Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Oh tidakkkhhh...ternyata saya dijangkiti banyak penyakit! Virus emo, virus fujoshi, virus Kuroshitsuji, virus hentai, virus KHR, semuanya masuk ke tubuh saya ==a Well, it doesn't matter because 'I am who I am', yeah? XD *kabur sebelum dipentungin karena geje* Oke, jadi di sini Akira berhasil memecahkan misterinya, dan adiknya lahir! XDD Enjoy reading lah!


Chapter 17: Children

Mobil milik Ken kembali muncul di parkiran villa Ijuin, tempat kasus mengerikan itu terjadi. Si pemilik keluar paling pertama, disusul oleh Detektif Kurosawa, lalu Akira yang menggantikan tugas Mama-nya tercinta, dan terakhir Metis yang diperintahkan orang tuanya untuk menjaga adik sepupunya itu baik-baik. Mereka berjalan meninggalkan area itu dan masuk ke dalam villa nan megah berselimut aura misteri tersebut.

Akira memandangi villa super mewah itu lekat-lekat. "Villa-nya keren, sayang sekali jadi lokasi kasus pembunuhan," ia berkomentar lugu.

"Selamat datang kembali," sang butler, Junko, menyambut mereka. "Bagaimana keadaan Shirogane-san?"

"Belum jelas, tapi ini bukan saatnya mencemaskan beliau," jelas Kurosawa dingin, membuat Akira memandanginya dengan tatapan aneh. "Sebagai gantinya, putra Shirogane-san akan menggantikannya," lanjut sang detektif veteran sambil menunjuk ke arah si bocah.

Butler wanita itu mengalihkan pandangannya kepada anak lelaki berambut biru yang sangat mirip dengan ibunya itu. "Anak ini? Apa diperbolehkan?"

"Ini permintaan Naoto-san sendiri," sahut Ken. "Nah, Akira-chan, kau mau mulai penyelidikan?"

"Apa? Oh ya!" Akira tersenyum. "Akira mau mendengarkan detilnya dari awal, juga semua petunjuk yang sudah ditemukan!"

Maka Ken dibantu oleh Detektif Kurosawa mulai menceritakan semua yang terjadi. Alat pembunuhan di kasus pertama, bagaimana kondisi mayat, tempat-tempat yang ada di villa, bahkan lagu yang diperkirakan sebagai petunjuk utama dalam kasus ini. Setelah mendengarkan semua penjelasan kedua professional tersebut, Akira melirik ke arah lift yang terletak tepat di depan lobby.

"Kau mau mengecek atap?" tawar Metis menyadari tatapan Akira.

"Iya, boleh."

Maka keempat orang itu menaiki lift menuju ke atap villa. Begitu keluar, Akira bisa melihat pagar di atap itu cukup mudah dilompati bahkan untuk anak sekecil dirinya. Ia kemudian melongok ke bawah, nyaris jatuh jika saja Metis tidak segera menahannya.

"Kira-kiri kalau kita lompat dari sini bisa mati nggak?" tanya bocah itu polos.

"Ya tentu dong..."

"Kecuali kau dilatih untuk bergerak seperti ninja, seperti Papa-mu," Ken tertawa, sementara Akira dan Metis mengernyit heran menatapnya. "Kalian tidak tahu? Souji-san punya kemampuan setara ninja dalam hal pertarungan. Yah...meskipun itu wajar saja, mengingat itu adalah hasil gemblengan Minato-san..."

"Huh?"

"Tidak usah dibahas. Lebih baik kau cepat kau lihat apa yang mau kau selidiki di sini," tukas Detektif Kurosawa.

Bocah berambut biru itu mengangguk. Ia membenarkan topinya dan mengecek atap. Sepertinya memang tidak ada jalan tersembunyi atau semacamnya untuk kabur dari atap, kecuali menggunakan lift dan tangga. Setelah puas melihat-lihat, mereka kembali turun ke bawah.

"Oh iya...lagunya itu seperti apa sih?" tanya Akira kepada pamannya.

"Ah itu...itu lagu berhitung. Tapi aku juga tidak hapal...karena sepertinya Ijuin-san yang menciptakannya."

