Balas review dulu yaaa…!! ^^
Syllie charm : Haha dasar dia, ntar dulu ah gue ngerjain request yang lain dulu, lagian udah dong kan udah 3, mana Rating M semua lagi, capek tauuu...!! T_T ok, thanks ya dah review...!!
MayukaRui : *ikut geleng-geleng kepala, mengerutkan kening* yah memang, Sasuke itu mesum.. *dicincang kusanagi* haha thanks ya dah review..!!
Chian30ne : Nah itu dia, apa yang bakal Temari lakukan ya..?? Ada di last chapter ini kok hehe, baca yaa…! *maksa -ditendang* hehe thanks ya dah review..!!
Chiwe-SasuSaku : Tahu tuh serem banget, moga-moga kalau aku nggak ada yang rekam deh *kan gara-gara kamu..!! –ditendang SasuSaku* Temari jadi takut karena dia ngerasa kalau melakukan 'itu' cewek yang selalu merasakan sakit, mungkin? *dibantai Temari* hehe, thanks ya dah review..!!
Kakkoii-chan : Betul banget...!! SasuSaku emang paling nepsong, jadi gampang bikin rate M-nya XD *maksud lo..!? –digebukin SasuSaku* iya ya, mungkin Shikamaru mikir sakit kali ya..?? Padahal katanya sih… *Apa..!? –ditendang Shika* tenang aja, baca last chapter ini yaa...!! Hehe thanks ya dah review..!!
Ritsukika Sakuishi : Emang Sasu napsu *diremukin Manda* ok ok, baca last chapter ini yaa..!! ^^ thanks ya dah review..!!
Awan Hitam : Hehe gomen kak, lagipula yang bikin ficnya aja nggak diajak kok *pundung di pojokan –readers sweatdrop* hehe ntar deh, aku coba baca ya kak. Oh ya kak, aku juga mau promosi, aku bikin fic rate M SasuSaku, judulnya RAZIA. Review ya kak, terus kasih pendapat kakak juga ya hehe *kok promosi..!? –ikut dikubur hidup-hidup* hehe thanks ya dah review...!!
Akaneko Teme-Dobe UchiMaki : Hehe emang sengaja *dibantai ShikaTema* ok, baca last chapter yaa…!! ^^ thanks dah review..!!
: Hehe makasih, jadi malu *WTF..!? –ditendang rame-rame* ok, nih udah update, baca yaa...!! ^O^ thanks ya dah review..!!
Raiko Azawa : Ng? Yang stress ShikaTema atau SasuSaku? Hehe tapi kayaknya emang sama-sama stress. Soalnya Shika takut sex, Sasu terlalu nepsong *maksud..!? –dikasih death glare* hehe thanks ya dah review..!!
Aika Uchiha : Iya dong, saya kan maniak SasuSaku sejati... XDD haha Temari takut sendiri kok, nggak kena virus Shikamaru hehe... Thanks ya dah review..!!
Ok, kayaknya sudah, hehe selamat membacaaa...!!
Disclaimer : Always Masashi Kishimoto..
Pairing : ShikaTema
Warning : OOC, AU, Lemon
I HATE XXX !!
"Uhuk, uhuk..." suara batuk Temari yang sekarang sudah kesepuluh kalinya, akhirnya sukses membuat Shikamaru bangkit dari acara tidurnya dan menatap kesal Temari.
"Kau ini... kenapa nggak jujur aja sih, kalau kamu sakit..?" tanya Shikamaru sambil sesekali menguap.
"Ng.. Nggak kok, nggak sakit hehe cuma.. err ba- OHOK..!!" baru saja membela diri, suara batuk yang lebih keras keluar dari mulut Temari. Spontan membuat Shikamaru menepuk-nepuk punggung istrinya khawatir.
"Minum obat dulu deh, besok kita ke dokter," gumam Shikamaru. Temari mengangguk, wajahnya sudah sangat merah. Shikamaru menaruh telapak tangannya di dahi Temari.
"Panas sekali," keluh Shikamaru tanpa dijawab Temari. Tetapi spontan tubuh perempuan itu menggigil.
"Kok dingin ya..? Apa cuma perasaanku..??" tanya Temari pelan, Shikamaru mengangkat alisnya.
"Nggak ah, mungkin itu faktor dari sakitmu kali," jawab Shikamaru tenang. Tapi biarpun begitu, wajahnya menyiratkan kecemasan yang amat sangat.
