Ringkasan: Sang Kelelawar adalah makhluk paling setia. Hidupnya dihabiskan untuk mengabdi dan mencari arti. Ketika tiba-tiba saja muncul oranye, tanpa disadari sama sekali, warna itu telah perlahan-lahan meluruhkan pekat hitam hati Sang Kelelawar. # A Fict for 50 Sentences Challenge. UlquiorraXOrihime.
Sebuah jawaban atas Infantrum 50 Sentences Challenge dari Farfalla. Mengambil dua puluh tema lanjutan dari set satu untuk chapter kedua.
Peringatan: Modified canon—almost missing scene—from Hueco Mundo arc, soft UlquiorraXOrihime, Ulquiorra's POV, setting and dialogues taken from Bleach manga chapter: 247 (United on The Desert), 248 (Come Back Alive to This Place), 249 (Back to The Innocent), 270 (WARning), 271 (If You Rise from The Ashes), 277 (Corrosion of Conformity), 278 (Heal for The Crash), 315 (March of The Death), 316 (Swang The Edge Down), 317 (Six Hearts Will Beat as One), 341 (The Envy), 342 (The Greed), 344 (The Pride), dan 345 (The Sloth).
.
Bleach©Tite Kubo
.
"…Her discomfort lasted but a second.
And she didn't even raise an eyebrow at my question.
Such a strong woman…"
(Ulquiorra Schiffer—Bleach chapter 249: Back to the Innocent)
.
#
.
SANG KELELAWAR
~Sayap Kedua~
oleh: fariacchi
.
#
.
~ KENAPA ~
Aku mengayunkan kaki satu langkah, mengamati dengan seksama perubahan ekspresi gadis berambut oranya di depanku sebelum berkata, "Ada laporan terbaru."
Gadis itu diam, mendengarkan.
"Teman-temanmu telah memasuki Hueco Mundo," ujarku kemudian.
Mata gadis itu membulat. Jubah putihnya kembali berkibar indah di bawah remang sinar bulan.
Inoue Orihime menatap aneh. "Kenapa…?" tanyanya pelan.
Aku diam sejenak. Mataku mengamati raut wajah gadis di hadapanku. Aneh. Ada apa dengan ekspresinya? Tidak sesuai dengan perkiraanku.
Kemudian aku menyerah dan menjawab datar, "'Kenapa', tanyamu?" Ada jeda beberapa detik sebelum aku menjelaskan, "Untuk menyelamatkanmu. Bagi mereka, tak ada alasan lain yang lebih penting dari itu."
Gadis itu masih menatap aneh. Kemudian dengan terbata ia berbicara, "…untuk… menyelamatkanku…?" nada heran terdengar dari sana.
Kenapa ia berekspresi begitu?
.
#
.
~ JIWA ~
Gadis berambut oranye itu tampak menundukkan kepala, menatap karpet putih tempatnya berpijak, tepat setelah aku berkata, "Bagaimanapun, saat ini, itu tidak akan berarti apapun untukmu."
Hening sejenak. Kali ini aku akan mendapatkan ekspresi yang sesuai perkiraanku. Itu pasti.
"Hai…" sahut gadis itu pelan.
Aku memberi jeda lagi sebelum memerintahkan, "Katakan."
Inoue Orihime masih menunduk. Matanya memandang sendu, namun penuh keteguhan. Aku melanjutkan, "Tubuh dan jiwamu… untuk apa mereka ada?"
Aku menatapnya, menambah tekanan di sekitar gadis itu.
Ia akan mengatakannya. Kini ia adalah bagian dari rencana suci Aizen Sama, maka ia akan mengatakannya. Bukan, ia harus.
"Hai… Tubuhku…" Diam sebentar sebelum gadis itu menjawab mantap meski masih menatap ke bawah, "…jiwaku… ada untuk Aizen Sama dan ambisinya…"
Entah mengapa kurasakan sesuatu berdesir di dalam tubuhku ketika mendengar kejernihan suara itu.
