Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Updet telat lagi...sori, kebawa perasaan main RP Persona nih XD Oke, enjoy!
Chapter 14: Encounter and Reconciliation
Ruang permainan di dekat kabin penumpang.
Keempat pasang suami istri itu masih sibuk bermain billiard sambil berceloteh ria tentang apa yang telah mereka lakukan selama beberapa bulan tidak bertemu, semenjak hari pernikahan Nanako dan Ken di Inaba. Para wanita kadang menggoda Naoto dan Souji tentang kehamilan anak kedua mereka itu, sementara para pria hanya tertawa mendengarnya.
"Jadi, kau masih bekerja saja?" Rise terkesiap. "Itu tidak baik untuk kesehatan janinmu, Naoto. Kalau sudah berumur 6 bulan atau berapa, kau harus vakum dari pekerjaan lho! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, terlebih lagi pekerjaanmu itu 'kan berbahaya sekali."
"Rise benar. Apa kau tidak menentang keputusannya untuk tetap bekerja seperti biasa, Souji?" Yosuke bertanya setengah heran.
"Kalian tahu kalau Naoto itu keras kepala 'kan?" Souji menghela napas. "Meski sudah kubilang jangan tetap saja akan dia lakukan. Kalau dia tahu bahayanya baru dia berhenti..."
Naoto meninju pelan lengan suaminya itu. "Aku 'kan sudah menuruti permintaanmu untuk tidak melakukan pekerjaan lapangan," gerutunya.
Mereka semua tertawa melihat ekspresi detektif wanita itu. Yukiko melihat ke arah jam dinding dan berkata, "Oh, sudah hampir waktunya pesta. Bagaimana kalau kita kembali ke kabin masing-masing untuk bersiap-siap?"
"Hmmm tentu saja. Kalau begitu, ayo kita cari anak-anak," usul Kanji, diikuti anggukan teman-temannya. Pria bertubuh tinggi itu menoleh ke arah pasangan jaksa-detektif. "Kalian mau ikut?"
"Oh tidak...kurasa kami akan minta Metis untuk mengantarkan Akira ke sini," sahut pria berambut keperakan itu.
Stay high, wasuretetayo…konnani sukitootta sky blue—
"Metis, sms tuh…"
"Oh ya," Metis meraih ponselnya dan melihat pesan yang baru saja diterimanya. "Dari Souji-ojisan...katanya kita disuruh kembali ke kabin bersama Akira, soalnya sudah hampir waktunya pesta."
"Hnnn," Chijiro menyeruput habis espresso-nya dan bangkit dari kursinya. "Well, tunggu apalagi? Ayo kita cari anak itu."
Gadis berambut hitam itu tersenyum dan menghabiskan rose tea-nya sebelum bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan, mengikuti pacarnya. Begitu keluar, keduanya bisa melihat Yuki dan Himeka berdiri di dekat pot tanaman di ujung koridor, seperti sedang menunggu seseorang.
"Hei anak-anak, sudah selesai mainnya?" tanya pemuda berambut biru itu.
Bocah berambut hitam itu menggeleng pelan. "Belum. Jun masih mencari Akira-chan," jelasnya singkat.
Kedua remaja itu akhirnya memutuskan untuk menunggu bersama kedua anak kecil itu di sana. Tapi setelah 15 menit baru Jun muncul sendirian dan menghampiri senior serta teman sepermainannya di sana.
"Kenapa lama? Mana Akira-chan?" tanya Metis.
"Itu dia masalahnya. Aku tidak bisa menemukan Akira-chan di mana-mana!" gerutu Jun.
"A-apa!?"
Sementara teman-temannya sibuk mencarinya, Akira tetap merasa aman bersembunyi di tempat yang ia pikir tidak mungkin akan ditemukan. Meskipun tempat itu gelap dan agak sempit, bocah itu tetap bertahan untuk tidak keluar, meski ia berpikir Jun butuh waktu yang lama untuk menemukan lokasi keberadaannya. Bocah itu tersenyum geli. Ia cukup pintar mencari tempat bersembunyi seperti ini.
"Hmm," Akira melirik jam tangannya. "Lama juga ya...Akira jadi bosan."
Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu dibuka. Bocah itu melirik melalui celah di persembunyiannya. Ada seseorang tak dikenal memasuki ruangan itu, dan ia berjalan mendekati lokasi Akira berada sekarang. Dalam sekejap, 'pintu masuk' dari tempat persembunyian anak itu dibuka oleh si orang tak dikenal, dan mereka berdua terkejut sambil meneriakkan pertanyaan yang sama.
"Si-siapa kamu!?"