"Ichi, mori..."

Bulu kuduk Metis sontak merinding mendengar suara tiba-tiba dari belakang mereka. Keempatnya menoleh dan melihat Akane dan Orihime tengah duduk manis di pinggiran kolam air mancur di halaman tengah villa Ijuin. Akane sedang main game sementara Orihime menyanyi di sebelahnya.

"Ah, ada anak kecil juga!" Akira tersenyum riang. "Kurosawa-ojisan, Akira boleh bicara dengan mereka?"

"Ya..." jawab sang detektif veteran acuh tak acuh sementara melihat detektif cilik itu berlari ke arah kedua teman barunya. "Hh…sebenarnya apa yang dipikirkan Shirogane-san? Membiarkan putranya sendiri yang masih kecil menangani kasus ini...Padahal lebih baik diserahkan kepada Arisato-san yang memang kemampuannya setara dengannya."

"Tapi 'kan Akira anak mereka berdua. Dia pasti bisa melakukannya," sahut Metis.

"Tapi tetap saja...dia belum siap untuk hal seperti ini. Maksudku..usianya baru 8 tahun, 'kan?"

Ken terkekeh geli, membuat kedua orang di sebelahnya menoleh padanya. "Kalian tidak lupa, 'kan? Kasus pertama yang diselesaikan oleh Naoto-san itu pada saat usianya 6 tahun. Well, kurasa...kenapa tidak? Mungkin ini yang disebut like mother, like son..."

"Err...Ken-ojiisan, bukannya yang benar itu like father, like son?"

"Ya biar sajalah..."

Sementara ketiga orang itu mengawasi dari jauh, Akira sudah berkenalan dengan Akane dan Orihime. Kini mereka bertiga duduk bersama di pinggir kolam. Awalnya mereka hanya berbicara hal-hal sepele, layaknya anak-anak, kemudian bocah detektif itu mulai membawa pembicaraan mereka ke arah yang lebih serius demi mengorek misteri kasus ini.

"Eh, kalian tahu lagu berhitung itu tidak?" Akira bertanya dengan wajah polos.

"Tahu. Kami diajari Junko-san," sahut Orihime pelan.

"Junko-san? Bukannya yang membuatnya Kahoko-san?"

"Iya, tapi yang mengajari kami Junko-san," jawab Akane sambil terus memainkan PSP-nya. "...Lagu itu menarik."

Bocah berambut biru itu mengerjap. "Menarik?"

"Ya. Lagu itu seperti lagu untuk mainan ini," bocah berambut hitam di sebelahnya menunjukkan judul game yang tertera di layar PSP-nya. "Jika pemainnya mati, tinggal di reset ulang atau tekan tombol load, jadi para pemainnya tetap hidup."

Akira mengamati layar PSP itu untuk beberapa saat sebelum otaknya mencapai suatu hipotesis. Dia baru saja akan menanyakan suatu hal ketika sang butler, Junko, menghampiri ketiga anak kecil itu bersama Metis, Ken, dan Detektif Kurosawa.

"Akane-bocchama, Orihime-chama, kalian berdua dipanggil Rurei-sama dan –sama ke ruang makan. Sudah waktunya makan siang," jelas wanita itu dengan nada datar.

Akane dan Orihime mengangguk patuh. Mereka berjalan mengikuti Junko menuju mansion. Metis menoleh ke arah adik sepupunya yang masih terduduk di pinggiran kolam air mancur. "Akira-chan, bagaimana kalau kita makan siang juga?" tawarnya.

"Apa? Oh iya...mau!" Akira mengangguk riang dan menggandeng tangan gadis berambut hitam di sebelahnya.


Keempat petugas penyelidikan (karena kalau pakai petugas kepolisian, hanya Detektif Kurosawa yang berasosiasi dengan kepolisian) itu berkumpul bersama para penghuni mansion lainnya di ruang makan untuk menikmati makan siang yang telah disiapkan oleh Junko. Akane dan Orihime duduk di sebelah ibu mereka masing-masing; Yuri, Koya, dan Shun makan dalam diam sembari sekali-sekali melirik ke arah sang detektif veteran; Ken, Metis, dan Akira berbicara ringan sambil melahap makan siang itu.

