Ayayaaa

Ayayaaa!! Gomen banget! Maaf kalo lama beud di updetnyaaa!! Habisss, banyak beud kerjaan, jaddi gag sempet-sempet ngapdet panpik, hhu...TT

Akhirnya saia sudah menarik keputusan kalao ENDINGNYA BAKAL DIBIKIN DUA VERSEH! Jadi entah di capter berapa saia bakal kasih tau buat loncat ke capter ending yang anda suka: sad or happy.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

End of Shinobi World

Disclaimer : jika Naruto punya saia, pasti Naruto gak bakal tinggal di Konoha, melainkan di desa ninja legendaris penghasil shinobi-shinobi kelas satu, Bekasigakure...

OC : Shigure (unknown family name ).

Age : about 19 (Naruto Shippuuden)

Abilities : yang utamanya ngubah tubuhnya jadi api sebagai efek dari pemakan buah iblis mera-mera, otomatis dia gak bisa berenang (kanazuchi). Sama jutsu-jutsu biasa..

Description : kunoichi yang lupa semua masa lalunya ini tinggal bersama Pain dan Konan sejak berumur enam tahun, tak heran kalau ia menganggap mereka berdua orangtuanya. Keras kepala, kadang sok tahu dan bertindak semaunya sendiri (mirip sapa ya..?). Rambut merah tua nyaris hitam, mata biru (kombinasi yang aneh).

Likes : cuaca hangat, teh hitam panas.

Dislikes : rain, ice, apapun yang bisa bikin orang gemetar kedinginan. Sama tugas dari Pain yang gagal dilaksanakan.

Time : Naruto Shippuuden.

Chapter 7 : ...painting pain will hurt my heart...

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

UCHIHA SASUKE

Semua ini terasa begitu aneh. Ya, aneh.

Kemana perginya dendam yang dipupuknya selama bertahun-tahun?

Kemana perginya rasa ingin membunuh yang menunggu untuk diluapkan?

Sasuke menatap air sungai yang terlalu jernih sehingga terasa agak janggal. Menatapnya dengan pandangan menuduh seolah karena air sungai itulah dendam yang disimpannya menghilang.

Selesai membasuh wajahnya, Sasuke menarik napas panjang. Ia belum ingin kembali ke tempatnya tidur tadi, karena dua orang di sana sedang bertengkar hebat dan ia tak ingin ikut campur.

"...astaga, aku cuma tanya kau lihat Zetsu-san sedang apa waktu itu. Aria--"

"Jangan panggil aku begitu!! Itu nama siapa sih?? Dan berapa kali kukatakan kalau aku hanya melihatnya duduk di bawah pohon! Itu saja!!"

"Tak perlu marah begi--"

"Aku nggak marah!! Nggak akan! Terutama kalau kau berhenti mengungkit soal salah siapa mereka semua mati!"

"Oke! Aku takkan pernah ngomong apa-apa lagi soal mereka!" nada suara Itachi ikut meninggi, "tapi sekarang aku mau tahu sebenarnya kau ini kenapa sih!!"

"Aku? Kenapa? Aku ini normal, tahu!"

"Kau yang kukenal sejak dulu itu nggak emosian, tahu!"

"Apa? Aku yang kaukenal? Maaf saja, tapi rasanya aku tak pernah mengenalmu."

"Aku masih ingat..."

Sepertinya pertengkaran mereka mulai berganti topik, pikir Sasuke. Biasanya mereka meributkan soal Zetsu. Lima hari lalu mereka menemukannya hangus jadi arang. Mereka telah menghanyutkan apa yang tersisa darinya di air terjun yang mereka temui dalam perjalanan yang tak tentu arah.

"Aku... " suara Shigure terdengar sayup-sayup, lalu hilang.

Sunyi. Berarti keduanya sudah memisah untuk mendinginkan kepala masing-masing. Sasuke berjalan gontai ke tempat kakaknya. Di sana hanya ada Itachi yang mencengkeram kepalanya, mungkin untuk meredakan emosi. Sasuke bisa melihat beberapa lukanya terus berdenyut, sudah waktunya untuk mengganti perban, namun karena Shigure yang biasa melakukannya masih mendinginkan kepala, berarti Sasuke yang harus melakukannya. Untuk pertama kalinya ia melakukan ini, tak heran warna di wajahnya memudar dengan cepat. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.

