Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Ehmm...ide dari ryuamakusa4eva nih~ Ternyata lumayan ancur juga kubikin. Makasih banget buat baka niichan karena udah download Aoi-Yori-Yoshi trus kuintip deh ceritanya LOL *dihajar karena ngaco* Ahem jadi inspirasinya dari situ...uhmmm...yah udah lah. Enjoy XD
Chapter 12: Treatment
"HATSYIIIIII!"
Akira dan Naoto menoleh ke arah Souji, yang baru saja bersin tadi. Jaksa itu telah berpakaian lengkap seperti setiap ia akan pergi bekerja. Hanya saja, ekspresi wajahnya yang agak pucat dan sedikit peluh keringat yang bertengger di dahinya itu membuatnya terlihat...sakit.
"Souji...kau tidak apa-apa?" tanya sang istri.
"Yah...aku baik-baik sa—HATSYIIIII!!" Souji nyaris menumpahkan kopi panasnya ke kemejanya karena bersin keras sekali.
"Sepertinya itu bukan 'baik-baik saja', deh, Pa," ledek Akira sementara ia sendiri mengambil sarapannya dari meja makan dan menyingkir dari sana, berusaha menjauhi penyebaran virus.
Naoto menghampiri suaminya itu dan memeriksa panas badannya. "Badanmu hangat...kayaknya Cuma flu biasa. Tapi kamu tidak boleh berangkat kerja, nanti kasihan orang-orang disekitarmu ketularan juga," ujarnya.
"Tapi...Akira bagaimana?" sang jaksa melirik putra mereka yang kini sedang memandangi ayahnya itu dari jauh sambil menikmati roti bakarnya.
"Aku akan telpon Metis untuk mengantarkannya ke sekolah, sekalian minta tolong untuk menjaganya di rumah Onisan...supaya Akira tidak ketularan flu. Kamu istirahat saja di rumah, nanti akan kuberitahu kantormu kalau kamu sakit."
Tiba-tiba, Akira mendapatkan firasat buruk. "Er...Mama tidak bermaksud untuk...merawat Papa di rumah...'kan?" tanyanya ragu-ragu.
"Hm? Tentu saja Mama yang akan merawat Papa, 'kan?" sahut detektif wanita itu spontan, membuat kedua lelaki di keluarganya itu berjengit ngeri. Ia mengernyit heran, bertanya, "Kenapa?"
"Err...itu..." bocah berambut biru tua itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Err...oh ya! Mama 'kan sedang hamil! Kalau Mama merawat Papa, terus Mama ikut sakit juga, kasihan adik bayinya!"
"Tidak apa. Kalau Cuma flu saja sih Mama tidak akan kenapa-kenapa. Nah, ayo siap-siap berangkat ke sekolah. Mama mau telpon Metis dulu," titah sang ibu sambil berjalan ke arah meja telpon dan mulai memencet tombol telepon.
Akira menghampiri Papanya yang terlihat shock dan gemetaran ketakutan. Ia menepuk lengan Souji, meminta perhatiannya. Bocah itu menatap iba ayahnya sambil berkata, "Papa...maaf Akira tidak bisa membantu. Papa bertahan ya..."
Souji tidak tahu harus menjawab apa.
Sejak pagi itu, Naoto memaksanya berbaring di ranjang, sementara wanita itu tampak sibuk membersihkan rumah dan juga memasak sesuatu—mungkin bubur—untuknya. Meskipun ia berusaha untuk istirahat, tetap saja tidak bisa. Pasalnya, ia mengkhawatirkan situasi rumahnya itu kalau istrinya 'beraksi'. Well, bukannya tidak percaya pada kemampuan istrinya, namun faktanya, tiap kali wanita itu mencoba memasak sesuatu...
BLEDARRR!!!
Souji spontan kaget dan beranjak dari kamarnya meskipun kepalanya semakin nyut-nyutan karena mendengar suara ledakan tadi. Ia berjalan ke arah dapur, tempat suara tak wajar tadi berasal. Di sana, ia bisa melihat microwave terbuka dengan sedikit warna gosong dan wajah serta pakaian istrinya itu menghitam terkena arang.
"Naoto!" serunya cemas, menghampirinya. "Naoto...kamu tidak apa-apa?"
Naoto menoleh kaget. Ekspresinya sedikit shock. "Er...ya, tidak apa-apa."
"A-apa yang kamu lakukan sih?"
"Aku mencoba membuat telur dadar...tapi kok malah meledak, ya?"
Souji mengernyit heran. "...Telur dadar...pakai microwave?" tanyanya. Wanita itu mengangguk. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Naoto...kamu pernah belajar pengetahuan umum kalau telur akan meledak kalau dimasukkan ke dalam microwave?"
"Nggak."
Ia menepuk jidatnya lagi. Beginilah jadinya kalau membiarkan Naoto berada di dapur. Wanita itu memang terkenal jenius dalam berbagai hal...kecuali memasak. Mungkin itu dikarenakan dia jarang memegang peralatan memasak, karena sejak kecil, Minato yang mengerjakan tugas memasak, dan setelah menikah pun Souji yang lebih sering memasak makanan. Walaupun ia cukup jago membuat hidangan penutup, dalam hal memasak hidangan utama dan sebagainya, dia bisa disejajarkan dengan Chie, Rise, dan Yukiko.