.
#
.
~ KUNCI ~
Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar putih itu. Rasanya masih tergambar jelas: ekspresi menunduk gadis berambut oranye itu, kejernihan suaranya yang menggema di ruangan putih, tatapan mata yang penuh kesungguhan.
"Untuk Aizen Sama dan ambisinya…" begitu katanya?
Aku merogoh kantong celana dan mengeluarkan sebuah kunci perak yang berkilau.
Gadis itu… ketidaknyamanannya hanya berlangsung tidak lebih dari satu detik. Dia bahkan tidak sedikit pun menaikkan alis mendengar pertanyaanku.
Kemudian aku mengunci kamar itu dari luar. Mengisolasi siapa pun di dalamnya dari keadaan luar.
Sungguh perempuan yang kuat…
Kemudian aku membalikkan badan dan menyusuri lorong, dengan kunci perak aman di sakuku.
.
#
.
~ RAHASIA ~
Aku berdiri angkuh pada anak tangga teratas, memandang shinigami berambut oranye yang berdiri menatapku dari lantai paling bawah. Sambil menuruni anak tangga dengan perlahan, aku menanggapi setiap pernyataan yang ia lontarkan.
"Aku tak punya alasan untuk berarung denganmu," ujarnya tepat setelah aku selesai menuruni anak tangga terakhir. Ia membelakangiku dan berjalan menjauh.
"Apa yang kau maksudkan dengan itu?" tanyaku, menghentikan langkahnya.
"Kau adalah musuhku, tapi…" Kurosaki Ichigo memberi jeda sedikit pada kalimatnya sebelum ia menyelesaikan, "Kau sendiri belum melukai salah satu dari temanku."
Aku terdiam sejenak mendengar pernyataan itu. Tersenyum dalam hati, aku merespon, "… Begitu?"
Kurosaki Ichigo. Benar-benar pemuda yang aneh. Aku tak pernah bisa mengerti dan memprediksi respon manusia yang satu ini. Apa boleh buat, mungkin ia akan berubah pikiran bila aku membagi sedikit rahasiaku.
Aku menoleh dan menatap rambut oranye pemuda itu, lalu berujar, "Bagaimana jika aku mengatakan bahwa…" Setelah menarik napas sejenak, aku membisikan sesuatu dengan nada datar, "…akulah yang telah membawa Inoue Orihime ke Hueco Mundo?"
Rahasia kecilku direspon dengan ekspresi kemarahan dan hantaman pedang yang segera kutangkis dengan satu tanganku.
Akhirnya, satu respon yang bagus.
.
#
.
~ EMPAT ~
Pedang hitam shinigami itu merobek baju putih yang kukenakan. Menampakkan angka empat yang diukir indah oleh Aizen Sama.
"Nomor… empat?" Pemuda berambut oranye itu menatap kaget dan tak percaya.
Aku menjawab tenang, "Ya. Cuatro Espada*, Ulquiorra Schiffer."
Ekspresi wajah shinigami itu menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Aku menurunkan bola mata hijauku hingga melihat utuh pemuda yang terduduk lemah dengan segala luka di sana-sini.
Kubiarkan kata-kata sebelumnya menguap di udara sebelum aku melanjutkan, "Berdasarkan urutan kekuatan espada, aku adalah yang terkuat keempat."
Dengan itu, aku menusukkan tanganku—yang setajam pisau dan sekeras besi, tepat ke tengah dada. Sempurna menjadi titik tengah tanda salib yang dibentuk membelah dagu, serta membentang ke kedua bahu.
Empat terkuat tidak berarti apapun. Aizen Sama tahu pasti, siapa yang teratas dalam hal kesetiaan.
.
#
.
~ DARAH ~
Aku tersenyum dalam hati, menikmati kesempurnaan misiku melenyapkan pemuda yang akan mengganggu rencana Aizen Sama.
Tunggu. Tidak. Pemuda itu bahkan tak akan menjadi debu yang menempel di antara jari-jari Aizen Sama.
