Kazoku by Shara Sherenia
Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!
A/N: Jujur, mungkin alasanku telat mengupdet chapter ini bukan karena lack-of-ideas seperti biasa, tapi karena saja jijik. Masalahnya di sini ada si TG itu!!! Margareth!!! *ditendang Margareth* Dan jujur, saya ga suka sama nona Empress nan TG ntu. Kalo Lizzy (Elizabeth *ditimpuk sendal ma Elizabeth karena seenaknya nyingkat nama dia*) sih ku masih tahan (soalnya dia sama Ryoji sih! *dibantai*) tapi ini ada SouMa!? Noooo!!! *dihajar readers karena lebay* Ahem...bagi penggemar Margareth maaf!!! Enjoy reading~
Chapter 15: Mismatch
Malam ini adalah malam kedua dari sea trip yang diadakan oleh Mitsuru. Malam kemarin mereka sudah berpesta, tapi tidak cukup karena ada insiden hilangnya Akira dan juga perayaan rujuknya Ryoji dan Yukari. Jadi, malam ini mereka akan mengadakan pesta yang sesungguhnya, di mana lebih banyak makanan terhidang, lebih banyak dekorasi disiapkan, dan tentu saja lebih banyak sesi acara yang akan dilakukan.
"Papa, pesta dansa itu apa?"
Souji, yang sedang merapikan dasi putranya tersenyum. "Itu acara di mana banyak orang menari waltz bersama pasangannya masing-masing, sesuai dengan iringan musik serta mengenakan pakaian pesta. Acara seperti itu umum untuk kalangan atas seperti Kirijo-sama."
"Jadi nanti Akira harus menari?" tanya bocah berambut biru itu. Ayahnya hanya mengangguk sambil membetulkan jasnya. "Tapi nanti Akira menari dengan siapa?"
"Entahlah. Katanya pasangan dansanya akan ditentukan lewat undian. Papa lebih memilih berdansa dengan Mama sih..."
"Aku tidak pergi."
Keduanya menoleh dan melihat Naoto yang sedang berdiri di depan kaca, mengamati bayangan dirinya sendiri. Ia sudah mengenakan gaun pesta, tapi sepertinya ia tidak puas.
"Kenapa? Kau terlihat cantik," rayu Souji, membelai rambut istrinya itu.
"Rasanya aneh memakai gaun ini ketika aku sedang hamil," keluh wanita itu, memegangi perutnya yang membuncit. "Dan...aku akan sulit bergerak nantinya."
Pria berambut perak itu tertawa kecil. "Tidak apa. Tidak ada keharusan untuk ikut berdansa setelah pasangan dansanya terpilih 'kan? Kau bisa diam saja melihat bersama pasanganmu."
"Hh...kuharap begitu."
"Jadi, Mama ikut tidak?" Akira menarik pinggiran gaun ibunya itu.
Naoto menghela nafas dan tersenyum kecil. "Baik, baik...ayo kita pergi."
Kali ini pesta diadakan di hall tertutup di dalam kapal. Hall itu sendiri sudah didekorasi dengan cukup meriah, dengan hiasan emas dan kain merah, terlihat benar-benar elegan. Lantai dansa sudah disiapkan di tengah-tengah ruangan. Hidangan lezat terhidang di meja-meja di pinggir ruangan. Musisi yang entah sejak kapan didatangkan ke atas kapal mewah itu bersiap di tempat mereka, melatih sedikit lagu-lagu yang akan mereka mainkan.
Beberapa orang sudah datang dan menunggu di hall itu, antara lain keluarga Arisato, keluarga Iori, keluarga Mochizuki dan keluarga Hanamura. Akira langsung pergi dari sisi orang tuanya ketika melihat Jun melambai ke arahnya, mengajaknya main. Sementara Souji dan Naoto bergabung dengan para orang tua lainnya.
"Well, aku penasaran dengan ide Mitsuru kali ini," Junpei nyengir lebar.
"Memasangkan tiap orang dengan undian..." Minato menghela nafas panjang. "Kuharap aku tidak berpasangan dengan lelaki."
"Hah? Memangnya bisa ya?" Chie terlihat kaget.
"Bisa saja. Undiannya kan diacak..." sahut Fuuka.
"Hmph. Kenapa aku jadi ingat kejadian waktu dulu ya...? Aku jadi merinding," Yosuke melipat tangannya di dada.
