Hajimemashite, minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, Typo

Pairing : IchiRuki, Ichi-Hime (ngetiknya maksa, sumpah!)


Trim'z banget yang udah mau ngereview Ruki


Armalita Nanda R._ kenapa harus Ichi-Hime? Tega bener, IchiRuki aja yah!! Hohoho maksa! Typo emang selalu menyertai Ruki yang cuma bisa ngebut ngetik di hari Sabtu, coz Laptopnya gak boleh di bawa ke kost'an ma Ayah... jadi maap yah kalo mengganggu saat membaca fic ini..

Aine Higurasi_Aine-chan! Ketemu agi.. trim'z udah review fic Ruki yang ini juga.. IchiRuki? Yaiyalah.. tanpa dimintapun mana sudi Ruki ngebuat Inoue makin deket ma Ichigo. Makan racun buatan sendiri dong?

Jess Kuchiki_Trim'z udah nyempetin review. I will do my best!!

TripleA-7sins_udah Ruki kasih penjelasannya di chap 1 coz cap 1 aku perbaikin semua. Moga udah paham. Trim'z dah review.

BakaMirai_Udah pernah baca ya? Bagus banget kan? Masalahnya Ruki lupa ma pengarangnya. Kalau BakaMirai mau bantu kasih tau pengarangnya. Ruki bakal seneng banget tuh!

Sevachi 'Ryuuki J'_maap pas nentuinnya terburu-buru, jadi meleset dah. Ruki juga baru nyadar pas baca review kamu. Trim'z yah..!! ^_^

^_^ Kilas balik chap. 1

Sinyal mereka bertiga mulai terganggu dan berubah, membuat hubungan diantara ketiganya pun tak seperti dulu lagi.. Rukia merasakan bahwa Inoue cemburu melihat dirinya bila bersama dengan Ichigo. Inoue juga mengakui bahwa ia iri karena Rukia yang bisa satu kelas dengan Ichigo. Saat Inoue sakit, Ichigo tak mempedulikan Rukia yang terluka.. "Kenapa, Ichigo? Padahal aku juga terluka." kata Rukia dalam hati.


Dari komik dengan judul


~3 COLOURS SIGNAL~

Chapter 2


"Ichigo, aku juga terluka. Kenapa kau tidak menghawatirkan aku? Dan kenapa aku merasakan sakit seperti ini?" kata Rukia dalam hati yang kini berjalan sedikit pincang mengikuti Ichigo dari belakang.

Di UKS

"Syukurlah, hanya demam biasa." kata Ichigo yang kini berdiri di samping ranjang tempat Inoue berbaring.

"Iya, untung saja dia tidak kenapa-kenapa." jawab Rukia tersenyum lega.

Ichigo memandang Rukia sejenak kemudian menarik tangan Rukia menjauh dari ranjang menuju lemari P3K.

"Kemarikan kakimu!" perintah Ichigo.

"Kau menyadarinya, Ichigo?"

"Tentu saja aku menyadari lukamu itu, Rukia... Aku sangat menghawatirkan Inoue karena tubuhnya lemah sejak kecil, tapi kalau kau terluka aku juga khawatir, habis kau imut sih!!" goda Ichigo yang saat ini membalut luka Rukia dengan perban dan hal itu berhsil membuat muka Rukia merah.

Plak (Ichigo memukul pelan luka Rukia yang telah diperban)

"Nah! Sudah selesai." kata Ichigo dengan tawanya.

"Aw! Sakit bodoh!" teriak Rukia.

"Sssttt.. nanti Inoue bangun."

"Huh! Dasar!"

"Baiklah aku akan melihat keadaan dilapangan basket dulu. Kau jaga Inoue sampai aku kembali ya?"

"Iya!" jawab Rukia ketus.

Kemudian Rukia menuju ranjang tempat Inoue terbaring dan berdiri di sampingnya.

"Kurosaki, jangan tinggalkan aku tetaplah disini" kata Inoue yang masih menutup kedua matanya.

Rukia kaget mendengar kata-kata Inoue barusan.

"Inoue? Kau…"

Sangat jelas saat ini. Rukia mengetahui persaan Inoue yang sebenarnya.

30 menit kemudian..

"Emm.. kepalaku pusing"

"Ah! Kau sudah sadar, Inoue?"

"Kuchiki?"

"Ya, ini aku. Apa kita pulang sekarang saja?"

"Dimana Kurosaki?"

