ONE HELL OF A YEAR
-Naruto belongs to Masashi Kishimoto-
Summary: Tahun ajaran baru sudah dimulai. Harusnya ini menjadi tahun yang paling berkesan bagi murid-murid kelas 3, karena waktu kelulusan sudah di ambang mata. Termasuk bagi Haruno Sakura. Tentu saja itu jika asrama tempatnya bersekolah bukan Konoha Seito High, sekolah asrama khusus cowok... /AU/Highschool/
Rating: T
Genre: Romance/Friendship
Pairing: SasuSaku, dan sisanya hanyalah minor pairing...
AU, Highschool
-
CHAPTER 4:
A Little Chit-Chat
-
Mereka terus menanyaiku berbagai pertanyaan tanpa henti.
Huff... Kalau begini terus, bisa-bisa 'identitas'ku ketahuan! Apalagi aku sempat ragu-ragu saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan olahraga, game, atau segala macam hal yang disenangi cowok.
Dan ditambah lagi, Kiba tiba-tiba saja bertanya,
"Apa kau punya pacar?"
Aku hampir tersedak mendengarnya. Aku ingin menjawab 'tidak', tapi bisa-bisa mereka menyangka aku ini gay atau apa. Aku tidak mau kalau mereka jadi menghindariku gara-gara hal itu!
Aku berpikir sejenak dan kemudian menjawab dengan hati-hati, "Aku tidak berpikir untuk mencari pacar sekarang ini. Aku ingin fokus dulu ke pelajaran sekolah, berhubung sebentar lagi kita akan lulus dan masuk universitas."
"Pfft... Kau ini nerd banget, sih!" kata Kiba sambil memutar mata. Aku hanya mengangkat bahu tak acuh. Lebih baik disebut nerd daripada gay, kan?
Naruto mencibir, "Apa, sih, Kiba...?! Kau sendiri juga nggak punya pacar, kok..."
"Sasuke juga nggak punya, tuh..." gumam Kiba membela diri. Aku tertegun sejenak.
Eh...? Sasuke belum punya pacar?
... serius, nih...?
Aku diam-diam melirik ke arah Sasuke. Ia tampaknya tidak mendengarkan percakapan kami. Matanya tengah memandang ke luar jendela, dengan kedua tangan dilipat didepan dadanya.
Sesi tanya-jawab ini terus berlangsung selama hampir satu jam. Naruto dan Kiba tak henti-hentinya menanyakan bermacam-macam hal secara acak kepadaku. Sementara itu, Sasuke biasanya hanya diam saja sambil memandang ke luar jendela. Namun, meski ia kelihatannya tidak sedang mendengarkan, aku dapat merasakan pandangannya tertuju kepadaku setiap kali Naruto atau Kiba menanyakan hal yang menarik perhatiannya.
"Emm... Apa lagi, ya...?" gumam Naruto, memikirkan pertanyaan apa lagi yang akan dia ajukan kepadaku.
Kiba menjentikkan jarinya. "Ah, aku tahu...!" katanya, "Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka sepeti apa...?"
Mendengarnya, aku langsung terdiam—, membeku di tempatku. Mataku menatap kosong ke lantai.
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, karena aku sama sekali tidak mengenal orangtua kandungku. Mereka meninggal saat aku masih sangat kecil, dan setelah itu, aku tinggal dan dibesarkan di panti asuhan sebelum akhirnya aku diadopsi oleh kedua 'orangtua'ku yang baru sebulan yang lalu.
"Umm... Sei...? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah...?" kata Kiba cemas ketika melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah suram. Aku langsung tersadar dari lamunanku.
"Ti-tidak apa-apa, kok...," Aku menghela napas pelan dan kembali mendongakkan kepalaku untuk memandang mereka. Naruto dan Kiba tampak penasaran, bahkan Sasuke juga ikut memperhatikanku. "... Hanya saja..., sebenarnya aku ini diadopsi. Aku tidak ingat soal orangtua kandungku." lanjutku.
"Well... Jangan khawatir, Sei. Aku juga diadopsi, kok. Ayah angkatku adalah Iruka-sensei, guru matematika disini," kata Naruto sambil tersenyum lebar. Kiba nyengir dan mengangguk setuju.
"Sayangnya, anak angkatnya sendiri yang paling bodoh di pelajaran matematika," tambah Kiba dengan nada mengejek. Naruto menjulurkan lidah kearahnya.