"Ah, tapi...buburnya sudah jadi. Kamu makan, ya? Biar bisa minum obat dan langsung tidur..." pinta Naoto.
"...Buburnya kamu tambah sesuatu...?" tebak Souji dengan wajah memelas. Firasatnya benar-benar jelek.
"Ya. Aku tambah parasetamol dan klorfeniramin maleat...oh ya, juga pseudoefedrin HCI, kofein, dan dextromethorpan HBr, supaya kamu tidak pusing dan bersinnya cepat berhenti."
"...Naoto...jangan bilang kamu tidak tahu kalau bubur itu tidak boleh di tambah zat-zat untuk obat flu...?"
"Huh? Tidak boleh ya?"
Souji serasa ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Istrinya itu memang pintar meracik obat, ia akui itu. Namun dia sama sekali tidak pandai meracik masakan, bahkan tidak mengerti apa yang harus ia tambahkan ke dalam masakan dan apa yang tidak boleh. Naoto, melihat ekspresi di wajah suaminya itu, langsung mengerti apa yang dipikirkannya.
"Uhm...Souji, maaf..." ucapnya pelan, membuat lelaki itu menoleh. "Aku...salah memasaknya ya?"
Iya, sih. Tapi aku tidak mungkin bilang begitu, kata Souji dalam hatinya. Dia memutuskan untuk diam dan menggeleng sedikit. "Tidak juga..."
Tapi itu sama sekali tidak membuat wanita itu terhibur, malah tambah depresi karena ia menangkap ketidakpastian dalam suaranya. "Maaf ya. Padahal aku ini perempuan tapi sama sekali tidak tahu menahu soal masak dan pekerjaan rumah tangga," lanjutnya lagi dengan suara bersalah.
"Nggak kok. Chie, Yukiko, dan Rise juga tidak pintar-pintar amat dalam hal seperti ini," pria berambut abu-abu itu tersenyum. "Lagipula...kamu 'kan pintar. Asal kamu mau belajar, pasti bisa kok."
"Sungguh?"
"Tentu. Mau kuajari?"
Naoto mengangguk. "Ah tapi...nanti kamu malah tambah pusing..." ia teringat kalau suaminya itu sedang sakit.
"Tidak apa. Kalau aku duduk saja tidak terlalu pusing kok..." sahut Souji sambil duduk di kursi meja makan dan memutarnya agar bisa menghadap ke arah dapur tempat istrinya akan memasak. "Nah, siap?"
"Ya."
3 jam kemudian...
Setelah proses 'belajar mengajar' yang begitu lama dan melelahkan, serta menghabiskan hampir seluruh stok makanan di kulkas dan membuat dapur rumah yang biasanya bersih dan terawat lebih mirip medan perang dengan banyaknya percikan adonan dan sisa-sisa makanan gagal. Sementara, si pelaku yang membuat kekacauan ini masih sibuk mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci, dan hanya tersisa satu saksi mata yang tetap setia duduk di salah satu kursi, menanti.
"Ah...selesai!" si pelaku yang tak lain dan tak bukan adalah Naoto tersenyum riang. Akhirnya ia berhasil membuat bubur yang normal dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya semacam phenylpropanolamine HCI atau apalah itu namanya. Ia sudah mencicipinya, dan setidaknya itu bisa dikonsumsi manusia. "Souji! Buburnya sudah ja—astaga!"
Ia terkejut ketika melihat suaminya itu tersandar lemah di kursinya dengan keringat bercucuran dan napas sedikit terengah-engah. Spontan ia menghampiri Souji dan memeriksa keadaanya. "Souji! Kamu demam!" tukasnya panik. "A-ayo ke kamar! Kamu harus berbaring!"
"Ngg..." pria itu mengangguk pelan. Ia mencoba berdiri dari kursinya dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan jika saja Naoto tidak menyanggahnya.
Detektif wanita itu mengantarkan pria itu ke kamar mereka dan membaringkannya ke atas kasur. Naoto melap peluhnya sendiri. Namun ia segera ingat tentang kondisi Souji dan baru saja akan berlari keluar untuk mengambilkan kompresan ketika sebuah tangan lembut menahannya. Ia menoleh dan menemukan pria itu setengah sadar.
"Jangan lari-lari," pesannya. Rupanya ia mengkhawatirkan kondisi kandungan wanita itu.
Ada rona merah di pipi Naoto ketika mendengarnya. Ia mengangguk pelan dan berjalan keluar kamar dengan langkah cepat. Tak lama, dia sudah kembali membawa baskom penuh berisi air dan sepotong kain basah. Ia meletakannya di meja laci di dekat ranjang itu dan mulai mengompres Souji.
"Setelah ini makan buburnya sedikit ya, biar bisa minum obat," pinta Naoto.
"Ng...maaf merepotkan..." Souji tersenyum lemah.