Setelah hampir semuanya menyelesaikan makan siang mereka, Akira meraih gelas kaca terdekat yang bisa dijangkaunya dan membuat denting nyaring dengan menggunakan sebuah sendok. Spontan saja semuanya yang berada di ruangan itu mengalihkan perhatian mereka ke arah bocah tersebut, penasaran dan heran apa yang akan dilakukannya.

"Ahem," Akira memandang mereka dengan tatapan kekanakannya yang menggemaskan, "Maaf, tapi bisa Akira minta perhatian kalian semua sebentar?"

"Kenapa?" Koya mengernyitkan dahinya.

"Karena Akira mau menyampaikan hipotesis Akira tentang siapa pelaku pembunuhan Ijuin Misaki dan orang yang sudah mencelakai Mama—maksudnya, Shirogane Naoto."

Suasana spontan menegang. Metis dan Ken menatap bocah kecil itu tak percaya. Dia bisa menebak siapa pelakunya hanya dengan berbincang-bincang dengan Akane dan Orihime? Apakah dia hanya sekedar menebak? Atau otak jenius dari kedua orang tuanya memang sudah menurun padanya sehingga hanya butuh sedikit petunjuk baginya untuk menyelesaikan masalah ini?

"Baiklah...mari kita dengarkan hipotesamu, bocah," Detektif Kurosawa mempersilahkan. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersandar ke kursi, mengambil posisi yang enak untuk mendengar ucapan Akira berikutnya.

Akira mengangguk. "Pertama, Akira akan menjelaskan tentang detail dari kasus pertama, yaitu kasus pembunuhan Ijuin –san.

"Seperti yang sudah diketahui Ken-ojiisan—eh maksudnya, Amada-san dan Detektif Kurosawa, pembunuh menggunakan tempuling yang ditempelkan pada sebuah cangkul yang ditimbun di bawah daun-daun, sehingga jika ada orang yang menginjaknya, maka cangkul itu akan otomatis naik dan menusuk daerah jantung orang tersebut. Namun, untuk melakukan hal itu, pelaku harus menggiring korban ke tempat perangkap itu berada."

"Kenapa begitu?" Rurei mulai penasaran.

"Karena jebakan itu memungkinkan orang yang ingin dibunuh lewat tanpa menginjak cangkul itu, jadi si pelaku harus menginjak jebakannya sendiri," jelas detektif cilik itu.

"Tapi, kalau begitu si pelaku kan bisa tertusuk jebakannya sendiri?" tanya Tomoe.

"Anda akan paham setelah mendengarkan penjelasan selanjutnya," ujar Akira seraya tersenyum. "Pertama, saya ingin menanyakan pendapat anda: apa alasan si pelaku kabur ke atap, namun bukannya menggunakan lift agar langsung tiba di atap, ia malah berhenti di lantai tiga dan memakai tangga untuk lari ke atap?"

"Eh? Entahlah...mungkin ada urusan di lanta tiga?" tebak Yuri polos.

"Bodoh, mana mungkin dia sempat melakukan hal macam itu," hardik Shun.

Detektif cilik di hadapan mereka hanya tertawa kecil. "Itu karena si pelaku tidak bisa menekan tombol menuju atap, yang terletak di deret paling atas pada deretan tombol-tombol," jelasnya, "begitu tiba di atap, si pelaku melompat ke bawah. Tentunya, ia sudah mempersiapkan bantalan yang disembunyikan di dalam guguran daun-daun."

Sebuah senyum kecil melintas di bibirnya ketika Akira bertanya, "Nah, kira-kira kalian semua bisa menebak siapa pelakunya dengan petunjuk sebanyak ini, 'kan?"

Metis melipat tangannya dan menghitung jumlah petunjuk dari adik sepupunya itu. "Hmm...dia tidak akan terkena tempuling ketika menginjak jebakan...dia tidak bisa meraih tombol yang letaknya tinggi...dia juga tidak masalah melompat dari lantai lima...jadi..." mata gadis itu membelalak lebar ketika menyadari jawabannya. "M-maksudmu..."