Aigis menaikkan sebelah alisnya. "Kejadian waktu dulu?"
"Hmm...maksudmu King's Game?" tanya Souji, membuat sahabatnya itu bergidik mendengarnya. Sambil tertawa, ia menambahkan, "Ini 'kan bukan permainan hukuman. Tenang saja..."
Sementara pembicaraan para orang tua berlanjut dengan spekulasi apa yang akan terjadi malam ini, Jun dan Akira menikmati kudapan yang ada di dekat meja.
"Eh, Yuki dan Himeka-chan kemana sih?" tanya bocah berambut biru itu, menengok ke kanan dan ke kiri mencari dua sahabatnya yang lain.
"Pasti mereka masih sibuk didandani. Biasalah, anak cewek," sahut bocah berambut cokelat di sebelahnya, cuek.
"Hmm...kenapa sih anak cewek dandannya lama?"
"Yee...mana kutahu! Tapi mereka pasti sibuk pake bedak dan pilih-pilih baju yang bagus biar kelihatan cantik. Hh...kenapa mereka nggak tampil apa adanya aja ya? Heran deh!"
"Akira setuju!"
"Kenapa kalian nggak berhenti gosipin cewek?"
Keduanya menoleh dan melihat Yuki dan Himeka menghampiri mereka. Kedua gadis kecil itu baru datang bersama orang tua masing-masing dan segera mendatangi kedua teman mereka itu. Yuki terlihat cantik mengenakan gaun pink selutut dengan bahan mengembang sementara Himeka memakai gaun putih dengan banyak renda. Keduanya terlihat seperti boneka.
"Suka-suka kita dong!" Jun menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Ikh! Dasar!" Yuki cemberut. Ia melirik Akira yang sudah berpakaian rapi dan elegan. "Wow, kau terlihat keren, Akira-chan!"
Akira tersenyum riang dan mengangguk. "Terima kasih...Yuki dan Himeka-chan juga cantik!"
Normalnya, gadis kecil berambut pirang itu akan tersenyum lebar dan memeluk erat Akira-niichan-nya itu jika ia dipuji. Namun, entah kenapa, ia malah cemberut seperti yang dilakukan Yuki tadi. Melihat hal itu, ketiga bocah yang lebih tua darinya bertukar pandang keheranan.
"Himeka-chan? Kau kenapa?" Jun mengernyit heran.
"Tadi Papa juga bilang begitu ke Himeka," ujarnya, "tapi kata Mama masih lebih cantik Akira-niichan pas pakai gaun kemarin."
Mendengar penjelasan tersebut, Yuki dan Jun tertawa kencang. Akira menghela nafas panjang, sedikit kesal karena lagi-lagi dia disamakan dengan anak perempuan. "Tapi Himeka-chan benar-benar cantik kok...percaya deh," bujuknya pelan.
Himeka hanya mengangguk pelan mengiyakan. Beberapa saat kemudian, mereka sudah tertawa bersama lagi, membicarakan hal-hal konyol yang biasa menjadi topik pembicaraan anak-anak. Ruangan mulai dipenuhi oleh para undangan, dan tak terasa sudah tiba waktunya pesta dimulai.
Mitsuru berdiri di atas panggung kecil sementara Akihiko bergabung bersama teman-temannya. Di sisi lain, terlihat Karen dan Miki masing-masing membawa sebuah kotak yang diyakini berisi kertas undian untuk acara pesta dansa kali ini.
"Baiklah...kurasa sebaiknya kita langsung saja mulai mencabut undiannya. Untuk para lelaki, silahkan ambil kertas undian dari Karen, sementara untuk para wanita mengambil dari kotak yang dibawa oleh Miki," wanita berambut merah itu memberi perintah.
Sesuai titah sang Kirijo-sama, para pria berjalan ke arah pemuda berambut merah itu dan mencabut undian, sementara yang perempuan mengambil undian dari gadis kecil berambut perak itu. Setelah semua memegang kertas undian yang berisikan nomor, mereka memandang ke arah Mitsuru sekali lagi.
"Semuanya sudah mendapatkan kertas undian?" ia bertanya, yang dijawab dengan anggukan oleh semua peserta pesta. "Baiklah kalau begitu. Mari kita mulai dari yang mendapatkan undian nomor 1."
Yuji maju, mengangkat kertasnya yang memang bertuliskan angka 1. Kemudian, Rise juga ikut maju, menunjukkan kertas yang berangka sama. Keduanya nyengir dan mengedik genit satu sama lain sebelum akhirnya berjalan ke pinggir lantai dansa sesuai arahan Mitsuru.
