Hola eperibodiiiih!! Balik laggi dengan saia-yang-pusing-stress-capek-sakit-dan-nularin-orang-sekelas di ni panpik!! Beneran tuh, di kelas saia pada sakit semua. Masa batuk satu batuk semuwa?? Saia jadi ketularan deh.
Terusss... capter ni saia agak telat nge-aplot, karena :
server internet kelas saia mendadak gak beres
waktu internetnya sembuh, ada virus akut menyerang komputernya, jadi tiap plesdis yang nyolok disitu ketularan.
giliran virusnya ilang, internet kelas saia macet.
Sebenernya ni panpik DIKIT LAGI UDAH MO TAMAT (di otak), cuma tinggal di aplod-aplod aja. Yang saia bingung tuh endingnya. Mo hepi end ato sad end? Biasanya saia pake sad end yang dihiasi banyak kematian, tapi temen-temen banyak yang komen n minta hepi end. Ada yang mo bantu gak? Sapa tau dipertimbangkan.
Tu de poin aja (gak punya ide nulis kata pengantar), balesan reviews kemaren, wat yang ga kebales, gomennasai!
Pink-violin : gapapa baru review sekarang, yang penting saia baca review anda... Sasuke... bakalan begitu aja selama beberapa chapter : ada tapi gak ngapa-ngapain. Tapi ntar dia bangun dan melakukan sesuatu--aaa!! Tidak! Mulutku yang bawel!! Dilarang kasih spoiler, ntar ga seru lagi!!
Funsasaji1 : Temari... sehat dan damei di chapter ini. Knapa Ino mati ntar diungkap secara dikit-dikit di chapter-chapter berikut. Naruto d panpik ni mang punya kakak, tapi dia gak pernah ketemu...
Sora no Aoi : cairan itemna... sikrit dah! Ya, OC kali ini kakak ceweknya si naruto, biar seru. Kasian gak kenal kluarganya. Doain aja lancarrr, okehh?
Reku-maku : tenang aja.. Sasuke nggak mati kok...sedih...? yah, sedih ya...? kebiasaan kalo bikin panpik sdih mulu ni. Iya, saia taon depan mao moving klas, skarang sih belon. Kk juga ya?
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
End of Shinobi World
Disclaimer : pabila naruto milikku, Sasori punya kugutsu bernama 'Susan', 'Semar', 'Petruk', 'Gareng', 'Bagong', 'Gatotkaca' sama 'Si Unyil'.
OC : Shigure (unknown family name ).
Age : about 19 (Naruto Shippuuden)
Abilities : yang utamanya ngubah tubuhnya jadi api sebagai efek dari pemakan buah iblis mera-mera, otomatis dia gak bisa berenang (kanazuchi). Sama jutsu-jutsu biasa..
Description : kunoichi yang lupa semua masa lalunya ini tinggal bersama Pain dan Konan sejak berumur enam tahun, tak heran kalau ia menganggap mereka berdua orangtuanya. Keras kepala, kadang sok tahu dan bertindak semaunya sendiri (mirip sapa ya..?). Rambut merah tua nyaris hitam, mata biru (kombinasi yang aneh).
Likes : cuaca hangat, teh hitam panas.
Dislikes : rain, ice, apapun yang bisa bikin orang gemetar kedinginan. Sama tugas dari Pain yang gagal dilaksanakan.
Time : Naruto Shippuuden.
Chapter 4 : ...their first attack...
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
(Sunagakure)
GAARA, TEMARI and KANKUROU
"Ini daftar shinobi kita yang hilang sebulan terakhir." Temari memberikan sebuah gulungan kepada Gaara.
Begitu gulungannya dibuka, ujungnya langsung menggelinding bebas di lantai. Sang Kazekage membaca deret teratas, "tampaknya mereka tak pilih-pilih korbannya. Dari murid akademi sampai jounin diculik, tapi..." Gaara meraih ujung gulungan di seberang kantornya, "... hari-hari terakhir ini mereka lebih memfokuskan diri ke ninja berpangkat chuunin dan jounin."
