Penting banget niih

Penting banget niih!! ENDINGNYAAAA!! Mao hepi ending ato sad ending? Kasih tau di review ya...!!

Langsung aja, ayo membalas review!! Thanks wat yang udah review n gomen kalo ada yang ga kebales...

funsasaji1 : uwaa... saia juga tergila-gila sama Akatsuki. Waktu Itachi mati (oh NO!!) saia guling-guling stres di kelas..

Sora Aburame : gomen kemaren saia salah nulis nama Anda. Gomen banget ne! Kalo ga sikrit namanya spoiler...

Faika Araifa : er... sebenernya ga rahasia-rahasia amat sih. Di capter ini ada sedikit tentang mereka...

Sabaku no ghee : uwaaaaa!! Penyakit 'kalau-ada-yang-memujiku-nanti-aku-terbang-dan-nyangkut-di-tiang-bendera'ku kambuh niiiih!! Iya niih... si mas-mas tindikan itu kan cakyeup, napa musti mati sih? Anak-anak Yondaime bakalan ketemu... tapi tergantung endingnya juga sih.

.hoshi.na-chan : betewe, waktu saia ngedit capter kemaren anak tetangga yang masi eSDe lagi latian 'Mengheningkan Cipta' pake pianika. Anak-anak tekanya pada bobo (baca: pingsan karna ga ngerti (?)) kok.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

End of Shinobi World

Disclaimer : kalo Naruto itu punya saia, saia pasti nongol juga di Akatsuki... ehehehe...

OC : Shigure (unknown family name ).

Age : about 19 (Naruto Shippuuden)

Abilities : yang utamanya ngubah tubuhnya jadi api sebagai efek dari pemakan buah iblis mera-mera, otomatis dia gak bisa berenang (kanazuchi). Sama jutsu-jutsu biasa..

Description : kunoichi yang lupa semua masa lalunya ini tinggal bersama Pain dan Konan sejak berumur enam tahun, tak heran kalau ia menganggap mereka berdua orangtuanya. Keras kepala, kadang sok tahu dan bertindak semaunya sendiri (mirip sapa ya..?). Rambut merah tua nyaris hitam, mata biru (kombinasi yang aneh).

Likes : cuaca hangat, teh hitam panas.

Dislikes : rain, ice, apapun yang bisa bikin orang gemetar kedinginan. Sama tugas dari Pain yang gagal dilaksanakan.

Time : Naruto Shippuuden.

Chapter 6 : flashbacks and the Sands of Time

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Anak laki-laki itu terus mengamati anak perempuan sedih yang duduk sendiri di ayunan. Ia terus menggesek pasir dengan kakinya, tampak kesal dan benci sekali. Selama beberapa saat si anak laki-laki nampak lupa pada tugasnya, sibuk mengawasi anak yang masih berayun jemu di ayunan. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya, menghampiri si anak perempuan, yang mengacuhkannya.

"Oi," panggilnya, "namamu Namikaze Ariana kan?"

Si anak perempuan mendongak menatapnya. Matanya agak sembab "Ya. Siapa kau?"

Bukannya menjawab, anak laki-laki itu malah menunjuk ke pasir di bawah ayunan. "Sedari tadi kau menulis namamu di pasir lalu menendanginya. Apa kau begitu benci dengan namamu?"

"Jangan tanya aku. Itu bukan urusanmu, dasar penguntit. Pergi sana."

Anak lelaki itu diam, tak bergerak sama sekali di tempatnya. "Aku takkan mencarimu kalau aku tak punya keperluan, tahu."

"Jadi," kata Ariana sengit, "apa maumu?"

"Cuma mau bilang, mulai minggu depan kita akan pindah kelas ke kelas akhir."

"Kelas akhir?" alis Ariana berkerut, "itu kan kelas yang akan lulus dari Akademi tahun ini!! Dan kita baru menjadi murid Akademi selama beberapa bulan. Kau bercanda ya?"

"Tidak. Orangtuamu juga pasti sudah dikirimi surat pemberitahuan. Itu saja." Ia melangkah pergi, "omong-omong, memangnya kenapa dengan nama Namikaze?"

"Aku benci," bisik Ariana lirih, "semua yang kulakukan... semua bilang aku bisa ini dan itu karena aku anak Hokage! Tak ada yang mau mengakuiku sebagai diriku sendiri."

"Kukira cuma aku satu-satunya orang yang merasa begitu. Ternyata kau juga."

"Apa?"

