Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 & P3 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Baik, silahkan lempar apa saja yang ada di dekat anda ke saya karena terlalu lama meng-update ini XDDD Saya kering ide, saudara-saudara. Ternyata memang kalau sudah nulis 15 chapter ke atas ide itu bisa kering lho jeng... *malah curhat, digampar* Eniwei, manga atuh dibaca...Enjoy reading! XD


Chapter 18: New Year

"Mama, ayo cepat! Nanti kuilnya keburu penuh!"

"Haha…sabar, Akira-chan…"

Saat ini, keluarga Seta sedang mengunjungi kuil di dekat daerah tempat mereka tinggal. Mala mini adalah 31 Desember, malam pergantian tahun. Tampak keempat orang itu mulai membaur dengan suasana kuil yang memang sudah penuh sesak sejak sejam yang lalu karena banyak orang ingin melaksanakan Hatsumode. Akira berjalan di sebelah Naoto, berpegangan kepada tangan ibunya itu sementara Namine yang sudah berumur 6 bulan digendong oleh Souji.

"Ah…Souji!"

Souji, yang mendengar namanya dipanggil, segera menoleh ke sumber suara. Ia melihat Yosuke melambai ke arahnya. Di sampingnya ada Chie dan juga Jun. Mereka bertiga mengenakan pakaian biasa, kontras dengan keluarga Seta yang mengenakan kimono khas tahun baru.

"Selamat tahun baru," ujar kedua keluarga itu berbarengan sebelum tertawa bersama.

"Kalian Hatsumode di sini juga?" tanya Souji.

"Ya, soalnya Jun ingin melihat matahari terbit bersama Akira sih," sahut Chie seraya mengelus rambut Jun, membuatnya berantakan.

Jun segera menepis tangan ibunya, tidak suka. "Kau terlihat seperti kucing dalam karung mengenakan kimono sebesar itu," ledeknya.

"Iya...habisnya tidak ada yang ukurannya lebih kecil dari ini," Akira cemberut.

"Sudahlah...ayo kita mulai mengantri," ajak Naoto.

Maka, jadilah kedua keluarga itu mengantri bersama, menunggu giliran untuk berdoa di kuil. Butuh waktu sekitar sejam sebelum akhirnya mereka selesai berdoa dan segera keluar dari antrian, mencari tempat yang lebih luas agar bisa leluasa mengobrol sembari menunggu matahari terbit. Ketika mereka sedang berjalan, mata Akira tertuju kepada sebuah kedai kecil di dekat gerbang masuk kuil.

"Papa," ia menarik ujung mantel Souji, "itu apa?"

Pria berambut abu-abu itu melihat ke arah yang dipandang oleh putranya. "Oh...itu kedai sake manis. Akira mau coba?" tanyanya sambil tersenyum.

"Akira belum cukup umur. Akira nggak boleh minum sake."

Yosuke tertawa mendengar penuturan bocah itu. "Itu bukan sake yang biasa diminum orang dewasa, jadi tidak mengandung alkohol. Sake manis itu fungsinya untuk menghangatkan badan dan menjaga kesehatan."

Akira dan Jun yang mendengar fakta itu langsung ber-"oooh" ria. Mereka saling pandang dan tersenyum girang. "Kalau begitu, kami mau!" sorak keduanya hampir berbarengan.

Para orang dewasa di sekitar mereka tertawa, tapi toh menghampiri kedai sake itu juga. Mereka membelikan segelas sake manis untuk masing-masing bocah, dan juga membeli untuk diri mereka masing-masing. Akira dan Jun meminum sake mereka masing-masing dan tersenyum geli ketika merasakan rasa hangat menyebar ke seluruh tubuh.

"Hangat, 'kan?" Naoto tersenyum dan dibalas oleh anggukan riang dari kedua bocah itu.

Akhirnya, orang tua mereka memutuskan untuk mengobrol di sebelah kedai sake itu, membicarakan banyak hal yang tidak dimengerti oleh Akira dan Jun sementara menunggu waktu matahari terbit. Karena mereka bosan mendengar obrolan orang dewasa, keduanya memutuskan untuk bermain bersama. Namine sempat merengek ingin ikut kakaknya, jadi mereka terpaksa membawa bayi kecil itu bersama mereka.

