THE TЯICKSTER AND THE PRINCE

Author: Kai
Rating: G for this chapter
Genre: General (for this chapter)
Pairing: Humm, menyingggung SanaYuki, tapi bukan pairing utama.
Disclaimer: Tennis no Oujisama bukan milik saia

Chapter 4 nih. Well, jangan mengerutkan kening dulu, okeh? Ini baru permulaan bagian 2...

Chapter 4: Meet The Prince Part One

Sewaktu aku masih kecil, kakekku pernah mengatakan padaku, bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan oleh 'takdir'. Aku bertanya, apa itu takdir, namun kakekku tidak menjawab dan hanya tertawa. "Kau masih kecil, Genichirou," katanya, "pasti akan sulit untuk mengerti tentang hal itu sekarang. Tapi kakek yakin, saat kau sudah lebih besar, kau akan mengerti maksud kata-kata kakek ini."

Dan aku selalu ingat kata-kata mendiang kakekku itu. Takdir… aku mengerti sekarang, kek. Sekarang aku mengerti, takdir adalah garis hidup untuk seseorang— ah, tidak, garis hidup semua orang yang sudah ditentukan. Semua peristiwa yang terjadi di dunia ini berjalan sesuai dengan takdir yang seharusnya sudah digariskan. Aku mengerti itu. Kehidupan, kematian, kemenangan, kekalahan… semua itu sudah ditentukan oleh garis takdir oleh yang maha kuasa.

Begitu juga dengan semua yang terjadi dalam hidupku.

Dengan berpegang pada kata-kata kakekku itu, aku menjalani hidupku selama lima belas tahun tanpa penyesalan sedikitpun. Tentu saja, aku selalu berusaha sepenuh hatiku dalam mengerjakan segala sesuatu, namun saat aku mendapatkan 'kekalahan' atau 'kegagalan', aku tidak pernah menyesal, karena aku tahu itulah garis takdirku. Itulah ketentuan yang sudah digariskan untukku, dan itulah yang terbaik untukku.

Begitu juga saat aku sakit pada hari tes masuk SMA Higurashi sehingga aku tidak bisa mengikuti tes, aku terus-menerus meyakinkan diriku bahwa itu adalah takdirku. Pasti ini yang terbaik untukku. Dengan sugesti tersebut, aku mengikuti tes masuk SMA pilihan kedua-ku, SMA Rikkai, dan aku berhasil lolos tes masuknya tanpa kesulitan. Dan hari-hariku di SMA Rikkai pun dimulai. Ya, aku tidak boleh menyesal sedikit pun, karena ini adalah takdirku. Iya, kan, kek?

Hari pertama di sekolah adalah undian menentukan urutan tempat duduk. Aku mendapat nomor urut enam, dan aku segera menuju tempat duduk dengan nomor urut enam. Namun di situ sudah duduk seorang siswa laki-laki lain. Sama sepertiku, tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran anak-anak sebayanya, rambutnya berwarna coklat tua dan matanya sipit, hampir segaris. Aku menghampirinya.

"Ano, maaf, tapi ini tempat dudukku," kataku. Ia mengerutkan alisnya, dan matanya benar-benar segaris sekarang.

"Eh? Tapi aku juga mendapat nomor urut enam, ini tempat dudukku," katanya.

"Aku tidak bohong. Ini buktinya," aku berusaha meyakinkannya sambil memperlihatkan nomor urut yang masih kupegang.

"Aku juga tidak bohong. Ini nomor urutku," balasnya sambil memperlihatkan nomor urutnya. Ia tidak bohong. Di kertasnya tertulis angka '6' besar. Apakah ada kesalahan dalam pengundian?

"Maaf, ada yang bisa kubantu?" tiba-tiba suara yang lembut terdengar dari sampingku. Aku menoleh.

Dalam sekejap, hanya sekejap, aku menahan nafasku saat melihatnya.

Aku tidak pernah… melihat sosok seindah itu dalam hidupku. Mungkin terlalu berlebihan, tapi sosoknya menggetarkan sesuatu yang jauh, jauh dalam hatiku. Kulitnya yang putih bersih terlihat seolah transparan, memantulkan sinar matahari yang menerobos melalui kaca jendela kelas. Bulu matanya lentik, dan rambutnya yang biru metalik berkilau keunguan. Aku memandang jauh ke dalam matanya dan melihat dalamnya biru laut di tengah samudra… seolah menenggelamkanku dan menghanyutkanku di dalamnya.

Aah, aku ingat sekarang, kenapa ia membuatku begitu terpesona. Sosoknya mirip dengan sosok lukisan tua berjudul 'Ashura' yang terpajang di dinding rumah mendiang kakekku. Aku masih ingat, aku sangat suka memandangi lukisan itu lama-lama, terpesona dengan keindahan dan kecantikan yang dipancarkan oleh sang 'Ashura'. Dan kini… kini, aku melihat sosok cantik 'Ashura' itu, langsung di depan mataku.