"Kurosaki Ichigo, kau sama sekali tidak punya peluang untuk mengalahkanku," ujarku pelan. Perlahan kuputar tanganku yang masih menembuskan diri di tubuh shinigami berambut oranye itu.
Aku meragukan ia masih mendengarku saat itu, tapi aku masih bicara. Sambil merasakan darah yang merembes melalui lubang yang sedang kubuat, aku berujar datar, "Tidak peduli meskipun kau kembali berdiri ribuan kali…"
Darah kental melumuri tanganku ketika aku mencabutnya dari tubuh tak bergerak itu.
"Jalan menuju kemenangan… tidak ada untukmu."
Lalu tubuh penuh darah itu terhempas di hadapan kakiku.
Selesai, Aizen Sama.
.
#
.
~ SIAPA ~
Jendela kamar yang berantakan itu masih melukiskan bulan sabit dan langit malam. Aku baru saja mengganti pakaianku yang robek dan kotor, hanya untuk mendapati ruangan yang seharusnya kujaga telah hancur. Juga hanya untuk menerima fakta bahwa gadis yang menjadi tanggung jawabku menghilang dari ruangan.
Kutatap dua arrancar perempuan yang pucat pasi di dalam kamar putih itu.
"Apa maksudnya… semua ini?" Aku berujar sedikit geram, membiarkan dua arrancar rendahan di hadapanku hampir mengeluarkan bola mata mereka karena takut.
Tak mendengar jawaban, aku melangkahkan kaki mengelilingi ruangan. Mengamati kerusakan dan jejak cero dimana-mana.
"Siapa yang melakukannya?" tanyaku kemudian.
Terdengar kegagapan sedikit sebelum aku mendengar jawaban pelan, "G—Grimmjow…"
Aku menoleh pada kedua gadis itu. Memandang tenang sebelum melangkahkan kaki keluar sambil berujar, "Begitu…".
Sesungguhnya, tak perlu bertanya pun aku sudah mampu menebak. Dengan menganalisa ekspresi dua arrancar tadi, mengamati jejak kerusakan dalam kamar, serta merasakan reiatsu yang tersisa.
Siapa lagi yang mempunyai amarah kekanakan—merasa mangsanya diambil, selain espada nomor enam itu?
Grimmjow, sudah lama aku ingin memberi pelajaran atas kekurangajarannya pada Aizen Sama. Kesempatan yang bagus, kini ia benar-benar membuatku marah.
Tunggu. Marah? Aku tidak pernah marah. Aku tidak punya emosi seperti itu dalam kamusku.
Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Siapa yang telah membuatku seperti ini?
.
#
.
~ BIRU ~
Setelah muncul dengan tiba-tiba di hadapannya, sosok berambut biru itu menatapku terkejut. Tatapan yang sedetik kemudian menatap penuh amarah.
"Apa maksudmu dengan menyembuhkan kembali lawan yang telah aku kalahkan?" tanyaku sedikit berbasa-basi. Sesungguhnya aku telah mengetahui pasti alasan espada bernomor enam itu.
Tidak ada jawaban. Hening. Hanya tatapan marah.
Aku melempar pandanganku ke arah Inoue Orihime, dan cahaya oranye yang berpendar di belakangnya. Pandangan kami bertemu.
Detik itu aku menyadari betapa biru tak mampu menggantikan hitam menjadi latar terindah untuk oranye.
Masih mahakarya Aizen Sama yang sempurna: birunya langit di dalam istana Las Noches. Istana yang berdiri tegak di tengah kegelapan tak berakhir Hueco Mundo.
Gadis itu mengalihkan matanya. Membuang pandangan ke bawah, tanda bahwa ia merasa terganggu dengan tatapanku. Bukan pemandangan yang bagus di mataku. Jika sudah menyangkut urusan shinigami oranye itu, Inoue Orihime menjadi sosok yang begitu berbeda.