"Biarin. Aku jaaauuuuh lebih cinta sepak bola."
"... Kalau itu sih, aku juga sama," kata Kiba sambil nyengir.
"Oh, ya... Sei, kau mau ikut tim sepak bola kami, tidak? Tahun ini anggotanya jago-jago semua. Apalagi ada Sasuke dan Neji. Pasti bakal seru," ajak Naruto sambil tersenyum lebar kepadaku.
Aku memandang sekilas ke arah Sasuke, namun ia tampaknya cuek saja.
"Emm... Nanti aku pikirkan lagi, deh..." jawabku ragu. Aku memang jago di bidang akademis, tapi kalau soal olahraga, aku tidak begitu mahir. Apalagi sepakbola!
"Hei... Ada apa sih dibalik topi itu? Kok kau pakai tobagan segala...?" tanya Kiba tiba-tiba sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menjulurkan tangannya ke arah topi tobagan yang kupakai.
"TIDAK!!" teriakku sambil memegangi ujung topiku erat-erat, mencegah supaya Kiba tidak menariknya lepas. Aku buru-buru beringsut mundur sampai kepalaku membentur dinding di belakangku dengan suara 'Dukk' pelan.
Kiba dan Naruto langsung tertawa melihat reaksiku. Bahkan Sasuke juga menyeringai kecil.
Ugh... Damn.
Aku perlahan menegakkan diri, mengawasi kedua tangan Kiba apabila ia kembali berusaha mengambil topiku.
"Aku hanya—," aku berdehem pelan ketika menyadari bahwa aku lupa menurunkan nada suaraku, "A-aku hanya... punya potongan rambut yang jelek...!" kataku cepat-cepat. Dalam hati aku merutuk diriku sendiri karena tidak bisa membuat alasan yang lebih bagus.
"Oh, ya?" Kiba menatapku dengan pandangan curiga. "Tapi jangan khawatir, kita pasti akan melihatnya cepat atau lambat," katanya lagi sambil tersenyum jahil. Aku menelan ludah.
Gawat. Aku hanya bisa berharap mereka tidak sampai melakukan macam-macam dan mengutak-atik tas pakaianku atau apa. Kalau sampai mereka menemukan –emm, barang-barang cewek disitu, habislah sudah.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah-langkah kaki mendekati pintu kamar, disertai suara beberapa cowok yang tampaknya sedang berdebat tentang sesuatu.
"... Oh—, ayolah, Itachi! Sekali-sekali luangkan waktumu sedikit, un...! Aku benar-benar butuh bantuan untuk mengerjakannya!" terdengar suara samar-samar seorang cowok dari balik pintu kamar.
"Berapa kali harus kukatakan, Deidara...? Aku benar-benar tidak sempat. Sore ini aku lagi-lagi diminta ikut seminar khusus di kampus," jawab cowok yang kedua. Nada suaranya dalam dan tegas.
"Pleaaaase..., un! Lusa makalahnya sudah harus dipresentasikan...!"
"Huh. Salah sendiri kau menunda-nunda membuatnya. Kan sudah kuingatkan dari dua minggu yang lalu," kata cowok yang ketiga dengan nada datar.
Aku, Kiba, Naruto, dan Sasuke menoleh bersamaan ketika pintu kamar kemudian dibuka dari luar. Percakapan singkat yang tadi kami dengar langsung terhenti seiring dengan masuknya seorang cowok ke dalam ruangan.
Dan sesaat setelah ia melangkahkan kaki memasuki ruangan, aku langsung mengenalinya sebagai kakak laki-laki Sasuke yang sempat kulihat fotonya sekitar satu jam yang lalu. Dengan rambut hitam yang dikuncir satu dibelakang tengkuk, kulit yang putih, dan mata onyx indah seperti milik Sasuke, aku langsung yakin kalau dia adalah Itachi.
Aku terpana melihat penampilannya.
Astaga.
Bagaimana mungkin ia bisa kelihatan begitu menawan hanya dengan mengenakan kaos hitam berlengan panjang dan celana panjang berbahan jeans seperti itu...?
Wajahnya pun tak kalah tampan dari Sasuke. Mungkinkah itu faktor genetik...?
'Tak salah lagi...' pikirku sambil menghela napas pelan.
Itachi berjalan dengan langkah-langkah cepat kearah kursi tempat Sasuke duduk.
