Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: MAAF UPDATE-NYA TELAT DX Padahal rencananya kemarin mau update, tapi entah kenapa malah error...hiks...Ahem. Well, chapter kali ini ide dari Black-Cat-Yoruichi. Lalu atas permintaan (baca: ancaman =_=|||) Silvermoon Arisato *dihajar Feny-san*, Mitsuru...Mitsuru aku kawinkan...MITSURU AKU KAWINKAN DENGAN AKIHIKO! *ditusuk karena berisik* T^T maafkan aku, tasya-san... *sujud ampun* Ahem...well, enjoy...
Chapter 13: Sea Trip
"Whoa...besaaaaarrr!!!"
Ketiga anggota keluarga Seta itu kini tengah berdiri di depan tangga yang menuju ke kapal pribadi milik keluarga Kirijo. Mereka menerima ajakan dari Minato untuk mengikuti liburan 2 hari 3 malam mengelilingi laut Jepang. Sebenarnya, tawaran itu berasal dari Mitsuru, yang memanfaatkan kesempatan cutinya agar bisa berlibur bersama teman-temannya. Namun dia mengijinkan Souji, Naoto, dan Akira ikut karena pasangan itu sudah pernah membantu mereka menyelesaikan kasus Strega tempo dulu.
"Wah...keren! Pemimpin Kirijo Corporation memang hebat..." Akira terpesona.
"Haha. Jangan girang dulu. Biasanya kalau di luar kelihatan mewah, dalamnya lebih mewah lagi, lho," ujar Souji.
"Kalau begitu, ayo, Mama, Papa! Cepat kita naik!"
"Hehehe...jangan terburu-buru," Naoto tertawa kecil.
Mereka akhirnya naik ke atas dek kapal. Bocah itu makin terpesona melihat keeleganan dan kemewahan kapal pesiar itu. Dek-nya sangat luas, bisa menampung lebih dari 100 orang di sana jika mau diadakan pesta. Beberapa awak kapal berpakaian rapi mondar-mandir, menyiapkan keberangkatan. Sebenarnya Akira ingin mengeksplorasi kapal besar itu, tapi pasti tak boleh kalau sendirian.
"Akira-chan!"
Ketiganya menoleh dan menemukan Metis, Yuji, dan Chijiro menghampiri mereka dengan senyum riang. Akira tersenyum lebar dan berlari menyongsong kakak sepupunya tersayang itu.
"Metis-neechan!" serunya senang sambil memeluk gadis itu. "Kalian juga di undang?"
"Ya iya dong. Kan orang tua kami temannya Presdir Kirijo itu," sahut Chijiro.
"Hmm...berarti Onisan dan yang lainnya sudah tiba di sini ya?" tanya Naoto.
"Ya. Junpei-ojisan dan Fuuka-obasan ada di kabin bersama Ken-ojisan dan istrinya. Ayah, Ibu dan Akihiko-ojisan tidak kelihatan, sementara Mitsuru-obasan ada di dek atas bersama Yukari-obasan, dan juga...er..." penjelasan Metis terputus sampai di situ.
Yuji menghela napas kesal. "Ayahku juga ada. Dia membawa ibu tiriku."
"Begitu..." Souji mengangguk mengerti. Namun kemudian sesuatu terlintas di pikirannya. "Eh tunggu...ibu tirimu? Memang Ryoji-san sudah menikah lagi?"
Pemuda berkulit pucat itu mengangguk lagi. "Yeah. Parahnya, dia malah menikahi Elizabeth, saudari Aigis-obasan."
"Hah?!" kedua orang dewasa itu tersentak kaget.
Sementara, di dek atas kapal pesiar Kirijo Corp., tampak Mitsuru berdiri di samping Yukari, yang entah kenapa matanya sembab seperti habis menangis. Mereka berdua diam sejenak, membiarkan angin laut menghembus dan suasana pelabuhan mengisi kekosongan.
"Yukari, kau sudah merasa baikan?" tanya Mitsuru, menoleh sedikit ke arah wanita penyuka warna pink itu.
"Yeah..." Yukari tersenyum tipis. "Maaf aku tiba-tiba malah mencurahkan uneg-uneg kepada kalian seperti ini. Padahal seharusnya kita bersenang-senang, ya 'kan?"
"Tidak apa-apa. Justru aku yang harus minta maaf. Aku tidak tahu kalau Ryoji sudah punya wanita lain. Padahal kupikir aku bisa mempertemukan kalian berdua di sini agar kalian bisa rujuk lagi. Kelancanganku malah jadi seperti ini..."
"Tidak apa. Sungguh. Aku...sudah tidak peduli dengannya lagi."
"Benarkah?"
Kedua wanita itu menoleh dan menemukan Minato dan Aigis berjalan ke arah mereka. Yukari dan Mitsuru tersenyum menyambut mereka. Keempatnya berdiri berdampingan, menghadap laut dan menikmati hembusan angin laut.
"Yukari-san...maafkan aku. Aku tidak tahu kalau Elizabeth dan Ryoji-san berhubungan..." Aigis memulai pembicaraan. "Kalau mau, aku bisa menemuinya dan menasehatinya..."