"Bagaimanapun, Aizen Sama telah menyerahkan tanggung jawab tentang gadis itu padaku," ujarku kemudian setelah menatap kembali Grimmjow. Mata biru Grimmjow menyipit mendengarnya, menunjukkan kemarahan. "Serahkan gadis itu," lanjutku dingin.
Aku bersungguh-sungguh mengenai itu.
.
#
.
~ DIAM ~
Gelap. Hening. Aku tersegel dalam dimensi kegelapan. Sedikit kurang hati-hati membuatku dengan mudah membiarkan Grimmjow melemparku kesini. Namun sedikit lagi semua selesai.
Setelah hampir dua jam lamanya aku diselimuti diam dan hening, akhirnya suara pertama yang kudengar kembali adalah suara Aizen Sama.
"…Sementara itu, aku akan menitipkan Las Noches dibawah pengawasan sempurnamu—," suara itu terdengar sayup. Ya, suara indahnya itu telah memberiku satu lagi tugas penting, suatu tanda kesetiaanku telah diterimanya dengan baik.
Aku mengulurkan tanganku, membuat retakan di kegelapan itu.
"—Ulquiorra." Akhirnya kudengar jelas suara itu, tepat ketika tubuhku berhasil keluar dari segel dimensi kegelapan.
Berdiri tepat di depan kursi kehormatan Aizen Sama, aku memandang sekeliling. "Sesuai keinginanmu," jawabku pelan sambil memandang sosok jauh di depanku.
Dua jam lamanya tak mendengar apapun, suara Aizen Sama-lah yang memperbaikinya. Lalu… dua jam lamanya menatap hitam, warna oranye yang meruntuhkannya.
Lucu sekali. Sesungguhnya aku berharap menatap sosok sempurna Aizen Sama.
Tapi, kurasa sepertinya oranye tidak terlalu buruk untuk dilihat.
Inoue Orihime membulatkan matanya mendapati sosokku, terkejut. Meski demikian, tak ada kata-kata di antara kami.
Diam. Itulah yang kami lakukan. Setidaknya sampai aku memecahkannya.
.
#
.
~ SENDIRI ~
Aku berjalan mendekati gadis berambut oranye itu. Tak ada siapa pun di sekitarnya. Hanya dia—sendiri, berdiri berhadapan denganku.
Suara tapak kaki adalah satu-satunya yang terdengar sampai aku berkata, "Apa kau takut?"
Sesungguhnya, daripada seperti pertanyaan, lebih mirip sebuah pernyataan.
Tak ada jawaban. Hanya pandangan mata. Hanya ekspresi wajah yang menampakkan kesendirian.
"Sekarang kau sudah tidak berguna untuk Aizen Sama. Tidak ada seorang pun yang tersisa untuk melindungimu."
Masih hening. Kutatap lekat-lekat wajah gadis itu sambil melanjutkan, "Semua telah berakhir. Kau akan mati. Sendiri. Disni, dimana tak ada seorang pun yang mampu menjangkaumu."
Ya, tidak ada. Kecuali aku.
Tunggu, apa yang kupikirkan barusan?
.
#
.
~ JANTUNG ~
Aku merekam kata-kata gadis di hadapanku.
"Aku tidak takut. Semua datang untuk menyelamatkanku, jadi hatiku telah bersama mereka."
Hati.
Hati? Manusia sungguh dengan ringannya mengucapkan kata itu. Seolah itu adalah sesuatu yang bisa digenggam dalam tangan lemah mereka.
Mataku bisa melihat segalanya. Apapun yang tak terlihat olehnya, adalah sesuatu yang tidak ada. Dan sepanjang eksistensiku, aku telah berjuang membuktikan fakta itu.
"Apa itu hati?" tanyaku, sambil mengarahkan tangan tajamku ke tengah dada gadis berambut oranye itu.
