ONE HELL OF A YEAR
-Naruto belongs to Masashi Kishimoto-
Summary: Tahun ajaran baru sudah dimulai. Harusnya ini menjadi tahun yang paling berkesan bagi murid-murid kelas 3, karena waktu kelulusan sudah di ambang mata. Termasuk bagi Haruno Sakura. Tentu saja itu jika asrama tempatnya bersekolah bukan Konoha Seito High, sekolah asrama khusus cowok... /AU/Highschool/
Rating: T
Genre: Romance/Friendship
Pairing: SasuSaku, dan sisanya hanyalah minor pairing...
AU, Highschool
-
CHAPTER 3:
Overpowering Scent and Settling In
-
Hal pertama yang merasuki pikiranku saat aku memasuki kamarku yang baru, adalah aromanya. Aroma harum dan segar yang memenuhi seluruh sudut ruangan. Aroma yang begitu kuat, dapat menimbulkan semacam adiksi sekali kau menciumnya. Dan begitu hangat, sehingga rasanya aku tidak ingin berhenti menghirupnya.
Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba mengalihkan pikiranku dari aroma itu dengan melihat-melihat keadaan di sekitarku.
Secara keseluruhan, kamar baruku tampak rapi [untuk ukuran kamar cowok, tentunya]. Kamarnya cukup luas, dengan dua buah tempat tidur di sudut ruangan yang berbeda, dua meja belajar, dan dua buah lemari. Tempat tidur di pojok kiri ruangan memiliki selimut hitam dan bantal, dengan sebuah ransel hitam disampingnya. Sedangkan tempat tidur yang satunya masih kosong—, tanpa bantal dan selimut.
Lantai kamar dilapisi ubin keramik putih yang mengkilap. Sejumlah poster dan foto tersebar di dinding sebelah kiri ruangan. Kebanyakan diantaranya adalah potret beberapa remaja di depan berbagai monumen Jepang yang terkenal.
Dari tempatku berdiri di dekat pintu, aku dapat melihat foto sekitar tujuh cowok didepan monumen Tori Berkaki Satu di Kuil Sanno. Tampaknya fotonya diambil dari jarak yang agak jauh, sehingga wajah mereka semua tampak tidak terlalu jelas.
Yang kukenali dari mereka bertujuh hanya Naruto dan Kiba. Di sebelah kanan Naruto berdiri seorang cowok berkulit pucat dengan rambut hitam yang mencuat di bagian belakang kepalanya. Tampaknya matanya berwarna onyx. [Ugh... Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas dari sini!]. Ia agak lebih tinggi dari Naruto. Di sampingnya, berdiri cowok yang –agak- mirip dengannya, dengan rambut hitam pendek dan kulit yang (kelewat) pucat.
Sementara itu, disebelah kiri Kiba, masih ada cowok berambut merah dengan mata aquamarine terang, cowok berambut hitam panjang yang tampaknya lebih tua dari Naruto dan Kiba, dan seorang cowok dengan rambut hitam dikuncir satu yang membuat kepalanya tampak seperti nanas.
Saat pertama kali melihat foto itu, mataku langsung terpancang pada cowok berambut hitam yang berdiri di sebelah kanan Naruto. Mata onyx-nya tampak begitu dalam— ...menghanyutkan. Memikat seperti aroma yang kucium saat aku pertama kali memasuki ruangan ini...
"Damn... Dia tidak ada. Sepertinya ia sedang pergi makan siang," Naruto menghela napas sambil memandang ke jam tangan digital hitam-nya.
"Dia nggak akan lama. Jam makan siang akan berakhir sebentar lagi. Sementara itu, lebih baik kita bantu Sei membereskan barang-barangnya dulu," usul Kiba sambil berjalan kearah lemari.
Aku mengangguk dan berjalan ke bagian sebelah kanan ruangan, meletakkan kedua tasku ke tempat tidur yang masih kosong.
"Sepertinya selimut dan bantalmu ada disini, Sei," kata Kiba sambil membuka pintu lemari dan melongokkan kepalanya ke dalam.
"Masukkan saja tas pakaianmu ke dalam lemari. Masih banyak tempat yang kosong, kok," Naruto mengedikkan kepalanya ke arah lemari, dimana Kiba sedang menarik keluar sebuah selimut putih dan bantal.
"Thanks..." Aku segera mengambil tas tanganku dan menggeretnya menuju lemari.
Naruto masuk ke sebuah pintu (yang tampaknya menuju toilet) dan setelah beberapa saat kembali dengan membawa beberapa gantungan baju berwarna hitam.