"Sudahlah, Aigis. Itu tidak perlu. Sudah jelas sekali kalau dia tidak suka padaku," tukas Yukari dengan nada setengah kesal.
Minato menghela napas. "Aku tidak mengerti jalan pikiran Ryoji. Padahal katanya dulu setelah kalian bercerai dia tidak akan menikahi wanita lain, karena dia masih berharap kau memaafkannya..."
"Berarti itu memang Cuma omongan gombal yang tidak bisa dipercaya, seperti yang pernah ia katakan pada semua gadis-gadis di sekolah kita dulu."
"Hmm..." Mitsuru melipat tangannya di depan dada. "Yah...yang terpenting kita sedang berlibur sekarang. Bagaimana kalau kita habiskan waktu bersama-sama? Kita bisa bernostalgia, berkumpul bersama seperti dulu. Dan...Yuji juga ada 'kan? Bagaimana kalau ajak dia mengobrol juga?"
Yukari hanya tersenyum tipis.
Setelah Souji dan Naoto memutuskan untuk beristirahat di kabin, Metis, Chijiro, dan Yuji mengajak Akira berjalan-jalan mengeksplorasi kapal pesiar itu. Mereka menunjukkan bocah itu lokasi ruang mesin, dapur, gudang, ruang bermain, ruang kemudi, dan macam-macam lagi. Mereka bahkan berpas-pasan dengan Junpei dan Fuuka di dekat ruang galeri.
"Oke, perhentian terakhir, ruang santai!" Metis membukakan pintu.
Di dalam ruangan itu terdapat counter bar untuk menikmati minuman dan makanan ringan. Tempat itu juga memiliki beranda untuk melihat laut lebih dekat lagi. Dan, tidak seperti ruangan-ruangan lain, ruang santai itu agak berisik. Keempat pengunjung itu melihat dua orang dewasa duduk di sofa sambil dikerumuni beberapa anak kecil.
"Ah! Nanako-obasan!" Akira melambai, mengenali salah satu dari dua orang dewasa itu.
Nanako menoleh dan tersenyum melihat keponakan lelakinya itu. "Akira-chan! Sini!" sapanya sambil memberi isyarat agar ia mendekat.
"Huh? Akira-chan?" anak kecil berambut cokelat yang ada di sekitar wanita itu menoleh dan terkesiap begitu melihat siapa yang datang. "Ah! Akira!"
Bocah berambut biru itu terkejut melihat siapa yang ada di sana. "Jun! Yuki! Himeka-chan!" serunya, melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya itu.
Himeka yang pertama bereaksi untuk mendekati Akira dibandingkan kedua bocah yang lebih tua darinya itu. Gadis kecil berambut keemasan itu berlari melewati deretan sofa dan meja, menuju ke arah anak lelaki bertubuh mungil itu, dan spontan melompat memeluknya. Alhasil, kedua anak kecil itu tersungkur jatuh dengan bunyi berdebum keras, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut dan panik.
"Akira-chan! Kamu tidak apa-apa?!" Metis berlutut dan membantu adik sepupunya itu duduk, memeriksa jikalau ia terluka.
"Himeka-chan! Apa yang kamu lakukan!?" Jun dan Himeka ikut berlari menghampiri sang korban dan pelaku, khawatir.
"Himeka kangen Akira-niichan!" jelas gadis kecil itu, memeluk erat anak lelaki berambut biru yang lebih tua darinya itu. "Himeka senang pas dikasih tau Papa Mama kalau Akira-niichan mau datang juga!"
"Uh...Hi-Himeka-chan...? S-se-sesak n-napass..." Akira berjuang melepaskan pelukan sahabat kecilnya itu.
Akhirnya setelah mendapatkan bantuan dari Jun dan Yuki, mereka berhasil melepaskan Akira dari pelukan Himeka. Nanako tertawa kecil melihat kejadian itu, sementara Ken Cuma bisa geleng-geleng kepala. Keempat sahabat itu, diiringi ketiga remaja, menghampiri pasangan suami istri itu sekali lagi, kali ini duduk tenang di sofa yang mengitari mereka.
"Wah, Tadase-chan di ajak juga ya?" Akira tersenyum lucu, memandangi sepupunya yang baru saja lahir tiga bulan yang lalu.
"Ukh...lucu sekali!" Metis gemas, ingin mencubit pipi bayi kecil itu.
Wanita berambut cokelat itu tertawa lembut. "Akira-chan juga sebentar lagi punya adik, 'kan?" tanyanya. "Nanti pasti tidak bosan di rumah karena ada adik."
"Iya. Tapi kata Papa adiknya baru akan lahir 5 bulan lagi," sahut bocah berambut biru itu, tersenyum kecil.
"Whoa...ternyata cerita itu benar ya? Nanti Akira-chan punya adik?" Yuki bertanya. Sahabatnya satu itu hanya tersenyum dan mengangguk riang. "Hmm...aku jadi ingin lihat. Kalau sudah lahir, bawa ke Inaba ya?"