Shigure kembali beberapa menit setelah perban Itachi selesai diganti. Ia terlihat pucat dan agak mengerikan, tampaknya ia baru saja mengamuk. Kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu, namun sepertinya keberadaan Sasuke disitu agak menyulitkannya berbicara. Maka, untuk kedua kalinya dalam sehari, ia meninggalkan mereka berdua saja, sambil berharap agar mereka tak mulai bertengkar lagi sekaligus untuk menenangkan perutnya yang mulai bergolak.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

UCHIHA ITACHI and SHIGURE

"Gomen soal yang tadi, Itachi-san. Aku... maaf tadi... teriak-teriak... marah-marah..." Shigure bergumam lirih.

"Tak apa," Itachi bergumam tak jelas, ia sedang sibuk menyeka darah yang merembes dari balik hitai-atenya. Jelas sekali perban itu tak dipasang dengan benar.

Shigure bangkit mendekatinya, "sini, kubuka dulu perbannya."

Pertama, gadis itu melepas hitai-ate Itachi. Ia menggigit bibir saat membuka perbannya. Dan saat ia memakaikan lagi hitai-ate Itachi, Shigure menangis.

Namun air matanya sehitam tinta. Ia berusaha menyembunyikannya dari pandangan Itachi (yang menggunakan chakra sebagai mata sejak insiden itu), hanya saja tangan Itachi lebih cepat dari tangannya.

"Jangan! Jangan!"

"Pergi!! Pergi dari tubuhku!!"

"Tidaaak!!"

"Siapa... siapa kau!!

"Apa yang kau lakukan di sini!!"

"Yamenasaaaaaiiiiiii!!"

Shigure mundur mendadak. Tangan Itachi berhenti di udara.

"Siapa kau?" tanyanya dingin, "apa kau orang yang sama dengan yang membunuh Zetsu kemarin?"

"Tahu juga kau," kata Shigure dengan suara yang tak seperti dirinya, "kupikir aku telah memberi cukup banyak obat tidur di minuman kalian."

"Jadi Kisame dan Konan-san juga...?"

"Tidak," potongnya, "itu bangsaku yang melakukannya. Mereka kutugaskan untuk menyingkirkan orang-orang di sekelilingnya--" jarinya menunjuk ke dirinya sendiri "--dan sekarang tinggal dua orang yang menunggu untuk dibereskan!! Seharusnya kalian semua sudah mati terbakar kemarin, tapi wanita dengan rambut biru itu mengetahui rencana kami dan berusaha menghadang kami! Bah, apa dia tak tahu kalau shinobi sepertinya takkan pernah bisa menghalangi kami??" kemudian ia tertawa mengerikan.

"Dan sekarang," ia mengacungkan tangannya yang berapi ke Itachi, "aku akan memberinya pemandangan yang tak mungkin bisa dilupakannya, kematianmu di tangan gadis ini!! Aku telah melihat cukup banyak untuk tahu apa yang bisa 'membangkitkanku' lebih kuat. Aku hanya perlu melakukan semuanya, ia cukup berdiri untuk menyaksikan segalanya."

Sementara wanita di depannya terkikik geli, otak Itachi terasa berdesing dalam tengkoraknya. Makhluk apa yang telah merasukinya sampai ia bisa berbicara aneh begini?? Jangan-jangan...

"Apa kau... ditanamkan dalam tubuhnya dan mengambil alih kendali atas tubuh Shigure?"

"Hei, pintar juga kau shinobi... aku tidak ditanamkan. Ia sendiri yang menanamkanku pada tubuhnya. Dengan begitu aku bisa menyerap jiwanya dan memakan seluruh isi hatinya untuk mengendalikan dirinya. Ia gadis yang kuat, kekuatannya sangat kami butuhkan dalam rencana kami. Yang membunuh si flytrap itu, memang aku," ia tertawa lagi, "aaah... aku senang mendengar jeritannya di dalam api. Menyenangkan sekali. Kau tahu mengapa ia satu-satunya yang tidak terluka sedikit pun padahal ia juga sempat terperangkap di dalam api itu? Itu karena aku telah mengalir dalam darahnya. Api yang dibuat bangsaku hanya untuk membunuh para shinobi. Menurut standar kalian, gadis ini bukan shinobi, kan? Ia tak lulus akademi--"

"Darimana kau tahu hal itu??" Itachi memotong.