"Pelakunya anak-anak," Detektif Kurosawa menyambung kalimat Metis. "Masalahnya, siapa di antara dua bocah ini yang menjadi pelakunya?"

Akira melirik ke arah Akane dan Orihime, yang duduk berdampingan, diapit oleh orang tua masing-masing. "Akane-chan, kau pelakunya, bukan?"

Rurei spontan mendelik kepada sang detektif kecil sebelum memandangi Akane yang—entah kenapa—tersenyum lebar. Bocah lelaki berambut hitam itu mengangguk pelan. "Iya. Akane yang melakukannya," sahutnya dengan ringan, tanpa beban.

"A-Akane!" sang ibu meraih pundak putra semata wayangnya dan mengguncangnya sedikit. "Apa yang kau pikirkan!? Membunuh Misaki dan hampir mencelakakan Shirogane-san?!"

"Tenanglah, Rurei-san," Akira mengetuk meja untuk mendapatkan perhatian sekali lagi. "Yang melakukan semua itu memang Akane-chan, tapi pelaku utamanya, alias orang yang merencanakan semua ini, bukan Akane-chan."

"Jadi, siapa?" Koya mengernyit.

"Akane-chan melakukan pembunuhan itu berdasarkan lagu berhitung. Coba pikir, siapa yang mengajari Akane-chan dan Orihime-chan lagu itu?"

Semua yang ada di ruangan itu sontak terkejut mendengar petunjuk tersebut. Mereka menoleh ke arah orang yang dimaksud, yang tak lain dan tak bukan adalah sang butler kediaman itu, Junko Hokaii.

"J-Junko-san...?" Tomoe mengerjap tak percaya, "...Tak mungkin..."

"Junko-san, bukankah ini saatnya anda mengakui siapa anda sebenarnya?" Akira tersenyum penuh arti pada wanita tinggi itu.

Setelah terdiam agak lama, Junko yang biasanya tanpa ekspresi itu tersenyum lebar, membuat wajahnya sedikit aneh dan aura kakunya lenyap seketika. Ia melepas ikat rambutnya, membiarkan rambut panjang kecoklatan itu terurai, menampakkan model rambut aslinya—bergelombang elegan. Saat ia menyibakkan poninya yang telah menutupi matanya sampai tadi, Rurei dan Tomoe mengerjap kaget.

"Hebat kau, detektif cilik, bisa mengungkap identitas asliku dalam sekejap," pujinya dengan suara aslinya, yang lebih tinggi dan halus daripada suara samarannya.

Akira nyengir lebar. "Itu hanyalah sebuah anagram mudah. Sekali mendengar, Akira tahu bahwa Junko Hokaii sama dengan Kahoko Ijuin."

Benar saja. Begitu semua penyamarannya dilepas, tampak sosok Kahoko Ijuin—sosok yang persis sama dengan yang diketahui oleh Rurei dan Tomoe. Koya, Shun dan Yuri bersama dengan Metis dan Ken hanya bisa melongo melihat wujud asli dari sang butler pendiam villa Ijuin itu.

"Nah, bocah," Kahoko duduk di salah satu kursi kosong di pinggir meja makan seraya menatap Akira yang masih tersenyum puas melihat deduksinya benar. "Apa kau tahu bagaimana caranya aku memperalat Akane untuk membunuh targetku, sementara aku terus berada dalam sosok Junko Hokaii sampai tadi?"

Bocah berambut biru itu mengangguk. "Akane-chan tidak pernah melepas PSP-nya. Akira tahu setelah berbincang dengannya dan Orihime-chan tadi kalau Akane-chan suka sekali main game," ia menunjuk ke arah PSP yang masih berada di genggaman Akane, "Kahoko-san mengirimkan pesan email ke PSP Akane-chan mengenai perintah secara rinci dan mendetail tentang cara pembunuhan."

"Tapi...apa setelah mendapatkan perintah, ia mau saja melakukannya?"