"Tentu saja!" Akira nyengir lebar. "Oh ya, kalau kalian ada di sini, berarti Yosuke-ojisan dan yang lainnya juga ada di sini ya?"
Ketiga anak kecil itu mengangguk. "Iya. Orang tua kami juga diundang. Selain karena tawaran dari Nanase-obasan, ibuku dan ayah Jun 'kan kolega Kirijo-sama," Yuki menjelaskan. "Kalau Himeka-chan, orang tuanya memang sudah terkenal, jadi tidak usah ditanya lagi."
"Hmmm...eh iya. Akira mau ceritain tentang orang tua Akira!"
"Tentang Naoto-san?" Ken mengernyit heran.
"Iya! Kemarin dulu Papa cerita tentang bagaimana dia ketemu sama Mama!"
"Oh...pasti tentang penembakan di kuil Tatsuhime itu ya? Yang ternyata tipuan Minato-san?" tebak Nanako.
Bocah berambut biru itu terkejut. "Kok tahu?"
"Ya jelas saja. Aku 'kan ada di sana. Waktu itu aku heran, kenapa Oniichan senyam-senyum girang ketika pulang, dan dia cerita kalau dia baru saja jadian dengan Naoto-neechan."
Keempat anak kecil itu tampak terpesona. Ketiga remaja yang ada di sana mengangkat bahu dan memutuskan untuk mengambil minuman dari konter sementara mendengarkan pembicaraan dari jauh.
"Kalau begitu, Nanako-obasan tahu kisah orang tua kami juga?" tanya Jun, mengetes.
"Tentu! Kalian mau kuceritakan?" Nanako tersenyum lembut.
"Mau, mau!!" sahut keempatnya girang. Mereka langsung membetulkan posisi duduk, siap mendengarkan 'dongeng' masa lalu orang tuanya yang tidak mereka ketahui.
"Hahaha. Kalau begitu...kita mulai dari momen-momen sebelum Yosuke-niichan berpacaran dengan Chie-neechan..."
Flashback
20 tahun lalu, Yasoinaba, Yasogami High School.
"Yosuke! Kemari kau!"
"Argh, tidaaaak!!!"
Souji membuka pintu masuk menuju kelasnya ketika ia hampir saja ditubruk oleh sahabatnya itu. Untung saja refleksnya berkerja dan ia langsung melompat ke samping, menghindari terjadinya kecelakaan. Segera setelah keluar dan mengucap pelan kata maaf, ia berlari menuju lantai tiga, dengan Chie mengikutinya dari belakang dengan aura pembunuh. Pemuda berambut kelabu itu menghela napas dan memasuki ruang kelas, melihat Yukiko menggeleng-geleng pasrah melihat tingkah laku kekanakan keduanya.
"Kali ini mereka bertengkar karena apa?" tanya pemuda bertubuh tinggi itu.
"Biasa. Hanamura-kun meminjam DVD Chie dan ia tak sengaja merusaknya, entah bagaimana," jelas gadis berambut hitam itu.
"Hhh...dasar," Souji duduk di tempat duduknya, melihat kotak DVD yang dimaksud tergeletak di atas meja Chie. Ia memungutnya sambil berkata, "Meski kelihatan begitu...entah kenapa aku merasa kalau mereka itu ditakdirkan satu sama lain."
Yukiko terkikik geli. "Bicaramu romantis, Seta-kun," ia berkomentar, membuat sedikit rona merah di pipi teman sekelasnya itu. "Tapi...aku setuju. Entah kenapa, aku merasa mereka itu cocok. Lagipula, banyak orang bilang kalau misalnya pasangan yang cocok itu sering bertengkar 'kan?"
Souji mengangguk mengiyakan. Kemudian sebuah ide jahat terlintas dikepalanya. "Hei, Yukiko...bagaimana kalau kita cari tahu saja?"
"Huh? Apa maksudmu?"
"Jadi begini..."
Mereka membicarakan suatu rencana dengan suara pelan berbisik. Yukiko terlihat antusias mendengar rencana itu. Ia mengangguk setuju, tanda ingin ikut melaksanakan rencana sang murid pindahan. Mereka berdua tersenyum misterius, rencana mereka sudah siap. Tinggal menunggu pelaksanaannya.
Kemudian, saat istirahat siang...
"Chie, ayo kita makan siang," ajak Yukiko.
Sahabatnya itu mengangguk saja. Ia beranjak dari bangku di sebelah Souji, melemparkan satu pandangan kesal pada Yosuke, sebelum mengikuti gadis bersweater merah itu ke atap, lokasi makan siang mereka yang biasanya. Dalam perjalanan ke sana, Yukiko mengamati ekspresi Chie yang masih tampak kesal karena kejadian pagi itu.
"Chie, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak baik-baik saja," desis gadis tomboy itu. "Aku masih kesal! Ini sudah kelima kalinya dia merusakkan DVD-ku! Apa tidak bisa ya, sekaliiii saja dia tidak merusakkannya kalau aku meminjamkan padanya?"
"Hmm...meski kau bilang begitupun tetap kau pinjamkan, 'kan?"
