Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Silahkan gebukin saya karena telat mengupdate cerita ini *langsung dilemparin kacang, sepatu, bata, bakiak, buku, vas, dll* saya kehilangan semangat untuk menulis karena sudah bosan main Persona dan malah addicted sama Ar Tonelico *digiles* tapi yah...yah akhirnya saya menemukan semangat untuk melanjutkannya lagi XD Eniwei...enjoy reading!


Chapter 16: Incident

Pagi yang tenang kembali menyambut keluarga Seta hari itu. Souji, seperti biasa, bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan. Kemudian Akira bangun. Setelah mencuci wajah dan berganti pakaian, ia akan menyelinap ke kamar orang tuanya dan membangunkan ibunya yang masih tidur pulas di atas ranjang setelah kemarin seharian bekerja memeras otak, menyelesaikan berbagai macam kasus ringan.

"Mama...bangun, sudah pagi," ujarnya lembut, mengguncang sedikit tubuh wanita muda itu.

Mata biru itu terbuka perlahan. Naoto tersenyum begitu melihat dirinya-versi-kecil berdiri di dekat ranjang dengan cengiran lebar. "...Met pagi, Akira..."

"Pagi, Mama! Ayo bangun, Papa sudah bikin Pancake!"

"Hmmm...iya..."

Maka wanita itu akan diseret keluar oleh putranya itu dan disambut lagi oleh senyum khas suaminya. "Pagi, Naoto," sapa Souji seraya mendekatinya. Ia mengecup pipinya lembut dan mengelus perut Naoto yang semakin hari semakin membuncit. "Pagi, sayang."

Wanita berambut biru itu tertawa kecil. "Oh iya...Akira lupa bilang!" tukas bocah di samping pasangan itu. Ia berbalik dan memeluk perut ibunya, membisikan kalimat riang, "Selamat pagi, adik bayi!"

Souji dan Naoto tertawa. Mereka semua duduk mengelilingi meja makan dan menikmati sarapan buatan sang kepala keluarga. Ditemani oleh suara pembawa acara berita pagi di televisi, mereka mengobrol ringan.

"Eh, Papa...hari ini 'kan libur, jadi ayo kita ke taman bermain!" pinta Akira riang.

"Hmm...taman bermain, ya...? Boleh saja," Souji tersenyum. Ia menoleh ke arah Naoto. "Tidak ada kasus untuk diselesaikan?"

Sang detektif wanita. "Entahlah. Aku belum mendengar bunyi pesan sih..."

Baru saja ia berkata seperti itu, ponselnya yang diletakkan di meja kecil di dekat sana berbunyi, menandakan pesan masuk. Akira spontan cemberut melihat Naoto membaca pesan tersebut. Bocah itu hapal sekali bunyi ringtone ponsel milik ibunya itu, dan melodi Opening Act khusus di set untuk menandakan semua pesan dan panggilan dari Ken, yang sejak beberapa minggu yang lalu sudah menjadi semacam asisten Naoto.

"Apa kata Ken-ojisan?" tanya Akira dengan nada datar.

"Ada kasus pembunuhan di Karuizawa. Katanya ada sangkut pautnya dengan harta warisan..." jelas sang ibu. Ia tersenyum jenaka ketika melihat ekspresi tidak suka di wajah putra sulungnya itu. "Tenang saja. Mama akan selesaikan dengan cepat, dan nanti siang kita bisa main ke theme park sama-sama, bagaimana?"

Mendengar tawaran itu, Akira tersenyum dan mengangguk riang. "Iya! Akira setuju!"

"Kalau begitu, cepat selesaikan sarapanmu. Biar kusiapkan pakaian dinasmu," ujar Souji sambil beranjak dari meja makan.

"Baik, baik..."


Tak berapa lama setelah sesi sarapan bersama selesai dan Naoto juga sudah selesai berganti baju, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Mobil Ken. Sang pengacara memang cukup sering meminjam bantuan 'kakak ipar'nya itu jika menghadapi kasus pembunuhan atau kasus-kasus yang terlalu rumit untuk diselesaikan sendiri, dan ia selalu datang untuk menjemput sang detektif jika ia sudah menerima persetujuan.

"Oke...Akira, tunggu dengan sabar dengan Papa ya?" pinta Naoto sambil mengecup lembut dahi bocah itu.

"Oke deh, Mama!" sahut Akira riang, memberi hormat ala prajurit.