Sang Ashura tersenyum dengan senyuman yang begitu elok, membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

"Apakah ada yang bisa kubantu? Kulihat kalian sedang kesulitan, dan kurasa aku tahu penyelesaian masalah kalian," ucapnya, menawarkan bantuan, dan senyum malaikat kembali terukir di bibirnya yang indah. "Aah, eh, apa? Oh, iya benar, ini… sepertinya ada dua nomor 6 di sini…" jawabku dengan sangat gugup, tanganku gemetar dan menyerahkan dua nomor enam yang kupegang padanya, entah kenapa.

"Ah, benar, sudah kuduga," lagi-lagi ia tersenyum, "ini juga pernah terjadi di SMPku dulu. Nomor yang ini punya siapa?" tanyanya, menunjuk nomor di tangan kanannya.

"Itu punyaku," jawab laki-laki bermata sipit. Sang Ashura menoleh padaku, masih tersenyum. "kalau begitu ini punyamu, maaf, tapi sepertinya kau sedikit terkecoh, eh… namamu…?"

"Sa, Sanada. Sanada Genichirou," jawabku makin gugup.

"Sanada, sepertinya kau sedikit terkecoh. Coba perhatikan ini," ia menunjuk satu bagian sudut di kertas undianku, "ada titik kecil di sini kan? Ini tanda untuk menunjukkan kalau ini angka 9, bukan 6."

Aku memperhatikan sudut yang ditunjuknya. Ternyata benar. "Ah, begitu. Maafkan aku," kataku meminta maaf pada si laki-laki sipit, dan ia hanya tersenyum tanda ia tidak keberatan. Aku kembali menoleh pada si Ashura. Ia masih tersenyum padaku. "Nah, Sanada, kalau begitu kau duduk di sebelahku. Kau nomor 9 kan? Perkenalkan, namaku Yukimura Seiichi, nomor undian 10."

Semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan oleh garis takdir. Aku tahu itu. Dan kini… aku sedikitpun tidak menyesali takdirku yang membawaku ke SMA Rikkai. Aku tahu sekarang, alasan sang takdir membawaku ke sini. Pasti untuk bertemu dengannya, sang Ashura yang begitu menawan dan berparas bagaikan malaikat, Yukimura Seiichi.

Aku tahu ini sebuah kebodohan. Tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, walaupun hanya sekejap. Aku tidak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Aku merasa, ia terlalu indah untuk dilewatkan. Benarkah orang ini manusia? Auranya yang lembut dan menyejukkan hati, membuatku merasa selalu tenang, namun menyesakkan di saat yang sama. Senyum kecil selalu tersungging di bibirnya, dan matanya fokus ke depan, menatap papan tulis dengan serius.

Ia menoleh padaku, masih tersenyum. "Sanada, ada yang aneh di wajahku?" tanyanya. Aku gelagapan. "Ah, ti... tidak ada apa-apa, maaf," dan segera mengalihkan pandanganku darinya. Ia tertawa kecil. "Kau orang yang menarik, Sanada."

KKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK

Istirahat tiba. Yukimura bertanya apakah aku mau ke kantin atau tidak, dan aku menjawab tidak, karena sudah membawa bentou. Ia mengatakan kalau ia juga membawa bentou dan mengajakku makan bersama. Kemudian, laki-laki bermata sipit yang bermasalah dengan nomor tadi menghampiri kami. "Boleh aku bergabung dengan kalian?" tanyanya. Yukimura menjawab dengan anggukan kecil, dan ia pun bergabung dengan kami.

"Ah, maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Yanagi Renji, kau boleh memanggilku Renji. Dan kau," ia menoleh pada Yukimura," Yukimura Seiichi dari SMP Midori kan?"

Yukimura tersenyum. "Iya, benar. Tahu dari mana?" tanyanya.

"Kau kan terkenal sebagai salah satu kandidat juara Nasional di pertandingan tenis antar SMP tahun lalu. Sayang ya, ada masalah di hari menjelang pertandingan."

"Ah, rupanya benar, aku juga merasa pernah melihatmu. Kamu Yanagi Renji yang itu, ya, Yanagi Renji dari SMP Itou, pemain data tenis. Benar kan?" balas Yukimura sambil terkekeh. Yanagi mengangguk. "Suatu kehormatan kau mengenalku."

Aku hanya celingak-celinguk mendengar obrolan mereka. Tenis? Rupanya, mereka pemain tenis. Aku juga suka bermain tenis, namun karena kecintaanku pada kendo, aku memilih masuk klub kendo daripada tenis waktu di SMPku dulu. "Ah, maaf Sanada, kami jadi tidak menghiraukanmu. Waktu SMP, kamu masuk klub apa, Sanada?" tanya Yukimura padaku. Aku tersentak. Ah, rupanya ia tidak enak padaku. Aku tersenyum.

"Eh... waktu SMP, aku masuk klub kendo," jawabku. Yukimura menyahut dengan 'oh' kecil, tetap tersenyum. Yanagi memperhatikanku dengan seksama. "Kamu, Sanada Genichirou... boleh kupanggil Genichirou?" tanya Yanagi. Aku sedikit heran, maksudku, tidak masalah sih bagiku dipanggil dengan nama kecilku, jadi aku mengangguk, walau itu tetap terasa aneh.