"Ini. Lebih baik seragammu digantung dengan ini, supaya nggak kusut." Naruto menyodorkan gantungan-gantungan baju itu padaku.
"Eh? Apa ini punya Sasuke...?" aku menunjuk ke gantungan-gantungan baju tadi.
"Nggak, kok. Itu disediakan dari sekolah. Kau boleh memakainya," jawab Kiba sambil meletakkan selimut dan bantal diatas tempat tidurku.
Aku segera memasukkan gantungan pakaian tadi ke dalam lemari dan menutup pintunya. Setelah selesai merapikan selimutku, Kiba mendudukkan diri di tepi tempat tidur Sasuke, sementara Naruto berbaring di atas tempat tidur itu. Aku segera bergabung dan duduk bersila diatas tempat tidurku sendiri.
"Sei... Memangnya kau tinggal dimana, sih?" tanya Kiba tiba-tiba.
"Hm...? Aku tinggal di Konoha. Di dekat pusat kota," jawabku. "Kau sendiri?"
"Aku? Aku juga dari Konoha, kok. Kebanyakan anak yang bersekolah di sini memang tinggal di Konoha. Tapi ada juga sih, yang dari kota Suna, Oto, atau Iwa..." kata Kiba, disertai anggukan tanda setuju dari Naruto.
"Mereka teman-temanmu...?" aku mengedikkan kepala ke arah foto-foto yang terpajang di dinding di belakang Kiba. Kiba dan Naruto menoleh bersamaan untuk memandang foto-foto itu.
"Ah..., ya... Kebanyakan dari mereka adalah teman kami sejak kecil," kata Naruto sambil menunjuk foto tujuh orang cowok di Kuil Sanno yang sempat kulihat tadi.
"Bagaimana dengan mereka...?" Aku menunjuk foto empat orang gadis dengan latar belakang pohon-pohon Sakura yang sedang bermekaran.
"Mereka juga teman masa kecil kami." kata Kiba. "Yang di sebelah kanan itu Temari, lalu di sampingnya Ino, Tenten, dan Hinata."
Ah... Jadi itu pacarnya Naruto...? Manis sekali...
Aku tersenyum kecil dan memandang foto-foto yang lainnya. Pandanganku segera tertuju pada sebuah foto. Foto itu juga diambil di Nagasaki, namun bukan di Kuil Sanno seperti pada foto yang kulihat sebelumnya, melainkandi Kuil Sofukuji. Ada tujuh orang remaja dalam foto itu, –enam orang cowok, dan seorang gadis berambut pendek. Semuanya tampak beberapa tahun lebih tua dari aku, Kiba, dan Naruto.
"Apa mereka juga teman kalian?" tanyaku penasaran sambil menunjuk foto itu.
"Oh? Mereka?" Kiba melambai sekilas pada foto yang kutunjuk. "Ya. Mereka kakak kelas kita. Sekarang mereka sudah kuliah, — mereka dua tahun lebih tua dari kita." kata Kiba menjelaskan.
"Yang paling kanan itu Itachi, kakaknya Sasuke." tambah Naruto.
Aku memandang foto itu lagi dan memperhatikan potret ketujuh remaja itu dengan lebih teliti. Aku mengamati setiap orangnya mulai dari yang berdiri paling kiri.
Yang pertama adalah seorang cowok berambut abu-abu keperakan dengan mata berwarna ungu terang. Di sebelahnya berdiri seorang cewek berambut biru pendek dengan sebuah hiasan rambut berupa mawar putih dari kertas origami. Cewek itu sedang bergandengan tangan dengan cowok berambut orange terang.
Seorang cowok berambut pirang panjang berdiri di tengah-tengah mereka bertujuh. Salah satu matanya yang berwarna biru cerah tertutupi poninya yang panjang. Disampingnya berdiri cowok berambut merah dan berkulit agak pucat. Sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya.
Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku mengenal cowok berambut merah itu...
...Namun entah mengapa, aku sama sekali tidak ingat.
Aku segera menepiskan pikiran itu dari benakku. Tidak... Mungkin hanya perasaanmu saja, Sakura...
Aku mengalihkan perhatianku dengan kembali memandang foto itu. Kali ini aku mengamati dua orang yang berdiri paling kanan. Seorang cowok tinggi besar berambut biru, dan juga seorang cowok berambut hitam. Rambutnya yang agak panjang dikuncir di belakang tengkuknya.
Jadi ini kakak Sasuke...?