Di lain tempat, Yuji berlari kecil di sepanjang koridor kapal, berusaha mencari ayahnya yang ia yakin sedang berada bersama (calon) ibu tirinya itu. Pemuda berambut cokelat itu akhirnya menemukan Ryoji dan Elizabeth berjalan keluar dari kabin mereka.
"Ayah! Di sini rupanya!" ia menghampiri ayahnya yang selalu tampak awet muda itu. "Ayah, aku harus bicara dengan Ayah, sekarang."
"Hm? Bicara denganku? Well, baiklah, tapi..." pria berkulit pucat itu menarik putranya sendiri dan mendorongnya masuk ke kabin. "Mandi dan ganti baju dulu sana! Sebentar lagi acaranya dimulai. Tidak pantas kau berkeliaran dengan bau begitu, apalagi penampilanmu seperti itu. Cepat!"
"A-ayah! Hei!!"
Dek atas.
Keempat orang dewasa yang sedaritadi menghabiskan waktu menghibur Yukari itu kini sudah mengganti topik pembicaraan dengan tema yang lebih santai. Seperti pekerjaan, anak, dan juga sedikit nostalgia masa lalu. Wanita ahli kyudo itu kini juga terlihat tidak mempermasalahkan kehadiran mantan suaminya itu lagi, membuat Mitsuru, Minato, dan Aigis berlega ria.
"Hei, kalian masih di sini?"
Mereka menoleh dan menemukan Akihiko dan seorang pemuda seumuran Yuji menghampiri mereka di dek atas. Keduanya sudah lengkap dengan pakaian semi-formal yang terlihat berkelas—jelas tampak bahwa semuanya dibeli oleh Mitsuru sendiri. Wanita berambut merah itu tertawa kecil dan menghampiri suaminya itu, mengecup pipinya sedikit.
"Kau terlihat keren, Akihiko," komentar Minato setengah bercanda.
"Ya, terlihat lebih serius," tambah Yukari, membuat Aigis, Minato, dan pemuda berambut merah yang datang bersama Akihiko tertawa geli.
"Hei, hei...jangan begitu. Aku sudah memilihkannya dengan susah payah," hardik Mitsuru.
"Yeah, kau menghabiskan waktu seharian memilihkannya, Bu," ujar pemuda itu. Merasa dipelototi oleh kedua orang tuanya, pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah ketiga tamu sekaligus sahabat orang tuanya itu. "Apa kabar? Kalian pasti pasangan Arisato, 'kan? Aku Kirijo Karen, putra sulung Kirijo Mitsuru. Salam kenal."
"Wah, jadi kau yang bernama Karen?" wanita berambut pirang itu tampak terkejut. "Aku pikir Karen itu nama perempuan?"
"Well, dia memang terlihat seperti perempuan 'kan? Ouch!" Akihiko mengerang kesakitan begitu ia menyelesaikan kaliamatnya. Pasalnya, sebelah kakinya diinjak oleh putranya itu. "Hei, aku Cuma bercanda!"
Ketiga sahabat yang menonton aksi keluarga itu hanya tertawa. Namun begitu melihat pandangan 'diam-atau-kueksekusi-kalian' andalan Mitsuru, mereka terdiam. "Ahem...apa yang kau lakukan di sini, Akihiko? Kupikir tadi kau bilang mau berlatih di ruang fitness saja sampai waktunya acara dimulai?" tanyanya.
"Yeah. Dan ini 'kan sudah hampir waktunya?"
Presdir wanita itu mengernyit heran dan melihat jamnya. Ia menepuk jidatnya sendiri begitu sadar sudah jam berapa sekarang. "Ya ampun! Aku harus segera bersiap! Kalian juga sebaiknya siap-siap," tukas Mitsuru kepada ketiga mantan juniornya itu.
"Oke, oke," sahut Yukari enteng sambil berjalan menuruni tangga, menuju kabin.
Minato dan Aigis juga mengikuti wanita itu turun ke kabin penumpang, meninggalkan Akihiko dan Karen di dek membicarakan sesuatu, sementara Mitsuru sudah pergi ke kabin khusus untuknya. Di perjalanan menuju kamar masing-masing, mereka bisa melihat Souji bersama teman-temannya berkumpul di koridor menuju ruang santai. Penasaran, ketiganya menghampiri kerumunan itu.
"Hei, kenapa kalian?" tanya pria berwajah mengantuk itu.
Naoto, yang langsung mengenali suara kakak semata wayangnya itu, segera menoleh untuk melihat Minato, Aigis, dan Yukari menghampiri mereka. "Oniisan! Apa kau melihat Akira?" tanyanya panik.
"Akira-chan? Tidak...kami sedaritadi ada di dek atas," sahut Aigis tenang. "Memangnya ada apa?"
"Akira menghilang!" jelas Souji singkat.
"Apa?!"