"Lalu...nomor 2?"
Naoto melirik nomer yang tertera di kertasnya dan berjalan maju. Yang membuatnya lega adalah kakaknya sendiri juga mendapatkan nomor yang sama. Minato dan adiknya itu kemudian menyusul pasangan pertama berdiri di pinggir lantai dansa.
"Kemudian, nomor 3."
Yukiko menghela nafas panjang dan maju karena nomornya dipanggil. Tanpa disangka, Akihiko juga mendapatkan nomor yang sama. Pria berambut perak itu melempar tatapan memohon pada istrinya, yang dijawab dengan anggukan. Keduanya akhirnya berdiri di samping Yuji, Rise, Minato, dan Naoto.
"Dan...nomor 4."
Souji maju. Ia melihat sekelilingnya, ingin tahu siapa yang menjadi pasangannya. Namun, tanpa disangka-sangka, yang menjadi pasangannya adalah...
"Lama tidak berjumpa, Seta-san."
Sang jaksa berjengit mendengar suara dengan intonasi datar itu. Ia menoleh, dan memasang ekspresi kaku melihat wajah yang sudah lama tidak ia lihat itu. "...Margareth..." bisiknya gusar.
Margareth tersenyum. Ia menarik tangan Souji dan membawanya ke tepi lantai dansa, berdiri di samping Naoto dan Minato. Detektif wanita itu mengernyit heran sekaligus cemburu. Kenapa wanita itu bisa ada di sini, pikirnya gusar, tidak memedulikan suara Mitsuru yang kini memanggil pasangan nomor 5, yang tak lain dan tak bukan adalah Chie dan Teddie.
"Kau kesal?" tanya kakak tunggalnya itu, menyunggingkan senyum bersalah. "Aigis mengajak kedua kakaknya itu ikut—Elizabeth dan Margareth."
"Oh," Naoto mengalihkan pandangannya ke arah lain, asalkan ia tidak harus melihat Souji bersanding dengan Margareth. Sementara pasangan ke-6, yaitu Jun dan Himeka, menyusul pasangan lainnya berdiri di tepi lantai dansa. "Oniisan...tahu apa yang terjadi di antara kami, 'kan?"
Minato mengangguk. "Margareth itu mantannya Souji, 'kan?"
Sementara kakak beradik itu mengobrol, Souji menatap pasangan ke-7, Yosuke dan Metis, berdiri bersama mereka. Margareth tersenyum dan menggandeng lengan pria yang lebih muda darinya itu, membuatnya agak kesal.
"Margareth, lepas."
"Tidak," wanita itu tersenyum usil seraya memperhatikan pasangan ke-8, yaitu Ryoji dan Yuki. "Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin denganmu."
"Kenapa tidak dari kemarin saja?"
"Oh...aku mabuk laut. Hehe."
Souji menghela nafas panjang. "Margareth...aku sudah menikah."
"Aku tahu," Margareth menyeringai. "Namanya Akira, 'kan? Anak yang lucu, tapi mirip ibunya ya?" ia berkomentar, memperhatikan Akira yang digandeng Elizabeth sebagai pasangan ke-9.
"Kalau sudah tahu, lepaskan."
"Tidak."
Sementara Mitsuru terus memanggil pasangan berikutnya, Akira memperhatikan kedua orang tuanya yang tidak jadi berpasangan. Naoto tampak sedikit kesal, meskipun ekspresinya tetap datar. Souji masih sibuk berusaha melepaskan lengan Margareth yang menggelayut mesra padanya.
"Tante itu siapa ya?" bocah itu menggumam keheranan.
Elizabeth terkekeh geli. "Itu Margareth, kakakku dan Aigis," jelasnya, "Aku tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya dulu mereka pernah bertemu dan pernah berpacaran sebentar..."
"Itu benar," Nanako ikut-ikutan. Ia dan Kanji menjadi pasangan ke-10. "Kata Oniichan, sebelum dia pindah ke Inaba untuk menjalani masa SMU-nya, dia pernah bertemu Margareth-san dan...well, dia tidak menjelaskannya padaku secara detail, tapi aku tahu mereka pernah berhubungan dekat..."
"Oh..." Akira mengangguk mengerti. "Hmm...Akira tidak suka dengan Margareth-obasan."