Inoue Orihime membulatkan matanya, terkejut dengan pertanyaanku. Meski begitu, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apakah aku akan menemukannya jika aku membuka paksa tengkorak kepalamu? Atau… akankah aku menemukannya jika aku merobek dada dan mengeluarkan jantungmu?"
Tapi aku tak pernah mampu mengeluarkan jantung kecil dari tubuh itu. Lagi-lagi pengganggu merusak hari sempurnaku.
.
#
.
~ MUNGKIN ~
Lagi-lagi pedang hitam itu merobek baju putihku. Angka empat kini terekspos kepada siapa pun yang bisa melihatku.
"Sepertinya aku bisa membaca gerakanmu lebih baik dari sebelumnya," shinigami berambut oranye itu berbicara sambil menyunggingkan senyum.
Aku tak suka melihat ekspresi itu. "Apa maksudmu?" tanyaku.
"Pada pertarungan sebelumnya, aku sama sekali tidak mampu membaca gerakanmu. Rasanya seperti bertarung dengan mesin atau patung…," ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "… tapi sekarang aku bisa."
Senyum melengkung lagi di wajah pemuda oranye itu.
"Entah karena aku telah berubah mendekati hollow… atau mungkin… kau yang telah berubah menjadi lebih mendekati manusia…"
Mataku membulat mendengar kalimat terakhirnya. Kuayunkan pedang, membelah dua batu besar di hadapanku. Pemuda itu berhenti bicara.
"Aku… telah berubah menjadi lebih mendekati manusia…?" aku mendesis perlahan, menatap dua sosok berambut oranye di hadapanku.
Mendekati manusia? Yang benar saja.
Tidak mungkin, kan?
.
#
.
~ BINGUNG ~
Pedangku menghantam perisai oranye yang kini telah retak berkeping-keping, berhasil melindungi shinigami di belakangnya dari hantaman pedang tajamku. Kulirik sang pemilik perisai sambil bertanya, "Apa yang kau lakukan?"
Mengapa baru sekarang gadis itu melindunginya?
Bola matanya membesar sedikit. "…Hah… ?" gumamnya. Ia terlihat tak mengerti.
Aku memperjelas pertanyaanku, "Aku bertanya, kenapa kau menolongnya?"
Gadis berambut oranye itu terbata sebelum menjawab, "K—kenapa? … Aku…"
"Karena dia temanmu?" tanyaku. Lalu aku melanjutkan, "Lalu mengapa kau tidak melindunginya dari awal?"
Apa gadis itu berpikir bahwa pemuda oranye itu akan mampu mengalahkanku?
Ekspresi gadis itu menjadi sangat terkejut. Tergambar jelas keraguan di wajahnya.
"Kenapa kau ragu?" tanyaku lagi.
"A—aku… Aku tidak…" Inoue Orihime terbata menjawab, tanpa sadar Ia mundur satu langkah ke belakang.
Terpancar kebingungan yang sangat dari mata gadis di hadapanku.
Tapi bukan hanya dia. Sejujurnya aku pun bingung. Mengapa manusia begitu mudah melakukan sesuatu tanpa menyadari alasannya?
.
#
.
~ BICARA ~
"Ulquiorra…" suara shinigami berpedang hitam itu menandakan pertarungan akan kembali dimulai.
Aku menatapnya. Menunggu.
"Ternyata kau cukup banyak bicara. Aku terkejut." Pedangnya mengeluarkan sinar hitam yang tak asing lagi bagiku. "Kupikir… kau adalah tipe yang lebih pendiam."
Aku terhenyak sedetik. Seperti déjà vu, aku pernah mendengar pernyataan seperti itu sebelumnya.
Grimmjow…
Aku teringat dialog sebelum ia menyegelku dengan Caga Negacion* dua setengah jam yang lalu.
"Serahkan gadis itu."
"Sialan."
"… Apa katamu?"
"Ada apa?" Grimmjow menyeringai saat ia bicara, "Kau menjadi banyak bicara belakangan ini, bukan? Ulquiorra?"