Kembali ke lokasi di mana Akira bersembunyi.
Saat ini bocah itu masih bertatapan langsung dengan orang yang menemukannya. Lebih lengkapanya, gadis cilik berambut keabuan yang menemukannya di kloset di dalam kamarnya. Mereka saling pandang, tidak mengerti kenapa satu sama lain bisa berada di kamar itu.
"Err...siapa kau?" tanya Akira bingung.
"Sebelum kau menanyakan nama seseorang, sebaiknya kau memberitahu namamu dulu!" tukas gadis kecil itu ketus.
"Oh iya...maaf. Seta Akira, putra sulung Seta Souji dan Shirogane Naoto. Salam kenal!"
"...Aku Kirijo Miki, putri bungsu Kirijo Mitsuru dan Sanada Akihiko. Apa yang kau lakukan di dalam lemari baju di kamarku?"
"Kamarmu? Maaf, Akira tidak tahu. Akira tadi main petak umpet sama Jun, Yuki-chan, dan Himeka-chan. Akira pikir ini tempat yang bagus, jadi Akira sembunyi di sini deh..."
Miki memandangi Akira dari atas ke bawah. Dari gaya berpakaiannya, bocah itu juga penumpang kapal ini, sekaligus peserta pesta. Dan lagi, dari nama keluarganya, ia tahu bahwa dia anak dari teman orang tuanya.
"Sebentar lagi waktunya pesta. Kau tidak kembali ke tempat orang tuamu?" tanya gadis cilik itu.
"Tapi...nanti kalau Jun menemukan Akira, Akira bisa kalah..." jelas Akira.
Miki nyaris menbenturkan jidatnya ke tembok mendengar alasan konyol itu. Bocah itu masih sempat saja memikirkan kemungkinan menang-kalah di saat seperti ini. Kalau saja ia tidak sabaran, mungkin saja ia sudah menampar wajah anak tidak jelas itu supaya dia sadar kalau ini bukan waktunya untuk main-main.
"Jadi kamu mau apa? Aku harus ganti baju, tahu," gerutu gadis berambut perak menunjuk ke arah pintu toilet di dalam ruangan itu. "Ganti baju saja di situ."
"Kenapa aku harus menuruti permintaanmu? Ini 'kan kamarku!"
Dan pembicaraan terhenti tanpa solusi. Keduanya kebingungan memikirkan jalan keluar, yang sebenarnya simpel sekali: Akira hanya harus keluar dan membiarkan dirinya mengaku kalah dan masalah selesai. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan dirinya kalah semudah itu, dan hal itu membuatnya keras kepala untuk tetap bertahan di dalam kamar itu.
"Hmmm...bagaimana kalau begini," Miki berjalan dan memeriksa klosetnya. Tak lama, ia menarik sebuah gaun berwarna biru tua keluar.
"Pakai ini dan keluar sambil menyamar, supaya kau tidak kalah."
"Pakai baju perempuan?" Akira mengernyit heran.
"Ya. Lagipula wajahmu mirip perempuan, jadi tidak masalah, 'kan?"
Bocah berambut biru itu berpikir sebentar. "Uhm...baiklah."
"Well, kalau begitu...cepat ganti!"
Yuji berjalan keluar dari kamarnya sambil merapikan rambutnya yang basah terkena air shower. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan semi-tuxedo yang sudah disiapkan Ryoji untuknya. Sekarang dia harus segera menemukan ayahnya itu lagi dan memulai pembicaraan serius.
Namun, belum sempat dia berjalan mencari ayahnya yang playboy itu, ia mendengar derap langkah kaki di koridor. Penasaran, ia menghampiri asal suara dan melihat Yukari berlari ke arahnya. Wanita berambut cokelat itu berhenti sejenak. Matanya membelalak kaget melihat Yuji.
"Err...hai, Ibu," sapa pemuda itu canggung.
"Oh...ternyata kau, Yuji," ketua asosiasi kyudo itu menghela nafas lega. "Hei, apa kau lihat Akira? Kau tahu, putra Naoto-san dan Souji-san—sepupu kecilnya Metis."
"Huh? Akira? Kupikir dia sedang bermain bersama teman-temannya?"
"Ya. Mereka bermain petak umpet. Sialnya anak itu terlalu pintar bersembunyi dan sekarang teman-temannya tidak bisa menemukannya."
"Oh begitu...akan kucoba cari dia."
"Tolong ya. Kalau sudah, hubungi aku. Nomorku masih sama dengan yang dulu. Sudah ya!"
Yukari melanjutkan berlari menyusuri koridor, berusaha mencari anak temannya itu. Yuji masih bengong melihatnya. Kemudian ia baru sadar bahwa ia melewatkan kesempatan untuk meminta ibunya itu untuk kembali pada ayahnya. Setelah menjitak kepalanya sendiri, pemuda itu memutuskan untuk mulai mencari Akira.