"Dari hatinya. Rupanya ia sering bermimpi tentang masa lalunya, yang sebenarnya masih diingatnya, namun satu kejadian membuat memori itu hilang. Aku tak perlu pertimbangan untuk tahu bahwa itu adalah masa lalunya. Dan tak seorang pun membantunya untuk menemukan ingatannya yang hilang," ia menyeringai, "hal itu membantuku tumbuh lebih kuat di dalam dirinya. Perasaan kesal, marah dan benci yang dipendamnya bisa menjadi makananku. Semakin ia membenci, semakin ia mendendam, aku semakin kuat."

"Aku tak pernah tahu... siapa yang dibencinya...?"

"Semuanya. Semua yang menyembunyikan masa lalunya. Rupanya ia tahu kalau kau sempat mengenalnya dulu. Akan kubantu ia menumpahkan kebenciannya..."

Itachi melompat mundur tepat pada waktunya sebelum cambuk api melilit dirinya.

"HELIOS!!"

Seolah-olah matahari memanggil kembarannya dari neraka. Matahari merah membara menggantung di atas mereka. Shigure mengangkat tangannya, air mata hitam meleleh di pipinya, tapi seringai kejam itu masih ada.

"METEORA!"

Matahari merah itu menghantam tanah dengan ayunan tangan Shigure. Angin panas menyebar ke ratusan meter di sekitarnya. Dalam waktu tiga detik, tempat itu sudah berwarna merah membara. Itachi tak terlihat di manapun.

Pandangan Shigure terhalang oleh perisai besar belitan ular raksasa. Api itu hanya menghanguskan sebagian sisiknya.

"Apa-apaan..." Shigure mendesis, "jangan ikut campur kecuali kau mau mati..."

Ular itu menggulung diri di belakang Itachi, yang sebagian pakaiannya hangus.

"Kau yang apa-apaan, tahu..." balas Sasuke, "kenapa tiba-tiba menyerang nii-san...?"

"Membalaskan dendamnya."

"SASUKE, JANGAN!!"

"CHIDORI!!" raung Sasuke, "jangan sentuh nii-san!!"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

(A week later, Konohagakure)

HARUNO SAKURA

Gadis itu masih menatap gulungan mini di telapak tangannya. Sakura sama sekali tak ingat kapan ia memperolehnya. Gulungan itu ditemukannya saat ia sedang membersihkan kamarnya, terletak di bawah bantalnya. Menggunakan jarum sebagai alat bantu, Sakura membuka kertasnya dengan hati-hati. Gulungan itu terbuka sepanjang beberapa senti, bertuliskan sederet kalimat mungil. Ia meraih kaca pembesar dan membaca:

Yang datang dan pergi sebelum shinobi

Apa yang datang dan pergi sebelum shinobi? Sakura tak tahu itu. Sejarah dunia shinobi yang dibacanya tak pernah membahas tentang hal itu. Ia menyimpan gulungannya, mematikan lampu dan bersiap tidur dengan berpikir untuk bertanya kepada Tsunade besok, ketika beberapa hal terjadi dengan cepat.

Di luar jendelanya beberapa orang berlari terburu-buru menuju gerbang. Lalu ada suara orang berteriak-teriak kaget. Seruan-seruan lain menyusul, membangunkan Konoha yang nyaris terlelap. Pintu-pintu rumah menjeblak terbuka dimana-mana. Sakura, yang kesal karena waktu tidurnya terganggu, mau tak mau keluar juga, masih memakai piamanya, dari jendela.

"Semuanya, pulanglah!! Biar kami yang akan mengurusnya. Oh, Sakura! Kau datang di saat yang tepat! Sakura, Hokage-sama... dia di sini."

Hyuuga Hinata masih menyuruh orang-orang pulang saat Sakura mendekati sekelompok orang di hadapan Tsunade dan Shizune.

"Jangan katakan apa-apa pada orang lain!! Lupakan hal ini, Hokage-sama yang akan mengurus segalanya..." Hinata terus berseru pada kerumunan.