"Iya sih..." Chie membukakan pintu menuju atap untuk mereka. Tidak ada siapa-siapa di sana. "...tiap kali dia bilang mau pinjam aku memberinya kesempatan, berharap kalau dia tidak akan merusakannya lagi, tapi ternyata...er, apa yang kau lakukan, Yukiko?"
Yukiko tersenyum sementara tangannya sibuk menekan tombol di ponselnya. Kemudian dia hanya menggeleng dan mereka duduk di tempat favorit mereka. Kedua gadis remaja itu membuka kotak bento masing-masing dan melihat menu yang biasa.
"Tapi...kau tahu Chie, kurasa dia bukannya tidak sengaja merusakannya. Kurasa dia memang sengaja merusaknya untuk menggodamu," Yukiko berkomentar.
Chie nyaris tersedak mendengarnya. "Hah?! Yukiko, kau bercanda ya? Untuk apa dia menggodaku?"
"Yah mungkin...karena dia suka padamu?"
Gadis berambut kecoklatan itu langsung tersipu merah. "A-apa? K-kenapa dia harus suka padaku? Dan kenapa dia merusakkan DVD-ku hanya untuk menggodaku?" kilahnya cepat.
"Well, kau cukup manis, Chie. Dan soal DVD itu...mungkin dia tidak tahu harus bagaimana supaya bisa bicara denganmu, dan dengan memprovokasi amarahmu, kau dan dia jadi kejar-kejaran, dan yah..." gadis berbando merah itu mengangkat bahunya sedikit sebelum kembali menikmati bentonya.
Chie tidak mengatakan apa-apa lagi. Matanya memandangi bentonya yang baru seperempat bagian di makan. Ia memikirkan kata-kata sahabatnya tadi. Yosuke...menyukaiku? Masa' sih?
Lalu, kondisi Souji dan Yosuke...
Ponsel Souji tiba-tiba berbunyi. Ia tersenyum membaca pesan yang masuk itu. Yosuke mengernyit heran melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Tapi sebelum ia sempat bertanya apa yang membuatnya senang begitu, pemuda berambut abu-abu itu menunjukkan sebuah kotak bento di hadapannya.
"Kita makan siang bareng yuk. Aku sudah membuatkan menu favoritmu," ajaknya simpel.
Yosuke tidak perlu dua kali diminta untuk menyetujui tawaran itu. Mereka berjalan menuju atap sambil berbicara ringan. Pemuda berambut coklat kemerahan itu sudah tidak sabar menikmati bento yang dibuat Souji. Masakan sahabatnya itu selalu bisa memuaskan rasa laparnya. Bahkan makanan yang disediakan di Junes Food Court belum tentu bisa selezat buatannya.
"Hari ini kau bertengkar lagi dengan Chie?" pemuda berponi mangkok itu tersenyum.
Anak manajer Junes itu menghela napas. "Yeah...cewek itu mengerikan sekali. Padahal 'kan Cuma baret sedikit...eh dia nyaris menendang 'itu' ku lagi. Lama kelamaan aku tidak bisa kawin nih..." gerutunya kesal.
Souji tertawa. "Yosuke...kau tidak usah bohong padaku, kau tahu," komentarnya. Lelaki di sebelahnya itu hanya menaikkan sebelah alisnya, pura-pura tidak mengerti. "Kau suka dengan Chie 'kan?"
Kalimat itu membuat Yosuke nyaris terjungkal ketika ia mencoba menaiki tangga menuju atap, jika saja ia tidak berpegangan pada lengan partnernya, yang dengan sigap menangkapnya. Wajahnya memerah, dan Souji mengartikannya sebagai ya. Pemuda yang lebih tinggi itu hanya tertawa sementara ia membimbing temannya itu melanjutkan perjalanan ke atap.
"Kau terlalu peka, Souji. Sepertinya kau membaca pikiranku," gerutu pemuda yang wajahnya masih memerah itu.
"Aku hanya pintar mengamati tingkah laku orang. Lalu...kenapa tidak kau tembak saja dia?"
"Kau gila ya? Kau mau aku dihajar lagi? Lagipula aku tidak punya keberanian seperti kau yang dengan mudahnya menyatakan cintamu pada Naoto..."
"Hei, jangan bawa-bawa Naoto dalam masalah ini," Souji meninju lengan sahabatnya itu pelan. "Lagipula, aku tidak yakin kau akan dihajar Chie, karena kurasa...dia juga suka padamu."
Komentar itu membuat Yosuke tertawa. "Lelucon bagus."
"Aku tidak bercanda," pemuda satunya membukakan pintu. Dengan sekali pandang, ia bisa melihat Yukiko dan Chie duduk di sana. Gadis penyuka warna merah itu tersenyum menyapanya, sementara gadis tomboy di sebelahnya tampak tidak menyadari kehadiran dua pemuda itu. "Jadi...apa tindakanmu selanjutnya?"
"Tindakanku?" pemuda penggemar musik itu menapakkan kakinya di atap sekolah mereka. "Well, aku tidak tahu. Mungkin aku akan menyatakan cinta pada Chie kalau memang dia akan menerimaku."