Elizabeth hanya tertawa mendengarnya. Well, bukannya dia setuju dengan pendapat bocah itu, tapi ia memang tidak bisa menyangkal bahwa cukup banyak orang yang tidak suka pada kakaknya itu. Margareth, meskipun sudah menginjak usia 40 tahun lebih, tetap awet muda dan lumayan populer di kalangan pria yang menjadi temannya. Tapi sifatnya yang tidak mau menyerah untuk mendapatkan sesuatu kadang menyulitkan—dan sepertinya memang akan sulit membuatnya lepas dari Souji saat ini.
"Baiklah, kalian boleh berdansa sekarang. Selama musik bermain, aku akan menilai pasangan mana yang pantas mendapatkan," Mitsuru mengambil sesuatu dari kantongnya, dan ternyata benda itu adalah dua lembar tiket, "tiket perjalanan ke Hawaii untuk pasangan, lengkap dengan reservasi di hotel bintang 5 yang seluruhnya dibiayai oleh Kirijo Corp.!"
Para peserta bertepuk tangan riuh. Tiket perjalanan ke Hawaii memang bisa dibeli dengan mudah, tapi reservasi di hotel bintang 5 itu benar-benar mewah. Dan, kalau bisa menikmati semua itu dengan biaya orang lain, mengapa tidak? Para pasangan turun di lantai dansa, dan mereka mulai berdansa mengikuti alunan musik.
"Mau dansa?" tanya Minato, mengulurkan tangannya.
Naoto terdiam. Ia sedang mengamati Souji yang berhasil dipaksa Margareth untuk turun ke lantai dansa dan kini mereka berdua tengah berdansa di dekat pasangan Aigis-Ken dan Yukari-Junpei. Ia mengangguk dan kakak-beradik itu akhirnya turun ke lantai dansa seperti pasangan-pasangan lainnya. Yang tetap tinggal di pinggir hanyalah Jun, Himeka, Elizabeth, Akira, Miki, dan Karen.
"Kau tidak mau berdansa?" tanya Miki, melirik teman-teman seusianya.
"Malas ah! Biar saja Ayah Ibu kita yang berdansa!" jelas Jun sambil memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Iya. Himeka juga capek habis main-main seharian," tambah gadis kecil berambut pirang disebelahnya riang.
"Akira tidak bisa dansa," jawab bocah berambut biru itu dengan senyum kecil. "Kalau Miki sendiri, kenapa tidak mengambil undian dan berdansa dengan pasangan?"
"Kata Mama tidak boleh. Aku dan Niisan harus mengawasi para pasangan lainnya juga," sahut gadis berambut perak itu.
"Oh sayang sekali..." Elizabeth tersenyum misterius, "Padahal kalau mungkin, aku ingin mengajakmu dansa, Karen-kun...hehe."
Karen tersenyum kikuk dan menjawab sambil tertawa, "Err...ya. Seandainya bisa, aku juga akan senang menjadi pasangan dansamu, Elizabeth-san."
Sementara Elizabeth dan Karen berbincang-bincang mengenai dekorasi ruangan malam ini, keempat anak kecil itu kembali memperhatikan para pasangan yang tengah menari di lantai dansa. Mitsuru juga ikut melihat tarian mereka dan memberikan penilaian secara rahasia. Tapi meskipun Akihiko ikut berpartisipasi di bawah sana, tidak berarti dia akan memenangkan suaminya itu. Sebagai juri ia harus adil dalam menilai.
Apa yang ada di pikiran keempat bocah di pinggir lantai dansa itu tidak sama dengan sang presdir. Mereka dengan ringannya berpikir: merepotkan. Yah, memang merepotkan, untuk memenangkan dua tiket perjalanan untuk pasangan ke Hawaii saja mereka harus mau berdansa dengan pasangan yang benar-benar...tidak diharapkan. Tapi siapa sih yang tidak mau pergi ke sana dengan gratis?
"Hei, kalau orang tua kalian mendapatkan tiket itu, kira-kira bagaimana?" tanya putri Kirijo itu tiba-tiba.
"Hmm? Akira tidak tahu," Akira mengangkat bahunya sedikit. "Tapi yang pasti mereka akan pakai untuk liburan ke Hawaii kan?"
"Yeah, memang. Terus...kalian mau dikemanakan?"