Sakura membantu Hinata sampai tinggal mereka, Tsunade, Shizune dan Shikamaru, yang bertugas menjaga gerbang malam itu, sendirian.

"Sensei, ada apa? Apa yang..."

"Konbanwa, Sakura. Apa kami mengganggu kedamaian Konoha di malam hari?"

Dalam temaram cahaya lentera yang dibawa Shikamaru, Sakura bisa melihat tiga orang di sana. Sasuke; dengan ekspresi agak tegang, Itachi; perban melilit seluruh tubuhnya namun dari gerak-geriknya jelas sekali ia tampak sedih. Satu lagi adalah seorang wanita, rambut merah gelapnya terjurai ke depan, menutupi wajahnya. Tangannya terikat oleh tali chakra Sasuke. Ia hanya duduk tak bergerak di tanah, membisu.

"Sasuke-kun..." Sakura menekap mulutnya, "dan..."

Sasuke tersenyum samar pada Sakura, kemudian meneruskan pembicaraan dengan Shikamaru, "bisakah kami mendapatkan satu ruang untuk istirahat? Kami... kami lelah sekali."

Shikamaru tampak bingung dengan kepulangan Sasuke yang begitu tiba-tiba, "sayangnya itu bukan kewenanganku. Aku harus segera kembali ke posku, maaf. Konbanwa."

"Kalian bisa memakai rumah lama kalian," kata Tsunade, sama sekali tak tampak terkejut, "Sakura dan Shizune akan menemani kalian. Nanti aku ke sana setelah membubarkan kerumunan ini. Ayo, Hinata."

"Baik, Tsunade-sama!" kata Sakura dan Shizune.

"Tidak. Biarkan Shigure yang menangani luka-lukaku. Kalian bisa... tidak enak melihatnya."

Shizune menghentikan usahanya mengganti perban Itachi. Ia dan Sakura meninggalkan mereka berdua di kamar bersama Sasuke. Tak lama kemudian Sasuke keluar dari sana.

"Aku tak pernah tahan," katanya dengan tangan menutup mulut, "melihat luka-luka nii-san... hii..." Sasuke bergidik.

"Aku tak mengerti..." kata Sakura lirih, "sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tiba-tiba saja kalian berdua pulang ke Konoha dalam keadaan begini! Jelaskan!"

"Apa ada hubungannya dengan 'Shinobi Slayer'?" kata Shizune.

Sasuke menghela napas lelah, "tepat. Aku sendiri sudah nyaris mati berbulan-bulan lalu karena mereka, kalau saja nii-san dan Shigure-san tidak menolongku. Tinggal mereka berdua yang tersisa dari Akatsuki."

"Jadi... jadi berita itu benar? Yang lainnya..." seru Sakura. Membayangkan organisasi yang sangat ditakuti itu hancur rasanya nyaris mustahil terjadi.

"Apa Shinobi Slayer menghancurkan mereka? Begitu yang dikatakan Kazekage kemarin di rapat." tanya Shizune.

"Aku bisa memberitahumu detilnya," Itachi masuk, "aku yakin, Hokage-sama dan Hyuuga Hinata juga ingin tahu. Sasuke, istirahatlah."

Di belakangnya Tsunade dan Hinata mengikuti, semua berwajah tegang dan ingin tahu. Sasuke keluar.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Di kamar, Shigure telah mengganti pakaiannya dengan kimono. Ia mengikat rambutnya ke belakang, menyisakan beberapa helai di sekitar pipinya. Dibiarkannya hitai-ate Konoha menggantung di lehernya. Wanita itu menghela napas.

Akhirnya, Konoha. Tempat kebenaran akan keluar dari lubang persembunyiannya.

Kelebatan wajah-wajah anggota Akatsuki yang telah pergi mendadak muncul, membasahi matanya dengan tinta hitam.

Pain-san... Konan-san... Zetsu... Kisame...

Shigure menghapus air matanya, membuka tirai jendela. Matahari telah terbit setengah jam yang lalu. Sinarnya memandikan ruang tidur yang cukup luas dan dua gadis yang masih terlelap: Sakura dan Hinata. Keduanya menginap di sini semalam atas perintah Tsunade, untuk menjaga ketiganya dari orang-orang yang ingin tahu.

"Sakura..." mendadak Hinata bangun, "sudah pagi..."