"Shi.. Shikamaru, aku pernah diberi tahu Sakura katanya kalau membutuhkan kehangatan cukup melakukan-"
"Sex kan?" tebak Shikamaru cepat. Temari terdiam tapi setelah itu mengangguk kecil. Laki-laki berambut nanas itu memutar bola matanya dan berbaring di sebelah Temari.
"Haah, jadi sekarang taktiknya begini ya? Pura-pura kedinginan terus minta melakukan sex," gumam Shikamaru malas, Temari menundukkan wajahnya.
"Kupuji kepintaranmu, tapi sayangnya aku tidak akan tergoda. Sana tidur," gumam Shikamaru lagi lalu memeluk gulingnya membelakangi Temari. Dia tidak melihat sekarang, ketika Temari mengangkat wajahnya terlihat aura setan membunuh dari wajahnya yang putih bersih...
"DASAR KEPALA NANAS JAHANNAM...!!"
Paginya...
"Temari...!! Bisa tolong siapkan sarapan? Aku harus pergi ke acara meeting secepatnya," teriak Shikamaru sambil membetulkan jas hitamnya. Terdengar jawaban dari Temari di dapur yang berkata "Ya,"
Awalnya keadaan tenang saja seperti pagi biasa. Saat Shikamaru baru ke luar dari kamarnya, tiba-tiba dia mendengar suara piring pecah dari arah dapur. Spontan Shikamaru kaget dan meneriakkan nama Temari. Karena tak kunjung dapat jawaban, akhirnya Shikamaru berlari ke arah dapur dan melihat Temari terbaring dengan keringat dingin mengucur di wajahnya yang bersih.
"TE.. TEMARI...!?"
Shikamaru mengangkat tubuh Temari dengan cepat lalu membaringkannya di tempat tidur. Dia bergegas menelpon dokter untuk datang ke rumahnya dan memeriksa Temari. Setelah itu dia menelpon kantornya untuk membatalkan meeting. Beberapa saat kemudian dokter Matsuri datang.
Baru saja dokter selesai memeriksa Temari yang sedang tidur di atas kasurnya. Gadis itu terlihat sangat tertekan walau dalam tidur, entah apa yang dilihatnya dalam mimpi. Dokter Matsuri, teman kecil Gaara, bangkit dari duduknya di samping Temari dan menatap Shikamaru.
"Bagaimana keadaannya, Matsuri?" tanya Shikamaru cemas. Matsuri menatap Shikamaru lalu tersenyum tapi setelah itu dia menatap Shikamaru dengan penuh tanya.
"Tenang saja, keadaan Temari-neechan baik-baik saja kok. Tapi sepertinya ada pikiran yang membebaninya, apa Sikamaru-niisan tahu sesuatu yang mungkin mengganjal di hatinya?" tanya Matsuri dengan polosnya.
Shikamaru nampak berpikir. Bola matanya bergerak ke sana kemari, seolah berusaha mengingat kira-kira apa yang membuat Temari menjadi begitu. Lalu dia membelalakkan matanya dan mencetikkan jari seolah mengingat sesuatu.
Tak salah lagi...
-
-
-
Yang bisa membuat Temari stress memikirkannya sampai jadi seperti ini...
-
-
-
Cuma 'itu'..!!
-
-
-
Malamnya sekitar jam 21.00...
"Ngggh," suara Temari yang baru saja bangun, sukses membuat Shikamaru yang sedang melongo ke luar jendela berbalik melihat Temari.
"...Sudah enakan?" tanya Shikamaru ragu-ragu, Temari mengangguk pelan. Shikamaru mendekati istrinya itu.
"Temari... Ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Shikamaru. Tapi Temari tidak merespon.
"Apa tentang tugas yang diberikan okaasan kita?" tanya Shikamaru lagi, Temari mengangguk dalam diam. Shikamaru mengeluarkan nafas panjang lalu duduk di samping Temari.
"Maaf ya," gumam Shikamaru. "Aku... memang egois," tambahnya lagi, membuat Temari menoleh ke arahnya.
"Kalau mau, aku akan melakukannya sekarang," kata Shikamaru pelan dengan nada ragu, Temari membelalakkan matanya.
"Kau sungguh-sungguh, Shikamaru..!?" tanya Temari meyakinkan. Shikamaru mengangguk.
