Masih dengan warning yang sama seperti chapter 1. So, don't like don't read!

Happy reading! ^_^

-CHAPTER 2-

Naruto memang tidak pernah peduli dengan manajemen artis yang dikelola kakeknya. Siapa saja yang menjadi asuhannya—kecuali ayahnya tentu saja—Naruto tidak tahu, dan tidak mau tahu. Namun siapa sangka kalau sekarang pemuda tujuh belas tahun itu kini sibuk membongkar-bongkar arsip kakeknya yang berisi daftar asuhan manajemen artis bernama Gamabunta itu? Hanya satu hal yang membuatnya melakukan hal tersebut. Apa lagi kalau bukan mencari kebenaran bahwa Uchiha Sasuke—teman sekelas sekaligus rival terberatnya—adalah salah satu anggota Gamabunta? Kemarin dirinya benar-benar kaget saat mengetahui bahwa nantinya lawan mainnya adalah Sasuke. Ia hanya berharap semua ini adalah mimpi belaka.

Mimpi yang menjadi nyata, mungkin? Karena ternyata lembaran yang ada di tangan Naruto menjawab semuanya. Jelas sekali dapat terbaca di sana rangkaian huruf yang menyambung kata Uchiha Sasuke, lengkap dengan tanggal bergabung serta riwayat karir, dan dipermanis dengan jadwal kegiatan bulan ini. Jelas juga bahwa di antara sederet jadwal menyanyi di berbagai tempat, terdapat satu minggu dimana sang artis harus mempersiapkan diri untuk bermain dorama. Dan itu adalah minggu ini.

Hal itu membuat Naruto semakin lemas saja.

Main dorama bareng Sasuke-teme? Tidak! teriaknya dalam hati.

-*.*.*-

"Heeei?" Kiba mencolek pundak Naruto berkali-kali. "Ada apa denganmu hari ini, Naruto?"

Naruto diam saja sambil tetap menunduk. Kiba langsung membuang nafas kesal. Sudah berkali-kali ia mencoba mengajak bicara anak itu. Tapi tetap, lawan bicaranya sama sekali tak pernah menanggapi omongannya. Padahal Kiba tahu benar, saat-saat menjelang jam istirahat seperti ini biasanya temannya itu begitu cerewet. Ketika ia ingin mengajaknya bicara, anak itu pasti langsung menoleh dan menanggapinya. Entah roh apa yang merasuki tubuh Naruto saat ini, Kiba tidak tahu. Yang dia tahu, dari pagi Naruto sudah berubah menjadi orang aneh yang pelit ngomong.

"Huh! Hei, kenapa hari ini kau pendiam dan lemas sekali? Belum sarapan? Atau malah salah makan? Ooh...atau, kamu kebanyakan minum obat? Waduh, gawat kau ini. Padahal sudah dijadwal sehari satu obat penenang saja untuk meredakan keugal-ugalanmu. Kamu minum berapa butir obat?" kata Kiba lagi dengan suara pelan, takut ketahuan oleh wali kelasnya yang sekarang sedang menerangkan materinya.

Naruto masih diam saja. Kiba jadi capek sendiri. Ternyata candaannya sama sekali tidak membuat Naruto semangat seperti biasanya. Yang ada ia kena tegur dari Kakashi karena dianggap mengobrol sendiri di kelas. Guru berambut perak itu malah memuji Naruto yang diam saja dan tidak menganggap omongan Kiba. Alhasil, niat—baik—Kiba yang ingin mengembalikan keceriaan Naruto terbayar dengan hukuman berdiri di luar kelas sampai istirahat. Kiba hanya membuang nafas sebal sambil berjalan perlahan menuju pintu. Sungguh sial nasib pemuda itu.

Kakashi kembali menerangkan materinya ketika Naruto akhirnya bereaksi. Ia menoleh dan memandang kepada pemuda berambut hitam di sampingnya yang sedang serius mencatat. Ia menyesal karena dulu saat masuk ke sekolah ini sebagai anak baru ia memilih untuk duduk di sebelah Sasuke. Awalnya ia kira Sasuke adalah anak yang menyenangkan. Ternyata...yah, begitulah. Kalau saja tidak ada peraturan untuk dilarang pindah tempat duduk dari wali kelasnya, Naruto sudah pindah tempat duduk dari dulu. Sekarang ia menyesal, benar-benar menyesal.

Tiba-tiba terbayang dialognya bersama Jiraiya tadi malam sebelum kakeknya itu meninggalkan rumahnya.

"Ke-kenapa harus Uchiha Sasuke, Kek? Kenapa nggak cari pemain lain?" serunya kepada Jiraiya yang sedang menyeruput teh hijau tenang.

"Memangnya kenapa?" Jiraiya meletakkan gelasnya, "Dia adalah penyanyi yang langsung sukses di album pertamanya. Selain itu wajahnya juga tampan, bisa mendongkrak kesuksesan dorama itu nantinya."

"Dan kenapa harus aku yang berpasangan dengannya menjadi pemeran utama? Aku ingin menjadi apa saja asalkan tidak berpasangan dengannya!"