Setelah melihat mobil Ken melaju pergi meninggalkan daerah perumahan itu, Souji dan Akira kembali masuk ke dalam rumah. Belum sempat mereka duduk, telepon rumah itu sudah berbunyi. Bocah berambut biru itu langsung berlari untuk menjawab panggilan itu.

"Halo? Ini kediaman Seta!"

"Oh, Akira-chan?"

Akira terdiam sejenak untuk mengingat suara siapa itu. "Oh, Yosuke-ojisan!"

"Yap, ini aku," sahut Yosuke dari ujung telepon satunya. "Hei, mana Papa-mu? Apa dia masih tidur karena ini hari libur?"

"Papa sudah bangun kok...sebentar."

Souji meraih ganggang telepon dan menggantikan putranya berbicara pada sahabat lamanya itu. "Ini aku, Yosuke. Tumben kau menelponku pagi-pagi begini. Ada apa?"

"Ah tidak...aku hanya berpikir untuk mengajak kalian menikmati hari Minggu bersama. Lagipula, Yuki sedang berkunjung ke sini...jadi siapa tahu Akira ingin bermain bersama teman-temannya."

"Hmmm...aku sih tidak keberatan. Tapi nanti siang aku sudah janji untuk mengajak Naoto dan Akira ke taman hiburan, meskipun Naoto sedang pergi bertugas..."

"Tidak apa. Datang saja ke sini, dan kau bisa segera pulang kalau Naoto sudah menyelesaikan kasusnya."

"Sebentar, biar kutanya dia dulu," Souji menutup mulut teleponnya dan menoleh ke arah Akira yang masih berdiri di sampingnya. "Yosuke bilang Yuki sedang berkunjung, jadi dia bertanya apa kamu mau main ke tempatnya. Kamu mau?"

"Yuki-chan datang? Mau! Akira mau!" sorak sang bocah.

Pria berambut abu-abu itu tertawa kecil. "Baiklah, Yosuke. Kami akan datang ke sana sebentar lagi."

"Baguslah. Akan kami tunggu, tapi jangan lama-lama, oke? Dah, Sou!" jawab Yosuke senang.

Panggilan terputus. Souji meletakkan ganggang telepon ke tempatnya semula dan berbalik menghadap anak sulungnya itu. "Oke, sekarang kamu ganti baju, gih. Nanti kita langsung pergi ke tempat Yosuke-ojisan."

"Siap, Pa!"


Naoto tiba di lokasi kejadian yang dimaksud oleh Ken. Police-line terbentang di mana-mana, para polisi berseragam berlalu lalang memeriksa tempat terjadinya pembunuhan. Sang pengacara membimbing kakak iparnya menemui inspektur polisi yang memimpin penyelidikan kasus kali ini.

"Apa kabar, Kurosawa-san? Sudah lama kita tidak bertemu, ya?" sapa sang detektif wanita kalem.

Pria yang dimaksud berbalik dan membungkuk sedikit, memberi hormat. "Ya, Naoto-san. Aku senang begitu Amada-san bilang dia akan meminta bantuanmu, karena yah, seperti yang kau lihat...kami tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," jelas sang polisi.

"Baiklah...tolong berikan aku laporan detailnya."

"Tentu saja. Sebelum itu, tolong ikuti saya untuk melihat jenazah korban."

Naoto mengangguk patuh. Ia dan Ken berjalan mengikuti Kurosawa menuju hutan kecil di belakang villa, tempat di temukannya mayat korban. Tim autopsi masih sibuk mencatat dan memeriksa mayat ketika mereka bertiga tiba di sana. Sang detektif wanita bisa melihat bahwa korban adalah seorang wanita, dan terdapat tempuling yang menancap di dadanya.

"Korban adalah Misaki, adik dari pemilik villa, Ijuiin Kahoko. Sebelumnya, ia dikabarkan menghilang dan tidak berhubungan lagi dengan kakaknya. Entah kenapa dia bisa ada di sini..." jelas sang detektif senior. "Ia meninggal karena luka tusukan tepat di jantung. Yang menemukan mayat ini pertama kali adalah para tamu si tuan rumah, ketika mereka sedang menelusuri hutan kecil ini."