"Tapi.. aku tidak tahu harus melakukan apa saja," gumam Shikamaru lalu spontan memegang 'punya' nya. "Dan.. aku juga tidak mau kau apa-apakan 'punya'ku..!!" tambahnya dengan nada menekankan.
"A.. Aku, sebenarnya mungkin aku juga takut untuk melakukannya," gumam Temari menunduk. Keduanya sedang terpaku sekarang, tidak tahu harus melakukan apa.
"Tapi, mau bagaimana lagi? Ini demi tugas," lanjut Temari pada Shikamaru. "Aku.. sudah siap kau apakan saja," tambah Temari lagi.
"Haah, mendokusai..!! Tapi karena kurang ahli, jadi maaf saja kalau gerakanku aneh," gumam Shikamaru sambil menggaruk kepalanya gusar, lalu menatap istrinya. Temari memandang Shikamaru, bibirnya seolah berusaha menyunggingkan senyum. Tangannya gemetar mungkin karena takut.
Shikamaru menggenggam tangan Temari hingga berhenti bergetar. Gadis itu mendongak sehingga Shikamaru bisa mencium lembut bibir istrinya. Awalnya ciuman itu tenang, tapi Temari lalu mengajak suaminya bermain lidah. Shikamaru sebenarnya tidak mau, tapi tangan Temari menekan kepalanya memaksa untuk ikut permainan ini. Akhirnya Shikamaru tenang, seolah ingin menghukum istrinya yang sudah melibatkan dalam permainan panas itu, Shikamaru menekan lidah Temari hingga tidak bisa bergerak.
Temari berusaha meronta, setelah Shikamaru melepaskannya, Temari terengah-engah kecapekan. Dia mendekati Shikamaru dan menempelkan dada bulatnya dengan dada bidang Shikamaru. Laki-laki berambut nanas itu tidak kuat untuk menahan wajahnya sudah semerah tomat merasakan gesekan lembut dari Temari. Shikamaru membalas dengan memperkuat dekapan kepada istrinya itu. Entah sadar atau tidak, tiba-tiba Shikamaru mencium leher jenjang Temari.
"Shi.. Shikamaru," gumam Temari yang semakin mengadah, memberi tempat untuk Shikamaru lebih luas. Lalu Shikamaru melepaskan bibirnya dari leher jenjang itu dan membuka kaos putih Temari hingga gadis ini hanya memakai Bh. Tapi itu juga tidak bertahan lama, karena dengan cepat Shikamaru juga membukanya. Laki-laki berambut nanas itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya sudah memerah tak karuan begitu juga wanita di depannya.
"Te.. Temari, aku.."
"Tak apa, lakukan saja," gumam Temari sambil tersenyum. Shikamaru menelan ludah, lalu mulai membaringkan tubuh wanita itu. Kini posisinya dia berada di atas dan Temari di bawah. Shikamaru kembali melumat bibir mungil Temari dan meremas kedua buah dadanya membuat wanita satu ini mendesah tak karuan.
"Aaaaah Shi.. Shika.." desah Temari sambil meremas rambut Shikamaru. Laki-laki berambut nanas ini sepertinya tidak tahan mendengarnya, dia bangkit menatap Temari.
"Temari, aku.."
"Kalau tidak kuat, lebih baik langsung klimaksnya saja," gumam Temari sambil terengah-engah. Saat tangannya bergerak untuk membuka celananya, Shikamaru memegang tangan Temari dengan gugup.
"Ja.. Jangan, cukup aku saja," gumam Shikamaru. Dia membuka celana Temari hingga sukses membuat wanita ini telanjang seutuhnya.
Sekarang gantian Shikamaru membuka celana panjangnya yang berwarna hitam sehingga memunculkan 'sang jantan' yang sudah menegang siap mengamuk di 'lorong betina' yang akan dimasukinya. Shikamaru kembali menelan ludah, tapi sebelum memasukkan 'sang jantan' miliknya, dia memainkan jarinya di 'lorong betina' agar tempat masuknya sedikit melebar.
"A.. Aaah, ngggg," desah dan erangan Temari jadi satu saat cairan mulai keluar dari tubuhnya. Sesekali Shikamaru berhenti untuk melihat aksi Temari, dan ternyata gadis itu memang menikmatinya. Tubuhnya terus menggeliyat sehingga Shikamaru jadi tergoda untuk terus melakukannya. Setidaknya sampai Temari berteriak...
