Fic ini awalnya bukan buat fanfiction. Tapi gara-gara ngebet pingin jadiin SasuNaru, jadi deh ganti format! Hehehe... Oke deh, selamat membaca!

Warning: AU, shounen-ai, don't like don't read!

Bokutachi no Uta

By: Hana Elriana

Disclaimer: Masashi Kishimoto

-CHAPTER 1-

"Pokoknya Naru nggak mau kayak Ayah, titik!"

Suara menggelegar dari seorang pemuda berambut kuning menggema di seluruh pelosok kota-er...kediaman seorang aktor terkenal di Konoha, Namikaze Minato. Dengan mata menyipit dan kedua tangan yang disilangkan, ia membentuk pose yang sangat mirip dengan orang mogok makan. Pria berambut putih panjang yang ada di depannya hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Heh, kalau kamu jadi aktor, kita bisa semakin kaya! Lihat dirimu, orang-orang apalagi para gadis pasti akan cepat menyukaimu. Ayahmu yang seperti itu saja disukai hampir seluruh orang di negara Api ini. Apalagi kamu yang masih remaja dan punya wajah cakep seperti ayahnya, pasti lebih terkenal! Dan...uhm, bisa menambah keeksisan manajemen artisku ini," kata pria berambut putih panjang-lebar tanpa membiarkan si kuning tuk berbicara.

"Nggak, pokoknya Naru nggak mau! Emang siapa sih yang memaksa Kakek buat ngotot banget ngajak Naru jadi aktor kayak Ayah? Naru 'kan masih mau sekolah. Nggak mau sibuk kayak Ayah yang berangkat pagi pulang tengah malem," Naruto tetap bersikukuh dengan keputusannya.

"Haah... Ya sudah, yang penting aku sudah mengingatkanmu. Kali ini aku akan membiarkanmu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, tanganku pasti terbuka untukmu," kakek itu berbicara sambil membuka kedua tangannya, seakan siap untuk membawa Naruto ke pelukannya.

Naruto hanya membuang muka sambil mencibir, membuat sang kakek semakin gemas saja hingga akhirnya mencubit kedua pipi Naruto dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Naruto mengaduh, ia segera menepis tangan kekar kakek yang kini malah tersenyum lebar ke arahnya.

"Baiklah, anak nakal. Aku akan kembali ke kantor. Banyak naskah yang harus kuselesaikan untuk dorama ayahmu. Setelah itu mandi air panas di pemandian umum. Lalu..."

Tidak perlu mendengar perkataan sang kakek lebih lanjut, Naruto sudah tahu apa yang ada di pikiran pria itu. Seketika ia berteriak, "Dasar mesum!"

-*.*.*-

Naruto berjalan melewati gerbang sebuah sekolah menengah atas terbaik di kotanya. Beberapa gadis kelas satu tampak berbisik-bisik sambil memandanginya. Cekikikan, lalu tersenyum sambil menunduk ketika Naruto melewati mereka. Suatu pemandangan yang biasa dilihatnya setelah kurang lebih tujuh bulan yang lalu ayahnya menjelma menjadi aktor terkenal. Ia hanya senyum-senyum saja sambil membalas sapaan mereka. Namun sesungguhnya, di dalam hatinya ia tidak setuju dengan keadaan ini. Ia tahu, mereka menjadi perhatian kepadanya bukan karena dia Uzumaki Naruto, tetapi karena dia adalah Uzumaki Naruto putra dari Namikaze Minato. Walaupun menurutnya ia senang karena kini banyak yang memperhatikannya, tapi ia lebih suka kalau mereka memperhatikannya sebagai seorang Naruto, bukan sebagi anak dari aktor terkenal. Haah... Naruto menghela nafas menyadari kehidupannya sekarang.

Tapi tunggu. Bukan, bukan itu yang membuatnya menghela nafas dengan nada sebal seperti itu. Ia menghela nafas sebal kepada pemandangan sekolompok gadis yang kini sibuk tertawa manja sambil memotreti seorang pemuda yang melintas di hadapannya. Matanya menangkap bahwa pemuda yang menjadi pusat perhatian kini hanya terus berjalan dengan cueknya, membiarkan beberapa gadis menjadi semakin histeris dengan gaya cool tersebut.

Pandangan mereka berdua sempat bertemu. Naruto yang memandang sebal, dan pemuda berambut hitam yang memandang dingin. Benar-benar suatu harmoni yang tidak sedap untuk dinikmati. Naruto membiarkannya berlalu sambil tetap melemparkan tatapan sebal. Ia hampir saja melemparnya dengan botol minuman kosong yang ada di genggamannya ketika seseorang bertato di kedua pipi berteriak ke arahnya.