Suara Yosuke cukup keras untuk membuyarkan lamunan Chie. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menemukan pemuda yang dimaksud di sana, berdiri di samping sahabat lelakinya. Yukiko terkekeh geli. Souji, yang menyadari reaksi itu, menepuk pundak partnernya, mengisyaratkan agar ia menoleh. Pemuda berambut cokelat kemerahan itu toh menoleh, dan terkejut ketika melihat dua gadis teman sekelasnya itu berada di sana, dan mungkin sudah mendengar pernyataannya itu dengan jelas.
"C-Chie!? Amagi-san!?" wajah pemuda tanggung itu kembali memerah. "Uh...a-apa kalian mendengarkan...?"
Keduanya mengangguk serempak. Yosuke mau pingsan rasanya. Souji terkekeh geli dan menepuk pundak sahabatnya itu. "Well, selagi kalian bertemu di sini, bagaimana kalau kau menjelaskan semuanya, Yosuke? Biar aku dan Yukiko pergi dulu," usulnya.
"Ide bagus, Seta-kun. Kurasa Chie juga harus menjelaskan suatu hal pada Hanamura-kun," ujar Yukiko sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Souji, mengambil bentonya serta. Gadis itu berbalik sebentar menghadap sahabatnya sebelum mengedik senang dan berkata, "Jangan lama-lama ya? Hehehe!"
Keduanya meninggalkan Yosuke dan Chie di atap. Mereka berdua mengalihkan pandangan ke hal lain, apapun itu asalkan mereka tidak bertatap muka. Keduanya terlalu malu-malu untuk memulai pembicaraan. Tapi toh salah satu dari mereka memutuskan untuk menanyakan kebenaran itu.
"Uh...Yosuke? Apa yang kau bilang tadi itu...benar?" tanya gadis berambut cokelat pendek itu.
Yosuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Well, uh..." ia membalik badannya, memunggungi Chie. Ia terlalu gengsi untuk menunjukkan wajahnya yang memerah saat ini. "...aku...tidak akan mengatakannya, sebelum aku yakin kau akan menerimaku 100 %."
Chie menghela napas. Ia menghampiri pemuda itu dengan langkah ringan, sebelum akhirnya memeluknya dari belakang. Anak manajer Junes itu spontan kaget. Wajahnya semakin memerah. Keduanya berdiam diri dalam posisi itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya Yosuke angkat bicara.
"Chie...aku...suka padamu."
"Aku juga...Yosuke..."
Gadis itu melepaskan pelukannya, membiarkan pemuda dalam rengkuhannya tadi itu membalik badannya. Ketika keduanya akan melanjutkan ke langkah berikutnya, tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dan tampak kedua senior yang seharusnya sudah berpindah tempat tadi, jatuh tersungkur ke lantai atap, tertimpa oleh tiga juniornya yang sama-sama memiliki raut wajah penasaran.
"O-oww...sakit, Kanji-kun!" Rise menggerutu.
"Oops...sori," Kanji spontan berdiri.
"Ka-kalian mengawasi kami ya?!" Yosuke dan Chie spontan berteriak.
"Err..." Souji nyengir gugup. Ia menunjukkan bento untuk sahabatnya yang masih terbungkus rapi. "...Mau bento? Hehehe..."
End of Flashback
Akira, Yuki, dan Himeka spontan tertawa mendengar akhir cerita itu. Jun melongo, masih mencoba mencerna seluruh kronologis yang diceritakan Nanako, sementara wanita itu sendiri tertawa geli bersama suaminya. Metis, Chijiro, dan Yuji sebenarnya ingin ikut tertawa, tapi takutnya anak dari pasangan konyol itu terganggu atau semacamnya.
"Kasihan Yosuke-ojisan dan Chie-obasan! Kesenangannya diganggu orang tua kami!" Yuki berkomentar, kemudian melanjutkan tertawa tanpa ampun.
"Owh, diamlah," desis Jun.
"Hehehehe! Pasti sekarang Yosuke-ojisan dan Chie-obasan sedang bersin-bersin ria karena kita membicarakan tentang mereka!" tambah Akira geli.
Sementara itu, di ruang permainan di dekat kabin penumpang...
"HUACHIIIH!!!"
Pasangan suami istri yang tak lain dan tak bukan adalah Yosuke dan Chie, bersin bersama. Souji dan Naoto, serta keempat sahabat mereka lainnya, mundur beberapa langkah agar tidak kena 'semprot'. Rise dan Teddie tertawa melihat ekspresi konyol di wajah pasangan yang baru saja bersin itu.
"Kenapa? Kedinginan ya?" tanya Yukiko, khawatir. "Aku bisa naikkan suhunya kalau mau..."
"Uh, tidak usah..." Yosuke menggeleng. "Sepertinya ada yang membicarakan kami..."
"Yeah...dan aku punya firasat Jun dan teman-temannya yang melakukannya," tambah Chie.
Kembali ke ruang santai, tawa ketiga sahabat itu sudah mereda karena Jun terlihat makin kesal. Ken Cuma geleng-geleng kepala mengetehui bahwa sedikit cerita tentang masa lalu saja bisa membuat anak-anak itu nyaris bertengkar. Namun Nanako tampaknya tidak peduli dan masih berniat menceritakan masa lalu teman-teman kakak sepupunya itu.