"Aaaah, aku... sudah..." gumam Temari gugup. Berkali-kali dia mengangkat pinggulnya, sepertinya mengejang. Shikamaru menghentikan aktivitasnya, tapi tiba-tiba dia juga merasakan dirinya ikut mengejang. Spontan Shikamaru memegang 'sang jantan' yang sepertinya sudah mengamuk.
"Se.. Selanjutnya bagaimana, Temari?" tanya Shikamaru masih menahan 'sang jantan'nya. Temari berkata dengan terpatah-patah...
"Ma.. Masukkan saja,"
Shikamaru diam dan sempat membelalakkan matanya bingung. Tapi akhirnya dia menurut pada istrinya dan memasukkan 'sang jantan' pelan-pelan ke dalam 'lorong betina' Temari. Walaupun pelan, tetap saja Temari tidak bisa menahan sakit dan berteriak...
"Aaaaakkkhhh...!!" teriak Temari tertahan.
"E.. Eh sakit?" tanya Shikamaru bingung.
"Tak apa, ini cuma awal lanjutkan saja," gumam Temari dengan mata tertutup. Shikamaru kembali menurut daripada harus diceramahin istrinya, dia terus memasukkan 'sang jantan' hingga benar-benar masuk seluruhnya.
Sepertinya Temari mulai terbiasa, dia menggeliyat membantu 'sang jantan' menjelajah dinding 'lorong betina' miliknya. Shikamaru juga mulai menikmatinya walau sedikit terengah-engah. Lalu Shikamaru merasa dirinya akan pipis.
"Te.. Temari, sudah dulu ya aku mau pipis," gumam Shikamaru sambil akan bangkit. Temari menahan tubuhnya.
"Tunggu dulu, jus.. justru itu yang utama..!!" tahan Temari.
"Hah..!?" Shikamaru malah bingung. Tapi akhirnya pipis itu keluar juga, membuat tubuh Temari terasa hangat. Temari menggerakkan pinggulnya dan mendesah pelan, menikmati cairan itu menjalari tubuhnya sekarang. Beberapa menit kemudian, Shikamaru mulai lelah dan terjatuh menindih Temari. Wanita berambut pirang itu juga sama, dia memeluk kepala Shikamaru yang tertidur di bahunya dan tersenyum.
"Arigato, Shikamaru..."
Seminggu kemudian...
"Hoaaah, capek banget akhir-akhir ini," keluh Shikamaru sambil meregangkan tubuhnya lalu berjalan menuju pintu keluar. Jika dari kamarnya menuju pintu keluar, akan melewati kamar mandi. Nah, saat Shikamaru lewat kamar mandi itulah, dia medengar...
"Hoeeek, Hoeek, uhuk," suara Temari yang mau muntah dan sesekali suara air yang keluar dari kran mendampinginya. Shikamaru menoleh heran dan mengintip ke kamar mandi.
"Kenapa Temari..??" tanya Shikamaru sambil mengangkat alisnya.
"Entahlah, sepertinya masuk angin," keluh Temari.
"Haah, dasar kau akhir-akhir ini sakit terus," gumam Shikamaru malas. Temari memutar bola matanya, lalu tiba-tiba muntah lagi. Shikamaru memperhatikan Temari, sepertinya ada sesuatu yang dilupakannya tapi apa?
"Ah, Temari jangan-jangan kau-" Shikamaru tidak melanjutkan kata-katanya dan langsung berlari ke dalam kamarnya. Temari melihat tingkah aneh suaminya lalu geleng-geleng kepala. Shikamaru kembali dengan membawa sesuatu seperti termometer dan memberikannya pada Temari.
"A.. Apaan nih..!?" tanya Temari bingung.
"Itu test pack, masa nggak tahu? Aah sudahlah, cepat periksa urinemu dengan ini," perintah Shikamaru. Temari mengangkat alis.
"Buat apa test pakai beginian..??" tanyanya dengan polos. Shikamaru mendesah pelan..
"Ya untuk ngelihat kamu itu hamil atau nggak, udah cepetan sana," sahut Shikamaru tak sabar. Dia mendorong Temari ke dalam kamar mandi sedangkan dia menunggu di luar. Beberapa saat kemudian Temari keluar sambil memperhatikan test packnya.