"Dia masih melatih tim basket junior, aku disuruh membawamu pulang ke rumah untuk istirahat, Ayo!"

"Baiklah, ayo kita pulang."

Di kediaman rumah Rukia, tepatnya kamar Rukia.

"Inoue, apa kau menyukai Ichigo?" kata Rukia pada sebuah figora foto di depan matanya saat ini.

"Perasaan apa ini? Semoga semua masih seperti dulu dan tidak akan berubah." kata Rukia sedikit lesu.

Esok pagi di sekolah.

Saat ini Rukia tengah berjalan berdua dengan Inoue menuju kantin.

"Kuchiki, aku.. aku menyukai Kurosaki." kata Inoue tiba-tiba dan itu berhasil membuat Rukia terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.

"Kau tidak keberatan kan, Kuchiki?" tanya Inoue sekai lagi.

"Ap.. apa maksudmu Inoue? Tentu saja tidak! aku malah akan mendukungmu! Percayalah!"

"Benarkah, Kuchiki? Terima kasih." kata Inoue dengan senyum lebarnya dan ia sangat tidak menduga reaksi Rukia ini sebelumnya.

"Hahahaha... bisa saja kau ini!" kata Rukia yang sama sekali menentang isi hatinya yang sebenarnya.

"Kenapa hatiku sakit mendengar kata-kata Inoue tadi?" kata Rukia yang mampu terucap dalam hati saja.

Dan dari kejauhan telah berdiri Ichigo bersama Keigo dan Renji yang jalan bersama menuju kantin juga.

"Wah! Mereka berdua sahabatmu kan, Ichigo?" tanya Renji pada si rambut Orange yang kini tengah meminum jus orange kotakannya.

"A.." jawab Ichigo sangat singkat dan malas.

"Wah! Kau beruntung sekali, Ichigo. Dan kalau kau disukai oleh keduanya, kira-kira siapa yang akan kau pilih nanti?" kata Keigo yang berhasil membuat Ichigo menyemprotkan minuman yang ada di dalam mulutnya disertai wajah terkejut bercampur marah.

"Apa maksudmu?" tanya Ichigo mulai terganggu dengan ocehan teman gajenya itu.

"Ya.. kali saja mereka menyukaimu. Bukankah kalian sudah sangat teramat dekat. Masa mereka tidak merasakan apa-apa padamu selama ini?" kata Keigo menjelaskan.

"Kalau aku sih milih Rukia, dia manis sih!" kata Renji asal.

"Kalau aku tentu saja Inoue. Hehehehe.." kata Keigo asal juga.

"Kalau kau Ichigo?" tanya keduanya bersamaan tepat di depan muka Ichigo.

"Aku... aku pilih... Ah! Kenapa aku harus menjawabnya. Sudahlah! Hentikan ocehan kalian yang ngelantur itu!" kata Ichigo yang kini mulai berjalan meninggalkan kedua teman anehnya itu.

"Hahahahaha.. kau bingung ya, Ichigo?" teriak Renji yang kini berlari ke arah Ichigo yang mulai jauh.

"Hahahaha... Iya, dia bingung, Renji." kata Keigo menanggapi ejekan Renji pada Ichigo.

"Dasar! Mereka berdua. Aneh! Kenapa aku bisa berteman dengan mereka." gumam Ichigo yang berusaha untuk tidak menanggapi olokan temannya.

Pulang sekolah, di lapangan basket.

"Kak Rukia, kami mau minta izin untuk menonton Festival Kembang Api bersama Kak Ichigo." kata para junior cewek.

"Iya, Kak Kuchiki, biarkan Kak Ichigo bersama kami tahun ini saja." Mohon salah asatu dari mereka.

"Iya Kak, setiap tahun kan kakak bertiga selalu datang kesana bersama. Kali ini biarakan kami bersama Kak Inoue pergi ke Festivalnya, ya?" kata para sebagian junior Cowok ikut-ikutan aksi para jenior cewek.

"Wah.. mereka populer sekali ya?" kata Rukia dalam hati.

"Aku sih terserah mereka berdua saja. Lagi pula aku tidak keberatan kalau mereka setuju." kata Rukia asal karena ia tidak tau harus menjawab apa. Kemudian Rukia menatap kedua sahabatnya itu bergantian.

"..." dilihatnya Ichigo hanya diam.

"Tapi, Kuchiki bagaimana denganmu?" kata Inoue angkat bicara.