"Oh, oh! Kalau cerita tentang Kanji-ojisan dan Rise-obasan?" celetuk Akira.
"Huh? Hmmm...aku tidak tahu. Oniichan tidak pernah cerita," Nanako mengangkat bahunya.
"Berarti yang tersisa cerita tentang Yukiko-san dan Teddie-san?" tebak Ken, yang disahut dengan anggukan riang istrinya.
"Ceritakan! Ceritakan!" pinta Himeka riang.
"Hehehe...baiklah...dengarkan yang tenang ya," Nanako tersenyum.
Flashback
19 tahun lalu, Yasoinaba, Yasogami High School.
Terdengar kericuhan di halaman sekolah Yasogami. Semua murid yang saat itu masih berada di dalam kelas masing-masing, menjalani jam pelajaran terakhir untuk hari itu, melongok keluar karena penasaran meskipun guru-guru sudah berteriak agar mereka mendengarkan pelajaran. Rupanya muncul geng berandalan dari sekolah lain yang ingin menantang geng berandal dari sekolah Yasogami.
"Keluar kalian, pengecut!!" teriak salah satu anggota.
"Yeah! Sesuai janji kami, kami datang untuk menghajar kalian!" tambah anggota lainnya.
"Wah, wah...ribut sekali," Souji geleng-geleng kepala.
"Hei, apa menurutmu Kanji...?" Yosuke merasakan firasat tidak enak.
"Well...kurasa bukan Kanji penyebabnya," sahut Yukiko.
Tak lama, muncul beberapa siswa yang memang terkenal sebagai preman di Yasogami High, dengan Kanji sebagai pemimpinnya. Yukiko sweatdrop sendiri melihat perkiraannya salah.
"Ehm...baiklah, kurasa memang Kanji ada sangkut pautnya..." kata gadis berambut hitam itu pasrah.
Kemudian, terdengar suara langkah kaki di koridor. Semua menoleh ke arah pintu ruang kelas ketika pintu itu digeser, dan Rise bersama Naoto muncul dengan raut wajah panik dan khawatir. Gadis berambut merah itu berlari ke arah keempat seniornya itu dan menarik lengan Souji agar mengikutinya. Keempat senior itu toh menurut saja dan mengikuti junior mereka ke halaman depan sekolah, menyaksikan Kanji bersama teman-temannya melakukan konfrontasi dengan geng dari sekolah lain itu.
"Siapa pemimpin kalian?" tanya Kanji dengan nada mengancam.
Kerumunan dari sekolah lain itu membuka jalan untuk seorang pemuda, tak lebih tinggi dari Rise, dengan seragam yang paling beda dari anggota gengnya. Pemuda itu berambut pirang dan bermata biru. Meskipun senyumnya memberi kesan bahwa ia anak baik-baik, tapi gelagatnya tidak seperti itu.
"Teddie!" katanya riang. "Lalu, kamu pasti Kanji, pemimpin geng Yasogami? Aku menantangmu bertarung satu lawan satu di sini."
"Heh, pemuda bishonen sepertimu tidak perlu melawan Kanji. Aku saja sudah cukup," salah satu anggota geng Yasogami maju, namun sedetik kemudian dia terpental karena satu tinju maut melayang ke arah perutnya.
"Jangan ganggu. Ini pertarungan antar ketua geng!" seru anggota geng Teddie yang baru saja meninju pemuda malang tadi.
Kanji menghela napas. "Hh...baiklah," katanya akhirnya. Ia melepaskan jaket seragam Yasogami miliknya, menampakan kaus hitam bergambar tengkorak yang menjadi ciri khasnya. "Ayo maju sini!"
"Dengan senang hati," Teddie senyum sumringah.
Kedua pasukan mundur untuk mengamati dari jauh. Kanji dan Teddie memasang kuda-kuda bertarung. Keenam sahabat yang baru muncul tadi hanya bisa ikut menonton dari luar area pertarungan. Rise sudah gemetaran, takut. Naoto dan Souji menepuk pundaknya, menenangkan gadis itu.
"...Mulai!" seru anggota geng Teddie yang menjadi wasit.
Kanji melompat ke arah Teddie, melayangkan sebuah tinju ke muka bishonen itu. Namun pemuda berambut pirang itu dengan lihai mengelak serangannya dan menyerang titik mati preman yang lebih tua itu, membuatnya mengerang kesakitan. Belum selesai, ketua yang lebih muda itu menendang punggungnya, membuat remaja yang secara teknis adalah seniornya itu terlempar agak jauh. Sorak sorai kedua kelompok tercampur antara ledekan dan dukungan.
Teddie tersenyum sinis memandang Kanji yang tersungkur. "Cuma segini?"
"Kau...!" Kanji bangkit sekali lagi. Sorot matanya tak menunjukkan sedikitpun rasa kasihan. Pertarungan kembali dimulai.