"Yo, Kiba!" seru Naruto memandangi pemuda yang memanggilnya sedang berlari-lari kecil ke arahnya.

"Ngapain tuh muka kamu tekuk lagi? Kucel loh lama-lama. Hahaha!" seru Kiba sambil menunjuk-nunjuk wajah Naruto yang masih saja ditekuk-tekuk kayak origami.

Naruto menjawabnya dengan gerakan mata yang menunjuk pada pemuda berambut hitam yang kini kesulitan untuk masuk kelasnya sendiri karena terhalang oleh gadis-gadis yang berebut ingin foto bersama. Kiba langsung mengangguk paham.

"Mentang-mentang albumnya sukses aja belagunya kayak gitu. Argh, berlebihan banget!" umpat Naruto sebal.

Kiba tertawa kecil, "Bukannya udah dari dulu Sasuke kayak gitu? Bagi-bagi pesona kulkas di sembarang tempat. Hm, kamu iri, ya, Naruto? Hihihi..."

"Nggak! Sama sekali!" Naruto berteriak dan langsung meninggalkan Kiba untuk menuju ke kelasnya. Diterjangnya sekelompok gadis yang masih saja ngotot memotret sang idola yang juga masih kesulitan memasuki kelasnya. Alhasil, bukan wajah Sasuke yang terpotret, melainkan rambut duren Naruto yang melambai-lah yang masuk dalam kamera mereka. Kelakuan Naruto membuka jalan bagi Sasuke untuk masuk. Ia pun berjalan mengikuti Naruto yang kini berusaha keras menutup pintu kelasnya.

Setelah yakin bahwa keramaian sudah sedikit mereda di luar sana, Naruto meninggalkan pintu dan duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan bangku Sasuke. Dilihatnya Sasuke sedang merapikan rambut ayamnya yang sedikit berantakan. Menyadari bahwa dirinya kini sedang dipandangi makhluk kuning berjaket oranye, Sasuke mendongak dan menoleh kepada Naruto.

"Apa, Usuratonkachi?" desisnya dingin.

Sebal dengan sapaan sumbang di telinganya, akhirnya Naruto berhasil melempar Sasuke dengan botol kosong yang rencananya akan dibuat penelitian dan sukses membuat rambut Sasuke yang sudah rapi kembali berantakan.

"Dobe!" bentak Sasuke dengan tatapan tajamnya.

Naruto langsung membuang muka dan pura-pura tidak mendengar dengan menyibukkan diri melipat jaket oranyenya dan memasukkannya ke ransel. Hal itu membuat Sasuke semakin berang saja. Namun dengan satu tarikan nafas singkat, Sasuke berhasil mengatur emosinya dan kembali merapikan rambutnya.

Bel sekolah berbunyi. Seorang wanita masuk bersama dengan beberapa siswa lainnya yang langsung menuju bangku masing-masing. Kiba yang duduk di belakang Naruto sempat berusaha menyembunyikan beberapa bungkus makanan ringan ke ranselnya, mengundang alis Naruto untuk naik-turun seakan ingin mengatakan aku minta ya! pada Kiba.

-*.*.*-

"Aku pulang," seru Naruto di teras rumahnya.

Sepi, tidak ada yang menjawab. Naruto tahu, pada jam pulang sekolah seperti ini pasti rumahnya masih sepi. Tapi, apa salahnya tetap berharap ada yang membalas sapaannya? Itulah yang ada di pikiran Naruto saat ini. Semenjak dorama yang dimainkan sang ayah sukses, rumah mereka menjadi sepi. Minato sama sekali belum pernah pulang sore hari ketika Naruto pulang sekolah. Satu dorama selesai dimainkan Minato, datang lagi cerita lain yang menuntutnya kembali menjadi pemeran utama. Hal itulah yang membuat Minato begitu sibuk sehingga untuk menyambut anaknya pulang sekolah saja ia tidak punya waktu.

Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Naruto menolak permintaan Jiraiya-sutradara, manajer, sekaligus yang mengarang cerita dorama Minato untuk ikut menjadi aktor seperti ayahnya. Naruto pikir, apa jadinya kalau ia dan ayahnya sama-sama sibuk sehingga sama sekali tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama? Selama ini, sesibuk-sibuknya Minato, pria itu selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Juga bercanda sejenak dengan Naruto ketika di tengah malam Naruto belum tidur hanya untuk menyambut kedatangannya. Sungguh, Naruto tidak ingin kehilangan momen tersebut. Ia sungguh tidak ingin berhenti menyambut sapaan ayahnya ketika beliau pulang kerja di tengah malam.

"Selamat datang."