"Jawabannya karena Kahoko-san membujuk Akane-chan—dalam wujud Junko-san, tentu saja," untuk sekali ini saja, ekspresi Akira berubah suram, seolah-olah ia menyesal. "Kahoko-san memberi tahu, bahwa ada satu permainan di mana jika pemainnya mati, maka tinggal tekan tombol reset dan bisa hidup kembali. Lalu, Kahoko-san mengajari lagu berhitung pada Akane-chan...Kahoko-san memberi tahu, kalau Akane-chan tidak usah khawatir jika 'karakter'nya terbunuh semua, karena cukup dengan menekan tombol reset, maka mereka akan hidup kembali."

Semua yang ada di ruangan itu langsung bergidik mendengar penjelasan Akira. Kahoko hanya tersenyum simpul, mendengarkan dengan seksama.

"Kahoko-san memanfaatkan kepolosan anak-anak seperti Akane-chan," Akira melanjutkan, suaranya kembali mantap. "Pembunuhan pertama ditujukan pada Misaki-san, dan seperti halnya lagu berhitung, ada pembunuhan kedua dan ketiga. Pembunuhan kedua ditujukan pada Tomoe-san, seperti pada bait kedua 'Ni, hashi, mushi wa haneru, hana ni kaeru', dan yang ketiga ditujukan pada Rurei-san, seperti pada bait ketiga San, kawa, aru ke, kaigara wa ochiru'.

"Tapi Kahoko-san salah perhitungan. Karena Akane-chan masih kecil dan tidak terlalu mengerti bahasa Jepang, Akane-chan salah mengartikan hashi untuk sumpit dengan kawa untuk kulit dengan hashi untuk jembatan dan kawa untuk sungai. Maka dari itu, yang menjadi korban malah Shirogane-san..."

Kahoko tertawa segar begitu Akira berhenti, menyelesaikan semua hipotesanya. Wanita muda itu bertepuk tangan senang, tawanya lepas sekali.

"Mengagumkan, nak," pujinya. "Kurasa itu merupakan hal yang wajar bagi putra tunggal Shirogane Naoto?"

"Kahoko-oneesan..." Tomoe menatap Kahoko tak percaya, "...kenapa...?"

"Apa Oneesan benar-benar membenci kami sehingga ingin membunuh kami? Atau Oneesan hanya tidak ingin membagi harta Oneesan dengan kami?" Rurei bertanya.

Wanita berambut cokelat itu menggeleng pelan. Ia mengerling kepada Akira, yang sudah kembali duduk dan sedikit menundukkan kepalanya—topinya membuat ekspresi wajahnya tidak terlihat dengan jelas. "Apa kau ingin menjelaskannya juga, bocah?"

"Tidak...Akira tidak mengerti sepenuhnya, tapi..." ia menengadah sedikit, "...bisa Akira asumsikan kalau motifnya hanya sekedar karena Kahoko-san senang melihat segala aksi pembunuhan berantai yang dirancang dengan sempurna ini berjalan sesuai keinginan Kahoko-san?"

Kahoko mengangguk. "Benar," ia mengakuinya dengan santai. "Sejak kecil...aku selalu senang melihat atau mendengarkan hal-hal yang bagi mayoritas orang merupakan hal yang menyedihkan atau mengerikan, seperti bencana alam atau kecelakaan besar. Dan suatu ketika...rasa penasaran menguasaiku, dan aku memutuskan untuk menciptakan sebuah rencana jenius, dan ingin tahu apakah semua itu bisa terjadi tepat seperti keinginanku."

"A-apa...?" Ken mendelik tak percaya. "Jangan bilang Anda...?"

"Ya...aku merencanakan sebuah pembunuhan terencana yang sempurna. Tak ada yang curiga bahwa itu adalah perbuatanku. Alibiku sempurna. Polisi tidak bisa menemukan petunjuk apapun, sehingga aku tetap bebas sampai saat ini. Tapi..." ia menatap kedua tangannya yang halus tanpa cacat, "...seiring dengan beranjak dewasanya aku, aku mulai menyadari beratnya dosa ini. Aku memutuskan untuk melupakan semuanya, tapi tetap tak bisa...maka dari itu..."

Sang pemilik villa mengedarkan pandangannya kepada semua orang yang berada di ruangan itu, membuat mereka semua menelan ludah karena ngeri.

