Maaf kalau updatenya kelamaan. Gomenasai (-.-)
My Girl
Naruto © Masashi Kishimoto.
My Girl © Stellar Alerion.
Warning : OOC, AU, Gender Bending, Typo
Inspired by Boys Before Flowers
"Apa-apaan sih? Kamu itu siapa? Lepaskan!" kata Naruto yang saat ini tangannya sedang ditarik dengan paksa oleh Sasuke.
"Aku bilang lepaskan!" kata Naruto yang suaranya tambah kencang.
"Diamlah dobe! Sekarang ikut aku dan setelah itu aku akan menjelaskan semuanya," kata Sasuke yang masih menyeret Naruto entah kemana.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka berhenti pada sebuah ruangan yang menurut Sasuke kecil tapi menurut Naruto ruangan itu sangat besar sekali.
"Namaku Uchiha Sasuke," kata Sasuke begitu mereka masuk ke dalam ruangan tersebut lalu segera berjalan menuju singgasananya atau lebih sering disebut oleh teman-temannya sebagai sofa kesayangan lalu menyalakan televisi LCD 30 inch sementara Naruto masih berdiri di depan pintu.
"Sedang apa kamu di situ ? Kemari, duduk! Tidak perlu sungkan muali sekarang kamu bisa menggunakan tempat ini sesukamu karena kamu adalah kekasihku sekarang," kata Sasuke seenaknya.
"APA MAKSUDMU TEME? TADI KAMU MEMELUKKU TERUS MENYERETKU LALU SEKARANG KAMU BILANG KALAU AKU INI PACARMU!" kata atau lebih tepatnya teriak Naruto yang sekarang sudah berjalan mendekati Sasuke.
"BISA GAK SIH KECILIN SUARAMU? TELINGAKU SAKIT," teriak Sasuke tak kalah kerasnya.
"Jawab pertanyaanku, TEME," kata Naruto yang saat ini berdiri di hadapan Sasuke.
"Hah, baiklah. Aku melakukannya agar para fans girl gilaku bisa menjauh dariku," kata Sasuke kepada gadis yang dihadapannya.
"Salahmu sendiri punya wajah cakep. Makanya mereka pada mengincarmu," kata Naruto yang sudah duduk di sofa kesayangan pacarnya yang baru resmi beberapa menit lalu.
"Jangan salahkan aku, salahkan kedua orang tuaku dong," jawab Sasuke lalu duduk di sebelah Naruto.
"Betul juga ya. Lalu kenapa kamu memilih aku?" tanya Naruto yang sudah mulai menyukai kenyamanan sofa kesayangan Sasuke dan mengambil salah satu bantal yang ada di sofa itu untuk dipeluknya dan duduk menghadap Sasuke yang duduk di sampingnya.
"Karena kamu orang baru di sini," jawab Sasuke yang mulai berpindah posisi dari mengahadap televisi menjadi menghadap Naruto.
"Lalu darimana kamu tahu kalau aku orang baru di sini ?" tanya Naruto.
"Aku bisa dengan mudah mengetahui semua data anak yang bersekolah di universitas ini," jelas Sasuke.
"Maksudmu nge-hack?" tanya Naruto.
"Baka! Memangnya kamu tidak tahu aku?" tanya Sasuke.
"Uchiha Sasuke, pangeran di kampus ini dan memiliki banyak fans girl la…. Tunggu, Uchiha sama seperti nama Universitas ini. Jangan-jangan kamu pemilik dari universitas ini!" kata Naruto sambil mengacungkan jari telunjuknya kehadapan Sasuke.
"Hn, bukan aku tapi ayahku dan unuversitas ini suatu saat akan diberikan kepadaku," jawab Sasuke. Ini adalah perkataan terakhir yang bisa dikatakan oleh Sasuke dan yang bisa didengar oleh Naruto karena sesudah itu yang terdengar adalah suara yang berasal dari televisi yang sedang dinyalakan oleh Sasuke. Hingga pada suatu saat…
"Tunggu sebentar," kata Sasuke dan Naruto bersamaan.
"Kamu duluan," kata Sasuke.
"Tidak, kamu duluan," kata Naruto.
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!
"Baiklah, aku duluan," kata Naruto mengalah.
"Tadi kamu bilang kamu memilih aku karena kau orang baru di sini. Jadi itu artinya kamu memanfaatkan ketidaktahuaanku, begitu?" tanya Naruto.
"Iya, baru sadar sekarang," jawab Sasuke yang dijawab dengan lemparan bantal oleh Naruto.
"Aduh, sakit dobe. Sekarang giliranku untuk bertanya padamu," kata Sasuke sambil memegangi hidungnya yang sakit karena hidungnya menjadi sasaran empuk bagi Naruto untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tadi kamu bilang aku itu cakep, ya kan?" tanya Sasuke.