"Heh, hanya kau dan dia yang cocok memainkan dua karakter utama! Memangnya ada apa dengan dia? Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan Sasuke, kan? Lagian kata ayahmu, kau dan dia satu sekolah, kan? Itu sangat memudahkan agar kami cepat menghubungi kalian."

"Justru itu! Dia—"

"Sudahlah, nurutlah dengan kakekmu ini. Bukankah aku sudah pernah bilang, kalian berdua pasti berhasil memainkan dorama ini!"

Naruto bungkam. Namun dalam hati, ia tetap tidak bisa mempercayai kenyataan ini. Aku harus tetap mencari tahu. Siapa tahu ini hanyalah kesalahan, batinnya.

Naruto mengacak-acak rambutnya yang entah sudah berapa kali dibuatnya berantakan. Kenyataan tentang Sasuke-lah yang membuatnya sangat lesu hari ini. Saking lesunya, sapaan selamat pagi dari Minato tadi tidak dijawabnya dengan semangat seperti biasa. Dan saking lesunya, ia sampai-sampai tidak memberitahu kepada ayahnya kalau nanti ia pulang lebih awal. Tapi yah, mungkin percuma juga. Hari ini Minato kembali memainkan bagiannya. Itu artinya, pulang cepat atau pulang lambat, tetap saja tidak berpengaruh.

Kembali Naruto teringat pada salah satu celotehan Jiraiya tentang ide doramanya,

"Kalian akan berperan sebagai sepasang sahabat."

Mana bisa aku memerankan peran seperti itu kalau kenyataannya aku dan dia bukan sepasang sahabat? Ia menelungkupkan kepalanya diantara kedua lengannya yang dilipat di atas meja. Pikiran-pikirannya tentang Sasuke mulai melintas di sana. Tentang Sasuke yang selalu menatapnya tajam, tentang dirinya yang selalu membenci Sasuke, juga tentang mereka yang walaupun duduk bersebelahan tapi tidak pernah akrab. Semuanya berkecamuk dalam pikiran Naruto.

Kenapa harus Uchiha Sasuke? Kenapa? Kenapa? Kenapa bukan Sabaku no Gaara saja? Toh Gaara adalah seorang aktor remaja yang juga sedang naik daun. Pastinya ia mempunyai kemampuan berakting yang lebih baik daripada Sasuke. Walaupun bagi Naruto Gaara adalah pemuda yang pendiam seperti Sasuke, tapi setidaknya ia dan Gaara sudah berteman baik sejak lama. Setidaknya, ya, ia akan merasa jauh lebih nyaman bila dipasangkan dengan Gaara ketimbang dengan Sasuke. Dan sekali lagi, kenapa harus Sasuke? Pikiran Naruto serasa mau meledak saat ini juga. Ia tahu bahwa ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus segera diakhiri.

Ya, aku hanya tinggal bilang kalau aku mengundurkan diri kepada Kakek dan semua selesai.

Tapi... Tapi bagaimana kalau Kakek tetap memaksaku? Dan bagaimana kalau semua orang menilaiku sebagai anak yang pengecut? Tidak, ini sulit!

"Argh! Pusing!" seru Naruto tanpa sadar.

Sedetik kemudian, suasana menjadi hening seketika. Seakan waktu yang dihentikan tiba-tiba, puluhan pasang mata di kelas yang berada di sudut sekolah itu terhenti pada sosok Naruto. Naruto sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencerna semua itu sebelum akhirnya nyengir dengan canggung, membuat tatapan heran teman-temannya menjadi lebih lama tertuju kepadanya—termasuk sepasang mata dari pemuda yang sedari tadi menjadi pokok pemikiran Naruto. Semua orang juga sudah tahu bahwa mengobrol—walau itu hanyalah bisikan—sedikit saja di jam pelajaran guru berambut perak ini adalah masalah besar. Naruto serasa sebagai terdakwa di pengadilan, menunggu hukuman dari sang hakim Kakashi yang pantas didapatnya.

Rupanya kekhawatiran Naruto itu berlebihan. Karena ternyata Kakashi tersenyum dari balik maskernya dan berkata, "Bagus sekali. Pusing adalah salah satu gejala kanker otak. Kau banyak kemajuan, Naruto. Pintar, pertahankan. Baiklah anak-anak, kita lanjutkan pelajaran ini minggu depan. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang tadi. Selamat siang!"

Naruto masih tetap terdiam dan menganga ketika satu-persatu teman-temannya meninggalkannya untuk menyambut jam istirahat yang sudah ditunggu.

-*.*.*-

Naruto memutar knop pintu kamarnya pelan. Ia begitu lesu. Harinya kali ini sama sekali tidak bersemangat. Otaknya sudah capek memikirkan segala hal tentang dorama yang rencananya akan syuting bulan depan. Jadi yang ia inginkan sekarang hanyalah mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya lalu tidur sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Hanya itu. Tidak terlalu muluk, kan?