"...sepertinya aku pernah melihatmu. Kamu dari SMP Sakurazuka bukan?" aku mengangguk heran. "Kalau dataku tidak salah, dua tahun yang lalu, kamu pernah ikut pertandingan tenis antar daerah, kan? Meskipun SMP Sakurazuka kalah, tapi aku ingat, permainan tenismu yang tidak biasa, dan kamu belum pernah kalah saat itu. Hanya saja... maaf, timmu yang 'tidak seimbang' untukmu. Benar, kan, kamu Sanada yang itu?"

Aku berdecak kagum dengan pengetahuannya. Memang, sewaktu SMP, tim tenis sekolahku sama sekali tidak berkembang dan anggotanya sangat sedikit, lalu karena salah seorang pemainnya cedera, sempai-ku memintaku untuk bermain menggantikannya. Dari kecil, selain kendo, aku juga sangat menekuni tenis, dan karena aku tidak enak pada sempai-ku, aku setuju. Namun karena tim kami memang lemah, kami kalah di babak penyisihan awal. Karena itu, aku kagum pada pengetahuan Yanagi yang begitu detil.

Aku mengangguk sebagai tanda pembenaran. Ia tersenyum. "Wah, aku tidak menyangka akan bertemu orang-orang sehebat kalian di kelas yang sama." Yukimura menggeleng. "Kau terlalu melebih-lebihkan, Yanagi."

Setelah itu, kami menjadi cukup akrab. Yanagi orang yang, menurutku hebat, kalau bukan disebut luar biasa. Ia memiliki ingatan fotografis, yang membuatnya tidak pernah bisa melupakan apa yang sudah didengar atau dilihatnya. Sebenarnya ia bisa masuk sekolah khusus, tapi ia memilih masuk SMA biasa karena ingin menikmati masa remajanya, dan, karena tenis. Memang benar, SMA Rikkai terkenal sebagai juara tenis Nasional berturut-turut.

Namun sebesar apapun kekagumanku pada Yanagi, tidak bisa menandingi kekagumanku pada Yukimura. Dalam sekejap ia sudah menarik perhatian seluruh kelas karena kharismanya. Ia terpilh sebagai ketua kelas dengan suara bulat, dan memang bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ia ramah, dan bisa mengatasi masalah apapun dengan kepala dingin.

Dan tidak heran kalau Yukimura menjadi idola dengan cepat, tidak hanya di kelas kami, tapi di seluruh angkatan kelas satu. Aku pernah mendengar obrolan sekelompok cewek yang membicarakan Yukimura di perpustakaan saat jam pelajaran kosong. "Keren sekali, ya, Yukimura Oujisama (pangeran Yukimura)...," kata salah seorang di antara mereka dengan tatapan menerawang. "Kalau saja aku bisa jadi pacarnya..."

"Hei, jangan mimpi. Dia itu pangeran yang tidak terjangkau cewek biasa kaya' kita, ngga mungkin kita-kita bisa dapetin dia...," sahut cewek yang lain. Aku tertegun. Oujisama? Benar, kenapa tidak? Wajah yang tampan, sifat yang baik dan ramah, kharisma yang luar biasa dan jiwa kepemimpinan yang tinggi... semua itu ada pada Yukimura. Itu memang panggilan yang tepat untuknya.

Aku tersenyum pada diriku sendiri.

Tapi di mataku, Yukimura tetap seorang Ashura yang mempesona.

To Be Continued

Ashura, huh? Mungkin kalian mengerutkan kening dengan perumpamaan itu. Memang, 'Ashura' bukan perumpamaan baik untuk seseorang, tapi di chapter berikutnya akan lebih dijelaskan kenapa Sanada memandang Yukimura seperti 'Ashura'. Bukan, bukan karena dia melihat sifat licik atau gelap Yukimura... tapi lebih kepada sesuatu yang pribadi. XDD mungkin harusnya judul chapter ini 'meet the Ashura' yah...

Well, itu panjang. lebih panjang dari yang sebelum-sebelumnya. Heran, kenapa tau-tau di chapter ini ngebahas Sanada-Yukimura-Yanagi? baca aja terus, nanti kamu tahu jawabannya... ;;dikemplang;;

Satu komentar saya soal chapter ini: LEBAYYYYYYYYYYY!!!! XDD oke, mungkin kesan pertama Sanada ke Yukimura itu lebay bgt. Tapi maafkan kelebaian saia yah... :P

Dan soal ingatan fotografis Yanagi, tentu saja itu tidak ada dalam manga ataupun anime originalnya. Saya hanya merasa orang seperti Yanagi pasti cocok kalau punya ingatan fotografis XD kalau nggak malah aneh, bisa ingat berbagai hal sedetil itu...

Jya, review, ok? beri aku komentar kalian tentang fic ini... apapun boleh, saran, kritik, pujian, flame, terserah. Tapi saya akan sangat bahagia kalau kalian memberikan con. cret/kritik membangun, itu penghargaan terbesar bagi saya. And last, thanks for reading!