Naoto berjongkok di dekat mayat, memeriksa kondisi tubuhnya. Alat pembunuhan masih tertancap di daerah ginjalnya. Ia menoleh ke sana kemari, mencari petunjuk. Ken, yang mengetahui apa yang wanita itu coba temukan mendekatinya dengan membawa sebuah pacul kecil.

"Kami menduga bahwa alat pembunuhan itu diikatkan ke pacul ini," jelasnya, spontan menarik perhatian si kakak ipar. "Begini cara kerjanya."

Pria berambut coklat itu menaruh pacul dalah posisi tidur, kemudian ia menginjaknya sehingga terangkatnya pacul sampai ketinggian di depan pinggang.

Naoto tersenyum. "Memang benar, cara itu akan berhasil. Apalagi mengetahui bahwa daerah ini tertimbun oleh daun-daun kering. Mudah bagi si pembunuh untuk menyembunyikannya dan membiarkan korban berjalan ke sini," jelasnya. "Tapi si pelaku harus membimbing targetnya untuk berjalan ke sini, dan itu artinya ia harus berhati-hati agar ia tidak terkena jebakannya sendiri."

"Itulah bagian yang kami tidak mengerti: bagaimana caranya si pelaku menggiring mangsanya kemari dengan sukses tanpa membuat dirinya sendiri terluka," sahut Kurosawa. "Menurut para saksi yang menemukan mayat korban, mereka memang mendengar ada seseorang yang berlari meninggalkan tempat kejadian, namun ketika mereka mencoba mengejar, mereka kehilang jejaknya."

"Hmmm..." Naoto meneliti posisi korban dan pacul tadi sambil memikirkan kaitannya dengan hal yang diceritakan oleh Kurosawa. Ia berdiri dan berbalik meninggalkan TKP. "Antarkan aku menemui para saksi itu. Aku ingin mendengar penjelasan mereka."


"Akira-chaaaaaaaaan!!!"

Akira, yang kaget mendengar dirinya disapa dengan suara lantang, tidak sempat menghindari Jun dan Yuki yang melompat menerjangnya. Souji dan Yosuke Cuma tertawa melihat tingkah anak-anak itu.

"Sudah lama aku tidak melihatmu! Apa kabar?" Yuki tersenyum lebar.

"Baik...kalau saja Akira tidak ditimpa dua orang seperti ini..." sahut si bocah berambut biru.

Kedua bocah yang lebih besar darinya itu tertawa garing dan berdiri, setelah itu mereka membantu sahabat mereka itu ikut berdiri. Kelima orang tersebut memasuki ruang keluarga kediaman Hanamura. Ketiga anak kecil itu langsung bermain bersama dengan segala macam mainan milik Jun, sementara kedua ayah itu duduk di sofa dan berbincang-bincang.

"Oh ya, kenapa Yuki ada di sini? Apa Teddie dan Yukiko juga datang?" tanya Souji melirik gadis kecil berambut hitam itu.

"Ah tidak...Yukiko bilang, dia mengijinkan Yuki untuk tinggal bersama kami, supaya di tahun ajaran baru nanti dia bisa masuk sekolah yang sama dengan Jun," sahut Yosuke. "Aku bahkan berniat memindahkan Jun ke sekolah yang sama dengan Akira...yeah, soalnya...kurasa menyenangkan membiarkan mereka dapat sekolah yang sama, kan?"

"Kau benar...kurasa Akira juga akan senang," sang jaksa tertawa kecil. "Dan...kemana Chie? Tumben dia tidak kelihatan."

"Dia sedang pergi belanja bulanan. Makanya aku mengajakmu ke sini...biar tidak bosan mengawasi anak-anak sendirian."

"Hm...kalau begitu, bagaimana kalau nanti kalian ikut bersama kami ke taman hiburan? Akira pasti senang bisa liburan bersama teman-temannya juga."

"Tentu saja...oh ya, memang Naoto dapat kerjaan pada hari libur juga?"

Souji hanya mengangguk singkat. Menjadi detektif mengharuskan istrinya itu untuk bekerja kapanpun kasus muncul. Ia jadi ingin tahu keadaan Naoto di tempat kejadian perkara...


Kini Naoto, Ken dan Kurosawa telah hadir di ruang tamu villa tersebut. Di hadapan mereka duduk para saksi serta tamu-tamu yang diundang oleh si tuan rumah. Mereka terdiri dari tiga remaja, dua wanita dan anak-anak mereka, serta seorang butler. Mereka semua tampak tegang menghadapi pemeriksaan ini.