"...aku merencanakan semua ini. Aku ingin merasakan sensasi itu lagi—sensasi yang membuatku merasakan seolah aku menguasai dunia ini!"

Kahoko tertawa lepas lagi, kali ini lebih keras dan menggema di seluruh ruangan. Metis dan Ken shock. Koya, Shun, dan Yuri merinding dan hanya bisa bertukar pandang. Rurei dan Tomoe refleks memeluk Akane dan Orihime, seolah takut kakak sulung mereka itu akan melakukan sesuatu yang jahat kepada anak mereka. Detektif Kurosawa bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri sang pelaku pembunuhan terencana itu—dan sempat menepuk kepala Akira yang masih mengenakan topi ibunya—sebelum memborgol kedua tangan wanita itu.

"Apa yang kau lakukan bukanlah mengontrol dunia ini," gumamnya, "tapi semata-mata hanya tindakan untuk memenuhi nafsumu yang menyimpang dan melanggar hukum. Kuharap kau bisa memikirkan cara yang lebih ilmiah dan bersahaja untuk menguasai dunia ini di penjara nanti, Ijuin-san."

Dan dengan itu, kasus pembunuhan di villa mewah itu ditutup. Metis akhirnya bisa bernafas lega. Ia menepuk pundak Akira, membuat bocah itu menengadahkan kepalanya untuk menoleh kepada si kakak sepupu.

"Hebat sekali, Akira-chan! Kau sukses besar di kasus pertamamu!"

Tapi bocah itu hanya menggeleng. "Tidak...Akira yakin Mama sudah mengetahui semua ini, tapi karena ia dirawat, apa boleh buat..."

"Tetap saja, kau harus merasa bangga dengan hal ini," Ken nyengir lebar. "Belum tentu orang dewasa seperti kami bisa menyelesaikannya."

Akira tersenyum kecil dan mengangguk. Mereka semua berjalan keluar dari villa itu. Detektif Kurosawa mengiring Kahoko yang masih tersenyum lebar seperti penjahat psikopat ke dalam mobil polisi miliknya. Setelah menutup pintu dan menyalakan mesin mobil serta menginstruksikan anak buahnya untuk kembali ke markas kepolisian, ia berbalik menghadap tiga kerabat yang telah membantunya dalam kasus itu.

"Bagaimana perasaanmu setelah berhasil memecahkan kasus pertamamu, bocah?"

"Senang!" Akira menyahut, kembali ke 'mode anak kecil nan polos'nya.

"Hmph. Baiklah kalau begitu...belajarlah lebih banyak, karena akan lebih banyak kasus yang menantimu di masa depan, dan tentunya akan lebih sulit dari kasus kali ini."

Bocah berambut birut itu mengangguk antusias. Mereka mengawasi sejumlah mobil polisi itu bergerak keluar dari area villa Ijuin. Ketiganya memutuskan untuk segera pulang dan pamit kepada para penghuni yang tersisa. Namun baru saja Ken akan menyalakan mesin mobilnya, ponselnya berbunyi, hampir bersamaan dengan ponsel Metis.

"Hallo?" keduanya menjawab bersamaan.

"Ken? Kau di mana? Apa sudah selesai?" terdengar suara Souji dari ponsel Ken.

"Metis, Akira baik-baik saja, 'kan?" kalau ini, suara Minato dari ponsel Metis.

"Iya, Souji-san. Akira baru saja menyelesaikan kasusnya."

"Iya, Otousan. Akira-chan baik-baik saja kok! Masih utuh, hehe..."

"Oh...baguslah kalau begitu. Ehm...well, sebaiknya kalian cepat kembali ke rumah sakit."

"Begitu? Yah, pokoknya kalian kembali ke rumah sakit, sekarang."

"Kenapa?" Metis dan Ken kompak bertanya. Akira merasa ingin tertawa mendengar obrolan keduanya yang tampaknya memiliki topik yang sama hanya saja dibicarakan dengan pasangan yang berbeda.

Tapi ia bingung ketika keduanya tidak bereaksi apa-apa untuk beberapa lama. Ketika detik demi detik berlalu, barulah paman dan kakak sepupunya itu menoleh ke arahnya dengan wajah riang serta penuh antusiasme. Kalimat mereka selanjutnya sama, dan kalimat tersebut membuat Akira girang luar biasa:

"Akira-chan! Adikmu sudah lahir!"