Mataku membulat terkejut mendengar pernyataan terakhirnya.
Banyak bicara? Aku? Telah menjadi banyak bicara?
Aku melemparkan pandangan kepada gadis berambut oranye panjang yang tengah mengamati dengan seksama.
Mustahil.
.
#
.
~ JANGAN ~
Terdengar suara robekan kain yang keras. Kurosaki Ichigo menghentikan serangan, ia menoleh ke arah yang sama dengan pandangan mataku.
"Inoue!" serunya.
Mata hijauku mengamati dengan seksama. Dua arrancar wanita yang tadi kutinggalkan di kamar Inoue Orihime. Mereka menyeringai dan mulai menyerang gadis itu: merobek baju putihnya dan menjambak rambut oranye panjangnya.
"Jangan bergerak!" Salah satu arrancar berteriak ketika Kurosaki Ichigo mendekat penuh amarah. "Mendekat selangkah saja, aku akan mencungkil bola mata perempuan ini!"
Tampaknya shinigami itu sama sekali tidak peduli. Reiatsu-nya menguat tajam. Telingaku mampu mendengar ia berbisik, "Getsuga…"
Belum sempat shinigami berpedang hitam itu menyelesaikan nama jurusnya, aku menghalangi. Kuayunkan pedangku yang dengan sekuat tenaga, yang reflek ditangkis oleh pedang hitamnya.
"Ulquiorra?" Arrancar wanita dengan rambut terkuncir dua itu menyahut pelan penuh kekagetan ketika aku menghadangnya dari serangan Kurosaki Ichigo.
Aku menoleh dan melirik tajam padanya, lalu mendesis, "Jangan salah paham. Aku bukan menolongmu."
Tentu saja. Apa Kurosaki Ichigo berniat menghancurkan dua arrancar rendah itu dengan Getsuga Tenshou, bersama dengan Inoue Orihime?
Tunggu. Jangan salah sangka.
Bagaimanapun juga, gadis itu masih tanggung jawabku.
.
#
.
~ LOMPAT ~
"Minggir!" Kurosaki Ichigo berteriak ketika ia menghantamkan pedangnya kepadaku.
"Paksa aku," jawabku datar. "Jika kau ingin melawan orang lain, kau harus membunuhku terlebih dahulu."
Ekspresi kemarahan bercampur khawatir berpendar di mata shinigami berambut oranye itu. Ia terus melirik ke arah Inoue Orihime, yang masih dalam siksaan dua arrancar wanita tadi.
Dasar bodoh. Apa shinigami ini berpikir aku akan diam saja membiarkan tanggung jawabku dirusak oleh dua makhluk rendahan seperti mereka?
"MINGGIR!" Kurosaki Ichigo berteriak lagi.
Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi semua beres. Tak perlu menghentikan pertarungan untuk dua semut pengganggu seperti mereka.
Suara gelegar terdengar di belakang kami.
Tepat. Yammy melompat ke dalam, menghancurkan tembok di belakang Inoue Orihime. Kemudian dalam waktu beberapa menit, ia sudah membereskan dua pengganggu tadi.
"Yo, Ulquiorra, kau tidak keberatan jika aku membunuh gadis ini, kan?" tanya Yammy kemudian.
Tentu saja aku keberatan.
Tapi aku tak perlu repot-repot menjawab. Teman Kurosaki Ichigo yang berkacamata itu membereskannya untukku.
Aku tak begitu memperhatikan bagaimana mungkin itu terjadi. Yang jelas, Quincy berbaju putih itu dengan mudah membuat Yammy melompat sekali lagi. Kali ini ke bawah.
Yammy melompat lagi—atau tepatnya: terjun, hingga terhempas ke dasar Las Noches.
.
#
.
~ AWAN ~
Aku melompat keluar melalui lubang besar yang dibuat Yammy ketika ia muncul beberapa menit yang lalu. Aura hitam menyelimuti Kurosaki Ichigo dan topeng hollow-nya ketika ia mengejarku.