"Kak Rukia akan berangkat bersama kami." kata sebagian para jenior cowok yang kini mengambil tempat di belakang Rukia.

"A..aku?" kata Rukia

"Iya, Kak. Berangkat bersama kami saja."

"Begitu ya..." kata Rukia dengan senyum.

"Hahahahaha... kalian penasaran ya dengannya... jangan harap deh! Dia kan preman." teriak Ichigo yang tiba-tiba saja mengejek Rukia tentunya tanpa sebab yang jelas.

"Apa kau bilang?" teriak Rukia tak kalah kencangnya dan pastinya dengan hati dongkol karena di ejek preman oleh Ichigo.

"Yah.. untuk kalian sih, aku kasih cuma-cuma deh. Hahahaha..." kata Ichigo yang tengah senang mengejek Rukia.

"Apa maksudmu, Jeruk!"

"Kurosaki.."

"Ada apa ya dengan Kak Ichigo?"

"Iya, di terlihat cemburu, ya?" kata siswa-siawi lain lirih.

"Hahahaha kalau kau mau pergi dengan mereka. Pergi saja sana. Aku sudah bosan sih pergi berdua denganmu!"

"Baiklah!!! Terserah!!"

"Kurosaki, kenapa kau marah seperti itu?" kata Inoue yang kini mendekat ke arah Ichigo.

"Apa maksudmu, Inoue? Aku biasa saja." kata Ichigo santai.

"Oh, begitu." kata Inoue dengan muka sedikit tersirat kesedihan.

Setelah debat panjang tadi semua klubpun mulai latihan basket bersama. Tim Cowok melawan tim cewek. Ichigo selalu memperhatikan Rukia bermain dan saat Rukia sampai di depannya.

"Apa kau serius, Rukia?" tanya Ichigo dengan masih mendribel bola.

"Apa maksudmu, Ichigo? Bukankah kau yang menginginkannya." kata Rukia yang masih menghadang Ichigo yang mendribel bola didepannya.

"Em...." kata Ichigo sambil melempar bola di daerah 3 point.

"Aku jemput kau jam 7 malam. Bersiaplah!" kata Ichigo bersamaan dengan masuknya bola di ring. Lalu Ichigo mengakhiri permainannya.

"Apa yang baru saja ku dengar benar? Syukurlah hati kami masih belum berubah." kata Rukia dalam hati.

"Baiklah! Latihan hari ini cukup." teriak Ichigo.

"Inoue, kita harus dandan yang cantik nanti malam, pangeran memutuskan untuk pergi bersama kita."

"Yaaaaaaaaaahhhhhh......" kata para junior.

"Maaf ya? Lain kali saja, oke?" kata Ichigo kepada semua jeniornya yang terlihat sangat kecewa.

"Iya pasti dong" kat Inoue menjawab pernyataan Rukia barusan.

"Terserah kalian sajalah." kata Ichigo sedikit blushing.

Malam harinya.

Saat ini Rukia tengah mengenakan kimono berwarna ungu lembut dengan corak bunga-bunga lily lebar berwarna merah muda. Rambutnya ia urai dan di bagian kanan dari rambutnya ia jepit dengan bentuk jepitan yang menyerupai motif kimononya. Saat ini Rukia terlihat sangat manis dan tidak seperti biasanya.

"Hwaaaa... kau cantik sekali, Rukia!" kata Hisana kakak Rukia.

"Tentu saja donk, baiklah aku akan menjemput Inoue dulu, Kak."

"Baiklah, awas jalannya hati-hati."

"Ya!"

Dirumah Inoue

Tok..tok..tok...

"Permisi" kata Rukia yang di selingi sedikit ketukan pada pintu rumah Inoue.

Cklek

"Oh, Rukia! Silahkan masuk Inoue masih dandan di dalam. Naik saja ke kamarnya."

"Baik, Tante. Permisi" kata Rukia pada ibu Inoue.

"Inoue.." teriak Rukia saat akan sampai di depan pintu kamar Inoue.

"Oh, Kuchiki. Masuklah."

"Waaaa... kau cantik sekali Inoue" kata Rukia yang kini melihat Inoue dengan Kimono orengenya yang senada dengan rambutnya. Ia juga terlihat sangat cantik dengan rambut yang ia jepit keatas agak kesamping kanannya. Ia juga menyisakan sedikit rambut untuk membingkai wajahnya.