Sementara Himeka dan Akira berusaha mencerna maksud perkataan Miki, Jun menjawab, "Ya...paling aku dititipkan di tempat Yuki lagi. Biasalah."
"Hmmm...iya ya," Miki mengangguk mengerti. "Tapi apa menurut kalian tidak adil kalau kalian ditinggal begitu saja sementara mereka enak-enakan liburan kan? Aku sudah bilang pada Mama dan bilang bagaimana kalau hadiahnya diganti jadi liburan sekeluarga saja, tapi Mama tidak mau..."
Bocah berambut biru di dekatnya tertawa kecil, membuatnya mengernyit sedikit. "Ya itu sudah pasti," tukasnya. "Habisnya...sejak kita lahir, mereka pasti tidak pernah pergi berdua saja 'kan? Jadi, Akira yakin maksud Mitsuru-obasan pasti ingin memberikan mereka kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua saja."
Kalimat itu membuat Maki melongo. Begitu juga dengan Jun dan, meski tidak terlalu mengerti, Himeka. Akira tersenyum melihat reaksi teman-temannya itu dan kembali memperhatikan para pasangan sambil menambahkan, "Tapi aku tidak mau kalau misalnya Papa menang..."
"Kenapa begitu?" Himeka bertanya polos.
"Habisnya...nanti Margareth-obasan dapat tiket pergi ke Hawaii bersama Papa dong? Akira nggak mau! Papa Cuma boleh pergi sama Mama!"
Jun menyeringai. "Yeah...kurasa aku juga tidak mau orang tuaku pergi dengan pasangan lain."
Sementara para bocah melanjutkan pengamatan mereka, Souji dan Naoto jelas tampak tidak senang dengan Margareth yang sangat menikmati waktu dansa mereka. Minato dan Aigis, yang berdansa dengan pasangan masing-masing di dekat mereka, menaruh simpati tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk melepas wanita tua itu dari sang jaksa mantan pacarnya itu.
"Margareth...jangan terlalu nempel-nempel," pinta Souji, benar-benar merasa tidak enak karena ia bisa melihat istrinya berdansa dengan si abang di dekat mereka dan putra sulungnya juga mengamati mereka.
Tapi Margareth hanya tersenyum. "Apa kau malu karena diperhatikan istri dan putramu?"
"Tentu saja!"
"Heheh," wanita itu terkekeh geli. "Tidak apa 'kan? Ini Cuma permainan...dan akan segera berakhir setelah lagu berakhir, tentunya."
Souji menghela nafas panjang. Ia mencoba memberi isyarat pada teman-temannya yang ikut berdansa di sekitarnya. Yosuke, pria berambut cokelat itu hanya mengedik minta maaf karena ia juga sibuk memperhatikan langkahnya. Chie, ia terlalu sibuk mengurusi gerakan Teddie yang terlalu cepat dan berkesan buru-buru. Yukiko, dia terlalu menghayati musik dan dansa ini. Kanji dan Nanako juga sibuk berdansa. Rise...
'Rise!' Souji memanggilnya dengan isyarat mata, dan ditangkap dengan baik oleh sang aktris kawakan.
'Apa, Souji?' Rise balik bertanya.
'Bantu aku!'
'Hmm? Oh baiklah...nanti belikan aku Versace shade untuk hadiah ulang tahunku bulan depan ya...'
'Ya, ya. Mau Versace kek, Gucci kek, Armani kek, terserah. Cepatlah!'
'Oke!'
Rise memberitahukan rencananya pada Yuji, yang disambut dengan anggukan. Pasangan itu bergerak mendekati Souji dan Margareth. Niatnya, mereka akan bertukar pasangan dengan gerakan super cepat. Namun sayang sekali, rencana digagalkan karena tiba-tiba kapal berguncang, yang mengakibatkan para peserta dansa goyah keseimbangannya, musik terhenti, keempat bocah di pinggir lantai dansa nyaris berteriak panik, dan juga...
CHU!
...mendaratnya bibir Margareth di bibir Souji.
Naoto, yang jelas-jelas melihat adegan tersebut, tidak tahan lagi. Ia melepaskan pegangan Minato yang menjaga agar adiknya itu tidak jatuh dan kabur keluar dari aula dansa. Akira dan Elizabeth melongo melihatnya. Para peserta yang tidak menyadari kecelakaan tersebut agak panik, sementara Mitsuru mencoba mengontak kapten kapal untuk menanyakan apa yang terjadi. Souji sendiri terpaku sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi. Begitu otaknya sinkron dengan badannya lagi, ia buru-buru mendorong Margareth menjauh darinya.