"Hmm...enaknya ngapain ya?" Jun berpikir sebentar, melirik ke kanan kiri. "Oh, aku tahu! Kita main petak umpet yuk!"

Tapi Akira menggeleng. "Nanti Jun-chan kalah lagi," tukasnya dengan senyum polos, tanpa ada maksud meledek sedikitpun.

Meskipun sedikit kesal, Jun terpaksa mengakui bahwa teman berambut birunya itu memang mahir sekali sembunyi. Mungkin karena postur tubuhnya yang mungil, jadi bisa menyelip ke sana-sini dengan mudah? Atau dia memang berbakat dalam hal ini? Entahlah, dan hal itu tidak terlalu penting untuk dibahas.

"Ya sudah…jadi mau main apa nih?"

"Ng...jalan-jalan di sekitar kedai saja, siapa tahu ada yang menarik."

"Oke deh...yuk!"

Para bocah itu berjalan menyusuri jejeran kedai-kedai kecil di sepanjang jalan menuju bangunan kuil. Ada beberapa kedai sake lain, ada kedai snack kecil lainnya, ada juga kedai tempat menjual beberapa jimat dan aksesoris kuil lainnya. Yang lebih mengherankan lagi, ada stand permainan seperti memancing ikan mas dan juga shooting game. Rasanya seperti ada di festival musim panas dan festival musim gugur.

Kedua bocah itu berhenti ketika melihat tumpukan hadiah dari stand shooting game di sebelah seorang anak berambut keemasan panjang. Sepertinya dia yang sudah memenangkan semua hadiah itu. Bahkan target yang dijejerkan di stand itu terlihat makin menipis gara-gara anak itu terus menembaki hadiah-hadiah yang dipajang. Jun sweatdrop melihatnya, Akira kagum, dan Namine ingin salah satu hadiah boneka dari tumpukan hadiah itu.

"Err...nak, sudah ya? Kamu 'kan sudah dapat banyak hadiah..." si penjual mencoba menghentikan anak itu. Wajahnya memelas.

Tapi anak itu tidak peduli dan terus menembak hadiah-hadiah yang ada dengan BB gun di tangannya. Tak lama, semua hadiah di stand itu sudah jadi miliknya. Meskipun sebenarnya si penjual lumayan untung, tapi tetap saja dia shock karena dagangannya habis diambil oleh seorang bocah saja. Sang sniper kecil menghela napas setelah menyelesaikan game itu dan mengembalikkan senapannya kepada si penjual sebelum beranjak pergi meninggalkan stand itu.

"H-hei, nak! Hadiahnya tertinggal!" seru si penjual, merujuk kepada gunung hadiah di depan stand-nya.

Akira bisa melihat wajah anak itu. Ia tidak lebih tua dari Jun, dan dari postur serta wajahnya ia jelas bukan berkebangsaan Jepang. Anak itu tersenyum sinis kepada penjual itu sebelum berkata angkuh, "Tidak perlu." Dan ia kembali berjalan meninggalkan stand shooting game itu.

"Ck...sombong sekali," gerutu Jun, melirik ke arah si pirang dengan kesal.

Tidak terdengar jawaban dari sahabat kecilnya. Dan itu adalah hal yang aneh, karena biasanya Akira akan menyahutnya dan ikut berkomentar, walau kadang hanya menjawab sebatas "ya" atau "tidak". Ia menoleh ke sebelahnya, dan menyadari bahwa bocah berambut biru itu tidak ada.

"A-Akira?"

"Hei, maaf..."

Jun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Akira menghampiri bocah berambut pirang itu, atau lebih kata yang lebih tepat, menahannya seraya menarik ujung lengan bajunya. Sang sniper kecil mengernyit heran, sorot matanya mengisyaratkan sebuah pertanyaan, "Mau apa kau?"

"Kalau mainannya tidak diperlukan, boleh Akira minta satu? Namine sepertinya mau salah satu boneka di tumpukan itu," jelas si detektif cilik tanpa basa-basi lagi.