"Jadi..." Naoto melirik para remaja yang duduk di bersama di satu sofa panjang. "Kalian yang menemukan mayat korban ketika kalian sedang berjalan-jalan di tengah hutan?"

Salah satu dari ketiga remaja yang merupakan seorang gadis berambut coklat mengangguk mengiyakan. "Benar. Waktu itu kami sedang asyik-asyiknya menelusuri hutan di belakang villa ini ketika kami mendengar suara seseorang berlari. Karena penasaran, kami mengerjarnya, dan..." kalimatnya terputus, ia terlalu takut untuk melanjutkannya.

"Dan ternyata kami malah menemukan mayat itu," sambung teman lelaki di sebelahnya. "Waktu itu aku segera meminta Yuri untuk menelpon polisi, sementara aku dan Koya mengejar si pelaku sampai ke mansion ini lagi. Ia menggunakan lift model kuno yang ada di dekat ruang makan menuju lantai tiga, jadi kami kejar ke sana...tapi rupanya ia terus berlari sampai ke atap. Sayangnya...ketika kami tiba di sana, ia menghilang."

Naoto tertegun mendengar penjelasan pemuda itu. "Menghilang? Di atap mansion ini?" ia bertanya tak yakin. Kedua remaja yang mengaku mengejar pelaku itu mengangguk mantap.

"Kami sudah mengira mungkin si pelaku menghilang dengan menggunakan suatu trik di dalam rumah ini, tapi—"

"Tak ada hal semacam itu di rumah ini," kalimat sang butler memutus penjelasan dari Ken. "Saya sudah menjadi butler di villa ini sejak Kahoko-sama membelinya, dan saya yakin tidak ada satupun trik semacam itu di tempat ini."

"Begitu..." Naoto mengalihkan pandangannya pada kedua wanita lainnya dalam ruangan itu. "Lalu...kalian berdua siapa?"

"Kami juga adik dari Kahoko-neesan. Aku Rurei, dan dia adikku, Tomoe. Kami di sini karena Kahoko-neesan mengundang kami..." wanita berambut hitam yang terlihat ketus itu menghela nafas panjang. "Tak kusangka Misaki malah meninggal misterius seperti ini."

"...Dimana kalian dan anak-anak kalian pada saat kejadian?"

"Orihime dan Akane sedang bermain di luar...sementara kami berdua sedang berbincang-bincang di ruang keluarga sambil minum teh. Junko ada di sana untuk menghidangkan teh, dia bisa jadi saksi," sahut Tomoe, menunjuk sang butler.

Naoto mengangguk mengerti. Ia terdiam sejenak untuk berpikir. "Ken, apa ada petunjuk lain?" tanya wanita itu pada pengacara di sebelahnya.

"Eh? Petunjuk lain? Coba kuingat..." Ken menyentuh dagunya, berpikir. "Oh ya...ini Cuma firasatku saja, tapi lokasi pembunuhan ini seperti baris pertama lagu yang sering dinyanyikan oleh Kahoko-san, si pemilik rumah."

"Lagu? Lagu yang seperti apa?"

"Hmm...sebentar—"

"Ichi, mori...momo wa hairu...kiri wa arawareru."

Naoto tersentak. Ia menoleh, menatap kedua anak Tomoe dan Rurei, Akai dan Orihime, mulai menyenandungkan lagu aneh. Sang detektif melirik ke arah koleganya, dan Kurosawa mengangguk. "Itu lagunya. Dengarkan," ujarnya sementara kedua bocah itu terus menyanyi.

"Ni, hashi...mushi wa haneru, hana ni kaeru. San, kawa...aru ke...kaigara wa ochiru. Kazoeru made shi to shinu, nee..."

Begitu selesai, Naoto merasa sedikit merinding mendengar akhir lagu itu. Suasana berubah hening sama sekali karena tak ada yang mencoba bergerak atau berbicara. Semuanya menunggu kalimat selanjutnya yang meluncur dari sang detektif terkenal. Setelah lewat beberapa menit, wanita berambut biru itu akhirnya beranjak dari kursinya dan melangkah menuju pintu keluar.

"Naoto-san? Kau mau ke mana?" Kurosawa mengernyitkan dahinya.