"Kau...!" pria itu mendelik marah pada pasangan dansanya.
"Hei, itu kecelakaan! Jangan marah padaku!" sergah wanita itu.
Souji mengakui itu memang hal yang tidak disengaja. Kemudian, ia sadar bahwa Naoto sudah tidak ada di dekat Minato. "Minato, mana Naoto?" tanyanya tergesa-gesa.
"Keluar aula," sahut pria berwajah datar itu singkat.
Souji segera berlari keluar aula mencari istrinya itu, diikuti beberapa temannya yang juga khawatir—antara lain Rise, Kanji dan Nanako. Sementara suasana di aula masih agak kisruh karena terhentinya pesta dansa, Margareth berdiri menatap pintu menuju koridor yang dilalui Souji dan kawan-kawan tadi dengan tatapan kosong.
"Kakak."
Ia menoleh dan menemukan kedua adiknya, Elizabeth dan Aigis, melipat tangan di dada dan melotot ke arah wanita itu. Margareth nyengir tidak bersalah dan dengan ringannya bertanya, "Ada apa?"
"'Ada apa?'!!?" Aigis mengulang kalimat itu dengan nada gusar, "Kau bertanya 'ada apa?'!? Kau pikir hal ini tidak menyakiti perasaan Naoto-san?!"
"Iya! Kakak juga toleransi sedikit dong! Souji-san kan sudah punya keluarga! Kakak tidak usah berganjen ria dengannya! Kakak tidak punya hubungan lagi dengannya!" tambah Elizabeth, sama kesalnya.
"Memangnya salah kalau aku bermesraan dengan mantan pacarku?" tanya Margareth sinis. "Lagipula, aku tidak sengaja menciumnya! Itu 'kan Cuma kecelakaan!"
"Hei, sudah, sudah," Minato menarik kedua wanita pirang itu dari kakak sulung mereka. "Tidak ada gunanya memarahi Margareth-san. Kita harus tenang, dan—"
Terjadi guncangan sekali lagi. Himeka nyaris menangis ketakutan karena Papa Mama-nya tidak ada kalau saja Yuki dan Jun tidak buru-buru menenangkannya. Akihiko dan Karen segera berlari ke anjungan karena sepertinya si kapten kapal tidak mendengarkan panggilan dari Mitsuru.
"Ck!" Minato menahan agar Aigis tidak terjatuh. "Sekarang aku benar-benar khawatir pada Naoto..."
"...Mama?" Akira spontan menghampiri pamannya itu. "Memang Mama kenapa?"
"Kalau misalnya dia jatuh karena guncangan ini...bayinya bisa-bisa..."
Sebelum Minato bisa melanjutkan kalimatnya, bocah berambut biru itu keburu panik dan berlari keluar ruangan untuk ikut mencari ibunya.
"H-hei! Tunggu! Berbahaya keluar ruangan saat ini!" seru Miki. Tapi terlambat. "Owh...merepotkan sekali!"
Naoto duduk di atas kursi di salah satu koridor yang agak jauh dari aula dansa. Guncangan kedua tadi membuatnya kaget, tapi untungnya dia bisa berpegangan pada tembok agar tidak jatuh. Sekarang ia harus istirahat untuk menenangkan pikirannya dan juga mengistirahatkan tubuhnya.
"Phew...kenapa aku cemburu begitu?" ia menghela nafas panjang. "Kenapa aku...jadi merasa tidak percaya pada Souji...? Apa karena dia itu satu-satunya perempuan yang pernah dipacari Souji sebelum aku...?"
"Naoto!"
Detektif wanita itu tersentak dan menoleh. Ia melihat Souji dan beberapa teman-teman mereka berlari ke arahnya. Mereka semua terlihat cemas. Pria berambut abu-abu itu tersenyum lega melihat istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah...kau tidak apa-apa," bisiknya.
"Iya nih...kau membuat kami khawatir tahu! Apalagi guncangan kedua tadi!" omel Rise.
"Sudahlah, Rise...yang penting Naoto dan bayinya baik-baik saja," Kanji tersenyum.
"Tapi, sungguh, Naoto-neesan...jangan kabur tiba-tiba begitu lagi, ya?" pinta Nanako.