Kuarahkan jari telunjukku, menembakkan cero berkekuatan tinggi tepat kepada shinigami itu. Ledakan besar terjadi. Mataku menunggu, menangkap bayangan di balik kepulan asap.
Kurosaki Ichigo berdiri tegak, mengambang di udara dengan reiatsu-nya. Pedang hitam menjadi perisai baginya, melindungi diri dari serangan cero-ku.
Aku menatap. Mengamati bahwa ia tidak terluka sedikitpun.
Sedetik kemudian aku melayangkan kaki, terbang ke atas secepat yang aku mampu. Aku mendengar shinigami di bawahku berteriak keheranan dan mengejarku.
Benar, kejarlah aku.
Aku terus ke atas, menempuh langit biru, menembus awan putih.
Awan. Satu lagi ilusi indah yang tercipta oleh tangan sempurna Aizen Sama.
.
#
.
~ LATAR ~
Aku menembus atap kubah kastil Las Noches. Menggantikan pemandangan siang di bawah sana, langit hitam dan bulan sabit terlihat menjadi latar pertarunganku.
Menginjakkan kaki di pilar tertinggi dari Las Noches, aku mendengar Kurosaki Ichigo berkata, "Ini… di atas kubah Las Noches?"
Aku menjawab pelan, "Tepat. Semua espada peringkat empat keatas…" aku memberi jeda sedikit, hanya untuk memutar tubuhku. Membiarkan topeng hollow dan rambut oranye menatapku dari bawah, aku berdiri tegak di atas pilar putih. "… telah dilarang untuk membuka segel pedang di dalam kastil," tutupku.
Aku mengarahkan pedangku ke depan, seolah mencoba menusukkannya pada shinigami yang berdiri jauh di bawahku.
Manusia yang selalu mengganggu, Kurosaki Ichigo. Aku tak akan membiarkannya lebih jauh lagi merusak kesempurnaan hariku.
"Bind…,"
Lalu aku membuka segel pedangku, dilatari langit hitam dan bulan sabit kuning besar Hueco Mundo.
.
#
.
~ HUJAN ~
"Bind, Murcielago*," aku menggumamkan lantang 'mantra' perobek segel kekuatan arrancar-ku.
Aura hitam seperti mengembun menjadi cairan hitam pekat di sekelilingku. Tersembur kuat dari kedua kakiku. Mengelilingi, menuju keatas, lalu bermuncratan di udara.
Menjadi hujan hitam yang menghujam Kurosaki Ichigo dengan pekat auraku.
Hujan yang menutupi pandangannya selama tiga detik. Sampai ia bisa melihat jelas sayap hitam yang mengembang dari punggungku.
Ya, inilah sosokku yang sebenarnya. Sayang sekali gadis itu tidak bisa melihatnya dari bawah sana.
Tapi bukan masalah, satu kepala manusia sudah cukup bagiku.
Nah, manusia, nikmatilah pertunjukan Sang Kelelawar ini.
.
#
.
~ To be Continued ~
.
Keterangan:
Cuatro Espada: Bahasa Spanyol untuk espada keempat. Cuatro artinya empat.
Caga Negacion:Bahasa Spanyol untuk Box of Negation. Sebuah kemampuan yang dimiliki espada untuk menghukum arrancar bawahannya dengan menyegelnya dalam sebuah dimensi lain. Ketika digunakan kepada sesama espada, hanya berlaku selama dua sampai tiga jam.
Murcielago: Bahasa Spanyol untuk kelelawar. Merupakan wujud asli kekuatan arrancar yang dimiliki Ulquiorra.
.
Catatan Faria:
Sekarang sudah jelas maksud judul 'Sang Kelelawar' ini, bukan? Sungguh wujud yang sangat tepat menggambarkan sosok Ulquiorra.
Ah, terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberi dukungan pada chapter pertama. Tinggal satu chapter lagi, semoga cukup menghibur. Terima kasih sudah membaca.