"Gimana? Positif nggak?" tanya Shikamaru penuh harap. Temari diam tidak menjawab lalu menatap Shikamaru.
"Aku nggak tahu caranya baca test pack," jawab Temari dengan polosnya membuat Shikamaru sweatdrop. Akhirnya dia merebut test packnya.
"Haah dasar perempuan aneh. Inget ya kalau tanda merahnya satu berarti kamu nggak hamil, tapi kalau tanda merahnya dua-" Shikamaru tidak melanjutkan kata-katanya, dia membelalakkan matanya saat melihat tanda merah di test pack itu. Temari bingung melihatnya, tapi akhirnya dia mengerti setelah Shikamaru berteriak...
"TE.. TEMARI, KAMU HAMIL...!!"
-
-
-
-
-
-
-
5 tahun kemudian...
"Okaasan...!! Otousan...!!" teriak seorang anak perempuan berambut pirang digerai. Anak perempuan itu berlari-lari kecil menuju ibunya yang sedang minum teh dan ayahnya yang sedang membaca koran. Wajahnya sangat mirip dengan ibunya, siapa lagi kalau bukan Temari. Sedangkan sifatnya terutama sifat pemalas dan tidak mau repotnya, mirip sekali dengan ayahnya, Shikamaru. Temari menoleh kepada anaknya sambil tersenyum.
"Ng? Ada apa Hikaru?" tanya Temari sambil mengangkat sebelah alisnya. Anak perempuan kecil yang dinamakan Hikaru Nara itu langsung melompat di pangkuan ibunya.
"Kata Desuke, dia sudah jadi aniki lho," gumam Hikaru nampak basa-basi. Kelihatannya bukan itu inti pembicaraannya.
"Oh, Desuke anak Sasuke dan Sakura, terus memangnya kenapa?" tanya Temari sambil mencubit pipi anaknya. Terlihat Shikamaru berhenti dari acara baca korannya dan meminum teh sambil memperhatikan Temari dan Hikaru.
"Aku juga pingin jadi aneki...!!" perkataan polos Hikaru, dengan sukses membuat Temari membelalakkan matanya dan membuat Shikamaru tersedak. Sedangkan Hikaru yang masih belum tahu 'rahasia terbesar' orang tuanya, tersenyum dengan polosnya.
"Pokoknya aku mau jadi aneki ya okaasan...!! Pokoknya aku mau, aku mau, aku mau...!!" rengek Hikaru dengan puppy eyes andalannya. Shikamaru yang sedang memulihkan dirinya dengan menepuk-nepuk dada menatap anaknya malas.
"Uhuk uhuk. Huh, gimana nanti. Sekarang kau kerjakan PRmu dulu sana..!!" perintah Shikamaru yang disambut Hikaru dengan wajah malas.
"Haaah, mendokusaaai...!!" keluh Hikaru lalu berlari ke dalam kamar dan menutupnya. Temari dan Shikamaru yang sekarang tinggal berdua saling bertatapan.
"Gimana Shikamaru..??" tanya Temari sambil mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Shikamaru hanya mengangkat bahu lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya.
"Terserah, lagipula nggak terlalu buruk kok," jawab Shikamaru asal, tapi semburat merah sudah terlihat di wajahnya. Temari tersenyum lebar lalu berdiri dan merangkul lengan Shikamaru.
"Menurutku juga sex tidak seseram yang kubayangkan setelah melakukannya. Kalau gitu mau sekarang..?? " tanya Temari dengan polosnya, tetap merangkul lengan Shikamaru. Laki-laki berambut nanas itu melirik istrinya setengah kesal setengah malu.
"Ya... sudah," gumam Shikamaru. Temari tersenyum senang lalu menyeret Shikamaru yang pasrah ke kamar dan menguncinya.
-
-
-
-
-
-
Beberapa menit setelahnya, Hikaru sweatdrop mendengar erangan dan desahan dari kamar orang tuanya...
-
-
-
-
THE END (?)
Huwaaa, akhirnya ada juga ficku yang multichapter tapi udah complete XDD.
Hmm, sebelumnya aku mau minta maaf sebesar-besarnya kalau ada kesalahan kata-kata dalam fic ini yang kurang berkenan. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk yang mau ngereview dan baca fic ini walaupun tidak review ^^
Yosh..!! Arigato..!! :)