Di tempat lain, Akihiko dan Karen mulai lelah menunggu tamu-tamu mereka yang tidak lekas tiba di tempat pesta. Penasaran, mereka memutuskan untuk menemui para undangan di kabin mereka. Namun baru saja mereka tiba di koridor, mereka bisa melihat Junpei dan Fuuka berlarian menghampiri ayah dan anak itu.
"Hei, kenapa lama sekali?" tanya pria berambut putih abu-abu itu.
"Err...maaf. Kami harus mencari Akira-chan..." ujar Fuuka.
"Akira-chan? Maksudnya...sepupunya Metis?" tanya Karen heran.
"Yeah. Bocah itu menghilang ketika main petak umpet. Kurasa dia terlalu pintar bersembunyi," gerutu Junpei. "Hei, bisa kalian berdua tolong kami mencarinya? Semuanya juga ikut mencari anak itu..."
"Hm...baiklah, apa boleh buat," Akihiko mengangkat bahunya. "Karen, sebaiknya kau cari Miki saja dan suruh dia cepat ganti baju."
"Baik, Ayah," pemuda berambut merah itu mengangguk.
Setelah ketiga orang dewasa itu pergi untuk melanjutkan pencarian, Karen berjalan menuju kabin tempat adiknya, Miki, beristirahat. Ia mengetuk pintu kabin itu pelan, sebelum suara gadis kecil itu menyahut.
"Siapa?"
"Ini aku."
"Oh...niisan? Sebentar..."
Tak lama, pintu terbuka dan menunjukkan seorang gadis kecil dengan rambut keperakan, lengkap dengan gaun cantik berwarna putih gading yang cukup frilly dan membuatnya tampak anggun. Karen tersenyum dan berlutut di depan adik kecilnya itu.
"Sudah siap ke pesta?" tanyanya lembut.
"Yup," Miki mengangguk pelan. Ia menoleh sedikit ke dalam kamarnya, melihat ke arah sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. "Hei, kau sudah selesai, 'kan? Ayo keluar."
Karen mengangkat kepalnya, mencoba melihat dengan siapa adiknya itu berbicara. Dan betapa terkejutnya pemuda itu ketika melihat seorang anak kecil dengan gaun berwarna pink yang menutupi seluruh tubuhnya, serta bando dengan mawar pink yang menghiasi rambut biru tuanya. Ia bukan melongo karena terpesona atau apa, tapi karena ia tahu siapa anak itu.
"Akira-chan?" panggilnya setengah ragu.
"Eh? Niisan kenal Akira?" tanya adiknya heran.
"A-apa yang kau lakukan padanya, Miki!? Kenapa kau dandani seperti perempuan begitu?"
"Habisnya dia tidak mau keluar, sih, jadi terpaksa kubuat dia pakai baju itu, supaya dia bisa keluar tanpa ketahuan."
"Hah?"
"Iya. Akira 'kan lagi main petak umpet, nanti kalau Akira keluar bisa ketahuan sama Jun!" tambah Akira dengan lugunya.
Karen serasa ingin menampar pipinya sendiri. Benar-benar deh, anak-anak ini...
Setelah membawa Akira menemui orang tuanya, yang menyebabkan omelan dari Souji dan nasehat tiada henti dari Naoto, semua penumpang akhirnya selesai bersiap untuk pesta. Dek utama sudah di dekorasi menjadi lokasi pesta yang indah, dengan berbagai lampu gemerlap serta bermacam hidangan di atas meja panjang berselimut taplak meja putih cemerlang. Segalanya mencerminkan kesempurnaan yang hanya bisa dicapai oleh keluarga kaya macam Kirijo.
Para orang tua berbincang satu sama lain, menikmati kudapan dan minuman pesta yang disajikan sementara menikmati segarnya udara malam. Para bocah berkumpul, bermain-main di sekitar dek atas sambil tertawa riang. Para remaja juga asyik bercengkerama, menceritakan hal-hal yang menarik dan seru menurut masing-masing. Semuanya tampak menikmati perjalanan ini.
Namun tidak, tidak semuanya menikmati perjalanan ini.
Yuji masih bersikeras untuk membuat kedua orang tuanya rujuk lagi. Sekarang ia sedang mencari-cari ayahnya yang playboy itu dengan susah payah. Ia yakin Ryoji pasti bersama Elizabeth, tapi kedua orang itu tidak tampak batang hidungnya sejak terakhir kali ia melihat mereka berjalan bersama, setelah ia dipaksa untuk berganti pakaian pesta.
"Yuji?"