Si pirang mengamati Akira sejenak, kemudian matanya tertuju kepada Namine yang ada di belakang punggungnya, lalu ke arah tumpukan hadiah, sebelum akhirnya kembali menatap Akira. Ia tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan. Bocah berambut biru itu tersenyum girang, mengucapkan "terima kasih!" dan berlari ke arah tumpukan hadiah, membiarkan adik kecilnya memilih satu yang dia suka.

Jun Cuma bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Ia menghampirinya dan membantu mengambilkan boneka yang diinginkan Namine. Gadis mungil itu tertawa senang seraya menggenggam boneka kelinci yang diambilkan oleh bocah berambut cokelat itu. Mulutnya membuka menutup, seolah ingin mengucapkan terima kasih kepada Jun. Akira Cuma terkekeh geli melihat adiknya.

"Hei."

Kedua sahabat itu menoleh berbarengan dan melihat si pirang menghampiri mereka. "Kalian sendirian ke kuil untuk Hatsumode?" tanyanya.

"Tidak, ada Papa Mama dan juga Yosuke-ojisan dan Chie-obasan bersama kami," sahut Akira.

"Tapi mereka sedang ngobrol sambil menunggu waktu matahari terbit," sambung Jun.

"Kalau begitu, kita main sama-sama yuk! Orang tuaku juga sedang menunggu waktu matahari terbit, jadi aku dibiarkan main sendiri."

Akira dan Jun saling pandang. Mereka berdua tersenyum lebar dan mengangguk bersamaan, kemudian kembali menoleh ke arah anak itu. "Baiklah!" seru keduanya riang.


Keempat sohib itu masih terus mengobrol sembari menikmati beberapa gelas sake manis. Tertawa bercanda, kadang serius sebelum akhirnya kembali tertawa ketika salah satu menggoda yang lainnya, baik itu tentang pengalaman yang memalukan ataupun pengalaman yang lucu. Mereka begitu menikmati obrolan mereka, sampai-sampai mereka tidak menyadari keberadaan kelompok lain di belakang mereka.

Satu tepukan di pundak cukup membuat Naoto yang sedang serius mendengarkan cerita Yosuke tentang Souji terkejut. Ia menoleh dan mendapati refleksi dirinya menatap balik. Detektif wanita itu mengerjap, sebelum berseru senang, "Oniisan!"

Minato tersenyum tipis. Ia bersama dengan Aigis, Junpei, Fuuka, Ryoji, Yukari, Elizabeth, dan—yang membuat Souji mengernyit heran—Margareth.

"Selamat tahun baru, semuanya," sapa Aigis, Fuuka, dan Yukari berbarengan.

"Selamat tahun baru," balas Chie riang.

"Elizabeth, Margareth, kenapa kalian ada di sini?" tanya Souji penasaran.

Kakak beradik berambut pirang itu tersenyum—yang benar-benar identikal—ke arah sang jaksa. "Memangnya tidak boleh kami menghabiskan liburan musim dingin dan merayakan Tahun Baru di sini?"

"Tidak…hanya saja, kalian 'kan jarang liburan ke sini. Biasanya ke luar negeri terus, 'kan?"

"Aku ingin menemui Akira-chan," Margareth tersenyum nakal. "'Kan sudah kubilang aku tertarik dengan anak itu..."

Dalam sekejap saja, ujung revolver milik Naoto dan katana Souji (yang entah sejak kapan dibawa olehnya) terarah ke wajah Margareth. Adiknya Cuma bisa sweatdrop bersama dengan keluarga yang lainnya. Margareth tertawa gugup dan mengangkat tangannya.

"Aku hanya bercanda."

Keduanya menurunkan senjata mereka masing-masing dan membiarkan wanita itu bernapas lega. Untuk mencairkan suasana tegang ini, Fuuka memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. "Bagaimana kabar Namine-chan?"

"Sehat-sehat saja...dia sedang bermain dengan kakaknya dan Jun," Naoto tersenyum.

"Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Yukari.

"Mungkin berkeliling menyusuri kedai-kedai," sahut Yosuke. "Ngomong-ngomong, sebentar lagi matahari terbit. Sebaiknya kita cari mereka."

"Akan kutelpon ponsel Jun," usul Chie seraya membuka ponselnya dan mulai menelpon nomor ponsel anaknya.