"Sudah jelas 'kan? Aku akan ke jembatan, lokasi yang mungkin akan menjadi TKP berikutnya," sahutnya. "Mereka semua boleh melanjutkan aktivitas masing-masing...tapi pastikan tidak ada seorangpun yang mendekati jembatan dan sungai. Ken, antarkan aku ke jembatan yang dimaksud."

"Ee...baiklah," Ken segera menyusul Naoto, menuju ke lokasi berikutnya.


"Akira-chan pintar!"

Akira tersenyum seraya memasang keping terakhir pada papan puzzle. Ia baru saja menyelesaikan puzzle putih dengan 1000 keping tak berwarna milik Jun. Yuki bertepuk tangan sementara Jun terkagum-kagum melihat betapa mudahnya bocah itu menyelesaikan puzzle rumit tersebut.

"Hebat…aku saja tidak bisa," puji si bocah berambut cokelat.

"Aku yakin, kalau Akira-chan sudah besar nanti pasti bisa sepintar Naoto-obasan atau Souji-ojisan!" tambah Yuki riang.


"Hatttchiiii!!!"

Ken tertawa kecil. "Diomongin orang?" tanyanya.

"Entahlah," sahut detektif yang baru saja bersin itu. "Jadi, ini sungai yang ada di dalam lagu itu?"

Keduanya sudah ada di pinggir sungai yang terletak tak jauh dari hutan kecil milik Ijuuin Kahoko. Naoto bisa melihat beberapa ikan kecil berenang di sepanjang sungai kecil tersebut. Di dekatnya, terbentang jembatan kecil yang menghubungkan area villa dengan hutan bagian barat. Kedua mitra kerja itu berjalan pelan menyusuri sungai, mengamati apakah ada sesuatu yang aneh.

"Jembatan...lalu ada kumbang dan bunga," sang pengacara menggumam. "Tapi tak ada sesuatu seperti itu di sini. Jadi kurasa...mungkin kita salah tempat."

"Tidak. Kita di tempat yang benar," ujar Naoto. "Tidak ada jembatan lain lagi di dekat sini 'kan?"

"Ya, tapi--"

"Ken, kita tidak boleh berasumsi bahwa sesuatu tidak mungkin tanpa bukti yang jelas," sela wanita itu lagi, berjalan menuju jembatan berwarna merah itu. "Mereka semua yang ada di dalam villa itu memiliki kemungkinan yang sama, termasuk para bocah itu."

Ken menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya, Orihime dan Akane? Tapi, Naoto-san, mereka 'kan Cuma anak kecil..."

"Pembunuhan ini terjadi berdasarkan lagu itu. Semua orang yang mengetahui lagu itu berpeluang untuk menjadi tersangka."

Sang adik ipar menghela nafas menyerah berargumentasi dengan wanita cerdas itu. Naoto berdiri di pinggir jembatan, memperhatikan sungai di bawahnya. Hanya ada ikan dan air yang memantulkan refleksi dirinya. Memang rasanya agak mustahil tempat sedamai dan seindah ini akan menjadi lokasi pembunuhan.

"...Ouch!"

Sang detektif meringis kesakitan ketika ia merasakan potongan kayu di atas pegangan jembatan itu menusuk jarinya. Kayu itu banyak mengelupas di sana-sini, jadi wajar saja jika ia terluka. Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Dalam sekejap, Naoto merasa tubuhnya melemah dan ia mulai kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Ia merasa mati rasa, tak kuasa menggerakan seujung jari pun. Tak lama, sosok mungil itu terjatuh di atas papan pijakan jembatan, roboh karena ketidakberdayaan yang tidak ia mengerti. Hal yang terakhir ia dengar hanyalah suara Ken yang memanggilnya dengan panik.


Akira melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Mereka terpaksa menikmati makan siang lebih dulu dan menunda untuk pergi ke taman bermain. Entah kenapa, bocah itu mulai mengkhawatirkan ibunya.

"Naoto lama ya, padahal katanya dia akan segera menyelesaikan kasusnya..." keluh Yosuke yang tengah mencuci piring bekas mereka makan.

Souji hanya mengangkat bahu. Sama seperti putranya, ia juga mulai mencemaskan Naoto. Dan entah kenapa, ia merasakan suatu firasat buruk, seperti saat Akira pernah diculik dulu...

A flower day forget, what they wept for. After day and after--

Ponsel Souji menderingkan lagu 'Your Passion', tanda panggilan masuk dari Ken. Ia segera menekan tombol terima dan menyahut, "Ya, Ken? Ada apa?"