Aku mengamati foto Itachi dengan lebih teliti. Rasanya, wajahnya mengingatkanku pada cowok bermata onyx dengan rambut hitam yang mencuat di bagian belakang kepalanya itu...
Eh...? Kalau begitu, jangan-jangan... Dia...,
"Umm... Kapan Sasuke akan datang...?" tanyaku. Aku jadi semakin penasaran ingin melihat teman sekamarku itu.
"Mungkin beberapa menit lagi," Naruto menegakkan diri dan duduk bersama Kiba di tepi tempat tidur. "Ini kan hari Minggu, jadi kebanyakan orang lebih suka berlama-lama diluar kamar."
"Memangnya kalian biasanya pergi ke mana kalau sedang akhir pekan?"
"Biasanya ke taman atau Arcade didekat sini. Kadang-kadang kami juga ke café di foodcourt atau ke Mall. Jaraknya juga nggak terlalu jauh, kok. Cuma dua blok dari sini." ujar Kiba.
"Kiba biasanya selalu pergi ke taman setiap Sabtu untuk jalan-jalan dengan Akamaru." jelas Naruto.
"Akamaru..?"
"Anjingnya."
"Oh... Ok. Umm... Kira-kira Sasuke kemana, sih...?" tanyaku, mulai merasa tak sabar. Ugh... Aku sejak tadi sudah penasaran sekali ingin melihatnya!
"Tampaknya dia—," kalimat Naruto terpotong oleh suara pintu yang terbuka dan langkah-langkah kaki seseorang yang berjalan masuk.
Oh, Kami-sama, haruskah kau begitu kejam padaku...?
Mengapa kau begitu senang membuat masalahku menjadi tambah rumit?
Kalau aku tidak sedang berpura-pura menjadi cowok, aku pasti sudah jatuh ke lantai pada detik itu juga.
Ya, kalau tebakanku benar, orang yang barusan memasuki kamar ini adalah Sasuke.
Rambutnya yang hitam tampak agak mencuat di bagian belakang, dengan sedikit rambut disisakan untuk membingkai wajahnya yang tampan. Mata onyx-nya bahkan tampak lebih indah dan begitu hidup jika dibandingkan dengan fotonya. Kulitnya putih, (agak lebih pucat dari kulitku) kontras dengan warna rambut dan matanya.
Tubuhnya lebih tinggi dari yang kukira. Ia hampir 10 cm lebih tinggi dariku. Ia mengenakan jaket putih bergraffiti dengan warna hitam pada ujung lengan jaket dan hoodie. Ritsleting jaketnya dibiarkan terbuka, menunjukkan T-shirt hitam polos dibaliknya. Ujung celana panjang berbahan jeans yang dikenakannya separuh menutupi sepatu olahraga putih bergaris hitam yang membalut kakinya.
Aroma menyegarkan yang kuhirup saat pertama kali memasuki kamar ini kembali tercium—, bahkan kali ini jauh lebih tajam daripada sebelumnya.
Sepasang mata onyx Sasuke segera tertuju pada tempat tidurnya.
"Naruto?"
Suara yang dalam dan jernih meluncur keluar dari mulutnya.
Cengiran lebar muncul pada wajah Naruto, sedangkan Kiba menyeringai kecil pada Sasuke.
"Ini Sei. Teman sekamarmu yang baru, Sasuke." kata Naruto memperkenalkan sambil melambaikan tangannya sekilas kearahku.
Aku hanya mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman kearah Sasuke. Sejenak, pandangan kami bertemu. Wajahku tiba-tiba terasa agak memanas. Matanya yang gelap menatap mata emerald-ku dengan tajam, seolah ia dapat melihat menembus penyamaranku..
Aku menahan diri untuk tidak menghela napas lega ketika ia –akhirnya- mengalihkan tatapannya dariku setelah memberiku sebuah anggukan singkat.
Aku mengamati dari sudut mataku sementara Sasuke berjalan ke arah meja belajarnya, menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidurnya dan duduk.
Naruto, Kiba, dan Sasuke kini sama-sama duduk menghadapiku, menatapku lekat-lekat seolah akan menginterogasiku.
Namun, saat ini, aku tidak begitu peduli dengan perhatian mereka yang sepenuhnya tertuju padaku, karena satu-satunya yang sedang menghantui pikiranku adalah,
KAMI-SAMA!!
TEMAN SEKAMARKU ADALAH SEORANG DEWA...!!
-
TBC..
-
A/N: Akhirnya Sasuke dimunculkan juga... ^_^'
Sankyuu buat yang sudah review chapter sebelumnya! :'D
Mind to review dan beri masukan untuk chap ini...? :]