Pemuda berkulit pucat itu menoleh dan menemukan ibunya tampak anggun dalam longdress warna pink, warna favoritnya. Yuji berhenti untuk tersenyum, mengaggumi kecantikan Yukari.
"Hei, Ibu. Ibu terlihat cantik sekali malam ini," puji pemuda itu dengan tulus sambil melancarkan senyuman maut yang membuatnya jadi mirip sekali dengan ayahnya itu.
Wanita berambut cokelat susu itu hanya mengangkat bahunya sedikit. "Terima kasih. Kau juga terlihat tampan, seperti..." kalimat Yukari terputus. Ia menggelengkan kepalanya sedikit dan melanjutkan dengan senyum kecil, "...tidak apa. Lupakan saja."
Yuji tahu bahwa ibunya itu ingin berkata bahwa ia mirip ayahnya. Ia merasa setengah senang, setengah tidak. Ia merasa senang karena itu berarti ia cukup tampan, dan ia merasa sedih karena itu berarti ia bisa saja mewarisi sifat playboy ayahnya itu. Yah, memang dia agak womanizer juga, tapi itu bukan berarti dia akan mengkhianati perempuan yang ia suka.
"Kau sendirian? Tidak berkumpul bersama Metis dan yang lain?" tanya Yukari, memecah keheningan di antara mereka.
"Err...aku mencari Ayah," sahut anak semata wayangnya itu.
"Oh," ekspresi di wajah wanita itu semakin suram. "Well...ayahmu ada di dek atas, bersama ibu barumu itu."
Yuji mengernyit. "Ibu...berhenti memanggil Elizabeth-san dengan sebutan ibu baru. Aku tidak mau punya ibu tiri, dan Ibu tahu itu!" gerutunya kesal. "Lagipula, Ayah itu kenapa sih? Padahal dulu dia bilang tidak mau menikah lagi setelah kubilang aku tidak mau ada yang menggantikan Ibu!"
"Yuji...kurasa Ryoji juga merasa kesepian tidak ada yang menemaninya. Jadi, biarkan saja—"
"Tidak ada yang menemani?! Ibu, tiap hari ayah bekerja sebagai aktor itu 'kan selalu ketemu aktris-aktris cantik!"
"Ya, tapi maksud Ibu, tidak ada yang menemaninya dalam hal..." kalimat Yukari terputus lagi. "Ah, sudahlah. Yang jelas, biarkan saja ayahmu itu bahagia. Kau senang 'kan kalau dia senang?"
"Tidak, aku tidak senang," balas pemuda itu keras kepala. "Pokoknya, aku akan minta Ayah untuk membatalkan pernikahannya dengan Elizabeth-san, karena aku tahu, Ibu juga masih mengharapkan Ayah lagi!"
"Yuji!" Yukari baru saja akan menghentikan langkah anaknya itu, namun pemuda itu sudah berlari menuju dek atas kapal. Ia menghela napas berat. Apa aku memang masih mengharapkan Ryoji...?
Sementara, Akira dan yang lainnya berada di dekat tangga menuju dek atas. Ia, bersama Jun, Yuki, Himeka, dan Miki, berdiri melingkar sambil membawa sepiring kecil krim dari kue-kue yang ada di meja hidangan. Beberapa dari mereka wajahnya sudah penuh oleh krim. Ya, mereka bermain tebak-tebakan memakai hukuman, yaitu yang jika ditanya salah menebak maka wajahnya akan dicoret dengan krim kue.
"Kenapa nyamuk minum darah?" tanya Akira pada Miki.
"Err...karena...dia saudaranya vampir?" gadis berambut perak itu menjawab asal-asalan.
"Net not! Salah! Jawabannya, karena nyamuk bunyinya 'nguung', kalau dia minum bensin, nanti bunyinya 'brrrm'!" sahut bocah berambut biru itu, membuat ketiga sahabatnya tertawa.
"Miki-neechan kalah! Dapat hukuman!!" seru Himeka riang.
"Hohoho...bersiaplah, Kirijo-ojousama!" Jun menyeringai nakal.
Walhasil, gadis ningrat itu mendapatkan 4 coretan berbentuk aneh di sekitar wajahnya. Akira dan teman-temannya tertawa makin keras, hampir jatuh ke lantai untuk terguling-guling saking tak tahan melihat ekspresi di wajah Miki sekarang.
"Oh, aku kesaal! Aku berhenti!" gerutu gadis cilik itu, cemberut.
"Yah...jangan begitu, Miki-chi. Main lagi ya? Nanti kamu juga bisa mencoret wajah yang lainnya kok!" pinta Yuki.
"Wah, wah...kelihatannya kalian main seru sekali."