Sementara para remaja itu menunjukkan semangat bertarung mereka dengan semakin kerasnya sorak sorai dari kedua kubu pendukung, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa King Moron beserta beberapa guru sudah siap ambil tindakan. Yosuke, yang menyadari kedatangan para guru-guru tersebut, spontan panik dan memberitahu teman-temannya. Mereka semua berjengit, takut dengan kemungkinan hukuman yang akan mereka jalani.
"Kanji!" Souji berteriak keras, memecah sorak sorai nan bising dari kedua kelompok. "King Moron akan tiba di sini!"
Preman berambut putih itu spontan berhenti sebelum mendaratkan satu pukulan jab ke wajah Teddie yang terbaring di bawah cengkramannya. Ekspresinya kini sekaku patung. Anggota geng Yasogami yang mendengar teriakan itu juga langsung berwajah horor. Sementara langkah kaki guru-guru terdengar mendekat, mereka semakin panik.
"Semuanya! Lari keluar sekolah!" teriak Kanji akhirnya, melepaskan Teddie dari cengkeramannya.
"Baik!!" semua siswa Yasogami yang ada di situ, tak terkecuali Souji dan kawan-kawan, spontan kabur keluar halaman sekolah, tidak mau bertemu dengan pasukan guru-guru yang akhirnya tiba di lapangan dan menemukan hanya anggota geng Teddie yang tersisa.
Sementara Kanji dirawat oleh Rise, anggota geng lainnya yang tidak sempat terluka memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah sedikit ceramah dari Souji, Naoto, dan Chie agar preman yang merupakan sahabat mereka juga itu tidak menerima tawaran bertarung seenaknya, semuanya akhirnya pulang ke rumah karena sudah sore. Yukiko sendiri memutuskan untuk berbelanja bahan makanan untuk eksperimen memasaknya.
"Hmm...hari ini temanya 'stew', jadi harus beli kentang, wortel—huh?" gadis pewaris Amagi Ryoukan itu berhenti sejenak ketika melihat sesuatu yang berwarna kuning bersender di gang dekat Junes. "Apa itu?"
Ia menghampirinya karena penasaran. Dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan Teddie, dengan wajah babak belur karena pukulan-pukulan dari Kanji, bersandar kelelahan di sana. Yukiko menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya sendiri, shock. Pemuda berambut pirang itu menyadari kehadirannya dan mengangkat wajahnya untuk melihat gadis itu.
"Apa yang kau lihat, hah?" tanya Teddie ketus.
Yukiko tersadar dari lamunanya dan berlutut di samping Teddie. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangannya. Pemuda itu hanya mengernyit heran, namun ketika gadis yang lebih tua itu mulai membersihkan darah pada luka-lukanya, ia mengerti.
"Kau...yang dari sekolah Yasogami tadi 'kan?" tanya pemuda itu lagi. Yukiko hanya tersenyum dan mengangguk. "Kenapa menolongku?"
"Kamu 'kan sedang terluka, jadi wajar dong kalau aku menolongmu," sahut gadis beryukata itu simpel.
Teddie terdiam. Ia terkesima. Baru kali ini ada yang mau menolongnya ketika terluka, apalagi seorang gadis. Memang dengan wajahnya itu ia cukup populer di kalangan gadis-gadis di sekolahnya, tapi tak banyak yang berani mendekatinya sampai begini.
"Hei, siapa namamu?" tanya preman muda itu lagi.
Yukiko tersenyum seperti biasanya. "Yukiko. Amagi Yukiko."
"Yuki-chan!" Teddie menggenggam kedua tangan gadis itu, sontak membuatnya kaget dan menjatuhkan sapu tangan yang bernoda darah itu. "Maukah kamu jadi pacarku?"
"H-hah?" gadis berambut hitam itu langsung memerah. Keduanya terdiam sejenak sampai akhirnya Yukiko menjawab tak yakin, "Uh...b-boleh...?"
End of Flashback
Keempat anak kecil yang mendengarkan cerita itu terdiam, apalagi Yuki yang anak dari pasangan itu. Ia melongo, matanya mengerjap, tak mempercayai apa yang didengar kupingnya. Ken sweatdropped, begitu juga ketiga remaja yang mendengarkannya sambil menikmati minuman di kounter. Nanako hanya diam saja, menunggu reaksi mereka.
"Uh..." Akira yang pertama angkat bicara. "Begitu saja?"
"Iya. Yukiko-neechan tidak menceritakan lebih lanjut," wanita berambut cokelat eboni itu mengangkat bahu.
"Uh...tidak seru!" Jun menggerutu. "Masa' Cuma segitu saja...tidak menarik ah. Apa mereka tidak cerita tentang kencan mereka?"
Ken tertawa. "Mana mungkin ada pasangan yang mau menceritakan tentang kencan mereka, anak-anak. Mereka pasti terlalu malu, karena misalnya ada kejadian yang tidak enak untuk diceritakan," jelas pengacara muda itu. Melihat ekspresi kebingungan di wajah keempat anak kecil itu, dia hanya menambahkan sambil tertawa, "Nanti kalian juga mengerti."
Lalu, kondisi para orang tua dari keempat bocah di ruang permainan di dekat kabin penumpang...