"Hei, Sasuke... Maaf mengganggu, aku hanya ingin mengembalikan—," kata-kata Itachi langsung terhenti ketika menyadari kehadiran Kiba, Naruto, dan aku. Ia langsung berhenti berjalan dan tersenyum ramah kepada kami. "Ah.. Ada Naruto dan Kiba juga, ya... Apa kabar?"
Naruto nyengir lebar kepada Itachi. "Biasa, lah—, depresi karena tugas-tugas sudah menggunung. Kak Itachi sendiri apa kabar? Kok akhir-akhir ini jarang kelihatan?" tanya Naruto.
"Ah, iya. Akhir-akhir ini aku sering tak sempat mengurus ekstrakurikuler band. Aku terlalu sibuk meladeni berbagai kepanitiaan di kampus." ujar Itachi, "Baru hari ini aku mulai bekerja lagi. Sekalian mampir untuk mengembalikan ini," Itachi menunjukkan flashdisk dalam genggamannya dan menyerahkannya pada Sasuke.
"Hn," Sasuke menerima flashdisk itu dan mengangguk singkat pada Itachi.
"Oh, ya," kata Kiba tiba-tiba, "Kenalkan, Kak. Ini Sei. Teman sekamarnya Sasuke yang baru," Kiba mengedikkan kepalanya ke arahku. Itachi langsung berbalik untuk menghadapku.
"Oh, anak baru, ya...? Salam kenal." Itachi tersenyum ramah kepadaku dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Aku balas tersenyum dan menjabat tangannya.
Hhh... Andai saja Sasuke murah senyum seperti Itachi...
Kiba, Naruto, Sasuke, dan Itachi kemudian memulai obrolan singkat. Aku diam saja (karena tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan) dan melirik ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.
Dua orang cowok yang tadi datang dengan Itachi masih berdiri didepan pintu, menunggu Itachi sambil mengobrol dengan suara rendah.
Aku mengenali mereka sebagai teman-teman Itachi dari foto yang kulihat beberapa waktu yang lalu. Mereka adalah cowok berambut pirang panjang dan cowok berambut merah yang ikut berfoto didepan Kuil Sofukuji.
Aku mengernyitkan dahi.
Ah... Cowok berambut merah itu...
Sekarang, setelah aku melihatnya secara langsung, aku semakin yakin bahwa aku mengenalnya. Rasanya wajahnya itu sangat familiar...
Mungkinkah aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat?
... Kalau iya, lalu dimana...?
Merasa diperhatikan, cowok berambut merah itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Sejenak, mata coklatnya bertemu dengan mataku yang berwarna emerald terang.
Ia memandangku tanpa berkedip. Selama sesaat, ia kelihatan... agak terkejut saat melihatku...?
Ah... Mungkin hanya perasaanku saja...
Setelah itu, ia kembali mengarahkan pandangannya kepada cowok berambut pirang tadi dan melanjutkan pembicaraannya.
Dalam hati, aku masih gelisah. Apa dia juga mengenaliku...?
Kuharap tidak. Karena kalau ya, habislah aku.
"Sasuke, Naruto, Kiba, Sei... Aku pergi dulu, ya! Aku masih ada banyak urusan. Sampai jumpa minggu depan," kata Itachi tiba-tiba, membuyarkan pikiranku tadi.
"Bye, Kak!" sahut Naruto dan Kiba sambil nyengir lebar. Aku hanya mengangguk singkat pada Itachi.
"Hati-hati di jalan, Aniki." kata Sasuke, setengah bergumam. Namun kata-katanya tak luput dari pendengaran Itachi. Itachi tersenyum simpul dan melambaikan tangan ke arah kami sementara ia berjalan menuju pintu, menghampiri kedua temannya yang sudah menunggunya.
"Ah, ya." Itachi tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik menghadap kami saat ia tiba di pintu. "Naruto, Kiba... Aku hampir lupa. Tadi aku berpapasan dengan Ibiki-san di lantai satu, dan ia memintaku untuk memanggil kalian ke ruang kelas Sejarah. Aku tidak tahu kenapa ia memanggil kalian—, tapi kalau tidak salah, tadi ia sempat menyebut-nyebut sesuatu tentang detensi..."
Pintu kamar kemudian ditutup, diiringi suara samar-samar langkah-langkah kaki yang berjalan menjauh.
Sementara itu, Naruto dan Kiba saling bertukar pandang. Ekspresi mereka bercampur antara cemas dan putus asa.