"Emm..." Sakura menggeliat, menyipitkan mata, "ohayo Hinata, Shigure-san."

Shigure membalas sapanya hanya dengan anggukan kecil. "Bisa minta tolong sesuatu?"

"Ya?" tanya Hinata.

"Ada yang tahu dimana toko bahan makanan di dekat sini? Aku lapar."

Ketiga gadis itu meninggalkan komplek tempat tinggal Uchiha tak lama kemudian. Mereka menuju pasar yang letaknya tak jauh dari pusat Konoha. Shigure meninggalkan hitai-atenya, setelah diberitahu bahwa ia akan keluar sebagai sepupu jauh Hokage, dengan nama Kisara. Sementara mereka berbelanja, Sakura mengawasi sekelilingnya untuk berjaga-jaga. Hinata memandu Shigure berkeliling. Akhirnya, setelah berbelanja macam-macam, mereka memutuskan untuk makan di Ichiraku Ramen.

"Jangan lama-lama," Shigure bergumam saat mereka memesan ramen, "aku tak ingin mereka berdua kelaparan di rumah."

"Tenang saja, Kisara-san... paman! Minta dua dibungkus ya!" kata Hinata menenangkan, meminta tambahan untuk Itachi dan Sasuke.

"Paman! Hari ini aku mau Negi Ramen-nya dua!" seru sebuah suara yang akrab bagi Sakura.

"Naruto! Konohamaru!"

"Naruto-kun..." wajah Hinata memerah, buru-buru ia menunduk.

Naruto dan Konohamaru tak berkata apa-apa. Keduanya menatap Shigure, terpana. Shigure sendiri tak tahu; ia sibuk menepuk-nepuk punggung Hinata yang tersedak begitu Naruto masuk dan bertatap muka dengannya.

"Astaga, kalian berdua," kata Sakura mencela, "hentikan. Itu tidak sopan."

"Hei," kata Konohamaru pada Sakura, "siapa kakak ini?"

Sakura mengangkat alis atas ketidaksopanan mereka, "Kisara-nee adalah sepupu Hokage-sama. Jadi, jaga sopan santunmu."

"Tiga ramen spesial siaaaap!!" Ayame si gadis iklan meletakkan tiga mangkuk di hadapan para gadis. Pada saat itu, Shigure menyadari keberadaan Naruto dan Konohamaru.

"Ah, Sakura... mereka temanmu ya?" lalu tanpa menunggu jawaban, ia memperkenalkan diri, "Kisara, sepupu Hokage. Douzo yoroshiku onegaishimasu."

"Temui kami besok siang di kantor Hokage." Sakura berbisik pada Naruto sebelum kembali ke rumah.

Shigure melambai kepada Naruto dan Konohamaru, masih memegangi Hinata yang pucat pasi.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Lama sekali..." rintih Sasuke, "aku lapar sekali."

"Kami bawa ramen spesial dari Ichiraku--"

"Apa?? Ramen? Mana, mana??"

Sasuke menyambar kantong dari Hinata dan nyaris memakan habis semua isinya kalau Sakura tidak sempat mencegahnya.

"Buat kakakmu, tahu." katanya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

(Next day)

BUAKKHH...!!

Sakura melayangkan tinjunya ke pipi Shigure. Cengkeramannya di leher Hinata terlepas, ia jatuh menghantam tatami ruang makan.

Saat itu masih pagi, kedua Uchiha sudah pergi berjalan-jalan. Nanti siang mereka berencana pergi ke kantor Hokage untuk mengecek kondisi Shigure yang semakin aneh, contohnya pagi ini ia berusaha mencekik Hinata yang masih tertidur.

"Shigure-san!!" teriak Sakura, "kenapa tiba-tiba...!"

Hinata memijat-mijat lehernya. Bekas cengkeramannya tampak jelas di sana. "Sakura, aku tak apa-apa..."

Shigure tak bergerak, matanya terpancang pada langit-langit. "Gomen," katanya lirih, "aku... kurasa aku tak sadar melakukannya. Gomen ne, Hinata-san..."

"Kau bisa saja membunuhnya!!" Sakura meraung, menunjuk Hinata yang masih pucat.

"Sakura, Shigure-san tak sengaja melakukannya..."