"Eh… i… iya," jawab Naruto terbata-bata dan wajah Naruto pun sedikit memerah.
"Hm. Jadi apa kamu menyukaiku?" tanya Sasuke sambil mendekatkan wajahnya ke Naruto.
"E… eng… itu…" jawab Naruto sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Sasuke.
"Itu apa, Naru-koi?" tanya Sasuke yang wajahnya semakin dekat dengan wajah Naruto.
"Wajahmu memerah lo…" kata Sasuke lagi dan jarak antara wajah mereka cuma tinggal beberapa senti lagi.
'Bagus, sedikit lagi,' pikir Sasuke yang sedang berada pada Mesum Mode. Naruto yang melihat wajah Sasuke dari jarak dekat dengan mata tertutup dan mulut yang tersenyum gak jelas itu langsung mengambil buku super tebal yang ada di dekatnya dan ditempelkannya dengan sangat keras ke wajah Sasuke sambil berkata, "MESUM," yang dapat di dengar ke seluruh penjuru Uchiha University ini.
"Aduh, sakit," kata Sasuke sambil mengelu-elus hidungnya yang sekarang bertambah sakit. Sementara Naruto mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
"Loh, Naruto," kata Sasuke kebingungan kerena Naruto sudah tidak ada di ruangan itu.
Naruto POV
Huh, dasar si teme mesum. Memangnya dia pikir aku cewek apaan. Tapi dia lebih cakep daripada Gaara-senpai, Neji-senpai dan Sai-senpai, apalagi sewaktu aku melihat wajahnya dari dekat. Benar-benar putih dan mulus, juga tidak ada bekas jerawat di wajahnya juga rahangnya….
Tunggu kenapa aku jadi mikirin si teme ?
Daripada Gaara-senpai, Neji-senpai dan Sai-senpai kan sedang menungguku. Kira-kira mereka bakaln marah gak ya?
Semua itu gara-gara teme. Aku benci sama dia.
"Oh, kamu sudah datang Naru-chan," sapa Sai-senpai ramah.
"Maaf aku terlambat senpai. Gaara senpai mana?" tanyaku ketika tiak melihat Gaara senpai.
"Oh, Gaara tadi datang sih, tapi dia ada urusan makanya dia pulang duluan," jawab Sai senpai. Awas kau teme, kali ini aku akan membuatmua menyesal.
"Oh, begitu ya…" jawabku dangan agak menyesal.
"Dan sepertinya acaranya bakal lama," kata Neji senpai.
"Oh, kalau begitu aku pamit dulu ya," kataku lalu segera keluar dari temapt itu dan berjalan menuju keluar kampus. Tapi belum juga berjalan setengah dari lapangan parkir sebuah mobil Porsche berwarna biru dongker berhenti di sampingku. Pemilik mobil itu segera membuka jendela. Pemilik mobil itu adalalah si teme mesum.
"Ada apa?" tanyaku sewot.
"Masuk!" perintah si mesum.
"Tidak!" jawabku lalu berjalan dan menghiraukannya. Tapi mobil itu segera berhenti di depanku dan si pemilik mobil lagi-lagi memerintahkanku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak!" tolakku lagi.
"Masuk!"
"Tidak!"
"Masuk!"
"Tidak!"
"Masuk!"
"Tidak!"
"Hah, baiklah kalau begitu," kata si pemilik mobil lalu segera turun dari mobil dan menyeretku masuk ke dalam mobilnya.
"Ini namanya penculikan, teme," kataku begitu ia menjalankan mobilnya.
"Mana mungkin seorang pria mengantarkan kekasihnya itu disebut penculikan, dobe," kata teme yang sedang menyetir.
"Tapi kamu kan memaksaku berarti itu namanya penculikan," kataku tak mau kalah.
"Kalau aku orang lain dan memaksamu untuk ikut bersamaku itu baru namanya penculikan. Tapi, aku kan pacarmu jadi ini bukan penculikan," jawab teme. Tapi perkataannya benar juga sih…
"Turunkan aku!" perintahku pada teme tapi dia sama sekali tidak menjawab dan terus menyetir.
Sepanjang perjalanan aku meminta teme untuk menurunkanku tapi dia tetap saja diam dan terus menyetir. Hingga pada suatu ketika dia memberhentikan mobilnya, mungkin karena dia kesal dengan omelanku.
"Nah, dobe sudah sampai," kata teme.
"Eh?" kataku tak percaya dengan apa yang diomongkannya.
"Kok 'Eh?'. Kita sudah sampai di apartermenmu," kata teme. Ternyata…
"Makasih ya, Sasuke," kataku lalu keluar dari mobilnya. Aku tetap berdiri di tempatku sampai mobilnya si teme menghilang dari jhadapanku lalu segera masuk ke dalam apartermenku yang ada di lantai 10.
To be continue