"Bukan hanya itu," Temari membuka gulungan lain, "negara lain juga diserang. Desa-desa tersembunyi disana banyak menderita kehilangan shinobi berbakat."
"Ada daftarnya?"
"Ya, tapi..." Temari menyodorkan gulungan yang dibacanya, "hanya Konoha yang memberi laporan lengkap shinobi mereka yang hilang. Laporannya baru tiba tadi pagi."
Dahi Gaara mengerut di tempat alisnya yang tak ada. "Kasus terakhir sangat menarik, kasus Yamanaka Ino. Korban kembali ke Konoha dalam keadaan sekarat dan tewas tak lama kemudian. Penyebab kematiannya diketahui karena cairan hitam aneh yang dimuntahkannya. Cairan ini--" pembacaan Gaara terputus, matanya membelalak membaca barisan berikutnya.
"Ada apa?" tanya Temari.
Kazekage mendongak dari laporannya, "panggil Kankurou. Segera."
--
Kaki Kankurou terus mengetuk-ngetuk lantai sementara Gaara berbicara. "Aku tahu jenis-jenis racun, bahkan yang jarang dipakai pengguna Kugutsu sekalipun, tapi, aku baru tahu ada yang seperti ini."
"Aku juga tidak percaya pada awalnya," Gaara melirik laporan dari Konoha, "laporan ini ditulis sendiri oleh Godaime Hokage. Sebagai desa yang beraliansi dengan kita, aku percaya akan kebenarannya. Lagipula, kita sendiri sedang kesulitan, kan?"
"Seluruh anggota dewan sudah pensiun," Temari menjelaskan, "kita tak bisa lagi mengganggu ketenangan hidup mereka. Benteng Sunagakure kehilangan sebagian besar penjaganya, kalau keadaan terus berlanjut seperti ini bisa-bisa besok kita akan menempatkan murid akademi sebagai penjaga gerbang. Jumlah permintaan misi yang dikirim pun menyusut dari hari ke hari."
Hening. Ketiganya seolah menghadapi kenyataan pahit yang harus mereka telan. Gaara membenamkan wajahnya di meja. Kedua kakaknya menatap lantai kayu.
"Menghadapi musuh yang tidak diketahui wujudnya," Kankurou menoleh pada Temari, "kau belum cerita tantang jutsu mereka."
"Kurasa aku beruntung," Temari bergumam, "mereka tak bisa menembus angin yang kujadikan perisai, tapi tampaknya mereka tak terluka sedikit pun. Seandainya fajar tiba lebih lama, mungkin mereka berhasil menangkapku. Mereka sama sekali tidak menyerangku, aku nyaris ragu mereka bukan shinobi..."
"Bukan shinobi..." Gaara mengulangi.
"Apa ada orang-orang lain yang berkemampuan hebat, namun bukanlah shinobi? Kalau ada, mengapa kita tak pernah tahu tentang mereka? Atau, kenapa mereka menyembunyikan diri dan menampakkan diri dengan cara seperti ini?" ujar Kankurou kesal, "lama-lama aku bisa ikutan stress..."
"Aku tak mengerti dengan kata-kata mereka : 'kalian bersifat merusak, merusak kami' dan mereka menganggap diri mereka lebih berguna," kata Temari, "apa sebenarnya yang mereka inginkan?"
"Mungkin, nama 'Shinobi Slayer' yang mereka dapat justru dijadikan topeng untuk menutupi identitas mereka, yang sesama shinobi."
Kankurou bertanya, "apa kau punya dugaan siapa mereka sebenarnya, Gaara?"
"Ini hanya kemungkinan..." bisik Gaara, "Akatsuki."
Sunyi.
"Masuk akal memang." Kata Temari, "baiklah, seandainya itu benar Akatsuki, sekarang apa tindakan kita?"