"Souji-san! Tolong ke RS Pusat Tokyo sekarang!"

"Apa? Kena—" pertanyaannya terputus ketika otaknya secara otomatis mengerti jawaban dari suara panik adik iparnya itu. "Naoto kenapa?!"

"Di-dia terkena racun si pelaku ketika kami sedang memeriksa TKP dan--"

Belum sempat pengacara muda itu menjelaskan semuanya, sang jaksa langsung menutup panggilan dan menarik putranya agar berdiri dari tempat duduk. Reaksi tersebut spontan membuat Yosuke beserta Jun dan Yuki terkejut.

"Souji? Ada apa?"

"Aku harus ke rumah sakit. Naoto terkena kecelakaan lagi!"


RS Pusat Tokyo.

Sebuah mobil sedan melesat masuk ke area parkir rumah sakit tersebut dan segera terparkir dengan rapi di satu tempat kosong. Dari dalamnya, keluar dua pria dewasa dan tiga bocah kecil. Mereka semua tampak waswas, bukan karena teknik menyetir pria berambut abu-abu yang kini telah berlari mendahului yang lain memasuki rumah sakit, tapi karena mereka mengkhawatirkan kondisi Naoto.

"Hey, Souji!"

Souji menoleh dan kaget karena melihat tak hanya Ken yang ada di sana, tapi juga Detektif Kurosawa, Minato, Aigis, dan bahkan Metis. Ia menghampiri mereka, sementara Yosuke dan yang lainnya mengikuti dari belakang.

"Ken! Ceritakan dengan detail apa yang terjadi!" perintah sang jaksa, perasaan kalut menguasainya.

"Souji, tenangkan dirimu dulu," sergah si kakak ipar, menahan Souji yang tengah memelototi Ken yang tampak pucat. "Aku sudah mendengar detailnya. Biar aku saja yang menjelaskannya padamu."

Maka, setelah Souji tenang sedikit, Minato menjelaskan apa yang terjadi dibantu dengan Ken dan Detektif Kurosawa. Yosuke beserta Akira, Jun, dan Yuki yang mendengarnya ikut kaget mengetahui bahwa Naoto menjadi korban dari salah satu trik pembunuhan dari kasus yang ditanganinya sendiri.

"Maaf kalau saya terdengar tidak sopan," tukas sang detektif veteran, "tapi saya harap ada yang bisa menggantikan Shirogane-san untuk menyelesaikan kasus ini...sebelum korban terakhir jatuh. Salah satu dari kalian berdua bisa menggantikannya bukan? Minato-san dan Souji-san?"

"Kurosawa-san! Anda meminta yang tidak mungkin!" hardik Ken.

"Well...aku akan melakukannya," jawab pria berambut abu-abu itu, tapi perhatiannya teralih begitu melihat Aigis menggeleng mendengar keputusannya.

"Tidak, Souji-san. Kau harus tinggal dan menunggui istrimu," ujar sang perawat tegas. "Kondisinya lumayan kritis, lebih kritis dari terakhir kali ia menjadi pasien di sini karena ada faktor kehamilannya juga. Jika sewaktu-waktu ia sekarat, kau harus di sini untuk mendukungnya."

"Kalau begitu, Otousan saja," Metis melirik ayahnya.

Namun Minato menggeleng, membuat semuanya terkejut. "Aku tidak bisa. Kau mendengarnya 'kan, Metis? Apa yang dikatakan Naoto sebelum ia masuk ruang operasi?" ucapnya dengan tenang seperti biasa.

Gadis berambut hitam itu bertukar pandang dengan ibunya, juga dengan Ken dan Detektif Kurosawa yang sama-sama tampak enggan. Souji mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Apa yang dikatakan Naoto?" tanyanya, penasaran.

"Ia meminta kami, untuk menyerahkan kasus ini kepada," mata biru itu melirik kepada keponakannya tersayang, "Akira."

Spontan saja Akira melongo. Jun dan Yuki juga ikut terkejut, sementara Souji dan Yosuke mendelik tak percaya. Minato menghela napas, ia tahu bahwa mereka akan bereaksi seperti itu. Tapi ia kemudian mengeluarkan sebuah topi dan memasangkannya ke kepala Akira. Bocah itu tampaknya tahu topi apa itu.