"HUACHIIIH!!!"
Giliran Yukiko dan Teddie yang bersin bersamaan. Ketiga pasangan lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat fenomena yang jarang terjadi itu.
"Hmm...aneh ya. Padahal aku tidak kedinginan lho," rutuk wanita berambut hitam itu.
"Sudah jelas ada yang membicarakan kita 'kan, Yukiko?" Chie menggelengkan kepalanya, setengah jengkel.
"Tapi kok aku, Rise, Naoto dan Souji tidak bersin?" Kanji bertanya keheranan.
Mereka semua hanya mengangkat bahu.
"Hmmm," bocah berambut biru itu mengangguk pelan. "Yah karena tidak ada cerita lain lagi, bagaimana kalau kita main petak umpet? Kapal ini kan luas, jadi banyak tempat untuk sembunyi!"
"Setuju!" Himeka mengangkat tangannya girang. "Ayo maiiinnn."
Keempat bocah itu akhirnya memutuskan untuk berlari keluar dari ruang santai untuk bermain petak umpet. Ken dan Nanako juga ikut keluar, berniat kembali ke kabin supaya Tadase bisa tidur lebih nyenyak. Tinggal ketiga remaja itu yang tinggal di sana, masih menikmati minuman masing-masing sambil bercerita tentang kehidupan sehari-hari.
Meski dibilang begitu, kenyataannya Chijiro dan Metis yang lebih banyak bercerita. Yuji Cuma memberi respon sedikit dan kadang-kadang tertawa atau hanya tersenyum sebagai tanggapan. Melihat hal ini, gadis berambut hitam itu berhenti untuk memperhatikan mantan pacar sekaligus sepupunya itu.
"Yuji? Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, menepuk pundak lelaki itu sedikit.
Pemuda berambut cokelat itu tersenyum lemah dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa...sedikit iri," jawabnya lirih.
"Iri? Pada siapa?" tanya Chijiro heran.
"Pada anak-anak itu, dan juga keluarga kalian berdua," tambah Yuji dengan senyum yang agak dipaksakan. "Anak-anak itu benar-benar polos. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tidak perlu khawatir pada hal-hal sepele...asalkan ada orang yang disayangi berada di sekitar mereka, itu sudah cukup."
Metis menghela napas panjang dan menepuk bahu sepupunya itu sekali lagi. "Kau masih merasa sedih karena bertemu ibumu di sini, tapi tak bisa mengajaknya bicara?" tebaknya jitu.
"Yeah...aku tidak tahu harus bicara apa. Lagipula...Ibu tampak sedih ketika melihat Ayah bersama Elizabeth-san."
Ketiganya terdiam, tak tahu harus mengatakan apalagi. Suara debur ombak mengisi keheningan, dan tawa keempat anak kecil yang bermain di sepanjang koridor kapal di lantai itu terdengar kontras. Metis menghela napas panjang dan menepuk pundak Yuji sekali lagi.
"Dengar...aku tidak tahu apakah ini bisa membantu atau tidak, tapi...bagaimana kalau kau mencoba membicarakan hal ini dengan ayahmu?" usulnya.
Pemuda berkulit pucat itu menoleh dan mengernyit heran. "Membicarakannya dengan ayahku...?" ia mengulang sebaris kalimat itu.
"Yeah. Mungkin saja kalau kau yang meminta, dia tidak akan jadi menikahi Elizabeth-obasan dan bisa meminta Yukari-obasan untuk menikahinya lagi. Tapi aku tidak tahu bisa berhasil atau tidak ya..."
Yuji terdiam. Ia memikirkan kalimat gadis itu. Kemudian, sebuah senyum terlintas di bibirnya. "Yeah...tidak ada salahnya dicoba," ia bangkit dari kursinya dan berniat pergi dari ruang santai itu, namun sebelumnya mendaratkan satu kecupan manis di pipi sepupunya itu. "Trims Metis! Kau memang sepupuku yang paling pintar!"
"H-hei! Yuji! Sialan kau!" Chijiro baru saja akan menyergapnya jika saja anak itu tidak berlari secepat kilat keluar ruangan, menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika ia berlama-lama di situ. "Ah...dasar. Metis, kau sungguh-sungguh?"
Metis tertawa. "Well...kita lihat saja. Semuanya tergantung kesungguhan dia membujuk ayahnya dan juga faktor keberuntungan..."
A/n: Lagi-lagi panjang... T.T 4500 kata lebih, saudara-saudara! 12 halaman! Bujug dah, kalau dilanjutin bisa 20 halaman kali ya? Maka dari itu, karena saya tidak rela reader yang baik hati (penjilat mode: on) rusak matanya, jadi dibagi jadi 2 chapter, ya? Lol. Eh, apa? Kenapa Elizabeth jadi saudarinya Aigis? Karena...well, lihat saja wajah mereka! Mirip kan? Pasti mirip! *dilempar sendal karena maksa* Haiz...anak-anaknya Mitsuru sama Akihiko belum muncul ya? Ya sudah, chapter depan mungkin...ahem, review dong *puppy eyes*