"Oh ya, Elizabeth," Ryoji menepuk pundak mantannya itu. "Sebaiknya kau panggil Christ juga. Dia pasti tidak mau melewatkan kesempatan melihat matahari terbit pertama tahun ini."

Elizabeth mengangguk pelan. "Ya, kurasa begitu..." ia meraih ponselnya dan mulai menelpon seseorang.

"Hm? Siapa itu Christ?" tanya Souji penasaran.

Aigis terkekeh geli. "Keponakan jauh kami. Usianya sebaya dengan Akira-chan. Dia ikut kemari bersama Elizabeth dan Margareth karena ingin mencoba melakukan Hatsumode."


"Oi, Christ! Ini sudah terlalu banyak!"

Bocah pirang yang diketahui bernama Christ itu menoleh ke arah Jun dan Akira, yang sekali lagi ber-sweatdrop ria karena melihat tumpukan hadiah di sampingnya. Kali ini mereka tidak bermain shooting game, tapi mencoba menangkap ikan koi. Si pedagang melihat kolam di depannya. Tinggal 2 ikan tersisa.

"Bicara apa kau, Jun-san. Aku 'kan sedang berusaha menangkap ikan yang diinginkan Nami-chan," tukasnya seenak hati seraya menangkap satu ikan lagi.

Namine, yang sedari tadi memperhatikan dan terus bergelayut di punggung kakaknya, menggeleng. Tangan mungilnya menunjuk satu ikan yang tersisa, menginginkannya. Christ tersenyum dan menangkap ikan yang terakhir itu dengan mudah dan menyerahkannya pada si bayi.

Akira menghela nafas panjang. "Lalu, ikan-ikan yang sudah ditangkap ini mau diapakan?"

"Terserah kamu saja, Aki-chan," si pirang menyahut cuek.

"...Ya sudah," sang detektif cilik menghadap pak penjual yang sedang menghitung uangnya dengan senang. "Ojisan, karena kami tidak perlu ikan yang lain, ikannya kami kembalikan untuk Ojisan saja."

Si pedagang itu agak kaget dengan ucapan bocah berambut biru di depannya. Tapi toh ia tersenyum dan mengelus rambut Akira. "Baiklah, anak manis. Tapi benar tidak apa?"

"Tidak apa, 'kok. Akira tidak butuh dua ikan."

"Ya sudah. Terima kasih ya, anak manis!"

"Sama-sama, Ojisan!"

Ia berbalik dan melihat Jun dan Christ sedang menerima telpon. Akira menatap mereka bingung sekaligus takjub. Bisa-bisanya mereka mendapat panggilan di saat yang sama.

"Iya...aku masih sama Akira dan Namine-chan, kok. Kalian ke sini saja...kami ada di depan stand memancing ikan mas," ucap Jun. Akira bisa menebak kalau dia berbicara dengan orang tuanya.

Kalau Christ beda lagi. Dia bicara dalam bahasa Inggris. Entah dia mengobrol dengan siapa, tapi sepertinya dengan orang dewasa yang membawanya ke sini. "Right...eh? It's almost the time? Yeah, of course I wanna see it! Yes, yes, I'll see you later, Auntie..."

Dan keduanya menutup panggilan mereka secara bersamaan, serta menghadap ke arah Akira dan Namine secara bersama-sama pula.

"Akira, sudah hampir waktunya matahari terbit. Orang tua kita katanya akan menjemput," jelas sahabatnya itu.

"Begitu...baguslah. Akira tidak sabar ingin melihat matahari pertama tahun ini!" Akira tersenyum riang. "Christ-chan juga mau dijemput?"

Anak pirang itu mengangguk. "Dijemput Tante."

"Sayang ya...pasti lebih menarik kalau kita melihatnya sama-sama."

"Tenang saja, kita akan melihatnya sama-sama 'kok."

"Hah?"

"Akira-chan, Jun-chan, Namine-chan!"

Ketiga bocah yang disebutkan namanya di atas segera menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat orang tua mereka berjalan menembus lautan manusia di daerah kedai itu...bersama dengan keluarga Minato dan yang lainnya.

"Wah, ada Minato-ojisan dan semuanya!" sorak Akira riang begitu para orang dewasa itu tiba di depan keempat bocah. "Metis-neechan dan Chijiro-niichan dan Yuji-niichan ke mana?"

