Snow white P3 style
(Fic ancur berdasarkan Snow white gaya persona)
-Halah-
Fandom: Shin megami tensei : Persona 3
Rating: K+?
Summary: "Haah, aku ingin diberikan anak yang berkulit putih seputih salju, berbibir merah semerah darah. Dan kalo perlu… jago fighting biar bisa melindungi diri. Dan satu lagi, harus cantik seperti aku, --ibunya ini—ahem."
"Tolong jangan minta yang aneh-aneh, Aki."
Disclaimer: Persona 3 punya Atlus. Snow white punya sapa? Ga inget. Tapi yang pasti ini snow white gaya saya sendiri, nyehehehe…
Chap 2, update!!
Tolong dimaafkan kalo chapter yang ini jayuz… saya streeessss, huahahaha –ketawa stress--
--
"Aku saja yang kasih nama!! Karena lahir dari ayahanda Shinji dan Ibunda Aki, maka namanya..."
Aki dan Shinji menahan nafas. Mereka mempercayakan seluruhnya kepada Ken... karena naming sense mereka yang sangat buruk. Mereka berpikir pasti Ken punya usul yang lebih baik.
"Maka namanya Shinki, gabungan dari Shinji dan Aki."
Gubraks.
"Eh, dudul!! Shinki, Shinki… Emangnya dongbangshinki?? Gue ga mao nama anak gue jadi nama boyben!!"
Aki ngamuk-ngamuk sambil melempari apapun yang berada di dekatnya kearah Ken. Ken menghindari lemparan Aki sambil mengayunkan tongkat pel yang barusan ada di sudut kamar itu untuk melindungi diri.
"Waduh, KDRT ini!! Emangnya nama Shinki jelek ya? Kalo Ashin gimana??"
Ken masih tidak mau menyerah dan memberikan nama seenak perut. Tiba-tiba Shinji membawa garam dan di luar dugaan berkata,
"Garam itu asin."
Aki cengok.
Lalu Ken berubah jadi 'cewek' berkimono sambil menggendong boneka di belakangnya dan melanjutkan,
"Kalau aku Oshin."
Lalu kedua ayah dan anak itu tertawa garing. Aki yang habis kesabarannya melayangkan tinju jarak jauh ke arah mereka.
"Gak bapak gak anak sama aja!! Udah gue aja yang namain!! Namanya poly…"
"MINATO-CHAN!!"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. Seorang wanita yang berpakaian maid tiba-tiba saja datang dan mengambil bayi mungil tadi dari tangan Aki.
"Minato-chan, aku sangat menantikan kelahiranmu!! Dan menantikan kau tumbuh dewasa tentunya, ohoho. Dadah babai!"
Sedetik kemudian wanita itu kabur setelah meletakkan bayi tadi kembali di pelukkan Aki. Semua yang ada di ruangan itu terdiam.
"Minato-chan? Jadi namanya Minato nih?"
Ken yang pertama kali memecah keheningan. Aki dan Shinji hanya berpandangan dan akhirnya mengangguk.
"Yah… kalau begitu namanya Minato saja deh…"
Sementara itu di luar istana…
"Elizabeth, kerja bagus."
Wanita yang tadi meneriakkan nama 'Minato' menoleh ke arah seorang kakek-kakek yang bernama Igor. Elizabeth hanya tersenyum nakal.
"Habis kasihan kan kalo anak itu dinamain Polydeceus..."
--
17 tahun kemudian…
Minato tumbuh menjadi seorang pemuda tampan (atau kalau menurut Aki, "Cantik kaya gue!!") dan kalem. Dia tidak pernah berlaku yang aneh-aneh dan cenderung mengikuti pendapat orang lain.
Jarang berbicara dan mempunyai senyuman yang lembut membuatnya popular di kalangan semua gender. Baik pria, wanita, maupun Waria.
Seperti layaknya seorang pangeran, dia dibesarkan dengan cara ningrat (pokoknya 'ningrat' dalam artian yang bisa diberikan oleh seorang ayah yang masuk dalam ikatan SSTI -Suami-suami takut istri- dan ibu yang selalu menjadikan ayah atau kakaknya menjadi kantung sansak). Pokoknya, dia benar-benar bahagia dan bersyukur dapat lahir di tengah-tengah keluarga unik seperti itu.
Tapi ternyata kebahagiaan tidak berlangsung lama.