"Kau tak lihat simbol di punggungku ini? Semua yang melihat hal-hal hebat yang kulakukan akan mengatakan ini : 'ternyata dia seorang Uchiha! Pantas saja...'"

"Pasti... menyebalkan sekali. Terutama dengan simbol itu terus menempel di punggungmu. Siapa namamu?"

"Itachi. Panggil saja aku begitu."

UCHIHA SASUKE

Sesaat ia merasakan dirinya mengapung dalam ketiadaan tak terbatas. Gelap gulita. Kemudian seleret cahaya menyambut dirinya, membawanya ke memori bertahun-tahun yang lalu.

"Niisan... untuk apa niisan jadi kuat?"

Siang yang membara tak menghalangi kakak-beradik itu untuk terus berada di tengah lapangan latihan. Si kakak yang masih melempar sejumlah kunai, tiba-tiba berhenti mendengar pertanyaan adiknya.

"Untuk apa aku jadi kuat..." kata kakaknya lambat-lambat, "Sasuke, kalau kau sendiri bagaimana?"

"Tentu saja untuk melindungi semua orang!" seru Sasuke, "apalagi kalau bukan itu? Iya kan?"

Itachi menggelengkan kepalanya, tersenyum, "bukan hanya itu. Ada hal-hal lain yang membuatmu ingin jadi lebih kuat. Misalnya saja, janji."

"Janji? Mengapa janji bisa membuatmu jadi lebih kuat?"

"Aku dan sahabatku saling berjanji, bahwa kami akan jadi lebih kuat dan membuat semua orang melihat kami sebagai diri kami sendiri. Itulah yang membuatku ingin lebih kuat."

"Hee..."

"Sayangnya," bahu Itachi agak turun, "aku tak pernah melihat sahabatku itu lagi sejak insiden Kyuubi enam tahun yang lalu. Mungkin ia sudah meninggal..."

"Siapa?"

"Eh? Kukira kau takkan bangun lagi..."

"Kenapa kau ada di kepalaku?"

"Ha? Kenapa aku ada di dalam kepalamu?"

"Apa kau tak tahu soal privasi??"

"Tentu saja aku tahu. Tapi kami punya pengecualian penuh bagi kalian, para shinobi..."

"Memangnya kenapa kalau aku ini shinobi?"

"..."

"Kau menyebalkan. Cepat keluar dari kepalaku!!"

Ada keributan di dekatnya. Kedengarannya beberapa orang sedang berdebat sengit. Kabut masih mengapung di udara. Sasuke mengerjapkan mata dan mencoba bangun, namun tubuhnya terasa amat lemah. Ia tersedak oleh sesuatu yang memenuhi mulutnya. Cairan hitam kental yang aneh. Sasuke memuntahkannya. Suaranya menghentikan debat di dekatnya.

"Sasuke!!" dua suara yang berbeda berteriak bersamaan.

"Nii... san?"

"Astaga, dia masih memanggilmu niisan." Kata wanita berambut merah gelap di sebelah Itachi dengan sinis, "kau tak apa-apa Sasuke? Kami kira kau takkan bangun lagi..."

Sejenak Itachi mengusap sisa muntah di wajah Sasuke, yang menatapnya bingung.

"Syukurlah," Itachi memeluk adiknya, membuat Sasuke bertanya-tanya kemana perginya semua dendam yang ia simpan bertahun-tahun dan jangan-jangan kakaknya salah makan atau baru saja terkena benturan di kepalanya. Yang terakhir mungkin benar, tambahnya dalam hati setelah dilihatnya Itachi terbalut total dengan perban.

Wanita itu hanya menatap tanah dengan sedih sampai Itachi melepas pelukannya dan Sasuke bertanya, "neesan siapa?"

"Namaku Shigure. Douzo yoroshiku onegaishimasu, Sasuke."

"Namikaze Ariana," kata Itachi dalam hati.

Badai membutakan matanya, seolah ikut menghalangi usahanya untuk menembus pertempuran. Kakinya sakit sekali, sepertinya ada kunai yang menggoresnya berkali-kali. Buntalan di pelukannya bergerak-gerak liar, tak peduli pada usaha anak itu untuk menjaganya tetap stabil. Anak itu mengertakkan giginya, yang ada di pikirannya hanyalah terus berlari.

Gerbang desa Konoha telah dilewatinya. Ia tahu orang-orang mulai mengejarnya. Dengan cepat ia melempar bom kertas ke belakang punggungnya.

