ONE HELL OF A YEAR


-Naruto belongs to Masashi Kishimoto-


Summary: Tahun ajaran baru sudah dimulai. Harusnya ini menjadi tahun yang paling berkesan bagi murid-murid kelas 3, karena waktu kelulusan sudah di ambang mata. Termasuk bagi Haruno Sakura. Tentu saja itu jika asrama tempatnya bersekolah bukan Konoha Seito High, sekolah asrama khusus cowok... /AU/Highschool/


Rating: T

Genre: Romance/Friendship

Pairing: SasuSaku, dan sisanya hanyalah minor pairing...

AU, Highschool


-

CHAPTER 2:

Evil duffel bag!

-

AAARGHH!!! SIAAL...!! Rasanya aku ingin sekali memutilasi tasku!

Kenapa harus nyangkut di saat seperti ini, sih...!?

Sudah lima menit (LIMA menit!) aku berkutat dengan tas bodoh ini, berusaha melepaskan talinya dari tiang kayu penyangga pegangan tangga. Dan ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya semula.

Aku sekarang tengah berdiri di puncak tangga, menumpukan berat badan pada tumitku, dengan kedua tangan menarik tali tasku yang tersangkut. Ranselku tergeletak begitu saja beberapa anak tangga dibawahku (Aku sengaja meletakkannya jauh-jauh, –aku tidak mau jatuh dari tangga dan mati konyol hanya karena tersandung ranselku!)

Aku menarik lebih kuat, dan –sialnya- tanganku tergelincir, membuatku jatuh terduduk dengan keras ke lantai keramik yang dingin. Aku meringis kesakitan dan mendelik penuh dendam kepada tas jahanam tersebut.

"Rasanya hari ini semakin lama semakin indah saja...," gumamku sarkastis.

Dan aku berani bersumpah aku mendengar suara tawa tertahan dari suatu tempat di belakangku...

Terdorong rasa kesal, aku melompat berdiri dan memelototi sumber suara tadi. Siapapun-itu-yang-sedang-bersembunyi-di-sudut malah lanjut tertawa.

"Ha ha. Ya, tali tasku tersangkut di kayu tangga. Lucu sekali. " desisku kesal dengan suara rendah.

Beberapa saat kemudian, dua orang cowok berjalan keluar dari balik sudut tadi, masih tertawa terbahak-bahak. Cowok pertama berambut coklat acak-acakan, dengan tato merah berbentuk taring di kedua pipinya. Yang satu lagi berambut kuning spiky.

Aku mendelik kepada mereka berdua sementara mereka berjalan mendekat.

"Ayo, Kiba. Kita tolong anak baru itu," kata cowok yang berambut pirang sambil nyengir lebar.

Cowok berambut coklat yang dipanggil Kiba itu tertawa kecil dan berjalan menyusul temannya menuju tasku yang tersangkut. Keduanya tampak memandangi tasku sejenak, seolah menganalisanya, dan kemudian si cowok pirang meraih tali tasku dan mulai menariknya. Kiba memegangi pinggang Naruto dari belakang dan ikut menarik.

Benar-benar pemandangan yang lucu, sebenarnya. Kekesalanku tadi langsung sirna dalam sekejap.

Hmm... Orang-orang di internet [dalam hal ini, para FUJOSHI] akan sangat menyukai ini..., pikirku sambil nyengir iseng, —apalagi melihat posisi mereka yang 'mendukung' begitu.

Aku langsung menarik keluar handphone-ku dari saku celana dan mengambil beberapa foto (Ah..., Jiwa Blackmail-ku kumat lagi...) . Aku memotret mereka dari sudut yang membuat mereka tidak terlihat seperti sedang menarik tali tasku, tetapi sedang berusaha melakukan... erm ... sesuatu.

Oh, how I love blackmail...

Ha! Ini akan mengajarkan mereka untuk tidak macam-macam dengan Haruno Saku—, erm... Haruno Seishin.

"Naruto! Tarik lebih kuat lagi!" erang Kiba.

"Sudah kucoba, tapi benar-benar tersangkut, nih!" kata Naruto sambil menggeretakkan giginya.

Aku susah payah menahan tawa.

"Oi! Bisa bantu kita nggak, sih...!? Ini kan tasmu!" gerutu Kiba sambil memandangku dengan kesal.

Aku memutar mata. "Iya... iya...," jawabku malas-malasan sambil berjalan mendekat dengan tangan dibenamkan ke dalam saku celana. Aku memeriksa lebih jauh ikatan tali tampaknya terbelit membentuk simpul yang cukup rumit, dan menariknya hanya akan membuat ikatannya semakin sulit dilepas.

Aku menyipitkan mata emerald-ku, memandang simpul tali dengan lebih teliti. Dan tanpa disangka-sangka, aku menemukan sebuah tombol kecil untuk melepaskan tali tasku dari tasku.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memencet tombol itu. Dan benar saja —tali tasku langsung terlepas, membuat Naruto dan Kiba seketika terhempas ke belakang. Wajah mereka menunjukkan ekspresi terkejut bercampur kesakitan.

Aku menegakkan diri sambil tersenyum puas. Akhirnya benda kurang ajar itu berhasil kutaklukan! SHANNAROO...!!

Mataku kemudian beralih kepada Kiba dan Naruto yang masih terduduk di anak tangga. Melihat posisi mereka terjatuh (yang lagi-lagi sangat 'mendukung'), naluri blackmail-ku kembali kambuh. Aku buru-buru menyambar handphone-ku dan memotret mereka berdua .

Naruto sedang terbaring dengan kepala diatas pinggang Kiba. Rambut dan pakaian mereka tampak agak acak-acakan, dan mata mereka tampak agak sayu—, setengah terbuka-setengah menutup. Aku –hampir- meledak tertawa.