4 Oktober tengah malam…
Kerajaan Gekkokan kehilangan raja mereka.
Raja mereka mangkat.
--
"Shinjiiii!! Shinji kau kejaaammm!! Kenapa kau tinggalkan aku begitu cepaaattt??"
Aki menangis di samping pembaringan suaminya. Semua orang yang berada di istana tidak ada yang berani mendekat. Mereka semua ikut merasa sedih, sekaligus takut kena bogem Aki.
Minato berdiri di ambang pintu kamar orang tuanya. Bingung. Ken menyentuh bahunya pelan.
"Ken-niisama…"
Ken hanya menggeleng dan menuntun Minato keluar menuju taman.
Minato duduk di samping air mancur di tengah taman. Sementara Ken berdiri membelakanginya. Punggungnya tampak bergetar.
"Ken-niisama..."
"Ayahanda... sebenarnya sikapnya semakin aneh akhir-akhir ini. Baru-baru ini aku diperlakukan seperti anak kecil. Padahal dia tahu aku tidak suka diperlakukan begitu! Waktu aku protes, dia hanya bilang, 'maafkan aku karena selama ini tidak menjadi ayah yang baik bagimu'! Apa maksudnya?"
Punggungnya semakin bergetar hebat. Minato mencoba mengingat keanehan 'ayahanda' yang baru saja disebutkan oleh Ken.
"Ummm... kalau dipikir-pikir... iya ya dia aneh. Kemarin aku juga dibelikan MP4 baru… padahal dia selalu melarangku mendengarkan earphone keras-keras…"
"Keanehannya semakin hari semakin menjadi… lalu malam ini… malam ini tiba-tiba dia ingin makan ramen hagakure. Tampaknya dia benar-benar ingin sekali makan itu dan memakannya dengan rakus… lalu tahu-tahu… tahu-tahu…"
Ken berbalik badan dan membenamkan wajahnya ke rerumputan. Terdengar suara isakkan tangis yang semakin membesar dan diselingi tawa sinis.
"Dia tersedak ramen!! Ramen yang dia makan menghambat pernapasannya dan dia mati!! Uwaaaa!! Uwaahahahahaha!!"
Sekarang tidak jelas dia sedang menangis atau tertawa. Minato hanya memalingkan wajah dan berusaha menghalau keluarnya suara tawa dari mulutnya.
'Mati karena tersedak ramen… sungguh cara mati yang bermartabat bagi seorang raja...'
Selama sebulan penuh, kerajaan Gekkokan mengalami masa berkabung.
--
"Anak-anak... Ibunda punya berita untuk kalian..."
Minato dan Ken yang sedang bermain jan ken pon di kamar Minato langsung terdiam melihat Aki yang berwajah sedih masuk kesana. Minato yang perasa lalu membantu ibundanya duduk di kasur dan bertanya.
"Berita apa, Ibunda? Berita baik?"
"Seharusnya berita baik karena keuangan negeri kita yang sedang dalam masalah dapat teratasi... tapi..."
Tiba-tiba Aki berlinangan air mata dan menggigit glove nya sendiri. Kerajaan gekkokan memang mengalami krisis ekonomi yang parah sejak Raja mangkat. Apalagi Ratu menerapkan sistem pemerintahan tangan besi sehingga banyak rakyat yang berdemo.
"Kalau begitu berita buruk? Sebenarnya ada apa Ibunda?"
"IBUNDA AKAN MENIKAH LAGIIII!!"
Minato dan Ken bagaikan tersambar petir. Aki akan menikah lagi?? Lalu kenapa kelihatannya dia tidak senang dan malah menangis?? Apakah karena dia masih mencintai Shinji, suaminya yang meninggal karena tersedak ramen??
"Ibunda sebenernya ga mau nikah sama diaaa!! Tapi demi keluarga... demi negara ini!! Uwaaaaa!!"
Tangisan Aki semakin membesar. Sementara Ken dan Minato hanya terdiam dan bingung.
Sebenarnya siapa sih yang mau dinikahi oleh Aki sampe dia nangis ga rela begitu??
Bersambung, hahaha...
Oh, minna... saya mo minta izin... berhubung 3 hari lagi saya akan menghadapi UMB... Jadi fic ini hiatus dulu kira-kira 3 hari. Mungkin hari senin baru saya post chap 3 nyah... dimaklumi ya sodara-sodara...