"Kirimkan kepada keempat Kage lainnya," kata Gaara tegas, "surat yang meminta mereka datang untuk membicarakan masalah ini."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
(Markas Akatsuki)
UCHIHA ITACHI, HOSHIGAKI KISAME and ZETSU
Kisame dan Zetsu membeku di kursi masing-masing, bahkan sebelum Itachi menutup mulutnya.
"Kau bohong..."
"Tidak mungkin... tidak mungkin Pain-san sudah pergi..."
Itachi menatap keduanya bergantian, "aku tidak bohong. Kau bisa menanyai Shigure--"
Kisame dan Zetsu berlari menuju tangga yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar Shigure.
"--hanya setelah ia sadar dan cukup sehat untuk ditanyai." teriak Itachi, "kalian lihat sendiri keadaan Sasuke, kan? Nah, keadaan Shigure jauh lebih parah dari itu. Apa kalian tak mengerti shock yang diterimanya?"
Keduanya menyadari, Itachi tampak begitu lelah sejak kembali membawa Sasuke yang pingsan. Mereka baru saja melihat kondisi Shigure, yang tak berhenti memuntahkan cairan itu, meski ia sudah menahannya mati-matian. Berita kematian Pain mengejutkan mereka yang baru saja pulang dari misi.
"Kita benar-benar hancur..." Kisame mulai menarik-narik rambutnya; kebiasaannya jika mulai stress, "coba hitung : aku, Zetsu, Shigure-san, Konan-san dan Itachi-san. Tinggal berlima saja kita."
Zetsu tertawa sinis, "inikah Akatsuki yang ditakuti dunia? Sekarang kita hanya sebutir debu di tengah pusaran badai. Tak bisa apa-apa. Memalukan." Warna flytrap-nya memudar dalam waktu singkat.
Itachi membenamkan wajahnya di tangan, kakinya mengetuk lantai kayu. "Semua yang terjadi... benar-benar aneh. Seakan dunia shinobi ditakdirkan untuk selesai sampai disini."
Kisame melakukan rangkaian gerakan-ikan-kurang-air lalu bangkit mendadak. "Aku butuh air... panas sekali hari ini."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
UCHIHA ITACHI, UCHIHA SASUKE, HOSHIGAKI KISAME, ZETSU and SHIGURE
"Omong-omong..." kata Kisame, yang berjalan paling depan, "kenapa aku yang harus bawa Sasuke? Lagipula Shigure bisa jalan sendiri kok."
Si hiu menatap leader baru Akatsuki dengan kesal. Itachi menyuruhnya membawa Sasuke, sementara ia sendiri membawa Shigure; yang sudah sadar dan sekarang berjalan sambil dipapah. Keempatnya, ditambah Zetsu, pergi ke danau dimana Kisame kemarin berenang. Konan, yang mengatakan perjalanan ini akan membantu kesembuhan Sasuke dan Shigure, memilih tetap di markas.
"Yeah," bisik Shigure lemah, "aku sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Tak perlu memapahku." Ia menyingkirkan tangan Itachi dan berjalan di samping Kisame.
Zetsu berjalan agak jauh di belakang mereka. Tanpa melihat wajahnya pun semua orang tahu, Zetsu sangat bahagia bisa berjalan-jalan di tengah alam terbuka tanpa dibebani misi. Kepalanya mendongak ke langit, menikmati udara kebebasan. Ekspresinya persis anak kecil, berlawanan dengan usianya.
Shigure memperhatikan kepala Sasuke yang terantuk-antuk di lengan Kisame. Cairan hitam pekat masih mengalir pelan di sudut bibirnya. Sejak Itachi membawanya pulang tiga hari yang lalu, ia tak pernah sadar sekalipun. Ada baiknya juga, seandainya saja Sasuke sempat sadar di markas Akatsuki, bisa-bisa tempat itu sudah rata dengan tanah.