Souji, Minato, dan Aigis tampak berbincang dengan dokter bedah Naoto. Saat itulah mereka mendengar suara derap langkah kaki mengarah kepada mereka. Tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa Akira, Metis, dan Ken sudah tiba di rumah sakit dan dengan tergesa-gesa serta tidak menghiraukan protes para suster rumah sakit untuk tidak berlari-lari di sepanjang koridor rumah sakit, menghampiri ketiga orang dewasa itu di depan sebuah bangsal.

"Papa!!!" detektif kecil itu langsung menerjang ayahnya, dan ditangkap oleh Souji dengan sigap ke dalam pelukannya. "Papa, mana adik bayinya? Mama juga mana? Mana, Papa???" tanyanya tak sabaran.

Pria berambut abu-abu itu hanya bisa tertawa. "Tenang sedikit. Kalau kamu ribut begini nanti adik bayinya kaget."

Akira kontan menutup mulutnya dan mengangguk, meski jelas-jelas terlihat tidak akan bisa diam sampai melihat adiknya yang baru saja lahir. Souji terkekeh geli melihat tingkah anak pertamanya itu. Ia menggendong Akira dalam lengannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah bangsal rumah sakit. Bocah itu tersenyum lebar ketika mendapati Naoto duduk bersandar pada bantal seraya memeluk seorang bayi mungil.

Sang detektif wanita tersenyum ketika melihat suami dan putranya memasuki ruangan, diikuti oleh keluarga mereka yang lain. "Akira-chan, okaeri."

"Tadaima, Mama!" balas Akira. Ia melongok untuk melihat wajah adiknya yang tengah tertidur lelap. "Itu adik Akira, 'kan?"

"Tentu saja. Masa' adiknya Metis?" canda Aigis, disusul tawa ringan dari yang lainnya.

Souji membiarkan Akira memanjat naik ke atas ranjang Naoto yang lumayan lebar. Bocah itu mengamati si bayi dengan tatapan penasaran. Adiknya itu perempuan—bisa dilihat dari wajahnya yang agak feminis—dan memiliki rambut kelabu seperti ayahnya. Ia juga lumayan besar—well, setidaknya ia lebih berat dan panjang daripada Akira ketika ia baru lahir. Tak lama, mereka bisa melihat si bayi mengerjapkan matanya dan saling bertatapan dengan kakaknya.

"H-hai," sapa Akira kikuk. "Akira akan jadi kakakmu, lho!"

Bayi itu tertawa kecil, tangannya bergerak-gerak seperti ingin menyentuh wajah bocah lelaki di hadapannya. Akira iseng menyentuh tangan mungil adiknya, dan tiba-tiba saja telunjuknya yang dipakai untuk menusuk pelan 'objek eksperimen'nya itu digenggam dengan erat. Souji dan Naoto tertawa melihatnya.

"A-anou...!! T-tolong lepasin tangan Akira, uhm..."

"Namine," Souji memberitahu. "Nami dari huruf kanji ombak dan Ne dari huruf kanji suara."

Akira mengangguk mengerti. "Mungkin dia ingin bersalaman dengan kakak barunya!" celetuk Metis sambil tertawa geli.

"Oh...salam kenal, Namine-chan!"

Ruangan itu kembali diisi tawa. Segala atmosfir menegangkan pasca terselesaikan kasus suram tadi sirna, seakan kehadiran Namine kecil cukup untuk menghapuskan itu semua. Yang jelas, mereka semua melupakan hal-hal yang buruk dan menyambut sang bayi ke dalam lingkaran keluarga besar mereka yang...yah, penuh dengan kejutan ini.


A/n: YES AKHIRNYA NAMINE LAHIR!!!! MWAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHA~!! *plak plak plak* Dah, ga ada yang penasaran lagi kan siapa namanya? It's Namine, dari ide awal mo namain Izanami *ketawa geje* So...well...ada sumbangan ide chapter lagi? ^^a R&R!!! XD