Tapi lagi-lagi sesuatu membuat pikirannya kembali panas. Ketika ia sudah siap dengan segala peralatan mandinya, hanya tinggal mengguyur badan saja, bel rumahnya berbunyi. Ia langung mengutuk bel pintu yang tidak bersalah itu dan berniat untuk merusaknya kalau sekali lagi benda itu mengganggunya. Dengan tidak ikhlas ia menyambar baju ganti yang sudah siap di tempat tidur dan memakainya asal-asalan lalu berjalan ke arah teras rumahnya. Dibukanya pintu itu dan seketika ia tersentak. Penatnya perlahan-lahan berkurang saat mengetahui siapa yang datang.

"Gaara! Ayo masuk!"

-*.*.*-

"Jadi...bagaimana kabarmu? Sudah hampir dua bulan loh kita nggak ketemu. Kamu masih tetep pendiam saja."

Gaara mengangguk sedikit sebelum berkata, "Baik-baik saja."

"Gimana karirmu di Tokyo? Sukses, kan? Denger-denger kamu udah dikontrak buat main film di sana ya? Selamat!" seru Naruto sambil nyengir lebar.

"Terima kasih," sahut Gaara datar tanpa ekspresi.

Naruto tertawa kecil melihat reaksi dari sahabat masa kecilnya itu. Naruto tahu, inilah yang ia suka dari Gaara. Walau dingin dan pendiam, Gaara masih mau menanggapi omongannya yang panjang-lebar tak tentu arah, walaupun tanggapannya sangat standar. Tidak seperti tuan-penjual-kulkas-bermulut-tajam itu. Yah, lagi-lagi Naruto merasa perlu untuk mengundurkan diri saja dari proyek yang—menurut Naruto—begitu menyusahkan ini. Tidak, bukan perlu lagi, tapi harus. Atau minimal memaksa kakeknya untuk mengganti perannya apapun alasannya.

Tiba-tiba Naruto mengingat sesuatu. Ia belum menanyakan sesuatu yang seharusnya ia tanyakan kepada orang yang sangat jarang berkunjung ke rumahnya seorang diri, apalagi di saat jam sibuk seperti ini.

"Oh ya. Ada perlu apa kamu ke sini? Tumben kamu nggak ditemani Sasori-niichan," tanyanya.

Gaara menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Aku datang ke sini bersama kakekmu, dia yang menyuruhku ke sini. Sekarang dia keluar lagi untuk menjem—"

"Heeh? Kakek Jiraiya? Lalu, buat apa dia menyuruhmu?"

"Buat melatihmu berakting."

"Oh...buat melat—APA?"

Suara bel pintu kembali terdengar, membuat Naruto terpaksa mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut kepada Gaara. Ia pun bangkit dan menghampiri teras lagi untuk membukakan pintu. Sekali lagi, ia tersentak menyadari siapa yang datang. Ia langsung menurunkan alisnya dan menatap tajam pada tamunya itu.

"Hei, Naruto, kenapa kamu diam saja? Persilakan masuk atau apa kek. Ini malah diam saja," kata pria besar berambut putih panjang yang menjadi tamu Naruto ini.

"Mau apa kamu ke sini, heh?"

Jiraiya hanya mengerutkan dahi bingung melihat reaksi dari cucunya ini. Setelah menyadari bahwa tatapan Naruto mengarah bukan ke arahnya melainkan ke arah lain, ia tersenyum dan menoleh sekilas ke belakang.

"Hari ini jadwalmu untuk berlatih akting, Naruto. Sasuke juga kuajak untuk berlatih bersama di rumahmu. Untung saja kalian pulang sekolah lebih awal, jadi bisa lebih lama berlatihnya. Kenapa tidak dari tadi pagi kau memberitahu bahwa sekolahmu pulang cepat? Aku tidak perlu repot-repot menjemput Sasuke kalau tahu dari tadi. Aku, kan, bisa langsung menjemput kalian berdua di sekolah," ujar Jiraiya tenang sambil merangkul pundak pemuda bermata onyx yang kini menatap mata safir Naruto tajam. Dan tanpa dipersilakan masuk oleh yang punya rumah, mereka berdua melewati Naruto cuek dan duduk begitu saja di ruang tamu.

Entah mengapa Naruto merasakan bahwa musim gugur kali ini langsung berganti menjadi musim panas. Panas, panas sekali. Ingin rasanya ia terjun bebas ke kawah gunung berapi dan meledak di sana saat ini juga.

TBC

Balesin review yang ga log in...

furubha from AVM : makasih ya reviewnya...! Semoga chapter ini nggak bikin mewek. Hehe... Maaf lama update... T.T

Vii no Kitsune : makasih reviewnya! Apakah chapter ini sudah lebih panjang? Maaf lama update... T.T

UchihaUzumaki SasuNaru : makasih reviewnya! Duh...kurang dimengerti ya ceritanya? Maaf...maaf... m(-_-)m Jadi inti ceritanya ini adalah tentang kehidupan Naruto sebagai seorang anak—yang sesaat lagi menjadi—aktor dorama terkenal. Dihiasi dengan keberadaan Sasuke yang ikut menemaninya(halah!) menjadi seorang aktor dorama. Semoga chapter kali ini bisa lebih memperjelas ceritanya.

Yeah, baiklah... Ayo tumpahkan segala uneg-uneg Anda tentang fic ini di kolom review! ^_^v