"Mereka ada acara sekolah," jawab Minato singkat, mengelus rambut keponakan kecilnya pelan.

"Ikan dan boneka ini kalian yang beli?" Naoto mengernyit melihat kedua benda yang ada di tangan anak keduanya.

Putra sulungnya menggeleng pelan. "Bukan. Itu tangkapannya Christ-chan semua, tapi Namine-chan minta."

"Christ?" Souji melirik bocah pirang yang tengah mengobrol dengan Elizabeth dan Margareth. "Oh...jadi kalian sudah berkenalan dengan keponakan mereka toh."

Akira dan Jun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang jaksa dan agak kaget melihat kehadiran kakak beradik pirang itu. Tampaknya mereka tidak menyadarinya ketika para orang dewasa itu menghampiri mereka tadi. Akira langsung menunjukkan ekspresi tidak senang dan bersembunyi di balik kaki Souji, sementara Jun melipat kedua tangannya.

Junpei, yang melihat reaksi kedua bocah itu Cuma bisa tertawa. "Wah, wah, Eli-chan, Margie-chan, sepertinya anak-anak ini masih tidak suka dengan kalian."

Elizabeth mendongak dan menatap kedua anak yang dimaksud. "Mereka bukan tidak suka denganku, tapi dengan Margareth."

"Ternyata aku benar. Auntie Margareth memang mengeluarkan aura yang tidak disukai anak-anak," tutur Christ dengan senyum tak bersalah, dan langsung menerima jitakan dari tante yang dimaksud, membuatnya menggerutu pelan. "Ouch...hei!"

Margareth membiarkan keponakannya itu protes. Ia menghampiri Akira, yang langsung semakin bersembunyi di belakang ayahnya. "Menjauh. Dari. Papa. Nenek. Sihir!" desisnya.

Semuanya langsung tertawa mendengar gertakan bocah itu, tak terkecuali Margareth sendiri. Ia berjalan mundur menjauhi Souji seperti yang diminta dan mengangkat bahu. "Hm...aku benar-benar dibenci nih."

"Sudah, sudah...sebaiknya kita segera pergi ke bukit, tak lama lagi mataharinya akan terbit," ujar Yukari.

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju bukit yang dimaksud. Di sana, mereka bisa melihat pemandangan kota yang masih lumayan senyap, karena ini masih terlalu pagi. Souji menggendong Akira agar bocah itu bisa melihat lebih jelas dari atas, sementara Namine ada di pelukan Naoto. Jun berdiri di antara Yosuke dan Chie, antusias menunggu matahari muncul dari balik horizon. Christ juga sama antusiasnya dengan teman-temannya. Minato dan yang lainnya berdiri menghadap timur bersama para warga yang lain yang ingin menyaksikan matahari terbit yang pertama.

Tak lama kemudian, mereka bisa melihat secercah sinar dari arah timur. Perlahan tapi pasti, matahari mulai naik, menampakkan lebih banyak sinar, menandai datangnya pagi hari. Ketiga bocah lelaki itu bersorak tertahan, takjub dengan keindahan alam di hadapan mereka. Dalam hitungan menit, matahari muncul dengan sempurna, menyinari kota itu dengan cahayanya.

"Cantik sekali..." Christ terkesima.

Akira dan Jun setuju, dan tampaknya semua yang ada di sana juga setuju. Mereka menghabiskan menit-menit berikutnya memandangi matahari pagi itu, yang semakin lama semakin naik. Namanya anak-anak, mereka akhirnya bosan juga melihat hal itu dan mulai menguap. Orang tua mereka Cuma bisa tertawa kecil.

"Sebaiknya kita pulang," usul Fuuka sembari menahan tawa. "Mereka semua sudah mengantuk."

"Yeah...mereka ngotot sekali ingin melihat matahari pertama, sampai rela tidur lebih awal kemarin," tambah Chie sementara Yosuke menggendong Jun di punggungnya.

Ryoji tersenyum. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi, semuanya. Selamat tahun baru!"


A/n: Maaf endingnya garing...dan karena saya sedang tidak mood untuk mengomentari chapter ini, saya serahkan kepada anda untuk berkomentar melalui review! XDDD