Naoto tersenyum. Ia merasa senang karena banyak orang yang mengkhawatirkan tentang kondisi tubuhnya. Tapi ia tetap merasa bersala karena sudah merasa cemburu pada suaminya sendiri, orang yang seharusnya sangat ia percaya. Untunglah mereka tidak harus berlama-lama di situ, karena Rise mengusulkan agar mereka semua kembali ke hall.
"Erm...Souji?" Souji menoleh mendengar Naoto memanggilnya. Wajahnya memerah karena benar-benar malu. "Erm...maaf, sudah lari tiba-tiba dan...merasa cemburu padamu."
Sang jaksa mengernyit heran, meskipun seringai jahil di wajahnya benar-benar tidak mengisyaratkan bahwa ia kebingungan dengan pernyataan istrinya itu. "Kenapa kau minta maaf karena merasa cemburu padaku?"
"Well, karena...itu artinya aku tidak terlalu percaya padamu...seharusnya aku lebih percaya kalau kau akan setia padaku, tapi..." kalimatnya terputus ketika mendengar pria itu tertawa. Kini giliran Naoto yang mengernyit keheranan. "Kenapa? Ada yang lucu?"
"Iya, ada," sahut Souji dengan senyum khasnya. "Kau meminta maaf padaku karena cemburu dan memberikan definisi yang salah tentang arti cemburu itu sendiri."
Karena sepertinya wanita itu tidak mengerti, ia menjelaskan, "Naoto...cemburu itu bukan tanda bahwa kau tidak terlalu percaya padaku, tapi karena kau terlalu sayang padaku dan tidak suka aku menjadi milik orang lain, makanya kau cemburu. Kau tidak suka aku ada di dekat Margareth, karena kau takut aku jadi miliknya lagi, dan kau jadi cemburu melihat kami."
"Oh," Naoto mengangguk mengerti.
"Tapi err...seharusnya aku yang minta maaf," ujar Souji. "Seandainya aku lebih tegas memintanya untuk menjauh dariku, pasti hal seperti tadi tidak akan terjadi...maaf."
Wanita berambut biru itu tersenyum dan menggeleng. "Bukan masalah."
Pasangan itu tertawa kecil. Rise dan yang lainnya sudah berada terlalu jauh di depan, meninggalkan mereka. Mungkin mereka berniat memberikan sedikit waktu senggang untuk sepasang suami istri itu. Dan Souji memang paling tahu cara memanfaatkan kesempatan. Dengan tatapan magnetisnya, ia sukses membuat suasana memasuki mode romantis dan menarik Naoto dalam dekapannya. Dalam hitungan ketiga, mereka akan berciuman. Satu...dua...ti—
"Mama!"
...dan adegan gagal.
Naoto menarik mundur dirinya dari pelukan suaminya itu secara refleks, seperti biasa. Ia dan Souji menoleh ke asal suara, dan bisa melihat Akira berdiri di dekat koridor, dengan tangan Nanako menahan mulut dan gerakan bocah satu itu. Miki, yang pikirannya lebih dewasa dari temannya itu, terlihat memerah karena ia tahu apa yang akan terjadi tadi kalau saja teriakan Akira tidak merusak suasana. Di samping itu, bisa dilihat Rise dan Kanji nyengir tidak bersalah. Rupanya mereka semua memang sudah mengintip daritadi.
"Kalian ini...kebiasaan ya," Souji menghela nafas panjang, heran dengan kelakuan ketiga orang dewasa itu.
"Ehe...biarin! Kan dulu kau juga sering mengajak kami mengintip kalau misalnya Yosuke kencan dengan Chie, atau kalau Yukiko berduaan dengan Teddie!" sergah Rise.
"Hh...Akira-chan nakal! Akira-chan tidak boleh merusak suasana begitu!" hardik Nanako.
"Tapi, Akira 'kan Cuma mau ketemu Mama!" sahut Akira begitu ia dilepas oleh bibinya itu. "Mama tidak apa-apa 'kan?"
"Tidak apa-apa," jawab Naoto singkat. Ia bisa merasakan pipinya merona merah karena hampir saja tertangkap basah akan bermesraan dengan suaminya itu, bukan hanya di depan anaknya sendiri, tapi juga di depan ketiga teman dan satu lagi anak kecil. "Err...ayo kita kembali ke aula dansa!"