Eh? Rangkaian lamunan Naruto buyar begitu saja ketika suara dari seorang yang sangat dikenalnya mampir di telinganya. Seakan tidak percaya dengan pendengarannya, Naruto mengusap-usap daun telinganya. Ia boleh tidak percaya dengan pendengarannya. Tapi pemandangan di depannya sama sekali tidak bisa membohonginya. Senyum pun terkembang di wajah coklatnya.

"Ayah!"

Naruto berlari menyambut sosok yang kini membuka kedua lengannya untuk memeluk sang buah hati. Dipeluknya tubuh itu erat sambil tak henti-hentinya tersenyum. Minato sendiri juga ikut tersenyum merasakan kasih sayang yang begitu dalam diberikan Naruto padanya. Ia sangat sadar bahwa ia sangat menyayangi Naruto melebihi segalanya. Dibelainya rambut yang sewarna dengan rambutnya pelan, dan perlahan melepaskan pelukan itu.

"Kok Ayah sudah pulang?"

Minato mengacak-acak rambut Naruto, "Ayah diizinkan untuk pulang karena kebetulan scene yang Ayah mainkan sudah selesai. Jadi malam ini kita bisa menghabiskan waktu bersama, Nak! Kau senang?"

Naruto mengangguk semangat. Kembali ia memeluk tubuh sang ayah sambil tertawa kecil.

"Baiklah, ayo kita ke bioskop! Naru sudah menanti-nantikan bisa nonton bareng Ayah. Kita berangkat sekarang ya? Ya?"

"Nanti, ya, Nak. Karena Ayah masih harus menyelesaikan rundingan dengan kakekmu. Katanya, beliau punya ide cerita untukmu," jelas Minato sambil menunjuk ke arah belakang.

Naruto mengikuti arah telunjuk ayahnya dan mendapati pria berambut putih bertubuh besar yang tadi pagi berkunjung ke rumahnya sedang berdiri membawa sebuah buku seukuran saku. Naruto mengernyit lalu kembali memandangi Minato.

"Ayah nggak memaksa Naru menjadi aktor, 'kan?"

Minato tersenyum sambil menggeleng pelan, "Tidak, Nak. Kakekmu itu memang punya ide cerita untuk dorama yang rencananya dimainkan olehmu. Tapi Ayah tidak akan memaksamu untuk menerimanya. Karena ini terserah kamu. Sudah yuk, kita lanjutkan di ruang tamu saja."

-*.*.*-

"...Jadi begitu ringkasan ceritanya," Jiraiya menutup penjelasannya tentang ide cerita yang menurutnya sangat brilian sambil menyeruput teh hijaunya.

Naruto sudah berkali-kali menggaruk-garuk kepalanya. Ia berkata lirih, "Lumayan ringan sih ceritanya. Nggak akan terlalu sibuk juga. Tapi...Naru 'kan nggak bisa akting?"

"Tenang, Naruto. Manajemen artis yang kukelola selalu melahirkan bintang-bintang yang terkenal. Contohnya ya ayahmu ini. Aku akan membantumu untuk berakting. Dan aku jamin, doramamu pasti sangat sukses! Oh iya, segala jadwalnya juga sudah aku urus. Jadi kamu tidak usah khawatir, ini tidak akan mengganggu sekolahmu. Apalagi ayahmu juga ikut ambil bagian dalam dorama ini," jelas Jiraiya.

"Tapi tetap aja Naru nggak mau terkenal! Naru nggak mau jadi satu-satunya pemeran utama yang nantinya harus selalu dikerubungi wartawan dan ditanya-tanya!"

"Hei, bodoh! Kau tidak mengerti apa yang kujelaskan tadi ya? Siapa bilang kalau hanya kamu yang menjadi pemeran utamanya? Hah! Apa perlu kujelaskan lagi panjang-lebar kalau pemeran utama di cerita ini ada dua orang?"

Naruto menggembungkan pipinya. Ia memang setengah malas dan juga setengah tidak mengerti dengan penjelasan Jiraiya yang menurutnya sangat membosankan itu. Setelah menenangkan dirinya untuk tidak berteriak kepada kakeknya, ia kembali berkata, "Lalu siapa dong satunya?"

Sebelum menjawab, Jiraiya tersenyum lebar, "Dia adalah seorang penyanyi pendatang baru, yang juga menjadi salah satu anak asuhku. Akting memang sesuatu yang baru dalam karirnya, sama sepertimu. Tapi aku yakin, kalian berdua pasti bisa mensukseskan dorama ini."

"Tidak usah bertele-tele. Cepat, siapa orangnya!"

"Khukhukhu. Dia... Uchiha Sasuke."

TBC

Komentar? Saran? Kritik? Mari dituangkan di kolom review! XD