Satu sentakan mirip sengatan listrik memotong langkahnya. Cairan asam yang memenuhi mulutnya buru-buru ditelan, sebelum ada orang yang melihatnya dan berkata 'hei, kau belum sehat betul. Sini, kutuntun...'.
Tepat saat Itachi siap menarik napas lelah untuk mengeluh, Kisame berkata, "ini dia tempatnya...!!"
BYUUUUURRR!!
Air berkecipak bebas di udara, mengguyur Shigure dan Kisame yang paling depan. Barusan Zetsu melakukan lompat-indah-super-jauh ke danau. Saat makhluk itu muncul di permukaan, mereka mendapati flytrap di kiri-kanannya berwarna lebih hijau dari hari kemarin.
Tempat yang diceritakan Kisame ternyata adalah danau yang terletak di balik bukit belakang markas. Danau itu tampak seperti tak pernah disentuh manusia sebelumnya. Geleguk airnya menghipnotis orang-orang seperti Zetsu dan Kisame (yang butuh air segar dalam jumlah yang cukup) untuk menceburkan diri ke dalamnya.
Shigure dan Itachi hanya duduk diam mengapit Sasuke, yang tak sadar-sadar juga, menyaksikan Kisame dan Zetsu bermain air.
"Menyedihkan, ya..." kata Shigure, merebahkan dirinya di rerumputan, "organisasi yang dulu pernah ditakuti di seantero dunia shinobi, saat ini hanya sekelompok orang yang tak memiliki tujuan yang pasti."
"Maksudmu?" tanya Itachi, alisnya berkerut.
"Coba pikirkan, ketua... apakah kita akan terus melanjutkan perburuan para bijuu?"
Mulut Itachi membuka dan menutup seketika tanpa suara. "Entahlah..." katanya lirih, "aku... aku sendiri juga..."
Jemari Shigure mengelus dahi Sasuke, "juga apa?"
"Sepertinya..." Itachi menatap langit, "kita tak lagi punya alasan untuk melanjutkan itu semua sejak Pain-san--Gomen, Shigure..."
Shigure terdiam seketika, langsung menyeka air matanya. Itachi tak mengatakan apa-apa lagi.
"Oi, ketua!!" teriak Kisame, yang entah bagaimana sudah berada di samping mereka bertiga, "bagaimana kalau ketua sedikit melepaskan stress bersama kami?"
Itachi tampak pasrah saat kedua anak buahnya melempar dirinya ke danau.
--
Apakah pernah seseorang membayangkan
Apa yang terjadi dengan dunia
Saat para shinobi terus menebarkan kebencian?
Jika 'senjata' hanya menjadi alasan akan keberadaan shinobi di muka bumi,
Mengapa kita tak menghapus mereka dari sejarah?
Adakah sesuatu yang dapat melakukannya?
Mungkin... tak ada yang cukup berani untuk melawan dominasi mereka
Kecuali...
Apa yang mereka tanam di dunia...
Bisa membangkitkan sesuatu yang datang dan pergi lebih dulu dari mereka...
--
Shigure membiarkan dirinya tertawa sejenak melihat ketiga rekannya menikmati kebebasan. Jari-jarinya mengelus lembut dahi Sasuke, mengiringi pikirannya berkelana ke masa lalu. Ingatannya yang paling awal hanyalah pada saat ia membuka matanya di pangkuan Konan, menggenggam sesuatu yang sekarang selalu dikalungkan di sekitar lehernya. Besi dingin hitai-ate Konoha menyentuh kulitnya, namun tak ada yang bisa ditafsirkannya ; mengapa ia membawa hitai-ate itu, padahal ia sendiri tak ingat dirinya adalah shinobi atau bukan. Tak ada yang memberi tahunya sedikit pun tentang masa lalunya, bahkan Pain dan Konan yang merawatnya. Nama Shigure pun pemberian mereka berdua, karena ia ditemukan saat gerimis sedang turun. Shigure membenamkan kepala di antara dua lututnya, menggali ingatannya lebih dalam lagi. Seperti usahanya yang telah lalu, tak satupun yang berhasil. Semua orang di luar Akatsuki yang ia temui tak ada yang mengenalinya. Hampir semua tempat habis dijelajahinya, kecuali satu : tempat asal hitai-ate di lehernya. Terkadang ia ingin meminta misi yang harus dilakukan di Konoha, namun Pain tak pernah mengutusnya untuk misi itu. Selalu, selalu yang lain yang diutusnya. Tapi sekarang ia jauh lebih bebas, Shigure bisa saja meninggalkan markas diam-diam dan pergi sendiri ke Konoha. Tidak, Shigure tak bisa melakukannya, ia tak bisa meninggalkan Konan sendirian, terutama setelah Pain p--
"Shigure?"
Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap mata hitam Itachi, " ah? Apa kalian sudah selesai?"
"Yah.. ano..." Itachi mengerling sesaat ke balik bahunya, "pokoknya, aku akan menjelaskannya nanti. Ayo pergi." Itachi menarik tangan Shigure, "cepat!"
"Itachi-san, ada apa ini?" tanya Shigure bingung, melihat Zetsu membawa Sasuke dan buru-buru mengikuti Itachi yang setengah berlari ke semak-semak, "tunggu! Dimana Kisame-san? Kita tak bisa men--"
Itachi hanya memberi tanda diam dengan jarinya, sama sekali tak melepaskan tangan Shigure saat menembus semak-semak. Mereka tak melalui jalan yang sama saat datang tadi.
"Itachi-san?" Shigure merasakan sentakan aneh di hatinya, yang menyebar ke pembuluh-pembuluh darahnya. Cemas, ia menoleh ke belakang. Diantara daun-daun pohon yang jarang, ia bisa melihat menara api raksasa yang menembus langit, rasanya seperti atap neraka telah ditembus. Asalnya tak jauh dari markas mereka. Ia buru-buru mengerem larinya, nyaris menjatuhkan Itachi.
"Lari terus, Zetsu!" teriak Itachi, lalu pada Shigure, "jangan berhenti! Kita bisa mati kalau tetap disini!"
"Aku
tak peduli!" raung Shigure. Ia meronta berusaha melepaskan
tangannya.
"Api itu mungkin telah... telah..." Shigure
berhenti, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Semuanya akan baik-baik saja!" Itachi berusaha menenangkannya, namun suaranya sendiri menunjukkan kekhawatiran, "Kisame akan kembali bersama Konan-san, Shigure... lebih baik kita segera mencari perlindungan sebelum api itu mencapai kita..."
Shigure menatap menara api dan Itachi bergantian, yang genggamannya semakin mengerat. Dan melakukan sesuatu.
Mendadak genggaman Itachi terlepas. Shigure telah menaikkan suhu permukaan kulitnya secara tiba-tiba. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk lari secepat-cepatnya, dalam bentuk api.
"Tunggu! Kembali, Shigure!!" teriak Itachi sia-sia, "terlalu berbahaya! Kembali--Ariana!!"
Teriakan Itachi ditenggelamkan deru api raksasa di hadapannya. Shigure memastikan seluruh tubuhnya telah berubah menjadi api sebelum menembus menara api itu.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
huhuhuhuhu……!! Kenapa Itachi harus mati seperti itu?? KENAPA?? Padahal saia harap hasil pertarungan mereka seri atao Sasuke yang mati!! (teriring gomen untuk pecinta Sasuke) TIDDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!! Saking shock-nya, saia sampe nangis di kelas!! (sampe diliatin orang yang berpikir saia kena apan tau) mengapa shinobi seperti dirinya musti berakhir seperti itu?? Nggak adiiiiiiiilllll!!
Oh Kishimoto-sensei, anda tega sekali pada fans Itachi di muka bumi...
Cara meninggalkan dunia yang cukup elegan, masukin buat ni panpik ah,
ITACHI-KOI!! I'LL MISS YOU ALWAYS-AND-FOREVER!!