Jauh di depan sana, dua makhluk raksasa saling berhadapan dalam diam. Satunya adalah bijuu tertua, Kyuubi berwujud rubah. Dan satunya lagi kodok raksasa berwarna merah tua, dengan seorang pria berambut kuning di atasnya. Ariana berlari mendekatinya, lalu berteriak, "Otousan!!"

Pria itu langsung turun dari punggung Gamabunta, kodok itu, "Ariana!! Kenapa kau ada di sini? Dimana Okaa--"

Sebelum Minato selesai bicara, Ariana telah memeluknya dan menangis.

"Okaasan... okaasan..." isaknya, "hanya minta aku membawa dia ke otousan..."

Minato mengambil putranya dari pelukan Ariana. Ia bergumam, "...Naruto..."

"Ng?"

"Uzumaki Naruto... nama untuknya."

"Kenapa... Uzumaki...?"

"Suatu hari nanti ia akan dianggap sebagai pahlawan desa ini. Kuharap tak ada orang yang menganggapnya pahlawan hanya karena ia putra Hokage, namun sebagai dirinya sendiri," Minato menatap Ariana, "dan kau..." Minato memeluk putrinya, memberinya hitai-ate kesayangan sang Hokage.

"Pergilah sejauh mungkin. Hati-hati."

Sejenak Ariana tak ingin meninggalkan tempat itu, namun ayahnya hanya mendorong punggungnya, menyuruhnya segera pergi. Anak itu berlari sejauh mungkin, sampai cahaya putih yang mengiringi ledakan membutakan matanya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

(Konohagakure)

NAMAKUJI TSUNADE, HARUNO SAKURA, UZUMAKI NARUTO, TEMARI, KANKUROU and GAARA

"Terima kasih," kata Gaara, "telah membalas undangan kami. Kage yang lain menolaknya."

"Sama-sama," jawab Tsunade, "tapi, bukankah seharusnya kami yang datang ke Suna?"

Ruang rapat itu hanya diisi enam orang, terlalu sepi dibandingkan kapasitasnya yang mampu memuat puluhan orang. Keenamnya mengisi kursi di sisi meja yang berhadapan. Di luar, keadaan seolah melukiskan isi hati mereka : angin kencang menyebarkan daun-daun kering ke penjuru Konoha.

"Terlalu riskan, Hokage-san. Terutama karena kami telah kehilangan begitu banyak shinobi, akan sangat berbahaya jika saat kita sedang rapat tiba-tiba mereka datang menyerang kita, kan?"

"Ya, untuk alasan yang sama juga aku hanya bisa menempatkan dua chuunin di ruangan ini." Tsunade menatap Naruto dan Sakura di kedua sisinya. "Kalau begitu... kenapa kita tidak segera memulai rapat ini?"

"Baiklah..." Gaara merilekskan diri dikursinya, "pertama, aku membawa laporan dari mata-mata kami. Akatsuki telah hancur--"

"NANIIII!!"

"Naruto, jaga sopan santunmu." kata Sakura mencela, namun wajahnya tampak tegang.

Gaara melanjutkan seolah tak ada interupsi, "satu persatu anggota mereka dibunuh. Dan yang tersisa bergerak menuju Konoha."

"Siapa... siapa yang tersisa...?" tanya Tsunade, ekspresinya seolah terjepit diantara senang dan cemas.

"Tiga orang atau kurang, mata-mata kami tak menjelaskan lebih lanjut di sini," Gaara menutup laporannya, "nah, sekarang ke tujuan utama kami kemari. Temari-nee, keluarkan itu."

Temari meletakkan bungkusan kain kumal di atas meja dan membukanya. Tampak sebuah jam pasir mungil yang sudah tua sekali dan agak berdebu. Anehnya, aliran pasirnya berhenti di tengah-tengah tabung kacanya.

Mata sang Hokage melebar, "inikah... yang menjadi legenda di dunia shinobi...?"

"Jika Konoha berdiri berkat jurus Hokage pertama, maka inilah yang membuat Suna ada. Sands of Time."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Gomen... gomen karena ni capter pendek banget, habis, kalau dilanjutin lagi jadinya kepanjangan, soalnya abis ini gak bisa dimuat setengah-setengah. Ntar pada penasaran lagi.

ingat-ingatlah selalu untuk membalas review…..

ENDINGNYAAAAAA!! Plis ada yang kasih saran… soalnya saia bingung mao ending yang mana… bias-bisa saia bikin dua versi ending nih…