"Kau bisa mati tadi kalau aku tak melihatnya, Hinata!!"

"Demo—"

"Ia mungkin saja membunuh kita semua saat sedang terlelap!! Kita tak tahu siapa dia sebenarnya kan!?"

Shigure duduk di tatami, "Hinata—"

"DIAM!! Jangan bergerak lebih dekat lagi at—!!"

"Sakura? Kenapa pagi-pagi begini malah teriak-teriak?"

Sasuke dan Itachi kembali bersama Naruto yang berkata, "si tua Tsunade memintaku menjemput kalian karena kalian tak kunjung datang... Sakura, kenapa teriak-teriak?"

"Dia..." Sakura menunjuk Shigure, napasnya memburu seolah baru saja maraton. "Ia baru saja mencoba membunuh Hinata..."

"Lagi, Shigure?" kata Itachi tenang, "mungkin Hokage-sama tahu jawabannya."

"Jangan kaget, Sakura..." Sasuke menepuk bahu Sakura untuk menenangkannya, "ia sudah mencoba membunuh kami kira-kira sepuluh kali. Tak apa-apa."

Sakura menatapnya tak percaya. Di pintu, Naruto tampak bingung.

"Siapa Shigure?" tanyanya polos.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Tsunade langsung mengajak Shigure berbicara berdua dengannya di ruang terpisah saat mereka tiba di kantor. Ia menyuruh Shigure berbaring di tempat tidur.

"Rileks, Shigure-san." Tsunade memegang pergelangan tangan kiri Shigure, "tarik napas dalam-dalam dan hembuskan... bagus, seperti itu. Sekarang pejamkan matamu dan kosongkan pikiranmu."

Shigure tak perlu berusaha menghentikan pikiran-pikirannya yang berseliweran di otaknya. Sudah lama sekali ada pikiran lain di kepalanya, selalu mendesak keluar di saat pikirannya hampir kosong.

Menit berikutnya, Tsunade mengobati luka memar di lengan Shigure.

"Apa... apa yang terjadi barusan?" tanyanya.

"Barusan kau nyaris membunuhku," kata Tsunade, menunjuk kunai di ujung ruangan, "maaf, tadi aku terpaksa memelintir tanganmu sedikit. Sakit?"

"Um," gumam Shigure tak jelas.

Tsunade menatapnya prihatin. "Jadi... ada saat-saat dimana kau tak bisa mengingat apapun yang kau lakukan?"

"Iya. Aku sudah berusaha membunuh kedua Uchiha berkali-kali, dan pagi ini aku nyaris membunuh Hinata-san. Sepertinya ada yang merasuk di diriku, tapi aku tak tahu itu siapa. Aku tak berani membiarkannya keluar sembarangan, bisa-bisa ia sudah membunuh banyak orang saat aku sadar kemudian." Shigure menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya, "Tsunade-sama pasti sudah dengar segalanya dari Itachi-san, kan?"

Shigure menceritakannya dengan nada seolah ia sedang menceritakan rutinitas hariannya yang membosankan. Tsunade agak kaget, namun hanya diam saja.

"Eh, Tsunade-sama?" celetuknya santai, "bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi?"

PRANG. Tabung-tabung kaca di genggaman sang Hokage meluncur bebas ke lantai. Tsunade membersihkannya dengan cepat, "rasanya seperti kau bangun di pagi hari dan menemukan kalau beberapa bagian tubuhmu tak ada."

"Apa Tsunade-sama pernah mengalaminya? Maksudku, ditinggal orang yang disayangi?"

Orang biasa pasti dengan senang hati menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu daripada menghadapi Godaime yang mulai stres kalau hal itu disinggung-singgung.

"Dua kali. Adikku meninggal dalam misi dan kekasihku gugur waktu perang." jawabnya dingin.

"Oh..." agak lama setelahnya, Shigure menambahkan, "gomen. Waktu... waktu Pain-sama dan Konan-san meninggal, rasanya... rasanya sakit. Disini." Ia menunjuk dadanya, "tapi... entah kenapa beberapa hari ini aku tak bisa lagi merasakan hal-hal begitu..."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

capter tuju abis dulu disini, doakan saia biar bisa cepet-cepet apdet next capter ampe tamad!!

Reppiunya pelissssssss...