"Ini...topi Mama waktu masih SMU dulu!" ia bersorak.

"Benar. Itu topinya," sang guru olahraga Gekkoukan itu tersenyum kecil. "Ia selalu menganggapnya sebagai tanda bahwa ia adalah seorang detektif, keturunan asli dari keluarga detektif ternama Shirogane. Dan, ia berpesan padaku untuk memberikannya padamu."

"Maksudmu...Naoto mengakuinya sebagai penerusnya?" tanya Yosuke takjub, yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Minato.

Bocah berambut biru itu terdiam sejenak. Ia selalu ingin jadi seperti orang tuanya, bekerja menegakkan keadilan dengan cara mereka masing-masing. Ia juga sering dipuji-puji bahwa kelak ia akan seperti orang tuanya. Dan sekarang...ia diberikan kesempatan untuk membuktikan kualitasnya, sebagai penerus nama Shirogane.

"...Baiklah, Akira mau!" jawab bocah itu simpel.

"Akira!" Souji berlutut di depan putranya itu. Ia menatap bola mata biru cemerlang itu dengan serius tapi juga penuh kasih sayang seorang orang tua. "Kau masih terlalu kecil untuk itu...dan kasus ini berbahaya."

"Tidak apa, Papa. Akira bisa 'kok. Akira 'kan anak Papa dan Mama!"

"Benar, selain itu juga, ada Ken dan Kurosawa-san yang akan membantu, serta," Minato melirik putri tunggalnya yang masih bengong mendengar reaksi polos Akira. "Metis akan melindunginya."

"A-apa?!" Aigis dan Metis berkata bersamaan.

"Sebenarnya aku ingin aku saja yang pergi mendampinginya, tapi kurasa Akira akan lebih nyaman berkerjasama dengan Neechan-nya. Bukan begitu, Akira?"

Akira mengangguk riang. "Iya!" ia berjalan mendekati kakak sepupu kesayangannya dan memegang ujung seragamnya. "Neechan mau ya?"

"Ah~ tentu saja," ucap Metis, luluh dengan tatapan magnetis bocah itu.

Detektif Kurosawa, merasa bahwa kesepakatan telah tercapai dan tak bisa membiarkan lebih banyak waktu terbuang, segera membalikkan badannya dan berjalan melewati Ken setelah berpesan, "Segera siapkan mereka, kita harus segera kembali."

Souji yang mendengar instruksi tersebut menghela napas panjang, masih merasa setengah hati untuk mengijinkan putranya sendiri menangani kasus berbahaya di mana istrinya sendiri menjadi korban. Tapi toh, ia tak punya pilihan lain. Maka, ia berdiri di samping Akira dan menepuk kepalanya yang masih mengenakan topi Naoto. Bocah itu mendongak menatap wajah ayahnya dengan bingung, sementara sang ayah tersenyum menyemangati, "Berjuanglah. Jangan permalukan nama Shirogane kebanggaan Mama."

Akira tersenyum bersemangat dan mengangguk. Ia memeluk kaki papanya, lantaran tak cukup tinggi dan membalas, "Papa juga jaga Mama dan adik bayi, ya!"

"Hehe...tentu saja."

Ia melepaskan pelukannya dan berbalik, berniat menghadap Ken ketika ia merasakan lehernya dijerat oleh sepasang tangan yang merangkulnya erat. Jun dan Yuki mengucapkan salam perpisahan dan doa agar sahabat mereka satu itu bisa menyelesaikan kasus pertamanya dengan selamat, tentu saja sambil setengah bercanda ala anak kecil. Metis, yang sudah selesai mendapatkan wejangan dari Minato dan Aigis, mendatangi Akira untuk menghadap Ken juga.

"Well," sang pengacara muda tersenyum kecil begitu melihat kesungguhan terpancar di wajah kedua anak muda tersebut. "Kita berangkat."


A/n: mwahahahahahaha dasar gw udah ngebet banget pengen jadiin Akira detektif kayak Naoto jadi gini deh ROFLMAO oh ya, bagi yang baca TGD Kiyoshiro Yumemizu pasti tau kasus ini. IYA GW JIPLAK, GW KAN GA BISA BIKIN KASUS *ditempeleng* ahem, eniwei...chapter depan mungkin bakal telat lagi -- tapi saya usahakan update kok. So...leave the review, please? :D