir panjang dan langsung mengatakan hal itu..." ia balas berbisik.
Metis tersenyum. Ia balas memeluknya. "Ya...aku...maafkan."
Ia mendorong dirinya lepas dari pelukan itu dan menyodorkan kotak yang ia bawa. "Ini...hadiah untuk...hari jadi kita...besok..." jelasnya. "Aku...membelinya...bersama Yuji, karena...aku tidak tahu....harus...menghadiahimu apa..."
"Kau tidak harus membelikanku barang apapun, Metis. Karena bersamamu itu lebih dari cukup untukku," sahut Chijiro dengan senyumnya yang biasa. Ia mengecup pelan dahi kekasihnya itu. Saat itulah ia sadar bahwa gadis itu sedang demam. "Astaga! Metis, badanmu panas sekali!"
"METIS!"
Chijiro melongok ke jalan di bawah sana. Ia bisa melihat Minato dan yang lainnya mendatangi rumahnya. Pemuda itu melambaikan tangannya, mencoba menarik perhatian mereka. "Sensei! Semuanya!" ia memanggil mereka. "Di sini!"
Aigis yang pertama mendengar panggilan itu spontan mendongak ke atas dan menemukan pemuda yang mirip dengan suaminya itu melambaikan tangannya ke arah mereka. Dalam pelukannya adalah putrinya yang nyaris pingsan. "Metis!" serunya spontan.
"Dasar anak bodoh! Masa' kamu nekat lompat turun melalu jendela kamarmu sendiri demi pergi ke rumah ini untuk minta maaf?!"
Omelan itu yang menyapa Metis pertama kali ketika kondisinya membaik malam itu. Gadis itu sudah kembali berbaring di ranjangnya sendiri setelah Chijiro menggendongnya kembali ke kediaman Arisato. Kini ia bukan hanya dikelilingi orang tua dan kedua sepupunya, tapi juga paman dan bibi serta kekasihnya yang sudah rujuk.
"Maaf, Ayah..." hanya itu ucapannya saat itu untuk membela dirinya sendiri.
"Dasar...kalau kamu sampai demam lebih parah dari ini 'kan bisa gawat!" Aigis ikut menceramahi.
"Sudahlah, Ojisan, Obasan...biar Metis istirahat dulu saja," Yuji tersenyum. "Bagaimana kalau kita mengantar Akira-chan dan orang tuanya pulang? Sudah malam, lho."
"Oh iya...benar juga," Souji tersenyum menghadap keponakan perempuannya yang sedang terbaring lemah itu. "Kami pamit dulu. Maaf sudah merepotkanmu, Metis, Chijiro..."
"Nggak apa, 'kok, Ojisan. Akira-chan, kapan-kapan main ke sini lagi ya..." Metis tersenyum lucu.
"Iya. Metis-neechan istirahat ya!" Akira tertawa riang.
Mereka semua meninggalkan Metis dan Chijiro di kamar itu. Mereka berdua tinggal dalam keheningan, sampai akhirnya pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kado untuk pacarnya, yang nyaris ia buang karena ia pikir sudah tidak berguna. Gadis itu hanya mengernyit heran, bertanya-tanya.
"Hadiah...untuk besok," jelas Chijiro simpel.
Metis tersenyum. Ia membuka kado itu perlahan dan melihat isinya. "Ini...kalung!" ia terkesima menatap seuntai kalung bertalikan perka dan berliontinkan batu rubi kecil itu. "Indah sekali...bisa kau pasangkan?"
Chijiro mengangguk. Ia membantu Metis duduk dan memasangkan kalung itu pada lehernya. Gadis itu tersenyum senang. Ia kembali memeluk kekasihnya itu, dan pemuda itu balas memeluknya. Mereka tidak akan berpisah lagi...tidak akan.
Sementara, di teras kediaman Arisato...
"Sekali lagi, terima kasih sudah menjaga Akira," Naoto tersenyum.
"Tidak apa. Malah sepertinya Akira-chan ikut repot menjaga Metis," sahut Aigis jenaka.