Sasuke menghela napas. "Kalian ini ada-ada saja. Sekolah baru dimulai minggu ini dan kalian sudah kena detensi..?" katanya dengan nada tak percaya.
Mendengarnya, aku langsung tercengang.
Bukan. Bukan karena Kiba dan Naruto yang didetensi—, tapi karena yang barusan kudengar itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Sasuke semenjak satu jam yang lalu.
"Lebih baik kita cepat-cepat," gumam Kiba sambil bangkit berdiri. "Kalau sampai kita membuat Ibiki menunggu lebih lama lagi, bisa-bisa hukuman kita bertambah."
"Yeah." Naruto ikut bangkit dari posisinya berbaring di tempat tidur. "Sebaiknya kita pergi sekarang."
"Sampai nanti, Sasuke, Sei." Kiba melambaikan tangannya sekilas dan berjalan dengan langkah-langkah cepat keluar dari kamar, disusul oleh Naruto. Aku hanya melempar seringai kecil kepada mereka berdua.
"Ja ne, Kiba, Naruto."
Pintu kamar kembali menutup.
Suasana kamar langsung diliputi keheningan yang tak nyaman ketika Naruto dan Kiba sudah meninggalkan ruangan. Aku melirik ke arah Sasuke, yang sekarang tengah berdiri dari kursinya dan mendorong kursi itu samping meja belajarnya.
Great. Aku ditinggal berdua saja dengan Sasuke.
Aku menggigit bibir, berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini. [Jangan salah sangka.. Ini bukan berarti aku tidak mau berada dekat-dekat Sasuke, tapi lebih karena –entah kenapa- aku cenderung selalu gugup dan salah tingkah kalau berhadapan dengannya.]
Karena itu, aku memutuskan untuk mandi saja, —berhubung hari sudah sore dan aku belum mandi (Seharusnya aku tidak memakai kemeja cowok yang bahannya panas seperti ini! Tubuhku jadi terasa gatal-gatal...!).
Aku segera berjalan ke lemariku dan mengambil sepasang pakaian bersih dan sebuah handuk putih. Aku membuka pintu menuju toilet, namun ternyata didalamnya tidak ada shower untuk mandi.
"Sasuke...? Kamar mandinya ada dimana, sih?" tanyaku sementara aku menutup kembali pintu toilet.
"Hn? Di setiap kamar memang tidak disediakan kamar mandi. Hanya ada toilet saja," kata Sasuke sambil membuka-buka laci meja belajarnya dan menarik keluar sebuah i-Pod. Aku menatap Sasuke dengan bingung.
"Lalu kita harus mandi dimana..?"
"Ada kamar mandi umum di lantai tiga ini. Biasanya semuanya mandi disana." Sasuke mendudukkan diri di ujung tempat tidurnya, "Disitu sudah tersedia shower dan perlengkapan-perlengkapan mandi,"
"Letaknya dimana?"
"Ada didekat sini. Dari kamar ini, jalanlah ke arah kiri. Kamar mandinya ada di dekat ujung koridor."
"O-oh, thanks."
"Hn."
Aku melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dibelakangku. Aku menghela napas panjang sementara aku berjalan perlahan menyusuri koridor.
Aku baru saja meninggalkan kamar, dan aku sudah merindukan aroma menyegarkan yang mengisi kamar itu...
...Aroma Sasuke.
Aaargh! Kenapa aku jadi kepikiran soal dia terus, sih!?
Sadarlah, Sakura! Sekarang kau ini COWOK..!!
Hhh... Rasanya aku ingin sekali menendang diriku sendiri.
Aku kemudian memandang ke arah baju dan handuk yang kubawa, dan aku -lagi-lagi- menghela napas panjang.
Saat ini, aku hanya bisa berdoa semoga saja tidak ada orang yang sedang berada di kamar mandi.
Karena kau-tahu-sendiri-akibatnya-nanti.
-
TBC..
-
A/N: Haih... Akhirnya selesai juga.. -.-" Maaf kalau singkat dan update-nya lama... Minggu lalu saya bener-bener gak ada waktu buat nulis... L
[FYI: Itachi disini bekerja sebagai instruktur ekskul band di asrama itu... Makanya biasanya setiap hari Sabtu-Minggu dia datang ke asrama. J]
Terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua yang sudah me-review chap sebelumnya! *bows*
Adakah yang bersedia memberi review untuk chap ini...?