Kelima bocah itu menoleh. Mereka melihat ketiga remaja—Metis, Chijiro, dan Karen—menghampiri mereka. Ketiganya mendelik kaget mendapati wajah adik-adik mereka itu belepotan krim kue yang ada di tangan mereka.
"Ya ampun, Miki!" Karen berlutut di depan adiknya. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan melap semua krim di wajah Miki. "Kamu ini apa-apaan sih? Nanti kalau ketahuan Mama kamu bisa dimarahi!"
"Biar saja, Karen-niichan. Seru kok!" sahut Akira riang.
"Akira-chan, kamu nggak boleh begitu! Kamu ini 'kan baru dimarahi ayah ibumu, nanti kalau mereka melihatmu begini apa reaksi mereka, coba?" Metis ikut melap wajah adik sepupunya dengan sapu tangan miliknya. "Kalian juga, main yang biasa-biasa saja dong. Misalnya hompimpa atau engklek, gitu!"
"Hompimpa itu nggak seru," jawab Yuki, cemberut.
"Engklek itu mainan anak cewek," tambah Jun keras kepala.
"Ya sudah, main rumah-rumahan saja," usul Chijiro.
"Oh, oh! Himeka mau main rumah-rumahan!!" Himeka mengangkat tangannya girang. "Akira-niichan jadi Papa, Miki-neechan jadi Mama, Jun-niichan dan Yuki-niichan jadi kakak-kakak Himeka!"
Mendengar hal itu, Metis dan pacarnya tertawa terbahak-bahak. Akira mengernyit heran. Tak lama kemudian Jun dan Yuki juga ikut tertawa, meninggalkan Himeka, Miki, Karen dan Akira mengernyit heran.
"Apanya yang lucu?" tanya gadis berambut perak itu.
Yuki berusaha menghentikan tawanya, tapi percuma. Rupanya sedikit sifat ibunya itu telah menular padanya. Jun berlutut dan memukul-mukul lantai, masih tertawa. Metis berdeham sedikit, berhenti tertawa sejenak untuk memberikan jawabannya. "Ehm...tidak. Hanya saja...rasanya lucu saja, kalau Akira-chan berperan sebagai 'ayah' padahal Jun dan Yuki lebih tinggi darinya," jelasnya sebelum tertawa lagi.
Bocah berambut biru itu langsung cemberut dan melipat tangannya di depan dadanya. "Tidak lucu, Metis-neechan!" gerutunya.
Karen dan adiknya ikut tertawa, tapi gadis berambut emas di dekat mereka tetap bingung dengan reaksi anak-anak yang lebih tua darinya itu. Tak lama, ia melihat Yuji berlari ke arah mereka. "Oh...Yuji-niichan!" serunya riang. "Yuji-niichan!"
Pemuda berkulit pucat itu menyadari kehadiran teman-temannya di dekat tanggan menuju dek. Ia tersenyum dan mengangguk singkat namun terus berlari menaiki tangga, menuju dek atas. Spontan Metis dan yang lainnya bingung. Mereka menyusulnya ke dek atas dan melihat Yuji berhadapan dengan Ryoji dan Elizabeth, yang sejak pesta di mulai menikmati angin laut di sana.
"Hm? Ada apa, Yuji? Kenapa kau terlihat terengah-engah begitu?" tanya pria berambut hitam itu.
"Ayah, aku harus bicara. Penting," pinta pemuda itu tegas.
"Ya bicara saja."
Yuji menarik napas panjang dan menghembuskannya lagi. "Tolong batalkan pernikahan Ayah dengan Elizabeth-san."
Semua yang mendengar kalimat singkat, padat, dan tegas itu terkejut, kecuali Metis dan Chijiro. Keduanya tersenyum. Elizabeth memutuskan untuk tetap diam mendengarkan ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Ryoji menatap putra semata wayangnya itu dengan pandangan aneh—terlihat heran, namun seperti tahu bahwa suatu saat Yuji akan mengatakannya.
"Kenapa?" adalah satu-satunya pertanyaan yang diucapkan aktor paruh baya itu.
"Karena aku tidak mau punya ibu tiri," tukas pemuda berambut cokelat itu. "Ayah masih ingat 'kan? Ketika Ayah bercerai dengan Ibu dulu sekali, dan saat aku bilang tidak mau ibu baru, Ayah berjanji tidak akan menikahi wanita lain. Sekarang ayah membatalkan janji itu. Kenapa, Ayah? KENAPA!?"
Ryoji terdiam. Suasana menegang. Kelima bocah yang tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya juga ikut-ikutan serius mendengarkan. Tanpa mereka sadari, Yukari berjalan mendekati lokasi tersebut. Ia bisa melihat Yuji sedang menghadapi mantan suaminya sementara Elizabeth diam saja di sana.