"Kau juga manis sekali Rukia, tapi aku masih mencari sesuatu. Kau pergi duluan saja Rukia. Aku mungkin sedikit lama."

"Tapi, Inoue.."

"Iya, Nak.. acaranya akan segera dimulai. Kau pergilah dulu bersama Ichigo, Inoue tak kan pergi tanoa Obi kan?" kata Ibu Inoue menjelaskan agar Rukia mau berangkat terlebih dulu.

"Baiklah, aku akan pergi duluan. Tapi jangan lama-lama ya?"

"Tentu saja, Kuchiki." kata Inoue meyakinkan.

Disisi lain

"Huh! Kenapa mereka lama sekali sih? Dingin juga." kata Ichigo yang kini tengah menunggu di luar rumah Inoue. Dan tak lama kemudian pintu rumah Inoue terbuka dan Rukiapun keluar dan menuju ke arah Ichigo.

"..."

"Bagaimana penampilanku hari ini, cantik kan?" kata Rukia di depan Ichigo.

"Dimana Inoue?" kata Ichigo membalikkan pandangannya untuk menutupi wajahnya yang sedikit blushing.

"Kita di suruh berangkat dulu. Nanti dia akan menyusul." kata Rukia yang kini berjalan mencoba menuruni tangga kecil untuk sejajar dengan Ichigo di depannya.

"Oh begitu. Baiklah. Kita berangkat saja"

"Hwaaaaa.." kata Rukia yang kehilangan keseimbangan karena terganggu dengan kimononya yang sangat sempit itu. Dengan sigap Ichigo menahan tubuh Rukia dengan memeluknya.

"I.. Ichigo?" kata Rukia dalam pelukan Ichigo dan keduaanya kini blushing bersamaan.

"Makanya kalau jalan hati-hati, Preman!" kata Ichigo menutupi kegugupannya.

"Iya.. iya. Maaf!"

"Kesinikan tanganmu." perintah Ichigo yang kini meraih tangan Rukia dan menggengganya

"...?"

"Agar kau tidak jatuh lagi." kata Ichigo menjawab tatapan penuh tanda tanya dari Rukia.

"Kenapa perasaanku jadi hangat seperti ini? Padahal dulu kami sering berpegangan tangan seperti ini. Tangannya sangat menghangatkanku. Kenapa perasaanku menjadi seperti ini?" kata Rukia dalam hati. Sepanjang perjalanan, Rukia dan Ichigo sama sekali tidak saling bicara.

Di tepi sungai, tempat Ichigo, Rukia dan Inoue biasanya manonton kembang api.

Jduar...

"Waaaah... indahnya" kata Rukia melihat ke arah langit dengan senyum lebar yanng manis dengan mata yang berbinar-binar. Ichigo yang reflek melihat ke arah Rukia hanya kagum dan tersenyum datar.

"Enak ya jadi perempuan, semakin dewasa semakin cantik. Sebenarnya aku cemburu saat kau diajak oleh mereka kemarin. Bagaimana ya seandainya suatu hari nanti kita berpisah?" kata Ichigo yang kini melihat kearah langit

"Berpisah? Jangan mengatakan itu. Tetaplah kau bersamaku Ichigo. Kata Rukia serius.

"Rukia?"

"Berjanjilah untuk terus bersamaku, Ichigo." kata Rukia serius dengan menyentuhkan kedua tangannya pada kedua pipi Ichigo dengan lembut.

"Ru..kia.."

Tiba-tiba saja muka mereka saling mendekat dan mendekat. Kemudian mereka saling berciuman tanpa mereka sadari dan rencanakan sebelumnya. Setelah itu dengan perlahan mereka menjauhkan kedua bibirnya dan membuka sepasang matanya masing-masing.

"Ruki.."

"Ah! A.. aku.. aku.. Hwaaaaa...." teriak Rukia dan langsung menjauh dari Ichigo. Sedangkan Ichgo hanya masih terdiam dengan ekspresi terkejut dan tak pecaya.

"Apa yang aku lakukan barusan? Aku gila!"

"Hah.. hah.. Maaf teman-teman aku terlambat." teriak Inoue yang baru saja sampai dengan terengah-engah.

"Hah? Kenapa kalian berwajah merah seperti itu?"

"I..Inoue, ah! Tidak, aku hanya merasa dingin saja." jawab Rukia sewajar mungkin.

"Oh begitu, ayo kita berdiri di depan sana. Supaya lebih jelas!" ajak Inoue kepada kedua temannya.