"A-apa yang kau lakukan?" Naruto memandang handphone di tanganku dengan alis terangkat.

"Blackmail." jawabku sekenanya, dengan sebuah cengiran lebar di wajahku.

Mereka mengedip, tampak agak bingung. Pandangan Kiba segera beralih pada Naruto, dan sedetik kemudian, matanya melebar.

"AAAAHH...!!!" Naruto dan Kiba sama-sama berteriak dengan ekspresi ngeri bercampur jijik. Keduanya langsung meloncat berdiri dan cepat-cepat membersihkan pakaian mereka seolah baru saja menyentuh kuman yang sangat berbahaya.

"Apa yang akan kau lakukan dengan foto-foto itu...?" tanya Naruto pelan, mata biru safirnya melebar ngeri.

"Sudah kubilang, kan? Blackmail." kataku tak acuh sambil memungut ransel dan tas tangnku.

"Ta-tapi... tapi... kenapa...?" tanya Kiba bingung.

"Karena aku ingin." jawabku sambil menyeringai kecil.

Naruto menunjukkan ekspresi memelas. "Apa kata Hinata nanti...? Gimana kalau dia marah?" katanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Aku mengangkat alis. "Hmm? Siapa itu Hinata...?"

"Pacarnya," gumam Kiba, menatap Naruto prihatin. Aku ber -'oohh' pelan dan kembali menyeringai kecil.

Well... Kita lihat saja, Naruto. Kalau sampai kau membongkar rahasiaku, pacarmu Hinata itu akan segera melihat foto-foto tadi beredar di internet...

"Oh, by the way... Thanks sudah mau membantu melepaskan tasku. Sudah, ya. Aku harus mencari kamarku," kataku sambil nyengir lebar kepada Naruto dan Kiba dan berjalan melewati mereka untuk mencari kamar nomor 216.

"H-hei! Tunggu!" panggil Kiba, membuatku berhenti berjalan, "Kami juga akan lewat sana. Berapa nomor kamarmu? Siapa tahu kami mengenal teman sekamarmu," lanjutnya sambil menunjuk pada Naruto dan dirinya sendiri.

"Oh," aku berbalik untuk menghadap mereka. "Nomor 216. Kalian kenal siapa pemilik kamarnya?"

Kiba dan Naruto saling bertukar pandang. Aku mengangkat alis ketika melihat Naruto agak meringis dan Kiba mengernyitkan dahi.

"Jadi...?" tanyaku tak sabar ketika mereka tidak juga menjawab, "Kalian kenal...?"

"Bukan kenal lagi, malah..." kata Naruto, disertai anggukan dari Kiba.

"Dia temanmu..?"

"Erm... Bisa dibilang begitu..." kata Naruto. Kiba hanya mendengus.

"Naruto menganggapnya semacam rival." kata Kiba, "Orangnya agak menyebalkan. Gak pedulian dan suka menghina orang seenak jidatnya,"

"Dia nggak seburuk itu, kok!" kata Naruto cepat-cepat, "...Sebenarnya orangnya nggak terlalu banyak bicara..."

Aku agak kecewa juga mendengarnya. Pendiam, gak pedulian, dan menyebalkan...? Aku juga gak mau dikacangin (atau malah diganggu) teman sekamarku sendiri selama satu tahun! Damn.

"Sudah, lah... Daripada berlama-lama disini, lebih baik kita bicara sambil jalan," ujar Kiba sambil berjalan mendahuluiku. "Erm... Siapa namamu tadi...?"

"Sei." jawabku sambil menyusulnya, "Haruno Seishin."

Naruto berjalan merendengiku dan menepuk pundakku. "Jangan khawatir soal Sasuke. Kalau kau sudah kenal dengannya, dia itu orangnya baik juga, kok," katanya sambil nyengir.

Ah... Ternyata namanya Sasuke, ya...?

Aku hanya tersenyum kecil pada Naruto.

Sementara kami bertiga berjalan dalam diam menyusuri koridor, aku memandang ke lantai dengan tatapan menerawang.

Apa aku akan sanggup menghadapi semua ini dan menipu semua orang sampai akhir tahun..?

Apa aku bisa?

Aku menghela napas panjang, berusaha menangkan diri. Lihat sisi baiknya, Sakura! Setidaknya kau tidak harus tinggal dengan 'orangtua' mu, kan...?

Tch...

Dalam kondisi seperti ini, rasanya sulit sekali memandang segala sesuatu dari segi positifnya.

"Oi...!" Naruto menyadarkanku dari lamunanku. "Bengong saja, kau! Kita sudah sampai, nih!"

"Eh? Ah... Ya," jawabku tergagap. Aku kaget juga karena tidak menyangka kita akan sampai dalam waktu sesingkat ini.

Kiba melempar cengiran lebar kepadaku sementara Naruto mendorong pintu kamarku terbuka dan melangkahkan kaki ke dalam.

"Hei, Sasuke! Guess what?"

Aku mempererat cengkramanku pada tali tasku dan berjalan menyusul Naruto tepat ketika ia berkata,

"...kami membawa teman sekamarmu yang baru, Sei."

-

TBC..

-


A/N: Huuff.. Agak singkat, ya..? Ternyata capek juga ngetiknya. Sasuke baru muncul di chapter selanjutnya... ^^

Saya sangat-sangat berterima kasih kepada semua yang telah memberi review di chapter sebelumnya! Saya gak nyangka ternyata ada juga yang mau me-review fic pertama saya ini.. :'D

Bagi siapa saja yang sudah mau mampir untuk membaca, sekali lagi saya juga ucapkan terimakasih!

Sankyuu, semuanya! *bows*