"Tapi...sidang kalian lama sekali, sampai malam begini..." Minato, yang memang agak curiga dengan keterlambatan pasangan itu dalam menjemput anaknya, bertanya sambil memandangi suami istri itu dengan tatapan curiga.
Dalam hal ini, mereka memiliki reaksi masing-masing. Souji salah tingkah. Pipi Naoto memerah. Akira heran menatap ayah ibunya. Aigis ikut bingung dengan pertanyaan suaminya. Yuji, yang pikirannya memang agak mesum, langsung menduga ke arah 'sana'. Mereka terdiam, menanti jawaban sejoli itu.
"Hmm...memang Papa Mama ke mana sih?" tanya Akira, ikut penasaran.
"Err..." sang jaksa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Kami...pergi ke ginekolog."
"Eh!?" adalah reaksi Minato, Aigis, dan Yuji ketika mendengarnya.
"Apa itu ginekolog?" bocah berambut biru tua itu bertanya lagi.
"Ginekolog itu...dokter ahli dalam ilmuyang berkenaan dengan fungsi alat tubuh dan penyakit khusus wanita..." Naoto menjelaskan dengan ekspresi dan intonasi suara datar.
"Lalu...bagaimana?" ketiga orang tadi bertanya serempak, penasaran.
Wajah suami istri berubah semerah apel, tidak yakin harus menjawab bagaimana. "Err...positif...?" sahut Souji akhirnya.
Mendengar hal itu, Aigis tersenyum senang dan tanpa sadar memeluk Naoto, memberinya selamat. Minato menepuk jidatnya, entah turut senang atau apa, tapi yang jelas dia menggumamkan sesuatu yang mirip seperti "astaga...". Yuji terkekeh geli melihat ekspresi Souji yang masih salah tingkah dan Akira yang bingung tentang apa yang terjadi.
"Akira nggak ngerti?" tanya pemuda berkulit pucat itu.
"Nggak. Memang kenapa Mama sama Papa pergi ke ginekolog? Terus apanya yang positif? Apa Mama positif sakit?" tanya bocah kecil itu bertubi-tubi.
"Nggak kok. Mama Akira sehat. Terus, nanti Akira akan punya adik."
"...Hah?"
Souji menghela napas dan berlutut di samping putranya agar tinggi mereka sejajar. "Mama sedang hamil, Akira."
Hening sejenak, sebelum akhirnya bola mata Akira membesar sangking kegirangan bertanya girang, "Sungguh?!"
Papa Mama-nya hanya mengangguk. Akira langsung memeluk Naoto, memberinya selamat seperti Aigis. Yuji tertawa melihat respon bocah itu, sementara Aigis terharu melihatnya. Souji mengelus rambut putranya itu dengan jenaka.
"Yaaay!! Akira akan punya adik!! Eh, nanti adik Akira perempuan apa laki-laki?"
"Belum tahu sayang...tapi, meskipun itu laki-laki atau perempuan, Akira tetap sayang 'kan?"
"Hehe! Iya dong!! Nanti Akira ajak main, terus juga nanti Akira ajarin macam-macam!"
"Ahahaha...anak pintar..."
"Hehehe...Akira-chan senang ya..."
"Hahaha. Namanya juga anak-anak..."
"..."
A/n: Mwahahahahahahahahahahaha!!! *maniacal laughter* YUJI ITU ANAKNYA RYOJI SAMA YUKARI, LOL! Mwahahahahahaha *ditabok karena ketawa gaje terus* Hehehe...udah pada nggak penasaran kan, Yukari itu janda apa bukan? Yeah, dia janda. Lho kok gitu? Iya, jadi setelah punya anak Yuji, Yukari sama Ryoji cerai soalnya Ryoji kan playboy, LOL. Sebenarnya pengin ku jadiin perawan tua, tapi... *dipanah Yukari* Akira punya adik! LOL! Ntar jadi temen anaknya Ken sama Nanako tuh, LOL (betewe, feny-san...Kenko itu bukannya nama cewek? LOL) Hahaha...next idea is from ryuamakusa4eva. Setelah itu idenya abis... T_T aduh, onegai minna-san...kasih aku ide dong...rikues gitu...please? OwO *ditendang karena maksa banget*