"Ya!" kata Ichigo berusaha menyembunyikan kejadian yang baru saja terjadi.

"Baiklah!" kata Rukia yang saat ini mengambil tempat di samping kiri Ichigo namun sedikit kebelakang.

"Jantungku tidak berhenti berdebar-debar. Suara gemuruh dari kembang api bahkan tidak bisa mengalahkan suara detak jantungku saat ini. Ada apa denganku? Oh! Kami-sama, kenapa bisa seperti ini?" kata Rukia berpikir dalam hati dan masih terdiam dengan wajah sedikit merah.

Esok pagi

Saat ini Ichigo tengah berjalan menuju sekolah dengan Rukia dan Inoue di sebelah kanan dan kirinya.


Tiada satupun yang mau bicara saat ini.

"Wah! Tidak biasanya nih, Kuchiki bisa bangun sepagi ini!" kata Inoue memecah keheningan.

"Pasti akan terjadi badai topan!" kata Ichigo mengejek.

"Apa kau bilang, Bodoh?" kata Rukia mendekatkan wajahnya pada wajah Ichigo.

"Memang benar kan, Tukang tidur!" teriak Ichigo di depan muka Rukia.

Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang lumayan dekat. Mereka terdiam cukup lama kemudian tersadar dan saling membuang muka.

"Aku.. berdebar-debar. Aku harus menjauh darinya." kata Rukia dalam hati.

"Jadi teringat. Ah! Sudahlah!" kata Ichigo dalam hati.

"Mereka berdua aneh sekali. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka kemarin?" pikir Inoue dalam hati.

Di kelas 3-3

Setiap Rukia bertabrakan pandang dengan Ichigo, Rukia selalu membuang muka. Dia sangat malu, setiap ia melihat Ichigo mukanya langsung blushing, dan jantungnya berdetak begitu cepat sehingga ia selalu salah tingkah bila di dekatnya. Rukia juga sering melamun dan tidak konsentrasi saat pelajaran maupun berbicara dengan teman-temannya. Dan itu membuat Ichigo merasa bersalah dan tidak nyaman sama sekali.

"Sebenarnya apa sih yang dia pikirkan?" kata Ichigo dalam hati menaggapi perilaku Rukia yang berubah 180 derajat itu.

"Bagaimana ini... Aku? Ichigo dan Inoue? Apa yang harus aku lakukan?" pikir Rukia dalam hati. Dan hanya itulah yang Rukia pikirkan sejak tadi.

"Rukia!" kata Ichigo mendekat pada bangku dimana Rukia duduk.

"A.. apa?" kata Rukia tanpa memandang ke arah Ichigo.

Mulai nanti kita akan memajukan waktu latihan basket kita karena minggu depan kita akan ada pertandingan antar SMA, jadi jangan sampai terlambat." kata Ichigo panjang lebar.

"Ya!" jawab Rukia kemudian berjalan meninggalkan Ichigo yang masih berdiri di samping tempat duduknya.

Pulang sekolah, Di lapangan basket sekolah.

"Bagaimana ini?! Dimana anak itu?!" teriak Ichigo marah-marah karena menyadari bahwa Rukia belum juga datang.

"Sabar Kurosaki, sebentar lagi pasti Kuchiki datang." kata Inoue mencoba menenangkan.

"Mana bisa seperti ini?! Kurang 1 minggu lagi pertandingan itu dimulai. Dia malah malas-malasan seperti ini!"

"Hah..hah..hah.. maaf teman-teman aku terlambat." kata Rukia dengan nada tergesa-gesa.

"Apa saja yang kau lakukan, hah?! Kau tau ini sudah 1 jam melebihi jadwal latihan yang di tetapkan." teriak Ichigo penuh marah.

"Ak.. aku minta maaf" kata Rukia dengan nada penuh penyesalan.

"Sudahlah, sekarang mana kunci Ruang Klub?"

"Kunci?"

"Iya kunci!" teriak langsung panik dan merogo semua kantungnya dan menggeledah tas miliknya dari sudut kesudu. Namun hasilnya nol.

"A...aku lupa... maaf."

"Apa? Mana bisa kita latihan tanpa bola? Kamu gimana sih?!"

"Maafkan aku aku banyak memikirkan sesuatu akhir-akhir ini."

"Alasan saja! Pasti memikirkan hal-hal yang tidak berguna."

"Hal-hal yang tidak berguna?" kata Rukia dalam hati.