Tapi wanita berambut biru itu menggeleng. "Tidak...justru aku yang banyak merepotkanmu. Setiap hari kamu yang memasak sarapan dan mengurus Akira kalau aku sedang pergi bertugas..."
Pria itu tertawa kecil. Ia mengelus rambut halus istrinya itu pelan, menghargai segala kerja kerasnya untuk mengurus dirinya hari ini. "Terima kasih..."
Naoto tersenyum dan balas menyentuh tangan itu lembut. "Sama-sama."
Setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur dan minum obat penurun panas, keadaan Souji belum membaik juga. Naoto kewalahan mengelap keringat di badannya dan sibuk mengganti air yang sudah menghangat. Ia jadi repot mondar-mandir keluar kamar, juga ia harus membenahi rumah—terutama dapur yang dibuat acak adut karena pekerjaannya tadi—siang itu. Walaupun suaminya itu sudah mewanti-wanti agar ia tidak lari-lari dan terlalu lelah, ia tetap bersikeras untuk melakukan pekerjaan rumah.
Akhirnya ketika jarum jam menunjukkan pukul 1 siang, semua pekerjaan selesai. Ia kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Souji. Panasnya sudah turun, tapi masih belum bisa dikategorikan 'sehat'. Ia mengompresnya lagi dan berhenti untuk memandangi wajahnya saat tertidur pulas.
Kalau dipikir-pikir, ia jarang sekali melihat ekspresinya ketika tertidur. Biasanya, ketika ia pulang larut malam karena tugas, Souji masih bangun dan malah menyuruhnya tidur duluan. Ia juga selalu bangun pagi-pagi sekali sebelum Naoto maupun Akira bangun untuk menyiapkan sarapan. Kesempatan seperti ini jarang sekali. Makanya, ia memutuskan untuk berhenti dan mengamati raut wajahnya itu. Tapi, mungkin karena kelelahan, akhirnya wanita itu tertidur dengan kepala terkulai di atas kasur.
Dua jam kemudian, pemilik sepasang mata berwarna keabuan itu terbuka. Ia menyentuh dahinya. Kompresannya sudah kering, dan panas tubuhnya sudah kembali normal. Ia kemudian menoleh ke samping dan tersenyum ketika menemukan istrinya itu terlelap dengan kedua lengan menopang kepalanya. Wanita itu pasti kelelahan karena tidak biasanya mengerjakan tugas rumah yang lumayan banyak.
Souji bangkit ke posisi duduk dan memperhatikan ekspresi tidur yang penuh kedamaian itu. Ia membelai lembut rambut Naoto, tersenyum sambil memikirkan, kau sudah bekerja keras...
Sentuhan itu membangunkan sang detektif wanita. Ia mengucek matanya yang berair dan sadar kalau suaminya itu sudah bangun. "Souji...? Kau sudah bisa bangun? Panasmu bagaimana?" tanyanya dengan suara setengah mengantuk.
"Ya, sepertinya begitu. Kau pasti lelah. Tidur saja lagi," pinta sang jaksa.
"Tidak...aku tidak apa. Lagipula sebentar lagi Akira pulang. Lebih baik aku beres-beres lagi. Oh ya...kamu mau makan lagi? Aku bisa panaskan buburnya..."
Souji menggeleng. "Tidak. Tapi aku mau yang lain."
Naoto menaikkan sebelah alisnya. Pria itu memberikan isyarat agar ia mendekat, dan ia bergerak mendekat dengan patuh. Souji meraih wajahnya dan menariknya agar lebih mendekat. Ketika wajah mereka sangat dekat dan mereka bisa saling merasakan hangatnya napas masing-masing...
TING TONG.
Wanita itu spontan menarik dirinya menjauh dari suaminya. Wajahnya memerah dengan kecepatan luar biasa dan karena salah tingkah, ia langsung kabur keluar dari kamar itu untuk membukakan pintu. Souji menghela napas, sedikit kecewa karena mereka tidak jadi berciuman. Tapi toh ia ikut berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.
"Mama! Akira pulang!" putra mereka akhirnya pulang dari sekolahnya. Ia memeluk ibunya sebentar sebelum menoleh mencari-cari sosok ayahnya. "Uhm...Papa mana?"
"Di sini..." Souji melambaikan tangannya sedikit.
Akira melongo heran. "Papa...? Sudah sembuh?"
"Iya. Berkat Mama-mu juga."
"Eh?"
Naoto menggeleng depresi. "Kamu pasti berpikir Mama akan meracuni Papa dengan masakan Mama, ya?" tanyanya setengah bercanda setengah serius.
Akira Cuma bisa tertawa gugup dan mengangguk mengiyakan. "Err...iya."
"Ahahahahaha!"
"Souji....jangan tertawa!"
"Uhm...?"
A/n: ...dasar ga bisa bikin closing yang bagus! *jitak diri sendiri* Eh Naoto ga bisa masak ya? Lho, tapi kemarin kok dia masak --a *ketauan begonya* Fufufu...ya sudah. Yang mau liat Yukari ma Ryoji plus anak2 Investigation Team lainnya, tunggu chapter depan ya! XD