"Itu karena...kau terlihat kesepian, Yuji."
"A-apa?" pemuda tanggung itu mengernyit heran. "Aku? Kesepian? Aku tidak merasa kesepian!"
Sang aktor menggeleng. "Tidak, kau memang terlihat kesepian semenjak Yukari pergi. Apalagi setelah kau tahu bahwa Metis itu sepupumu, kau semakin terlihat bosan dan kesepian..." jelasnya. "Kupikir, kalau ada seseorang di rumah, kau tidak akan kesepian lagi."
Yuji terdiam lama. "Ayah...salah," ujarnya. "Aku memang kesepian di rumah, tapi itu bukan berarti menjadikan Elizabeth-san sebagai pengganti Ibu bisa menghapuskan perasaan itu 'kan?"
"Yuji, mengertilah sedikit," Ryoji menghampiri putranya itu dan menepuk pundaknya. "Kamu satu-satunya anakku, harta berhargaku yang selalu membuatku teringat akan Yukari. Kalau kau bahagia, maka aku yakin ibumu itu akan bahagia juga."
"Tapi aku tidak bahagia, Ayah, karena—"
"Karena aku juga tidak bahagia, Ryoji."
Semuanya menoleh dan melihat Yukari di sana. Metis dan yang lainnya membuka jalan agar wanita itu bisa naik ke dek atas. Yuji tersenyum melihatnya, sementara Ryoji langsung gugup. Mantan istrinya itu mendengar pembicaraan mereka. Apa itu artinya...?
"Dasar lelaki bodoh," ujar Yukari kejam, membuat aktor yang womanizer itu serasa ditusuk paku. "Seenaknya sendiri. Kau pikir bisa membuat Yuji senang kalau kau tidak membicarakannya dulu dengannya? Dasar bodoh!"
"Betul itu, betul!" Yuji mengangguk setuju.
"Kalau kau memang tidak mau membuat Yuji kesepian, berhentilah sibuk dengan urusan aktingmu itu! Kalau kau lebih sering bergaul dengan orang lain, kapan kau bisa mengerti tentang anakmu sendiri?!"
"Benar sekali!"
"Selalu saja begitu! Tidak peduli pendapat orang lain, selalu bertindak menurut pemikiranmu sendiri! Dasar womanizer! Playboy cap kura-kura!"
"Er...be-benar..."
"Konyol! Egois! Sensitif! Gampang menyerah! Dingin! Mudah depresi!"
"Uh...I-Ibu...?"
"Apa, Yuji? Aku sedang memarahi ayahmu yang bodoh ini!"
"Kurasa sudah cukup, masalahnya...Ayah sudah benar-benar sakit luar dalam tuh," Yuji menunjuk ayahnya yang sekarang sedang berjongkok di pojokan sambil menggurat sesuatu di lantai. Aura gelap menyelimutinya. Semuanya sweatdrop.
Yukari menggelengkan kepalanya pasrah. Ia menghampiri Ryoji yang sudah tertekan dengan kata-katanya. "Tapi yah...meskipun kau punya banyak sisi jelek, kau punya satu sifat baik kok," katanya sambil berlutut di samping pria itu. "Yaitu kau selalu peduli pada orang lain. Aku suka itu."
"Yukari..." Ryoji menoleh. Ia menatap mantan istrinya itu dalam-dalam. "Maaf..."
"Untuk apa minta maaf?"
"Karena ketika kita masih bersama...aku sering tidak ada di rumah dan pergi main dengan wanita lain."
"Hmm...tidak apa. Aku sudah tahu itu memang sifatmu sejak SMA dulu. Tapi entah kenapa aku malah jatuh cinta padamu...perasaan yang aneh."
"Cinta memang pandang bulu," ujar pria berambut hitam itu, membuat Yukari tertawa. "...Kau tahu, Yukari? Aku masih menyukaimu."
Ketua asosiasi kyudo itu mengangguk. "Aku juga."
"Kalau pernikahanku dengan Elizabeth kubatalkan, kau mau kembali padaku?"
"...Dengan syarat kau tidak akan pergi dengan wanita lain lagi."
"Oke, oke..."
Yukari tersenyum. "Baiklah, aku mau," jawabnya sambil memeluk Ryoji. "Terima kasih, Ryoji..."
Ryoji mengangguk. Ia balas memeluk wanita itu. Yuji tersenyum lega. Akhirnya keluarganya utuh kembali. Ia merasa sedikit iba karena Elizabeth tidak jadi menikah ayahnya. Tapi ia tidak mengerti. Wanita itu diam saja melihatnya. Berarti dia tidak mencintainya dong?
"Yuji!"