Semuanya mengangguk setuju. Tapi, selagi mereka semua memunggungi pasangan itu, Souji memanfaatkan kesempatan untuk mendaratkan satu kecupan manis di pipi istrinya, yang dengan sukses membuat wajahnya berubah semerah rambut sang aktris di depan mereka. Dengan suara pelan, ia berbisik di telinga Naoto,
"...love you."
"Baiklah...pemenang dari acara memperebutkan tiket perjalanan ke Hawaii atas pembiayaan dari Kirijo Corp., jatuh kepada..." Mitsuru berhenti sejenak untuk menambahkan ketegangan, sementara musik perkusi yang dimainkan musisi yang ada di dekatnya juga ikut menggegerkan suasana. Ia akhirnya membacakan nama pasangan dengan lantang, yaitu: "Fuuka dan Chijiro!"
Semua orang bertepuk tangan menyelamati pasangan ibu dan anak itu. Mereka berdua menerima tiket tersebut, dan Chijiro dengan baik hati menyerahkan tiketnya pada Junpei, supaya ayah ibunya bisa menikmati perjalanan ke Hawaii itu bersama.
"Well, dansa mereka memang bagus sih tadi..." komentar Souji sambil bertepuk tangan.
"Kau masih sempat memperhatikan mereka?" Naoto terdengar agak kaget mengetahuinya.
"Yeah, waktu aku mencari bantuan agar bisa menjauhkan Margareth dariku..."
"Oh..."
"...Seta-san?"
Pasangan suami istri itu menoleh dan melihat Margareth berdiri di belakang mereka. Akira, yang masih agak kesal dengan peristiwa tadi, cemberut melihat wanita itu akan berbicara dengan ayahnya. Untungnya ia sedang menikmati sepotong shortcake bersama teman-temannya, jadi ia tidak bisa marah pada wanita itu.
"Ada apa?" tanya Souji angkuh.
Margareth agak sakit hati melihat perlakuan itu, tapi ia tahu bahwa ia pantas menerimanya. "Maafkan aku atas kejadian tadi," ujarnya sambil membungkuk sedikit, tanda meminta maaf. "Memang itu Cuma kecelakaan, tapi kurasa kalau aku tidak terlalu dekat-dekat denganmu, hal seperti itu tidak akan terjadi."
"Sudahlah, Margareth. Kami sudah tidak memikirkan hal itu lagi."
"Sungguh?"
"Ya," sahut Naoto ringan. "Aku juga minta maaf karena aku merasa cemburu, padahal kau Cuma main-main saja."
Wanita yang lebih tua itu menyeringai. "Ya, aku hanya main-main...hey, katakan, kalau putramu sudah lebih dewasa, boleh kudekati?" tanyanya menggoda, setengah bercanda dan setengah serius.
"Jangan harap," tukas Souji, mulai kesal lagi dengan sikap Margareth. "Lagipula, kalau dia sudah beranjak dewasa, bukannya itu berarti kau sudah jadi nenek-nenek?"
"Hmm? Kau meremehkan aku rupanya? Meskipun aku lebih tua darimu, tapi aku terlihat masih muda sekali, 'kan? Hmm? Kurasa aku juga tidak akan terlihat tambah tua 10 tahun lagi, jadi tenang saja...putramu akan kujaga baik-baik."
"Oh, kuharap kau tidak serius," Naoto memotong kalimatnya dengan sedikit gusar, "Karena Akira sudah punya banyak teman perempuan yang lebih pantas untuknya!"
Margareth tertawa. "Aku tahu, aku tahu. Kalian memang enak untuk digoda," ujarnya sambil melirik bocah yang dimaksud, yang sedang menikmati kudapan dengan teman-temannya. "Tapi...menurutmu siapa yang pantas? Apa gadis kecil berambut emas itu, atau yang berambut hitam, atau malah si putri Kirijo itu?"
"E-eh? Entahlah...kurasa Himeka-chan pilihan yang bagus...tapi Yuki-chan juga anak baik, dan Miki-chan..."
"Hei, hei...kenapa kalian berdua malah membicarakan hal yang tidak-tidak?"
A/n: lagi-lagi closurenya ga enak! Dan cara penyampaiannya konyol, betul tidak? *disorakin reader, dilempar sepatu* Tapi memang agak bingung milih yang mana diantara Himeka, Yuki, dan Miki untuk jadi pacar Akira *dihajar Souji n Naoto karena kejauhan mikir* Sekali lagi, saya minta maaf kalau ada fans Margareth yang tersinggung... *sujud ampun* Err...review?? :D