Seketika itu juga Rukia menundukkan kepalanya, berdiam sebentar dan langsung berlari keluar lapangan.

"Kuchiki.." teriak Inoue.

"Biarkan saja dia!" kata Ichigo dan pergi menjauh dari TKP.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa hubungan mereka menjadi buruk seperti ini?" tanya Inoue pada dirinya sendiri.

"Apa yang kalian lakukan?! Cepat lakukan pemanasan!!" teriak Ichigo penuh marah.

Para junior yang barusan terdiam melihat pertengkaran antara Ichigo dan Rukiapun segera mengambil posisi untuk pemanasan.

"Inoue, kau punya kunci cadangannya kan?" tanya Ichigo pada Inoue yang masih merenung memikirkan sesuatu.

"Ah! Kurosaki, i.. iya akan aku ambil dulu di ruang OSIS."

"Ya, terima kasih." kata Ichigo singkat lalu kembali ke barisan para juniornya.

Di taman Karakura

"Hah.. hah.. hah.. aku lelah berlari terus." kata Rukia pada dirinya sendiri.

"Aku bingung." kata Rukia sambil duduk dengan melipat kedua kakinya di atas rerumputan. Ia menyandarkan dagunya di kedua lutut miliknya dengan wajah lelah dan sedih.

Sore hari saat Rukia baru sampai di Rumahnya.

"Rukia, kau sudah pulang. Bagaimana latihannya?" tanya Hisana pada Rukia yang kini berjalan gontai menuju kamarnya di lantai dua.

"Aku lelah, Nee-chan. Aku akan istirahat dulu di kamar" kata Rukia dengan nada malas

"Baiklah! Kau istirahatlah dulu."

Di balkon kamar Rukia.

"Dasar Ichigo bodoooh... bodoooh...!!!" teriak Rukia meluapkan semua kekesalannya.

"Kenapa dia menyalahkanku? Hiks.. hiks.." kata Rukia lirih.

"Siapa yang bodoh?" kata seseorang di balkon rumah sebelah.

"I..Ichigo?"

"...?" Ichigo diam sejenak dan memperhatikan Rukia.

"Hei! Kenapa kau menangis?" kata Ichigo sedikit khawatir.

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak sedang menangis." kata Rukia yang kini mengelap air mata di sudut-sudut matanya.

"Aku bilang, kenapa?!" teriak Ichigo.

"Bukan urusanmu!"

"Kenapa?!"

"Bukan urusanmu!" kata Rukia yang kini berjalan perlahan masuk ke dalam kamar.

"Hei! Kalau kau tidak memberitahuku. Aku akan meloncat kesana."

"Apa?! Jangan becanda!"

"Jadi cepat bilang, kenapa kau menangis?"

"Tidak akan pernah"

"Kalau memang itu maumu aku akan kesana."

"Ichigo, disini tempatnya tinggi bisa-bisa kau.." kata-kata Rukia terpotong saat ia melihat Ichigo telah melompat dan sampai dengan selamat di balkon Rumah Rukia.

"I..Ichi..go?"

Ichigo segera menghapiri Rukia dan menghapus air matanya.

"Sudah lama aku tidak melihatmu, menangis? Apa yang terjadi?" tanya Ichigo lembut.

"A.. aku aku bingung.. aku tidak tau harus berbuat apa?" kata Rukia tak jelas pada Ichigo dan kini air matanya kembali mengalir tak terkendali.

"Rukia.." kata Ichigo sambil mendekat dan memeluk Rukia.

"Hiks.. hiks..." Rukia menangis di pelukan Ichigo.

"Menangislah bila itu bisa membuatmu lega" kata Ichigo berusaha mengerti Rukia.

Di sisi lain, tepatnya di depan Rumah Rukia.

"Ku..Kuchiki?" kata Inoue gagap setelah melihat sepasang insan yang sedang berpelukan di lantai atas. Inoue langsung saja berlari dan kembali kedalam Rumahnya.

"Kenapa kau menghianati aku, Kuchiki? Kenapa?"

TeBeCe


Trimz Banged Ama Semua Yang Udah Ngereview Karya Aku Yang Enggak Sempurna Ini...

Review Masih Ditunggu Nih...

Jadi Diharapkan Kedatangannya Bagi Para Readers

Yang Baik Hati


Arigatou and Mata Ashita "^_^"

R P

E L

V E

I A

E S

W E