Metis datang dari belakang dan melompat, memeluk sepupunya itu. Yuji nyaris jatuh terkena serangan tiba-tiba itu. Ia bisa melihat Chijiro, Karen, serta kelima bocah menghampirinya. "Selamat atas perjuanganmu! Aku tahu kau bisa melakukannya!" seru gadis berambut hitam itu.
"Hehe...terima kasih. Ini berkat saranmu juga, 'kan?" Yuji tersenyum senang.
Di sela tawa canda mereka menyelemati keberhasilan pemuda itu mempersatukan keluarganya lagi, Elizabeth berjalan menuju railing dek itu. Ia bisa melihat para orang dewasa masih berpesta di sana. Namun, Aigis tiba-tiba mendongak ke atas dan bertemu pandang dengan saudarinya itu. Kedua wanita berambut pirang itu tersenyum dan mengangguk.
"Mitsuru-san, kurasa ini waktunya," bisik Aigis sambil berjalan mendekati sang Presdir.
"Hmm...baiklah," Mitsuru mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah remote yang memiliki dua tombol. "Baiklah...saatnya pertunjukan utama!" gumamnya sambil menekan tombol pertama.
Tiba-tiba, kembang api melesat dari badan kapal menuju udara. Semua mata teralihkan pada langit malam. Kembang api itu akhirnya meledak dalam berbagai warna, menerangi langit gelap di atas perairan itu. Anak-anak terkesima melihatnya. Para pasangan tersenyum dan saling menggenggam tangan pasangan masing-masing, menikmati keindahan tersebut.
"Dan, satu lagi," wanita berambut merah itu menekan tombol terakhir.
Kembang api terakhir melesat ke langit, kemudian meledak dan memunculkan tulisan 'HAPPY ANNIVERSARY, RYOJI AND YUKARI' besar yang berpendar warna-warni. Ryoji dan Yukari terkesiap melihatnya. Elizabeth berbalik dan menghampiri pasangan yang tengah melongo ria di sana.
"Selamat hari pernikahan, Ryoji-san," ucapnya. "Kau suka?"
"Elizabeth...bagaimana kau...?" aktor paruh baya itu tak mampu berkata-kata.
"Bagaimana aku tahu?" wanita berambut pirang itu tersenyum. "Aku dengar dari Aigis, saudariku itu. Waktu ia tahu bahwa kau melamarku, dia menceritakan tentang Yukari-san padaku. Aku tahu kau masih mencintainya, makanya aku mengatur semua ini."
"Benarkah?" Yukari menatap putranya dengan tatapan tidak percaya, berpikir ia juga berkomplot dengan Elizabeth dari awal.
"Ah...Yuji-kun tidak tahu menahu soal ini. Tapi aku memang meminta Metis-san untuk membujuknya meminta kalian rujuk, kalau-kalau Yuji-kun memang tidak suka dengan rencana pernikahan kita berdua."
Metis hanya tertawa gugup melihat Yuji menatapnya jengkel, mengisyaratkan "kenapa kau tidak memberitahuku?!" Tapi belum sempat ia mengomelinya, mereka bisa mendengar riuh tepuk tangan dari dek bawah sementara kembang api kembali meluncur menghiasi langit malam itu.
"Selamat hari pernikahan, Ryoji!" seru Junpei.
"Kami turut berbahagia kalian bisa rujuk di hari pernikahan kalian!" tambah Akihiko.
"Hei, kenapa kalian tidak turun? Ayo kemari, supaya kami bisa memberi kalian selamat!" pinta Minato.
Ryoji tertawa dan menggandeng Yukari turun menemui sahabat-sahabat mereka. Metis juga mengajak Chijiro, Akira, serta teman-teman mereka yang lain turun dari dek supaya bisa ikut memberi selamat pada pasangan itu. Elizabeth menghela napas lega. Ketika ia akan turun dan bergabung dengan yang lainnya, Yuji menghentikannya.
"Elizabeth-san, maaf," ujarnya.
"Kenapa begitu, Yuji-kun? Bukankah kau senang mereka kembali? Seharusnya kau berterimakasih padaku," tukas wanita itu dingin.
"Yeah, kau benar. Tapi aku Cuma mau bilang maaf sudah merepotkan," Yuji nyengir lebar. Cengiran yang membuat semua orang merasa ia benar-benar mirip ayahnya. "Lain kali kalau kau ada masalah, bilang saja padaku. Aku ingin membalas budi baik ini."
Elizabeth tersenyum dan mengangguk. "Kau tidak perlu berasa berhutang budi, Yuji-kun, tapi terima kasih tawarannya."
"He-eh. Kalau begitu, ayo kita pesta!"
"Hehe...tentu."
A/n: I'm at loss of words...and ideas. Ide plot dalam review plis? OwO -dihajar karena maksa-
